Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Antenatal Care dan Komplikasi Kehamilan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Barat Helwiah Umniyati; Telly Purnamasari; Esty Febriani
Jurnal Kesehatan Vokasional Vol 7, No 1 (2022): Februari
Publisher : Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkesvo.66968

Abstract

Latar Belakang: Rendahnya cakupan antenatal care (ANC) dan tingginya komplikasi kehamilan merupakan faktor risiko penting penyebab kematian ibu di Indonesia. RISKESDAS 2010 memperlihatkan komplikasi kehamilan tertinggi di Provinsi D.I. Yogyakarta (13,9%), bila dibandingkan angka nasional (6,5%) dan Jawa Barat (6,9%).Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan komplikasi kehamilan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Barat.Metode: Penelitian ini merupakan gabungan dari penelitian kuantitatif dan kualitatif. Penelitian kuantitatif menggunakan data RISKESDAS 2010 sedangkan penelitian kualitatif menggunakan wawancara mendalam dan FGD.Hasil: Analisis regresi cox menunjukkan bahwa menginformasikan gejala komplikasi kehamilan selama kunjungan ANC berhubungan secara signifikan dengan komplikasi kehamilan. Hasil dari penelitian kualitatif menunjukkan bahwa penerapan ANC di D.I. Yogyakarta sangat baik ketika dibandingkan dengan Jawa Barat. Keberhasilan ini tidak terlepas dari dukungan pemerintah dan masyarakat. Tingginya deteksi dini risiko kehamilan oleh masyarakat (157,88%) diduga menjadi penyebab rendahnya AKI di D.I. Yogyakarta.Kesimpulan: Pelaksanaan program KIA di D.I. Yogyakarta sudah sangat baik. Disarankan bahwabidan selalu menginformasikan risiko kehamilan sejak ANC pertama. Hal ini dapat mencegah terjadinya komplikasi kehamilan, terutama di provinsi dengan angka kematian ibu yang tinggi.
DUKUNGAN KELUARGA DAN PERAN SUAMI MERUPAKAN FAKTOR DETERMINAN ASI EKSLUSIF Helwiah Umniyati; Suprayitno Suprayitno; Heri Maryanto; Rendy Nur Rizaldi; Primadila Primadila; Rizka Aulia Primadani; Umi Astarawati; Yundri Martiraz
JURNAL DUNIA KESMAS Vol 8, No 4 (2019): Volume 8 Nomor 4
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jdk.v8i4.1672

Abstract

ASI eksklusif selama 6 bulan pertama dan MPASI hingga 2 tahun ke atas direkomendasikan oleh WHO/UNICEF sebagai bagian dari Strategi Pemberian Makanan Bayi dan anak. ASI eksklusif mengurangi morbiditas bayi yang disebabkan oleh penyakit menular dan mengurangi risiko penyakit kronis. Praktek pemberian ASI elsklusif masih rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pemberian ASI eksklusif dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian cross-sectional dilakukan pada Februari tahun 2011 di Kelurahan Gunung Sahari Selatan, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat dengan menggunakan total sampling. Jumlah sampel sebanyak 76 ibu yang memiliki bayi usia 6-12 bulan. Hasil penelitian menunjukan 25% ibu memberikan ASI eksklusif pada bayinya. Pada analisis bivariat didapatkan bahwa pengetahuan ibu mengenai ASI, sikap ibu, peran tenaga kesehatan, dukungan keluarga dan peran suami berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif dengan p < 0.05. Analisis multivariat dilakukan untuk menganalisis kekuatan hubungan (odds rasio). Dari regresi logistik didapatkan dukungan keluarga dan peran suami signifikan berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif dengan OR 3,7 dan 6,6. Kesimpulannya, dukungan keluarga dan peran suami merupakan penentu yang sangat penting dari pemberian ASI eksklusif. Diharapkan Puskesmas lebih menekankan pada program KIE (komunikasi, informasi dan Edukasi). Program KIE ditujukan untuk ibu, suami dan keluarga yang dapat dilakukan melalui Posyandu.
SOSIALISASI PEDOMAN GIZI SEIMBANG 2014 BAGI GURU SD N 05 JOHAR BARU Helwiah Umniyati
Info Abdi Cendekia Vol 3 No 1: Juni 2020
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.321 KB) | DOI: 10.33476/iac.v3i1.32

Abstract

Pedoman Gizi Seimbang telah dikenalkan dan disosialisasikan kepada masyarakat lebih dari 15 tahun lalu akan tetapi masih banyak masyarakat di Indonesia yang tidak mengetahui Pedoman Gizi Seimbang. Sehingga perubahan perilaku gizi masyarakat ke arah perilaku gizi seimbang masih jauh dari harapan. Konsumsi pangan belum seimbang baik kuantitas maupun kualitasnya, dan perilaku hidup bersih dan sehat belum memadai. Indonesia menghadapi masalah gizi ganda. Berdasarkan hasil Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa “stunting” pada Balita dan prevalensi Penyakit Tidak Menular (PTM) pada dewasa makin meningkat. Upaya perubahan perilaku gizi masyarakat ke arah perilaku gizi seimbang yang merupakan faktor penting dalam pencegahan timbulnya masalah gizi dan mempertahankan status gizi yang baik. Sebagian besar PTM terkait-gizi di atas berasosiasi dengan kelebihan berat badan dan kegemukan yang disebabkan oleh kelebihan gizi. Berdasarkan data Riskesdas 2007, 2010, 2013 dan 2018 memperlihatkan kecenderungan peningkatan prevalensi obesitas pada semua kelompok umur. Obesitas pada anak balita terjadi peningkatan dari 12,2% pada tahun 2007 menjadi 14% di tahun 2010), setelah itu mengalami penurunan pada tahun 2013 (11,9%) dan naik lagi menjadi 13,6% pada tahun 2018. Oleh karena itulah, kita berkewajiban untuk menerapkan dan mensosialisasikan pentingnya pedoman gizi seimbang sejak dari anak-anak. Anakyang obese mempunyai risiko yang besar untuk obes ketika dewasa. Kelebihan gizi ini timbul akibat kelebihan asupan makanan dan minuman kaya energi, kaya lemak jenuh, gula dan garam tambahan, namun kekurangan asupan pangan bergizi seperti sayuran, buah­ buahan dan serealia utuh, serta kurang melakukan aktivitas fisik. Selain masalah kegemukan, hasil riskesdas menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki masalah kekurangan gizi. Kecenderungan prevalensi kurus (wasting) anak balita 13,6% (2007), 13,3% (2010), turun menjadi 12,1% (2013) dan 10,2% pada tahun 2018. Sedangkan kecenderungan prevalensi anak balita pendek (stunting) sebesar 36,8% (2007), 35,6% (2010), 37,2% (2013) dan menjadi 30,2% (2018). Prevalensi gizi kurang (underweight) berturut-turut 18,4% , 17,9%, 19,6%, 17,7% . Melalui kegiatan pengabdian masyarakat ini, kami meningkatkan pengetahuan masyarakat, khususnya pengetahuan guru-guru SD N Johar Baru akan pentingnya penerapan gizi seimbang, agar mendapatan kesehatan yang optimal. Setelah pelatihan gizi seimbang pada guru didapatkan peningkatan pengetahuan sebanyak 41%. Diharapkan setelah meningkatnya pengetahuan gizi seimbang pada masyarakat maka perilaku gizi masyarakat akan berubah.
Pelatihan Kader Komunitas dalam Penanggulangan Tuberkulosis (TBC) di Jakarta Selatan Umniyati, Helwiah; Syarip, Achmad; Dewi Subandiyah, Ika
Smart Dedication: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2025): Smart Dedication: Jurnal Pengabdian Masyarkat
Publisher : SMART SCIENTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70427/smartdedication.v2i1.163

Abstract

Indonesia merupakan negara terbesar kedua di dunia dengan kasus Tuberkulosis (TBC). Untuk merespon situasi tersebut, Indonesia mencanangkan program “Eliminasi TBC tahun 2030. Kasus TBC di Jakarta Selatan, masih sangat tinggi dengan jumlah pasien TB sebanyak 5200 orang yang masih dalam taraf pengobatan. Investigasi Kontak (IK) merupakan pendekatan utama dalam mengupayakan penemuan kasus baru TBC di masyarakat dengan melakukan kegiatan skrining TBC kepada kontak erat dan kontak serumah. IK dilaksanakan oleh kader komunitas yang terlatih. Pelibatan kader dalam menemukan kasus baru TBC merupakan upaya untuk meningkatkan peran masyarakat dalam penanggulangan TBC. Tantangan besar di dalam melibatkan kader komunitas adalah tingkat keaktifan kader di dalam pelaksanaan program yang sering mengalami turn over atau penggantian kader. Untuk mengantisipasi situasi tersebut, maka dilakukan pelatihan kader secara periodik. YARSI TB Care bekerja sama dengan LK NU Jakarta Selatan dan Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan melakukan kegiatan pelatihan kader TBC di Kantor Walikota Jakarta Selatan pada Maret 2022, yang dibuka langsung oleh Walikota Jakarta Selatan. Jumlah kader baru yang dilatih sebanyak 20 orang berasal dari 10 Kecamatan. Rata-rata usia kader 46,6 tahun dengan usia minimum 29 tahun dan usia maksimum 56 tahun. Rata-rata nilai pre-test adalah 73 dan nilai post-test 82,3. Terjadi kenaikan pengetahuan kader sebesar 13%. Diharapkan kader terlatih ini dapat membantu meningkatkan penemuan kasus TB di Jakarta Selatan.
PELATIHAN MANAJEMEN KEBERSIHAN MENSTRUASI PADA GURU SD DAN SMP Umniyati, Helwiah
Indonesian Community Service and Empowerment Journal (IComSE) Vol. 6 No. 1 (2025): Indonesian Community Service and Empowerment Journal (IComSE)
Publisher : Divisi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat (DP2M) UNIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34010/icomse.v6i1.14541

Abstract

ABSTRACT School Sanitation is an important element in improving the quality of education because it has a significant impact on improving the health and comfort of students at school, one of the components is Menstrual Hygiene Management (MKM). MHM is the management of hygiene and health when girls are menstruating. In Indonesia, MHM has been included in the UKS but has not received integrated attention and treatment and limited knowledge of teachers about MHM. Another important issue related to MHM is the fact that male students tend to bully female students who are menstruating. Because of the importance of MHM to school teachers, YARSI University in collaboration with UNICEF Indonesia conducted MHM training for teachers through a webinar enrolled by 385 teachers from many provinces in Indonesia, however only 121 teachers could be evaluated heir knowledges. Most of the MHM training participants (86.9%) were female teachers. After the training, there was a significant increase in the level of teacher knowledge about MHM by 55.6%, using the wilcoxom test showed that there was a significant difference between knowledge before and after education (p<0.05). Through training, it is hoped that the MHM program could be implemented in schools. Teachers can deliver MHM material as part of reproductive health lessons at school, implement MHM as a mandatory activity at UKS, and provide various facilities needed by students. Other important goal was that male students have a positive attitude towards female students so gender equality will be achieved. Key words: menstrual hygiene management; school; teacher ABSTRAK Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) merupakan pengelolaan kebersihan dan kesehatan pada saat anak perempuan mengalami menstruasi. Di Indonesia, saat ini, MKM sudah masuk dalam UKS akan tetapi belum mendapat perhatian dan penanganan yang terintegrasi. Pentingnya isue MKM di sekolah terkait tiga hal yaitu rendahnya sarana sanitasi yang layak di sekolah, kurangnya akses informasi siswa mengenai pengelolaan kebersihan menstruasi secara baik dan benar, dan banyak guru yang belum tahu mengenai MKM. Tujuan dari PkM adalah melakukan sosialisasi MKM pada guru sekolah, Universitas YARSI bekerja sama dengan UNICEF Indonesia melakukan Pelatihan MKM pada guru sekolah melalui webinar yang diikuti oleh guru dengan peserta sebanyak 385 guru, akan tetapi hanya 121 peserta yang dapat dianalisis. Sebagian besar peserta pelatihan MKM (86,9%) adalah guru perempuan. Setelah pelatihan, terjadi peningkatan bermakna dari tingkat pengetahuan guru mengenai MKM sebesar 55,6%, dengan menggunakan uji wilcoxom memperlihatkan bawa terdapat perbedaan antara pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi (p<0,05). Melalui pelatihan guru diharapkan program MKM dapat diterapkan di sekolah. Guru dapat menyampaikan materi MKM sebagai bagian dalam pelajaran kesehatan reproduksi di sekolah, melaksanakan MKM sebagai salah satu kegiatan wajib pada UKS, dan menyediakan berbagai fasilitas yang dibutuhkan siswa. Tujuan penting lainnya Siswa laki-laki dapat bersikap positif terhadap siswa perempuan dalam memenuhi kesetaraan gender. Kata kunci: manajemen kebersihan menstruasi; sekolah; guru
Peran Guru pada Kegiatan Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) Menuju Indonesia Bebas Karies 2030 Umniyati, Helwiah; Ardinansyah, Agus; Atmaji, Moch; Hatta, Ridhayani; Sari, Wening
Jurnal Pengabdian Masyarakat Kesehatan Gigi FOKGII (JPMKG FOKGII) Vol. 2 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Forum Komunikasi Kedokteran Gigi Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2018 prevalensi karies usia 5-9 tahun sangat tinggi yakni 92,6%, sehingga memerlukan perhatian dan upaya pencegahan secara baik dan benar. Kegiatan Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) yang sudah dicanangkan sejak tahun 1951 tidak berjalan dengan efektif, banyak sekolah yang tidak melaksanakan kegiatan ini karena kurangnya tenaga kesehatan. Perlunya peran guru dalam pelaksanaan UKGS sebagai motor pendidikan untuk merubah tingkah laku anak dalam menjaga kesehatan gigi dan mulutnya. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat kami adalah menyiapkan guru dengan melakukan pelatihan dan pendampingan pada kegiatan UKGS. Sebanyak 33 guru dari 30 sekolah dasar di Kecamatan Ciseeng dilatih dengan materi PHBS dan khususnya materi kesehatan gigi dan mulut, pada tanggal20 Desember 2021 dengan melakukan sikat gigi yang baik dan benar dengan mengaplikasikan cairan disclosing solution sebagai marker adanya plak gigi. Kegiatan pendampingan di 30 sekolah dasar dilaksanakan dengan mengaplikasikan kegiatan ini pada siswa. Hasil setelah pelatihan terdapat peningkatan yang signifikan tingkat pengetahuan guru mengenai kesehatan gigi dan mulut sebesar 23,2 % (p=0,000). Guru diharapkan dapat melakukan kegiatan UKGS secara rutin pada siswa untuk menurunkan prevalensi karies dalam rangka mencapai tujuan Indonesia bebas karies 2030.
Sosialisasi TBC dan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) Pada Pemangku Kepentingan Empat Kecamatan Kota Administrasi Jakarta Pusat Helwiah Umniyati; Oktaviani Ranakusuma; Wening Sari; Citra Fitri
AS-SYIFA : Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat Vol 5, No 2 (2024): AS-SYIFA: JURNAL PENGABDIAN DAN PEMBERDAYAAN KESEHATAN MASYARAKAT
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/assyifa.5.2.26-36

Abstract

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru-paru dan dapat menyerang organ lain. Indonesia menempati peringkat kedua di dunia dengan jumlah kasus penyakit TB terbanyak di dunia setelah India. Rendahnya pencapaian angka eliminasi TBC, berdasarkan Rencana Strategis 2021-2025, telah mendorong Kementerian Kesehatan untuk terus meningkatkan eliminasi TBC. Program Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) di Indonesia bertujuan untuk memotong rantai penularan TBC.Dalam kegiatan ini, sosialisasi diberikan melalui berbagai indikator keberhasilan seperti pendekatan berbasis komunitas, keterlibatan tokoh agama, serta penguatan interaksi antara tenaga kesehatan dan pemangku kepentingan. Melalui pendekatan ini, diharapkan dapat tercapai eliminasi TBC pada tahun 2030 sesuai target global.
Peningkatan Kapasitas Kader Kesehatan Melalui Edukasi dalam Pencegahan dan Penatalaksanaan Stunting di Kelurahan Cengkareng Timur Helwiah Umniyati; Azzahara, Natasya; Nazla Antar; Adela Putri Amanda; Natasya Mutiara Hati; Achmad Said Agil; Mega Suhartini; Reza Bimantoro; Nur Afifah Inayah; Haikal Kamil; Anisa Mauliasyah
Info Abdi Cendekia Vol. 8 No. 1: Juni 2025
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/iac.v8i1.172

Abstract

Masalah gizi seperti stunting merupakan tantangan utama dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan anak yang optimal, khususnya di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kader kesehatan di Kelurahan Cengkareng Timur melalui penyuluhan terkait pencegahan stunting. Metode yang digunakan adalah pretest dan posttest untuk mengevaluasi pemahaman kader sebelum dan sesudah intervensi, dengan pendekatan edukasi partisipatif. Sebanyak 44 kader kesehatan yang mayoritas berusia paruh baya dan berpendidikan SMA dilibatkan dalam program ini. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pemahaman kader kesehatan setelah intervensi, dengan rata-rata peningkatan nilai sebesar 17,05 poin berdasarkan hasil uji Paired Samples T-Test (p < 0,05). Grafik pretest dan posttest juga memperlihatkan peningkatan signifikan pada sebagian besar kader. Program ini terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman kader terkait pentingnya 1.000 hari pertama kehidupan, intervensi gizi, dan peran kader dalam pencegahan stunting. Keberhasilan program ini memberikan dasar untuk pengembangan strategi berkelanjutan guna mendukung percepatan penurunan prevalensi stunting di wilayah tersebut.
Edukasi Kesehatan Gigi dan Mulut dengan Pemanfaatan “Jurnal Gigiku: Seri Kanak-Kanak” pada Siswa TK Islam Terpadu Insan Madani Jakarta Hatta, Ridhayani; Attamimi, Fathimah Azzahrah; Nurfianti, Nurfianti; Suriyah, Wastuti Hidayati; Setianingtyas, Prastiwi; Jusup, Chrisni Octavia; Arsista, Dede; Ardinansyah, Agus; Umniyati, Helwiah
Jurnal Pengabdian Masyarakat Kesehatan Gigi FOKGII (JPMKG FOKGII) Vol. 2 No. 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : Forum Komunikasi Kedokteran Gigi Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesehatan gigi dan mulut pada anak usia dini memegang peranan penting dalam menunjang tumbuh kembang optimal. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kebiasaan sehat siswa dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut melalui media edukatif "Jurnal Gigiku: Seri Kanak-Kanak" di TK Islam Terpadu Insan Madani, Jakarta. Metode pelaksanaan terdiri dari tiga tahapan, yaitu (1) perencanaan dan penyusunan materi edukasi berbasis jurnal interaktif, (2) pelaksanaan edukasi melalui sesi interaktif yang melibatkan siswa, guru, dan orang tua, serta (3) monitoring dan evaluasi dengan membandingkan hasil pretest dan posttest serta mengumpulkan umpan balik. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan siswa secara signifikan, dari 61,5% pada pretest menjadi 100% pada post-test. Selain itu, terjadi perubahan positif dalam kebiasaan menjaga kebersihan gigi dan mulut, serta peningkatan keterlibatan orang tua dalam mendampingi anak. Program ini terbukti efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan gigi dan mulut pada anak usia dini dan berpotensi untuk direplikasi secara lebih luas dan berkelanjutan.
Sprinkles: Strategi Baru Pengendalian Defisiensi Zat Besi dan Anemia pada Bayi dan Anak di Negara Berkembang Umniyati, Helwiah
Kesmas Vol. 5, No. 5
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anemia defisiensi besi pada bayi dan anak-anak merupakan masalah gizi di negara-negara berkembang termasuk di Indonesia, sementara program suplementasi dengan sirup atau tetes besi folat tidak efektif sehingga kepatuhannya rendah akibat keluhan rasa logam, pewarnaan gigi, gangguan lambung, dan potensi overdosis. Untuk meningkatkan kepatuhan suplementasi, telah dikembangkan formula micronutrient sprinkles, suatu metode baru fortifikasi zat besi yang dienkapsulasi dalam bentuk serbuk pada makanan tambahan berisi multi vitamin dan mineral. Studi kepustakaan ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pengobatan anemia pada bayi dan anak dengan formula sprinkles. Studi ini didasarkan pada rangkaian studi efikasi di Ghana dan beberapa negara lainnya. Hasil studi membuktikan bahwa suplementasi besi dengan sprinkles mempunyai efektivitas yang sama dengan sirup atau tetes besi dalam mengobati anemia dengan tingkat kepatuhannya sangat tinggi. Di Indonesia, sprinkles besi telah banyak digunakan, termasuk untuk meningkatkan status gizi anak-anak pada saat bencana. Kementerian Kesehatan RI melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Gizi Bogor telah mengembangkan sprinkles dengan nama Taburia yang telah diuji efikasi di Jakarta. Saat ini Taburia digunakan di Provinsi Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Barat. Iron deficiency anemia in infants and children is one of nutritional problems in developing countries including Indonesia, where supplementation program using iron folic acid syrup or drops is not effective with low compliance due to complaint in metallic taste, teeth staining, stomach disorders, and potential overdose. To improve the supplementation compliance, micronutrient sprinkles formula, a new encapsulated iron fortification in powder form containing multivitamins and minerals has been developed. The objective of this literature study is to know the affectivity of sprinkles formula for anemia cure in infants and children. This study was based on series of efficacy in Ghana and other countries. It shows that the sprinkles formula is effective as the syrup or drop formula in curing infants and children anemia with very high level of compliance. In Indonesia, iron sprinkles have been used widely including for improving nutritional status of children during disaster. Indonesian Ministry of Health through Bogor Nutritional Agency for Research and Development has developed sprinkles formula Taburia that already tested in Jakarta. Currently, Taburia is used in Province of South Sumatra, North Sumatra, West Nusa Tenggara (NTB), East Nusa Tenggara (NTT), South Sulawesi, and West Kalimantan.
Co-Authors Achmad Said Agil Adela Putri Amanda Alisa Novianty Pratiwi Anas Anas Anisa Mauliasyah Ardinansyah, Agus Ariska, Devina Nadiah Arsista, Dede Atmaji, Moch Attamimi, Fathimah Azzahrah Audiawati Surachmin Azzahara, Natasya Bamba, Marchell Benanziski Miegasivia Chaerita Maulani Chrisni Octavia Jusup Citra Fitri Dede Arsista Dewi Subandiyah, Ika Dewi, Intan Keumala Diniwati Mukhtar Esty Febriani Fathimah Azzahrah Attamimi Haikal Kamil Hasyim, Irva Zulviya Helda Helda Helda Helda Heri Maryanto Intan Ully Athalia Sihombing Irva Zulviya Hasyim Jusup, Chrisni Octavia Kirana, Emeraldita Dynasti Liskanita Nur Fitriana M. Zakki M. Zakki Mega Suhartini Mohd Dom, Tuti Ningseh Mondastri Korib Sudaryo Mondastri Korib Sudaryo Muhamad Zakki Nasriyatul Hannak Natasya Mutiara Hati Nazla Antar Nur Afifah Inayah Nurfianti Nurfianti NURFIANTI NURFIANTI, NURFIANTI Nurul Ima Suciwiyati Oktaviani Ranakusuma Pramigi, Ufo Prasonto, Djuned Prastiwi Setianingtyas Prastiwi Setianingtyas Pratiwi Pujilestari Sudarmono Pratiwi, Alisa Novianty Primadila Primadila Ratna Djuwita Rendy Nur Rizaldi Reza Bimantoro Ridhayani Hatta Ridhayani Hatta, Ridhayani Rifqatussa'adah, Rifqatussa'adah Rika Apriani Risna Nicola Rizka Aulia Primadani Rizky Nizza Rosita Rosita Runi Oktayani Safira Ramadhani Safrina Hanifah Sari, Dessi Marantika Nilam Setianingtyas, Prastiwi Sihombing, Intan Ully Athalia Sinta Primanita Amanah Siti Nur Riani Sri Puji Utami Atmoko Sudaryo, Mondastri Korib Suprayitno Suprayitno Suriyah, Wastuti Hidayati Suyono . Syarif, Syahrizal Syarip, Achmad Tarwiyan Puspita Ningrum Telly Purnamasari Telly Purnamasari Tunru, Insan Sosiawan Umi Astarawati Wastuti Hidayati Suriyah Wening Sari Wijayanti, Erlina Yundri Martiraz