Claim Missing Document
Check
Articles

Perancangan Dan Realisasi Filter Band Pass Hairpin Line Pada Frekuensi 2.425 Ghz Menggunakan Substrat Rogers Duroid 5880 Untuk Satelit Nano Angga Harwi Yanto; Heroe Wijanto; Yuyu Wahyu
eProceedings of Engineering Vol 2, No 2 (2015): Agustus, 2015
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Universitas telkom sedang melakukan penelitian mengenai satelit nano dengan misi remote sensing. Satelit nano universitas telkom diberi nama Tel-USAT 1 yang menggunakan frekuensi 2425 mhz untuk keperluan pengiriman data muatan kamera dengan misi penginderaan jarak jauh. Satelit nano ini mengorbit pada lintasan Low Earth Orbit (LEO).[1] Satelit ini mempunyai fungsi utama untuk keperluan komunikasi data. Pada bagian space segment terdapat subsistem RSPL (Remote Sensing Payload)yang bertugas mengirimkan data gambar dari hasil pemotretan permukaan bumi oleh kamera. RSPL (Remote Sensing Payload ) sebagai sensor payload menggunakan frekuensi 2.425 Ghz. Untuk dapat bekerja dengan baik maka dibutuhkannya band pass filter untuk bisa meloloskan frekuensi tersebut. Untuk mendapatkan hasil tersebut, filter ini harus memiliki tingkat akurasi slope yang tajam dan memiliki bandwidth 20 MHz. Pada perancangan band pass filter menggunakan metode Hairpin-Line dan simulasinya software CST Studio Suite. Filter yang dirancang menggunakan Substrat Rogers Duroid 5880. Filter yang dirancang menggunakan metode hairpin line dengan respon frekuensi chebyshev ripple 0.01 dB. Pada frekuensi tengah filter di 2425 Mhz menunjukan insertion loss sebesar -3,988 dB dan return loss yang benilai -10,680 dB. Bandpass filter hairpin line menunjukkan respon fasa yang linear. Bandwidth dari filter yang telah dirancang ini sebesar 45 Mhz. Dengan adanya perangkat filter ini, sehingga dapat mendukung perancangan filter di satelit nano. Kata kunci : Nanosatellite,Band Pass Filter,Hairpin-Line,chebyshev,ripple, Rogers Duroid 5880
Validasi Karakteristik Pada Antena Coplanar Vivaldi 27 Ghz Dengan Teknik Scaling Down Ke 2,7 Ghz Mardaputri Rannu Pairunan; Heroe Wijanto; Yuyu Wahyu
eProceedings of Engineering Vol 5, No 2 (2018): Agustus 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Teknologi LTE yang dikenal sebagai 4G akan dilanjutkan dengan teknologi 5G untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. Teknologi 5G dialokasikan pada frekuensi 27,5 GHz sampai 28,35 GHz. Antena vivaldi yang diciptakan oleh Gibson pada tahun 1979[1] merupakan antena yang memiliki beamwidth lebar dan mampu bekerja pada frekuensi 27 GHz. Pada pengukuran antena di frekuensi tinggi dibutuhkan teknik penskalaan. Teknik penskalaan merupakan suatu teknik yang dapat dilakukan untuk melaksanakan pengukuran antena yang berhubungan dengan struktur yang sangat besar. Teknik ini sangat dibutuhkan untuk mendapatkan hasil yang sesuai, seperti pola radiasi, return loss serta vswr dengan pengaturan pengukuran frekuensi yang lebih terjangkau. Pada tugas akhir ini, dirancang dan direalisasikan proses pengecilan skala antena co-planar vivaldi di frekuensi 27 GHz yang ditujukan untuk mengukur resonansi yang diinginkan dimana ditetapkan pada frekuensi 2,7 GHz dengan menggunakan bahan Duroid Rogers 4003C (Ԑr=3,55 dan h=0,813 mm). Dari hasil simulasi melalui CST Microwave Suite 2017 dan hasil realisasinya diperoleh kesebandingan kedua frekuensi dengan nilai vswr ≤ 1,1 ; return loss ≤ -10 dB serta Pola radiasi uni-directional Kata kunci : antena vivaldi, teknik scaling down. Abstract LTE technology known as 4G will be continued with 5G technology to meet the needs of a growing community. The 5G technology is allocated at frequency of 27.5 GHz to 28.35 GHz. The vivaldi antenna created by Gibson in 1979 is an antenna that has wide beamwidth and is capable of working at a frequency 27 GHz. In antenna measurement at high frequency scaling technique is required. Scaling technique is a technique that can be done to carry out antenna measurements associated with very large structures. This technique is needed to get the appropriate results, such as radiation pattern, return loss and vswr with a more affordable frequency measurement setting. In this final project, we designed and realized the process of variance of co-planar vivaldi antenna at 27 GHz frequency which is intended to measure the desired resonance which is set at 2.7 GHz frequency using Duroid Rogers 4003C (Ԑr = 3,55 and h = 0,813 mm). From the simulation results through CST Microwave Suite 2017 and the realization results obtained the comparison of two frequencies with the value of vswr ≤1,1 ; return loss ≤ -10 dB and uni-directional radiation pattern. Keywords: vivaldi antenna, scaling down technique.
Perancangan Dan Realisasi Antena Deployment Uhf Untuk Aplikasi Ttc Downlink Dengan Struktur Nanosatellite Sebagai Groundplane Nurul Hidayah; Heroe Wijanto; Agus Dwi Prasetyo
eProceedings of Engineering Vol 2, No 1 (2015): April, 2015
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telkom University sedang mengembangkan sistem komunikasi satelit yaitu nanosatelit. Pada space segmnet salah satu subsistem yaitu TTC (Telemetry, Tracking, and Command) berhubungan langsung dengan ground station untuk komunikasi. Salah satu perangkat yang bisa menghubungkan space dengan ground adalah antena. TTC menggunakan frekuensi amatir yang telah disediakan oleh ORARI, yaitu VHF untuk uplink pada 145,95 MHz dan UHF untuk downlink pada 437,325 MHz. Dalam penelitian ini dirancang sebuah antena deployment untuk komunikasi TTC yang berada pada space segment dengan frekuensi 437,325 MHz untuk downlink. Antena deployment merupakan antena yang menggunakan mekanisme deploy dikarenakan kondisi tertentu. Teknik deployment yang digunakan yaitu dengan heating element menggunakan sensor cahaya dan rangkaian timer. Antena deployment dirancang agar ketika satelit diluncurkan dari bumi ,antena dalam keadaan aman dan bekerja dengan baik. Antena deployment menggunakan antena monopole dengan struktur nanosatellite sebagai groundplane. Groundplane dibuat dari bahan alumunium dengan ukuran 10x10x10 cm dengan tebal 2 mm . Antena monopole terbuat dari bahan meteran (seng) dengan panjang 159 mm,sedangkan untuk teknik deployment menggunakan rangkaian timer dengan sensor cahaya. Hasil pengukuran antena monopole pada frekuensi kerja 437,325 MHz mendapatkan VSWR 1,1242,bandwidth 52,8 MHz, untuk polarisasi diperoleh polarisasi elips dengan nilai axial ratio 3,34 dB, pola radiasi omnidirectional dengan nilai HPBW theta 90o sebesar 117,88o dan HPBW phi 270o sebesar 71,48o, dan untuk nilai gain sebesar 2,23 dB. Untuk teknik deployment antena deploy dengan waktu 3 detik sedangkan timer aktif selama 6 detik. Kata Kunci :nanosatelit, TTC, antena deployment, monopole, sensor cahaya
Perencanaan Dan Analisis Retune Frekuensi 1710-1717.5 Mhz Dengan 1730-1745 Mhz Pada Teknologi Dcs1800 Di Area Madura Alif Randhy Pratama; Heroe Wijanto; Budi Syihabuddin
eProceedings of Engineering Vol 2, No 1 (2015): April, 2015
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Status penggabungan dua operator seluler ramai diperbincangkan di Indonesia. Jika benar ini terjadi maka akan ada ekspansi besar-besaran terutama pada sisi teknis. Salah satu sumber daya yang perlu diperhatikan adalah frekuensi kerja dari operator yang perlu penanganan khusus agar terjaga efisiensi sumber daya frekuensi dan kualitas performa jaringan.  Pada  penelitian ini  diteliti mengenai retune frekuensi secara menyeluruh pada teknologi DCS1800 dan diujikan pada area Madura dengan tujuan untuk melihat seberapa besar pengaruh pengurangan frekuensi kerja terhadap performa jaringan yang telah dilakukan pengalokasian ulang. Sebelumnya di Madura telah tergelar jaringan dan kondisi tersebutlah yang akan diolah dengan metode konvensional berupa optimasi coverage dari segi radio access. Dari penelitian ini didapatkan bahwa pengurangan alokasi frekuensi mempengaruhi performa jaringan jika dilihat melalui parameter carrier to interference ratio dan kualitas daya terima namun tidak terpengaruh terhadap level daya terima, sehingga dapat dikatakan terjadi efisiensi jika dilihat dari segi level daya terima namun terjadi penurunan terhadap kualitas sinyal dan kualitas daya terima. Kata Kunci: DCS1800, retune, RXLEV, RXQUAL, C/I, coverage.
Band Pass Filter Combline Untuk Pemancar S-band Satelit Nano Mohammad Andi Pamungkas; Heroe Wijanto; Yuyu Wahyu
eProceedings of Engineering Vol 5, No 1 (2018): April 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Satelit Nano adalah satelit yang beroperasi pada orbit LEO dan mempunyai dimensi yang sangat kecil jika dibandingkan dengan satelit lainnya. Combline Band Pass Filter merupakan salah satu metode perancangan filter yang paling menguntungkan dan dapat diterapkan pada sistem komunikasi satelit yang memancarkan sinyal dengan daya yang sangat besar karena mempunyai ruang hampa yang disebut cavity box. Filter yang akan dirancang bekerja dengan frekuensi tengah 2,35 GHz. Pada filter ini digunakan respon frekuensi chebyshev ripple 0.1 dB dan impedansi terminal input dan terminal output 50 Ohm. Dalam mendesain filter perlu diperhatikan jenis bahan pembuat filter combline, penentuan dimensi yang teliti, dan karakteristik dari masing – masing resonator agar didapatkan hasil filter yang ideal. Hasil dari band pass filter ini dapat meloloskan sinyal pada frekuensi 2.250-2.450 MHz dan memiliki bandwidth sebesar 38 MHz, memiliki VSWR 1,28 , insertion loss sebesar -3,76 dB dan return loss sebesar -28,293 dB.
Perancangan Duplexer Jenis Ferrite Circulator Untuk Aplikasi Synthetic Aperture Radar (sar) Muhammad Anshar Arif; Heroe Wijanto; Agus Dwi Prasetyo
eProceedings of Engineering Vol 3, No 2 (2016): Agustus, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Duplexer merupakan perangkat yang berfungsi untuk mengisolasi receiver dari transmitter saat keduanya menggunakan satu antena yang sama. Duplexer yang ideal menghasilkan isolasi yang sempurna tanpa ada loss, dari dan ke antena. Teknologi Synthetic Aperture Radar (SAR) -yang merupakan salah satu teknologi pencitraan profil permukaan bumi dari ruang angkasa untuk mendapatkan profil bumi secara keseluruhan-, merupakan teknologi yang menggunakan satu antena dan satu frekuensi untuk proses receiver dan transmitter. Karena daya yang dikirim oleh transmitter besar, maka pada penelitian ini direalisasikan sebuah duplexer jenis ferrite circulator bentuk-Y yang berfungsi untuk meredam pembalikan sinyal ke input, yang dapat mengakibatkan kerusakan pada perangkat tersebut. Hasil pengukuran menunjukkan nilai insertion loss pada port 1 (S21) sebesar -10,483 dB, pada port 2 (S32) sebesar -12,535 dB, pada port 3 (S13) sebesar -10,933 dB, nilai return loss pada port 1 (S11) sebesar -16,045 dB, pada port 2 (S22) sebesar -10,898 dB, pada port 3 (S33) sebesar -9,7252 dB, dengan nilai VSWR di port 1 sebesar 1,3156, pada port 2 sebesar 1,6869, dan pada port 3 sebesar 1,9543. Kata kunci: Synthetic Aperture Radar, duplexer, ferrite circulator
Desain Dan Realisasi Bandpass Filter 2,425 Ghz Dengan Coupled Line Untuk Receiver Stasiun Bumi Pada Sistem Nano Satelit Muhammad Irfan Riswandi; Heroe Wijanto; Budi Syihabuddin
eProceedings of Engineering Vol 3, No 1 (2016): April, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Filter merupakan komponen telekomunikasi yang berperan untuk membatasi frekuensi yang di inginkan untuk sinyal yang akan dipancarkan maupun yang di terima. Pada jurnal ini telah dilakukan perancangan dan realisasi Bandpass Filter bagian receiver dengan pembatasan bandwidth 40 MHz yang digunakan untuk aplikasi ground station sistem satelit nano. Filter yang direalisasikan memiliki frekuensi center 2,425 GHz. Dalam realisasinya, sebuah filter harus memiliki beberapa karekteristik yang harus dipenuhi, seperti loss yang kecil (s12 dan s21), vswr yang mendekati 1, dan impedansi 50 Ohm. Serta loss tidak lebih dari 3 dB (setengah daya). Pada penelitian ini direalisasikan filter dengan menggunakan metode Coupled line band pass filter. Bahan yang digunakan dalam filter ini adalah FR4 yang memiliki konstanta dielektrik sebesar 4,3. Hasil pengukuran dari filter yang direalisasikan memiliki bandwidth sesuai spesifikasi, yaitu 40MHz. Nilai return loss sebesar -11.42, VSWR sebesar 1.73 dB, dan nilai insertion loss sebesar -3.14 dB. Kata Kunci : filter, receiver, bandpass, coupled line
Design And Realization Cloverleaf Antenna And Helix Antenna For Fpv (First Person View) Antenna In Quadcopter Agil Setiawan; Heroe Wijanto; Yuyu Wahyu
eProceedings of Engineering Vol 2, No 1 (2015): April, 2015
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengambilan gambar video melalui udara memiliki banyak manfaat, misalnya membantu melakukan pemetaan ataupun monitoring pada suatu lokasi. Namun, sering kali pengambilan gambar video dari udara membutuhkan biaya sangat besar karena harus menggunakan jasa seperti penggunaan helikopter. Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah menggunakan wahana seperti quadcopter yang memiliki biaya yang jauh lebih murah dibandingkan dengan penggunaan helikopter. Tapi, permasalahannya adalah sering kali kinerja pengambilan gambar video dari quadcopter tidak maksimal dikarenakan jarak yang hanya mencapai kemampuan minimal dari transceiver video. Pada penelitian ini diimplementasikan penggunaan antena cloverleaf yang dipasang pada transmitter video pada quadcopter serta antena helix yang dipasang pada receiver video quadcopter yang berada pada ground station dengan frekuensi 5,8 GHz yang digunakan sebagai alat bantu untuk memaksimalkan pengambilan gambar video dari udara atau yang biasa dikenal dalam istilah dunia aeromodelling yaitu First Person View (FPV). Hasil dari penelitian ini  menunjukkan pola  radiasi dari antena  cloverleaf dan antena  helix dengan mode normal memiliki pola radiasi omnidireksional dengan nilai VSWR pada antena cloverleaf sebesar 1,433 sedangkan nilai VSWR pada antena helix sebesar 1,389. Kemudian dari segi pengukuran jarak didapatkan hasil sejauh 500 m dengan ketinggian 40 m. Dari hasil tersebut, maka antena cloverleaf dan antena helix cocok untuk digunakan pada quadcopter karena selain memiliki bobot yang ringan serta dapat memaksimalkan jarak pengiriman dan penerimaan video. Kata kunci: antena cloverleaf, antena helix, transmitter, receiver, quadcopter, ground station, FPV
Power Combiner 3-way Untuk Aplikasi Electronic Support Measures 2-18 Ghz (uwb) Rizal Ritaudin; Heroe Wijanto; Yuyu Wahyu
eProceedings of Engineering Vol 5, No 1 (2018): April 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Electronic Support Measures (ESM) adalah sebuah peralatan elektronik yang berfungsi untuk menerima sinyal gelombang elektromagnetik, kemudian sinyal tersebut diproses dan dianalisa dengan tujuan untuk mendeteksi dan membuat pengukuran terhadap pancaran gelombang elektromagnetik dari sistem radar disekitarnya. Frekuensi kerjanya berada pada 2-4 GHz (S-Band), 4-8 GHz (C Band) dan 8-18 GHz (X Ku-Band).Dalam tugas akhir ini, telah dirancang dan direalisasikan sebuah komponen pasif yang terdapat pada aplikasi Electronic Support Measures (ESM) . Dengan banyaknya antena susunan maka dibutuhkan suatu komponen pasif yaitu power combiner. Frekuensi kerja alat tersebut 2-18 GHz yang mempunyai tiga input dan satu output . Alat tersebut dirancang menggunkan software CST Microwave Studio.Adapun hasil pengukuran dari 3-way power combiner pada 2-18 Ghz yaitu didapatkan nilai untuk parameter S11 pada 2 GHz yaitu -9.184 dB, 10 GHz sebesar -17.374 dB dan 18 GHz sebesar -12.638 dB, nilai untuk parameter S22 pada 2 GHz yaitu -6.864 dB, 10 GHz -20.635 dB, 18 GHz -10.524 dB, nilai untuk parameter S33 2 GHz -8.827 dB, 10 GHz -16.125 dB, 18 GHz -12.480 dB, nilai untuk parameter S44 pada 2 GHz yaitu -6.864 dB, 10 GHz -20.635 dB,  18 GHz -10.524 dB. Nilai untuk parameter S12 pada 2 GHz yaitu -5.003 dB, 10GHz -5.115 dB,  18 GHz -6.184 dB, Nilai untuk parameter S13 pada 2 GHz yaitu -5.259 dB, 10 GHz -5.497 dB,18 GHz -6.269 dB, Nilai untuk parameter S14 pada 2 GHz yaitu -4.901 dB, 10 GHz -4.976 dB, 18 GHz -5.923 dB, Nilai untuk parameter S21 pada 2 GHz yaitu –4.153 dB, 10 GHz -5.274 dB, 18 GHz -5.759 dB, Nilai untuk parameter S31 pada 2 GHz yaitu -5.341 dB, 10 GHz -6.171 dB, 18 GHz -6.613 dB, Nilai untuk parameter S41 pada 2 GHz yaitu -4.178 dB, 10 GHz -5.547 dB, 18 GHz -5.880 dB. Nilai untuk parameter S23 pada 2 GHz yaitu-9.739 dB, 10 GHz -20.033 dB, 18 GHz -24.165 dB, Nilai untuk parameter S34 pada 2 GHz yaitu -10.821 dB, 10GHz -20.932 dB, 18 GHz -46.673 dB, Nilai untuk parameter S24 pada 2 GHz yaitu -6.643 dB, 10 GHz -12.589dB, 18 GHz -25.086 dB, Nilai untuk parameter S32 pada 2 GHz yaitu -10.383 dB, 10 GHz -11.659 dB, 18 GHz-10.995 dB, Nilai untuk parameter S43 pada 2 GHz yaitu -13.636 dB, 10 GHz -11.931 dB, 18 GHz -14.807 dB,dan Nilai untuk parameter S42 pada 2 GHz yaitu -10.305 dB, 10 GHz -11.367 dB, 18 GHz -11.511 dB.
Antena Crossed Bowtie Untuk Penerima Tv Digital 478 - 694 Mhz Stevy Francisca Yolanda Novitasari; Heroe Wijanto; Yuyu Wahyu
eProceedings of Engineering Vol 5, No 1 (2018): April 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam penyiaran televisi, kini mengalami perkembangan yang awalnya menggunakan sistem siaran analog kini sedang berkembang menggunakan sistem penyiaran digital. Tahun 2018 merupakan tahun perubahan di Indonesia dari Televisi Analog menjadi Televisi Digital. Oleh karena itu, penulis akan merealisasikan sebuah antena yang dapat menerima sinyal dengan sistem digital sehingga dapat digunakan pada saat perpindahan teknologi dari sistem analog ke sistem digital di Indonesia. Pada penelitian tugas akhir ini telah direalisasikan sebuah antena crossed bowtie sebagai antena penerima televisi digital pada frekuensi 478 – 694 MHz. Perhitungan awal penelitian ini menggunakan dimensi yang sesuai dengan spesifikasi antena. Setelah mendapatkan dimensi awal, dilakukan simulasi model dengan menggunakan software untuk mendapatkan hasil optimal dimensi yang direkomendasikan oleh software. Pada simulasi dilakukan perubahan paramenter – parameter seperti tinggi segitiga dari 121.6 mm sampai 129 mm, alas segitiga dari 141.6 mm sampai 160 mm, ketebalan bahan dari 0.5 mm sampai 1.5 mm, dan jarak antenna dan reflector dari 127.5 mm sampai 150 mm. Setelah didapatkan hasil optimasi yang diinginkan, kemudian antena direalisasikan untuk dapat dilakukan pengukuran terhadap antena yang telah dibuat. Setelah dilakukan pengukuran, didapatkan hasil dari tugas akhir ini, yaitu nilai VSWR=1.266 untuk frekuensi 478 MHz, nilai VSWR=1.179 untuk frekuensi 586 MHz, dan nilai VSWR= 1.259 untuk frekuensi 694 MHz. Gain yang didapatkan yaitu 7 dBi. Pola pancar yang didapatkan yaitu berbentuk unidireksional yang berarti pola pancar yang tajam dan terarah.
Co-Authors A.A. Ketut Agung Cahyawan W Achmad Munir Adhie Surya Ruswanditya Aditya Putra Aviantoro AFIEF DIAS PAMBUDI Afief Pambudi Agie Vadhillah Putri Agil Setiawan Agung Rachman Agus D. Prasetyo Agus Dwi Prasetyo Agus Dwi Prasteyo Agus Prasetyo Ahmad Faiz Rusydi Aidil Fitriadi Aisyah Chindrakasih Ainur Rofiq Aldino Priyatna Ali Muayyadi Ali, Erfansyah Alief Kusumaningtyas Krishnanti Alif Randhy Pratama Amin, Muhammad Alief Faisal Andi Andriana Andy Sastrawinata Angga Budiawan Adipurnama Angga Harwi Yanto Aninditya Esti Pratiwi Antonius Dharma Setiawan Aprilia Pustpita Sari Aqil Aztris Ardhana, Garin Ardian Nugraha Arfianto Fahmi Arie Setiawan Arif Pratama Arnold Nicolas Aryo Prihawi Septano Asep Yudi H Asri Fevi Sari Sidabutar Bagas Dwi Putera Bambang Setia Nugroho Bambang Sumajudin Basuki Rahmat Bayu Heri Prabowo Binarti Fauziah Fitriani Budi Herdiana Budi Herdiana Budi Prasetya Budi Syihabuddin Budianto Budianto Cahya Budi Muhammad Christian Budi Eko Saputro Claudia Kurniaty Danang Hary Nursidik Daniel Christviyana Manafe Darryl Juneldo Lumban Tobing Desti Madya Saputri Destia Rahmawati Dewi Septia Anzani Dharu Arseno Dhoni Putra Srtiawan Dian Prastiwi Dickie Hervianto Dida Tuhu Putranto Dimas Adhitama Donny Noviandi DWI ANDI NURMANTRIS Edwar EDWAR EDWAR Edy Rahmat Juma Egi Ari Wibowo Eka Rezky Syitha Erza Yoga Pamungkas Evan Benedick Nathaniel Evi Nur Cahyanti Fahmi Darmawan Wijayanto Faizal Ramadhan Fajar Siddiq Fanny Octaviany Farid Farhan Fadhlurrahman Fasny F. A Rafsanzani Fasny F. A Rafsanzani, Fasny F. A Fauzia Kurnia Hadist Fiky Y. Suratman Fitriani, Binarti Fauziah Gavrila Nathania Calosa Baskara Ghazwa Azizul Asdhar Girardi Soejatman H, Asep Yudi Habibullah, Wahid Hafiddudin Hafiddudin Hafidudin . Halomoan Togatorop Hamdan Mubarokah Hanif, Amirul Iqbal Hanifah Husnul Chotimah Harfan Hian Ryanu Harry Pratama Haryanto Sachrawi S Hendra Winata Heri Sulistiyo I Gede Oka Mahendra Ihsan Nuur Razzak Hantriono Ikbar, Naufal Imam Ichwani Imam Muaffiq Intan Nuraeni Agfah Iqbal Tawakal Irfan Ridho Fikri Ishak Garlie Delano Girsang Iswahyudi Hidayat Jamil Setiawan, Lutfi Joko Haryatno Joko Suryana Ken Paramayudha Ken Paramayudha Ken Paramayudha, Ken Koredianto Usman Kris Sujatmoko Krisna Maulana Laila Prakasita Levy Olivia Nur Lia Astari Linda Ulifaturrosyidah Purnamasari Lita Kurnia Fitriyanti Lutfi Jamil Setiawan M. Pasaribu M. Ramdhani M. Shiddiq S.H Mardaputri Rannu Pairunan Marsahala Situmorang Merghita Zahrah Yuliandari Mohamad Azka Rijalfaris Mohammad Andi Pamungkas Muchlisin Muchlisin Muhammad Anshar Arif Muhammad Denny Muhammad Fadhil Maulana Muhammad Iqbal Muhammad Irfan Riswandi Muhammad Miftakhus Sahid Muhammad Purwa Manggala Muhammad Raudhi Azmi Muhammad Zulfikri Hasan Mukhammad Ajie Saputra Nadya Sabrina Narulita Fubian Nico Baihaqi Nurul Hidayah Nurwijayanti Pamungkas Daud Pandu Andika Darmawan Perdana S, Yussi Perdana, Yussi Pramadhan, Iqbaldi Primadita Banu Anggra Primananda Andhika Putra Priyatama Putra Kurniawan Raeida Widyananda Rahmat Ardiansyah Rahmayati Alindra Raja Patar Silitonga Rama Putra Ilyas Eka Cipta Ramaska Prima Agusta Ramtsal Eka Putra Ratih Tryas Prodoningrum Rekan Karyono Remon Riyanto Renaldy Wibisono Rezzy Ferli Yanza Riga Marga Limba Rissa Rahmania Rizal Ritaudin Rizka Amalia Rizwan Herliady Romario Johanes Impola Tamba Ryan Rivaldo Ryo Wisman Fransiscus Gultom S, Haryanto Sachrawi Santosh Poudel Sari, Aprilia Pustpita Satria Taruna Wirawan Setiawan, Antonius Darma Shiddiq S.H, M. Sitia Gamawati Erta Lestari Stevy Francisca Yolanda Novitasari Sugihartono Sugihartono Suhartono Tjondronegoro Sulma Agida Yusfandini Sumartono Sumartono Suryo Novantara Suryo Sasono Sus Sulianti Natalia Aritonang Suyatno Suyatno Syadza Haifa Ami Dwinanda Syakirotunnikmah, Ukhty Syifa Haunan Nashuha Taryana, Yana Tengku Ahmad Riza Uke Kurniawan Usman Ukhty Syakirotunnikmah Unang Sunarya Varhantz Reinardy Vinsensius Sigit Wahyu Ananda Sabilla Pradina Wahyu Setiaji Wanda Triandi Edwin Widi Anggun Fitriana Yan Bagus Yana Taryana Yassir Aulia Yaya Sulaeman Yuda Nugraha Yudha Eko Bimantoro Yudha Tarigan Yudi Adityawarman YUNITA, TRASMA Yussi Perdana Saputera Yuyu Wahyu Yuyu Wahyu Yuyu Wahyu Yuyu Wahyu Yuyu Wahyu Yuyu Wahyu Yuyu Wahyu Yuyu Wahyu Yuyu Wahyu Zilliah Mankusa Zilliah Zillya Fatimah Zulfi Zulfi