Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Sprinkles: Strategi Baru Pengendalian Defisiensi Zat Besi dan Anemia pada Bayi dan Anak di Negara Berkembang Umniyati, Helwiah
Kesmas Vol. 5, No. 5
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anemia defisiensi besi pada bayi dan anak-anak merupakan masalah gizi di negara-negara berkembang termasuk di Indonesia, sementara program suplementasi dengan sirup atau tetes besi folat tidak efektif sehingga kepatuhannya rendah akibat keluhan rasa logam, pewarnaan gigi, gangguan lambung, dan potensi overdosis. Untuk meningkatkan kepatuhan suplementasi, telah dikembangkan formula micronutrient sprinkles, suatu metode baru fortifikasi zat besi yang dienkapsulasi dalam bentuk serbuk pada makanan tambahan berisi multi vitamin dan mineral. Studi kepustakaan ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pengobatan anemia pada bayi dan anak dengan formula sprinkles. Studi ini didasarkan pada rangkaian studi efikasi di Ghana dan beberapa negara lainnya. Hasil studi membuktikan bahwa suplementasi besi dengan sprinkles mempunyai efektivitas yang sama dengan sirup atau tetes besi dalam mengobati anemia dengan tingkat kepatuhannya sangat tinggi. Di Indonesia, sprinkles besi telah banyak digunakan, termasuk untuk meningkatkan status gizi anak-anak pada saat bencana. Kementerian Kesehatan RI melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Gizi Bogor telah mengembangkan sprinkles dengan nama Taburia yang telah diuji efikasi di Jakarta. Saat ini Taburia digunakan di Provinsi Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Barat. Iron deficiency anemia in infants and children is one of nutritional problems in developing countries including Indonesia, where supplementation program using iron folic acid syrup or drops is not effective with low compliance due to complaint in metallic taste, teeth staining, stomach disorders, and potential overdose. To improve the supplementation compliance, micronutrient sprinkles formula, a new encapsulated iron fortification in powder form containing multivitamins and minerals has been developed. The objective of this literature study is to know the affectivity of sprinkles formula for anemia cure in infants and children. This study was based on series of efficacy in Ghana and other countries. It shows that the sprinkles formula is effective as the syrup or drop formula in curing infants and children anemia with very high level of compliance. In Indonesia, iron sprinkles have been used widely including for improving nutritional status of children during disaster. Indonesian Ministry of Health through Bogor Nutritional Agency for Research and Development has developed sprinkles formula Taburia that already tested in Jakarta. Currently, Taburia is used in Province of South Sumatra, North Sumatra, West Nusa Tenggara (NTB), East Nusa Tenggara (NTT), South Sulawesi, and West Kalimantan.
Identifikasi Parameter Resistensi Moxifloxacin pada Pasien Tuberkulosis Dewi, Intan Keumala; Tunru, Insan Sosiawan; Sudarmono, Pratiwi Pujilestari; Umniyati, Helwiah; Mukhtar, Diniwati
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 4 No. 10 (2025): : JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v4i10.5011

Abstract

Tuberkulosis (TBC) tetap menjadi masalah kesehatan global yang serius dan semakin kompleks dengan munculnya resistensi obat, termasuk terhadap moxifloxacin—salah satu antibiotik golongan fluoroquinolone yang digunakan dalam pengobatan TBC resisten obat, seperti MDR-TB dan XDR-TB. Resistensi terhadap moxifloxacin menjadi tantangan besar karena dapat memperpanjang durasi terapi, meningkatkan angka kegagalan pengobatan, serta memperbesar risiko penularan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme resistensi moxifloxacin pada Mycobacterium tuberculosis dengan mengidentifikasi mutasi genetik yang berperan serta mengevaluasi dampaknya terhadap efektivitas terapi. Metode yang digunakan adalah deskriptif laboratorium dengan uji sensitivitas obat (Drug Susceptibility Testing/DST) dan analisis sekuensing gen gyrA dan gyrB dari isolat klinis M. tuberculosis. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi signifikan antara mutasi pada gen gyrA, khususnya pada kodon 90 dan 94, dengan tingkat resistensi tinggi terhadap moxifloxacin. Sementara itu, mutasi pada gen gyrB ditemukan lebih jarang, namun tetap berkontribusi terhadap resistensi tingkat sedang. Temuan ini menegaskan pentingnya penerapan diagnostik molekuler sebagai pelengkap uji konvensional untuk meningkatkan akurasi dan kecepatan deteksi resistensi. Implikasi penelitian ini menekankan perlunya skrining genotipik rutin dalam program pengendalian TBC agar terapi dapat disesuaikan dengan profil resistensi pasien, serta mencegah penyebaran lebih lanjut dari strain resisten obat. Penguatan surveilans dan deteksi dini resistensi fluoroquinolone menjadi langkah strategis untuk mendukung keberhasilan pengendalian TBC secara global.
The Effectiveness of Using Interactive Videos and Leaflets in Increasing Knowledge of Dental and Oral Health in Grade 5 and 6 Elementary School Children at Madrasah Ibtidaiyah Tarbiyatul Athfal Prastiwi Setianingtyas; Safrina Hanifah; Siti Nur Riani; Umniyati, Helwiah
YARSI Dental Journal Vol. 1 No. 01 (2023): YARSI DENTAL JOURNAL
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/ydj.v1i01.85

Abstract

Background: Elementary school age children are a group that is vulnerable to dental and oral diseases because they have behaviors or habits that are less supportive of dental health. Prevention efforts to maintain dental and oral health use counseling media in the form of videos and leaflets to increase knowledge about dental and oral health. The videos and leaflets displayed and distributed in this study contain dental and oral health counseling. Islamic teachings oblige every Muslim to seek knowledge from an early age and to maintain physical and spiritual cleanliness and purity, including dental and oral health. Objective: To determine the effectiveness of using videos and leaflets as a media for dental and oral health counseling and their review from the Islamic side. Research Methods: This type of research is quasi-experimental design. The number of respondents in this study were 93 respondents using purposive sampling method. Results: The results of the Paired T-Test test between the pre-test and post-test values ​​of counseling using video media and leaflets showed significant results (p<0.05), and the results of the Independent test between the post-test video scores and post-test leaflets showed inconsistent results. significant (p>0.05). Conclusion: The use of videos and leaflets as media for dental and oral health counseling is effective on dental and oral health knowledge in grade 5-6 Madrasah Ibtidaiyah Tarbiyatul Athfal. The use of videos and leaflets that can increase knowledge of dental and oral health in grade 5-6 elementary school children is an implementation of maqashid sharia related to Hifdz al-aql and Hifdz an-nafs
Knowledge Level of Women’s Reproductive Age Regarding Oral Health During Pregnancy Ariska, Devina Nadiah; Pratiwi, Alisa Novianty; Umniyati, Helwiah
YARSI Dental Journal Vol. 1 No. 01 (2023): YARSI DENTAL JOURNAL
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/ydj.v1i01.90

Abstract

Introduction: A woman will generally experience pregnancy, which can change the health of her oral cavity. Changes that occur in gingiva are often increasing estrogen and progesterone hormones, which are combined with alteration in oral flora and decreased immune response. This occurrence can lead to gingivitis and periodontitis during pregnancy if oral hygiene is inadequate. Periodontal disease in pregnant women is associated with premature birth, low birth weight, and preeclampsia. Objective: To determine the level of women of childbearing age regarding oral health during pregnancy at the Makassar District Health Center, East Jakarta. Research Methods: This type of research is analytic with a cross-sectional research design. The number of respondents in this study was 101 respondents using a purposive sampling method. Data collection was carried out through questionnaires and data were analyzed using the Chi-Square proportion test. Results: The results of the Chi-Square test between the level of knowledge of women of childbearing age regarding oral health during pregnancy based on age, occupation, and marital status showed insignificant results (p>0.05) while the results of the Chi-Square test based on education level, SES, and history of pregnancy showed significant results (p<0.05). Conclusion: Most women of childbearing age, who visit the Makassar sub-district health center, East Jakarta, have low knowledge about oral health during pregnancy. The knowledge of women of childbearing age at the Makassar district health center, East Jakarta, is related to their education background, SES, and history of pregnancy.
Pengaruh Menopause terhadap Xerostomia pada Wanita di Posbindu Puskesmas Bojong Nangka, Kabupaten Tangerang Umniyati, Helwiah; Kirana, Emeraldita Dynasti
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 11 (2024): Volume 4 Nomor 11 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i11.15214

Abstract

ABSTRACT The study objective was to explore the symptoms of xerostomia and the relationship between xerostomia and menopause in a group of women at Posbindu, Bojong Nangka Health Center, Tangerang. A cross-sectional study was carried out in 147 women with a mean age of 49 ± 4,2 years (range, 40–60 years). Samples were analyzed as menopause and non menopause women. Questionnaires and clinical examination of saliva viscosity were carried out to determine xerostomia in respondents. Based on the questionnaire used, it was found that 81.6% of respondents experienced xerostomia, however after examination only 36.7% of the samples had thick saliva viscosity.  There was a significant relation (p < 0,05) between menopause and xerostomia PR = 1.67 after controlling other variables using logistic regression. Based on this research it can be concluded that menopause effect on occurrence of xerostomia.  Keywords: Menopause, Xerostomia, Viscositas Saliva    ABSTRAK Tujuan penelitian untuk mengetahui gejala xerostomia serta hubungan antara xerostomia dengan menopause pada sekelompok wanita di Posbindu Puskesmas Bojong Nangka, Tangerang. Sebuah studi cross-sectional dilakukan pada 147 wanita dengan usia rata-rata 49 ± 4,2 tahun (40-60 tahun). Sampel dianalisis sebagai wanita menopause dan tidak menopause. Kuesioner dan pemeriksaan klinis viskositas saliva telah dilakukan untuk mengetahui xerostomia pada responden. Berdasarkan kuesioner yang digunakan diketahui bahwa 81,6% responden mengalami xerostomia, namun setelah dilakukan pemeriksaan hanya 36,7% sampel yang mempunyai kekentalan saliva. Terdapat hubungan yang signifikan (p < 0,05) antara menopause dengan xerostomia PR = 1,67 setelah dikontrol variabel lain dengan menggunakan regresi logistik. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa menopause berpengaruh terhadap terjadinya xerostomia. Kata Kunci: Menopause, Xerostomia, viscositas saliva 
Pelatihan Kader untuk Mencegah Ketidakpatuhan Pasien TB di Jakarta Pusat Wijayanti, Erlina; Umniyati, Helwiah; Rifqatussa'adah, Rifqatussa'adah
E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 16, No 2 (2025): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/e-dimas.v16i2.20766

Abstract

Kader merupakan anggota masyarakat yang sangat potensial untuk membantu kesuksesan pengobatan pasien tuberculosis (TB). Salah satu kendala pengobatan TB adalah ketidakpatuhan pengobatan. Kader perlu dibekali dengan kemampuan untuk memprediksi ketidakpatuhan pasien dan memberi pendampingan spesifik sesuai karakteristik pasien. Pelatihan ini menggunakan metode diskusi interaktif, pelatihan langsung dalam penggunaan aplikasi monitoring kepatuhan, dan diskusi kelompok. Peserta pelatihan adalah kader TB di Jakarta Pusat sebanyak 40 orang. Didapatkan kenaikan pengetahuan kader pada saat postes dibandingkan dengan pretes. Akan tetapi saat dilakukan monitoring sebulan setelahnya, pengetahuan kader menurun. Hal ini disebabkan karena mayoritas peserta berusia di atas 40 tahun sehingga retensi ingatan relatif lebih lemah. Berdasarkan evaluasi tersebut, disarankan untuk melakukan refreshing materi yang telah disampaikan.
Determinan Faktor dengan Ketidakpatuhan dalam Mengonsumsi Obat Antiretroviral Pada Orang Dengan HIV(ODHIV) Di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tangerang Tahun 2023 SARI, DESSI MARANTIKA NILAM; Sudaryo, Mondastri Korib; Syarif, Syahrizal; Umniyati, Helwiah; ., Suyono
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol. 9, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketidakpatuhan alasan utama Pasien HIV tidak menerima pengobatan ARV sehingga harus selalu dipantau dan dinilai secara teratur serta didorong pada setiap kunjungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati determinan faktor terjadinya ketidakpatuhan dalam mengonsumsi obat ARV pada ODHIV yang mendapatkan terapi ARV di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tangerang. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Penelitian dilakukan di poli HIV RSUD Kabupaten pada bulan November 2023 menggunakan data laporan HIV pada SIHA. Populasi penelitian berjumlah 1.337 ODHIV aktif menjalani pengobatan antiretroviral di RSUD Kabupaten Tangerang dengan menggunakan total sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi sehingga sampel penelitian berjumlah 1.286 ODHIV. Metode analisis data menggunakan cox regression dengan aplikasi STATA. Hasil analisis univariat menunjukan bahwa 88% studi populasi masuk dalam populasi kunci. Didapatkan faktor dominan yang berpengaruh terhadap ketidakpatuhan minum obat ARV adalah: variabel umur (PR 1,20 dengan 95% CI 1,05-1,38), status perkawinan (PR 1,18 dengan 95% CI 1,03-1,36), domisili (PR 1,19 dengan 95% CI 1,04-1,36), viral load (PR 1,27 dengan 95% CI 1,10-1,43), lamanya pengobatan (PR 1,25 dengan 95% CI 1,07-1,47), kelompok populasi kunci (PR 1,27 dengan 95% CI 1,04-1,56) dan dukungan teman sebaya (PR 1,15 dengan 95% 1,00-1,32). Hasil penelitian ini diharapkan menjadi acuan bagi RSUD dan Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang dalam meningkatkan penanganan HIV/AIDS, melalui edukasi dan motivasi kepatuhan ARV yang didukung keluarga, PMO, dan teman sebaya. Selain itu, perlu pengembangan SIM RS yang fleksibel serta standarisasi pencatatan dan pelaporan untuk optimalisasi pemantauan pasien.
Determinan Ketidakpatuhan Kunjungan Pengambilan Obat Antiretroviral Pasien HIV/AIDS di Kabupaten Bekasi Tahun 2023-2024 Sihombing, Intan Ully Athalia; Sudaryo, Mondastri Korib; Helda, Helda; Umniyati, Helwiah; Hasyim, Irva Zulviya
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol. 9, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Non-adherence to scheduled antiretroviral (ARV) medication pickup can reduce treatment effectiveness, increase the risk of drug resistance, and contribute to poor HIV infection control. This study aimed to identify factors associated with missed ARV pickup appointments among people living with HIV/AIDS in Bekasi District. An analytical cross-sectional study was conducted using secondary data from HIV/AIDS patients undergoing ARV therapy in 2023–2024. Data were analyzed descriptively (univariate), using Chi-square tests (bivariate), and log-binomial regression (multivariate). Among 811 patients, 341 (42%) were recorded as non-adherent to their medication pickup schedule. The results showed that having an unsuppressed viral load (>50 copies/ml) significantly increased the risk of non-adherence (PR: 2.23; 95% CI: 1.74–2.86; p<0.001). Additionally, patients who had been on treatment for more than five years showed a higher tendency for non-adherence, although this was not statistically significant (PR: 1.17; 95% CI: 0.91–1.49; p=0.214). These findings highlight the importance of regular viral load monitoring and sustained support for long-term ARV patients to improve adherence. Keywords : HIV/AIDS, Adherence of Appointment, Viral Load, Antiretroviral Therapy, Treatment Duration