Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Pemanfaatan Limbah Daun Pepaya Dalam Bentuk Tepung dan Jus Untuk Meningkatkan Performans Produksi Ayam Arab Muharlien Muharlien; V. M. Ani Nurgiartiningsih
Research Journal of Life Science Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (564.932 KB) | DOI: 10.21776/ub.rjls.2015.002.02.3

Abstract

Penelitian bertujuan unuk mengetahui pengaruh penggunaan limbah daun pepaya terhadap performans produksi  ayam arab, serta bentuk dan level  pemberian limbah daun pepaya yang efektif dan efisien untuk meningkatkan performans produksi ayam arab. Hasil penelitian menunjukan penggunaan limbah daun pepaya dalam bentuk tepung dan jus sampai taraf 8 % dalam pakan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap bobot telur, konsumsi pakan, konversi pakan HDP ( Hen day Production), Egg mass, tebal kerabang, mortalitas, dan kolesterol, tetapi memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap warna kuning telur dan IOFC (Income Over Feed Cost). Kesimpulan penggunaan limbah pepaya dalam bentuk tepung dan jus  sampai taraf 8 % dalam pakan tidak menurunkan performance produksi ayam arab, bahkan dapat meningkatkan warna kuning telur dan IOFC. Warna kuning telur dan IOFC  tertinggi pada penggunaan limbah daun pepaya dalam bentuk tepung dengan taraf 8 % dalam pakan.
The Comparison of Chromosome Analysis Result by Manual and Software Cytovision Image Analysis Using Simple G-Banding Gatot Ciptadi; Muhammad Nur Ihsan; Sri Rahayu; Veronica Margareta Ani Nurgiartiningsih; Mudawamah Mudawamah; Ardyah Ramadhina Irsanti Putri
Research Journal of Life Science Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (633.513 KB) | DOI: 10.21776/ub.rjls.2017.004.02.3

Abstract

Chromosome analysis or karyotyping is one among powerful methods to characterize normal or abnormal genetic of animals. On the basis of the important chromosome abnormalities and their negative effect in the near future, chromosomal investigation of breeding bull especially for Artificial Insemination (AI) began in different countries. Chromosomal abnormalities are usually considered to be a plague and are to eliminate. In Indonesia, AI implementation in cattle have been started intensively, especially using imported bulls (bos Taurus) i.e. Limousine. A number of cattle breeds have been reported on of the 50 exotic breeds with the problem of 1/29 translocation, then the chromosome analysis to be important to execute. Method performed by collecting blood samples from first generation of crossing breed Madura Cattle vs. Bos Taurus. Sample was added to medium (Karyo MAX Gibco) then placed in CO2 incubator at 38°C. Colcichine was added after 70 hours and kept for 2–3 hours. Slides were prepared and dried then stained with Giemsa. Slides were examined under high phase-contrast microscope, chromosome analysis using cytovision software and manual analysis straightly captured under microscope then arranged. Result of both method of karyotyping may accepted for analysing method of abnormal/normal chromosome. It showed that the 2 N diploid number of chromosome was normal was 60, there were 58 autosomes and 2 sex chromosomes in all cattle observed. It was observed that all cattle tested in this research were normal categories.  The karyotype analysis of all cattle showed that the chromosomes of one cell and different individual each breed varied in size, shape and position of centromere. It was recommended to performed chromosomal investigation of breeding bulls using advanced sophisticated tools of analysis like cytovision image analysis of fluorescent technique. Manual method was recommended only for analysis of normal or abnormal number of chromosome.
Hubungan Bobot Telur dan Indeks Telur dengan Bobot Tetas Itik Dabung di Kabupaten Bangkalan Mahardika Setya Okatama; Sucik Maylinda; V.M Ani Nurgiartiningsih
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 19, No 1 (2018): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.344 KB) | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2018.019.01.1

Abstract

ABSTRACKBangkalan Regency has a potensial local Dabung duck. A study was conducted on the duck eggs, including egg weight, egg index and hatching weight. This study aims to determine the relationship between egg weight and egg index with hatching weight. The research material was 150 eggs of Dabung duck. The origin of eggs was from the parent duck with the age  ±7-9 months and the age of  eggs was 1-5 days. Research methods the experiment with how to incubate Dabung duck eggs in a simple to use machine incubate. Dabung duck analysis result showed average egg weight 63,65g/egg, egg index 76,50% and hatching weight 43,03g/tail. Positive correlation relationship between egg weight with hatching weight and give a real influence (P<0.05), while the egg index with hatching weight shows a positive correlation relationship and shows real influence (P<0.05). The results of the regression analysis (A) shows Dabung duck egg weight with hatching weight Y=-1.809+0.704X. Results of a regression analysis (A) shows the egg index with hatching weights Y=10.619+0.424X. Regression coefficient of the egg weight and the egg index are positive. Results of the regression analysis (B) of egg weight and eggs index with hatching weight Y=-16.312+0.694X1+0.198X2. Regression coefficients are positive. Result showed that Dabung duck has average egg weight 63.65 g/egg, egg index 76.50% and hatching weight 43.03g/tail. Correlation between egg weight and egg index with hatching weight was significant (P<0,05). Regression (A) and (B) in Dabung duck indicate the of the relationship of egg weight and egg index to hatching weight is positive. Keywords : 
STUDI SITOGENETIK TERNAK LOKAL UNTUK STANDARISASI KROMOSOM DAN DETEKSI ABNORMALITAS GENETIK TERNAK RUMINANSIA LOKAL Gatot Ciptadi; M, Nur Ihsan; V.M. Ani Nurgiartiningsih
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 13, No 1 (2012): Ternak Tropika
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.352 KB)

Abstract

Analisis kromosom ternak lokal di Indonesia sangat penting artinya karenamasih sangat terbatasnya data-data genetik dasar yang ada selama ini. Bagi ternak bibitanalisis kromosom perlu dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan munculnya cacatgenetik yang heriditer. Hal ini perlu dicermati mengingat bahwa peluang pewarisankepada generasi berikutnya adalah sangat besar terkait jumlah anak keturunan yangbisa dihasilkan dari seekor pejantan. Tujuan dari penelitian ini adalah untukmenganalisis kromosom ternak ruminansia lokal di Indonesia yaitu sapi, kerbau dankambing. Pada ternak lokal Indonesia masih sangat terbatas dilakukan analisiskromosom, padahal sangat penting terutama bagi ternak bibit. Hasil penelitian ini dapatdigunakan sebagai bahan pertimbangan bagi strategi peningkatan kualitas genetikternak ruminansia lokal.Metode digunakan standart kariotyping menggunakan sampel darah (wholeblood/) dengan G banding. Kariotyping dilakukan dengan dasar standart yang sudahada. Preparasi kromosom menggunakan medium Karyo MAX (GIBCO/BRL),Colcemic Solution, Giemsa Stain dan Potasium chloride solution. Kultur sel dilakukanberdasarkan medode standar karyotyping mamalia. Minimal jumlah 5 buah spreadingMetafase II kromosom terbaik, dilakukan microfotografi dan kemudian dilakukananalisis kromosom dengan software cytovision image analysis, ditentukan normaltidaknya kromosom berdasarkan standart kariotyping.Hasil Penelitian ini tidak ditemukan ternak ruminansia dengan abnormalitasjumlah kromosom, sehingga bisa diartikan bahwa tidak ada beberapa abnormalitaskromosom karena genetik seperti translokasi roberston (2N=58) atau kelainan jumlahkromosom yang lain. Pada semua ternak yang diamati kromosomnya ditemukankromosom 2 N (sapi Madura 2 N = 60), kerbau (swamp buffalo, 2 N=50 ) danKambing (kambing PE dan kacang 2 N= 60) yang terdiri atas 58, 48 dan 58 autosomdan 2 seks kromosom. Analisis perlu ditingkatkan ketelitiannya menggunakan teknikFISH, immunofluorescent, cytovision image analysis dilengkapi soft ware yang sesuai.Ruminansia lokal Indonesia perlu dilakukan penyusunan standart kariotyping,khususnya pada ruminansia yang diproduksi sperma bekunya untuk keperluanimplementasi Inseminasi Buatan, sangat direkomendasikan untuk dilakukankariotyping sebagai jaminan normalitas genetik serta bebas cacat genetik heriditer.Kata Kunci: Kariotyping, Kromosom, Ruminansia, Abnormalitas Genetik.CYTOGENETIC ANALYSIS FOR KARYOTYPE STANDARITATION ANDDETECTION OF GENETIC ABNORMALITY OF LOCAL RUMINANTABSTRACTOn the basis of the important of chromosome abnormalites and their negative effectin the near future, chromosomal investigation of breeding domestic animals and theirprogeny began in different countries. Chromosomal abnormality are usually consideredto be a plague and are to eliminate. In Indonesia, where Artificial Insemination (AI)implementation have started intensively, chromosomal aberration can be identified andculled from breeding program. This work has so far has been neglected in Indonesia.Method performed by collecting blood samples from ruminant (Madura, Buffaloand Goat) Sample of 0.5 ml of blood sample per animal was added to 5 mlchromosomal medium (Karyo MAX ^Gibco), placed in incubator at 38 oC. After 70hours, culture tube were removed from incubator, add to 1 ml working solution ofcolchicines and kept for 2 – 3 hours. The tubes were centrifuge at 1000 RPM for 10minute using PBS and supernatant was discarded, doing for 2 times respectively. Thepellet toghly packed cells added then by fixative solution. Slides were prepared bydropping the cell suspension on the glass slide and dried then stainned with Giemsastain for 10 minute. Slides were examined under high power phase-contrastmicroscope to study the chromosome spread in the single cells.Result showed that the 2N diploid number of chromosome or 3 ruminat werenormal (cattle 2N=60, Swamp buffalo 2N=50 Goat 2N=60), there were 58 autosomeand 2 sex chromosome in all animals observed. It was observed that all ruminanttested in these research were normal categories. The karyotype analysis showed thatthe chromosomes of one cell and different individual each breed varied in size, shapeand position of centromere. How ever, it was strongly recommended to performedchromosomal investigation of breeding ruminants especially for Artificial Inseminationbull purposes and others Indonesia local specific species using advanced sophisticatedtools of analysis like cytovision image analysis of fluorescent technique.Key Words: Karyotiping, Ruminant Chromosome, Abnormalities.
Estimasi Most Probable Producing Ability (MPPA) Sifat Produksi Pada Sapi Madura Yuli Arif Tribudi; Peni Wahyu Prihandini; Veronica Margareta Ani Nurgiartiningsih
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 21, No 1 (2020): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2020.021.01.10

Abstract

UPT Pembibitan dan Kesehatan Hewan Pamekasan adalah unit pelayanan milik Pemerintah Jawa Timur yang khusus menangani pembibitan sapi Madura. Pendugaan nilai parameter genetik yang didasarkan pada catatan produksi dapat digunakan sebagai dasar evaluasi terhadap nilai pemuliaan dan keunggulan genetik sapi Madura melalui metode MPPA (Most Probable Producing Ability). Penelitian ini menggunakan catatan produksi tahun 2014-2019 dari 52 ekor induk yang berjumlah 127 keturunan. Ripitabilitas dihitung berdasarkan metode korelasi antar kelas sedangkan metode Most Probable Producing Ability (MPPA) digunakan untuk menduga keunggulan performans produksi induk sapi Madura. Rataan berat badan sapi Madura umur 205 hari dan 365 hari masing-masing sebesar 83,55±15,66 kg dan 109,97±16,04 kg. Estimasi ripitabilitas berat umur 205 hari dan berat umur 365 hari yang dihasilkan termasuk dalam kategori tinggi. Berdasarkan nilai pendugaan MPPA performans produksi sapi Madura pada berat umur 205 hari dan 365 hari didapat induk terbaik sapi Madura dengan nomor identitas 386 dan induk dengan nomor identitas 378 dengan nilai pendugaan masing-masing 118,52 kg dan 142,34 kg.
Model Rekording dan Pengolahan Data untuk Program Seleksi Sapi Bali L. Hakim; Suyadi Suyadi; V.M.A. Nurgiartiningsih; Nuryadi Nuryadi; T. Susilawati
Sains Peternakan: Jurnal Penelitian Ilmu Peternakan Vol 5, No 2 (2007): Sains Peternakan
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/sainspet.v5i2.4932

Abstract

Sapi Bali merupakan ternak lokal asli Indonesia sangat berpotensi untuk dikembang-biakkan dan sebagai plasma nutfah harus tetap dilestarikan agar tidak tercemar dengan “darah” bangsa sapi lain. Disinyalir performans sapi Bali cenderung menurun disebabkan aplikasi program pemuliaan yang kurang ketat, sehingga mutu genetiknya rendah. Dalam upaya memperbaiki mutu genetik, Pola Peternakan Inti Terbuka (Open Nucleus Breeding) tampaknya sesuai untuk diterapkan dalam pengembangan sapi Bali yang banyak melibatkan peternakan rakyat sebagai populasi dasar dengan dukungan kegiatan seleksi pada berbagai lapisan peternakan dan harus ditunjang dengan rekording performans produksi dan reproduksi secara tertib, benar dan akurat, serta berkesinambungan. Rekording merupakan metode untuk menunjang keberhasilan program perbaikan mutu genetik ternak yang sangat bermanfaat dalam program seleksi berdasarkan performans individu, dan dapat membantu manajemen beternak yang baik. Dari rekording dapat diketahui silsilah ternak sehingga sangat bermanfaat untuk melakukan analisis komponen ragam dan menduga nilai pemuliaan (breeding value) ternak. Tujuan penelitian untuk mengembangkan manajemen rekording bagi pola perbibitan sapi Bali dan perangkat lunak (software) sistem rekording dan pengolahan data. Luaran berupa laporan Kegiatan Model Rekording dan Pengolahan Data Untuk Program Seleksi Sapi Bali; model rekording  sederhana untuk data primer di lapang dan model tabulasi data secara manual; dan perangkat lunak program rekording (sistem rekording data produksi dan reproduksi, rekapitulasi data, faktor koreksi, dan nilai pemuliaan ternak). Kesimpulan adalah perbaikan mutu genetic untuk memperbaiki performans produksi pada keturunan secara bertahap dan kontinyu perlu dilakukan sehingga perlu perencanaan dan implementasi program breeding yang tepat dan berkelanjutan. Diperlukan format recording dan pengolahan data yang sederhana dan standar sehingga mudah diaplikasikan. Program recording di lapangan yaitu recording langsung di lapangan dengan menggunakan lembar isian recording oleh peternak dan komputerisasi data pada petugas atau di pusat pembimbitan, dinas atau instansi terkait. Diperlukan pelatihan mengenai manfaat dan teknik pengisian paket recording baik di tingkat peternak maupun petugas/dinas. Penggunaan perangkat lunak (software) dalam program recording akan sangat membantu dalam pengarsipan, pengolahan dan pencarian data yang diperlukan dalam rangka mendukung program breeding. Kata Kunci : sapi Bali, data, model rekording, program seleksi
Pengembangan Sistem Manajemen Breeding Sapi Bali Luqman Hakim; Suyadi Suyadi; Nuryadi Nuryadi; Trinil Susilawati; Ani Nurgiartiningsih
Sains Peternakan: Jurnal Penelitian Ilmu Peternakan Vol 6, No 1 (2008): Sains Peternakan
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/sainspet.v6i1.4936

Abstract

Sebagai plasma nutfah Nasional, keberadaan sapi Bali perlu dipertahankan dan dimanfaatkan secara lestari-produktif; sebab memiliki beberapa keunggulan spesifik. Pengadaan sapi Bali bibit dapat diperoleh melalui pengembangan Village Breeding Center. Namun tampaknya belum ada program pemuliaan yang jelas dan terarah; karena rekording belum dilakukan secara lengkap, benar, dan berkesinambungan. Proyek Perbibitan dan Pengembangan Sapi Bali (P3Bali) yang mengemban memperbaiki mutu sapi Bali dan menghasilkan sapi pejantan unggul, tampaknya belum efektif. Suatu kegiatan dan kajian tentang sistem manajemen breeding sapi Bali (metode survei dan deep interviev) telah dilakukan di P3Bali dan instansi terkait (Agustus - Nopember 2004). Fenotip sapi Bali di P3Bali, di Instalasi Populasi Dasar (IPD) Kabupaten Tabanan dan di Kabupaten Karangasem masih relatif seragam. Pertumbuhan maksimal yang didasarkan ukuran statistik vital (tinggi gumba, panjang badan, lingkar dada) dan bobot badannya, dicapai pada kelompok umur PI-4, dan selanjutnya relatif tidak ada pertumbuhan. Performansnya di IPD dan di Kabupaten Karangasem relatif lebih baik daripada di P3Bali; bahkan selama 9 tahun terakhir menunjukkan kecenderungan yang semakin menurun. Sistem seleksi untuk calon induk atau pejantan telah mengikuti prosedur yang standar (performance test dan progeny test); tetapi tidak ditemukan silsilah dari ternak yang terjaring. Namun kriteria seleksi bobot badan masih sangat longgar (140 – 160 kg).  Adanya pemasukan sapi baru setiap tahun di P3Bali, dapat menetralisir upaya perbaikan mutu genetik hasil seleksi yang telah terkonsentrasi; sehingga secara time-series tampak tidak ada peningkatan performans produksi. dan mutu genetiknya. Adanya skema breeding di P3Bali yang sudah memenuhi standar, belum banyak diterapkan di lapang. Kurang lengkapnya rekording tidak dapat menghindari inbreeding; dan dengan intensitas seleksi yang rendah, tampak tidak ada kemajuan genetik dalam program seleksi (uji progeni untuk karakter bobot sapih dan bobot badan umur 1 tahun). Kata kunci : sistem manajemen, breeding, sapi Bali
ESTIMATION OF HERITABILITY AND BREEDING VALUE OF PIGLET BIRTH WEIGHT Bayu Dewantoro Putro Soewandi; V. M. Ani Nurgiartiningsih; Kuswati Kuswati
Widyariset Vol 3, No 2 (2017): Widyariset
Publisher : Pusbindiklat - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/widyariset.3.2.2017.143-150

Abstract

Piglet birth weight has an economic value and commonly correlated with weaning weigh. Therefore, birth weight traits of piglet needs to be selected for genetic improvement. The purpose of a study was to estimate the genetic improvement of piglet birth weight based on heritability and breeding value. Around 154 heads of offsprings generated from 6 sires and 14 sows were used in this study. The data of piglet birth weight was analyzed for heritability (nested classification), breeding value, selection response, and genetic improvement estimation. The result showed that the heritability (h2) of offsprings was 0.24±0,15. Based on breeding value, sires which had high piglet birth weight can be used for male ranking. Selection of response value was 0.06 kg. According to the selection of response value, improvement of birth weight in piglet based on the sire used can be estimated.
A Predicted Genetic Parameter for Body Weight and Body Size at Yearling Age of Male Bali cattle Meidina Chaerunissa; V.M. Ani Nurgiartiningsih
Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan (Indonesian Journal of Animal Science) Vol. 32 No. 3 (2022): December 2022
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jiip.2022.032.03.11

Abstract

This research aimed to predicted the genetic parameter for body weight and body size, including body height, body length, and chest girth at yearling age of male Bali cattle in BPTU-HPT Denpasar, Bali. The materials used were 79 heads of male Bali at yearling age. The variables observed were body weight (BW), body height (BH), body length (BL), and chest girth (CG) recorded from 2016 to 2018. The body weight and body size data were analyzed to find out the mean, standard deviation, and coefficient of variation. Variance and co variance component were analyzed using Analyses of Variance and Covariance one way lay out un balanced design. The heritability and genetic correlation were calculated using the paternal half-sib correlation method. Results showed that the average of body weight, body height, body length, and chest girth were 129.72±13.73 kg, 102.91±4.27 cm, 94.32±5.54 cm, and 121.91±8.47 cm, respectively. The value of heritability estimation for body weight, body height, body length, and chest girth were 0.50±0.08, 0.46±0.07, 0.44±0.07, and 0.10±0.02, respectively. The genetic correlation between BW-BH, BW-BL, and BW-CG were categorized as moderate to a high value (0.67, 0.98, and 0.35, respectively). Breeding value for body weight and body height were both 50% positive value, and breeding value for body length and chest girth were 40% and 60% positive value, respectively. The rank correlation coefficient between rank based on BW-BH, BW-BL, and BW-CG were 0.31, 0.61, and -0.01, respectively. Based on the heritability value, genetic correlation, and rank correlation coefficient, body length could be used as selection criteria, which would give a response to improve body weight.
Korelasi antara Ukuran-ukuran Tubuh dengan Bobot Badan pada Domba Persilangan DEG dan Merino Sutopo, Bima Prakasa Dermawan; Nurgiartiningsih, Veronica Margareta Ani; Ciptadi, Gatot
Journal of Livestock and Animal Health Vol. 5 No. 2 (2022): August
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.416 KB) | DOI: 10.32530/jlah.v5i2.559

Abstract

Bobot badan adalah salah satu kriteria seleksi untuk meningkatkan mutu genetik. Korelasi bobot badan dengan beberapa ukuran tubuh pada domba memegang peranan penting dalam program seleksi. Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji korelasi antara lingkar dada, lingkar leher, dan lingkar kanon dengan bobot badan pada hasil persilangan Domba Ekor Gemuk dengan domba Merino (DEG-MER). Materi yang digunakan adalah domba DEG-MER yang terdiri atas 14 ekor jantan dan 25 ekor betina. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan pengukuran langsung pada sampel yang dipilih secara purposive sampling yaitu berdasarkan pertimbangan jenis kelamin, umur, dan kondisi ternak. Data hasil pengukuran dianalisis menggunakan korelasi dan regresi sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata korelasi antara lingkar dada, lingkar leher atas, lingkar leher bawah, lingkar kanon depan, dan lingkar kanon belakang terhadap bobot badan pada domba DEG-MER jantan berturut-turut 0,96, 0,75, 0,78, 0,7, dan 0,74,  sedangkan nilai determinasinya adalah 0,92, 0,56, 0,61, 0,5, dan 0,55. Rata-rata korelasi antara lingkar dada, lingkar leher atas, lingkar leher bawah, lingkar kanon depan, dan lingkar kanon belakang terhadap bobot badan pada domba DEG-MER betina berturut-turut 0,93, 0,79, 0,81, 0,76, dan 0,76, sedangkan nilai determinasinya adalah 0,87, 0,63 0,65, 0,57, dan 0,57. Kesimpulannya, korelasi antara lingkar dada terhadap bobot badan memiliki hubungan yang paling kuat dibandingkan dengan lingkar leher atas, lingkar leher bawah, lingkar kanon depan, dan lingkar kanon belakang pada domba persilangan DEG dengan Merino.