Claim Missing Document
Check
Articles

Redesain Gedung Pingkan Matindas di Manado “Pluralistik Dalam Arsitektur Post Modern” Runtu, Andri R.; Waani, Judy O.; Prijadi, Rachmat
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 4, No 2 (2015): Volume 4 No.2 November 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan peradaban dunia terus melaju untuk setiap waktunya. Adapun hal ini berimbas pada tersajinya beragam alternatif hiburan bagi kalangan masyarakat, tidak terkecuali masyarakat Kota Manado dimana kecenderungan perilaku masyarakatnya lebih menyukai hiburan yang konsumtif. Berbagai macam latar belakang dari masyarakat penghuni Kota Manado ini menandakan ada beragam pula tingkah laku, pola hidup, kesenian, serta kebiasaan-kebiasaan lainnya. Dan salah satu dari ragam latar belakang yang layak diangkat sebagai hiburan yang konsumtif serta edukatif adalah kesenian. Tanggapan atas kebutuhan ini memunculkan gagasan untuk menyediakan tempat yang dapat menampilkan serta membantu proses pelestarian dan perkembangan berbagai kesenian yang ada di Kota Manado. Melihat kurang maksimalnya fungsi yang berjalan pada salah satu gedung kesenian di Manado, dalam hal ini Gedung Kesenian Pingkan Matindas, maka diperlukan penyegaran kembali, dalam bentuk redesain. Redesain Gedung Pingkan Matindas di Manado kali ini dilakukan dengan pendekatan tema Pluralistik Dalam Arsitektur Pos Modern. Pendekatan dengan tema ini diharapkan dapat membantu menata dengan teratur keragaman kesenian yang ada di Kota Manado. Untuk menghadirkan objek desain, maka perancangannya akan melewati tahapan-tahapan analisa hingga transformasi yang melibatkan banyak aspek perancangan. Tujuannya adalah menghadirkan Gedung Kesenian Pingkan Matindas yang baru yang dapat menjalankan fungsi utamanya dengan lebih maksimal lagi dari sebelumnya, sekaligus sebagain pilihan hiburan yang edukatif bagi masyarakat Kota Manado. Kata kunci: Redesain, Gedung Kesenian,Pluralistik danArsitekturPos Modern
Adaptasi Permukiman Sungai di Kampung Tubir Kota Manado terhadap Resiko Banjir Lempoy, Josia O.; Waani, Judy O.; Warouw, Fela
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 6, No 1 (2017): Volume 6 No.1 Mei 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Memanfaatkan sungai adalah sebuah ciri dari permukiman, hal ini untuk mendekatkan aktifitas masyarakat dengan sumber air sebagai salah satu kebutuhan pokok, seperti memanfaatkan airan sungai sebagai irigasi untukpertanian atau sebagai kegiatan transportasi. Keberadaan setiap sungai tidak sama pada setiap tempat, terkadang sungai memberi manfaat yang besar bagi kehidupan atau memberi kerugian sebagai contoh ketika air sungai meluap dan keluar dari badan sungai yang menyebabkan banjir. Ketika kondisi ini terjadi pada lokasi yang bukan hunian maka tidak akan menimbulkan masalah, tetapi ketika hal ini terjadi pada hunian maka timbulah masalah seperti aktifitas keseharian terganggu dan terjadi kerugian materi bahkan kerugian jiwa. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan deskripsi tentang adaptasi permukiman di lokasi studi dan deskripsi tipologi bangunan yang adaptif di kawasan studi. Sumber data yang akan digunakan diperoleh melalui dua macam sumber data yaitu: data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui kegiatan interview, penyebaran kuesioner dan observasi lapangan. Datasekunder diperoleh melalui hasil kompilasi data yang telah dibuat atau yang telah ada se belumnya.Penelitian ini menghasilkan sebuah deskripsi tentang adaptasi yang dilakukan oleh masyarakat yang tinggal dipermukiman kampung tubir di Kota Manado. Hasil penelitian membawa kepada bentuk adaptasi yang dilakukan oleh masyarakat, yaitu perubahan perilaku yang mengakibatkan perubahan pada bentuk rumah yang menghasilkan fungsi baru yang digunakan pada saat terjadi banjir. Perubahan bentuk yang sangat signifikan adalah ketika masyarakat merubah bangunan rumah dari satu lantai menjadi dua lantai, untuk menjadikan lantai yang kedua sebagai ruang evakuasi mandiri. Tipologi bangunan yang adaptif di kawasan studi adalah: bangunan permanen yang berfungsi sebagai tempat tinggal, dinding bangun adalah bata dan kayu, pada bangunan dua lantai, lantai kedua digunakan untuk aktifitas keluarga, pada bangunan dua lantai, lantai pertama cenderung tidak digunakan untuk aktifitas sehari-hari, pada bangunan satu lantai, tinggi lantai dibuat lebih tinggi, pada bangunan satu lantai, loteng rumah disiapkan untuk memindahkan barang-barang, klasifikasi bangunan adalah permanen dan ketinggian bangunan adalah rendah.Kata Kunci: Permukiman, Adaptasi, Banjir, Tipologi Bangunan. 
EVALUASI JALUR PEDESTRIAN BAGI TUNANETRA TERHADAP PERSYARATAN TEKNIS DI KORIDOR JALAN SAM RATULANGI KOTA MANADO Sembor, Adrian; Egam, Pingkan P.; Waani, Judy O.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 5, No 1 (2016): Volume 5 No.1 Mei 2016
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jalur pedestrian merupakan salah satu ruang terbuka publik perkotaan harus dapat diakses oleh semua orang termasuk tunanetra. Salah satu jalur pedestrian bagi tunanetra terdapat di koridor Jalan Sam Ratulangi Manado, tetapi pada kenyataan tunanetra masih dipandu oleh orang yang dapat melihat dalam berjalan kaki. Jalur pedestrian bagi tunanetra ternyata belum sepenuhnya mengikuti persyaratan perancangan , dimana terdapat empat asas dalam menyediakan fasilitas dan aksesibilitas bagi tunanetra sesuai dengan Peraturan Menteri PU No.30/PRT/M/2006 yaitu keselamatan, kemudahan, kegunaan, dan kemandirian. Penelitian ini menggunakan metodologi kuantitatif rasionalistik dengan pendekatan metode deduktif. Data di analisis secara kuantitatif berdasarkan skala Likert. Populasi tunanetra di kota Manado tahun 2016 berjumlah 198 yang dipilih 67 orang sampel. Lokasi penelitian dibagi menjadi 14 segmen. Variabel dan indikator penelitian terdiri dari: (1) kriteria keselamatan (indikator permukaan pedestrian, kanstein, pagar pengaman, naik/turun penumpang, shelter, kanopi, pohon/tanaman peneduh) dan (2) kriteria kemudahan  (indikator ukuran dasar, jalur pemandu/(guiding block), jalur penghubung (ramp), tempat duduk/tempat istirahat, tanda/(sign), tempat sampah). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa kondisi jalur pedestrian bagi tunanetra terhadap persyaratan teknis di koridor Jalan Sam Ratulangi Kota Manado dari kriteria keselamatan belum sepenuhnya menjamin keselamatan bagi pengguna terutama bagi tunanetra. Demikian pula halnya dari aspek kemudahan, bahwa pelaksanaan beberapa elemen trotoar yang tidak sesuai persyaratan teknis menjadi hambatan bagi pengguna khususnya bagi tunanetra dalam mobilitas. Untuk itu disarankan bagi Pemerintah kota Manado agar  melakukan revitalisasi dengan cara menata kembali keberadaan elemen trotoar supaya sesuai dengan pedoman persyaratan teknis yang berlaku.   Kata Kunci : Evaluasi, Pedesterian, Tunanetra dan Persyaratan Teknis
PUSAT PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DI MANADO ‘MANIFESTASI METODE MONTESSORI DALAM ARSITEKTUR’ Pandensolang, Yulia S.; Waani, Judy O.; Siregar, Frits O.P.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 5, No 1 (2016): Volume 5 No.1 Mei 2016
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia 8 tahun. Pendidikan Anak Usia Dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada perletakan dasar kearah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio-emosional (sikap, perilaku, dan agama), bahasa, dan komunikasi. Sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini. Seorang ahli pendidikan yang bernama Maria Montessori yang berasal dari Italia yang dikenal melalui metode pendidikannya dalam sebuah buku The Montessori Method menjelaskan bahwa, salah satu cara yang mudah untuk membuat anak menyukai belajar adalah dengan cara membuat anak belajar sambil bermain karena anak-anak sangat menyukai permainan. Dia menerapkan belajar sambil bermain agar anak-anak lebih dapat mengerti bahan yang dibahas. Setiap anak memiliki tahap-tahap perkembangan tertentu sesuai dengan perkembangan umurnya. Faktor lingkungan serta perlakuan orang dewasa (pendidikan) hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan mereka. Oleh karena itu, Montessori percaya bahwa lingkungan haruslah merupakan tempat yang menyenangkan (loving area), tempat yang kondusif (nourishing) untuk membantu perkembangan, tempat dimana orang dewasa dapat mengobservasi perkembangan anak dan membuat perubahan-perubahan sesuai dengan kebutuhan perkembangan mereka. Adapun tujuan dari perancangan ini adalah merancang bangunan pusat pendidikan anak usia dini dengan menggunakan metode Montessori sebagai tema yang sesuai dengan karakter dan perilaku anak untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan mengembangkan kreativitas. Kata Kunci: Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Montessori, Anak
REDESAIN KANTOR PUSAT GEREJA MASEHI ADVENT HARI KE-TUJUH UNI INDONESIA KAWASAN TIMUR DI MANADO (BANGUNAN HEMAT ENERGI) Kalangi, Fendy; Waani, Judy O.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 5, No 1 (2016): Volume 5 No.1 Mei 2016
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konsumsi energi dalam bangunan (penerangan, AC, lift, dsb) tercatat hampir seperempat dari suplai tahunan energi dunia pada akhir tahun 80-an (Flavin, 1980). Celakanya hampir dua pertiganya disuplai dari bahan bakar minyak dan gas yang usia cadangannya tidak lebih dari 100 tahun (30 tahun untuk indonesia) (World Energy, 1991). Keadaan ini semakin memburuk terjadi di negara-negara berkembang terutama di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Perancangan sebuah bangunan yang hemat energi merupakan salah satu aspek dalam mewujudkan arsitektur berkelanjutan. Perancangan bangunan hemat energi menekankan pada kondisi iklim setempat, dengan mempertimbangkan: Konfigurasi bentuk bangunan dan perencanaan tapak, orientasi bentuk bangunan (fasad utama dan bukaan), desain fasade (termasuk jendela, lokasi, ukuran dan detail), perangkat penahan radiasi matahari (misalkan sunshading pada fasade dan jendela), Perangkat pasif siang hari, warna dan bentuk selubung bangunan, tanaman vertikal, serta angin dan ventilasi alami. Bangunan yang tanggap terhadap konservasi energi dalam hal ini akan diterapkan pada bangunan kantor Pusat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Uni Indonesia Kawasan Timur yang ada di Manado. Pendekatan tema ?Bangunan Hemat Energi? pada kantor ini kiranya dapat menghadirkan bangunan yang ramah lingkungan mencoba menghadirkan kondisi lingkungan yang hijau, natural dan selaras dengan alam ditengah padatnya polusi di lingkungan perkotaan. Kata Kunci : Energi, Bangunan Hemat Energi, Kantor Pusat Gereja Masehi Advent Hari Ke-Tujuh Uni Indonesia Kawasan Timur
MANADO TOYOTA AUTOMOBILE CLUB HOUSE (BLOB ARCHITECTURE) Sumampouw, Brayn; Waani, Judy O.; MT, Suryono
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 3, No 2 (2014): Volume 3 No.2 November 2014
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemunculan berbagai komunitas mobil merupakan suatu fenomena yang sedang marak di kota-kota besar di Indonesia. Fenomena ini berkembang seiring dengan peningkatan jumlah kendaraan akibat perkembangan ekonomi yang ada. Kota Manado yang juga salah satu kota besar di Indonesia turut mengalami fenomena ini. Namun sayangnya tanpa penyediaan fasilitas yang memadai di bidang otomotif, komunitas ini sering dianggap sebagai masalah bagi masyarakat awam. Sedangkan jika melihat dari sisi positifnya, komunitas ini memiliki potensi dalam bidang otomotif baik olahraga dan modifikasi yang perlu dikembangkan. Komunitas ini membutuhkan gedung perkumpulan untuk keperluan rekreasi, olahraga dan event untuk mewadahi komunitas ini. Toyota sebagai salah satu produsen mobil di kota Manado peduli terhadap fenomena ini turut bekerja sama dengan komunitas dalam mendukung operasional gedung perkumpulan ini. Gedung perkumpulan ini dihadirkan dengan menggunakan tema perancangan Blob Architecture karena dianggap mampu untuk merepresentasikan fungsi dan identitas gedung perkumpulan ini. Perancangan ini menggunakan proses desain generasi II yang dikembangkan oleh John Zeizel. Proses desain dilakukan dalam beberapa siklus image-present­­-test untuk merespon terhadap data-data yang berpengaruh terhadap desain bangunan. Proses pengumpulan data-data tersebut meliputi observasi lapangan, wawancara dengan komunitas mobil, studi literatur mengenai Blobitecture dan studi komparasi terhadap gedung perkumpulan  lainnya. Beberapa proses analisa terhadap data-data yang ada dilakukan guna menghadirkan objek rancangan yang dapat menunjang kegiatan komunitas mobil. Perancangan Manado Toyota Automobile Club House dengan penerapan Blobitecture ini dapat menjawab kebutuhan komunitas mobil melalui berbagai  fasilitas yang disediakan. Bentuk blob akan diterapkan pada ruang dalam,  gubahan massa, dan selubung bangunan. Penerapan tema memberikan bangunan yang terkesan lega yang juga merupakan ciri khas gedung perkumpulan. Penerapan tema juga dilakukan pada ruang luar bangunan untuk mendapatkan konsep sirkulasi mobil layaknya lintasan balap. Sehingga secara keseluruhan hasil perancangan dapat menggambarkan bentuk perwujudan ketertarikan komunitas terhadap mobil yang menjadi pengikat dan landasan berdirinya komunitas.   Kata kunci : club house, mobil, blob architecture
TAMAN WISATA DANAU LOTA DI MORONGE OPTIMALISASI KAWASAN TEPIAN DANAU Maliatja, Aghita G.; Waani, Judy O.; Rondonuwu, Dwight M.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 4, No 2 (2015): Volume 4 No.2 November 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan perairan merupakan kawasan yang sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan kehidupan.Air merupakan kebutuhan utama, karena air adalah salah satu faktor penggerak berbagai jenis pekerjaan/ kegiatan.Dari berbagai aspek ini, kawasan perairan memiliki karakter tersendiri yang menarik sehingga, tidak heran kawasan ini sangat diminati.Dari sinilah mula-mula munculnya konsep waterfront, baik di pantai, sungai, danau dan terpisah dengan daratan atau berada di tengah-tengah daratan.Masing-masing memiliki keunikan yang khas.Lama-kelamaan kawasan itu berkembang, hingga menjadi sentra aktivitas yang ramai. Optimalisasi kawasan tepian danau Lota ini, merupakan wujud perhatian terhadap potensi-potensi yang belum di kembangkan. Selain itu, mengingat daerah Kabupaten Kepulauan Talaud merupakan daerah yang sebagian besarnya adalah perairan baik itu laut, sungai, danau dan merupakan bagian perbatasan NKRI yang jika proses pengembangannya menggunakan konsep waterfront, bukan tidak mungkin tahun-tahun mendatang akan berhasil seperti yang sudah diterapkan pada Singapura, Sydney, dan Paris yang telah berhasil menggunakan konsep waterfront. Pengaruh paling utama terhadap perencanaan taman wisata danau Lota yang berkonsepkan optimalisasi kawasan tepian danau sebagai area waterfront merupakan sebuah konsep yang diharapkan kedepannya mampu merubah kualitas ekosistem serta lingkungan danau. Konsep ini memaksimalkan sebisa mungkin setiap bagian-bagian taman mampu mendapatkan view danau, dari berbagai sudut pandang tanpa ada bagian-bagian yang menghalangi view danaunya. Sehingga konsepnya bisa di capai, dan tentunya terus merawat dan menjaga pelestariannya termasuk dalam perencanaan taman wisata danau ini. Dengan demikian tidak hanya ada ruang terbuka saja sebagai fasilitas rekreasi yang disediakan namun, dengan adanya fasilitas ini kondisi danau bisa menjadi lebih baik lagi. Taman wisata danau Lota, merupakan satu langkah nyata untuk berbagai permasalahan yang timbul dan diharapkan mampu mengatasinya. Sehingga kehadiran taman wisata danau Lota tidak hanya sebatas pemenuhan kebutuhan akan fasilitas rekreasi saja tapi banyak dampak positifnya untuk danau, lingkungan sekitar serta masyarakat yang tinggal dan hidup di sekitarnya. Kata kunci : Optimalisasi, Potensi, Waterfront
GAYA & KARAKTER VISUAL ARSITEKTUR KOLONIAL BELANDA DI KAWASAN BENTENG ORANJE TERNATE Purnomo, Hery; Waani, Judy O.; Wuisang, Cynthia E.V.
MEDIA MATRASAIN Vol 14, No 1 (2017)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Arsitektur kolonial Belanda merupakan arsitektur yang memadukan antara budaya Barat dan Timur. Arsitektur kolonial Belanda hadir melalui karya arsitek Belanda dan diperuntukkan bagi bangsa Belanda yang tinggal di Indonesia, pada masa sebelum kemerdekaan. Benteng Oranje merupakan salah satu bangunan peninggalan Belanda yang ada di Ternate. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali lebih dalam tentang gaya dan karakteristik visual bangunan yang ada di kawasan Benteng Oranje. Jenis penelitian yang digunakan ialah penelitian kualitatif-rasionalistik dengan metode deskriptif, yaitu mendeskripsikan objek/ bangunan pada kawasan Benteng Oranje dan menganalisa gaya dan karakter visual bangunan. Hasil penelitian diperoleh gaya bangunan kolonial di kawasan benteng Oranje dominan dipengaruhi oleh gaya arsitektur peralihan (1890-1915).
DIALEKTIKA TEORI RUANG BASUDARA DENGAN LOGIKA RUANG SOSIAL Waani, Judy O.
MEDIA MATRASAIN Vol 11, No 3 (2014)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teori ruang basudara adalah teori yang dibangun dari unit informasi, tema-tema dan konsepkonsep. Teori substansi ini, dibangun dari pandangan paradigma dan metode penelitian fenomenologi. Secara ontologi mengacu pada realitas ganda, secara epistemologi mengacu pada subjek objek bersatu dan secara aksiologi menganut keterikatan nilai dan konteks. Berbeda dengan Logika Ruang Sosial yang mengacu pada paradigma rasionalistik yang mengakui realitaskritis, subjek dan objek terpisah serta bebas nilai. Perbedaan ini patut dicermati dengan melakukan dialog teoritik. Secara keilmuan kedua teori ini berada pada rumpun sosial tapi lebih tempat untuk teori ruang Basudara berada pada teori dalam arsitektur dari rumpun sociobehavior spatial.Kata Kunci : Ruang Basudara, Fenomenologi, Socio-behavior Spatial
STUDI PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP ESTETIKA DESAIN FASADE BANGUNAN DENGAN PENDEKATAN TEORI SUBYEKTIF Studi Kasus di Koridor Boulevard on Business (BoB) Jalan Piere Tendean Manado Kamurahan, Steven R.; Waani, Judy O.; Rogi, Octavianus H.A.
MEDIA MATRASAIN Vol 11, No 2 (2014)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pesatnya dinamika pertumbuhan pembangunan di Indonesia, khususnya  Sulawesi utara yang memiliki posisi strategis sebagai pintu gerbang Indonesia ke kawasan Asia Timur dan Pasifik yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan dengan berbasis pada kelautan, perikanan, dan pariwisata serta berwawasan lingkungan dan kebudayaan. Kota Manado yang mempunyai fungsi dan peran sebagai ibukota provinsi, menunjukan adanya pertumbuhan fisik maupun non fisik, sedangkan di lain pihak, Kota manado dihadapkan pada perubahan wajah kota. Fakta menunjukan bahwa keberadaan beragam bentukan fasade bangunan (bangunan komersial) tersebut berhubungan dengan kualitas visual estetika yang terbentuk dalam ruang koridor Boulevard on Bussiness di Jalan Piere Tendean ini. Adapun tujuan dari penelitian ini fokus pada pengungkapan keberlakuan prinsip desain pada Estetika Fasade Bangunan Komersial di Koridor Boulevard on Bussines (BoB) Kota Manado berdasarkan persepsi masyarakat terhadap nilai kualitas estetika visual keindahan (keterpaduan, proporsi, skala, irama, keseimbangan dan warna). Lokasi kajian meliputi Koridor Boulevarrd on Bussines di Jalan Piere Tendean Manado. Metode yang digunakan adalah Kualitatif dengan pendekatan Rasionalistik. Temuan studi ini, yakni pengungkapan adanya prinsip estetika  yang hampir diterapkan semua bangunan komersial yang ada di Koridor Boulevard on Bussines (BoB) Jalan Piere Tendean dan hanya ada pada beberapa jenis bangunan tertentu yang prinsip estetikanya diabaikan, berdasarkan pengungkapan respon pengguna di area studi yang menunjukan skala antara “Sangat tidak baik” dan “Sangat  baik”. Hanya sedikit yang menyatakan  sangat baik dan juga hanya sedikit menyatakan sangat tidak baik. Dari hasil penelitian ini diharapkan memberikan masukan  untuk pengembangan teori dalam hal perancangan desain bangunan khususnya fasade dengan memperhatikan kualitas estetika (keindahan) dan sebagai masukan untuk perencanaan dan perancangan arsitektur di Koridor Boulevard (BoB) Jalan Piere Tendean Manado. Kata Kunci : Bangunan Komersial, Fasade, Estetika Subyektif
Co-Authors - Sangkertadi . Bakhtiar . Sangkertadi ., Sangkertadi Adrian Sembor, Adrian Aghita G. Maliatja, Aghita G. Al Asy' Ary, Muhammad Farid Alvin J. Tinangon Andrew R. Sumayku, Andrew R. Andri R. Runtu, Andri R. Aristotulus E. Tungka, Aristotulus E. Attaufiq, Muh Muhdi Brayn Sumampouw Christine I. Mesakh, Christine I. Claudia T. Dariwu Cynthia E. V. Wuisang, Cynthia E. V. Cynthia E.V. Wuisang Deddy Erdiono Demotekay, Selfi Joisefien Devy S. Sahambangun Djajeng Poedjowibowo Dwars Soukotta Dwight M. Rondonuwu Fela Warouw Fendy Kalangi, Fendy Frans, Aurina J. Frederik T. Andries Frits O. P. Siregar Frits O.P. Siregar Gilang G. Abdulsalam, Gilang G. Grace Junita Mokolensang, Grace Junita Hanny Poli Hendriek H. Karongkong Herry Kapugu Hery Purnomo Jefrey I. Kindangen Johannes Van Rate Johansen C. Mandey Joseph Rengkung Josias D. Sumangkut, Josias D. Jumiati Junus, Mohamad H Kaharu, Arlan Kairupan, Frenny F. F. Kalimpung, Gloria J. Kristian Pabeta Lakat, Ricky M. S. Laloma, Indriana Lasalewo, Arifundi Leidy M. Rompas Lempoy, Josia O. Lerah, Sustri Novita Linda Tondobala Makalew, Verly L. Mangantar, Horalto V. Mangundap, Poppy Maninggir, Tammara G. E. Mantiri, Alberta Maureen J. Siwu, Maureen J. Michael M. Rengkung MT, Surjono Muaja, Patrich V. Muntiaha, Grety I. J. Najoan, Stephanie J. Octavianus Hendrik Alexander Rogi Pamekas, Eka B. Z. Papia J. C. Franklin Pasau, Rayanda Peggy Egam Poluakan, Gloria M. Posumah, Georgius C. Prof. Sangkertadi Rachmat Prijadi Rasuh, Krisensia Shela Ratna Pradipta Syahbudi Reny Syafriny Rezka L. Nender Rieneke L. E. Sela Rieneke Sela Rima Kapugu Rumagit, Lefrando J. S Syafriyani Sanger, Arwinsky S Sangkertadi Sangkertadi Siregar, Dio S. A. Sonny Tilaar Stenly Y. Taaluru, Stenly Y. Steven R. Kamurahan Sudirman Ruslan Surjadi Supardjo Suryono MT Sutarno, Ukhti Bayyinah Tingginehe, Amanda M. Toar Robot Toghas, Daniel Marthinus Tungka, Aristotulus Umboh, Karry Wardono, Surakanti S. Warow, Fela Wuri, Ongki F. Yulia S. Pandensolang, Yulia S. Yusran Pauwah