Claim Missing Document
Check
Articles

KARAKTERISTIK HARD CANDY MINYAK ATSIRI DAUN KEMANGI (Ocimum basilicum L.) DENGAN PENAMBAHAN EKSTRAK DAUN KERSEN (Muntingia calabura L.) Syafri Dwiananta; Bara Yudhistira; Rohula Utami
AGROINTEK Vol 16, No 1 (2022)
Publisher : Agroindustrial Technology, University of Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrointek.v16i1.11848

Abstract

Basil leaf essential oil hard candy with the addition of cherry leaf extract is an innovation in the food sector in an effort to develop functional food products by adding antioxidant activity through natural ingredients that are easily found. Basil is a plant that is often used as a producer of essential oils. The addition of basil to dishes creates a distinctive aroma that enhances the taste buds and results in longer cooking. Cherry leaves contain various compounds such as flavonoids, tannins, triterpene, sanponins and polyphonols which have antioxidant activity.Flavonoids themselves also function as antihypertensive, antimicrobial, anti-inflammatory and can treat liver dysfunction. This study aims to determine the best formulation of hard candy basil essential oil with the addition of cherry leaf extract based on chemical, physical, and sensory analysis. The experimental design in this study was a completely randomized design (CRD). In this study there were 5 formulas, namely, Formula 1 (80% addition of cherry leaf extract per volume of material), Formula 2 (60% addition of cherry leaf extract per volume of material), Formula 3 (50% addition of cherry leaf extract per volume of material), Formula 4 (40% addition of cherry leaf extract per volume of material), Formula 5 (20% addition of cherry leaf extract per volume of material). Data analysis in this study used the One Way ANOVA method, with the DMRT further test at the 95% significance level. Based on the research results obtained Formula 5 as the best formula with a water content of 1.844%, ash content of 2.141%, reducing sugar content of 18.338%, water activity of 0.525, pH of 6.850, and antioxidant activity of 6.643%, color 82.594 0Hue, hardness of 477.660 N, and cohesiveness. 0.120 N, with the overall panelist acceptance rate being somewhat favorable
Optimasi Proses Ekstraksi Dan Karakterisasi Oleoresin Daun Kayu Manis (Cinnamomum Burmanii) Dua Tahap Lia Umi Khasanah; Baskara Katri Anandhito; Qurothul Uyun; Rohula Utami; Godras Jati Manuhara
INDONESIAN JOURNAL OF ESSENTIAL OIL Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Institut Atsiri Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (842.697 KB) | DOI: 10.21776/ub.ijeo.2017.002.01.03

Abstract

Oleoresin merupakan campuran antara minyak atsiri dan resin yang diperoleh dari hasil ekstraksi. Oleoresin diharapkan mampu menjadi alternatif bentuk penyimpanan senyawa volatil yang terdapat pada rempah-rempah. Daun kayu manis memiliki kandungan minyak atsiri sebesar 1,8%. Dalam perdagangan internasional oleoresin memiliki kadar minyak atsiri minimal 15%, sehingga diperlukan suatu cara untuk memenuhi kadar tersebut. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah melakukan pencampuran oleoresin hasil ekstraksi dengan minyak atsiri hasil destilasi. Proses pencampuran ini menghasilkan oleoresin daun kayu manis dua tahap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi optimum dalam mendapatkan rendemen oleoresin daun kayu manis dua tahap dan karakterisasinya. Penelitian ini menggunakan metode Response Surface Methodology (RSM) dengan dua faktor yaitu suhu ekstraksi (70, 75, dan 80 ºC) dan waktu ekstraksi (4, 5, dan 6 jam). Dari hasil penelitian didapatkan rendemen predictive value sebesar 12,27% dan experimental value sebesar 10,7%, pada suhu ekstraksi 78°C selama 5 jam 9 menit. Oleoresin daun kayu manis dua tahap yang didapatkan memiliki kandungan senyawa aktif Benzyl benzoat sebesar 42,09 %, kadar minyak atsiri 22,22 % dan kadar sisa pelarut 0,37%.
Formulation and Characterization of Nanoencapsulated-Based Eucalyptus Oil (Eucalyptus citriodora) Lozenges Hard Candy Christina Winarti; Rohula Utami; Gusmaini Gusmaini; Kendri Wahyuningsih; Cylvia Arinta Agustaningrum
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 27, No 2 (2021): December 2021
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v27n2.2021.58-68

Abstract

Eucalyptus citriodora is one type of essential oil with many benefits including adjuvant therapy of Covid-19. One product that can be developed is hard candy. Addition of eucalyptus oil in the form of nanoencapsulates in the manufacture of hard candy can increase the functional value of the resulting product, provides a relief effect and distinctive taste when consume. The purpose of this research was to find out the physical, chemical and sensory characteristics, also to know the best formulation of hard candy lozenges. Research was conducted at Laboratory of Indonesian Center Postharvest Research and Development on October 2020 – February 2021. It used the Completely Randomized Design (CRD) with one factor and five treatments, that was the ratio of sucrose and nanoencapsulate concentrations. Formulation of hard candy were glucose 24.3%, water 18.2%, ratio of sucrose and nanoencapsulate percentage were 56:1.5; 55.5:2; 55:2.5; 54,5:3; 54:3.5. Sample repetitions were carried out three times. Collected data were analyzed by one way ANOVA. Determination of the best formula used weight score. Result showed that the best and most preferred formula was at F3 with a ratio of sucrose:nanoenkapsulat 55:2.5. This formulation has physical characteristics of total color difference 8.52; density 1.774 g/cm3. The chemical characteristics of moisture content, ash, total sugar, reducing sugar and essential oil content were 1.38%; 0.75%; 51.07%; 4.39%; and 0.31% respectively. Manufacturing eucalyptus base candy is one of diversification of essential oil for health as throat relief.Keywords: Hard candy; nanoencapsulates; eucalyptus oil; peppermint oil, lozenge  AbstrakFORMULASI DAN KARAKTERISASI HARD CANDY PELEGA TENGGOROKAN BERBASIS NANOENKAPSULAT MINYAK EUKALIPTUS (Eucalyptus citriodora)Eucalyptus citriodora merupakan salah satu jenis tanaman penghasil minyak atsiri dengan banyak manfaat, termasuk untuk pendukung terapi Covid-19. Salah satu produk yang bisa dikembangkan adalah permen keras (hard candy). Penambahan minyak eukaliptus dalam bentuk nanoenkapsulat pada pembuatan hard candy dapat meningkatkan nilai fungsional, serta memberi efek melegakan dan cita rasa khas ketika dikonsumsi. Tujuan penelitian adalah mengetahui karakteristik fisik, kimia, sensoris, dan formulasi terbaik pada produk hard candy pelega tenggorokan dengan penambahan nanoenkapsulat minyak eukaliptus-peppermint. Penelitian dilakukan di Laboratorium BB Pascapanen pada bulan Oktober 2020–Februari 2021. Rancangan percobaan menggunakan Acak Lengkap satu faktor dengan 5 perlakuan perbandingan konsentrasi sukrosa dan nanoenkapsulat masing-masing sebesar 56:1,5; 55,5:2; 55:2,5; 54,5:3; dan 54:3,5. Pada setiap formula digunakan glukosa 24,3% dan air 18,3%. Perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Data karakteristik fisik, kimia, dan sensoris dianalisis menggunakan ANOVA, sedangkan penentuan formulasi hard candy terbaik menggunakan metode uji pembobotan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula hard candy terbaik dan paling disukai adalah formula dengan perbandingan sukrosa:nanoenkapsulat 55:2,5. Formula ini memiliki karakteristik fisik perbedaan warna total (∆E*) 8,52 dan kerapatan 1,774 g/cm3; serta karakteristik kimia yang meliputi kadar air 1,38%; kadar abu 0,75%; kadar sukrosa 51,07%; kadar gula reduksi 4,39%; dan kadar total minyak atsiri 0,31%. Pembuatan permen berbasis eukaliptus merupakan diversifikasi minyak atsiri untuk kesehatan yang dapat membantu melegakan tenggorokan.Kata kunci : Hard candy; nanoenkapsulat; minyak eukaliptus; minyak peppermint, pelega tenggorokan 
Pengaruh Virgin Coconut Oil (VCO) terhadap Karakteistik Fisik, Kimia dan Mikrobiologi Strawberry (Fragaria x ananassa) Selama Penyimpanan Lintang Sawitri Nugraheni; Rohula Utami; Siswanti Siswanti
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 14, No 1 (2020): TEKNOTAN, Agustus 2020
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jt.vol14n1.2

Abstract

Strawberry merupakan salah satu buah hortikulura yang mudah rusak (perisable), sehingga memiliki umur simpan yang pendek. Kerusakan strawberry disebabkan karena pembusukan akibat pengaruh mekanis maupun mikrobioogi. Penurunan kualitas buah dapat ditandai dengan penurunan susut bobot, kelayuan, penurunan firmness, dan penurunan nilai gizi. Pengawetan strawberry segar sangat diperlukan untuk mempertahankan karakteristik pada strawberry. Salah satu cara mengurangi kerusakan dengan metode pelapisan (coating). Pada penelitian ini dilakukan usaha untuk memperpanjang umur simpan strawberry dengan menggunakan VCO. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik fisik, kimia, mikrobiologi dan metode pengaplikasian VCO yang efektif untuk memperpanjang umur simpan strawberry. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yaitu metode pengaplikasian VCO (kontrol, dipping, dan spraying). Data karakteristik dianalisis secara statistik menggunakan one way ANOVA. Jika data menunjukkan hasl beda nyata antar perlakuan maka dilanjutkan uji DMRT pada α = 0,05. Hasil penelitian menunjukan bahwa VCO dapat mempertahankan susut bobot, warna, firmness, kadar air, TPT, Vitamin C, pH, TAT dan menurunkan total mikroba strawberry selama penyimpanan. Metode pengaplikasian Virgin Coconut Oil (VCO) dipping dan spraying efektif dalam menghambat pertumbuhan mikroba pada strawberry selama 12 hari penyimpanan.
Pengaruh Rasio Bahan Penyalut Maltodekstrin, Gum Arab, dan Susu Skim terhadap Karakteristik Fisik dan Kimia Mikrokapsul Oleoresin Daun Kayu Manis (Cinnamomum burmannii) Lia Umi Khasanah; Baskara Katri Anandhito; Titiek Rachmawaty; Rohula Utami; Godras Jati Manuhara
agriTECH Vol 35, No 4 (2015)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.577 KB) | DOI: 10.22146/agritech.9325

Abstract

This research was aimed to determine the effect of rasio variation of coating materials which are maltodextrin: arabic gum : skim milk (2 : 0: 4); (2: 2: 2); (0: 4: 2) and (2: 0: 4) on the physical characteristics of two-steps oleoresin microcapsule such as yield, moisture content, solubility in water and the microstructure; and to investigate the chemical characteristics of selected two-steps oleoresin microcapsule which were levels of residual solvent and active compounds. The experimental design used in this research was Completely Randomized Design(CRD) with one factor (rasio variation of coating materials). The results showed that the rasio variation of coating materials had significant effect on the yield and water content, but unsignificantly affected the solubility in water. The results of microstructure observation indicated that the presence of skim milk in larger quantity produced a better microstructure appearance. Residual solvent levels of selected microcapsule (maltodextrin : arabic gum : skimmilk = 2 : 0 : 4) was 0 ppm and the active compound of selected microcapsule were linalool, coumarin, 9-hexadecenoic acid, 1.8-cineole and benzene (3.3 dimethlbuthyl).ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bahan penyalut berupa maltodekstrin, gum arab dan susu skim terhadap karakteristik fisik dan kimia mikrokapsul oleoresin daun kayu manis dua tahap. Dalam penelitian ini dilakukan empat variasi bahan penyalut berupa maltodekstrin: gum arab: susu skim (2:0:4, 2:2:2, 0:4:2 dan 2:0:4). Karakteristik fisik yang diuji meliputi rendemen, kadar air, kelarutan dalam air, dan mikrostruktur. Karakteristik kimia mikrokapsul oleoresin daun kayu manis dua tahap terpilih yang diuji meliputi kadar sisa pelarut dan kadar senyawa aktif. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yaitu variasi rasio bahan penyalut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi rasio bahan penyalut berpengaruh signifikan terhadap rendemen dan kadar air, namun tidak berpengaruh secara signifikan terhadap parameter kelarutan dalam air. Hasil pengamatan mikrostruktur menunjukkan bahwa susu skim dalam jumlah yang lebih besar menghasilkan penampakan mikrostruktur yang lebih baik. Kadar sisa pelarut mikrokapsul terpilih terdapat pada rasio 2:0:4 yaitu sebesar 0 ppm. Mikrokapsul ini mengandung senyawa aktif berupa linalool, coumarin, 9-hexadecenoic acid, 1,8-cineole serta benzene (3,3 dimehyl buthyl).
Screening dan Karakterisasi Pektinesterase Sebagai Enzim Potensial dalam Klarifikasi Sari Buah Jeruk Keprok Garut (Citrus nobilis var.chrysocarpa) Rohula Utami; Esti Widowati; Arifah Rahayu
agriTECH Vol 35, No 4 (2015)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.293 KB) | DOI: 10.22146/agritech.9326

Abstract

The objective of this research was screening of pectinesterase (PE) producing bacteria which are potential in clarification of keprok garut citrus juice (Citrus nobilis var microcarpa) and characterization of the resulted pectinesterase (optimum pH and temperature, pH and thermal stability, KM and Vmaks). The screening result showed that enzyme of isolates AR 2, AR 4, AR 6, and KK 2 was found to be a potential enzyme for clarification of keprok garut citrus juice. Enzyme pektinesterase of isolates AR 2, AR 4, AR 6, and KK 2 had optimum pH at 8; 7.5; 8.5; and 6.5 and stable at pH 4-9, 4-9, 6-9, and 3-8. The optimum temperature enzyme of isolates AR 2 and AR 6 were 55ºC and that of AR 4 and KK 2 were 60ºC. Enzyme of isolate AR 2 was stable at 30-50ºC and inactive at 80ºC, AR 4 and KK 2 were stable at 30-60ºC and inactive at 90ºC whereas AR6 was stable at 30-60ºC and still wasn’t inactive at 90ºC. KM value of isolates AR 2, AR 4, AR 6, and KK 2 were 0.604; 0.338; 0.971; and 0.392 mg/ml. Vmaks value of isolates AR 2, AR 4, AR 6, and KK 2 were 1.218; 0.826; 0.969; and 1.080 u/ml. Pectinesterase enzyme of isolates KK 2 was found to be the most potential enzyme for clarification of keprok garut citrus juice.ABSTRAKTujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan screening bakteri penghasil enzim pektinesterase (PE) yang berpotensi dalam proses klarifikasi sari buah jeruk keprok garut (Citrus nobilis var microcarpa) serta mengetahui karakteristik enzim pektinesterase yang dihasilkan (pH optimum, suhu optimum, kestabilan pH dan suhu, serta nilai KM dan Vmaks). Hasil screening didapatkan isolat AR 2, AR 4, AR 6, dan KK 2 sebagai isolat penghasil enzim pektinesterase yang berpotensi dalam proses klarifikasi sari buah jeruk keprok garut. Aktivitas enzim pektinesterase isolat AR 2, AR 4, AR 6 dan KK 2 berturut-turut optimum pada pH 8; pH 7,5; pH 8,5; dan pH 6,5, serta stabil pada pH 4-9, pH 4-9, pH 6-9, dan pH 3-8. Suhu optimum enzim pektinesterase isolat AR 2, AR 4, AR 6, dan KK 2 berturut-turut adalah 55ºC, 60ºC, 55ºC, dan 60ºC. Enzim pektinesterase isolat AR 2 stabil pada suhu 30-50ºC dan inaktif pada suhu 80ºC, enzim pektinesterase isolat AR 4 dan KK 2 stabil pada suhu 30-60ºC dan inaktif pada suhu 90ºC, sedangkan enzim pektinesterase isolat AR 6 stabil pada suhu 30-60ºC namun belum inaktif pada suhu 90ºC. Nilai konstanta Michaelis-Menten (KM) enzim pektinesterase isolat AR 2, AR 4, AR 6, dan KK 2 berturut-turut adalah 0,604; 0,338; 0,971; dan 0,392 mg/ml. Sedangkan nilai kecepatan maksimum (Vmaks) enzim pektinesterase isolat AR 2, AR 4, AR 6, dan KK 2 berturut-turut adalah 1,218; 0,826; 0,969; dan 1,080 U/ml. Enzim pektinesterase isolat KK 2 memiliki karakteristik yang paling sesuai untuk aplikasi dalam klarifikasi sari buah jeruk keprok garut dibandingkan dengan enzim pektinesterase isolat lainnya.
Pengaruh Perlakuan Pendahuluan Fermentasi Padat dan Fermentasi Cair terhadap Rendemen dan Karakteristik Mutu Minyak Atsiri Daun Kayu Manis Lia Umi Khasanah; Rohula Utami; Baskara Katri Anandhito; Arsella Erstya Nugraheni
agriTECH Vol 34, No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.49 KB) | DOI: 10.22146/agritech.9520

Abstract

This research was aimed to investigate the effect of pretreatment (fresh, solid fermentation and submerge fermentation) on yield and quality of cinnamon leaf oil and to explore the active compounds of the chosen cinnamon leaf oil. Fermentation time affected the yield but did not affect the quality of cinnamon leaf oil. The best fermentation time was 4 days fermentation due to the highest yield. Solid fermentation revealed the highest cinnamon leaf oil yield among pretreatment samples. The active compounds of the chosen cinnamon leaf oil were L-linalool (27.73%); 1,8 cineole (17.71%); cinnamyl acetate (15.77%), β-pinene (11.14%), α-pinene (10.43%), benzyl benzoate (2.79%) andcinnamaldehyde (2.78%). ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan pendahuluan fermentasi padat dan fermentasi cair dan waktu fermentasi terhadap rendemen dan karakteristik mutu minyak atsiri daun kayu manis meliputi berat jenis, indeks bias dan kelarutan dalam etanol 70%, dan mengetahui kandungan serta kadar senyawa aktif yang terdapat pada minyak atsiri daun kayu manis terpilih. Lama waktu fermentasi berpengaruh terhadap rendemen tetapi tidak berpengaruh terhadap karakteristik mutu minyak atsiri daun kayu manis seperti berat jenis, indeks bias, dan kelarutan dalam etanol 70%. Waktu fermentasi yang terbaik dalam fermentasi padat maupun cair adalah pada hari ke-4. Fermentasi padat hari ke-4 merupakan perlakuan yang terbaik karena menghasilkan rendemen tertinggi dibandingkan perlakuan pendahuluan lain. Kandungan senyawa aktif yang terdapat pada minyak atsiri daun kayu manis fermentasi padat hari ke-4 antara lain L-linalool (27,73%), 1,8 sineol (17,71%), sinamil asetat (15,77%), β-pinena (11,14%), α-pinena (10,43%), benzil benzoat (2,79%) dan sinamaldehida (2,78%).
Pengaruh Minyak Atsiri Jahe Merah dan Lengkuas Merah pada Edible Coating Terhadap Kualitas Fillet Ikan Patin Rohula Utami; Kawiji Kawiji; Edhi Nurhartadi; Muslika Kurniasih; Dedy Indianto
agriTECH Vol 33, No 4 (2013)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.255 KB) | DOI: 10.22146/agritech.9535

Abstract

The effects of edible coating enriched with red ginger and red galangal essential oil on the quality of patin fillets during refrigerated storage of 8 days were examined. fish quality determined was based on microbiological (Total Plate Count /TPc) and physicochemical (Total Volatile Bases/TVB, Thiobarbituricacid/TBa, pH, and color) quality. Treatment variation of patin fillets were essential oil concentration enriched in edible coating (0 %, 0.1%, 1%). The results indicated that both red ginger and red galangal essential oil could affect patin fish fillets quality. Essential oilenrichment edible coating will retain the patin fillets quality. In terms of microbial quality and TVB value, 1% essential oil of red ginger and red galangal enrichment in edible coating could extend shelf life of patin fillets for 2-4 days.ABSTRAKPenentuan pengaruh penambahan minyak atsiri jahe merah dan lengkuas merah dalam edible coating terhadap kualitas fillet ikan patin selama penyimpanan dingin dilakukan pada periode waktu 8 hari. Parameter kualitas ikan yang dianalisis adalah kualitas mikrobiologis (Total Plate Count/TPc), dan kualitas fisikokimia (Total Volatile Bases/TVB, Thiobarbituricacid/TBa, pH, dan warna). Variasi perlakuan fillet ikan patin yaitu konsentrasi minyak atsiri (0 %; 0,1%; 1%) yang ditambahkan dalam edible coating. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa penambahan minyak atsiri baik jahe merah maupun lengkuas merah berpengaruh terhadap kualitas fillet ikan patin selama penyimpanan dingin. Penambahan minyak atsiri dalam edible coating mampu mempertahankan kualitas fillet ikan patin lebih baik dibandingkan perlakuan edible coating tanpa minyak atsiri. Berdasarkan kualitas mikrobiologis dan nilai TVB, perlakuan minyak atsiri jahe merah 1% dan minyak atsiri lengkuas merah 1% mampu meningkatkan umur simpan fillet ikan patin selama 2-4 hari.
Fermentasi Whey Keju Menggunakan Biji Kefir (Kefir Grains) dengan Variasi Sumber Nitrogen Rohula Utami; Edhi Nurhartadi; Asri Nursiwi; Martina Andriani
agriTECH Vol 37, No 4 (2017)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.524 KB) | DOI: 10.22146/agritech.10698

Abstract

Cheese whey is a waste product in cheese processing which contains 4–5% of lactose. Having high carbon source, this material could be a potential  fermentation medium for kefir grains. During fermentation of kefir grains, alcohol, lactic acid and exopolysaccharide (kefiran) were produced. The kefir grains fermentation also affected by nitrogen source. Therefore, effects of different composition of lactose and nitrogen sources (including yeast extract, urea and mung bean sprouts extract)  in the fermentation were examined in this study. The results showed that after 24 hours of incubation, kefir grains biomass reached 21.30-27.15 g (dry wt, g/250mL medium) from 25 g of intial kefir grains biomass. Fermentation broth showed pH values ranged from 3.49–3.94; alcohol level ranged from 0.11-0.31%; and lactic acid content ranged from 0.49–1.47%. The total of kefiran extracted from kefir grain and fermentation broth ranged from 0.63-1.76 g/L. This study indicated that cheese whey can be used as fermentation medium to produce alcohol, lactic acid and kefiran by kefir grains. The highest production of kefiran was achieved in the medium containing 1.2% of whey lactose and 4% of mung bean sprouts extract.Cheese whey is a waste product from cheese processing industry which still has lactose content of 4-5%, so that it can be used as a carbon source in the fermentation medium of kefir grains. During fermentation of kefir grains, alcohol, lactic acid and exopolysaccharide commonly called as kefiran were produced. The kefir grains fermentation also affected by nitrogen source. Furthermore, fermentation medium composition were varied at whey lactose concentration and nitrogen source composition (yeast extract, urea and mung bean sprouts extract) for kefir grains fermentation. The results showed that after 24 hours fermentation, kefir grains biomass ranged from 21.30-27.15 g; pH values ranged from 3.49-3.94; alcohol level ranged from 0.11-0.31%; lactic acid content ranged from 0.49-1.47%; and the total of kefiran ranged from 0.63-1.76 g/L. Fermentation medium composition that produced the higher total of kefiran was 1,2% whey lactose and 4% mung bean sprouts extract as nitrogen source. ABSTRAKWhey keju adalah produk sampingan dari industri pengolahan keju yang masih memiliki kandungan laktosa sebesar 4–5% sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber karbon pada media fermentasi oleh biji kefir. Selama proses fermentasi menggunakan biji kefir terjadi pembentukan alkohol, asam laktat dan eksopolisakarida (kefiran). Sumber nitrogen juga dapat mempengaruhi proses fermentasi. Oleh karena itu, dalam penelitian ini dilakukan variasi perlakuan, yaitu variasi konsentrasi laktosa pada whey dan variasi komposisi sumber nitrogen (yeast extract, urea dan ekstrak tauge kacang hijau) sebagai media fermentasi oleh biji kefir. Setelah fermentasi biji kefir selama 24 jam, jumlah biomassa biji kefir berkisar antara 21,30–27,15 g (berat kering g/250 mL medium fermentasi) dari jumlah biomassa awal 25 g. Cairan fermentasi menunjukkan nilai pH berkisar antara 3,49–3,94; kadar alkohol berkisar antara 0,11–0,31% dan kadar asam laktat berkisar antara 0,49–1,47%. Total rendemen kefiran yang didapatkan dari ekstraksi biji kefir dan cairan fermentasi berkisar antara 0,63–1,76 g/L.  Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa whey keju dengan penambahan sumber nitrogen dapat digunakan sebagai medium fermentasi oleh biji kefir untuk menghasilkan metabolit berupa alkohol, asam laktat dan kefiran. Variasi formulasi media fermentasi yang menghasilkan kefiran dalam jumlah tertinggi adalah penggunaan konsentrasi laktosa whey keju 1,2% dan sumber nitrogen dari ekstrak tauge kacang hijau sebesar 4%.
Kombinasi Maltodekstrin dan Whey sebagai Bahan Penyalut padaKarakteristik MikroenkapsulOleoresinKayu Manis (Cinnamomum burmanii) Tanalyna Hasna; Baskara Katri Anandito; Lia Umi Khasanah; Rohula Utami; Godras Jati Manuhara
agriTECH Vol 38, No 3 (2018)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.02 KB) | DOI: 10.22146/agritech.12725

Abstract

The aim of this study was to investigate the influence using combination of maltodextrin and whey (1:3, 2:2 and 3:1)  as wall material due to quality characteristic of cinnamon (Cinnamon burmanii) oleoresin microencapsulan, including yield, water content, solubility in water, microstructure appeareance, cinnamaldehyde content, and residue of solvent. First of all, the oleoresin was reached from extraction using ethanol 96 % for 4 hours. Then the oleoresin emultion was dried using spray drying method. The experimental design used in this research was Completely Randomized Design (CRD) with one factor (rasio of wall material). The result showed that combination of wall material had significant effect to yield (14,98 - 22,69%), water content (6,20 - 7,04%), residue of solvent (00,50 - 0,63%), cinnamaldehyde content (26,18 - 43,90%), and microstructure appeareance, but unsignificantly affected to solubility in water (92,85 - 95,24%).
Co-Authors Adhitya Pitara Sanjaya Agrizka Armunanta Putri Alifa Sekar Jannah Ambar Wuri Wigati Andriani, M.A.M Andriyani, Titin A. Arifah Rahayu Arsella Erstya Nugraheni Asri Nursiwi Asri Nursiwi Asri Nursiwi Asri Nursiwi, Asri Bambang Sigit Amanto Bara Yudhistira Baskara Katri Anandhito Baskara Katri Anandhito Baskara Katri Anandito CHANDRA DEWI Choiroel Anam Christina Winarti Cylvia Arinta Agustaningrum Danar Praseptiangga Dea Widyaastuti Dedy Indianto Desintya Dwi Herdiana, Desintya Dwi Dewi Kurniasari Dian Rachmawanti Affandi, Dian Rachmawanti Dwi Ishartani Dyah Ayu Ashari Dyah Ayu Ashari Edhi Nurhartadi Edwi Mahadjoeno Esti Widowati Esti Widowati Esti Widowati Esti Widowati Esti Widowati Esti Widowati Esti Widowati, Esti Feliatra Fenny Fenny Firdaus, Rachmad Abraham Godras Jati Manuhara Godras Jati Manuhara Gusmaini Gusmaini Hanif, Zainuri Haradito, Aditya Hasim Ashari Himawan, Erwin Nur Husnawati Fatihah Habibie Ibrahim, Hasan Aji Ikarini, Imro'ah Ikrimah Nur Laily Kamil, Annisa Katut Kompi Yuniter Kawiji Kawiji Kawiji Kawiji Kawiji Kawiji Kawiji, Kawiji Kendri Wahyuningsih Kendri Wahyuningsih Khusniati, Tatik Lela Fitri Hariyati Lia Umi Khasanah Lintang Sawitri Nugraheni Lulus Nurmaya M, Godras Jati M.A.M. Andriani MA Martina Andriani MAM Andriani MAM Andriani Mandasia Pangastuti Martina Andriani Martina Andriani Martina Andriani Muhammad Faizul Umam, Muhammad Faizul Muslika Kurniasih Nanda Ayu Hapsari Nausika Estetia Putri Jatmiko Noreka Destiana Novita Try Aryani Nugraheni, Krisnawati Setyaningrum Nur Her Riyadi Parnanto Parwitasari, Shintanova Prasetyaningrum Prasetyaningrum, Prasetyaningrum Pratiwi, Reny Fajri Qurothul Uyun R. Baskara Katri Anandito R.Baskara Katri Anandito, R.Baskara Katri Rachmah, Ulfianiza Rahayu, Endang Sutriswati Rini Setyowati, Rini Rizki Amalia Sakinah Ummu Zahroh Sari, Ardhea Mustika Sari, Ayu Purnama Sigit Raharjo Siswanti Siswanti Sri Handajani Sri Yuliani Suparmo Suparmo Syafri Dwiananta Tanalyna Hasna Titiek Rachmawaty Tyas Utami Utami, Annisa Widia Widayani, Erina Windi Atmaka Windi Atmaka, Windi Yoga Meidiantoro Aji Yuli Wijayanti Purwandari Yuniani, Devi Rizky Zaman, M. Zukhrufuz Zoraya A Putri Zoraya A Putri