Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Gambaran Fungsional Sendi Bahu Pasien Pasca Mastektomi Radikal Berdasarkan Skor QuickDASH Khalisha Azzahra Pramesti Abdillah; Rizki Rahmadian; Rudy Afriant
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol 4 No 3 (2023): September 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v4i3.1152

Abstract

Latar belakang: Gangguan pada fungsi sendi bahu sering ditemukan pada pasien setelah menjalani prosedur mastektomi radikal. Gejala yang sering ditemukan pasca pembedahan adalah keterbatasan fungsi bahu, kelemahan ekstremitas atas, limfedema, dan nyeri dengan tingkat keparahan yang bervariasi. Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran fungsional sendi bahu pasien pasca mastektomi radikal berdasarkan skor QuickDASH di RSUP Dr. M Djamil Padang. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif. Data dikumpulkan menggunakan teknik consecutive sampling. Sampel penelitian ini menggunakan data primer berupa wawancara pasien pasca mastektomi radikal di RSUP Dr. M Djamil Padang periode 2020 – 2021 menggunakan kuesioner QuickDASH. Jumlah sampel yang memenuhi kriteria didapatkan sebanyak 35 sampel. Hasil analisis data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan kelompok usia terbanyak pada rentang ≥ 45 tahun (77,1%), tingkat pendidikan SMA/Sederajat (51,4%), tidak bekerja (74,3%), dan tingkat pendapatan Rp1.000.000,- s.d. Rp5.000.000,- (68,6%). Sisi pengangkatan terbanyak pada sisi unilateral kiri (54,3%), dengan riwayat terapi radiasi (51,4%), dan dengan kategori stadium lanjut (54,3%). Pasien paling sering berada pada kategori disabilitas minimum (60%). Kesimpulan: Kesimpulan penelitian ini adalah pasien pasca mastektomi radikal paling sering memiliki gangguan fungsional sendi bahu pada kategori disabilitas minimum. Gangguan tersebut ditemukan meningkat seiring meningkatnya stadium dan pada pasien yang mendapatkan radioterapi. Fungsi sendi bahu dipengaruhi oleh sisi pengangkatan, stadium, dan riwayat terapi radiasi. Sedangkan pendidikan, pendapatan, dan lama waktu sejak operasi tidak memengaruhi fungsi sendi bahu.
HUBUNGAN KADAR HBA1C TERHADAP DERAJAT RETINOPATI DIABETIK DI RSUP DR. M. DJAMIL Alifia Damanil Putri; Hendriati, Hendriati; Rudy Afriant
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 8 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v8i5.6349

Abstract

Latar Belakang: Retinopati diabetik merupakan salah satu komplikasi mikrovaskuler yang sering terjadi pada pasien diabetes melitus. Hal ini disebabkan oleh hiperglikemia kronis. Pemeriksaan HbA1c akan memberikan gambaran terhadap kadar glukosa darah selama 2-3 bulan terakhir. Objektif: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan kadar HbA1c terhadap derajat retinopati diabetik di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Metode: Jenis penelitian ini ialah analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini Berlangsung selama bulan November 2021-Januari 2022 di Instalasi Rekam Medik dan Poliklinik Mata RSUP Dr. M. Djamil dengan menggunakan teknik pengambilan total sampling. Hasil: Sampel yang ditemukan pada penelitian ini ialah 20 sampel. Ditemukan bahwa NPDR sedang merupakan derajat retinopati diabetik yang paling banyak ditemui (70%) pada pasien yang melakukan pemeriksaan HbA1c. Berdasarkan kadar HbA1cnya, didapati sebesar 60% pasien memiliki kadar HbA1c tidak terkontrol. Uji statistik dilakukan untuk mengetahui hubungan antara kadar HbA1c terhadap derajat retinopati diabetik, hasil yang didapatkan ialah nilai p=1,000. Kesimpulan: Tidak ditemukannya hubungan antara kadar HbA1c terhadap derajat retinopati diabetik di RSUP Dr. M. Djamil Padang
PERBEDAAN RERATA KADAR D-DIMER DENGAN USIA DAN JENIS KELAMIN PADA PASIEN COVID- 19 YANG DIRAWAT DI RSUP DR. M. DJAMIL PADANG Ghany, Firhan Fadlillah; Yulia, Dwi; Afriant, Rudy
Seroja Husada: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 1 No. 6 (2024): Seroja Husada: Jurnal Kesehatan Masyarakat
Publisher : Seroja Husada: Jurnal Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.572349/serojahusada.v1i6.3914

Abstract

Coronavirus disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit virus yang sangat menular yang disebabkan oleh severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Pasien lanjut usia dengan infeksi COVID-19, terutama pada kasus yang lebih parah, memiliki risiko dalam keadaan hiperkoagulasi serta meningkatkan kejadian trombosis. Mekanisme genetik dan mekanisme endokrin, memengaruhi mekanisme koagulopati dan trombosis pada COVID-19. D-dimer yang tinggi pada pasien COVID-19 disebabkan oleh hiperinflamasi yang kemudian menyebabkan koagulopati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan rerata kadar D-dimer dengan usia dan jenis kelamin pada pasien COVID-19 yang dirawat di RSUP. Dr. M. Djamil Padang. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross- sectional menggunakan data rekam medis 107 pasien COVID- 19 yang dirawat di RSUP. Dr. M. Djamil Padang tahun 2021. Teknik pengambilan sampel adalah consecutive sampling. Analisis yang digunakan adalah analisis univariat dan bivariat. Kelompok usia terbanyak pada pasien COVID-19 yang dirawat adalah kelompok usia 46-65 tahun, jenis kelamin terbanyak adalah perempuan dan rerata kadar D-dimer adalah 2632,6 ng/ml. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna antara rerata kadar D-dimer pada kelompok usia yang berbeda pada pasien COVID-19 (p=0,02). Tidak ada perbedaan yang bermakna rerata kadar D-dimer antara laki-laki dan perempuan pada pasien COVID-19 (p=0,413). Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan yang bermakna antara rerata kadar D-dimer pada kelompok usia yang berbeda pada pasien COVID- 19 dan tidak ada perbedaan yang bermakna rerata kadar D-dimer antara laki-laki dan perempuan pada pasien COVID-19.
PROFIL PASIEN COVID-19 DI RUMAH SAKIT UNIVERSITAS ANDALAS Putri, Azhara Dhiya Yosse; Lestari, Yuniar; Susanti, Restu; Afriant, Rudy; Putra, Syandrea Prima; Yusri, Elfira
EMPIRIS : Jurnal Sains, Teknologi dan Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2025): EMPIRIS : Jurnal Sains, Teknologi dan Kesehatan, Maret 2025
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/empiris.v2i1.986

Abstract

   Background: Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) is an infectious disease caused by SARS- CoV-2 virus. The outcomes of COVID-19 patients were found to be influenced by the presence of comorbidities of the patient. Furthermore, this will affect the healing process in the patient itself. The most common comorbidity in COVID-19 patients is hypertension followed by diabetes mellitus. Hypertension is mentioned as the predominant factor of COVID-19 infection. Objective: This study aims to determine the profile of COVID-19 patients with hypertension. Methods: The type of this research is observational descriptive which was conducted in October 2021 – November 2022 at the Medical Record Installation of Rumah Sakit Universitas Andalas. This study was conducted using a total sampling technique with a total sample of 161 patient. Results: The results showed that the frequency of female was more than male (60.9:39.1). The frequency of >50 years old is almost the same as 50 years old (50.9:49.1). There are more patients without comorbid hypertension than patients with comorbid hypertension (64.6:35.4). Conclusions: There are more COVID-19 patients treated at Andalas University Hospital aged 50 years with female sex and more patients without hypertension comorbid.  
Karakteristik Pasien Leukemia Granulositik Kronik Berdasarkan Hasil Direct Coomb’s Test di RSUP Dr. M. Djamil Zahira, Aisyah Dhia; Rofinda, Zelly Dia; Izzah, Amirah Zatil; Efrida, Efrida; Afriant, Rudy; Rahmatini, Rahmatini
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 3 (2024): September 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v5i3.1314

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Leukemia Granulositik Kronik (LGK) merupakan penyakit mieloproliferatif yang ditandai dengan adanya proliferasi seri granulosit tanpa ada gangguan diferensiasi. Direct Coomb’s Test (DCT) digunakan untuk mendekteksi adanya antibodi imun, baik IgG maupun komponen komplemen (umumnya C3d) yang menutupi atau mensensitisasi sel eritrosit. Pemeriksaan coomb’s test pada pasien LGK dilakukan apabila adanya kecurigaan anemia dan terjadinya retikulositosis tanpa ditemukan adanya sumber perdarahan yang jelas. Objektif: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik pasien LGK berdasarkan hasil direct coomb’s test di RSUP Dr. M.Djamil Padang. Metode: Penelitian deskriptif dilakukan terhadap semua pasien yang didiagnosis LGK yang memiliki hasil direct coomb’s test. Pengambilan sampel dilakukan secara consecutive sampling dengan 30 sampel yang memiliki data berupa usia, jenis kelamin, hasil direct coomb’s test, derajat anemia, hitung retikulosit, dan jenis terapi. Hasil: Penelitian berdasarkan jenis kelamin pada pasien leukemia granulositik kronik didapatkan lebih banyak perempuan yaitu 18 pasien (60%) dan laki-laki 12 pasien (40%) dengan rerata usia 44 tahun. Direct coomb’s test menunjukkan hasil positif pada 21 pasien (70%) dan negatif pada 9 pasien (30%). Anemia berat paling banyak ditemukan pada direct coomb’s test negatif dengan 55,6%. Retikulositosis lebih banyak ditemukan pada hasil direct coomb’s test positif. Kesimpulan: Pasien LGK dengan hasil direct coomb’s test positif lebih banyak ditemukan anemia berat, anemia sedang, dan retikulositosis. Kata kunci: direct coomb’s test, leukemia granulositik kronik, luka sedang
Unfractionated Heparin versus Low Molecular Weight Heparin for Venous Thromboembolism Prophylaxis in Acutely Ill Medical Patients: A Meta-analysis Rendi Dwi Prasetyo; Rudy Afriant
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol. 9 No. 5 (2025): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine & Translational Research
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37275/bsm.v9i5.1287

Abstract

Background: Venous thromboembolism (VTE) is a significant cause of morbidity and mortality in acutely ill medical patients. Both unfractionated heparin (UFH) and low molecular weight heparin (LMWH) are effective for VTE prophylaxis, but their relative efficacy and safety remain unclear. Methods: We conducted a meta-analysis of randomized controlled trials (RCTs) comparing UFH and LMWH for VTE prophylaxis in acutely ill medical patients. We searched MEDLINE, EMBASE, and Cochrane Central Register of Controlled Trials from 2013 to 2024. The primary outcome was the incidence of VTE. Secondary outcomes included major bleeding and mortality. Results: Seven RCTs with a total of 5,412 patients were included. LMWH was associated with a significantly lower risk of VTE compared to UFH (relative risk [RR] 0.68; 95% confidence interval [CI] 0.52-0.88; p = 0.004). There was no significant difference in major bleeding (RR 0.91; 95% CI 0.65-1.27; p = 0.58) or mortality (RR 0.93; 95% CI 0.78-1.11; p = 0.43) between the two groups. Conclusion: LMWH is more effective than UFH for VTE prophylaxis in acutely ill medical patients without increasing the risk of major bleeding or mortality. LMWH should be considered the preferred agent for VTE prophylaxis in this population.
Trombosis Vena Dalam pada Sindrom Nefrotik Afriant, Rudy; Fikri, Avino Mulana; Kam, Alexander
Majalah Kedokteran Andalas Vol. 46 No. 3 (2023): Online Juli 2023
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/mka.v46.i4.p764-771.2023

Abstract

Seorang pasien laki-laki usia 34 tahun yang dirawat dengan dengan diagnosis deep vein thrombosis tungkai kanan dan sindrom nefrotik primer relaps. Trombosis pada sindrom nefrotik dapat timbul dari kebocoran protein dengan berat molekul yang tinggi sehingga menyebabkan hiperkoagulabilitas, peningkatan sintesis faktor yang mendorong trombosis, aktivasi dan agregasi trombosit, aktivasi sistem koagulasi, atau penurunan antikoagulan endogen. Pasien sudah diterapi dengan heparin dan terapi untuk sindrom nefrotik. Pasien dipulangkan dengan perbaikan klinis dan kontrol rutin ke poliklinik.
Hubungan Anemia dengan Remisi Komplit Kemoterapi induksi pada Pasien Leukemia Mieloblastik Akut Dewasa di RSUP Dr. M. Djamil Padang Salsabila, Zahra; Afriant, Rudy; Rofinda, Zelly Dia; Elvira, Dwitya; Yaswir, Rismawati; Izzah, Amirah Zatil
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 1 (2024): Maret 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v5i1.1169

Abstract

Latar Belakang: leukemia mieloblastik akut merupakan salah satu keganasan darah yang terjadi akibat gangguan proses pertumbuhan sel mieloid, yang menyebabkan terjadinya penumpukan sel blast di sumsum tulang, dan menekan pembentukan sel darah lain yang menyebabkan anemia. Pengobatan yang diberikan pada penderita LMA adalah kemoterapi. Kondisi anemia dapat menyebabkan hipoksia di jaringan, yang dapat mengakibatkan berkurang nya efektivitas kemoterapi. Objektif: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara derajat anemia dengan tercapainya remisi komplit pada pasien LMA yang di kemoterapi induksi. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain cross sectional dengan pendekatan observasional analitik retrospektif. Sampel pada penelitian ini berjumlah 15 sampel yang diambil dari data rekam medik. Analisis univariate dilakukan untuk mendeskripsi frekuensi variable dan analisis bivariate dengan uji statistic fisher exact test. Hasil: Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah pasien LMA banyak yang berusia >40 tahun, berjenis kelamin perempuan, dengan klasifikasi LMA M4, keluhan utama lemah letih, derajat anemia ringan dan berhasil remisi komplit yang lebih banyak. Hasil uji statistik memperlihatkan tidak adanya hubungan derajat anemia dengan tercapainya remisi komplit pada pasien. Hasil analisi LMA dengan nilai p=1,000. Kesimpulan: kesimpulan yang didapatkan adalah tidak adanya hubungan antara derajat anemia dengan tercapainya remisi komplit pada pasien leukemia mieloblastik akut dewasa yang menjalani kemoterapi induksi di RSUP Dr. M Djamil Padang.
Correlation Between C-Reactive Protein Level and Outcome In Coronavirus Disease 2019 Patients At COVID Intensive Care Unit RSUP. Dr. M. Djamil Padang Putri Ariani; Dedy Kurnia; Malinda Meinapuri; Rudy Afriant; Rina Gustia; Rikarni; Rinal Effendi
Jambi Medical Journal : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol. 11 No. 3 (2023): Jambi Medical Journal: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Special Issues: Jambi M
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JAMBI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jmj.v11i3.25078

Abstract

Background: Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) is a respiratory system disease transmitted to humans and has infected humans in almost every country. Plasma cytokine levels, such as C-reactive protein (CRP), are elevated inflammatory markers in most COVID-19 patients and are routinely examined, especially in the intensive care Unit (ICU). Elevated CRP levels are associated with higher rates of severity and death. Objective: This study aimed to determine the correlation between CRP levels and outcomes in COVID-19 patients at COVID ICU RSUP. Dr. M. Djamil Padang Period July – December 2021. Method: This research was conducted using by analytic observational method with a retrospective cohort design. Secondary data was collected from the medical records of COVID-19 patients treated in the ICU COVID RSUP. Dr. M. Djamil Padang from July – December 2021, using total sampling as a technique, 107 samples met the inclusion criteria. Data analysis was carried out using univariate and bivariate methods. Result: The result shows more male patients (51.4%) than women (48.6%). From the age range, most age was found in the range > 59 years (54.2%). The most common type of comorbid disease was diabetes (32.7%). The highest CRP level at the initial ICU admission was >160 mg/L (70.1%), and the highest ferritin level was >434 ng/mL (86.0%). The most common patient outcome was death (65.4%). There is a relationship between CRP levels (p = 0.029) and the outcome of COVID-19 patients in the COVID ICU. Conclusion: This study concludes that there is a correlation between C-Reactive Protein (CRP) levels and Outcomes in COVID-19 patients at COVID ICU RSUP. Dr. M. Djamil Padang Period July – December 2021. Keywords : COVID-19, CRP, Patient Outcome, ICU
Hubungan antara Lama Menjalani Terapi Hemodialisis dengan Kualitas Hidup pada Pasien Chronic Kidney Disease di RS M. Djamil Padang Nabilah, Hanifah; Afriant, Rudy; Yaunin, Yaslinda; Wahid, Irza; Sauma, Eldi
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 4 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i4.1475

Abstract

Latar Belakang: Penyakit chronic kidney disease (CKD) merupakan abnormalitas struktur dan fungsi ginjal dengan atau tanpa penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG) atau kadar glomerulus kurang dari 60 mL/menit/1,73m2 yang bersifat ireversibel. Salah satu terapi yang digunakan sebagai pengganti fungsi ginjal adalah hemodialisis. Terapi hemodialisis ini digunakan pada pasien CKD stadium akhir dan berpengaruh terhadap kualitas hidup pasien. Objektif: Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat apakah terdapat hubungan lama menjalani terapi hemodialisis dengan kualitas hidup pasien chronic kidney disease di RS M. Djamil Padang Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross-sectional dengan wawancara kepada pasien yang menjalani terapi hemodialisis di RS. M. Djamil Padang. Hasil: Kasus CKD lebih banyak terjadi pada wanita (50,2%), dengan kelompok umur rentang 46-65 tahun, pendidikan terakhir terbanyak SMA serta 63,1% pasien tidak bekerja. Lama pasien menjalani HD terbanyak >24 bulan dan memiliki kualitas hidup cukup. Hasil uji Chi-square p=0,193 (p>0,05). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara lama menjalani terapi hemodialisis dengan kualitas hidup pada pasien chronic kidney disease di RS. M. Djamil Padang. Kata kunci:  Chronic Kidney Disease, Terapi Hemodialisis,Kualitas Hidup.