Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Journal Transformation of Mandalika

PEMANFAATAN PERPUSTAKAAN BERBASIS BARCODE UNTUK PENGELOLAAN ADMINISTRASI PERPUSTAKAAN PADA SDN + AL - IJTIHAD Ahmad Arif Fadilah
Journal Transformation of Mandalika, e-ISSN: 2745-5882, p-ISSN: 2962-2956 Vol. 3 No. 10 (2022): Oktober
Publisher : Institut Penelitian dan Pengembangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jtm.v3i10.2624

Abstract

Abstrak: SDN + Al-Ijtihad Pelai hari adalah salah satu sekolah pendidikan keahlian yang ada di Kabupaten Tanah Laut. SDN + AL - ijtihad Pelaihari juga menyediakan perpustakaan untuk menunjang kegiatan belajar siswanya. Perpustakaan Pelaihari memiliki pengelolaan data perpustakaan yang sudah menggunakan aplikasi desktop untuk pengelolaan administrasi perpustakaan. Akan tetapi pada aplikasi tersebut masih memiliki kekurangan pada bagian input data yang kurang cepat karena masih diinputkan dengan menuliskan kode buku satu persatu saat pendataan buku. Begitu pula dalam peminjaman oleh siswa atau guru masih diisi satu persatu, tentunya hal ini tidak cukup efisien dalam hal pelayanan. Maka dari itu diperlukan sistem yang dapat melakukan pendataan buku secara efektif serta dalam peminjaman buku oleh siswa atau guru juga akan lebih efektif. Dengan memanfaatkan teknologi web yang dapat digunakan dimana saja dengan browser serta teknologi barcode sehingga dapat menunjang pengelolaan perpustakan dengan cepat. Hasil dari penelitian ini adalah untuk mempercepat proses administrasi perpustakan seperti peminjaman buku siswa dan input data buku Kata Kunci: perpustakaan, barcode, web Abstract: SDN + Al-Ijtihad Pelaihari is one of the vocational education schools in Tanah Laut Regency. The school also provides a library to support students' learning activities. The Pelaihari library currently utilizes a desktop application for library administration, but it faces a drawback in data input efficiency, as book codes are manually written during book data entry. Similarly, the process of book borrowing by students or teachers involves manual input, leading to inefficiencies in service. Therefore, a system is needed to streamline book data management and borrowing processes. Leveraging web technology accessible from any browser and incorporating barcode technology can significantly enhance library administration efficiency. The research aims to expedite library administration processes, such as student book borrowing and book data input. Keywords: Library, barcode, web.
Pendidikan Multikultural Sebagai Upaya Meningkatkan Kesadaran Hak Asasi Manusia di Sekolah Luqman Kurniandrawan Nurhakim; Restika Septiani Gulo; Ahmad Arif Fadilah
Journal Transformation of Mandalika, e-ISSN: 2745-5882, p-ISSN: 2962-2956 Vol. 6 No. 4 (2025): April
Publisher : Institut Penelitian dan Pengembangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jtm.v6i4.4152

Abstract

Pendidikan multikultural berperan penting dalam mengangkat isu-isu kebebasan bersama (HAM) di sekolah. Melalui metode ini, siswa dan staf sekolah diajak untuk menghargai dan memahami keberagaman sosial, ras, agama, dan budaya. Pendidikan multikultural membantu memerangi perpecahan, generalisasi, dan kecurangan yang mungkin muncul dalam iklim pembelajaran. Siswa dapat menumbuhkan empati dan memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang sudut pandang orang lain dengan mempelajari budaya dan pengalaman orang lain. Hal ini berkontribusi pada pengembangan lingkungan sekolah yang inklusif di mana setiap individu diperlakukan dengan bermartabat dan hormat. Persepsi, sikap, dan tindakan siswa terkait hak asasi manusia juga dapat diubah melalui pendidikan multikultural. Pemahaman bahwa setiap orang memiliki hak yang sama untuk dihormati, diakui, dan diperlakukan secara adil diajarkan kepada siswa. Mereka juga belajar tentang pentingnya kesempatan untuk berekspresi, hak atas pelatihan, dan kebebasan dasar lainnya. Sekolah menciptakan suasana yang mendorong kesetaraan, keadilan, dan penghormatan terhadap perbedaan dengan menerapkan pendidikan multikultural. Hal ini tidak hanya meningkatkan kesadaran masyarakat akan hak asasi manusia, tetapi juga membantu membentuk generasi siswa yang lebih toleran, terbuka, dan siap menghadapi dunia yang semakin beragam.
Menumbuhkan Kesadaran Nasionalisme Generasi Muda di Era Globalisasi Melalui Nilai-Nilai Pancasila Muhammad Rifqi Ridho; Ruly Monica; Ahmad Arif Fadilah
Journal Transformation of Mandalika, e-ISSN: 2745-5882, p-ISSN: 2962-2956 Vol. 6 No. 4 (2025): April
Publisher : Institut Penelitian dan Pengembangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jtm.v6i4.4178

Abstract

Bangsa Indonesia sebagai sebuah negara tidak dapat menghindari tantangan globalisasi, tetapi dengan berpegang teguh pada Pancasila sebagai asasnya, Indonesia akan mampu mempertahankan jati diri dan eksistensinya. Tulisan ini menyatakan bahwa memupuk jiwa nasionalisme dalam benak generasi muda sejak kecil akan membuat mereka lebih tangguh menghadapi pengaruh negatif dan perubahan moral yang merajalela di era globalisasi. Maka, dengan memperkuat moralitas dan etika melalui pendidikan Pancasila, generasi muda Indonesia akan lebih siap menghadapi globalisasi dan sekaligus mempertahankan jati diri Indonesia. Nilai-nilai budaya yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia, seperti gotong royong, persahabatan, dan keramahan dalam bermasyarakat, merupakan keistimewaan dasar yang dapat membuat individu Indonesia mencintai dan melestarikan budaya bangsanya sendiri. Namun, ciri masyarakat Indonesia yang dikenal sebagai masyarakat yang ramah dan santun kini mulai luntur sejak masuknya budaya asing ke Indonesia yang tidak dapat diseleksi dengan baik oleh masyarakat Indonesia. Maka, dalam hal ini pemerintah memiliki peran penting untuk menjaga nilai-nilai budaya Indonesia dalam kehidupan masyarakatnya. Berikut ini beberapa cara untuk menjaga budaya Indonesia agar tidak terpengaruh oleh budaya asing yang negatif. 1) Menumbuhkan jiwa nasionalisme yang kuat, misalnya semangat mencintai produk dan budaya dalam negeri. 2) Menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dengan sebaik-baiknya. 3) Menanamkan dan mengamalkan ajaran agama dengan sebaik-baiknya. 4) Selektif terhadap budaya asing yang masuk ke Indonesia. 5) Memperkuat dan memelihara jati diri bangsa agar tidak luntur. Dengan demikian, masyarakat dapat bersikap bijak dalam menentukan sikap agar jati diri dan kepribadian bangsa tidak luntur akibat masuknya budaya asing ke Indonesia, khususnya
Implementasi Nilai-Nilai Pancasila Bagi Siswa Di Era Globalisasi Lulu Atun Azizah; Ulfa Tuzzami; Ahmad Arif Fadilah
Journal Transformation of Mandalika, e-ISSN: 2745-5882, p-ISSN: 2962-2956 Vol. 6 No. 4 (2025): April
Publisher : Institut Penelitian dan Pengembangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jtm.v6i4.4196

Abstract

Untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, diperlukan pendidikan yang tidak terpisahkan dari ajaran Pancasila sebagai dasar penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Pancasila memiliki rangkaian nilai, yaitu ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Kelima nilai tersebut merupakan satu kesatuan utuh yang merujuk pada satu tujuan. Nilai-nilai dasar Pancasila seperti ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan bersifat universal, objektif, artinya nilai-nilai tersebut dapat digunakan dan diakui oleh negara lain. Sebagai ideologi bangsa dan negara Indonesia, Pancasila pada hakikatnya bukan hanya hasil perenungan atau pemikiran seseorang atau sekelompok orang sebagaimana ideologi-ideologi lain di dunia, melainkan Pancasila diangkat dari nilai-nilai adat istiadat, nilai-nilai budaya, dan nilai-nilai agama yang terkandung dalam pandangan hidup bangsa Indonesia. Pancasila memiliki rangkaian nilai, yaitu ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Kelima nilai tersebut merupakan satu kesatuan utuh yang mengacu pada satu tujuan. Nilai-nilai dasar Pancasila seperti ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan bersifat universal, objektif, artinya nilai-nilai tersebut dapat digunakan dan diakui oleh negara lain. Sebagai ideologi bangsa dan negara Indonesia, Pancasila pada hakikatnya bukan hanya hasil perenungan atau pemikiran seseorang atau sekelompok orang sebagaimana ideologi-ideologi lain di dunia, melainkan Pancasila diangkat dari nilai-nilai adat istiadat, nilai-nilai budaya, dan nilai-nilai agama yang terkandung dalam pandangan hidup bangsa Indonesia
Perlindungan Hukum Terhadap Anak Dalam Perspektif Hak Asasi Manusia Reva Arda Try Pradima; Zulfa Muthia Bilqis; Ahmad Arif Fadilah
Journal Transformation of Mandalika, e-ISSN: 2745-5882, p-ISSN: 2962-2956 Vol. 6 No. 6 (2025): Juni
Publisher : Institut Penelitian dan Pengembangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jtm.v6i6.4150

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis masalah perlindungan hukum terhadap anak dalam perspektif Hak Asasi Manusia. Adapun jenis penelitian ini adalah sosio yuridis atau termasuk penelitian deskriptif dengan pendekatan secara non doktriner, yang memandang hukum sebagai gejala sosio empirik yang teramati dalam pengalaman. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan tipe penggabungan antara penelitian hukum normatif dengan penelitian hukum sosiologis yang terkait pelaksanaan perlindungan hukum terhadap anak dalam persepektif Hak Asasi Manusia. Hasil penelitian menunjukkan Adapun hasil penelitian ini adalah perlindungan hukum terhadap anak dalam perspektif Hak Asasi Manusia pada hakikatnya adalah suatu upaya yang dilakukan oleh orang tua, pemerintah dan masyarakat untuk memenuhi dan menjamin segala hak anak yang telah di jamin dalam konvensi hak anak dan Undang-undang No. 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak. Perlindungan hukum terhadap anak dalam perspektif Hak asasi manusia kurang terimplementasi karena pemerintah belum melaksanakan kewajibannya dalam memenuhi hak-hak anak sehingga masih terjadi pelanggaran hukum terhadap anak. Rekomendasi penelitian ini adalah dalam mengimplementasikan perlindungan hukum terhadap anak dalam perspektif hak asasi manusia hendaknya orang tua bertanggung jawab penuh atas perilaku anak dan pemerintah menetapkan kebijakan yang sejalan dengan keinginan masyarakat, sehingga terwujud kesamaan persepsi antara orang tua, pemerintah dan masyarakat dalam memenuhi hak- hak anak.