Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

UJI AKURASI TEGANGAN KELUARAN RADIASI PADA PESAWAT SINAR -X MERK MEDONICA DI RS PANTI NUGROHO SLEMAN Pratiwi, Arina Deryanti; Wati, Retno; Utami, Asih Puji
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 2 (2025): JUNI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i2.45495

Abstract

Pesawat sinar-X merupakan salah satu peralatan utama dalam pencitraan radiologi diagnostik. Uji kesesuaian bertujuan untuk menjamin pengoperasian pesawat sinar-X yang handal dan aman bagi pasien, pekerja, serta masyarakat. Salah satu contoh parameter uji kesesuaian pesawat sinar-X adalah akurasi tegangan tabung (kVp). Pada pesawat sinar-X merk Medonica di RS Panti Nugroho Sleman, pengujian akurasi tegangan keluaran radiasi terakhir dilakukan pada tahun 2020. Tujuan penelitian adalah melakukan evaluasi dan untuk memberikan rekomendasi yang diperlukan  guna memperbaiki atau menyesuaikan kinerja tabung sinar-X, jika ditemukan adanya ketidaksesuaian atau ketidakakuratan, sehingga memastikan alat berfungsi dengan optimal dan aman untuk digunakan. Metode  penelitian adalah kuantitatif dengan pendekatan eksperimental. Uji akurasi tegangan tabung pesawat sinar-X menggunakan alat Raysafe yang telah dikalibrasi sebelumnya. Pengujian dilakukan sebanyak tiga kali pada parameter teknik yang sama (tegangan, arus, dan waktu eksposi) pengukuran dianalisis dengan menghitung nilai koefisien variasi (KV) untuk mengetahui tingkat ketidakteraturan output sinar-X yang dihasilkan dan membandingkan hasil pengujian apakah sudah memenuhi standar yang ditetapkan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai koefisien variasi dari tiga kali pengukuran berada dalam batas toleransi yang ditetapkan oleh standar IAEA dan Permenkes RI, yaitu kurang dari 5%. Dengan demikian, pada pesawat sinar-X Medonica di RS Panti Nugroho Sleman memiliki tingkat akurasi luaran tegangan yang baik dan layak digunakan dalam pelayanan radiologi secara aman dan andal. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa nilai kVp-ukur yang diperoleh pada hasil pengujian akurasi tegangan di RS Panti Nugroho Sleman masih berada dalam batas toleransi yang ditetapkan oleh standar Peraturan Badan Pengawas Tenaga Nuklir Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2022, yaitu ±10% dari nilai yang diatur pada alat.
Safety analysis of X-ray radiation exposure in installation Iqna, Iqna Purwitasari; Nugroho, Anshor; Utami, Asih Puji
International Journal of Health Science and Technology Vol. 7 No. 1 (2025): Juli
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31101/ijhst.v7i1.4035

Abstract

Radiology is important in early detection and risk assessment through real-time imaging. However, radiation safety in radiology installations remains a major concern in protecting patients, medical personnel, and the public from ionizing radiation exposure to avoid exceeding the Dose Limit Value (NBD). This study aims to analyse the results of X-ray radiation exposure and evaluate the radiation safety procedures implemented to reduce the risk of radiation exposure in the Radiology Installation of Panti Nugroho Sleman Hospital. The method used in this research is qualitative with an experimental approach conducted at Radiology Installation of Panti Nugroho Hospital Sleman in August 2024 - January 2025. Data collection was carried out at 10 measurement points where each point was measured three times then the measurement results were calculated using the formula and then compared with BAPETEN Regulation No. 5 of 2016. The results obtained are the value of radiation exposure measurements for 10 points of measurement area on conventional aircraft, namely 0 µSv / hour, 0 µSv / hour, 0.03 µSv / hour, 0 µSv / hour, 0.33 µSv / hour, 0.03 µSv / hour, 0 µSv / hour, 0.13 µSv / hour, 0.03 µSv / hour, and 0 µSv / hour. As well as radiation exposure measurement values for 10 points of measurement area in the panoramic plane, namely 0 µSv/hour, 0 µSv/hour, 0 µSv/hour, 0 µSv/hour, 0.03 µSv/hour, 0 µSv/hour, 0 µSv/hour, 0 µSv/hour, 0 µSv/hour, 0 µSv/hour. In addition, standard operating procedures such as room management, equipment maintenance, provision of aprons, implementation of radiation exposure testing, use of TLD (Thermoluminescence Dosimeter), and health checks have been implemented in a structured manner in order to prevent and protect the safety of all parties and the environment. It is expected that this research can be useful for health aspects for radiation workers such as being able to identify ways to reduce radiation exposure in order to avoid stochastic effects, gene mutations, and so on by developing more effective safety protocols to reduce X-ray radiation exposure for radiology workers and the public.
A Case Study of the Head CT Scan Procedure in Pediatric Patients with Clinical Hydrocephalus at Hospital X Ponorogo Dewi, Hanifa Larasati; Nasokha, Ildsa Maulidya Mar’athus; Utami, Asih Puji
Jurnal Biologi Tropis Vol. 25 No. 4 (2025): Oktober-Desember
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v25i4.10197

Abstract

Hydrocephalus is a common congenital abnormality in pediatric patients, characterized by ventricular enlargement due to the accumulation of cerebrospinal fluid (CSF). However, variations in handling, parameters, and radiation protection exist among hospitals, necessitating further evaluation. This study aims to analyze the head CT scan procedure in pediatric patients with clinical hydrocephalus. This study employed qualitative case study design involving a 7-month-old pediatric patient with an indication of hydrocephalus. Data were obtained through observation and interviews with three radiographers and one radiology specialist, as well as from secondary sources. The hospital’s examination procedure included general preparation, positioning the patient supine (head first), and no sedation was performed. Technical parameters used the default settings of the machine, 120 kV, 140 mAs, slice thickness of 5 mm, and reconstruction slice of 1.25 mm, for both pediatric and adult patients. Radiation protection was applied only to the patient’s companion, while the patient dose was monitored by the CT system. Radiographic findings indicated obstructive hydrocephalus with a cystic lesion, with the underlying cause identified as Dandy–Walker malformation. In conclusion, pediatric head CT scan procedures were performed according to basic standards. However, the use of standard parameters and limited radiation protection indicate a need for improvement. It is recommended to implement protocols tailored to the patient's age and clinical condition, and optimize radiation protection according to the ALARA principle, to improve examination quality and patient safety.
KELAYAKAN LEAD APRON DI LABORATORIUM RADIOLOGI UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA Rofi Nur Rohman; Widya Mufida; Asih Puji Utami
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 4: September 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Alat pelindung diri penting dalam radiologi untuk melindungi dari paparan sinar-X. Di Laboratorium Radiologi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, tiga unit Lead Apron belum diuji rutin sesuai standar BAPETEN dan Kepmenkes. Penelitian ini bersifat observasional deskriptif kualitatif dengan observasi langsung dan wawancara. Pengujian dilakukan dengan membagi apron menjadi empat kuadran dan memeriksa kerusakan menggunakan imaging plate serta software radiografis. Hasilnya, dua dari tiga apron menunjukkan kerusakan minor pada area non-vital, masih dalam batas toleransi (Lambert, 2001), sehingga tetap layak pakai. Namun, pengujian belum dilakukan secara berkala, dan prosedur di lapangan tidak sepenuhnya sesuai standar. Disarankan agar pengujian dilakukan rutin tiap tahun, serta sistem penyimpanan dan perawatan ditingkatkan untuk menjaga efektivitas apron sebagai pelindung radiasi.
Gambaran Pengetahuan Orang Tua Pasien Pediatrik Mengenai Bahaya Radiasi Sinar-X di RSU PKU Muhammadiyah Bantul Anisa, Anisa; Utami, Asih Puji; Wati, Retno
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 3 (2025): Desember
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemeriksaan radiologi bermanfaat menegakkan diagnosa suatu penyakit, namun terdapat bahaya merugikan yang ditimbulkan oleh radiasi sinar-x. Salah satu penerima dampak tersebut adalah pasien pediatrik dan orang tua pendamping apabila pasien non kooperatif pada pemeriksaan. Di RS PKU Muhammadiyah Bantul terjadi kecenderungan orang tua pasien pediatrik yang selalu ingin menemani anaknya pada saat pemeriksaan karena orang tua merasa khawatir dan pasien pediatrik merasa takut saat akan melakukan pemeriksaan radiologi tanpa mengetahui bahaya radiasi sinar-x. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan orang tua pengantar pasien pediatrik tentang bahaya radiasi sinar-x. Jenis penelitian yang digunakan kualitatif deskriptif. Lokasi penelitian di Instalasi Radiologi RSU PKU Muhammadiyah Bantul. Waktu pengambilan data dari bulan Mei-Agustus 2024. Subjek penelitian terdiri 7 Orang tua pasien pediatrik. Pengambilan data penelitian menggunakan observasi awal, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Data yang terkumpul kemudian di analisis dengan reduksi data dari transkrip wawancara, disajikan dalam bentuk tabel kategorisasi, dilakukan perbandingan dalam bentuk narasi hingga di tarik kesimpulan. Penelitian menunjukkan sebagian besar informan hanya memahami radiologi sebatas pemeriksaan rontgen tanpa mengetahui risiko paparan radiasi sinar-X. Pengetahuan mengenai keselamatan radiasi sangat rendah, dan seluruh informan tidak mengetahui pentingnya penggunaan alat pelindung seperti apron timbal. Meski beberapa memahami tujuan pemeriksaan, namun pengetahuan efek jangka panjang dari radiasi sangat minim. Faktor penyebabnya meliputi kurangnya edukasi tenaga medis dan tidak tersedianya media informasi visual yang memadai. Berdasarkan penelitian ini disimpulkan bahwa orang tua pasien pediatrik kurang memahami mengenai radiologi secara umum, pemahaman tentang bahaya radiasi juga kurang paham dan tujuan pemeriksaan radiologi informan cukup memahami. Orang tua pediatrik paling tidak paham mengenai keselamatan radiasi namun cukup baik pemahamannya mengenai lampu indikator pada ruang radiologi. Saran peneliti sebaiknya radiografer memberikan edukasi singkat namun bermakna kepada orang tua pasien sebelum pemeriksaan dilakukan. Edukasi dapat disampaikan secara verbal, tertulis maupun melalui media seperti poster atau infografis diruang tunggu radiologi.
Community Economic Improvement Through Processing Cassava Into Mocaf Flour Mufida, Widya; Fakhrurreza, Muhammad; Astari, Fisnandya Meita; Utami, Asih Puji; Faesol, Ahmad
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 11th University Research Colloquium 2020: Bidang Pengabdian Masyarakat
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Singkong yang memiliki nama latin Manihot Esculennta merupakantumbuhan jenis umbi akar atau akar pohon yang panjang fisik ratarata-rata bergaris tengah 2-3 cm dan panjang 50-8080 cm, tergantung darijenis s singkong yang ditanam. Dalam industri makanan, pengolahansingkong dapat digolongkan menjadi tiga yaitu hasil fermentasisingkong, singkong yang dikeringkan, dan tepung singkong atautepung tapiokatapioka. Di Yogyakartagyakarta terdapat suatu dusun yang memilikilahan perpertaniantanian singkong yang luas yaitu Dusun Muntuk. DusunMuntuk merupakan dusun yang sebagian besar penduduknya bekerjasebagai petani singkong, dan hasil panen para petani singkongsebagian digunakan untuk p pakanakan ternak pada musim panas dansebagian dijual dengdengan harga yang rendah. Potensiotensi budidaya danpengolahan singkong di desa Muntuk sangat besar dan hingga kinibelum dimanfaatkan secara maksimamaksimal. Melaluielalui program PengabdianMasyarakat di Dusun Muntuk dapat memberdayakan masyarakatdengan memanfaatkan hasil pepertanianrtanian berupa singkong menjadisebuah produk pangan yang bernilai jual tinggi yaitu MocafMocaf.
PKM Posyandu Remaja Kelompok “Angkatan Muda Purworejo Hargobinangun” (Ampuh) Pakem, Sleman Utami, Asih Puji; Mufida, Widya; Mulyani, Dewi Ari; Ibawi, Rizal Nur; Susilo, Sugeng Hadi
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 11th University Research Colloquium 2020: Bidang Pengabdian Masyarakat
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Padukuhan purworejo Hargobinangun Pakem terletak di lereng gunung merapi, yang jauh dari pusat kabupaten. Padukuhan purworejo memiliki organisasi remaja bernama AMPUH, yaitu Angkatan Muda Purworejo Hargobinangun. Anggota AMPUH berkisar antara 30-40 remaja yang berusia antara 12-15 tahun. Kegiatan yang telah dilaksanakan, diantaranya adalah menyelenggarakan perayaan hari besar nasional seperti hari kemerdekaan, hari besar islam, sumpah pemuda dan sebulan sekali menyelenggarakan kegiatan jalan santai. Namun banyak permasalahan dan kegiatan remaja terutama bidang kesehatan yang belum tersentuh. Sehingga perlu dibentuk posyandu dengan sasarannya remaja untuk memberdayakan remaja purworejo agar sehat secara mandiri. Kegiatan pelatihan kader posyandu remaja dirancang untuk memberikan edukasi kepada remaja mengenai desa Padukuhan Purworejo Hargobinangun. Pelatihan dilakukan selama satu hari sedangkan untuk praktik para kader posyandu remaja yang telah dilatih tersebut dilakukan pada bulan selanjutnya. Kegiatan ini diawali dengan memberikan pelatihan pada kader remaja untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan yang peduli remaja, mencakup upaya promotif dan preventif. Posyandu yang telah terbentuk akan diadakan secara rutin 1 bulan sekali pada minggu kedua yang didampingi oleh Puskesmas Pakem dan kader posyandu ibu-ibu padukuhan Purworejo. Kegiatan yang dilakukan diantaranya adalah (1) Pendaftaran peserta posyandu, (2) Pengukuran Tinggi badan, Berat Badan, Lingkar Lengan, Lingkar Perut, pengecekan anemia, (3) Pencatatan hasil pengukuran, (4) Pelayanan Kesehatan, contoh : Pemeriksaan tanda-tanda vital, Konseling hasil pengisian kuesioner kecerdasan majemuk, Merujuk remaja ke faskes dan (5) KIE. Program KIE yang dapat diberikan diantaranya adalah kegiatan penyuluhan, pemutaran film, bedah buku, pengembangan ketrampilan (seperti ketrampilan membuat kerajinan tangan, ketrampilan berwirausaha, senam atau peregangan).
ANALISIS KEBUTUHAN SUMBER DAYA DI INSTALASI RADIOLOGI RSUD XXX BERDASARKAN PERMENKES NO. 24 TAHUN 2020 Alamri, Gifara Syawaliah; Mukmin, Amril; Utami, Asih Puji
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i4.7145

Abstract

This research was motivated by the gap between the human resource standards mandated by Minister of Health Regulation No. 24 of 2020 and the actual conditions in the Radiology Unit of XXX Regional Hospital. The regulation requires administrative staff and radiology nurses, but initial observations indicated the absence of both professions, potentially leading to overlapping duties and service inefficiencies. Therefore, this study focused on analyzing the human resource (HR) needs at the unit and identifying strategies to address them. This study used a qualitative descriptive approach, with data collected through in-depth interviews with the Head of the Radiology Unit and two radiographers, as well as a documentation study conducted in May 2025. The results confirmed that the Radiology Unit of XXX Regional Hospital did not meet the standards stipulated by Minister of Health Regulation No. 24 of 2020 due to the lack of administrative staff and radiology nurses. Key findings indicate that this shortage leads to overlapping duties and an increased workload for radiographers. It was concluded that to maintain smooth operations, the installation implemented an adaptive strategy in the form of optimizing existing personnel through rotating task allocation and collaboration with other units such as the Emergency Room. ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya kesenjangan antara standar ketenagaan yang diamanatkan oleh Permenkes No. 24 Tahun 2020 dengan kondisi riil di Instalasi Radiologi RSUD XXX. Peraturan tersebut mensyaratkan adanya tenaga administrasi dan perawat radiologi, namun observasi awal menunjukkan ketiadaan kedua profesi tersebut, yang berpotensi menyebabkan tumpang tindih tugas dan inefisiensi pelayanan. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus untuk menganalisis kesenjangan kebutuhan sumber daya manusia (SDM) di instalasi tersebut dan mengidentifikasi strategi yang diterapkan untuk mengatasinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam terhadap Kepala Instalasi Radiologi dan dua radiografer, serta studi dokumentasi pada Mei 2025. Hasil penelitian mengonfirmasi bahwa Instalasi Radiologi RSUD XXX belum memenuhi standar Permenkes No. 24 Tahun 2020 karena tidak memiliki tenaga administrasi dan perawat radiologi. Temuan utama menunjukkan bahwa kekurangan ini menyebabkan tumpang tindih tugas dan meningkatnya beban kerja radiografer. Disimpulkan bahwa untuk menjaga kelancaran operasional, pihak instalasi menerapkan strategi adaptif berupa optimalisasi tenaga yang ada melalui pembagian tugas secara bergilir dan kerja sama dengan unit lain seperti IGD.
STUDI KASUS FAKTOR PENYEBAB ARTEFAK PADA RADIOGRAF COMPUTED RADIOGRAPHY DI RS PKU MUHAMMADIYAH SRUWENG Nurliscyaningsih, Ike Ade; Alfiah, Sofi Huril; Fa’ik, Muhamad; Utami, Asih Puji
Jurnal Cahaya Mandalika ISSN 2721-4796 (online) Vol. 4 No. 3 (2023)
Publisher : Institut Penelitian Dan Pengambangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jcm.v4i3.1983

Abstract

Quality assurance (QA) and quality control (QC) are essential to maintaining the quality of radiology services. Providing optimal healthcare requires professionalism and skillful work. To achieve accurate diagnoses, high-quality radiographic images are necessary, and artifacts are a common issue in computed radiography (CR). At PKU Muhammadiyah Sruweng Hospital, artifacts are frequently observed in CR images, necessitating an investigation into the contributing factors. This research aims to identify the causes of artifacts and determine the percentage of artifacts in CR images at PKU Muhammadiyah Sruweng Hospital. The study design is qualitative and descriptive. Data collection involves direct observation of existing artifact issues. Once the problems are identified, the data is analyzed on the computer based on the factors contributing to the artifacts. The data obtained is further reinforced through interviews. The data range used for the study is from September 2022 to November 2022. The research results indicate that operator errors, issues with the imaging plate, exposure factors, and the use of grids are the primary causes of artifacts in radiology images. The percentage of artifacts during the three-month period averaged 6.7%, exceeding the limit set by KMK 2008. To reduce artifacts, it is recommended to provide training for operators to enhance their skills, ensure proper patient preparation, perform routine maintenance on imaging plates and radiology systems, and pay attention to the appropriate use of grids. Continuous evaluation of radiology image acquisition is also crucial to improving the quality of healthcare services at PKU Muhammadiyah Sruweng Hospital.
PENINGKATAN KAPASITAS PENANGANAN KEGAWATDARURATAN DENGAN KASUS PATAH TULANG (FRAKTUR) PADA REMAJA Mar'athus Nasokha, Ildsa Maulidya; Utami, Asih Puji; Anggraeni, Ari; Fadhila, Hafidzoh Q.; Triwahyuningsih, Aprillia; Salsabila, Shelvira; Nugroho, Anshor
Hawa : Jurnal Pemberdayaan Dan Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2023): Agustus 2023 Hawa : Jurnal Pemberdayaan Dan Pengabdian Masyarakat (HAWAJPPM)
Publisher : Yayasan Wayan Marwan Pulungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69745/hawajppm.v1i2.19

Abstract

One of the most common consequences of a traffic accident is a femur fracture. Those fractures can cause bleeding, internal organ injury, wound infection, respiratory syndrome and disability. Several studies state that the age range of 16-20 years old has the most traffic accidents and fractures. A fracture is a disturbance of the normal continuity of a bone, if a fracture occurs, the surrounding soft tissue is also often disturbed. Radiographs (s-rays) can show bone injuries but are unable to show torn muscles or ligaments, severed nerves, or broken blood vessels which can complicate the client’s recovery. An open fracture is a condition where fragments are or have been in contact with the outside world (Black and Hawks, 2014). Inspection for a fracture by looking for swelling, visible bone protruding from soft tissue. Treatment in general in this emergency situation, one which is to immobilize the fracture with support, bandage or splint. Efforts to improve students’ skills in handling