Putu Pramana Suarjaya
Faculty Of Medicine Anesthesiology & Therapy Intensif Universitas Udayana Denpasar

Published : 66 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

MANAJEMEN ANESTESI PADA PASIEN DENGAN TUMOR EXTRAAXIAL REGIO FRONTAL SEC SUSP MENINGIOMA CONVEXITY DENGAN TINDAKAN CRANIOTOMY TUMOR REMOVAL BICORONAL INCISION Khamandanu, Kadek Fabrian; Suarjaya, I Putu Pramana; Sucandra, I Made Agus Kresna
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.43215

Abstract

Tumor otak memerlukan penanganan khusus, terutama dalam aspek anestesi dan perawatan pascaoperasi. Pasien dengan tumor serebri sering menunjukkan gejala peningkatan tekanan intrakranial, seperti sakit kepala, mual, muntah, gangguan kesadaran, serta defisit neurologis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi anestesi dan manajemen perioperatif pada pasien dengan tumor otak guna menjaga stabilitas hemodinamik dan perfusi serebral. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus pada seorang pria berusia 52 tahun yang dirujuk dengan diagnosis tumor serebri. Pasien mengalami penurunan daya ingat progresif selama empat bulan terakhir, disertai perubahan perilaku menjadi lebih pendiam. Evaluasi praoperasi menunjukkan kesadaran yang baik tanpa gejala nyeri kepala, muntah, atau gangguan penglihatan. Anamnesis mengungkapkan riwayat dua kali operasi otak akibat kecelakaan tahun 2003. Anestesi dilakukan dengan teknik neuroanestesi yang mencakup Target Controlled Infusion (TCI), low flow anesthesia (LFA), serta penggunaan fentanil dan rocuronium untuk menjaga keseimbangan tekanan intrakranial. Pascaoperasi, pasien menjalani pemantauan intensif di ICU selama 48 jam dengan parameter fisiologis stabil, meskipun terdapat leukositosis sebagai respons inflamasi. Pemberian analgesik fentanyl efektif dalam mengontrol nyeri dan mencegah agitasi selama pemulihan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan anestesi multimodal dan pemantauan ketat berkontribusi terhadap keberhasilan operasi dan pemulihan pasien. Intervensi yang tepat dalam manajemen intraoperatif dan pascaoperasi sangat penting untuk mencegah komplikasi dan meningkatkan prognosis pasien.
THE COMPARISON OF ATRACURIUM DOSES IN PRODUCING INTUBATION QUALITY, ONSET, DURATION OF MUSCLE RELAXATION IN SURGERIES WITH GENERAL ANESTHESIA Suastika, I Gede Juli; Jeanne, Bianca; Sidemen, IGP Sukrana; Hartawan, IGAG Utara; Senapathi, Tjokorda Gde Agung; Widnyana, I Made Gede; Suarjaya, I Putu Pramana; Dewi, I Dewa Ayu Mas Shintya; Putra, Kadek Agus Heryana; Aryasa EM, Tjahya
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i3.50077

Abstract

Relaksan otot secara rutin digunakan selama anestesi umum untuk memfasilitasi intubasi endotrakeal dan mempertahankan kondisi kerja bedah yang optimal. Atracurium merupakan alternatif yang banyak digunakan dibandingkan rokuronium dan paling sering digunakan dalam anestesi umum untuk memfasilitasi intubasi endotrakeal serta memberikan relaksasi otot rangka selama ventilasi atau ventilasi mekanis. Pemberian atracurium dalam dosis tinggi yaitu 1 mg/kgBB (4ED95) dibandingkan dengan dosis umum 0,5 mg/kgBB (2ED95) dapat memberikan waktu onset intubasi yang lebih cepat, durasi kerja obat yang lebih lama, kualitas intubasi yang lebih baik, serta kondisi hemodinamik yang cukup stabil. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni yang dilakukan di ruang operasi Bedah Sentral sebuah rumah sakit pendidikan, dimulai pada Juli 2024 hingga jumlah sampel penelitian terpenuhi. Populasi penelitian adalah pasien berusia 18–65 tahun yang akan menjalani operasi elektif dengan anestesi umum menggunakan laringoskopi intubasi endotrakeal. Analisis data dilakukan dengan bantuan SPSS versi 26, termasuk uji normalitas Shapiro-Wilk, uji Chi-square, dan uji berpasangan. Jumlah total subjek dalam penelitian ini adalah 38 pasien ASA I dan ASA II yang menjalani intubasi endotrakeal. Rerata waktu onset obat pada kelompok perlakuan adalah 133,21 ± 7,86 detik dan pada kelompok kontrol adalah 230,05 ± 33,45 detik. Rerata durasi kerja obat pada kelompok kasus adalah 72,95 ± 8,50 menit, sedangkan pada kelompok kontrol adalah 34,00 ± 5,42 menit. Tidak terdapat perbedaan signifikan pada stabilitas hemodinamik dan denyut nadi selama proses intubasi yang baik pada kedua kelompok. Kualitas intubasi sangat baik ditemukan pada 19 pasien (100%) di kelompok perlakuan dibandingkan dengan 4 pasien (21,1%) di kelompok kontrol.
Fungsional Makroadenoma Hipofisis dengan Manifestasi Akromegali dan Komplikasi Diabetes Insipidus Pascaoperasi Krisna J. Sutawan, Ida Bagus; Suarjaya, I Putu Pramana; Kumaat, Garry D. Chrysogonus
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2715.523 KB) | DOI: 10.24244/jni.v10i1.322

Abstract

Akromegali sebagai manifestasi klinis dari fungsional makroadenoma hipofisis adalah suatu kasus yang jarang terjadi. Laki-laki 28 tahun dikonsulkan dengan space occupying lesion serebri suprasellar dengan differensial diagnosis meningoma atau adenoma yang akan dilakukan reseksi tumor. Pada pemeriksaan preoperasi didapatkan pasien dengan tanda-tanda yang mengarah ke akromegali seperti rahang yang lebih menonjol, ukuran hidung, lidah, dan tangan yang relatif lebih besar dari orang normal namun tanpa gejala obstructive sleep apnea. Intraoperasi pasien berhasil diintubasi dengan video laringoskop dengan persiapan fiber optik. Pasca-operatif pasien mengalami diabetes insipidus dan dipindahkan ke ruangan dari ICU pada hari ke tujuh pasca-operatif pada saat sudah bebas dari vasopressin. Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan pada penatalaksanaan pasien dengan makroadenoma hipofisis, seperti penatalaksanaan jalan nafas jika terjadi akromegali dan komplikasi diabetes insipidus pacaoperasiFunctional Pituitary Macroadenoma with Acromegaly and Complications of Postoperative Diabetes InsipidusAbstractAcromegaly as a clinical manifestation of functional pituitary macroadenoma is a rare case. A 28-year-old male was consulted with a space occupying suprasellar cerebral lesion with a differential diagnosis of meningioma or adenoma which would require tumor resection. On the pre-operative examination, it was found that patients with signs and symptom of acromegaly such as a more prominent jaw, the size of the nose, tongue, and hands were relatively larger than normal people but without symptoms of obstructive sleep apnea. Intraoperatively, the patient was successfully intubated with a video laryngoscope with a fiber optic preparation. Post-operatively the patient developed diabetes insipidus and was transferred to the room from ICU on the seventh postoperative day when she was free of vasopressin. There are several things that should be considered during the perioperative management of patients with pituitary macroadenoma, such as airway management if there is acromegaly and diabetes insipidus as a postoperative complication.
Penatalaksanaan Anestesi pada Ruptur Aneurisma Firdaus, Riyadh; Suarjaya, I Putu Pramana; Rahardjo, Sri
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3223.201 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol5i1.58

Abstract

Ruptur aneurisma adalah salah satu kejadian vaskular yang devastated dengan tingginya angka mortalitas. Namun dengan penanganan yang cepat dan tepat maka angka kematiannya hanya mencapai 10%, dan morbiditasnya ringan. Selain dari efek pecahnya pembuluh darah, banyak komplikasi lain yang perlu diperhatikan seperti perdarahan ulang, vasospasme, hidrosefalus, gangguan elektrolit sampai gangguan respirasi. Dilaporkan pasien perempuan 47 tahun dengan sakit kepala, mual dan muntah yang memberat sejak 2 minggu sebelum masuk rumah sakit. Keluhan seperti ini sudah dirasakan 7 tahun sebelumnya, dan didiagnosa sebagai ruptur aneurisma spontan, sekarang tanpa gejala sisa. Pada pemeriksaan fisik, pasien sadar penuh dengan kaku kuduk, tanpa tanda neurologis fokal. Dari pemeriksaan penunjang didapatkan terdapat vasospasme pada a. Karotis Interna setinggi segmen suprasinoid, serta perdarahan tipis intraventrikel dan ventrikulomegali. Pasien direncanakan untuk dilakukan clipping aneurisma dalam anastesi umum. Pasien kemudian di rawat di ruang perawatan intensif dengan target penyapihan cepat dan ekstubasi. Tantangan dalam proses anestesi kasus aneurisma adalah mempertahankan antara tekanan dalam aneurisma dan cerebral perfusion preassure (CPP), proteksi otak pada periode iskemi, serta menyediakan lapang operasi seluas mungkin. Pasca-operasi harus diperhatikan tanda tanda komplikasi berupa iskemia.Anesthetic Management in Patient with Rupture Intracranial AneursymAneurysm rupture is a devastated vascular injury with high mortality rate. But in expert hands, it has lower mortality only about 10%. Aneurysm has other complication such as rebleeding, vasospasm, hydrocephalus, and electrolyte also cardio-pulmonary disturbance. The patient is 47 years old women with progressive headache, nausea and vomiting since 2 weeks before admission. She already experienced the same symptoms at 7 years ago, and was been diagnosed with spontaneous rupture aneurysm. She is fully alert, only with nunchal rigidity and no neurologic deficit. There were vasospasm at A.Carotis Interna as high as supracinoid segment and intraventricular hemorrhage from CT dan CT-Angiography. Patient went to clipping procedure under general anesthesia. Post-operatively patient was admitted to intensive care unit with fast liberation of ventilator and extubation. Anesthetical challenge of rupture aneurysm are to maintain aneurysm pressure and cerebral perfusion rate, brain protection, and provide enough space for surgery. Post-op monitoring should include routine neurological examination to early detect ischemia.
Penatalaksanaan Anestesi pada Pasien Cedera Kepala Berat akibat Hematoma Epidural Akut disertai Kehamilan Aulyan Syah, Bau Indah; Suarjaya, I Putu Pramana; Rahardjo, Sri; Saleh, Siti Chasnak
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.453 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol6i3.54

Abstract

Penanganan cedera kepala berat selalu bertujuan untuk mempertahankan tekanan perfusi otak (TPO) dan mencegah peningkatan tekanan intrakranial yang dapat menyebabkan cedera otak sekunder. Pada pasien dengan kehamilan, janin juga harus dipantau. Hiperventilasi harus dihindari karena berefek buruk terhadap perfusi otak dan aliran darah plasenta. Seorang wanita, 25 tahun, 60 kg, 160 cm datang ke rumah sakit akibat trauma kepala karena kecelakaan lalu lintas yang dialami kurang dari 1 jam sebelum masuk rumah sakit dengan GCS E4M6V4. Pasien dalam keadaan hamil G1P0A0 dengan usia kehamilan 2830 minggu. Di unit gawat darurat terjadi penurunan kesadaran mendadak hingga GCS E1M5V1 sehingga dilakukan intubasi endotrakhea disusul dengan pemeriksaan CT Scan dengan hasil hematoma epidural dekstra dan hematoma subarachnoid disertai midline shift. Pasien kemudian menjalani operasi evakuasi hematoma epidural dengan anestesi umum kemudian di rawat di unit perawatan intensif dengan pipa endotrakhea masih dipertahankan. Denyut jantung janin (DJJ) masih terdengar dan dilakukan observasi ketat DJJ selama perawatan di ICU. Namun setelah beberapa hari di ICU, janin dinyatakan meninggal. Ringkasan: Pasien cedera kepala berat dengan hematoma epidural dan subarachnoid disertai kehamilan telah menjalani operasi anestesi umum dengan tetap memperhatikan pemeliharaan tekanan perfusi otak (TPO) dan mempertahankan kondisi janin dalam batas normal. Meskipun pada akhirnya janin tidak bisa diselamatkan akibat lamanya perawatan ibu dengan ventilator.Anesthesia Management for Patients in Pregnancy with Severe Head Injury Due to Acute Epidural Hematoma Management of severe head injury cases, in any given situation, is targeted to maintain cerebral perfusion pressure (CPP), and preventing increase of intracranial pressure that possibly cause secondary brain injury. In a case of pregnancy, besides considering the maternal status, fetus condition is equally important to observe. Hyperventilation should be avoided due to its possible detrimental effect to both the brain perfusion and placental blood flow. A 25 year old female, 60 kg, 160 cm, was taken to the hospital due to head trauma caused by a traffic accident, roughly about an hour prior to hospitalization. GCS was E4M6V4. The patient was in her 28 30 week of pregnancy (G1P0A0). Sudden decrease in consciousness occurred and GCS lowered to E1M5V1. Endotracheal intubation was then prompted. Epidural haematoma subarachnoid haematoma with midline shift revealed in CT scan. The patient underwent epidural hematoma evacuation with general anesthesia then transferred to Intensive Care Unit (ICU) with ETT maintained. Fetal heart rate remains heard, followed with close monitoring of the fetal heart rate during treatment in the ICU. After 3 days in ICU, fetus died. Summary: A pregnant patient with severe head injury of epidural and subarachnoid bleeding, has undergone an operation with general anesthesia. The fetus was unfortunately cannot be saved due to the patient long ventilator treatment.
Anesthetic Management of Mechanical Thrombectomy for Acute Ischemic Stroke with Severe Mitral Stenosis: A Case Report MD, Burhan; Suarjaya, I Putu Pramana; Ratu, Tiffani; Wiryawan, I Nyoman; MD, Patricia; Tini, Kumara
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 14, No 3 (2025)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24244/jni.v14i3.719

Abstract

Acute ischemic stroke from large vessel occlusion requires prompt reperfusion to preserve brain function. Mechanical thrombectomy is the treatment of choice in selected cases, especially cardioembolic strokes. Anesthetic management plays a critical role, particularly in patients with cardiac comorbidities. We report a 62-year-old woman presenting with left-sided weakness and reduced consciousness, six hours prior to admission. She had a history of rheumatic mitral stenosis and atrial fibrillation. CT angiography showed infarction in the right MCA territory with distal ICA occlusion. Intravenous thrombolysis was initiated but failed to show improvement. Mechanical thrombectomy was then performed under general anesthesia. Due to the patient’s decreased consciousness and aspiration risk, general anesthesia was preferred to secure the airway and allow precise hemodynamic control. The anesthetic strategy focused on maintaining systemic vascular resistance while avoiding increased pulmonary vascular resistance to prevent right heart overload in mitral stenosis, also oxygenation and ventilation were carefully managed to avoid hypoxia and hypercapnia. Full vessel recanalization (mTICI 3) was achieved without complication. This case highlights the importance of tailoring anesthesia to individual risk profiles, particularly in stroke patients with valvular heart disease, where general anesthesia may provide optimal safety and procedural success.
Penatalaksanaan Anestesi pada Kehamilan dengan Tumor Medula Spinalis Supradnyawati, Ni Made; Suarjaya, I Putu Pramana; Sinardja, I Ketut
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (807.444 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol3i2.141

Abstract

Anestesi pada pembedahan nonobstetri dalam kehamilan merupakan tantangan khusus bagi ahli anestesi. Sekitar 0,75%2% pembedahan nonobstetri dilakukan selama masa kehamilan. Setiap tahunnya di AS diperkirakan sekitar 75.000 wanita hamil menjalani anestesi dan pembedahan. Penatalaksanaan anestesi optimal memerlukan pemahaman mengenai perubahan fisiologi maternal, pertimbangan terhadap fetus akibat pembedahan dan anestesi, dan upaya mempertahankan perfusi uteroplasenta dan oksigenasi maternal-fetus. Tujuan yang ingin dicapai adalah anestesi yang aman kepada ibu dan memelihara kesejahteraan janin. Kami melaporkan kasus wanita berusia 29 tahun dengan G4P1A21 25?26 minggu janin tunggal hidup yang mengalami kelemahan motorik akut pada kedua tungkai bawah, gangguan sensibilitas semua kualitas setinggi Th6, serta inkontinensia urine dan alvi. Hasil pemeriksaan penunjang magnetic resonance imaging thorakolumbal menunjukkan suatu massa di daerah epidural setinggi C7Th1 sisi kanan dan hambatan aliran likuor serebrospinal. Pasien dilakukan anestesi umum dengan intubasi endotrakeal. Induksi menggunakan propofol dan fentanyl, diikuti dengan penekanan krikoid. Fasilitas intubasi menggunakan vecuronium. Pemeliharaan menggunakan isofluran, oksigen, compressed air, bolus fentanyl dan vecuronium intravena intermitten. Posisi operasi adalah posisi prone. Intraoperatif ditemukan tumor ekstradura setinggi level C7Th1, dilakukan laminektomi total dan stabilisasi dengan pemasangan pedicle screw. Pascabedah pasien menunjukkan perbaikan status neurologis dan kehamilan dapat dipertahankan sampai aterm.Anesthesia Management for Spinal Cord Tumor in PregnancyAnesthesia management for non-obstetric surgery in pregnancy was considered a specific challenge for anesthesiologist. About 0,752% of non-obstetric surgery is performed during pregnancy. Annually in the US, about 75.000 pregnant women are exposed to anesthesia and surgery. Optimal anesthetic management requires comprehensive understanding on maternal physiologic changes, fetal consideration due to effect of surgery and anesthesia, and maintaining uteroplacental perfusion and maternal-fetal oxygenation. The endpoint is to provide safe anesthesia for both the mother and fetal well being. We reported a case of a 29-year old pregnant woman G4P1021 single fetus with 2526 weeks of gestation, acute weakness of lower limbs, and sensibility impairment on all qualities at Th 6 level, as well as urine and alvi incontinence. Thoraco lumbal MRI examination showed epidural mass at C 7Th 1 level of the right side vertebrae, and cerebrospinal fluid flow obstruction. The patient underwent general anesthesia with endotracheal intubation. Induction with propofol and fentanyl, followed by cricoid pressure. Intubation was facilitated with vecuronium. Maintenance with isoflurane, oxygen, compressed air, intermittent IV bolus of fentanyl and vecuronium. Surgery was performed on prone position. Extradural tumor at C7Th1 vertebrae level was found intraoperatively and total laminectomy and stabilization with pedicle-screw were performed. Patient showed improvement in neurological status after the surgery, and the pregnancy was survived until aterm period.
Konsep Dasar Target Controlled Infusion (TCI) Propofol dan Penggunaannya pada Neuroanestesi Krisna J. Sutawan, Ida Bagus; Suarjaya, I Putu Pramana; Saleh, Siti Chasnak; Wargahadibrata, A. Himendra
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.686 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol6i1.40

Abstract

Semakin banyaknya dokter anestesi yang cendrung memilih total intravenous anesthesia (TIVA) terutama untuk operasi bedah saraf, merangsang munculnya sebuah penemuan baru yang dapat menghitung dan memperkirakan kadar obat anestesi di dalam plasma dan target organ yang selanjutnya dikenal dengan Target-controlled Infusion (TCI). Jika obat yang digunakan adalah propofol maka dikenal dengan TCI propofol. Ada dua model yang saat ini tersedia secara komersial untuk TCI propofol yaitu model Marsh dan model Schnider. Untuk dapat dengan baik menggunakan kedua model tersebut diperlukan pengetahuan yang mendalam mengenai konsep farmakokinetik tiga kompartemen dan farmakodinamik yang menjadi dasar dalam penghitungan dosis propofol pada kedua model tersebut. Jika menggunakan model Marsh maka disarankan untuk menggunakan target plasma, sedangkan pada model Schneider sebaiknya digunakan target effect. TCI propofol yang digunakan dengan baik dapat memberikan keadaan anestesi yang hemodinamiknya relatif stabil pada saat induksi dan pemeliharaan, penurunan angka penekanan respirasi, dan peningkatan waktu pemulihan.Basic Consept on Targeted-controlled Infusion (TCI) Propofol and its use in NeuroanesthesiaThere is increasing number of anesthesiologist who prefer to use total intravenous anesthesia especially neurosurgery, stimulate new invention that can calculate and predict drug concentration in plasma and target organ, that have known as Target-Controlled Infusion (TCI). If propofol is used, it is known as TCI propofol. There are two kind of TCI propofol modes that provided commercially, that are Marsh mode and Schnider mode. Understanding the different between those two modes needs knowleadge about pharmacokinetic of the three compartement models and pharmacodynamic which is the base of the calculation of the propofol dose. If Marsh mode is used, than it is suggested to use it in plasma target, however if the Schnider mode is used, than it is suggested to use it in target effect. TCI propofol, which is used in good manner can provide an anesthesia with relatifly stable haemodinamic on induction and maintenance, decrease respiratory depression and increase recovery time.
Penatalaksanaan Anestesi pada Pembedahan Akustik Neuroma dengan Monitoring Saraf Kranialis Christanto, Sandhi; Suarjaya, I Putu Pramana; Rahardjo, Sri
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3198.439 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol5i1.59

Abstract

Tumor di daerah Cerebello pontine Angle (CPA) mencakup kurang lebih 10% dari seluruh angka kejadian tumor primer intrakranial pada orang dewasa. Sebagian besar kasus tumor CPA (8090%) adalah akustik neuroma dan sisanya berupa meningioma, epidermoid, kista arakhnoid dan lain sebagainya. Akustik neuroma bersifat jinak namun dapat mengancam jiwa karena lokasinya yang berdekatan dengan struktur- struktur vital di daerah CPA. Pengelolaan anestesi pasien dengan neuroma akustik perlu memperhatikan pertimbangan-pertimbangan seperti lokasi tumor yang berdekatan dengan struktur vital, posisi operasi dan risiko yang dapat ditimbulkan, risiko emboli udara selama tindakan operasi, gangguan hemodinamik akibat manuver pembedahan di regio infratentorial dan monitoring neurofiologis selama operasi untuk mencegah kerusakan saraf kranial didaerah tersebut. Wanita 46 th, berat badan 48 kg diagnosa tumor CPA kanan, dengan diagnosa banding akustik neuroma dan meningioma. Pasien mengeluh telinga kanan berdenging dan pendengaran menurun sejak 1 tahun yang lalu namun keluhan dan gejala neurologis lain tidak didapatkan. Pemeriksaan MRI didapatkan massa di daerah CPA dextra ukuran 2,2 x 1,2 x 2,2 cm yang mendesak saraf kranial V ke supero-medial. Tindakan pembedahan dengan monitoring saraf kranialis diperlukan untuk mengambil tumor dengan meminimalkan risiko kerusakan pada saraf kranialis yang ada disekitar tumor tersebut. Tujuan dari laporan kasus ini adalah membahas pengelolaan pasien yang dilakukan pembedahan di daerah CPA dan pertimbangan-pertimbangan anestesi yang berkaitan dengan tehnik diatas.Surgery Anesthesia Management on Acoustic Neuroma with Cranial Nerves MonitoringCerebellopontine angle tumor represent 10% of all adult primary intracranial tumor. Most common form of CPA tumor (8090%) is acoustic neuroma and the rest are meningiomas, epidermoid, arachnoid cyst and many others. Although acoustic neuroma is benign lesion, this tumor can bring threat to life because the complex anatomy and important neurovascular structures that traverse this space. Like all posterior fossa surgery, perioperative considerations of acoustic neuroma management related to anatomical complexity, patient positioning, the potential for venous-air embolism, brainstem dysfunctions, hemodynamic arousal caused by surgical maneuver and intraoperative neurophysiologic monitoring. A 46 years old woman, 48kg was diagnosed with right CPA tumor with differential diagnose between acoustic neuroma and meningioma. She complained of gradual loss of hearing in right ear and associated with tinnitus . Other neurologic defisit was not found. Right CPA mass, 2,2 x 1,2 x 2,2 cm size with pressure over fifth cranial nerve to supero-medial region was found in MRI examination. Surgical approach with intraoperative neuromonitoring need to be done in order to resect tumor while minimizing risk of cranial nerve injury. The purpose of this case report is to discuss management patient with CPA tumor and its anestetic considerations which are connected to the procedure.
Penggunaan Dexmedetomidin untuk Operasi Meningioma Petroclival dengan Intraoperatif Neurophysiological Monitoring Permatasari, Endah; Suarjaya, I Putu Pramana; Saleh, Siti Chasnak; Wargahadibrata, A Himendra
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2424.984 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol6i1.35

Abstract

Dexmedetomidin merupakan obat baru yang popular dalam neuroanesthesia dan neurocritical care. Tumor supratentorial yang tersering ditemui pada orang dewasa adalah glioma, meningioma dan adenoma hipofisis. Penggunaan intraoperative neurophysiological monitoring (IOM) dapat mengurangi risiko defisit neurologis pascaoperasi. Penggunaan IOM memiliki kelebihan karena dapat mendeteksi lebih dini kelainan saraf yang mungkin akan terjadi. Seorang pasien, wanita 45 tahun dengan berat badan 60 kg dengan diagnosis meningioma petroclival kiri. Pasien dilakukan operasi kraniotomi pengeluaran tumor. Selama operasi digunakan pemeliharaan obat dexmedetomidin dan propofol.Dilakukan pemantauan menggunakan IOM. Pembiusan dan operasi berlangsung selama 5 jam. Pasien langsung dibangunkan pascaoperasi dan dirawat di ICU. Anestesi untuk operasi tumor meningioma petroclival dengan pemantauan IOM membutuhkan suatu pemahaman mengenai patofisologi otak, pengaturan dan pemeliharaan perfusi otak serta menghindari komplikasi sistemik akibat cedera otak yang terjadi. Penggunaan IOM memperbaiki luaran pasien karena dapat mendeteksi lebih dini defisit neurologis sehingga intervensi dapat dilakukan lebih awal. Pemilihan obat-obat anestesi yang tepat menjadi kunci manajemen anestesi pelaksanaan kasus ini.Dibutuhkan komunikasi yang erat antara neurofisiologist, dokter anestesi dan ahli bedah untuk interpretasi IOM.The use of Dexmedetomidine for Craniotomy Meningioma Petroclival Tumor Removal with Intraoperative Neurophysiological MonitoringDexmedetomidine is a new drug gaining popularity in neuroanestesthesia and neurocritical care practice. The most common supratentorial tumor found in adults are gliomas, meningiomas and pituitary adenomas. The use of intraoperative neurophysiological monitoring (IOM) can reduce the risk of postoperative neurological deficits. Use of IOM has the advantage of early detection of neurological disorders that might happen. A patient, a 45-year-old woman with a body weight of 60 kgs and diagnosed with left meningioma petroclival. Patient is carried out a surgery craniotomy for tumor removal. During the procedure dexmedetomidine and propofol are used. The procedure lasts for 5 hours. Patient was awakened immediately postoperatively for further monitoring in the ICU. The use of IOM in craniotomy petroclival meningiomatumor removal requires an understanding of the brain patophysiology, maintenance of cerebral perfusion pressure and avoiding systemic complications of brain injury that might occur. Use of IOM may improve patient outcomes as it can detect neurological deficits more quickly so that intervention can occur earlier. Selection of the appropriate anesthetic drugs is the key implementation anesthetic management of this case. A close working working relationship of the monitoring team, the anesthesiologist, and the surgeon is the key to the successful conduct and interpretation of IOM.
Co-Authors A Himendra Wargahadibrata A. Himendra Wargahadibrata A. Himendra Wargahadibrata Adhiwirawan, Christina Angelia Maharani Dewi Adi, Made Septyana Parama Adinda Putra Pradhana Adityawarma, Anak Agung Ngurah Agung Harawikrama Agung Bagus S. Satyarsa Aldy, Aldy Allan, Alma Hepa Andika Metrisiawan Aryasa EM, Tjahya Aulyan Syah, Bau Indah Aulyan Syah, Bau Indah Bora, Fivilia Anjelina Brillyan Jehosua Toar Budiarta, Gede Chandra, Steven Okta Christanto, Sandhi Christanto, Sandhi Christopher Ryalino Christopher, Michael Chriswidarma, Dewa Gede Cynthia Dewi Sinardja D.H., Asterina Damayanti, Elok Demoina, I Gede Patria Dewi, Dewa Ayu Mas Shintya Dewi, I Dewa Ayu Mas Shintya Eka Nantha Kusuma, Putu EM, Tjahya Aryasa Eric Makmur, Eric Firdaus, Riyadh Firdaus, Riyadh Gd. Harry Kurnia Prawedana Gde Agung Senapathi, Tjokorda Giovanni, Malvin Hartawan, I Gusti Agung G Utara Hartawan, IGAG Utara Hendrikus Gede Surya Adhi Putra Hengky Hengky, Hengky I Gede Catur Wira Natanagara I Gusti Agung Gede Utara Hartawan I Gusti Ngurah Mahaalit I Gusti Ngurah Mahaalit Aribawa I Ketut Sinardja I Made Gede Widnyana I Made Stepanus Biondi Pramantara I Putu Agus Surya Panji I Wayan Ade Punarbawa I Wayan Niryana I Wayan Suranadi I. D. G. Tresna Rismantara Ida Bagus Alit Saputra Ida Bagus Krisna Jaya Sutawan J Sutawan, Ida Bagus Krisna J. Sutawan, IB Krisna J. Sutawan, Ida Bagus Krisna Jeanne, Bianca Jimmy Wongkar Johanes, Kevin Paul Juwita, Nova Kadek Agus Heryana Putra, Kadek Agus Katipana, Madyline Victorya Ketut Yudi Arparitna, Ketut Yudi Khamandanu, Kadek Fabrian Kharisma, Chau Febriani Krisna J. Sutawan, Ida Bagus Krisnayanti, Ida Ayu Arie Kulsum Kulsum, Kulsum Kumaat, Garry D. Chrysogonus Kurniawan Komala, Tomas Ari Kurniawan Komala, Tomas Ari Kurniyanta, I Putu Kusuma, Oscar Indra Labobar, Otniel Andrians Laksono, Buyung Hartiyo Lauren, Christopher Made Septyana Parama Adi Made Wiryana Marilaeta Cindryani Lolobali, Marilaeta Cindryani MD, Burhan MD, Patricia Michael Humianto Muhammad Aris Sugiharso, Muhammad Aris Muliadi, Win Mulyadi, Win Narakusuma, Fajar Ni Made Supradnyawati, Ni Made Ni Putu Wardani Nova Juwita Nyoman Golden Paramartha, Bagus Patricia, Yoshie Permatasari, Endah Permatasari, Endah Pontisomaya Parami Prabowo, Pratama Yulius Pranata, I Made Harry Pratana, Yolanda Jenny Purwanto, Osmond Putu Herdita Sudiantara, Putu Herdita Putu Kurniyanta Ratu, Tiffani Richard Richard Saleh, Siti Chasnak Saleh, Siti Chasnak Santo, Budi Sidabutar, Beny Pratama Sidemen, IGP Sukrana Sista Satyarsa, Agung Bagus Sista Soerodjotanojo, Simson Samuel Sri Maliawan Sri Rahardjo Suastika, I Gede Juli Sucandra, I Made Agus Kresna Supradnyana, I Nyoman Novi Suranadi , I Wayan Sutawan, IB Krisna Krisna Jaya Taopan, Damatus Try Hartanto Tatang Bisri Tini, Kumara Tirta, Ian Tjokorda Gde Agung Senapathi Tjokorda Gde Bagus Mahadewa Virayanti, Luh Putu Diah Wanda, Aprilia Wargahadibrata, A. Hmendra Widyana, I Made Gede Wiryawan, I Nyoman Wisnu Wardhana Wundiawan, Kristian Felix Yani, Jancolin Yani