Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search
Journal : SPASIAL

ANALISIS MORFOLOGI KOTA DI KECAMATAN MALALAYANG Panduu, Rocky Radinal; Warouw, Fela; Lahamendu, Verry
SPASIAL Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suatu kota dalam perkembangannya memiliki karakteristik bentuk yang disebut morfologi kota. Morfologi kota terbentuk karena adanya interaksi baik secara spasial maupun kegiatan masyarakat. Morfologi kota di kecamatan Malalayang mengalami perubahan, dimana aspek-aspek tersebut adalah penggunaan lahan yang semakin meningkat berbanding terbalik dengan ketersediaan lahan yang semakin berkurang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis 3 (tiga) komponen morfologi kota di kecamatan Malalayang dengan menggunakan metodologi kualitatif melalui analisis spasial. Analisis spasial ini dilakukan untuk melihat perubahan penggunaan lahan di kecamatan Malalayang periode tahun 2004, 2009, dan 2016 dengan meninjau 3 komponen morfologi kota yaitu pola plot bangunan, pola jaringan jalan dan sistem bangunan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa perubahan morfologi kota kecamatan Malalayang didominasi oleh lahan yang tidak terbangun seperti perkebunan dan tanah kosong menjadi perumahan baru dan pola jaringan jalan baru. Perubahan inilah yang membentuk morfologi kota kecamatan Malalayang berbentuk kipas (fan shaped cities). Kata Kunci: Morfologi Kota, Kecamatan Malalayang
ANALISIS DAMPAK PEMBANGUNAN PERUMAHAN TERENCANA TERHADAP PERUBAHAN FUNGSI DAN TATA GUNA LAHAN DI KOTA BITUNG Torar, Viyana Naomi Veren; Warouw, Fela; Lahamendu, Verry
SPASIAL Vol 5, No 3 (2018)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam kurun waktu tahun 10 tahun terakhir (periode 2006/2007-2016/2017) laju pertumbuhan penduduk kota bitung rata-rata berkisar 1,98%. Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat setiap tahunya membuat pembangunan hunian baru berupa perumahan terencana dan bisnis property real estate yang menjadi solusi melonjaknya permintaan akan tempat bermukim. Namun seiring dengan berkembangnya perumahan terencana maka menyebabkan keterbatasan lahan sehingga terjadi perubahan fungsi dan tata guna lahan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis dampak pembangunan perumahan terencana terhadap perubahan fungsi dan tata guna lahan di kota bitung, dengan indikator penelitian yaitu; penggunaan lahan,sebaran perumahan terencana, sebaran prasarana dan utilitas serta sebaran fasilitas sosial/ekonomi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dan menggunakan metode analisis spasial sistem informasi geografis (SIG). Sesuai dengan metode analisis tersebut, maka dilakukan analisis perubahan fungsi dan tata guna lahan dengan meninjau melalui data perubahan (time series) peta penggunaan lahan, selanjutnya melakukan survey lapangan untuk mengidentifikasi sebaran perumahan terencana dan menganalisis dampak pembangunan perumahan terencana. Berdasarkan hasil analisis Pertambahan luas lahan terbangun terbesar terjadi dikecamatan girian, sedangkan sebaran perumahan terencana terbesar berada dikecamatan matuari. Dampak pembangunan perumahan terencana yaitu terhadap struktur ruang kota dan pola ruang kota, hal tersebut dibuktikan melalui meningkatnya kebutuhan prasarana dan utilitas perkotaan serta berdampak pada kawasan lindung dan meningkatnya kawasan budidaya (sarana sosial/ekonomi). Kata Kunci : Pembangunan,Perumahan Terencana,Perubahan Fungsi,Tata Guna Lahan.
ANALISIS TINGKAT KERENTANAN TANAH LONGSOR DI WILAYAH PERKOTAAN TAHUNA DENGAN MENGGUNAKAN GIS Tuwonaung, Janet Blandina; Gosal, Pierre H; Warouw, Fela
SPASIAL Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wilayah Perkotaan Tahuna merupakan daerah yang cukup rawan terhadap tanah longsor. Adapun faktor penyebab antara lain : Intensitas curah hujan yang tinggi, kemiringan lereng yang terjal, penggunaan lahan bervariasi yang terjadi akibat aktivitas manusia yang kurang memperhatikan keseimbangan lingkungan.Tujuan penelitian ini untuk menganalisis tingkat kerentanan tanah longsor di Wilayah Perkotaan Tahuna dengan menggunakan gis. Penelitian ini menggunakan teknik metode deskriptif kuantitatif dan analisis spasial dengan bantuan alat analis GIS ( Geografis Informasi Sistem) dan analisis analisis skoring dengan teknik pengumpulan data primer (observasi lapangan dan wawancara langsung) data pengumpulan data sekunder (studi literatur, mengunjungi instansi pemerintah/organsisasi terkait dan searching data/ informasi di media internet). Dari hasil penelitian yang dilakukan maka dapat di tarik kesimpulan bahwa dengan memperhitungkan parameter kerentanan demografi, kerentanan ekonomi, kerentanan fisik dan kerentanan lingkungan di dapat 5 klasifikasi tingkat kerentanan : tidak rentan, sedikit rentan, agak rentan dan sangat rentan. Untuk kategori tingkat kerentanan sangat rentan di Kecamatan Tahuna memiliki luasan 269.712ha (1,45%) meliputi 4 Kelurahan : Bungalawang, Manente, Sawang Bendar, Soataloara Dua dan Kecamatan Tahuna Timur kategori tingkat kerentanan sangat rentan memiliki lusasan 112.472ha (0.82%) meliputi 3 Kelurahan : Lesa, Tapuang, Tona Dua. Kata Kunci: Wilayah Perkotaan Tahuna, Kerentanan, Longsor, Geografi Informasi Sistem
EVALUASI TINGKAT KEKUMUHAN PADA KAWASAN PERMUKIMAN DI KECAMATAN TUMINTING KOTA MANADO Alhabsyi, Usman; Warouw, Fela; Sembel, Amanda
SPASIAL Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tahun 2016 Kecamatan Tuminting teridentifikasi memiliki luasan kawasan permukiman kumuh terbesar di Kota Manado yakni sebesar 49.15 Ha (31.24 % dari total luas kawasan kumuh) yang terbagi atas 5 Kawasan yakni Kawasan Maasing (7,83 Ha), Kawasan Mahawu (19,68 Ha), Kawasan Sindulang Satu (14,17 Ha) dengan kategori Kumuh Berat, Kawasan Sumompo (4,52 Ha) dengan kategori Kumuh Sedang, dan Kawasan Sindulang Dua (3,20 Ha) dengan kategori Kumuh Ringan. Tujuan penelitian yaitu mengevaluasi tingkat kekumuhan dan kondisi aspek permukiman di Kecamatan Tuminting pada tahun 2016 dan 2018 setelah adanya penanganan melalui program RP2KPKP. Metode yang digunakan adalah metode analisis deskriptif dan analisis skoring dengan 7 indikator yaitu kondisi bangunan, kondisi jalan, kondisi air minum, kondisi drainase, kondisi air limbah, kondisi persampahan, dan kondisi proteksi kebakaran untuk menghasilkan penilaian tingkat kekumuhan di Kecamatan Tuminting pada tahun 2018. Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi diketahui bahwa sebanyak 4 kawasan mengalami penurunan tingkat kekumuhan yaitu Kawasan Sindulang Satu dari kumuh berat menjadi kumuh sedang, Kawasan Maasing dan Kawasan Mahawu dari kumuh berat menjadi kumuh ringan, dan Kawasan Sumompo dari kumuh sedang menjadi kumuh ringan, serta 1 kawasan memiliki tingkat kekumuhan yang tetap yaitu Kawasan Sindulang Dua dengan tingkat kekumuhan ringan. Adapun aspek permukiman yang mengalami peningkatan signifikan sehingga memberikan dampak terhadap tingkat kekumuhan terdapat pada aspek infrastruktur permukimannya yaitu jalan lingkungan dan drainase lingkungan.Kata Kunci : Kawasan Permukiman, Tingkat Kekumuhan, Kota Manado
KARAKTERISTIK PERMUKIMAN MASYARAKAT PADA KAWASAN PESISIR KECAMATAN BUNAKEN Lautetu, Lisa Meidiyanti; Kumurur, Veronika A; Warouw, Fela
SPASIAL Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan pesisir merupakan sebuah bentang alam yang unik, karena tempat bertemunya lautan dan daratan. Kecamatan Bunaken merupakan salah satu Kecamatan dengan letak geografis pesisir dan berada paling utara Kota Manado. Sebagai wilayah pesisir yang berada pada pinggiran kota menjadikan permukiman masyarakat Kec. Bunaken memiliki ciri khas yang tersendiri, sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik fisik lingkungan (alamiah), fisik permukiman (buatan) dan sosial ekonomi masyarkat pesisir Kec. Bunaken. Metode yang digunakan adalah kualitatif yang bersifat deskriptif untuk menjelaskan fenomena yang ada dengan memberikan gambaran secara jelas dan sesuai dengan fakta di lapangan secara detail yang disajikan dalam bentuk peta, gambar maupun presentase yang dideskripsikan. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui permukiman masyarakat yang berada pada kawasan pesisir memiliki karakteristik yang khas, untuk karakteristik fisik (alamiah) kawasan pesisir Kec. Bunaken didominasi oleh lahan perkebunan 48% dengan kemampuan lahan dari morfologi rendah, juga daerah sempadan pantai dan kawasan hutan mangrove yang merupakan benteng pesisir terakhir di Kota Manado. Untuk karakteristik fisik permukiman (buatan) yaitu konstruksi bangunan/ rumah masyarakat pesisir adalah semi permanen 56%, dengan pola permukiman membetuk pola linear dan orientasinya menghadap ke jalan. Cakupan sarana prasarana yang masih kurang, tidak ada sarana kesehatan dan tidak optimalnya prasarana drainase, air minum dan sanitasi (MCK). Untuk karakteristik sosial ekonomi masyarakat 59% merupakan masyarakat asli yang secara emosi mengaku nyaman dengan lingkungannya, namun secara biologi masyarakat masih kesulitan air minum. Terdapat organisasi pesisir yang khusus dalam pelestarian hutan mangrove. Budaya masyarakat yang agraris, sehingga mata pencaharian masyarakat didominasi oleh petani 31% dengat tingkat pendidikan didominasi oleh tamatan SD 35%, dan pendapatan masyarakat yang tergolong cukup rendah 39%. Kata Kunci: Karakteristik, Kawasan Pesisir, Permukiman, Kecamatan Bunaken
DAYA DUKUNG LINGKUNGAN BERBASIS KEMAMPUAN LAHAN DI KOTA PALU Wirawan, Rivaldo Restu; Kumurur, Veronika A; Warouw, Fela
SPASIAL Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan penduduk Kota Palu terjadi cukup pesat dari tahun ke tahun. Pertumbuhan ini tidak terlepas dari kebutuhan lahan yang akan terus meningkat, sehingga akan membawa dampak buruk bagi daya dukung lingkungan kota Palu. Penelitian ini menggunakan analisis kemampuan lahan sebagai dasar untuk melihat daya dukung lingkungan Kota Palu, tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kemampuan Kota Palu dan untuk menganalisis daya dukung lingkungan berbasis daya dukung lahan Kota Palu. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dan metode spasial, metode spasial dilakukan untuk membuat satuan kemampuan lahan (SKL) dan analisis kemampuan lahan dengan berpatokan kepada Permen PU No 20 tahun 2007. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelas kemampuan lahan di Kota Palu terbagi menjadi 5 kelas yaitu kelas a kemampuan pengembangan sangat rendah, kelas b kemampuan pengembangan rendah, kelas c kemampuan pengembangan sedang, kelas d kemampuan pengembangan agak tinggi dan kelas d kemampuan pengembangan sangat tinggi. Kemampuan lahan di Kota Palu yang memiliki luas terbesar adalah kemampuan pengembangan sangat rendah dengan luasan 14093,7 Ha dari total luas Kota Palu 36204,77 Ha. Lahan yang masih bisa dikembangkan di Kota Palu  terdapat di kelas kemampuan lahan d atau kemampuan pengembangan agak tinggi karena belum melebihi batas rasio tutupan lahan maksimal dan tidak berada dalam kawasan rawan bencana. Kata Kunci: Daya Dukung Lingkungan, Kemampuan Lahan, Daya Dukung Lahan
STUDI TATA BANGUNAN & LINGKUNGAN KAWASAN PESISIR BIAK DI KABUPATEN BIAK NUMFOR Tonapa, Patria Rante; Kindangen, Jefrey I; Warouw, Fela
SPASIAL Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wajah kota Biak di bagian pesisir nampak masih membelakangi pantai, yang seharusnya menghadap ke pantai. Kondisi pesisir kota Biak saat ini menunjukkan bahwa penataan kawasan tersebut belum dilakukan secara optimal karena belum adanya rencana tata bangunan dan lingkungan (RTBL). Hal inilah yang mendorong minat peneliti untuk melakukan pengkajian terhadap permasalahan-permasalahan yang ada dengan melakukan penelitian ilmiah dengan judul ?Studi Tata Bangunan dan Lingkungan Kawasan Pesisir Kota Biak Di Kabupaten Biak Numfor?. Tujuan dari penelitian ini yaitu agar dapat mengidentifikasi potensi dan permasalahan yang terkait dengan penataan bangunan dan lingkungan serta agar dapat mengeluarkan konsep rencana tata bangunan dan lingkungan pada kawasan pesisir kota Biak. Komponen penulisan karya ilmiah ini menggunakan ?metode penelitian kualitatif?. Jenis metode penelitian yang dipergunakan adalah penelitian penjajakan (eksploratory research), yaitu penelitian yang bertujuan untuk menemukan problematik-problematik baru. Setelah diperoleh hasil berdasarkan tujuan melalui analisis kawasan guna mengetahui potensi dan permasalahan pada kawasan maka dapat dirumuskan bahwa konsep perencanaan yang dirasa tepat untuk penataan dan perancangan tata bangunan dan lingkungan pada kawasan pesisir kota Biak adalah dengan menerapkan konsep mixed-used waterfront city dan memperhatikan potensi bencana pada kawasan dengan penguatan pada struktur lingkungan serta konsep mitigasi bencana agar pembangunan pada kawasan dapat berkelanjutan. Kata Kunci: Kawasan pesisir, RTBL, Mixed-Use, Waterfront City, Distrik Biak Kota.
KARAKTERISTIK ADAPTASI STRUKTURAL MENURUT TINGKAT KERENTANAN BENCANA BANJIR DI PERMUKIMAN SEPANJANG BANTARAN SUNGAI SAWANGAN KOTA MANADO Pemani, Ingrith; Warouw, Fela; Supardjo, Surijadi
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bencana hidrometeorologi (banjir dan tanah longsor) merupakan bencana yang paling sering terjadi. Kota Manado termasuk dalam daerah rawan banjir dikarenakan banyaknya sungai yang mengalir di Kota Manado, salah satunya Sungai Sawangan. Permukiman di sepanjang bantaran sungai sawangan menjadi rawan dan rentan terhadap bencana banjir. Pada kawasan rawan bencana masih dapat dibangun hanya perlu melakukan adaptasi bangunan atau lingkungan, maka dari itu salah satu tujuan penelitian ini yaitu melihat karakteristik adaptasi struktural yang sudah dilakukan masyarakat berdasarkan tingkat kerentanan dan kerawanan. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan deskriptif, dengan tahap yaitu analisis spasial dan skoring kemudian analisis statistik deskriptif. Hasil analisis diperoleh hasil bahwa tingkat kerawanan ditemukan tiga tingkat pada wilayah penelitian yaitu sangat rawan, rawan, dan tidak rawan. Tingkat kerentanan ditemukan tingkat kerentanan tinggi pada 3 wilayah Kelurahan, kerentanan sedang pada 4 wilayah Kelurahan, dan kerentanan rendah pada 2 wilayah Kelurahan. Karakteristik adaptasi struktural bangunan ditemukan bahwa rata-rata : jenis bangunan tembok, ketinggian lantai dasar bangunan 0-100 cm, jumlah lantai bangunan 1 lantai, untuk fungsi bangunan 2 lantai : lantai bawah dan atas sebagai aktivitas sehari-hari, dan orientasi bangunan membelakangi sungai. Tanggul terdapat pada beberapa lingkungan pada tingkat kerentanan tinggi dan sedang, sedangkan pada tingkat kerentanan rendah tidak terdapat tanggul. Vegetasi terdapat pada semua lingkungan pada tingkat kerentanan tinggi dan rendah, sedangkan pada tingkat kerentanan sedang hanya terdapat pada beberapa lingkungan.Kata Kunci: Adaptasi Struktural, Kerentanan, Kerawanan, Sungai Sawangan
PERENCANAAN RUANG TERBUKA PUBLIK TERPADU RAMAH ANAK DI PERMUKAN PADAT KECAMATAN AMURANG Daun, Almer Aziz Mukmin Pratama; Warouw, Fela; Sembel, Amanda
SPASIAL Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ruang terbuka publik secara umum tidak hanya berfungsi untuk masyarakat umum saja, melainkan ruang publik yang benar-benar sesuai untuk anak bermain dan beraktivitas baik dari kondisi area ruang publik maupun dari segi fasilitas yang benar-benar ramah anak, Adapun konsep RTPRA sendiri berawal dari konsep Kota Ramah Anak (Child Friendly City) yang muncul sebagai dampak dari beberapa tren penting diantaranya, transformasi cepat dan urbanisasi masyarakat global. Tujuannya untuk menentukan lokasi sebagai area perencanaan ruang terbuka public terpadu anak di Kecamatan Amurang. Untuk menentuka fasilitas apa saja yang cocok untuk dalam perencanaan ruang terbuka public terpadu ramah anak, peneltian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil survey menentukan lokasi yang bisa di jadikan sebagai alternative perencanaan ruang terbuka public ramah anak. Dari hasil observasi survey dan wawancara langsung di lapangan di temukan bahawa beberapa fasilitas ruang terbuka yang sesuai kebutuhan masyarakat di tiap kelurahan yang ada. Kata Kunci : Perencanaan, Ruang terbuka ramah anak, Kecamatan Amurang. 
ANALISIS KARAKTERISTIK WILAYAH PERI URBAN BERDASARKAN ASPEK FISIK DI KECAMATAN PINELENG KABUPATEN MINAHASA Oroh, Alfiando; Kumurur, Veronica A.; Warouw, Fela
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wilayah peri urban merupakan wilayah yang dinamis dan terus mengalami perkembangan dalam berbagai aspek seiring dengan perkembangan kota dan wilayah sekitarnya, sehingga dapat menggeser kenampakan kedesaannya ke arah kekotaan. Kecamatan Pineleng adalah salah satu wilayah peri urban yang mengalami perkembangan fisik akibat dampak perkembangan Kota Manado. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik wilayah peri urban di Kecamatan Pineleng berdasarkan aspek fisik. Karakteristik aspek fisik ditinjau dari variabel penggunaan lahan pertanian, kepadatan bangunan, luas permukiman, panjang jalan aspal, tingkat pelayanan fasilitas kesehatan serta fasilitas pendidikan. Data tiap variabel adalah data sekunder yang diperoleh melalui survei instansional dan data primer dari observasi-dokumentasi untuk memperkuat data sekunder. Data-data yang diperoleh di analisa menggunakan tiga teknik analisis yang diawali analisis statistik deskriptif untuk mendapat hasil sesuai definisi operasional, kemudian analisis skoring untuk memberikan skor berdasarkan tingkat kekotaan-kedesaan dan terakhir analisis overlay untuk mengetahui total skor untuk klasifikasi karakteristik. Dari rangkaian analisis yang dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa ada dua karakteristik wilayah peri urban di Kecamatan Pineleng yaitu karakteristik peri urban sekunder yang ditunjukkan 3 desa (Pineleng Satu, Pineleng Dua, dan Sea Tumpengan) dan karakteristik rural peri urban yang ditunjukkan 11 desa (Kali Selatan, Kali, Lotta, Winangun Atas, Pineleng Satu Timur, Pineleng Dua Indah, Warembungan, Sea, Sea Satu, Sea Dua, dan Sea Mitra).Kata Kunci : Peri-urban, karakteristik, fisik, Kecamatan Pineleng
Co-Authors , Sangkertadi A.A. Ketut Agung Cahyawan W Al Asy Ary, Muhammad Farid Alhabsyi, Usman Alvin J. Tinangon Amanda Sembel Amra, Putri H. Andy A.M. Malik, Andy A.M. Anggreny Purukan Aristotulus E. Tungka, Aristotulus E. Arnold Yan, Arnold Berutu, Yunus C. Bleskadit, Myron L. Cindy R. S. Wahongan, Cindy R. S. Claudia T. Dariwu Cynthia E. V. Wuisang, Cynthia E. V. Daun, Almer Aziz Mukmin Pratama Devy S. Sahambangun Diniati, Wiwid Duwila, Nurul Mentari Dwight M Rondonuwu, Dwight M Dwight M. Rondonuwu Dwight Mooddy Rondonuwu, Dwight Mooddy Eldija , Fadillah Esli D Takumansang Esli D. Takumansang Esli Takumansang, Esli Eunike L. Tombokan Ewin A. Montol, Ewin A. Faizah Mastutie Folasimo, Desriyati H. Gabriela, Sonya A. Gay, Faris Sasma Gladys M. F. Pinontoan, Gladys M. F. Hendriek H Karongkong Hendriek Karongkong, Hendriek Herry Kapugu Ingerid L Moniaga, Ingerid L Ingerid Moniaga Janis, Ira Wilhelmina Jefrey I. Kindangen Jessie Oley Johanes D. Lahunduitang Johannes Van Rate Joseph Rengkung Judy O. Waani Julianus A. R. Sondakh Karongkong, Hendriek Hanie Kawulusan, Melly Kumurur, Veronika A Lakat, Ricky S.M Laming, Magdalena Y. Landimuru, Elza Y. Lautetu, Lisa Meidiyanti Leidy M. Rompas Lempoy, Elroi Lempoy, Josia O. Linda Tondobala Londa, Kyrei K Maisandrya, Riska Malik, Andy A. M. Mandang, Pretty Marietha Kidung Kristiani, Marietha Kidung Mayor, Jerylin Melisa Margareth, Melisa Mentari Ngodu, Mentari Michael M Rengkung, Michael M Mokodompis, Sonia R. Narsi, Wiwi Octavianus Hendrik Alexander Rogi Oktaviani, Awaliyah Oroh, Alfiando Paendong, Marcelino Pajow, Vanesa Mariani Papia Franklin, Papia Paputungan, Nining G. Peggy Egam Pelealu, Rodrygo H Pemani, Ingrith Pesik, Febryani Ribka Pierre H Gosal, Pierre H Pierre H. Gosal Pormes, Lona Prantiono, Femando Rachmadyanti, Resza Rachmat Prijadi Raintung, Vira N. Raymond Ch Tarore, Raymond Ch Rengkung, Samuel Triberto Reny Syafriny Reppi, Eygen Imanuel Richard Pontoan Rieneke L.E. Sela Rizky Yuliansar Yasin, Rizky Yuliansar Rondonuwu, Dwight Moody Salilo, Michael Sangkoy, Farly R. Sela, Rieneke L.E Sembel, Amanda S Sengkey, Sephia Silangen, Johanis K Simaela, David Heryyanto Simatupang, David Solang, Steven Solon, Thania Hanna Sondakh, Muhammad W. E. Sonny Tilaar Soselisa, Megaelvi Stenly Y. Taaluru, Stenly Y. Surijadi Supardjo Suryono MT Sutarno, Ukhti Bayyinah Tangkau, Gryzella L. Tiwang, Juve Tonapa, Patria Rante Torar, Viyana Naomi Veren Tri R Warang, Tri R Tuwonaung, Janet Blandina Veronica A Kumurur, Veronica A Veronica A. Kumurur Veronica Kumurur Verry Lahamendu, Verry Vicky H. Makarau Waani, Judy Windy Mononimbar Winsensius S.P. Raco Wirawan, Rivaldo Restu Wuisang , Cynthia Yasinta, Afiifa Ayudiah Yogini Adriana Wulur Yohanes Y. Mantiri Yura, Mikha A