Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Penguatan Karakter Generasi Digital Berbasis Pendidikan Profetik dan Market Place Activity di SMPN 1 Buay Bahuga Nur Muhammad Gasmi; Rima Kasturi; Subhi Nur Ishaki; Yuberti Yuberti; Abd. Rahman Hamid; Baharudin Baharudin
Action Research Journal Indonesia (ARJI) Vol. 7 No. 2 (2025): Action Research Journal Indonesia (ARJI)
Publisher : PT. Pusmedia Group Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61227/arji.v7i2.397

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah memberikan dampak besar terhadap pembentukan karakter generasi muda dalam dunia Pendidikan. Di tengah tantangan era informasi dan budaya instan, pendidikan agama Islam (PAI) dituntut untuk tidak hanya menyampaikan pengetahuan agama, tetapi juga membentuk karakter yang religius dan beradab. Penelitian ini bertujuan untuk menganalasis strategi pembelajaran PAI dalam membentuk karakter generasi digital di SMPN 1 Buay Bahuga. Penelitian dilaksanakan selama tiga bulan, yaitu mulai tanggal 1 Februari 2025 hingga 30 April 2025. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi kasus, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Subjek penelitian meliputi guru PAI, kepala sekolah, dan peserta didik dari kelas VII, VIII, dan IX. Teknik analisis data melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pembelajaran PAI yang diterapkan memadukan pendekatan pendidikan profetik Nabi dan Rasul dengan metode Market Place Activity. Pendidikan profetik ditanamkan melalui integrasi nilai-nilai seperti shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah ke dalam materi pembelajaran, serta pembiasaan kegiatan religius di sekolah. Sementara itu, metode Market Place Activity mendorong siswa untuk aktif, kolaboratif, dan reflektif dalam memahami serta menerapkan nilai-nilai Islam secara kontekstual. Kedua pendekatan ini terbukti meningkatkan kedisiplinan, tanggung jawab, sikap sopan santun, dan kesadaran etika digital peserta didik. Novelty penelitian ini terletak pada integrasi simultan antara pendekatan nilai profetik dengan metode pembelajaran aktif berbasis Market Place Activity dalam konteks pendidikan karakter di era digital. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat pemahaman konseptual siswa, tetapi juga membentuk perilaku positif dalam kehidupan nyata, termasuk dalam penggunaan teknologi secara etis dan bertanggung jawab. Penelitian selanjutnya disarankan mencakup satuan pendidikan lain dan mengembangkan instrumen evaluasi terukur guna memantau dampak pembelajaran PAI terhadap pembentukan karakter siswa secara berkelanjutan.
Qiro’ati Ramah Lingkungan: Integrasi Nilai Hijau dalam Pembelajaran Al-Qur’an di RQBA 17 Lampung Shelvia Loviana; Shella Oktaviana; Zu'ama Anggun Larasati; Yuberti Yuberti; Abd. Rahman Hamid; Baharudin Baharudin
Action Research Journal Indonesia (ARJI) Vol. 7 No. 2 (2025): Action Research Journal Indonesia (ARJI)
Publisher : PT. Pusmedia Group Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61227/arji.v7i2.400

Abstract

Permasalahan dalam penelitian ini berangkat dari belum optimalnya integrasi nilai-nilai pendidikan lingkungan dalam pembelajaran Al-Qur’an, khususnya pada metode Qiro’ati yang selama ini lebih difokuskan pada aspek teknis bacaan. Padahal, Al-Qur’an mengandung banyak pesan ekologis yang penting untuk ditanamkan sejak dini kepada peserta didik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji bagaimana metode Qiro’ati dengan Qira’ah Imam Hafs dapat digunakan sebagai media dalam mengintegrasikan nilai-nilai lingkungan ke dalam pembelajaran Al-Qur’an secara efektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi kasus, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi di Rumah Qur’an Bunda Aisyah 17 Lampung. Analisis data dilakukan dengan model Miles dan Huberman yaitu reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi nilai-nilai lingkungan melalui metode Qiro’ati berhasil meningkatkan kesadaran ekologis, kedisiplinan, dan tanggung jawab siswa. Pemilihan ayat bertema lingkungan dan pembiasaan perilaku cinta alam memperluas makna pembelajaran Al-Qur’an dari sekadar teknis baca-tulis menjadi etis dan spiritual. Temuan ini memberikan kontribusi praktis bagi pengembangan kurikulum Al-Qur’an berbasis nilai dan spiritualitas ekologis, serta kontribusi teoretis dalam membangun jembatan antara ilmu tajwid, pendidikan karakter, dan ekopedagogi Islam. Sebagai tindak lanjut, disarankan agar model integrasi nilai lingkungan ini dapat diadopsi secara lebih luas oleh lembaga pendidikan Islam lainnya, serta dikembangkan dalam bentuk kurikulum tematik yang terstruktur dan berkelanjutan.
Internalisasi Nilai-Nilai Akhlak Islami Pada Remaja Muslim di Era Budaya Fear of Missing Out (FOMO) Syifa Adilla Zahra; Siti Khotimah; Riki Adi Pratama; Yuberti Yuberti; Abd Rahman Hamid; Baharudin Baharudin
Action Research Journal Indonesia (ARJI) Vol. 8 No. 2 (2026): Action Research Journal Indonesia (ARJI)
Publisher : PT. Pusmedia Group Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61227/arji.v8i2.747

Abstract

Pesatnya perkembangan teknologi digital dalam beberapa dekade terakhir telah merombak tatanan komunikasi, akses informasi, serta interaksi sosial kalangan muda. Integrasi internet dan gawai pintar menjadikan dunia maya sebagai elemen vital dalam keseharian remaja. Hal ini memicu fenomena Fear of Missing Out (FOMO), yakni kecemasan akibat takut tertinggal dari tren atau interaksi digital yang dianggap penting. Bagi remaja Muslim, dampak FOMO melampaui aspek psikologis semata, melainkan berpotensi mengancam pembentukan karakter dan internalisasi nilai-nilai akhlak Islami. Arus informasi yang deras serta budaya pamer di media sosial dapat menggeser orientasi nilai, memicu kompetisi berlebihan, dan melemahkan kendali diri. Namun, riset yang secara spesifik menghubungkan FOMO dengan pembentukan akhlak Islami pada remaja Muslim masih minim. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemahaman dan implementasi nilai Islam di tengah dominasi budaya FOMO, serta menelaah keselarasan antara tujuan pendidikan Islam dengan realitas digital. Menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan deskriptif-kualitatif dan analisis isi terhadap literatur klasik dan kontemporer, hasil kajian menunjukkan bahwa FOMO berpotensi mengikis nilai keikhlasan, qana’ah, kerendahan hati, serta pengendalian diri. Implikasi dari temuan ini mengarah pada perlunya strategi pendidikan akhlak Islami yang adaptif melalui integrasi konsep tazkiyatun nafs, literasi digital berbasis nilai Islam, serta keteladanan di lingkungan keluarga dan pendidikan.  
Tabayyun di Era Digital: Integrasi Moralitas Islam dan Falsifikasi Popper Dalam Menghadapi Hoaks Mahardika Muhammad; Muhammad Akmansyah; Abd Rahman Hamid; Idrus Ruslan; Muslimin
Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam Vol 7 No 1 (2026): Education and Islamic Studies
Publisher : STAI DDI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55623/au.v7i1.634

Abstract

Abstrak. Hoaks digital menjadi problem serius dalam masyarakat kontemporer karena tidak hanya menyebarkan informasi palsu, tetapi juga membentuk klaim pengetahuan yang tampak benar tanpa dasar epistemik yang memadai. Urgensi masalah ini terlihat di Indonesia, di mana verifikasi hoaks sepanjang 2025 menunjukkan penyebaran yang konsisten melalui berbagai platform media sosial. Penelitian ini bertujuan merumuskan kritik epistemik-etis Islam terhadap hoaks digital melalui integrasi teori falsifikasi Karl Popper dan moralitas Islam. Penelitian menggunakan metode kualitatif kepustakaan dengan pendekatan filosofis-konseptual. Sumber data meliputi karya Karl Popper, literatur mutakhir mengenai misinformasi dan disinformasi, serta sumber-sumber Islam yang membahas tabayyun , sidq, amanah, dan larangan dusta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hoaks merupakan klaim pseudo-epistemik yang gagal memenuhi syarat pengetahuan karena tidak didukung verifikasi yang memadai dan tidak terbuka terhadap koreksi. Teori falsifikasi Popper berfungsi sebagai instrumen kritik epistemologis dengan menguji suatu klaim melalui kemungkinan salah dan keterbukaannya terhadap bantahan. Namun, pendekatan ini belum sepenuhnya menjawab dimensi tanggung jawab moral dalam penyebaran informasi. Moralitas Islam melengkapi kritik tersebut melalui prinsip verifikasi, kejujuran, amanah, dan kemaslahatan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penanggulangan hoaks digital memerlukan integrasi antara pengujian rasional terhadap klaim dan tanggung jawab etis subjek informasi. Kerangka ini berkontribusi pada pengembangan etika informasi Islam dalam merespons tantangan hoaks di era digital. Kata kunci: hoaks digital; falsifikasi; moralitas Islam; tabayyun ; etika informasi Islam.
Akar dan Solusi Menghadapi Krisis Moral di Era Globalisasi: Analisis Pemikiran Ibnu Khaldun Maman Maman; Abd. Rahman Hamid; Muhammad Akmansyah; Sudarman Sudarman
Jurnal Dirosah Islamiyah Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal Dirosah Islamiyah 
Publisher : Pascasarjana IAI Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/jdi.v8i1.12105

Abstract

The era of globalization is characterized by the advancement of science and technology (e.g., epitome). A problem that frequently arises amidst the development of science and technology is the moral crisis. Furthermore, there is a moral decline in various sectors, both in society and government. This moral problem, which has spread across various dimensions, is one of the topics that needs immediate attention and constitutes a serious concern that must be addressed and resolved immediately. The anticipated goal of this research is to analyze Ibn Khaldun's thought in finding solutions to the moral crisis in the era of globalization. This research is desk research. Through this research study, at least several important points have been reached. Ibn Khaldun's ideas can be used as a basis for analysis to provide solutions to confront the ethical crisis in the current era of globalization, provide new knowledge, and explain the roots of problems that occur in people's lives. This thinking not only enriches scientific knowledge but also offers and explores a study to answer the challenges of life today. In general, Ibn Khaldun's method of reasoning in proposing solutions to various societal problems is grounded in reality, leading to the emergence of new knowledge that can be directly addressed in addressing various societal problems, particularly those related to solutions to moral crises, and whose practical benefits can be tangibly demonstrated.
The History of Munawatul Khair Arabic School Lampung Between 1930-1950 Seli Anjani; Ahmad Basyori; Aan Budianto; Abd Rahman Hamid; Agus Mahfudin Setiawan
Tarikhuna: Journal of History and History Education Vol 6, No 2 (2024): November 2024
Publisher : UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/thje.v6i2.8949

Abstract

Munawatul Khair Arabic School is one of the madrasah that played pivotal role in the history of Islamic education in Lampung during 1930-1950. This madrasah began in Tanjung Agugn, Bengkulu in 1925, founded by K.H. Hosen bin Abd Syukur. The madrasah is centered in Tanjung Karang, Bandar Lampung in 1930. This study is a form of literature research using historical and philosophical approach. The data source was collected from primary and secondary data. Primary data of this study is based on the records of the madrasah. While secondary data was similar researches from other researchers. This research used historical method, (1) Heuristic: data collection from primary and secondary data, (2) Criticism source, related criticism given internally or externally, (3) Interpretation involves combining various data sources to interpret a study, (4) Historiography, the historian’s endeavor to reconstruct a history by writing it into a research.The result of this study aims to enrich the value of education history, especially Islamic education in Lampung, focusing on the significant role of Madrasah Munawatul Khair Arabic School as a leading institutionof its time. Little history is yet to be discovered regarding education in Lampung, specifically detailing the development of education in Lampung. The establishment of Munawatul Khair Arabic School in Lampung and Bengkulu provided Islamic education for the indigenous people of Indonesia. This action was particularly significant given the limited access to Islamic education during the colonial and post-colonial eras. While little impact this madrasah had provided globally, its influence was felt locally, especially among marginalized communities who had limited access to government-run schools during that period.
Masjid Kasunyatan Dan Makam Maulana Yusuf Sebagai Wisata Religi Asfiana Adyani Nastiti; Fatimah Nabiela Nakhla; Herlian Susanto; Faris Sauqi Syahid; Torik Useng; Abd Rahman Hamid; Agus Mahfudin Setiawan
FIHROS: Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 9 No 02 (2025): Fihros: Jurnal Sejarah dan Budaya
Publisher : Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam Sekolah Tinggi Agama Islam Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63915/fihros.v9i02.183

Abstract

This article discusses two important historical sites in the Banten region, namely the Kasunyatan Mosque and the Tomb of Maulana Yusuf, which have high spiritual, cultural, and historical value. The Kasunyatan Mosque, built in the 16th century by Kyai Dukuh, became a symbol of Islamic preaching as well as a center of religious education during the Banten Sultanate. The mosque's distinctive architecture and layout, rich in philosophical values, reflect a blend of Islamic traditions and local culture. Meanwhile, the Maulana Yusuf Mausoleum stands as a testament to the significant role of the second sultan of the Banten Sultanate in conquering Pajajaran and expanding Islamic influence. The mausoleum's proximity to his spiritual mentor symbolizes the harmony between political power and religious authority during that era. Today, both sites have developed into popular religious tourism destinations, especially during major Islamic holidays. Through historical research methods, this article demonstrates that the Kasunyatan Mosque and Maulana Yusuf's Tomb not only hold religious significance but also possess profound historical, social, and cultural value, and have the potential to be developed as religious tourism sites rooted in local culture.
Negara Islam ala Indonesia: Pemikiran Perti di Konstituante, 1956-1959 Sandy Kurniawan; Abd. Rahman Hamid; Uswatun Hasanah
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 9 No 3 (2025): Desember
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/fhs.v9i3.31749

Abstract

This article intends to discuss the thoughts of Persatuan Tarbiyah Islamiyah regarding the foundation of the Islamic state of Indonesia in the Constituent Assembly during 1956–1959, using a historical research method consisting of four stages: heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The sources used include Constituent Assembly archival documents obtained from the National Archives of the Republic of Indonesia, the National Library of the Republic of Indonesia, and the official website of the People’s Consultative Assembly of the Republic of Indonesia (MPR RI). The research results show that debates in the Constituent Assembly were dominated by ideological struggles among three main groups: supporters of the Islamic state foundation, Pancasila, and socio-economic foundations. In the forum, Persatuan Tarbiyah Islamiyah voiced ideas about an Islamic state foundation based on the Ahlussunnah Wal Jama’ah doctrine, with the implementation of Sharia and worship following the Imam Shafi’i school of thought. The concept of the Islamic state proposed by PERTI is not identical to the Islamic state model of Saudi Arabia. PERTI proposed a concept of the Islamic state that guarantees the welfare of society and upholds the values of tolerance in accordance with the characteristics of Indonesia as a multicultural nation.
The Role of Tanjung Karang Station in the Transportation Network in Lampung, 1911-1942 Dimas Puja Kusuma; Abd Rahman Hamid; Agus Mahfudin Setiawan
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 10 No 1 (2026): April
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/fhs.v10i1.33809

Abstract

This article aims to discuss the construction of Tanjung Karang Station and its role in the transportation network in Lampung, using historical research methods. The sources used are newspapers obtained from delpher, books and journals. The results of the study found that this station is a large class A type train station located in Gunung Sari Village, Enggal District, Bandar Lampung City. As one of the important stations on the railway line connecting Bandar Lampung City with Palembang City, Tanjung Karang Station has a strategic role in supporting transportation and mobility in the Lampung region. The construction of roads and railways connected to this station also encourages increased regional income and expands plantation areas, transportation progress plays an important role as a means of mobilization that accelerates connectivity between countries, regions, and provinces in this case to accelerate and facilitate the transportation of natural resources in terms of plantations and mining, The construction of this railway line is expected to be able to open access to previously isolated inland areas, so that it can encourage local economic growth.
Islam and cultural dialectic: A main narrative of positioning Gorontalo on the Spice Route Nensia; Lamijo; Hamsiati; Abd. Rahman Hamid; Idham; Abu Muslim; Muhammad Nur Ichsan Azis
Masyarakat, Kebudayaan dan Politik Vol. 39 No. 1 (2026): Masyarakat, Kebudayaan dan Politik
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mkp.V39I12026.33-48

Abstract

The province of Gorontalo, Indonesia, has long been a destination for diverse ethnic groups arriving through maritime trade. Though often mentioned in articles and official sources as one of key contributors to the archipelagic spice route, no research has identified Gorontalo as a spice-producing region. Moreover, the Indonesian Ministry of Education and Culture has a long-term national program called, “Jalur Rempah,” which includes several maritime route points including the Gorontalo spice route. Thus, this study sought to discover why Gorontalo served as an important node on the spice route leading to how Islamic encounters and cross-cultural exchanges shaped its society. Using qualitative methods including in-depth interviews, observation, and literature review with historical and synchronic approaches, this research found that Gorontalo’s spice route functioned not only as a channel for commodities but also for ideological and cultural exchange. In this case, Islamic kingdoms such as Ternate, Gowa, and Bone played vital roles in spreading Islamic teachings. Moreover, Gorontalo’s cultural arts evolved under the influence of religion and foreign cultures, reflecting the region’s openness and deep respect for guests. From these characteristics, this study demonstrates Gorontalo’s unique adaptability to global interactions along the spice route and contributes to reinforcing the recognition of the spice route as a world cultural heritage.
Co-Authors Aan Budianto Abu Muslim Achlami A Agus Mahfuddin Setiawan Agus Mahfuddin Setiawan Agus Mahfudin Setiawan Agus Mahfudin Setiawan Ahmad Basyori amaira azizah Amin Nuroni Amir, Amrullah Asfiana Adyani Nastiti Baharudin Baharudin Baharudin Baharudin Baharudin Baharudin Budianto, Aan Cesaria Oktaviani Dimas Puja Kusuma Fajar Firdaus Faris Sauqi Syahid Faris Sauqi Syahid Fatimah Nabiela Nakhla Gunawan Gunawan Hamsiati Hasanah, Uswatun Herlian Susanto Hidayati, Nurul Idham Idrus Ruslan Lamijo M.Afif Anshori Mahardika Muhammad Maman Maman Maylatul Luvi Mokoginta, Murdiono Prasetio A. Muhammad Afif Anshori, Muhammad Muhammad Akhdan Hariizan Muhammad Akmansyah Muhammad Farid Muhammad Farid Muhammad Nur Ichsan Azis Muslimin MUSLIMIN Muslimin M Muslimin Muslimin Musyafa, Wildayah Mutiara Agustina Nafatul Aimah Naila Selvi Aulia Nanda Inka Fitri Nensia Nur Muhammad Gasmi Nur Rohfitta Rahman, Andhika Riki Adi Pratama Rikky Triolin Saputra Rima Kasturi Rismawidiawati, Rismawidiawati Roni Tabroni Samuel Patra Ritiauw Sandy Kurniawan Seli Anjani Shella Oktaviana Shelvia Loviana Sidiq, Muhammad Abdullah Siti Khotimah St Maisyah Ali Subair, Muh. Subhi Nur Ishaki Sudarman Sudarman SULASTRI Sunariyah, Sunariyah Syaripatu Dai'mah Syifa Adilla Zahra Tamara Siti Hikmah Tanjung, Ida Liana Torik Useng Triyana T Umi Afifah Uswatun Hasanah Uswatun Hasanah Uswatun Hasanah Vina Nanda Sugesti Wuri Handoko, Wuri Yovyansya Yovyansya Yuberti Zahara Zainal Asikin Zjulpi Andriansah Zu'ama Anggun Larasati