Claim Missing Document
Check
Articles

PERPUSTAKAAN DAERAH PROVINSI MALUKU UTARA DI SOFIFI “IMPLEMENTASI SASADU SEBAGAI ARSITEKTUR TRADISIONAL MALUKU UTARA” Ruslan, Sudirman; Waani, Judy O.; Supardjo, Surjadi
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 4, No 1 (2015): Volume 4 No.1 Mei 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perpustakaan daerah provinsi Maluku Utara di Sofifi adalah sebuah fasilitas pendidikan  yang lebih menekankan pelayanan masalah pendidikan sebagai salah fasilitas yang mampu mengembangkan sumber daya manusia seutuhnya dan punya daya saing. Maluku utara  yang beribukota di Sofifi dan merupakan salah satu provinsi termuda, sudah tentunya harus memiliki fasilitas – fasilitas penunjang hidup yang lebih maju agar dapat disetarakan dengan kota lain di Indonesia.Salah satunya adalah fasilitas dibidang pendidikan,hal ini dapat dilihat dari letak geografis dan dari banyak sekolah maupun perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang ada di Maluku Utara. Dengan menggunakan pendekatan desain berupa tema perancangan dengan “Impelemnetasi sasadu sebagai arsitektur Tradisional Maluku Utara” yaitu pengaplikasian ruang, bentuk, pola sirkulasi dan tatanan ruang luar yang diharapkan dapat membeikan warna tersendiri dalam pelayanan pendidikan di Maluku Utara. Kata Kunci : Perpustakaan Daerah, Sasadu
Sekolah Luar Biasa Untuk Tunarungu “Difabel Antropometri” Nender, Rezka L.; Waani, Judy O.; Sela, Rieneke L. E.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 4, No 1 (2015): Volume 4 No.1 Mei 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan adalah satu modal utama yang harus kita miliki untuk dapat bersaing didunia luar. Pendidikan bagi anak yang tidak memiliki kebutuhan khusus sudah ada dimana-mana, tetapi bagaimana dengan anak-anak difabel yang membutuhkan pelajaran dan pembinaan yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Untuk itu direncanakanlah sebuah Sekolah Luar Biasa untuk Tunarungu, anak-anak tunarungu terlihat seperti anak-anak pada umunya tapi anak-anak tunarungu memiliki keterbatasan dalam pendengaran dan menyebabkan mereka tidak bisa jelas berbicara dan memiliki rasa tidak percaya diri yang tinggi. Perancangan ini bertujuan untuk memberikan kenyamanan dan rasa aman bagi seorang anak tunarungu untuk beraktifitas dan belajar didalam suatu area pendidikan, oleh karena itu diambilah studi pendukung Difabel Antropometri sebagai pendekatan perancangan untuk mendapatkan kenyamanan dalam mereka beraktifitas. Kata kunci: Sekolah, Tunarungu, Difabel, Antropometri.
BEN BEN RESORT DI WAWONTULAP MINAHASA SELATAN - Pendekatan Hospitality Syahbudi, Ratna Pradipta; Waani, Judy O.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 1, No 2 (2012): Edisi Khusus TA. Buku I KONTEKSTUAL. Volume 1 No.2 November 2012
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

BEN-BEN RESORT DI WAWONTULAP MINAHASA SELATAN (PENDEKATAN HOSPITALITY) Ratna Pradipta Syahbudi[1] Judy O. Waani[2]   ABSTRAK Kabupaten Minahasa Selatan yang merupakan daerah otonom sejak tahun 2003 dan Amurang sebagai ibu kota menjadikan Kabupaten Minahasa Selatan menjadi salah satu Kabupaten di SULUT yang patut dibilang maju. Hal tersebut dapat dilihat dari berkembang pesatnya tempat-tempat pariwisata yang setiap tahunnya mampu memberikan nilai tambah bagi devisa daerah. Pantai Ben-ben merupakan salah satu contohnya, dimana pantai yang terletak di Desa Wawontulap, Kecamatan Tatapaan ini memiliki potensi alam yang sangat indah, namun aksesbilitas dan infrastruktur yang belum optimal serta fasilitas yang belum memadai menjadi salah satu kendalanya. Oleh karena itu, perlu dihadirkan resort sebagai fasilitas penunjang. Pendekatan Hospitality merupakan tema dalam perencanaan  resort di Pantai Ben-ben tersebut. Konsep ini menekankan pada kualitas pelayanan tamu wisatawan sehingga siapapun yang berkunjung akan mendapatkan pelayanan dan kenyamanan melalui fasilitas-fasilitas yang ada. Melalui perencanaan resort ini diharapkan bisa menjadi contoh untuk pengembangan fasilitas-fasilitas pariwisata di Kabupaten Minahasa Selatan. Kata kunci: Pantai Ben-ben, Wawontulap, resort, hospitality. [1] Mahasiswa PS 1 Arsitektur UNSRAT [2] Staf Dosen Pengajar Arsitektur UNSRAT
CHRISTIAN CENTER DI MANADO (METAFORA TADAO ANDO) Wuri, Ongki F.; Waani, Judy O.; Wuisang, Cynthia E. V.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 5, No 2 (2016): Volume 5 No.2 November 2016
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tidak ada makhluk hidup di dunia ini yang tidak membutuhkan Tuhan, dalam senang, maupun susah, atau apapun keadaan manusia pastinya membutuhkan Tuhan yang adalah sumber kehidupan. Setiap pribadi bisa bertemu Tuhan kapan saja karena Ia memang selalu ada. dipikiran, perasaan, bahkan roh dalam setiap individu. Namun terlepas dari itu, bagaimanapun juga pasti manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan wadah agar bisa bersama-sama beribadah kepada Tuhan. Adanya wadah yang dapat menampung umat Kristen untuk beribadah dengan berbagai denominasi gereja juga diperlukan agar pemahaman, pengetahuan dan pengalaman pribadi dengan Tuhan semakin erat, mengingat banyaknya gereja berlomba-lomba medesain gedung yang mewah tetapi seringkali lupa dengan pertimbangan akan pembangunan sarana yang menunjang kegiatan kerohanian umat Kristen lainnya. Kehadiran Christian Center ini diharapkan bisa menampung berbagai aktifitas-aktifitas kerohanian bagi masyarakat Kota Manado untuk meningkatkan kualitas dan hubungan antar sesama manusia, terlebih hubungan dengan Sang pencipta. Metafora Tadao Ando-lah yang digunakan untuk tema perancangan kali ini. Yaitu konsep perancangan dengan berfokus pada kesederhanaan dalam bentukannya serta menonjolkan nilai-nilai kekristenan yang secara tidak langsung penikmat objek bisa langsung menyimpulkan dan bisa merasakan kehadiran Tuhan melalui desain yang dirancang. Kata kunci: Christian Center, Metafora, Tadao Ando, Manado.
TERITORIALITAS PADA PERMUKIMAN SUKU BAJO DI DESA TUMBAK (STUDI KASUS PERMUKIMAN DIATAS AIR) Poedjowibowo, Djajeng; Waani, Judy O.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 5, No 2 (2016): Volume 5 No.2 November 2016
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan pemanfaatan pantainya yang beragam. Untuk dapat memanfaatkan wilayah pesisir dengan lebih bijaksana maka perlu digali pemahaman tentang laut dan pesisir dari suku laut yaitu masyarakat Suku Bajo. Dalam penelitian ini dipilih permukiman diatas air dari suku Bajo di desa Tumbak dengan tujuan menemukenali  arti dan elemen teritorialitasnya. Dipakai metode penelitian kualitatif dengan pendekatan rasionalistik karena sesuai dengan kondisi dan tujuan penelitian, yakni lebih cenderung terkait masalah sosial. Landasan teoritis dalam penelitian ini berasal dari teori-teori teritorialitas dan semiotika sebagai penanda dan petanda. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi sebagai dasar utama penelitian dan wawancara tak berstruktur dari para narasumber dilengkapi dengan catatan, dan gambar/ foto. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa: 1) Ada teritorialitas keluarga yang bersifat ganda seperti diaruma, dapurang,  bahkan batas (halaman) rumah bersifat primer, sekunder dan publik tergantung dari kegiatan yang sedang berlangsung. Ada teritorialitas tingkat lingkungan/desa yang bersifat ganda seperti dermaga pelabuhan, ladang rumput laut dan rakit tempat mencari ikan.  2) Ditemukan elemen teritorialitas primer keluarga: selasar/dinding samping, tatambe, benteng, area tambatan perahu, karamba, lintasan perahu, tirai, diding, balawa, dodika, lemari, alat memasak, meja dan kursi makan.  Elemen teritorialitas sekunder keluarga; jalan, selasar/dinding samping serta tatambe, sofa, meja, kursi, TV, hiasan dinding bernuansa islami, dodika, lemari, alat memasak, meja dan kursi makan, dek bangunan. Elemen teritorialitas publik keluarga: jalan, selasar/dinding samping serta tatambe, benteng, area tambatan perahu, karamba dan lintasan perahu. Elemen teritorialitas primer desa meliputi: piranti menanam rumput laut seperti jangkar, pelampung, tali dan rumput laut, tempat menangkap ikan ditengah laut berupa rakit yang terdiri atas pelampung, rumah jaga, pelampung, tali dan jangkar serta pajeko dan perlengkapan menangkap ikan. Elemen teritorialitas sekunder desa: dermaga dan perahu tertambat, bangunan gedung serbaguna,  tempat pemakaman. Elemen teritorialitas publik desa: batas desa, dermaga dan perahu tertambat, masjid, piranti menanam rumput laut seperti jangkar, pelampung, tali. Pemaknaan teritorialitas pada Suku Bajo di Desa Tumbak yang bermukim diatas air sangat dipengaruhi oleh budaya hidup suku laut, yakni perlunya ruang untuk lalulintas dan tempat tambat perahu serta karamba sebagai tempat budidaya ikan juga pandangan kepemilikan bersama terhadap wilayah perairan.   Kata kunci: teritorialitas, permukiman, suku Bajo suku laut.
PERSEPSI PEJALAN KAKI TERHADAP KEAMANAN DAN KENYAMANAN JALUR TROTOAR DI PUSAT KOTA AMURANG Frans, Aurina J.; Tondobala, Linda; Waani, Judy O.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 5, No 2 (2016): Volume 5 No.2 November 2016
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pedestrian dalam penelitian kali ini akan fokus pada trotoar di jalan Arteri Pusat Kota Amurang. Trotoar yang ada terlihat di buat tanpa memperhitungkan faktor keamanan dan kenyamanan, sehingga pejalan kaki seringkali tidak memanfaatkan fasilitas ini, berdasarkan amatan awal didapati pejalan kaki lebih memanfaatkan bagian bahu jalan untuk berjalan, terlihat juga ada yang terjatuh diatas trotoar, dan juga banyak pejalan kaki berdesak-desakan di atas trotoar sehingga kesannya sempit atau kurang lebar, sehingga ketika trotoar ini difungsikan rasa aman dan nyaman dalam pemanfaatannya tidak dirasakan oleh pejalan kaki. Penelitian ini termasuk dalam penelitian evaluative dengan metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah kombinasi dari metode kualitatif dan kuantitatif. Pengambilan data dan identifikasi dilakukan melalui observasi, foto/dokumentasi lapangan dan penyebaran kuisioner. Data kuantitatif di analisis dengan menggunakan scoring, pembobotan dan prosentase, yang dijelaskan secara deskriptif. Evaluasi terhadap trotoar yang ada ternyata tidak sesuai dengan standart yang disyaratkan dan selaras juga dengan persepsi masyarakat terhadap kondisi trotoar tersebut ialah kurang aman dan tidak nyaman. Dapat disimpulkan dalam penelitian ini : (1) trotoar pada jalan arteri kurang aman dan tidak nyaman, (2) persepsi masyarakat terhadap trotoar di jalan arteri pada segmen bagian kiri dan bagian kanan ini memperlihatkan bahwa kondisi trotoar kurang aman dan tidak nyaman. Hasil evaluasi sejalan dengan persepsi masyarakat.   Kata Kunci : Trotoar, persepsi masyarakat, aman dan nyaman. 
AQUATIC SPORT & LEISURE CENTER DI TALAWAAN, MINAHASA UTARA “WATERSCAPE ARCHITECTURE” Junus, Mohamad H; Erdiono, Deddy; Waani, Judy O.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 6, No 1 (2017): Volume 6 No.1 Mei 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Olahraga merupakan kegiatan peningkatan kesehatan yang rekreatif sebagai bagian dari pendidikan menuju sportivitas, disiplin dan prestasi. Melalui prestasi olahraga dapat dilihat citra bangsa yang positif. Olahraga juga sangat penting bagi perkembangan fisik maupun mental masyarakat. Memadukan kegiatan olahraga, rekreasi dan komersial merupakan suatu yang positif untuk mendukung perkembangan kehidupan olahraga yang modern. Seiring dengan perkembangan peradaban manusia yang terus berkembang, banyak kegiatan olahraga yang disempurnakan dan diperlombakan sebagai kegiatan pemersatu masyarakat baik lokal maupun internasional, salah satunya olahraga air, Oleh karena itu perlu dihadirkannya gedung Aquatic Sport and Leisure Center, Yang bisa memadukan kegiatan olahraga air, rekreasi dan komersial.Dalam perencanaan sebuah gedung Aquatic Sport and Leisure Center, harus benar benar direncanakan secara matang, dan disesuaikan dengan tuntutan olahraga masyarakat modern sekarang ini. Pendekatan dalam perancangan arsitektur, sebuah konsep bangunan gedung Aquatic Sport and Leisure Center merujuk pada pertimbangan kondisi lingkungan dan fungsi bangunan dengan maksud memberikan wadah yang layak untuk menampung kegiatan penggunanya. Kota Manado yang berada di pinggiran pantai sekaligus terletak di kawasan hilir dari 4 sungai besar yang membelah 6 wilayah kota Manado, sangat memungkinkan untuk diterapkannya tema Waterscape Architecture.Manado sebagai sebuah Ibukota Propinsi Sulawesi Utara dengan prestasi olahraga yang cukup baik dan menjadi tolak ukur serta acuan kemajuan perkembangan olahraga khususnya olahraga air di belahan timur Indonesia. Untuk itu demi meningkatkan amino masyarakat akan olahraga air, maka Tuntutan untuk penyediaan fasilitas olahraga air yang representatif dan modern sangatlah diperlukan. Penyediaan sebuah sarana olahraga berupa Gedung Aquatic Sport and Leisure Center sangatlah tepat menjawab tuntutan tersebut.  Kata Kunci : Aquatic Sport & leisure, Waterscape Architecture.
APARTEMEN DI MANADO Metabolisme dalam Arsitektur Siregar, Dio S. A.; Waani, Judy O.; Rate, Johannes Van
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 6, No 1 (2017): Volume 6 No.1 Mei 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertumbuhan ekonomi dan penduduk kota Manado yang semakin meningkat membuat masyarakat kota untuk mencari hunian yang lebih aman dan nyaman. Menurut data BPS dalam Manado Dalam Angka 2015, jumlah penduduk kota Manado tahun 2014 berjumlah 423.257 jiwa. Besarnya jumlah penduduk Kota Manado menyebabkan kepadatan penduduk menjadi cukup tinggi. Dengan luas wilayah 157,26 km², kepadatan penduduk mencapai 2.691 jiwa/km². Angka ini tergolong padat sebagaimana daerah perkotaan lainnya. Karena setiap 1 km2 wilayah di kota Manado dihuni 2.691 jiwa. Untuk menanggulangi kepadatan penduduk dan menyediakan hunian yang lebih nyaman, maka diperlukan sebuah bangunan hunian yang menyediakan kenyamanan dan fasilitas seperti apartemen. Apartemen merupakan hunian yang dibangun sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Aplikasi tematik Arsitektur Metabolisme yaitu proses “pertumbuhan” dan “perubahan” baik secara organik maupun linear (horizontal maupun vertikal). Dengan menggunakan struktur tunggal skala super (megastructure) sebagai upaya pemanfaatan  lahan  yang sempit serta penggabungan dengan ruang “komunal” untuk berbagai fasilitas umum. Prinsip-prinsip Metabolisme yang digunakan dalam rancangan ini adalah core, void, geometric form, geometric  fractal (bentuk bebas/ambigu),  dan modular. Perancangan apartemen dengan menggunakan tema Metabolisme merupakan salah satu pertimbangan dalam upaya memanfaatkan ruang kosong di udara yang berlimpah sehingga sistem konstruksi yang digunakan adalah bangunan berlantai banyak (high rise building). Untuk menekan investasi awal yang sangat besar maka desain apartemen dengan konsep metabolisme yang bertumbuh, dapat menekan biaya pembangunan awal sesuai dengan kebutuhan yang kemudian akan berkembang sesuai dengan pertambahan kebutuhan yang ada. Dengan dibangunnya Apartemen di Manado yang mengaplikasikan tema ”Metabolisme dalam Arsitektur”, yang dimana Metabolisme merupakan suatu proses bertumbuh menjadi lebih banyak, maka apartemen ini dapat mengaplikasikan bangunan dengan konsep bertumbuh yang mengikuti kebutuhan penggunanya. Kata Kunci: Apartemen, Metabolisme, bertumbuh
PLACE MAKING DI RUANG PUBLIK TEPI LAUT KOTA MANADO Syafriny, Reny; Tondobala, Linda; Waani, Judy O.; Warouw, Fela
MEDIA MATRASAIN Vol 10, No 1 (2013)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan tepi laut kota Manado, yang didominasi oleh pembangunan pusat perdagangan dan rumah makan telah mengurangi peluang warga untuk mengakses tepi laut untuk berekreasi. Meski terdapat dalam jumlah dan jenis yang sangat terbatas, ruang rekreasi yang disediakan kurang memberikan peluang maksimal bagi warga untuk beraktivitas karena dirancang dan dikelola tidak berdasarkan kebutuhan pengguna.Placemaking adalah sebuah filosofi, konsep, dan pendekatan yang memberi sinergi maksimal antara kualitas ruang dan kualitas manusia secara berimbang dalam perancangan dan evaluasi ruang yang dianggap gagal dalam penyelenggaraan ruang publik. Prinsip kerjanya adalah pendekatan berbasis pengguna yang mampu membantu warga kota merubah ruang publiknya menjadi tempat yang hidup dan menyenangkan untuk dikunjungi di waktu senggang.Penelitian ini bertujuan untuk menemukan nilai keterikatan warga kota dengan ruang tepi laut, mengungkap jenis aktivitas dan tingkat kepuasan warga terhadap kondisi ruang rekreasi yang ada guna menetapkan kebutuhan rancangan. Metode yang digunakan adalah kuesioner tertutup dan terbuka dengan analisis kualitatif eksploratori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minat warga untuk berekreasi di tepi laut cukup tinggi, namun peluang untuk melakukannya sangat terbatas karena penyediaan fasilitas penunjang tidak mendukung kegiatan yang diinginkan.Kata kunci : placemaking, ruang publik, rekreasi, pengguna ruang.
TIPE TEORI PADA ARSITEKTUR NUSANTARA MENURUT JOSEF PRIJOTOMO Bakhtiar, .; Waani, Judy O.; Rengkung, Joseph
MEDIA MATRASAIN Vol 11, No 2 (2014)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Arsitektur dan manusia adalah timbal-balik dalam hubungannya. Ini berarti bahwa satu tinjauan dapat dikatakan bahwa arsitektur itu bergantung pada manusia penghadir arsitektur. Arsitektur Nusantara yang hadir merupakan hasil cipta dan rasa dari pengetahuan kelisanan anakbangsa Nusantara. Perwujudan dari pengetahuan kelisanan yang terdiri dari aspek-aspek tan-ragawi (gagasan, norma, status maupun nilai perlambangan) dimanifestasikan ke dalam bentukan arsitektural (baik berupa persolekan/dekorasi-ornamnetasi, maupun warna). Di sini, pengetahuan tan-ragawi (esensi) maupun ragawi (bentuk) menjadi suatu rekaman-rekaman pengetahuan arsitektur Nusantara yang sudah ditumbuhkembangkan sejak sebelum republik ini dibentuk. Mengutip pernyataan Prijotomo (2004) bahwa, “..arsitektur Nusantara dibangun sebagai sebuah pengetahuan yang berlandaskan dan dipangkalkan dari filsafat, ilmu dan pengetahuan arsitektur..”. Studi ini mengkaji tentang Teori arsitektur  Nusantara menurut pemikiran Josef Prijotomo. Jenis penelitian yang digunakan adalah Kualitatif dengan pendekatan teori kritis. Pemilihan sampel secara bertujuan (purposive sample). Analisis data menggunakan analisis isi (content analisys). Data hasil analisis kemudian dikomparasikan dengan kajian Tipe teori arsitektur. Tujuannya adalah menemukan Tipe teori pada arsitektur Nusantara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arsitektur Nusantara menempatkan posisinya pada tipe “Theory In Architecture” dari Edward Robbins, teori Normatif dari Jon Lang dan teori Preskriptif dari Kate Nesbitt. Kata Kunci : arsitektur Nusantara, tipe teori, pengetahuan arsitektur
Co-Authors - Sangkertadi . Bakhtiar . Sangkertadi ., Sangkertadi Adrian Sembor, Adrian Aghita G. Maliatja, Aghita G. Al Asy' Ary, Muhammad Farid Alvin J. Tinangon Andrew R. Sumayku, Andrew R. Andri R. Runtu, Andri R. Aristotulus E. Tungka, Aristotulus E. Attaufiq, Muh Muhdi Brayn Sumampouw Christine I. Mesakh, Christine I. Claudia T. Dariwu Cynthia E. V. Wuisang, Cynthia E. V. Cynthia E.V. Wuisang Deddy Erdiono Demotekay, Selfi Joisefien Devy S. Sahambangun Djajeng Poedjowibowo Dwars Soukotta Dwight M. Rondonuwu Fela Warouw Fendy Kalangi, Fendy Frans, Aurina J. Frederik T. Andries Frits O. P. Siregar Frits O.P. Siregar Gilang G. Abdulsalam, Gilang G. Grace Junita Mokolensang, Grace Junita Hanny Poli Hendriek H. Karongkong Herry Kapugu Hery Purnomo Jefrey I. Kindangen Johannes Van Rate Johansen C. Mandey Joseph Rengkung Josias D. Sumangkut, Josias D. Jumiati Junus, Mohamad H Kaharu, Arlan Kairupan, Frenny F. F. Kalimpung, Gloria J. Kristian Pabeta Lakat, Ricky M. S. Laloma, Indriana Lasalewo, Arifundi Leidy M. Rompas Lempoy, Josia O. Lerah, Sustri Novita Linda Tondobala Makalew, Verly L. Mangantar, Horalto V. Mangundap, Poppy Maninggir, Tammara G. E. Mantiri, Alberta Maureen J. Siwu, Maureen J. Michael M. Rengkung MT, Surjono Muaja, Patrich V. Muntiaha, Grety I. J. Najoan, Stephanie J. Octavianus Hendrik Alexander Rogi Pamekas, Eka B. Z. Papia J. C. Franklin Pasau, Rayanda Peggy Egam Poluakan, Gloria M. Posumah, Georgius C. Prof. Sangkertadi Rachmat Prijadi Rasuh, Krisensia Shela Ratna Pradipta Syahbudi Reny Syafriny Rezka L. Nender Rieneke L. E. Sela Rieneke Sela Rima Kapugu Rumagit, Lefrando J. S Syafriyani Sanger, Arwinsky S Sangkertadi Sangkertadi Siregar, Dio S. A. Sonny Tilaar Stenly Y. Taaluru, Stenly Y. Steven R. Kamurahan Sudirman Ruslan Surjadi Supardjo Suryono MT Sutarno, Ukhti Bayyinah Tingginehe, Amanda M. Toar Robot Toghas, Daniel Marthinus Tungka, Aristotulus Umboh, Karry Wardono, Surakanti S. Warow, Fela Wuri, Ongki F. Yulia S. Pandensolang, Yulia S. Yusran Pauwah