Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : KEMBARA

Post-kolonialisme perempuan dalam novel “Gadis Pantai” dan film “The Last Princess” (kajian intertekstualitas) Rokhmah, Akhirul Insan Nur; Wardani, Nugraheni Eko
KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol. 9 No. 1 (2023): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/kembara.v9i1.23518

Abstract

Karya sastra sejarah dalam era pasca-kolonial memiliki cirik has tersendiri di mana perempuan dihadapkan pada suatu tindakan agresif para penjajah yang menyebabkan keterlindasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi intertekstual dalam karya sastra post-kolonialisme yaitu novel Gadis Pantai dan film The Last Princess. Metode penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif-kualitatif dengan metode penelitian mengalir. Teknik analisis data yaitu menggunakan triangulasi teori. Peneliti mengumpulkan teori-teori intertekstualitas, dan teori post-kolonialisme perempuan untuk diterapkan ke dalam penelitian ini. Cara untuk memvalidasi data, peneliti membuat deskripsi yang kaya dan padat. Hasil penelitian ini adalah konsep oposisi dalam novel Gadis Pantai terlihat melalui sistem kekuasaan berupa kasta, patriarki, serta kesenjangan orang kota dan orang kampung. Konsep transposisi terlihat dari pergeseran bingkai cerita dan diferensiasi lapisan sosial. Konsep Transformasi dijelaskan dalam penyebutan kata ‘Bendoro’ menjadi kata ‘Nyonya Besar’ dan terjadi sedikit perbedaan bingkai cerita dalam novel terjemahannya. Konsep oposisi film The Last Princess terdapat dalam adegan sikap priyayi dan sikap proletar, sikap pro-kontra terhadap penjajah, dan sikap raja dengan permaisurinya. Konsep transposisi terletak pada adegan di Jepang yang terjadi pergantian seting signifikan. Konsep transformasi perbedaan bahasa yang digunakan. Novel Gadis Pantai memiliki intertekstual sosial dan berkaitan erat dengan nilai-nilai mimikri yang ada dalam teori post-kolonialisme. Simpulan dari penelitian ini adalah beberapa bagian cerita sesuai dengan teori-teori post-kolonialisme perempuan. Film The Last Princess juga memberikan gambaran mengenai sejarah tentang dinasti terakhir di Korea, perjuangan dan kemerdekaan Korea. Keduanya melalui proses dalam teori Kristeva yakni konsep oposisi, transposisi, dan transformasi serta kaitannya dengan kondisi sosio-historis. Berdasarkan Teori Riffaterre terdapat hiponim yang berupa alur, perwatakan tokoh, dan kebudayaan patriarki yang berkembang di kedua belah karya sastra tersebut.
Hegemonic Masculinity in the Novel Ronggeng Dukuh Paruk by Ahmad Tohari Wardani, Nugraheni Eko; Suwandi, Sarwiji; Ulya, Chafit; Zulianto, Sugit; Setiyoningsih, Titi
KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol. 9 No. 2 (2023): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/kembara.v9i2.28149

Abstract

The exploration of hegemonic masculinity within the context of sex and gender roles in Indonesian novels is an intriguing subject for analysis. In light of this background, the present research aimed to (1) describe and explain the hegemonic masculinity in the characters of the novel Ronggeng Dukuh Paruk and (2) describe and explain the efforts of the characters in confronting the hegemonic masculinity in the novel Ronggeng Dukuh Paruk.  This study adopted a qualitative descriptive research approach involving a content analysis strategy. The primary data source was Ahmad Tohari's novel Ronggeng Dukuh Paruk. Data collection techniques incorporated document analysis using the theory of hegemonic masculinity. Data validity was ensured through theory triangulation based on various theoretical perspectives. Data analysis followed an interactive approach, encompassing data reduction, data display, and conclusion drawing. The research findings are as follows: (1) Hegemonic masculinity in the novel manifests as a cultural imposition of stigmas and limitations on women in the name of culture, evolving into societal consensus. It arises due to the gender roles deeply intertwined with the cultural values dominating society within a patriarchal culture. (2) The characters in the novel are powerless in the face of hegemonic masculinity, encompassing power relations, the presentation of gender roles, and cathexis due to the firm grip of patriarchal culture on the lives of the community in Ronggeng Dukuh Paruk. Hence, struggles to break free from hegemonic masculinity within a patriarchal culture ultimately fail.