Claim Missing Document
Check
Articles

EDUKASI TENTANG PENERAPAN GIZI SEIMBANG PADA 1000 HPK REMAJA PUTRI UPAYA UNTUK MENCEGAH STUNTING Laraeni, Yuli; Sulendri, Ni Ketut Sri; Wahyuningsih, Retno; Darni, Joyeti; Pratiwi, Intan Gumilang
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sasambo Vol 5, No 2 (2024): Mei
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jpms.v5i2.1563

Abstract

Timbulnya masalah gizi pada remaja pada dasarnya dikarenakan perilaku gizi yang salah, yaitu ketidak seimbangan antara konsumsi gizi dengan kecukupan gizi yang dianjurkan. Bila konsumsi gizi selalu kurang dari kecukupan maka seseorang akan mengalami gizi kurang. Sebaliknya jika konsumsi melebihi kecukupan akan menderita gizi lebih. Adapun tujuan pelasanaan kegiatan meningkatkan pengetahuan tentang gizi seimbang pada remaja putri dan mempersiapkan dan memotivasi remaja puteri untuk mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang pada periode 1000 HPK untuk mencegah stunting. Remaja Puteri di Dusun Bengkel Selatan 1  Desa Bengkel Kecamatan Labuapi. Metode kegiatan pemberian konsultasi gizi tentang edukasi dalam penerapan gizi seimbang pada 1000 HPK pada kelompok sasaran dengan menggunakan metode secara langsung yaitu assessment masalah gizi dan pemberian konsultasi gizi dan metode yang digunakan adalah pemberian contoh makanan bergizi  yang sesuai dengan prinsip-prinsip gizi seimbang. Pengukuran antropometri. Pada akhir kegiatan dilkukan evaluasi hasil terjadinya peningkatan pegetahuan tentang makanan gizi seimbang sebelum edukasi pengetahuan yang baik sebesar 46,7% setelah edukasi menjadi 80 %, untuk pengetahuan sedang sebelumnya 46,7 % menjadi 20% dan pengetahuan kurang 6,6 % setelah penyuluhan dan pemberian contoh makanan semua menjadi katagori baik dan sedang. Saran: Koordinasi dengan pihak aparat dan puskesmas terkait lebih ditingkatkan mengingat masih terdapat sasaran yang perlu mendapatkan tindak lanjut karena mengalami anemia dan mengalami KEK.
Bahasa Inggris: Bahasa Inggris Wahyuningsih, Retno; Darni, Joyeti; Abdi, Lalu Khairul
Journal of Local Therapy Vol 3 No 1 (2024): Journal of Local Therapy
Publisher : Pusat Unggulan IPTEK Poltekkes Kemenkes Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31290/jlt.v3i1.3683

Abstract

Background: Physical changes in the elderly include changes in the aorta and systemic blood vessels that affect blood pressure. Increased blood pressure in the elderly is a health problem that must be handled properly. The management of hypertension can be done by giving the DASH diet, in this case this study provides an interlude to the DASH diet. Research Methods: This type of research uses a quasi-experimental research design with a randomized pre-test-post-test control group design. Subjects were divided into two groups, namely the treatment group and the control group.Research Results: Most of the subjects in this study were elderly aged 70-74 years (33.3%) in the treatment and 75-80 years (50%) in the control. The research subjects were mostly female, namely 27 elderly (75%). The average body weight for the treatment group was 54.24 kg and the control group was 48.48 kg. The mean blood pressure in both groups before the intervention was higher than the mean blood pressure after the intervention. The results of the paired-t test statistic showed that there was a difference in the mean of systolic (0.000) and diastolic (0.000) blood pressure before and after the intervention. Meanwhile, the two-group difference test showed that there was no difference in systolic and diastolic blood pressure before the intervention. However, after the intervention, there was a difference in systolic and diastolic blood pressure. Furthermore, there was an effect of the DASH diet interlude on Systolic blood pressure (p = 0.000) and Diastolic blood pressure (p = 0.034) after the DASH diet snack was given.Conclusion: there is an effect of giving a DASH diet interlude on systolic blood pressure (p=0.000) and diastolic blood pressure (p=0.034) after giving the DASH diet snack.
Profil dan Prevalensi Blastocystis hominis di Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia Ronny; Destifani, Nadia L.; Yuwono, Edho; Siagian, Forman E.; Wahyuningsih, Retno
Majalah Kedokteran UKI Vol. 36 No. 2 (2020): MEI - AGUSTUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v36i2.3093

Abstract

Abstrak Blastocystis hominis merupakan emerging disease yang terdistribusi luas di dunia, dengan prevalensi 10% di negara maju hingga 60% di negara berkembang. Perannya sebagai mikroorganisme patogen masih kontroversial. Diduga angka kejadian B. hominis lebih banyak didapatkan pada curah hujan yang rendah dan daerah tropis/ sub-tropis. Penelitian dilakukan untuk mengetahui prevalensi, profil B. hominis di Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia, serta hubungan antara angka kejadian infeksi B. hominis dengan curah hujan dan kelembaban pada musim penghujan dan kemarau. Penelitian potong lintang deksriptif berdasarkan data pemeriksaan feses di Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia selama 20 tahun sejak Januari 2000 sampai dengan Desember 2019. Sampel feses diperiksa dari sediaan basah dengan pewarnaan eosin dan lugol, dan hasilnya dilaporkan dengan sistem skoring semi kuantitatif. Data curah hujan dan kelembaban didapatkan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Meteorologi Kemayoran Jakarta.Didapatkan 3270 sampel, dengan hasil sampel positif B. hominissebanyak 440 sampel (14%), Prevalensi pada perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki dan terbanyak pada kelompok usia 21-60 tahun (67,4%). Persentase tertinggi ditemukan pada feses dengan konsistensi cair. Tidak ditemukan hubungan antara prevalensi infeksi B. hominis dengan curah hujan (P=0,285) dan kelembaban (P=0,204). Kata kunci: prevalensi, konsistensi, curah hujan, kelembaban, musim Profile and Prevalence of Blastocystis hominis at Parasitology Laboratory, Medical Faculty Universitas Kristen Indonesia Abstract Blastocystis hominis is an emerging disease that is widely distributed in the world, with a prevalence of 10% in developed countries to 60% in developing countries. Its role as a pathogen is still controversial. It is suspected that the incidence of B. hominis is mostly found in low rainfall and tropical/ sub-tropical areas. The study was conducted to determine the prevalence and profile of B. hominis in the Laboratory of Parasitology, Faculty of Medicine, Universitas Kristen Indonesia.and the relationship between incidence of B. hominisinfection with rainfall and humidity in the rainy and dry seasons.This descriptive cross-sectional study was based on fecal examination data at the FK UKI Parasitology Laboratory for 20 years. from January 2000 to December 2019. Stool examination was carried out by making eosin and lugol wet preparations to examine intestinal protozoa, and the results were reported using a semi-quantitative scoring system.Rainfall and humidity data are obtained from the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency of the Stasiun MeteorologiKemayoran, Jakarta. As many as3270 samples were obtained, feses with B. hominis positive results was 440 samples (14%). Based on gender, 53.1% of B. hominisinfected were women and most patients were found in the age range from 21 to 60 years (67.4%). The highest percentage was found in watery stool. There was no statistically significant between the prevalence of B. hominis infection with rainfall (p= 0.285) and humidity (p= 0.204). Key words: prevalence, consistency, rainfall, humidity, season
Kontaminasi Cacing yang Ditularkan Melalui Tanah pada Sayuran yang Dijual di Pasar Swalayan dan Pasar Tradisional Emilia, Risda; Swissanto, Nacitta; Suyono, Michelthelia S.; Febriyanti, Monica S.; Ronny; Wahyuningsih, Retno
Majalah Kedokteran UKI Vol. 38 No. 3 (2022): SEPTEMBER - DESEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v38i3.5748

Abstract

Infeksi cacing usus yang ditularkan melalui media tanah (CDMT) sudah menjadi masalah kesehatan diseluruh dunia. Penyakit yang disebabkan oleh infeksi CDMT ini memberikan masalah bagi kesehatan masyarakat baik di perkotaan maupun pedesaan. Berbagai factor turut mempengaruhi tingginya angka insidensi penyakit ini, salah satunya adalah konsumsi sayuran dalam kondisi belum matang atau mentah, seperti selada, kubis, kacang panjang, timun, dan kemangi. Selada dan kubis merupakan contoh sayuran yang tumbuh dekat dengan tanah. Kondisi ini memungkinkan CDMT yang berada pada tanah dapat dengan mudah berpindah ke sayur selada maupun kubis, sementara sayur kacang panjang, timun dan kemangi yang tumbuh jauh dengan tanah dapat terkontaminasi CDMT melalui penggunaan pupuk dan perlakuan pasca panen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan kontaminasi CDMT pada sayuran yang dijual di pasar tradisonal dan pasar swalayan DKI Jakarta. Penelitian dilakukan di Laboratorium Parasitologi, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia pada bulan Agustus sampai November 2015. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan laboratorium. Pemilihan sampel menggunakan teknik cluster sampling dengan cara mengambil tiga pasar tradisional dan tiga pasar swalayan per wilayah. Pemeriksaan CDMT dilakukan menggunakan metode sedimentasi, dilanjutkan dengan pembuatan preparat yang akan diperiksa dibawah mikroskop. Berdasarkan hasil dari penelitian ini, dari total 375 sampel, terdapat kontaminasi CDMT sebanyak 43 (11,47%) pada sayur yang dijual di pasar swalayan dan sebanyak 134 (35,7%) pada sayur yang dijual di pasar tradisional. Jenis CDMT terbanyak yang ditemukan pada sayur yang dijual di pasar tradisional adalah Ascaris lumbricoides sebanyak 46 (12,27%), sedangkan pada sayur yang dijual di pasar swalayan, kontaminasi jenis CDMT terbanyak adalah cacing tambang sebanyak 15 (4%). Berdasarkan penelitian ini, kontaminasi CDMT terdapat pada sayur selada, kubis, kacang panjang, timun, dan kemangi yang dijual di pasar swalayan di Jakarta. Kata kunci : kontaminasi, sayur mentah, CDMT, pasar swalayan, Intestinal worm infection transmitted through the soil (soil transmitted helminths - STH) infection) is a health problem in the world. In Indonesia STH infection is a public health problem in both rural and urban areas. Many factors contribute to the high incidence of this disease, one of which is eating raw vegetables such as lettuce, cabbage, long beans, cucumbers and basil that are often used as vegetables. Lettuce and cabbage are plants that grow close to the ground. This situation allows STH in the soil to be easily attached to lettuce and cabbage, while for the long beans, cucumber and basil that grows high above the ground the possibility of contamination is due to the use of fertilizer and post-harvest handling. This study aims to determine the rate of contamination of vegetables sold in supermarkets by STH eggs. This research was conducted at the Laboratory of Parasitology, Medical Faculty of Christian University of Indonesia from August to November 2015. This is a descriptive study with laboratory approach. Samples were obtained by cluster sampling by taking three supermarkets in Jakarta. STH examination used sedimentation method, followed by making preparations for microscopic examination. The research found contamination STH 43 (11,47%) of the 375 samples. In this study parasites that are found are hookworm, 4% of eggs, filariform larvae 2,93% and 0,8% of larvae rhabditiform, while Ascaris lumbricoides comes in second (2.66%) and Trichuris trichiura only 0.53%. So, there is STH contamination on lettuce, cabbage, beans, cucumbers and basil sold in supermarkets in Jakarta. Keywords : Contamination, raw vegetable, soil transmitted helminths, supermarket
Isolasi Jamur Kapang dari Tanah Imkotta, Alberto H.; Hani, Safira; Hutapea, Ester; Prakasa, Bintang M. Y.; Wahyuningsih, Retno
Majalah Kedokteran UKI Vol. 39 No. 1 (2023): JANUARI-APRIL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v39i1.5753

Abstract

Tanah merupakan habitat berbagai mikroorganisme termasuk jamur. Jamur yang hidup di tanah termasuk jamur patogen untuk manusia. Antara lain golongan dermatofita, Aspergillus, dan Mucorales. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi jamur patogen di tanah dari berbagai wilayah di Pulau Jawa. Metode yang digunakan adalah hair bait untuk jamur dermatofita dan flotasi untuk kapang yang lain. Tanah yang diteliti berasal dari Jakarta, Bekasi, Tangerang, Cirebon, Depok, Bogor, dan Yogyakarta. Golongan dermatofita yang diisolasi adalah T. rubrum, T. mentagrophytes, dan M. gypseum. Aspergillus fumigatus, A. flavus, A. niger, dan A. terreus merupakan jamur golongan Aspergillus yang berhasil diisolasi. Jamur lain yaitu S. apiospernum diisolasi dari semua wilayah yang diteliti kecuali dari tanah yang berasal dari Cirebon. Jamur L. Prolificans hanya diisolasi dari wilayah Depok. Selanjutnya Fusarium sp diisolasi dari Bekasi, Bogor, dan Yogyakarta. Kata kunci: Dermatofita, Aspergillus, Mucorales, Fusarium sp Soil is a habitat for various microorganisms including fungi. Some of the fungi that live in soil are pathogenic for humans. These include dermatophytes, Aspergillus, and Mucorales. This study aims to isolate pathogenic fungi in soil from various regions on the island of Java. The method used is hair bait for dermatophyte fungi and flotation for other fungi. The soil sample studied came from Jakarta, Bekasi, Tangerang, Cirebon, Depok, Bogor and Yogyakarta. The dermatophyte groups isolated were T. rubrum, T. mentagrophytes, and M. gypseum. Aspergillus fumigatus, A. flavus, A. niger, and A. tereus are fungi from the Aspergillus group that have been isolated. Another fungus, S. apiospernum, was isolated from all areas studied except from soil originating from Cirebon. The L. prolificans fungus was only isolated from the Depok area. Furthermore, Fusarium sp was isolated from Bekasi, Bogor and Yogyakarta. Key words: Dermatophytes, Aspergillus, Mucorales, Fusarium sp
Histoplasmosis: diagnostic and therapeutic aspect Wijaya, Meiliyana; Adawiyah, Robiatul; Wahyuningsih, Retno
Indonesian Journal of Tropical and Infectious Disease Vol. 9 No. 2 (2021)
Publisher : Institute of Topical Disease Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/ijtid.v9i2.25448

Abstract

Histoplasmosis has been reported since 1932 in various regions in Indonesia. This disease is caused by thermally dimorphic fungus Histoplasma capsulatum var. capsulatum which is experiencing an increasing incidence worldwide. Human infection occurs when spores in soil contaminated with bird and bat droppings are inhaled and change to form yeast in the lungs. The majority of these forms of infection are mild and can heal on their own, but if large numbers of spores/ inoculum are inhaled, or the host is immunosuppressed, serious lung disease and even dissemination may occur with a high mortality rate. The diagnosis can be made by combining clinical symptoms with laboratory test results. Conventional laboratory methods such as direct examination or histopathology and culture are the gold standards for histoplasmosis diagnosis. The weakness of culture is the nature of H. capsulatum as a slow grower fungus that takes 4-6 weeks to grow. In addition, laboratory tests can be carried out with antibody detection or antigen detection. Antigen detection is more benefi cial for hosts with immunosuppression or acute form, while antibody detection is more important in the chronic form of the diseases. Molecular-based assays have high specifi city but are not yet available commercially and are more widely used for culture identifi cation to confi rm the species of H. capsulatum. Histoplasmosis therapy usually begins with the administration of amphotericin B for around two weeks, followed by maintenance with itraconazole for 6 - 9 months duration. A careful history of possible exposure and the appropriate laboratory diagnostic approach is essential to provide appropriate therapy.
Analisis Perbedaan Asupan Zat Gizi dan Kadar Glukosa Darah Puasa Pasien Diabetes Melitus Tipe II: Analisis Perbedaan Asupan Zat Gizi dan Kadar Glukosa Darah Puasa Pasien Diabetes Melitus Tipe II Amelia, Linda; Sulendri, Ni Ketut Sri; Darni, Joyeti; Wahyuningsih, Retno
Indonesian Health Issue Vol. 3 No. 1 (2024): FEBRUARI
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/inhis.v3i1.58

Abstract

Latar Belakang : Diabetes Melitus masih menjadi salah satu penyakit yang angka kejadian pertahun semakin meningkat. Salah satu penyebab penyakit DM adalah pengaturan pola makan yang kurang tepat, yakni pemilihan karbohidrat dengan porsi yang banyak, jenis karbohidrat yang digunakan lebih banyak menggunakan karbohidrat sederhana. Pengaturan makan pada penderita diabetes mellitus dianjurkan untuk memperhatikan asupan makanan seperti karbohidrat dan serat karena penting dalam pengendalian glukosa darah sebagai salah satu pilar penatalaksanaan diabetes melitus pada terapi gizi medis. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 26 orang. Pengukuran kadar glukosa darah puasa dilakukan 1 kali dengan metode GOD-PAP (glukosa oxidase perokxidase aminoantipyrine phenol) dan melakukan recall 1x24jam selama 2 kali. Analisis data yang digunakan adalah Uji T 1 sampel (one sampel T-test). Hasil Penelitian: Rerata kadar glukosa darah puasa pasien sebesar 176,15 g/dL. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa dari asupan karbohidrat, protein, natrium dan serat tidak memiliki perbedaan yang signifikan terhadap kadar glukosa darah puasa dengan nilai p-value >0,05. Sedangkan asupan lemak memiliki perbedaan yang signifikan terhadap kadar glukosa darah puasa dengan nilai p-value 0,036 (p<0,05). Kesimpulan: Tidak ada perbedaan asupan karbohidrat, protein, natrium dan serat yang signifikan terhadap kadar glukosa darah, dan terdapat perbedaan pada asupan lemak yang signifikan terhadap kadar glukosa darah puasa (p=0,036). Background: Diabetes Mellitus is still a disease whose incidence rate is increasing every year. One of the causes of DM is improper diet management, namely choosing large portions of carbohydrates, the types of carbohydrates used are mostly simple carbohydrates. Dieting for diabetes mellitus sufferers is recommended to pay attention to food intake such as carbohydrates and fiber because it is important in controlling blood glucose as one of the pillars of managing diabetes mellitus using medical nutrition therapy. Method: This study used a cross sectional design. The subjects in this research were 26 people. Fasting blood glucose levels were measured once using the GOD-PAP (glucose oxidase peroxidase aminoantipyrine phenol) method and recalled 1 x 24 hours for 2 times. The data analysis used is the 1 sample T test (one sample T-test). Research Results: The average fasting blood glucose level of patients was 176.15 g/dL. The research results show that carbohydrate, protein, sodium and fiber intake does not have a significant difference in fasting blood glucose levels with a p-value >0.05. Meanwhile, fat intake had a significant difference in fasting blood glucose levels with a p-value of 0.036 (p<0.05). Conclusion: There is no significant difference in carbohydrate, protein, sodium and fiber intake on blood glucose levels, and there is a significant difference in fat intake on fasting blood glucose levels (p=0.036).
Factors influencing histoplasmosis incidence in multidrug-resistant pulmonary tuberculosis patients: A cross-sectional study in Indonesia Khairunnisa, Selfi; Soeroso, Noni N.; Abdullah, Muntasir; Siahaan, Lambok; Eyanoer, Putri C.; Daulay, Elvita R.; Wahyuningsih, Retno; Denning, David W.
Narra J Vol. 3 No. 3 (2023): December 2023
Publisher : Narra Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52225/narra.v3i3.403

Abstract

Histoplasmosis is an infectious disease caused by the dimorphic fungus Histoplasma capsulatum, which, in chronic conditions, is generally difficult to distinguish from pulmonary tuberculosis based on its clinical appearance; therefore, diagnostic errors can occur. Meanwhile, the prevalence of multidrug-resistant pulmonary tuberculosis (MDR-TB) in Indonesia remains high. Study determining the incidence of histoplasmosis in MDR-TB is unavailable worldwide. The aim of this study was to determine the risk factors of histoplasmosis incidence in MDR-TB patients in Indonesia. A cross-sectional was conducted at H. Adam Malik General Hospital, Medan, Indonesia and the ELISA platform (semi-quantitative) was used to detect histoplasma antibodies. Factors associated with histoplasmosis incidence among MDR-TB were determined using a Chi-squared test. A total of 50 MDR-TB patients were included this study of which 14 of them (28%) had histoplasmosis. The majority of histoplasmosis occurred in males, in MDR-TB patients with a history of TB treatment and among who had chest x-rays with far-advanced lesions. However, statistical analyses indicated none of those factors (sex, TB treatment history, status of the lung) as well as age group, acid-fast bacillus result, Mycobacterium tuberculosis culture result, having pet, living in damp house, working in the field or plantation, having HIV infection and smoking status were associated with histoplasmosis incidence. This study highlights that the incidence of histoplasmosis is relatively high and therefore further studies are important to be conducted in Indonesia that has a high MDR-TB cases.
PENGEMBANGAN MODEL EVALUASI PENYELENGGARAAN SEKOLAH ISLAM TERPADU Wahyuningsih, Retno; Budiyono, Budiyono
Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol. 18 No. 2 (2014)
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta in cooperation with Himpunan Evaluasi Pendidikan Indonesia (HEPI) Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/pep.v18i2.2864

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengembangkan model evaluasi yang tepat sehingga dapat digunakan untuk mengevaluasi penyelenggaraan SDIT, (2) mendeskripsikan karakteristik instrumen dalam model evaluasi SIT, (3) mendeskripsikan efektivitas model evaluasi SIT, dan (4) mengetahui gambaran dan kriteria hasil evaluasi yang dilaksanakan di SDIT. Studi ini merupakan penelitian pengembangan, yang terdiri dari sembilan tahap kegiatan, yaitu: pengumpulan informasi, perencanaan, pengembangan produk awal, penilaian pakar, revisi produk utama, pengujian lapangan utama, revisi produk operasional, pengujian lapangan operasional, dan revisi produk akhir. Kesimpulan penelitian  ini adalah: (1) telah dihasilkan  model evaluasi penyelenggaraan sekolah Islam terpadu (EPSIT); (2) karakteristik instrumen dalam model EPSIT: a. memiliki format sangat baik, b. memenuhi substansi model evaluasi, c. memiliki validitas konstruk yang dapat diandalkan, d memiliki reliabilitas yang tinggi, (3) Model EPSIT memiliki keefektifan sangat baik dan memenuhi standar untuk mengevaluasi penyelenggaraan SDIT; (4) kriteria dalam Model EPSIT dapat memberikan gambaran secara menyeluruh penyelenggaraan SDIT.Kata kunci: model evaluasi, penyelenggaraan, sekolah Islam terpadu______________________________________________________________DEVELOPING AN EVALUATION MODEL FOR THE IMPLEMENTATION OF INTEGRATED ISLAMIC SCHOOLSAbstract This study aims at (1) developing an appropriate evaluation model as a means of evaluating the implementation of Integrated Islamic Primary School, (2) describinge the characteristic of instrument of SIT evaluation model (3) describinge the effectiveness of the developed SIT model of evaluation, and (4) knowing the description and the criteria of evaluation results implemented at SDIT. This is a research and development study which comprises nine steps:collecting information, planning, developing preliminary product, experts' judgments, revising the main product, main field testing,  revising the operational product, operational field testing, and final product revision. The conclusions are as follows: (1) An evaluation model was developed for the integrated Islamic school (EPSIT); (2) The characteristics of the  instrument in the EPSIT model are : a. having excellent format, b. havinge met the  substance of evaluation model, c. having a good validity construct, and d. having a high level reliability; (3) The EPSIT model  is very effective and meets the standard to evaluate the implementation of SDIT; (4) the criteria under the EPSIT model can give thorough description of the implementation of  the SDIT.Keywords: evaluation model, implementation, integrated Islamic schools
Potensi Teh Rambut Jagung Ketan (Zea mays L.) dan Daun Salam (Syzygium polyanthum) sebagai Antihipertensi Darni, Joyeti; Damayanti, Amilia Yuni; Wahyuningsih, Retno; Sofiyatin, Reni
Nutri-Sains: Jurnal Gizi, Pangan dan Aplikasinya Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ns.2024.8.1.15300

Abstract

The purpose of this study was to analyze the tea’s effect on the blood pressure. Research is a type of experimental research, with a randomized pre-post test with control design. Antioxidant activity was determined using the DPPH method, while saponin levels were quantified using gravimetric analysis. Blood pressure measurements in rats were obtained via tail-cuff plethysmography. A total of 28 male Sprague dawley rats were used, randomly allocated into four groups: a negative control group without extract (K-), a positive control group treated with furosemide 3.6 mg/kg (K+), and intervention groups receiving different doses of tea extract, specifically 300 mg/kg body weight (X1) and 500 mg/kg body weight (X2). The findings revealed that the IC50 value for antioxidant activity of corn silk tea was 65.526 ppm, with a saponin content of 8.461%. Meanwhile, bay leaf tea exhibited stronger antioxidant properties, with an IC50 of 40.351 ppm and a saponin content of 7.408%. The X2 group demonstrated the most significant reduction in blood pressure, averaging 98.9 mmHg. In conclusion, corn silk tea possesses strong antioxidant properties, whereas bay leaf tea has very strong antioxidant activity. The combination of bay leaf and corn silk tea was effective in decreasing blood pressure in rats. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh teh terhadap tekanan darah. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen randomized pre-post test with control design. Penentuan aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH, kadar saponin menggunakan analisis gravimetri kuantitatif, pengukuran tekanan darah pada tikus menggunakan metode tail-cuff plethysmo-graphy. Penelitian menggunakan 28 tikus putih jantan Sprague dawley, dibagi 4 kelompok yaitu tanpa pemberian ekstrak (K-), dengan obat furosemid 3,6 mg/kg (K+), intervensi teh saraja dengan dosis ekstrak 300 mg/kgBB (X1); dosis 500 mg/kg BB (X2). Hasil penelitian menunjukkan aktivitas antioksidan teh rambut jagung IC50 sebesar 65,526 ppm sedangkan kadar saponin pada teh rambut jagung ketan sebesar 8,461%. Aktivitas antioksidan teh daun salam IC50 sebesar 40,351 ppm, sedangkan kadar saponin pada teh daun salam sebesar 7,408%. Rerata tekanan darah pada kelompok X2 menunjukkan selisih penurunan tekanan darah paling banyak yaitu 98,9 mmHg. Kesimpulannya, aktivitas antioksidan teh rambut jagung berada pada kelompok kuat, dan antioksidan pada teh daun salam termasuk golongan yang sangat kuat. Pemberian teh daun salam kombinasi rambut jagung dapat menurunkan tekanan darah pada tikus.