Claim Missing Document
Check
Articles

BIOSTRUKTUR DALAM ARSITEKTUR Kapugu, Rima; Waani, Judy O.
MEDIA MATRASAIN Vol 9, No 3 (2012)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Arsitektur adalah perpaduan antara seni dan teknik merancang bangunan. Dalam arsitektur dikenal proses desain yang disebut analogi. Analogi terdiri dari dua yaitu analogi organik dan analogi biomorfik. Pada biomorfik dikembangkan menjadi  biostruktur. Berbagai imajinasi dan unsur dapat diterapkan didalamnya. Dari alam manusia belajar banyak tentang prinsip dan motif alam. Biomorfik merupakan arsitektur yang menerapkan prinsip alam kedalam karya arsitektur. Sistem struktur dan motif alam mulai diterapkan dalam arsitektur. Biostruktur merupakan sistem struktur pada alam yang pengaplikasiannya terdapat pada bangunan. Perkembangan teknologi yang semakin berkembang pun menunjang dalam proses berkarya, sehingga motif-motif alam dengan sistem struktur yang unik diterapkan dalam arsitektur. Kata kunci: arsitektur, biomorfik, biostruktur.
PENYULUHAN UNTUK PENANGGULANGAN BAHAYA KEBAKARAN PADA BANGUNAN GEDUNG DAN PERMUKIMAN DI KELURAHAN WINANGUN II, LINGKUNGAN 2, MANADO Waani, Judy O.; Karongkong, Hendriek H.
MEDIA MATRASAIN Vol 13, No 3 (2016)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan IPTEKS bagi Masyarakat (IbM) ini berjudul Penyuluhan untuk Penanggulangan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Permukiman Kelurahan Winangun Dua Lingkungan 2 Kota Manado Sulawesi Utara. Tujuan IbM yaitu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya kebakaran yang bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Tujuan lain yaitu untuk melibatkan masyarakat bagaimana mengantisipasi atau menanggulang bahaya kebakaran yang bisa terjadi pada bangunan gedung dan permukiman mereka. Produk lain dari kegiatan ini yaitu menghasikan tulisan ilmiah terkait dengan Sistem Penanggulangan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Permukiman baik dari aspek fisiknya juga pada aspek manusianya. Kegiatan IbM ini dilakukan dengan tiga cara yaitu pendampingan, penyuluhan dan praktek lapangan. Kegiatan ini juga menggunakan nara sumber yang ahli pada bidangnya selain secara teori diberikan oleh dosen yang berasal dari Arsitektur sendiri.  Pertumbuhan bangunan berlantai banyak semakin marak di kota-kota besar maupun kota menengah. Kondisi ini bisa dipahami karena bertambahnya penduduk tapi jumlah luasan lahan/tanah tetap. Fenomena tentang pertumbuhan bangunan berlantai banyak, juga terlihat di Kota Manado. Salah satu bahaya yang perlu diantisipasi pada bangunan vertikal dan horizontal adalah kebakaran bangunan. Proteksi kebakaran terhadap bangunan memang dimulai dari perencanaan sampai pada perancangan bangunan. Tujuan perencanaan dan perancangan, terkait dengan keselamatan bangunan untuk 1) protection of life, 2) protection of building, 3) protection of contents, 4) continuity of operation
POLA PERMUKIMAN RUMAH BERLABUH MASYARAKAT SERUI ANSUS DI KOTA SORONG Sahambangun, Devy S.; Warouw, Fela; Waani, Judy O.
MEDIA MATRASAIN Vol 11, No 2 (2014)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumah berlabuh merupakan sebutan umum di daerah Papua untuk rumah yang berada di atas air. Masyarakat Serui Ansus yang berasal dari pulau Yapen-Serui merupakan salah satu suku papua yang banyak mendiami permukiman pesisir Papua dan menempati rumah berlabuh. Penelitian ini dilakukan di kota Sorong, untuk melihat bentuk permukiman di daerah yang bukan tempat suku Serui asli berasal, dengan pertimbangan bahwa Sorong merupakan salah satu kota pesisir di Papua yang sedang berkembang. Manfaat penelitian yaitu sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah dalam merencanakan permukiman untuk masyarakat lokal yang layak dan sesuai dengan karakteristik pola permukiman masyarakat di Papua. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan naturalistik dimana peneliti tinggal dan menyatu dengan masyarakat Serui Ansus di Sorong dan data didapat dengan cara pengamatan langsung serta wawancara mendalam. Dari penelusuran tersebut terdapat temuan yang pertama yaitu bentuk teritori rumah berlabuh masyarat Serui Ansus memiliki perbedaan dengan rumah berlabuh suku lain dimana terdapat teritori yang jelas antara satu rumah dengan rumah yang lainnya dengan adanya pembatas rumah dalam bentuk air, pagar, dan teras. Kedua, empat pola permukiman berbentuk linier dan berkembang kearah laut dan kedudukan rumah selalu berada di depan jalan/ jembatan. Terdapat dua pola arah orientasi pintu masuk rumah, dimana pola pertama merupakan permukiman yang berkembang secara alami memiliki pintu masuk rumah langsung menghadap jalan/ jembatan, dan pola yang kedua merupakan pola permukiman yang berkembang dari sebuah rumah besar dengan campur tangan pemerintah memiliki pintu masuk rumah tidak langsung menghadap jalan/ jembatan. Kata kunci: pola permukiman, masyarakat Serui Ansus
EVALUASI PURNA HUNI (EPH): ASPEK PERILAKU RUANG DALAM SLB YPAC MANADO Syafriyani, -; Sangkertadi, -; Waani, Judy O.
MEDIA MATRASAIN Vol 12, No 3 (2015)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian evaluasi purna huni (EPH) berlokasi di SLB YPAC Manado yang bertujuan untukmeninjau kinerja ruang kelas persiapan dari segi aspek perilaku selama kegiatan belajar anak berkebutuhankhusus.Proses EPH yang digunakan adalah investigatif dengan menggunakan metode penelitian kualitatifpendekatan fenomenologi. Situasi sosial dalam penelitian ini adalah ruang kelas persiapan tunarungu dantunagrahita SLB YPAC Manado yang digunakan oleh 11 peserta didik ABK. Pemilihan sampel secarasampling purposive. Pengumpulan data menggunakan triangulasi: wawancara, pemetaan perilaku dandokumentasi. Analisis data menggunakan metode pengamatan behavioral mapping. Hasil pengamatan dikajidengan menggunakan model sistem perilaku-lingkungan (Weisman, 1988) dalam menentukan suatu atributyang diperoleh dari hubungan interaksi organisasi sekolah, ABK, dan setting ruang kelas.Hasil penelitian ini menunjukkan kinerja ruang kelas persiapan SLB YPAC Manado berdasarkanperilaku memperoleh atribut teritori, aksesibilitas, privasi, sosialisasi, rangsangan sensori, dan kenyamanan.Kata Kunci: Atribut, EPH, Kinerja Ruang Kelas, Perilaku ABK, SLB YPAC Manado
KENYAMANAN TERMAL PADA SEBUAH RUMAH ADAT TRADISIONAL GORONTALO Attaufiq, Muhdi; Sangkertadi, .; Waani, Judy O.
MEDIA MATRASAIN Vol 11, No 1 (2014)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakSebuah rumah adat tradisional Gorontalo yang berukuran cukup besar dan berkonstruksi kayu dikenal dengan nama lokal Bantayo poboide, diuji kinerjanya terhadap kenyamanan termal dalam ruang. Lokasi bangunan terletak di pusat Kota Limboto Gorontalo yang beriklim tropis lembab. Metode yang diterapkan meliputi pengukuran lapangan, simulasi perhitungan perpindahan panas dan kuisioner.  Pengukuran suhu, kelembaban udara, kecepatan dan arah angin dilakukan didalam dan diluar ruang, saat pagi hingga sore hari selama satu hari penuh, pada bulan April 2014. Perangkat lunak TRNSYS, program MATAHARI dan VENTILA dipakai untuk merealisasikan perhitungan perpindahan panas dan ventilasi pada bangunan. Kemudian dilanjutkan dengan perhitungan kenyamanan termal menerapkan skala PMV dan DISC. Hasilnya menunjukkan, bahwa suhu udara dalam ruang mencapai angka yang cukup tinggi sekitar 30 hingga 340C baik melalui cara pengukuran maupun perhitungan. Respon kenyamanan termal oleh pemakai ruang menunjukkan skala nyaman (netral) pada pagi hari, hingga rasa  tidak nyaman (panas) saat siang hari. Hasil perhitungan kenyamanan termal dengan skala DISC menunjukkan keterdekatan terhadap hasil kuisioner. Sedangkan hasil perhitungan dengan skala PMV menunjukkan perbedaan sekitar satu hingga 2 skala lebih tinggi dibandingkan kuisioner.Kata kunci: Gorontalo, Iklim Tropis Lembab, Perpindahan Panas, Kenyamanan Termal
MAKNA RUANG PUBLIK PERMUKIMAN RUMAH BERLABUH MASYARAKAT SERUI ANSUS DI KOTA SORONG Sahambangun, Devy S.; Warouw, Fela; Waani, Judy O.
MEDIA MATRASAIN Vol 12, No 3 (2015)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ruang publik mempunyai fungsi dan makna sosial serta kultural yang sangat tinggi, dalam penilitianmengangkat bagaimana Masyarakat Serui Ansus memaknai ruang publik dalam keseharian kehidupanmereka.Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan naturalistik dimana peneliti tinggaldan menyatu dengan Masyarakat Serui Ansus di Sorong dan data didapat dengan cara pengamatan langsungserta wawancara mendalam. Tujuan penelitian ini untuk mencari makna ruang publik pada permukimanrumah berlabuh Masyarakat Serui Ansus di Sorong.Tulisan ini merupakan bagian dari penelitian pola permukiman Rumah Berlabuh Masyarakat SeruiAnsus di kota sorong. Dalam tulisan ini membahas cara Masyarakat Serui Ansus memaknai ruang publikyang ada di permukiman mereke terdapat 2 tema ruang yang membentuk Makna ruang publik PermukimanRumah berlabuh yaitu tema ruang Rame-Rame Tong Pu Masyarakat Ansus dan tema ruang Sumur Navigasi.Manfaat penelitian yaitu memberi kontribusi bagi pengetahuan bagi masyarakat umum dan memperkayakasana ilmu pengetahuan arsitektur nusantara.Kata kunci: Makna ruang publik, permukiman rumah berlabuh, masyarakat Serui Ansus
TEORI MAKNA LINGKUNGAN DAN ARSITEKTUR Waani, Judy O.
MEDIA MATRASAIN Vol 9, No 1 (2012)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Upaya memahami makna, merupakan salah satu masalah filsafat yang tertua dalam umur manusia. Konsep makna telah menarik perhatian disiplin komunikasi, psikologi, sosiologi, antropologi dan tidak terkecuali, arsitektur dan lingkungan. Pengertian makna menurut ilmu komunikasi yaitu proses pembentukan makna di antara dua orang atau lebih. Menurut Spradley (1997) makna adalah menyampaikan pengalaman sebagian besar umat manusia di semua masyarakat. Berbeda dengan pengertian di atas, Prieto (dalam Martinet, 2010) menyatakan bahwa makna adalah hubungan sosial yang dibangun oleh sinyal diantara sang emisor dan reseptor ketika tindakan semik sedang berlangsung. Dalam pandangan yang lain, menurut Eco (1976), makna adalah sebuah wahana tanda (sign-vechicle) adalah satu kultural yang diperagakan oleh wahana-wahana tanda yang lain serta, secara semantik mempertunjukkan pula ketidak-tergantungannya pada wahana tanda yang sebelumnya.  Ogden dan Richard (dalam Leech, 2003) menyatakan bahwa terdapat dua puluh dua definisi tentang makna, beranjak dari titik tolak non-teoritis atau yang teoritis. Beberapa di antaranya adalah (1) suatu sifat intrinsik; (2) kata-kata lain yang dihubungkan dengan sebuah kata dalam kamus; (3) konotasi suatu kata; (4) tempat sesuatu dalam sistem; (5) akibat praktis dari suatu hal di dalam pengalaman untuk masa depan; (6) sesuatu yang benar-benar diacu oleh pemakai lambang; (7) sesuatu yang oleh penafsir lambang: (a) diacu; (b) diyakini bahwa ia sendiri mengacu padanya dan (c) diyakini bahwa pemakai mengacu padanya. Oleh sebab itu, uraian tentang makna, akan difokuskan pada makna lingkungan dan makna dalam arsitektur. Dalam skala ruang, arsitektur adalah bagian dari lingkungan. Keduanya dalam pembahasan ini, saling melengkapi untuk mendapatkan pembahasan yang mendalam tentang makna. Kata kunci: makna, lingkungan, arsitektur
KLASIFIKASI RUANG TERITORI PUBLIK PADA RUMAH-RUMAH DI KAMPUNG JAWA TONDANO Studi Kasus di Lingkungan III Soukotta, Dwars; Waani, Judy O.; Rogi, Octavianus H.A.
MEDIA MATRASAIN Vol 11, No 2 (2014)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kampung Jawa Tondano memiliki permukiman yang unik dan berbeda dengan lokasi disekitarnya. Hampir sebagian besar rumah warga disana tidak menggunakan batas pekarangan yang tegas. Tujuannya agar hubungan silahturahmi selalu terjalin baik. Imbasnya warga bebas keluar masuk pekarangan yang bukan miliknya. Lantas, sebatas manakah warga mengelompokan ruang-ruang pada rumah mereka yang masuk teritori publik saja. Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasi ruang-ruang pada rumah warga di Lingkungan III Kampung Jawa-Tondano yang terkategori teritori publik saja. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan keilmuan rasionalistik. informan ditentukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Kategori informan terdiri dari keluarga dan objek kasus. Jumlah informan sebanyak 11 kepala keluarga. Kasus objek dalam penelitian berjumlah 9 rumah. Sampel lokasi yakni lingkungan III. Teknik pengumpulan data yang dilakukan ialah triangulasi, dimana teknik observasi menjadi teknik utama, sedangkan wawancara dan dokumentasi merupakan teknik pendukungnya. Teknik analisis data ialah memaknai hasil uji reflektif antara kerangka teoritik dengan pemaknaan indikasi empirik (Muhadjir, 1996). Ditunjang dengan kemampuan peneliti berargumentasi secara logik (Muhadjir 2002:80). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengklasifikasian ruang-ruang pada rumah warga menurut zona teritori publik  meliputi ruang teras depan, pekarangan/halaman rumah, warung dan toilet (KM/WC). Kata Kunci : Ruang, Teritori Publik, Keluarga
REPRESENTASI RUANG TARI MAENGKET PADA DESAIN ARSITEKTUR MANADO ART CENTER Mangantar, Horalto V.; Waani, Judy O.; Sangkertadi, .
MEDIA MATRASAIN Vol 13, No 2 (2016)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian tesis desain ini bertujuan untuk mencari dan menemukan suatu metode rancangan arsitektur berdasarkan Teori Dekonstruksi Derrida yang memandang struktur ruang sebagai sesuatu yang dinamis, yang harus selalu dibuka dan digerakkan menurut prinsip-prinsip differance, trace,dan decentring. Model penelitian perancangan ini adalah berdasarkan teori mediasi Hersberger (Lang,1987), yaitu dengan cara melakukan architectural meaning (pemaknaaan arsitektural) terhadap struktur ruang Tari Maengket kontemporer, dan selanjutnya pemaknaan tersebut direpresentasikan menjadi struktur ruang arsitektur, dan pengujian terhadap temuan metode ini dilakukan melalui rancangan objek arsitektur Manado Art Center.Melalui  penelitian ini penulis menemukan suatu metode rancangan arsitektur yang unik serta suatu rancangan arsitektur yang lebih kreatif dan dinamis karena didasari oleh suatu sistem berpikir yang menganalis struktur ruang secara lebih kreatif dan tidak konvensional.Temuan metode rancangan ini diharapkan menjadi pilihan yang lain bagi para arsitek, mahasiswa arsitektur, dan pelaku perancangan lainnya dalam melakukan praktik rancangan arsitektur. Kata Kunci: metode rancangan arsitektur, teori dekonstruksi Derrida, architectural meaning, struktur ruang, tari Maengket kontemporer
TIPOLOGI BALAI PERTEMUAN “BARUGA” DI KABUPATEN POSO Pabeta, Kristian; Waani, Judy O.; Rogi, Octavianus H.A.
MEDIA MATRASAIN Vol 11, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam ilmu arsitektur mengenal adanya istilah tipologi yang menjelaskan tentang asal usul hadirnya suatu objek arsitektur. Tipologi secara etimologi berasal dari kata ?typos? yang artinya akar dari (the roof of) dan kata ?logos? yang arti sederhananya adalah pengetahuan atau ilmu. Mempelajari tipologi berarti mempelajari objek arsitektur dengan peristiwa yang melatarbelakangi terjadinya bentukan tersebut atau menelusuri sampai ke akar budayanya. Oleh sebab itu studi tentang tipologi penting untuk dijadikan tolak ukur dari perkembangan arsitektur suatu objek. Tulisan ini membahas tipologi balai pertemuan baruga suku pamona di kabupaten poso. Baruga adalah bangunan tradisional dari suku pamona yang telah hadir seiring perkembangan suku tersebut di kabupaten poso. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif rasionalistik dan penelusuran tipologi dibagi dalam 4 periode perkembangan suku pamona yaitu periode agama suku, periode kedatangan belanda/ penginjilan, periode kemerdekaan R.I dan periode perkembangan akhir/ era 2000-an. Data ? data yang diperoleh dari lapangan berbentuk dua model, yaitu data primer (observasi langsung dan wawancara) serta data sekunder yang berasal dari literatur atau sumber tertulis. Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan mengenai tipologi kultural historis, fungsi dan geometri objek yang berkembang di setiap periode perkembangan baruga. Dengan adanya penelitian ini diharapkan memberi kontribusi bagi ilmu pengetahuan arsitektur nusantara yakni sebagai upaya pengkayaan terhadap konsep arsitektur, khususnya menyangkut baruga sebagai hasil kebudayaan suku pamona dan sebagai masukan bagi penentu kebijakan dalam pelestarian bangunan warisan budaya dalam konteks perancangan di wilayah objek berada. Kata kunci : Kabupaten poso, suku pamona, baruga, tipologi arsitektur
Co-Authors - Sangkertadi . Bakhtiar . Sangkertadi ., Sangkertadi Adrian Sembor, Adrian Aghita G. Maliatja, Aghita G. Al Asy' Ary, Muhammad Farid Alvin J. Tinangon Andrew R. Sumayku, Andrew R. Andri R. Runtu, Andri R. Aristotulus E. Tungka, Aristotulus E. Attaufiq, Muh Muhdi Brayn Sumampouw Christine I. Mesakh, Christine I. Claudia T. Dariwu Cynthia E. V. Wuisang, Cynthia E. V. Cynthia E.V. Wuisang Deddy Erdiono Demotekay, Selfi Joisefien Devy S. Sahambangun Djajeng Poedjowibowo Dwars Soukotta Dwight M. Rondonuwu Fela Warouw Fendy Kalangi, Fendy Frans, Aurina J. Frederik T. Andries Frits O. P. Siregar Frits O.P. Siregar Gilang G. Abdulsalam, Gilang G. Grace Junita Mokolensang, Grace Junita Hanny Poli Hendriek H. Karongkong Herry Kapugu Hery Purnomo Jefrey I. Kindangen Johannes Van Rate Johansen C. Mandey Joseph Rengkung Josias D. Sumangkut, Josias D. Jumiati Junus, Mohamad H Kaharu, Arlan Kairupan, Frenny F. F. Kalimpung, Gloria J. Kristian Pabeta Lakat, Ricky M. S. Laloma, Indriana Lasalewo, Arifundi Leidy M. Rompas Lempoy, Josia O. Lerah, Sustri Novita Linda Tondobala Makalew, Verly L. Mangantar, Horalto V. Mangundap, Poppy Maninggir, Tammara G. E. Mantiri, Alberta Maureen J. Siwu, Maureen J. Michael M. Rengkung MT, Surjono Muaja, Patrich V. Muntiaha, Grety I. J. Najoan, Stephanie J. Octavianus Hendrik Alexander Rogi Pamekas, Eka B. Z. Papia J. C. Franklin Pasau, Rayanda Peggy Egam Poluakan, Gloria M. Posumah, Georgius C. Prof. Sangkertadi Rachmat Prijadi Rasuh, Krisensia Shela Ratna Pradipta Syahbudi Reny Syafriny Rezka L. Nender Rieneke L. E. Sela Rieneke Sela Rima Kapugu Rumagit, Lefrando J. S Syafriyani Sanger, Arwinsky S Sangkertadi Sangkertadi Siregar, Dio S. A. Sonny Tilaar Stenly Y. Taaluru, Stenly Y. Steven R. Kamurahan Sudirman Ruslan Surjadi Supardjo Suryono MT Sutarno, Ukhti Bayyinah Tingginehe, Amanda M. Toar Robot Toghas, Daniel Marthinus Tungka, Aristotulus Umboh, Karry Wardono, Surakanti S. Warow, Fela Wuri, Ongki F. Yulia S. Pandensolang, Yulia S. Yusran Pauwah