Claim Missing Document
Check
Articles

DIVERSITY OF GASTROPODS IN MANGROVE ECOSYSTEM AT AREA MANGROVE CENTER KAMPUNG BLEKOK SITUBONDO Yulia Kartika; Ni Luh Watiniasih; I Wayan Darya Kartika
SIMBIOSIS Vol 11 No 1 (2023)
Publisher : Jurusan Biologi Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JSIMBIOSIS.2023.v11.i01.p07

Abstract

Gastropods that live in mangrove ecosystems act as important indicators of environmental status in the area. Mangrove Center Kampung Blekok is one of mangrove forest areas in Situbondo. This study aims to determine the diversity of gastropods in mangrove ecosystem. The research method used is descriptive quantitative method. Observations were at three points using purposive sampling technique in West block mangrove. Gastropod sampling was carried out using a line transect with a hand collecting technique. The gastropod samples collected included infauna, epifauna and treefauna. The water quality parameters measured include pH, salinity, temperature and substrate. The results of identification gastropod species at all observation points were found as many as 18 species from 7 families. The highest total abundance was obtained at point I of 62,12 ind/m2, followed by point III with a value of 11,09 ind/m2 and point II with a value of 10.54 ind/m2. Gastropod diversity at Mangrove Center Kampung Blekok is in low to moderate category according to Shannon-Wienner. Gastropod diversity index values ??at all points ranged from 0.82 to 1.44. The uniformity index value ranged from 0.34-0.60 and the dominance index ranged from 0.32-0.50. The environmental conditions of the gastropods are in accordance with the results of water quality measurements according to the Ministry of Environment Decree No. 51 of 2004 is in normal conditions for the survival of gastropods.
Analisis Kualitas Air Di Sungai Telagawaja Kabupaten Karangasem, Bali Juan Aldo Jaya Pradipta Sitepu; Ni Luh Watiniasih; Ayu Putu Wiweka Krisna Dewi
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 10 No 1 (2023)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2023.v10.i01.p16

Abstract

Sungai Telagawaja adalah salah satu sungai alami dengan panorama alam dan persawahan yang menarik, sehingga beberapa bagian lahan mulai beralih fungsi menjadi kawasan penunjang pariwisata maupun pemukiman. Akibat dari alih fungsi lahan ini menyebabkan penurunan kualitas air dari Sungai Telagawaja. Penurunan kualitas air ini menyebabkan menurunya daya guna, hasil guna, produktivitas, daya dukung dan daya tampung dari Sungai Telagawaja. Selain dari alih fungi lahan, kegiatan pertanian yang menggunkan pupuk pada lahan pertanian secara berlebihan, serta pemeliharaan hewan ternak disekitar sungai yang membuang limbah kotorannya langsung tanpa pengolahan limbah, memperburuk kondisi air Sungai Telagawaja. Sehingga diperlukan kajian mengenai kondisi Sungai Telagawaja terkini. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Febuari 2021. Lokasi pengambilan data bertempat di perairan Sungai Telagawaja dengan 3 tiitk pengambilan sampel. Paramater yang diamati meliputi suhu, TSS, TDS, ph, DO, COD, BOD, dan fecal coli. Hasil parameter yang didapat dianalisis dengan metode STORET untuk baku mutu kelas 1 untuk peruntukan air minum berdasarkan Peraturan Peraturan Gubernur Bali Nomor 16 Tahun 2016 Tentang Standar Baku Mutu Lingkungan (Baku Mutu Kualitas Air Berdasarkan Kelas). Hasil yang didapatkan di ketiga titik pengambilan sampel Sungai Telagawaja termasuk pada kondisi buruk. Nilai untuk masing bagian sungai yaitu pada bagian hulu Sungai Telagawaja dengan skor -40, pada bagian tengah Sungai Telagawaja dengan skor -38, dan pada bagian hilir Sungai Telagawaja dengan skor -40. Ketiga skor yang didapat melebih nilai skor 31 yang artinya kondisi air di Sungai Telagawaja dalam kondisi buruk atau dalam kondisi tercemar berat.
Identification of Growth Hormone Gene of Bali Cattle with Qualitative Superior in Bali Province Ni Ketut Suwiti; I Wayan Suardana; Ni Luh Watiniasih; I Nengah Kerta Besung; Chandra Yowani
Journal of Veterinary and Animal Sciences Vol 1 No 1 (2017)
Publisher : Institute for Research and Community Service, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JVAS.2017.v01.i01.p09

Abstract

A research has conducted, in order to identify the genetic markers of Bali cattle that can be used as an indicator of their qualitative superior. The genetic marker identified was the growth hormone gen. As many as 50 whole blood samples which were collected from 50 individual cattle which were certificated as good breed or had qualitative superior, were used in this study. The DNA fragments were identified by using Polymerase Chain Reaction-Restriction Fragment Length Polymorphism (PCR-RFLP) method with primers, GH5 (5’-CCC ACG GGC AAG AAT GAG GC-3’ and GH6 (5’TGA GGA ACT GCA GGG GCC CA-3), respectively. Furthermore, the PCR products were restricted with MspI endonucleic restriction enzyme, before electrophoresis in 2% agarose The result showed that the growth hormone gene of bali cattle with qualitative superior has polymorphism which characterized by the formation of two fragments i.e. 230 and 329 bp that categorized as: allele +/+ and allele -/-.
Enrichment provision for sumatran tiger (Panthera tigris sumatrae) and bengal tiger (Panthera tigris tigris) in Bali Zoo, Gianyar Luh Putu Eswaryanti Kusuma Yuni; Putu Laksmi Candra Dewi; Ni Luh Watiniasih
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 10 No 2 (2023)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2023.v10.i02.p07

Abstract

Harimau Panthera tigris memiliki peran ekologis yang signifikan pada ekosistemnya, namun populasinya di alam mengalami penurunan yang sangat tajam akibat degradasi/hilangnya habitat, perburuan terhadap harimau dan hewan mangsanya, perdagangan satwa illegal, dan konflik manusia-harimau. Kesemua sub spesies harimau P. tigris dikategorikan sebagai spesies yang terancam punah (endangered) dalam daftar merah IUCN dan masuk dalam CITES Appendix 1. Salah satu upaya yang dilakukan untuk konservasi jenis hewan terancam punah adalah dengan mengkaitkan upaya konservasi eksitu dengan konservasi insitu. Pemberian enrichment dapat meningkatkan kompleksitas lingkungan penangkaran dan selanjutnya meningkatkan kesejahteraan hewan dengan merangsang terjadinya perilaku aktif dan mencegah timbulnya perilaku stereotip yang sering muncul pada jenis-jenis harimau yang dipelihara di dalam kandang di kebun binatang. Bali Zoo merupakan lembaga konservasi eksitu yang berperan didalam upaya konservasi harimau di luar habitat alaminya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis enrichment yang diberikan kepada harimau sumatra dan harimau benggala di Bali Zoo. Penelitian ini dilakukan pada bulan Pebruari-Maret 2021 dengan menggunakan metode observasi secara langsung. Penelitian ini mencatat bahwa telah diberikan berbagai jenis enrichment yang meliputi food enrichment, sensory enrichment, physical enrichment, cognitive enrichment, dan social enrichment terhadap harimau sumatra dan harimau benggala di Bali Zoo. Hal ini telah dapat mengurangi kadar stress pada hewan tersebut. Lebih lanjut, meskipun penyediaan berbagai jenis enrichment telah dilakukan dengan baik di Bali Zoo, disarankan untuk membuat lebih banyak variasi sebagai antisipasi untuk menghindari timbulnya rasa bosan pada hewan.
KEANEKARAGAMAN BURUNG AIR DI KAWASAN MANGROVE CENTER KAMPUNG BLEKOK, SITUBONDO, JAWA TIMUR Romlah Setiawati; Ni Luh Watiniasih; Ni Putu Putri Wijayanti
SIMBIOSIS Vol 11 No 2 (2023)
Publisher : Jurusan Biologi Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JSIMBIOSIS.2023.v11.i02.p03

Abstract

Kawasan Mangrove Center Kampung Blekok adalah salah satu kawasan mangrove yang menjadi tempat habitat burung air di Situbondo, Jawa Timur. Keanekaragaman dan aktivitas burung air memiliki peran secara ekologis terhadap ekosistem serta dapat menjadi indikator kondisi lahan basah. Tujuan dilaksanakan penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman jenis burung air dan aktivitas burung air yang mendominasi di kawasan tersebut. Pengamatan terhadap keanekaragaman burung air menggunakan teknik pengambilan data metode titik hitung sedangkan pada pengamatan aktivitas Bubulcus ibis menggunakan metode scan sampling yang dilakukan pada pagi hari pukul 06.00-08.00 WIB dan pada sore hari pukul 15.00-17.00 WIB. Terdapat delapan spesies burung air penghuni tetap dan satu spesies burung air migran. Burung air penghuni tetap tersebut adalah spesies Bubulcus ibis, Ardeola speciosa, Butorides striatus, Egretta garzetta, Egretta alba, Nycticorax nycticorax, Ardea purpurea, dan Tringa hypoleucos, sedangkan burung air migran tersebut adalah Himantopus leucocephalus. Indeks keanekaragaman di titik 1 dan titik 2 pengamatan digolongkan rendah yaitu sebesar 0,90 dan indeks keseragaman digolongkan ke dalam tingkatan sedang yaitu sebesar 0,41 dan 0,43. Hal tersebut disebabkan oleh faktor adanya spesies yang mendominasi. Aktivitas burung Bubulcus ibis di titik 1 didominasi aktivitas menyelisik bulu dengan persentase sebesar 47,15%, sedangkan di titik 2 didominasi aktivitas terbang dengan persentase 55,24%. Hal tersebut dikarenakan faktor perbedaan karakteristik tempat kedua titik pengamatan dan faktor pengaruh manusia.
Penempelan Teritip (Arthropoda) pada Beberapa Jenis Mangrove di Kawasan TAHURA Ngurah Rai Bali Juniartini, Nyoman Sweet; Watiniasih, Ni Luh; Astiti, Ni Putu Adriani; Wiradana, Putu Angga
Bumi Lestari Journal of Environment Vol 24 No 1 (2024)
Publisher : Environmental Research Center (PPLH) of Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/blje.2024.v24.i01.p01

Abstract

Mangrove ecosystems are able to support biological and ecological life cycles and provide welfare for coastal communities. Pest outbreaks that attack seedlings to mangrove trees often cause ecological losses throughout the TAHURA Ngurah Rai Bali area. The ecological interactions of barnacle pest species in mangrove ecosystems are very complex and highly detailed studies. There is empirical evidence that the attachment of barnacles is strongly associated with allelochemical compounds produced by mangroves. This study aims to inventory the attachment of barnacles (arthropods) to several types of mangroves in the TAHURA Ngurah Rai area of Bali. This study used a purposive sampling method to pay for the location of the observations. Quadrant transects were used to organize the classification of the mangrove plots, barnacle densities being calculated for each transect. The density of barnacles was calculated on the number of barnacles attached to the mangrove plants, then recorded the types of plants attached, types of barnacles, types of planting and the number of individuals for each mangrove classification. The study showed that barnacles planted most of the mangrove seedlings at all stations, while the classification of tree plots only had barnacles attached at station 3. The number of attachments of Amphibalanus sp. the highest was found at station 3 of the R. mucronata tiller classification of 881 individuals, while no attachment of barnacles was found at all stations for S. alba mangroves. Overall, the attachment of barnacles was higher in R. mucronata tillers and had the potential to reduce their growth productivity in the field. Efforts to control barnacles really need to be done to increase the success of planting mangroves in TAHURA Ngurah Rai, Bali.
BIOMASSA DAN SIMPANAN KARBON PADA EKOSISTEM PADANG LAMUN DI WILAYAH NUSA LEMBONGAN Dwikasari, Ida Ayu Indira; Arthana, I Wayan; Watiniasih, Ni Luh
ECOTROPHIC : Jurnal Ilmu Lingkungan (Journal of Environmental Science) Vol 18 No 1 (2024)
Publisher : Master Program of Environmental Science, Postgraduate Program of Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/EJES.2024.v18.i01.p05

Abstract

The Seagrass ecosystem is one of the important ecosystems in the ocean in mitigating global warming. This research aims to examine the potential for storing carbon stocks in seagrass biomass. The purposive sampling method was used at three location points. At each location, there are 9 quadrants for a total of 27 quadrants. The types of seagrass found were Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, Halodule uninervis, Halophila ovalis, Halodule pinifolia with moderate diversity and moderate community stability. Seagrass conditions are relatively protected between the coast and coral reefs with the highest average density of 225 ind/m2. The type of seagrass with the highest density is Thalassia hemprichii. The types of substrates are sand, coral rubble, and sandy mud. The carbon stock in the Lembongan Beach area has an area of ??89.46 hectares of seagrass beds. Around 56.32% or 3,21 tons of carbon were stored as the bottom carbon stock of the substrate and 43.67% or 2,49 tons of carbon were stored as the top carbon stock of the substrate. Keywords: Thalassia Hemprichii, Seagrass, Substate, Global Warming
IDENTIFICATION OF ‘TONGKOL’ FISH IN KEDONGANAN FISH MARKET, KUTA, BADUNG DISTRICT, BALI Aziz, Alifya Ibnu; Pharmawati, Made; Watiniasih, Ni Luh
SIMBIOSIS Vol 11 No 2 (2023)
Publisher : Jurusan Biologi Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JSIMBIOSIS.2023.v11.i02.p06

Abstract

‘Tongkol’ fishes are species in the family Scombridae. There are many types of ‘tongkol’ fishes, namely longtail tuna, eastern little tuna, frigate tuna and bullet tuna. Morphologically, ‘tongkol’ species are similar to one another. This can result in errors in recording the production of ‘tongkol’ species. The purpose of this study was to identify ‘tongkol’ species collected from Kedonganan Market, Badung, Bali using the COI (Cytochrome C Oxidase Subunit I) gene. Two species of ‘tongkol’ fish were purchased from Kedonganan Market, Badung, Bali. DNA isolation was carried out from fish fins using chelex, followed by amplification of the COI gene segment. The PCR products were then electrophoresed and sequenced. DNA sequences were matched to the database using the Basic Local Alignment Search Tool (BLAST) found in NCBI. Extraction yielded DNA with a concentration of 5.91 ng/ml with a ratio of A260/A280 = 1.3 for sample 1, while for sample 2 the concentration of DNA was 6.27 ng/ml with a ratio of A260/A280 = 1.33. The resulting PCR product is about 700bp in size. The results of the COI gene sequences had a gene size length of 682 bp for both fish species. BLAST analysis yielded a percent identity of 99.84-100% with eastern little tuna (Euthynnus affinis) and bullet tuna (Auxis rochei).
POPULASI DAN RASIO POTENSI PEMIJAHAN IKAN CAKALANG (Katsuwonus Pelamis (Linnaeus, 1758)) DI PERAIRAN SELATAN BALI Pramurdya, Yesika Nanda; Watiniasih, Ni Luh; Ginantra, I Ketut
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 18, No 4 (2022): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.18.4.195-204

Abstract

Penurunan hasil tangkapan ikan cakalang di wilayah Selatan Bali diduga merupakan mekanisme terjadinya tangkap lebih. Tujuan dari penelitian ini adalah mengestimasi populasi dan stok ikan cakalang menggunakan metode rasio potensi pemijahan, dalam menunjang keberlanjutan sumberdaya ikan cakalang di wilayah Selatan Bali. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai Desember 2021. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan di UPTD TPI Kedonganan. Teknik sampling yang digunakan adalah stratified random sampling. Struktur panjang cagak ikan cakalang berkisar antara 24.1 – 27.1 cm FL sampai 55.1 – 58.1 cm FL dengan pola pertumbuhan bersifat allometrik positif. Persamaan laju pertumbuhan adalah Lt = 59.7 (1 - ). Nilai F sebesar 1.14; nilai M sebesar 0.488; nilai Z sebesar 1.628 dan nilai E sebesar 0.7 (E >0.5) per tahun yang mengindikasikan bahwa telah terjadi tangkap lebih. Tingkat Kematangan Gonad (TKG) dan klasifikasi perkembangan gonad didominasi oleh ikan yang sudah matang gonad dengan nilai Lm ikan cakalang betina adalah 41.28 cm FL dan Lm ikan cakalang jantan adalah 41.29 cm FL. Stok ikan cakalang berada dalam kondisi overexploited yang ditunjukkan dari nilai SPR sebesar 19% (SPR <20%). Decreasing catches of skipjack in Southern Bali waters is thought to be a mechanism for overfishing. The aim of this study is to  estimate population and stock of skipjack tuna using spawning potential ratio method, in order to maintain the sustainability of this species in the southern region of Bali. This research was carried out from June to December 2021. Data collection was carried out through field observations at UPTD TPI Kedonganan. A stratified random sampling method was used as the chosen sampling technique in this study. The fork length (FL) structure of skipjack tuna ranges from 24.1-27.1 cm FL to 55.1-58.1 cm FL with a positive allometric growth pattern. The growth rate equation is Lt = 59.7 (1 - ). The F value is 1.14; M value = 0.488; Z value = 1.628; and E value = 0.7 (E > 0.5) per year, respectively. This indicates that overfishing has occurred in the area. Gonad Maturity Level (TKG) and gonad development classification were dominated by mature fish with the Lm value of female and male skipjack tuna being 41.28 cmFL and 41.29 cmFL. The results of another analysis showed that skipjack tuna stock was in an overexploited condition as indicated by the SPR value of 19% (SPR <20%).
Pengaruh peningkatan suhu dan waktu pemberian pakan terhadap laju pengambilan pakan pada karang lunak Sarcophyton sp. dan Sinularia sp. Aksari, Agung Mahayoni; Watiniasih, Ni Luh; Widiastuti, Widiastuti
Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal, Vol. 7: No. 2 (October, 2020)
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aa.v7i2.2526

Abstract

AbstrakMeningkatnya suhu rata-rata permukaan laut menyebabkan kerusakan ekosistem terumbu karang, salah satu akibatnya adalah menurunkan laju pengambilan pakan oleh karang lunak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan laju pengambilan pakan pada suhu berbeda antara karang lunak Sarcophyton sp. dan Sinularia sp., mengetahui pengaruh peningkatan suhu, waktu pemberian pakan serta interaksi pengaruh peningkatan suhu dan waktu pemberian pakan terhadap laju pengambilan pakan pada karang lunak Sarcophyton sp. dan Sinularia sp. Sampel karang lunak diperoleh dari hasil budidaya PT. Dinar Darum Lestari di Perairan Teluk Pegametan, Desa Sumberkima, Kabupaten Buleleng. Sampel fragmen karang diaklimatisasi selama 2 minggu sebelum eksperimen dilakukan dan diberi pakan 2 kali seminggu pada suhu 26°C (suhu kontrol). Perlakuan suhu dilakukan dengan menaikkan suhu air di akuarium 1°C setiap jam untuk mencapai suhu 31°C (suhu stres) dan selanjutnya suhu dipertahankan selama 5 hari. Masing-masing akuarium (26°C dan 31°C) diberikan pakan Artemia salina pada hari kedua dan keempat dengan kepadatan 100 ekor per fragmen di pagi hari selama 3 jam.  Sisa pakan diambil dengan pipet tetes lalu dihitung sampai sisa pakan pada gelas ukur tersebut habis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pengambilan pakan antara karang lunak Sarcophyton sp. dan Sinularia sp. tidak berbeda signifikan baik pada suhu kontrol maupun suhu stress. Hal ini diduga karena kedua jenis fragmen karang lunak memiliki toleransi suhu yang relatif sama. Peningkatan suhu mempengaruhi laju pengambilan pakan pada kedua jenis karang lunak secara signifikan. Tetapi, waktu pemberian pakan serta interaksi antara suhu dan waktu pemberian pakan tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap laju pengambilan pakan. Kenaikan suhu diduga mempengaruhi metabolisme pada karang lunak, sehingga menurunkan kemampuan mengambil pakan. Stres yang dialami kedua jenis karang lunak ketika diinkubasi pada 31oC terus terjadi selama karang lunak diinkubasi pada suhu tersebut sehingga tidak mempengaruhi laju pengambilan pakan pada semua waktu pemberian pakan.Kata kunci: karang lunak; Sarcophyton sp.; Sinularia sp.; peningkatan suhu; laju pengambilan pakan; waktu pemberian pakanAbstractIncreased the mean sea surface temperatures cause damage to coral reef ecosystems, one of those mechanisms is reducing the feeding capacity in soft corals. This study aimed to examine the feeding rates of soft corals Sinularia sp. and Sarcophyton sp. at different temperatures to determine the effect of increasing temperature, feeding time and interaction between those factors on feeding rates of soft corals Sarcophyton sp. and Sinularia sp. Samples of Soft corals were obtained from the cultured of PT. Dinar Darum Lestari in Pegametan Bay Waters, Sumberkima village, Buleleng Regency. Before the experiment, coral fragments were acclimatized for 2 weeks and fed twice a week at 26 °C (control temperature). The experiment started by increasing the water temperature in the aquarium at 1°C every hour to reach 31°C (stress temperature). Once the temperature reached, it kept for 5 days. Each aquarium (26 and 31°C) was fed by Artemia salina nauplii on the second and fourth days with density 100 animals/fragments for 3 hours in the morning. The remained prey was taken by Pasteur pipette and counted manually. The results showed that there was no significant difference in feeding rates in Sarcophyton sp. dan Sinularia sp. at both control and stress temperatures. It is argued that both soft corals relatively have the same temperature tolerance. The increased temperature significantly affected the feeding rate in both soft corals. However, feeding time and interaction between temperature and feeding time did not have a significant effect on the feeding rate. It is assumed that the increased temperature reduces the feeding rate in these soft corals. Moreover, these soft corals seem suffering from stress due to incubate in high temperature (31°C) continuously, caused no significant difference in the feeding rates at all feeding times.Keywords: soft coral; Sarcophyton sp.; Sinularia sp.; increased temperature; feeding rate; feeding time
Co-Authors Abdi Jana Guna Agung Mahayoni Aksari Akbar Akbar Aksari, Agung Mahayoni Alfi Hermawati Waskita Sari Anak Agung Gde Raka Dalem Ari Isnen Sobari Arie Setiadi Moerwanto Arliza Cynthia Razali Ayu Putu Wiweka Krisna Dewi Ayu Saka Laksmita W Ayu Wulan Trisna Aziz, Alifya Ibnu Beny Mustofa Chandra Yowani Dahlia Sandewi Deny Suhermawan Yusup Dewa Adi Putra Dewa Ayu Angga Pebriani Dhira Alfiah R. Pettalolo Dwikasari, Ida Ayu Indira ENIEK KRISWIYANTI Eyang Sriyani Toineno Fathur Rochman Felicia Augustine Florentina Gultom FX. Sudaryanto Husnayaen Husnayaen I Gede Hendrawan I Gusti Agung Ayu Suartini I Gusti Ayu Putu Intan Udayani I Gusti Ngurah Kade Mahardika I K. Putra Juliantara I Kadek Teguh Indra Dewantara I Ketut Ginantra I Ketut Junitha I KETUT MUKSIN I Komang Andika Putra I Made Gatot Wija Damara I Made Kardena I Made Merdana I Nengah Nuyana I Nyoman Suarsana I Nyoman Suartha I Putu Candra Noviarta I Putu Gede Bayu Ade Wianta I PUTU NARKA EKA PRATAMA I W BUDIARSA SUYASA I Wayan Arthana I Wayan Arthana I Wayan Kasa I Wayan Suardana I. G. A. PRADANA PUTRA Ida Bagus Made Suaskara Iwan Harjono Utama Juan Aldo Jaya Pradipta Sitepu Julian Tambunan Juniartini, Nyoman Sweet Kadek Bayu Prabha Mahesswara Kadek Wiwik Widaswari Kartika, I Wayan Darya Komang Gede Wahyu Saputra Kompyang Bagus Suyoga LUH Puru ESWARYANTI KUSUMA YUNI M Windhu Made Ayu Pratiwi MADE PHARMAWATI Mahendra Duwi Astutik Mufadilatur Rohmah Ni Gusti Made Yuliari Ni Kadek Febri Yanti Ni Ketut Suwiti Ni Luh Putu Ria Puspitha ni luh wayan hanny prabandari Ni Made Ernawati, Ni Made Ni Made Sekarmini Ni Made Suartini Ni Pande Putu Suji Dian Antari Ni Putu Adriani Astiti Ni Putu Dian Pertiwi Ni Putu Kiki Mahayuni Ni Putu Putri Wijayanti Ni Putu Sintha Maharani Ni Putu Sri Ayuni Ni Wayan Sudatri Niko Susanto Putra Odjastira Vidyastari Pramurdya, Yesika Nanda Putu Ade Hinduari Putra Putu Angga Wiradana Putu Ayu Parwati Putu Ayu Wiwin Vitrayanthi Putu Frissa Anasthasya Widhiandari Putu Laksmi Candra Dewi Resti Ayu NengTias Retno Kawuri Reza Yunita Sari Romlah Setiawati Roni Adi Samba Suprabadevi Ayumayasari Saraswati Suprabadevi Ayumayasari Saraswati WIDIASTUTI - Widiastuti Widiastuti Yesi Breanita Yulia Kartika