Penelitian ini bertujuan mengevaluasi performa pertumbuhan dan karakteristik morfometrik cempe kambing silangan Boer × Lokal (Boerlok) kelahiran kembar berdasarkan tiga genotipe dengan proporsi darah Boer yang berbeda, yaitu BL (50%), BBL (75%), dan BBBL (87,5%). Penelitian dilaksanakan selama delapan bulan (Januari-Agustus) di PT Shadana Arifnusa Training Farm, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Sebanyak 120 ekor cempe kelahiran kembar prasapih digunakan sebagai materi penelitian, dipilih secara purposive sampling. Variabel yang diamati meliputi bobot lahir, bobot sapih umur 90 hari (BS90), pertambahan bobot badan harian (PBBH), tinggi pundak, panjang badan, dan lingkar dada. Data dianalisis secara deskriptif (mean ± SD) menggunakan SPSS versi 17.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cempe BBBL (87,5% Boer) memiliki bobot lahir tertinggi (jantan: 2,740 ± 0,427 kg; betina: 2,660 ± 0,409 kg). Bobot sapih dan PBBH tertinggi diperoleh pada genotipe BBL (75% Boer), dengan PBBH jantan 112,40 ± 15,72 g/hari dan betina 100,20 ± 17,28 g/hari. Ukuran morfometrik (panjang badan, lingkar dada, tinggi pundak) juga meningkat seiring peningkatan proporsi darah Boer, meskipun genotipe BBBL tidak selalu lebih unggul dibanding BBL. Disimpulkan bahwa peningkatan proporsi genetik Boer hingga 75% (genotipe BBL) memberikan respons performa pertumbuhan dan morfometrik paling optimal pada fase prasapih pada kelahiran kembar.