Claim Missing Document
Check
Articles

Gaya Bahasa Asonansi dan Aliterasi pada Q.S At-Takwir Juz 30: Kajian Fonologi Fungsional Estetik Umi Latifah; Moh. Badrih
GHANCARAN: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/ghancaran.v6i2.15181

Abstract

The focus of this research to analyzing patterns of the purpose of this study is to identify and analyze the patterns of assonance and alliteration in Q.S. At-Takwir, to understand how these phonological elements contribute to the aesthetic beauty and strengthen the meaning of the theological message contained in the surah. The research method used is a qualitative approach with a descriptive-analytical method. The data in this study are in the form of the text of Q.S. At-Takwir from the Qur'an. The stages of data analysis include data collection, identification and categorization, phonological analysis, data interpretation, drawing conclusions, and data validation. The results show that assonance creates a deep emotional atmosphere and strengthens the message, while alliteration adds rhythm, deepening the dramatic effect. Assonance and alliteration in Q.S. At-Takwir play an important role in beautifying the text, building rhythm, and strengthening the theology of the message, indicating that these phonological elements function more than just aesthetics, but as a means of conveying a deep spiritual message.
Model Integratif Digitalisasi Sastra Lisan Madura dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia: Pendekatan Literasi Budaya di Era Digital Badrih, Moh.
GHANCARAN: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 7 No. 2 (2026)
Publisher : Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berpijak pada keterbatasan kajian yang mengintegrasikan sastra lisan Madura ke dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Pemanfaatannya dalam pendidikan formal masih rendah karena keterbatasan bahan ajar dan model pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan era digital. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan menguji efektivitas model pembelajaran integratif berbasis digitalisasi sastra lisan Madura untuk meningkatkan literasi budaya siswa. Metode yang digunakan adalah Research and Development (R&D) dengan mengadaptasi model Borg & Gall yang mencakup enam tahap, yaitu studi pendahuluan, perancangan model, pengembangan produk awal, uji coba terbatas, revisi, dan uji coba lapangan. Subjek penelitian terdiri atas 120 siswa yang dipilih melalui purposive sampling berdasarkan kesiapan digital dan dukungan sekolah terhadap inovasi berbasis budaya lokal. Data dikumpulkan melalui angket, observasi, wawancara, dan tes literasi budaya, dengan instrumen yang telah divalidasi oleh tiga ahli: pembelajaran Bahasa Indonesia, budaya Madura, dan media digital. Analisis dilakukan secara kuantitatif menggunakan uji-t (paired sample t-test) dan secara kualitatif melalui analisis tematik. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan skor literasi budaya dari 52,5 menjadi 85,25 (p < 0,05), atau sebesar 32,75%. Temuan ini menegaskan bahwa model pembelajaran integratif berbasis digitalisasi sastra lisan Madura efektif diterapkan di jenjang pendidikan menengah atas sebagai strategi pedagogis kontekstual dalam memperkuat literasi budaya di era digital.
Narrative Transformation Model of Kejhung and Macapat Oral Literature in The Digital Content Age Badrih, Moh.; Siswiyanti, Frida; Murniatie, Itsnaniyah Umie
KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol. 11 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/kembara.v11i2.40928

Abstract

Transforming Kejhung and Macapat into a digital format is a strategic step to expand the reach and preserve two traditional art forms rich in cultural values, especially among the younger generation. The main objective of this study is to analyze the digitalization process, level of acceptance, and understanding of the younger generation towards Kejhung and Macapat, which are packaged into 11 different digital platforms. The research method used is qualitative descriptive, with the support of quantitative data analysis, to obtain a comprehensive picture of the dynamics of this digitalization. The results of the study show that skills in using digital technology significantly influence cultural appreciation; it was recorded that 48.3% of respondents who were considered proficient in technology were able to create interactive content that aroused interest and understanding of traditional material. Although digital transformation opens up significant opportunities to revive traditional arts, serious challenges are related to the authenticity of the cultural values contained in Kejhung and Macapat. Therefore, this study concludes that technology-based innovation is needed that is not only oriented towards visual appeal, but can also maintain the essence and substance of cultural heritage to remain authentic and relevant for today's generation.
Ekspresi Tutur Konstatif ‘Silang Ide’ dalam Dialog Mata Najwa Moh. Badrih
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 2 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i2.4188

Abstract

In speech, there is verbal complexity in the form of sentences that have the characteristics of continuity, coherence, and according to context. Verbal complexity is used to describe the reality that is observed and felt by the speaker. The problem in this study examines how the ideational constative utterance crosses ideas with factual constative utterances, how the ideational constative utterance crosses ideas with ideational constative utterances, and how is factual constative utterances which crosses ideas with ideational constative speeches. The method used in this study was descriptive qualitative with pragmatic analysis. The data are in the form of words, phrases, and sentences contained in the Mata Najwa dialogue 'Suddenly a Presidential Candidate'. Collecting data using the ‘simak, bebas, libat, cakap’ (SBLC). The data analysis technique uses three components, namely data reduction, data display, and drawing conclusions. The result of this research is that the meaning and intent behind the cross-idea constative speech. The 'ideational - factual' speech occurs in assertive and disentive constative speech. Speech 'ideational - ideational' occurs in retrodictive constative speech. 'Factual - ideational' utterances occur in ascriptive and retractive constative utterances. AbstrakDalam tuturan terdapat kompleksitas verbal berupa kalimat yang memiliki karakteristik kontinuitas, koheren, dan sesuai dengan konteks. Kompleksitas verbal tersebut digunakan untuk mengambarkan realitas yang diamati dan dirasakan oleh penutur. Masalah dalam penelitian ini mengkaji bagaimanakah tuturan konstatif ideasional yang bersilang ide dengan tuturan konstatif faktual, bagaimanakah tuturan konstatif ideasional yang bersilang ide dengan tuturan konstatif Ideasional, dan bagaimanakah tuturan konstatif faktual yang bersilang ide dengan tuturan konstatif Ideasional. Oleh karena itu, tujuan kajian ini ialah mendeskripsikan makna dan maksud dibalik tuturan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini kualitatif deskriptif dengan analisis Pragmatik. Data berupa kata, frasa, dan kalimat yang terdapat dalam dialog Mata Najwa ‘Mendadak Capres’. Pengumpulan data menggunakan Simak Bebas Libat Cakap (SLBC). Teknik analisis data menggunakan tiga komponen yaitu reduksi data, tampilan data, dan penarikan kesimpulan. Hasil peneltian ini ialah ditemukan makna dan maksud dibalik tuturan konstatif silang ide. Tuturan ‘ideasional – faktual’ terjadi pada tuturan konstatif asertif dan disentif. Tuturan ‘ideasional – ideasional’ terjadi pada tuturan konstatif retrodiktif. Tuturan ‘faktual – ideasional’ terjadi pada tuturan konstatif askriptif dan retraktif.