p-Index From 2021 - 2026
6.144
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Penubuhan Ekspresi dan Gaung Filosofi Musik melalui dan di dalam Lagu Isen Mulang Sihombing, Octa Maria; Salmanezer, Jonathan; Timotius, Frenky Albert; Munte, Alfonso
Cantata Deo: Jurnal Musik dan Seni Vol. 2 No. 1 (2024): Cantata Deo: Jurnal Musik dan Seni
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAKPN Sentani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69748/jmcd.v2i1.164

Abstract

Kalimantan Tengah memiliki kekayaan ragam dan makna budaya. Salah satunya lagu Isen Mulang. Lirik lagu Isen Mulang meskipun kelihatan ditampilkan dalam momentum acara maupun festival secara berkala, namun masih jarang yang menggali makna dan kandungan filosofis lirik yang menjadi motto Kota Cantik, Palangka Raya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis analisis musik lagu daerah Kalimantan Tengah yang terkenal dengan sebutan Isen Mulang. Selain itu, peneliti berupaya menganalisis unsur musik, struktur komposisi, dan konteks budaya dan lagu. Metode yang digunakan antara lain analisis mendalam terhadap musik, wawancara dengan pakar musik dan masyarakat, serta penelitian dokumen terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Isen Mulang merupakan lagu yang kaya akan unsur musik tradisional Kalimantan Tengah dan memiliki makna yang mendalam dalam konteks budaya lokal-nasional antara lain: sikap patriotistik, bergurau sebagai ruang kegembiraan, penghormatan atas sesama insan dan jalinan kekayaan nilai-nilai budaya Dayak yang sophisticated. Kajian ini memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai warisan musik tradisional Kalimantan Tengah serta pentingnya melestarikan dan mempromosikan lagu-lagu daerah.
Human Rights, Vocational High School, Christian Education- Homo Hortensis and Political Philosophy Munte, Alfonso
QALAMUNA: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama Vol. 14 No. 2 (2022): Qalamuna - Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Program Pascasarjana IAI Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/qalamuna.v14i2.3790

Abstract

Background information for the study was based on the stereotype that exists in society that engineering majors, particularly those related to mining geology, are responsible for causing natural disasters and hastening the deterioration of the environment due to what is learned in the classroom. Furthermore, the qualitative research method uses an interview approach or technique. The interview involved one of the teachers and students in 3 SMK Negeri Buntok, Central Kalimantan. Before conducting interviews, the researcher surveyed the location first by traveling four hours from Palangka Raya. After that, the researcher recorded the interview with the research subject through audio. The audio was transmitted into the interview transcript. Results of interview transcripts that were close to the research were then classified into factual solids and themes. The closest themes were analyzed through references linked to the results and discussion section. Results showed non-quantifiable narratives through various activities of students and teachers, namely through Cambodia, Alamanda, and Asoka, that although they come from Mining Geology majors, they are also entitled and responsible for the sustainability of the mining environment through official procedures in terms of waste management and nature.
Philosophical analysis of Mortimer J. Adler's Christian education and global education management Sanasintani, Sanasintani; Munte, Alfonso
Journal of Education and Learning (EduLearn) Vol 18, No 4: November 2024
Publisher : Intelektual Pustaka Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/edulearn.v18i4.21149

Abstract

The present research shows the absurdity of education, especially education management, in the posthumanist schema. Posthumanists seem to want to form their own group, but researchers see that posthumanism is not new, especially in the world of education. Philosopher Mortimer J. Adler, in the framework of perennialism, shows the structure of education, especially in America, which, according to researchers, is relevant in Indonesia. Research findings are based on qualitative research with data retrieval methods from literature studies. Results showed that Mortimer J. Adler's philosophical thinking emphasizes the expansion of education management in both depth and fragility by and through learners, parents, teachers and related parties in the mecca of an independent curriculum.
Christian Education and the Shifting Farm: The Existential Sustainability of the Dayak Ma’anyan Cultural Heritage Munte, Alfonso
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 8, No 1 (2025): June 2025
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v8i1.585

Abstract

This research explores the experiences, narratives, and policies of the Menugal culture within the Dayak Ma’anyan community in Lenggang Village, Kalimantan Tengah, with particular focus on its connection to Christian education. The study examines how traditional practices of cultivating mountain rice varieties relate to Christianity, interfaith encounters, cultural preservation, and sustainable agricultural values amid the global food crisis. A qualitative approach was used, including in-depth interviews with Damang (Pangulu Adat), Mantir Adat, and three informants (Tochyhat, Dkakhgma, and Gkedhy), supported by audio recordings and photographic documentation. Drawing on perspectives from cultural preservation and Christian education, the analysis demonstrates that indigenous agricultural practices serve as pedagogical spaces in which values of patience, stewardship, and communal responsibility are passed down through generations. The findings show that villagers’ livelihood strategies are strengthened by traditional land cultivation and post-harvest techniques that resist fast, industrialized methods, while promoting resilience and ecological awareness. These practices align with Christian educational frameworks that emphasize moral development, interfaith respect, and care for creation. In this way, the Menugal tradition contributes not only to food security but also to local Christian education that integrates faith, culture, and sustainability.
The Value of Tolerance in the Huma Betang Philosophy and Its Relevance to Religious Moderation in Islamic-Dayak Relations Wilson, Wilson; Rismawati Wainarisi , Yane Octavia; Munte, Alfonso
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol. 11 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/islam_realitas.v11i2.9577

Abstract

This study aims to identify forms of religious moderation in Islamic-Dayak relations by examining: (1) the basic concept of tolerance in Islamic-Dayak relations, and (2) how these principles are practiced in everyday interreligious interactions. Using a descriptive qualitative approach, the research involved 15 participants, comprising academics, religious leaders, indigenous leaders, and Muslim community members in Palangka Raya City, Central Kalimantan. Data were collected through in-depth interviews and analyzed using Miles and Huberman’s (1994) qualitative analysis model, consisting of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that tolerance in Islam is grounded in the teachings of the Qur’an, while in Dayak communities, it is rooted in the Huma Betang philosophy. In practice,Islamic–Dayak tolerance is reflected through freedom of religious choice within families, mutual respect and appreciation, and efforts to maintain interfaith friendship. The study concludes that strengthening Islamic–Dayak relations requires reaffirming the values of Huma Betang and fostering creative and innovative forms of interaction that remain consistent with each community’s religious doctrines. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk moderasi beragama dalam relasi Islam-Dayak dengan menelaah: (1) konsep dasar toleransi dalam hubungan Islam–Dayak, dan (2) bagaimana prinsip-prinsip tersebut dipraktikkan dalam interaksi antarumat beragama sehari-hari. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini melibatkan 15 partisipan yang terdiri atas akademisi, tokoh agama, tokoh adat, dan komunitas Muslim di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan model analisis data kualitatif Miles dan Huberman (1994), yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa toleransi dalam Islam berakar pada ajaran Al-Qur’an, sedangkan dalam masyarakat Dayak toleransi tersebut berlandaskan pada ilosofi Huma Betang. Dalam praktiknya, toleransi Islam–Dayak tercermin melalui kebebasan memilih agama dalam lingkup keluarga, sikap saling menghormati, saling menghargai, serta upaya menjaga persahabatan lintas keyakinan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan hubungan Islam–Dayak memerlukan peneguhan kembali nilai-nilai Huma Betang serta pengembangan bentuk-bentuk relasi yang kreatif dan inovatif ang tetap selaras dengan doktrin keagamaan masing-masing komunitas.
Co-Authors Amanda, Dhea Anatasya, Chika Dwi Aprianto Wirawan Bumen, Eko Julianto Krismanuel R. Christine Akuilla Betaubun Desi Natalia DESI NATALIA, DESI Dwi Kurnia Esa Eksely, Sarah Priskila Elisabeth, Rina Ema Papuana Tekerop Esa, Dwi Kurnia Ezra, Imanuel Fetriani Fitriana Fitriana Fitriana Fitriana Fransisko, Yakub Guilin, Xie Gustina, Novia Handriani, Yuli Handriantu Ibnu Elmi AS Pelu Istiniah Istiniah Jefry Tarantang Jeni Kistisia Korsina, Riam Esobio Kowy, Fifian Agustina Lestary, Devi Liansih, Nur Lidia Lidia, Lidia Lukas Magdalena, Elsa Malau, Reynhard Mamarimbing, Natanael Yehezkiel Maria Veronica Mariani, Evi Marlon Christian Tirayoh Maya Permata Sinta Melan Monica, Monica Napat, Saul Natalia, Destri Nava Nopraeda Nopraeda Nopraeda, Nopraeda Nova Kurniati Nova Lady Simanjuntak Octa Maria Sihombing Oktaviani, Santia Pradita, Yola Rahel Gloria Merlinda Suriani Rahmad Kurniawan Ratih Sulistyowati Ratih Sulistyowati, Ratih Reynhard Malau Rina Elisabeth Rina Elisabeth Riska, Meri Rismawati Wainarisi , Yane Octavia Rosen, Imelda Rudie Rudie Rudie Rudie, Rudie Salmanezer, Jonathan Sanasintani, Sanasintani Saputra, Yoga Sella Vinisya Selti Silipta Silipta Silipta, Silipta Sinaga, Mei Minarni Sinaga, Mei Minarti Sinta, Grasela Sirnawati Sisianti, Dian Sugiyanto - Sugiyanto Sugiyanto Susanto, Adri Susida Tanzania, Tirza Timotius, Frenky Albert Trisiana, Ria Wijaya , Nicolhas Jurdy Wilson Wilson Yappo, Yohanes Yardi, Apri Yohana Sefle Yuel Yulia Putri Yuyun Zain, Puji Efriany