Claim Missing Document
Check
Articles

EFEKTIFITAS DAN ALTERNATIF KELEMBAGAAN PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN PERAIRAN UMUM “LELANG LEBAK LEBUNG” (STUDI KASUS DI KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR, SUMATERA SELATAN) Zahri Nasution; Titik Sumarti; Soeryo Adiwibowo; S.M.P. Tjondronegoro
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 4, No 1 (2012): (Mei 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.965 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.4.1.2012.49-57

Abstract

Kelembagaan pengelolaan sumberdaya perikanan melalui sistem “lelang lebak lebung” berperanan penting dalam pemanfaatan sumberdaya ikan perairan umum lebak lebung di Sumatera Selatan. Kelembagaan tersebut telah ada sejak pemerintahan Marga dan berubah sejak terjadinya pelimpahan wewenang oleh Gubernur ke Bupati, sehingga lelang lebak lebung dikelola olehpemerintah kabupaten hingga saat ini. Analisis terhadap efektifitas kelembagaan pengelolaan sumberdaya perikanan “lelang lebak lebung” pada masa pemerintahan marga dan masa pemerintahan kabupaten serta dampaknya terhadap kondisi sumberdaya ikan dan kemiskinan masyarakat nelayan telah dilakukan. Hasil analisis menunjukkan bahwa kelembagaan pengelolaan sumberdaya perikanan yang berlaku pada masa pemerintahan kabupaten saat ini ternyata tidak efektif jika dibandingkan dengan kelembagaan yang berlaku pada masa pemerintahan marga. Kelembagaan pengelolaan sumberdaya perikanan yang tidak efektif tersebut telah berdampak terhadap degradasi sumberdaya ikan, penurunan produksi ikan hasil tangkapan dan semakin dominannya perkembangan ekosistem yang mendukung kehidupan ikan yang bernilai ekonomi rendah. Saran tindak lanjut adalah merumuskan kelembagaan pengelolaan sumberdaya perikanandengan menghilangkan sistem lelang dan pengelolaannya dilaksanakan oleh masyarakat lokal, sehingga diharapkan dapat melestarikan sumberdaya ikan dan mensejahterakan masyarakat nelayan.Institution of management of fisheries flood plain resources refers as “lelang lebak lebung” has an important role in the utilization of floodplain fishery resources in South Sumatra. Institutionalization has been there since the establishment of clan government and changed since the delegation ofauthority by the Governor to the Regents, so the auction “lebak lebung” managed by the goverment regency to date. The effectiveness of institutional management of fisheries resources “lelang lebak lebung” during the term of clan goverment and in the term of regency administration and its impact onthe condition of fishery resources and the poverty of fishing communities has been analyzed. The results showed that the institutional management of fisheries resources in force at the time of the regency administration is currently not effective compared to the institutional management during the clan goverment. Reformulation of the instutional management that eliminate the auction and its management system implemented by the local community is needed, so the new institutional management can conserve the fish resources and increase fishing communities prosperity.
STRATEGI KOMUNIKASI POLITIK PEREMPUAN DALAM MERAIH KEPEMIMPINAN DAERAH Sa’diyah El Adawiyah; Aida Vitayala Hubeis; titik Sumarti; Djoko Susanto
Metacommunication Journal of Communication Studies
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.589 KB) | DOI: 10.20527/mc.v4i1.6356

Abstract

ABSTRACT                 Direct elections open opportunities for various layers of society, especially women, to color the direction of local democracy. The presence of women as regional heads is one strategy for the birth of a more gender-equitable policy. The efforts of women to achieve political leadership in the regions are not easy. Many factors influence women in gaining regional leadership. Therefore it is important and relevant to examine how the political communication process that women build in achieving regional leadership. The aim of the study was to identify and analyze the role of regional leaders as political communicators in local politics, and to identify the media and political communication channels used by regional leaders in gaining regional leadership. In addition, it is to formulate a political communication strategy for regional leaders in gaining regional leadership. The methodology of this study uses qualitative phenomenological approaches. The results showed that the role of regional leaders as political communicators in local politics had a lot to color the local political map, both at the provincial and district / city levels, although it was not proportional to the total number of regional heads and mandates of existing regulations. The communication channel or media commonly used by female regional leaders in this study is to use a communication and group communication approach, both directly through face-to-face meetings and through digital social media currently available. The use of the media channel was felt effective in introducing themselves, increasing the popularity and electability of female leaders in the area. The political communication strategy of women leaders in reaching regional leadership has three stages, namely networking strategies, message packaging strategies and media determination strategies.Keywords: female leaders, political communication, media channels, communication strategies ABSTRAK Pilkada langsung membuka peluang pada berbagai lapisan masyarakat terutama kaum perempuan untuk ikut mewarnai arah demokrasi lokal. Kehadiran perempuan sebagai kepala daerah merupakan salah satu strategi bagi lahirnya kebijakan yang lebih adil gender. Upaya perempuan dalam meraih kepemimpinan politik di daerah bukanlah hal yang mudah. Banyak faktor yang memengaruhi perempuan dalam meraih kepemimpinan daerah. Oleh karena itu menjadi penting dan relevan untuk mengkaji bagaimana proses komunikasi politik yang dibangun perempuan dalam meraih kepemimpinan daerah. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi dan menganalisis peranan perempuan pemimpin daerah sebagai komunikator politik dalam politik lokal, serta mengidentifikasi media dan saluran komunikasi politik yang digunakan perempuan pemimpin daerah dalam meraih kepemimpinan daerah. Selain itu adalah merumuskan strategi komunikasi politik perempuan pemimpin daerah dalam meraih kepemimpinan daerah. Metodologi penelitian ini menggunakan kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peranan perempuan pemimpin daerah sebagai komunikator politik dalam politik lokal telah banyak mewarnai peta politik lokal, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, walaupun belum proporsional dengan jumlah keseluruhan kepala daerah dan amanat dari regulasi yang telah ada.  Saluran komunikasi atau media yang umum digunakan oleh pemimpin daerah perempuan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan pendekatan komunikasi dan juga komunikasi kelompok, baik secara langsung melalui pertemuan tatap muka dan melalui media sosial digital yang ada saat ini.  Pemanfaatan saluran media tersebut dirasakan efektif untuk memperkenalkan diri, meningkatkan popularitas dan elektabilitas dari tokoh perempuan pemimpinan daerah tersebut. Strategi komunikasi politik perempuan pemimpin daerah dalam meraih kepemimpinan daerah memiliki tiga tahapan, yaitu strategi membangun jejaring, strategi pengemasan pesan dan strategi penentuan media.Kata Kunci: Pemimpin perempuan, komunikasi politik, saluran media, strategi komunikasi dan daerah
Embeddedness of Economic Actions in the Social Network: Study among of Local Genuine Entrepreneurship in Cirebon, West Java Haryono Haryono; Mukhtar Mukhtar; Titik Sumarti; Didin S. Damanhuri; Sofyan Sjaf
JSW (Jurnal Sosiologi Walisongo) Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Social and Political Sciences - UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jsw.2022.6.1.8023

Abstract

Economic activities in a social context can not be separated from social networking, for example, the networking between business actors. This study aims to find out the time-term of the businessmen's work, with whom they worked; and the impact of their networking. This research was conducted in Cirebon Regency West Java Province, Indonesia, for 6 months, from May to October 2019. Applying the qualitative method, this research found that: local entrepreneurs in the rattan business sector have been running for a long time. As a result of historical formation, there is a wide network between entrepreneurs and entrepreneurs with certain institutions and community structures. The map of economic network attachment in social networks shows the diversity of attachments between economic networks and social networks.
Social Interaction and The Practice of Power Among Small Fishers Asnika Putri Simanjuntak; Titik Sumarti; Rilus A Kinseng
JURNAL ILMU SOSIAL Volume 18, Issue 1, Year 2019
Publisher : Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (848.802 KB) | DOI: 10.14710/jis.18.1.2019.35-61

Abstract

Relations between humans and social groups always involve power. Power exists in all fields of life; it includes the ability to govern and also make decisions that directly influence the actions of others. This study aims to determine how social interaction and power practices between the crew and shipowner; and between crews on small vessels. This research was conducted with a descriptive-qualitative approach using a case study strategy. The study was conducted in Muarareja Urban Village, West Tegal Subdistrict, Tegal City, Central Java Province. The results showed that small scale fishers in Muarareja Urban Village, Tegal City can be categorized as daily fishers and weekly fishers. The practice of power between the owner and the daily crew on the small vessels has an exploitative relationship dimension. This relationship is indicated by the compulsion of the shipowner to the crew to keep fishing even though the weather is bad or during a low season. The practice of power between the shipowner and the crew was strongly influenced by the shipowner's debt to the Bank or middleman, which must be paid every month. On the other hand, the practice of power exercised by the weekly fishers to the shipowner is by being able to resign and choose to work with other shipowners easily. If the crew feels uncomfortable working on a ship, they will look for a new shipowner. 
KONTESTASI DISKURSUS KETAHANAN PANGAN DAN PEMBENTUKAN KUASA PENGETAHUAN PEREMPUAN PADA KELUARGA PETANI SAWAH DI SUMATERA SELATAN -, Yunindyawati; Sumarti, Titik; Adiwibowo, Soeryo; Vitayala S. Hubbeis, Aida; -, Hardinsyah
Komunitas Vol 6, No 1 (2014): March 2014
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v6i1.2952

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji diskursus ketahanan pangan antaraktor dan pembentukan kuasa pengetahuan perempuan pada keluarga petani sawah lebak di Kecamatan Pemulutan Selatan kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan menggunakan paradigma konstruktivistik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat tiga  aktor utama dalam diskursus ketahanan pangan yakni pemerintah, komunitas dan pelaku usaha. Masing-masing aktor berupaya mempraktikkan diskursusnya pada keluarga petani. Pada saat mempraktikkan diskursus terjadi interaksi diskursus antaraktor yang bersifat sinergis. Namun diskursus yang paling dominan dipraktikkan oleh keluarga adalah diskursus komunitas, sementara diskursus pemerintah sebagai pelengkap dan diskursus pelaku usaha sebagai pendorong. Pembentukan kuasa pengetahuan perempuan oleh para aktor bersifat elastis dan terdapat perbedaan akses dalam pembentukan kuasa pengetahuan perempuan berdasarkan perbedaan kelas sosial. This study was to examine food security discourse between actors in the farmers family and the formation of the power of women’s knowledge. The method used was a qualitative method using constructivism paradigm. Research findings indicate that there were three main actors in the discourse of food security namely the government, community and business. Each attempt to practice their discourse on family farmers. It turns out that in practice this discourse, there were interaction between actors in synergy. But the most dominant discourse was discourse of community that practiced by the family while the government discourse as a supplement and entrepreneurs discourse as a spur. Formation of the power of women’s knowledge by actors were flexibles/elastics and there were differences acces of formation in power of women’s knowledge between women in different social classes
Identifikasi Penguasaan dan Akses Modal Rumah Tangga Nelayan Kecil di Pulau-Pulau Kecil (Kasus Pulau Pari) Youwikijaya, Siti Erwina; Kinseng, Rilus A.; Sumarti, Titik; Hilmawan, Arif
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Research Center for Marine and Fisheries Socio-Economic

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marina.v9i2.12003

Abstract

Rumah tangga nelayan kecil di Pulau Pari masuk dalam kelompok rentan akibat perubahan iklim, kerusakan lingkungan perairan, konflik atas lahan, dan akibat Covid-19. Oleh sebab itu, untuk bertahan hidup, rumah tangga nelayan kecil melakukan upaya adaptasi dengan mengombinasi aset dan akses untuk merespons kerentanan nafkah yang dihadapi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penguasaan modal dan akses rumah tangga nelayan kecil atas lima modal, yaitu modal alam, modal sosial, modal ekonomi, modal manusia, dan modal fisik di Pulau Pari. Penelitian ini mengambil kasus di Pulau Pari, Kelurahan Pulau Pari, Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Kabupaten Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2022. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed method dengan menggunakan sequential explanatory strategy. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan melalui survei terhadap 90 responden rumah tangga nelayan kecil dan wawancara mendalam terhadap 8 subjek kasus serta diperkuat dengan FGD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah tangga nelayan kecil memilih melakukan kombinasi aset dan akses, tetapi lapisan atas cenderung menggunakan modal fisik sementara lapisan bawah cenderung menggunakan modal alam dalam melakukan strategi nafkah sebagai upaya bertahan. Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya adalah adanya pengidentifikasian untuk dapat meningkatkan modal sosial dan manusia. Title : Identification of Ownership and Access to Small Fishermen’s Household Capital in Small Islands (Pari Island Case)Small fishing households on Pari Island fall into a vulnerable group due to climate change, damage to the aquatic environment, conflicts over land and the consequences of Covid-19. Therefore, to survive in the household, small fishermen make adaptation efforts by combining assets and access to respond to the assistance they face. This study aims to analyze the mastery of capital and access of small fishing households to five capitals, namely natural capital, social capital, economic capital, human capital, and physical capital in Pari Island. This study took a case in Pari Island, Pari Island Village, South Thousand Islands District, Thousand Islands Regency, DKI Jakarta Province. The research was conducted in March 2022. This research used a mixed method approach using a sequential explanatory strategy. The data collected are primary data and secondary data. Primary data was collected using a survey of 90 small-scale fishing household respondents and in-depth interviews with 8 case subjects and strengthened by FGDs. The results of the study show that small fishing households choose to combine assets and access, but those at the top layer tend to use physical capital while those at the bottom layer tend to use natural capital in carrying out livelihood strategies as a means of survival. Recommendations for further research are the identification of ways to increase social and human capital.
Nelayan Kecil di Perkotaan: Karakteristik Usaha dan Jaringan Sosial dalam Mengakses Pembiayaan di Marunda, Jakarta Utara Muhartono, Rizky; Sumarti, Titik; Saharuddin, Saharuddin; Koeshendrajana, Sonny
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Research Center for Marine and Fisheries Socio-Economic

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marina.v9i1.11919

Abstract

Jakarta merupakan kota yang memiliki berbagai fasilitas pembiayaan, namun masih dijumpai nelayan skala kecil di Marunda yang memiliki hambatan dalam mengaksesnya. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan karakteristik usaha nelayan kecil dan jaringan sosial dalam mengakses pembiayaan. Penelitian dilakukan pada bulan Juli-Desember tahun 2022 yang difokuskan di lokasi Marunda, Jakarta Utara menggunakan metode kualitatif dengan tipe studi kasus. Informan pada penelitian ini sebanyak 30 orang dan dipilih secara purposive, terdiri dari unsur nahkoda, anak buah kapal (ABK), bakul/pedagang pengumpul, koperasi, Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP), penyuluh perikanan, dinas perikanan. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar nelayan di Marunda memiliki dua jenis alat tangkap dengan mayoritas menggunakan jaring dan bubu. Keunikan nelayan ABK di Marunda adalah melakukan penangkapan dengan membawa alat tangkap sendiri dan membayar komisi kepada pemilik perahu. Pada tahap awal usaha, nelayan mengandalkan dana pribadi, dan keluarga. Nelayan yang memiliki aset akan meminjam kepada lembaga pembiayaan formal dan jika tidak punya asset akan meminjam kepada bakul/bos. Pada dasarnya nelayan tidak mau meminjam karena tidak mau terikat dengan bakul/bos ataupun kehawatiran tidak bisa membayar cicilan jika meminjam ke bank. Apabila nelayan mengalami kerugian usaha dan tidak memiliki aset untuk dijaminkan, maka nelayan akan meminjam kepada bakul/bos. Oleh karena itu, kebijakan yang perlu dilakukan adalah membuat program pembiayaan untuk nelayan kecil dengan memperhatikan karakteristik dan jaringan sosialnya. Program harus diprioritaskan pada nelayan yang tidak memiliki modal dan aset. Lembaga pembiayaan informal perlu dilibatkan dalam pengembangan program pembiayaan nelayan tersebut. Tittle: Small-Scale Fishermen in Urban Areas: Business Characteristics and Social Networks in Accessing Financing in Marunda City, North Jakarta Jakarta is a city that has various financing facilities, but there are still small-scale fishermen in Marunda who have problems accessing them. The purpose of this study is to describe the characteristics of small fishing businesses and social networks in accessing financing. This research was conducted in July-December 2022 which focused on the Marunda location, North Jakarta. This research uses qualitative methods with a case study type. The informants in this study were 30 people and were selected purposively, consisting of captains, crew members (ABK), bakul/collecting traders, cooperatives, Marine and Fisheries Business Capital Management Institutions (LPMUKP), fisheries extension workers, fisheries services. Data analysis was carried out in a qualitative descriptive. The results showed that most fishermen in Marunda have two types of fishing gear with the majority using nets and bubu. The uniqueness of ABK fishermen in Marunda is to make catches by bringing their own fishing gear and paying commissions to boat owners. In the early stages, fishermen rely on personal funds, and families. Fishermen who have assets will borrow from formal financing institutions and if they do not have assets will borrow from bakul/bos. Basically, fishermen do not want to borrow because they do not want to be tied to the bakul / boss or worry that they cannot pay installments if they borrow from the bank. If the fisherman experiences a business loss and does not have assets to guarantee, the fisherman will borrow from the bakul/boss. Therefore, the policy that needs to be done is to create a small fisherman financing program by taking into account their characteristics and social networks. Programs should be prioritized on fishermen who do not have capital and assets. Informal financing institutions need to be involved in the development of these fishermen financing programs.
Pengaruh Keberadaan Industri Sawit terhadap Taraf Hidup Rumah Tangga Buruh Pabrik dan Buruh Kebun Sawit (Kasus: Komunitas Desa Bukit Indah dan Desa Giri Kencana, Kecamatan Ketahun, Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu) Adistika, Exciyona; Sumarti, Titik; Siwi, Mahmudi
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] Vol. 8 No. 01 (2024): Maret
Publisher : Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jskpm.v8i01.715

Abstract

Industri sawit merupakan salah satu faktor yang dapat memicu percepatan pembangunan nasional karena memengaruhi taraf hidup masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh karakteristik rumah tangga buruh pabrik dan buruh kebun sawit serta keberadaan industri sawit terhadap taraf hidup rumah tangga buruh pabrik dan buruh kebun sawit. Pendekatan yang digunakan yaitu kuantitatif yang didukung dengan data kualitatif. Penelitian dilaksanakan pada komunitas Desa Bukit Indah dan Desa Giri Kencana dengan jumlah responden yaitu 40 rumah tangga buruh pabrik dan buruh kebun sawit. Teknik pengambilan responden menggunakan cluster random sampling. Data penelitian diolah menggunakan aplikasi Microsoft Excel 2010 dan SPSS version 21 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik rumah tangga buruh pabrik dan buruh kebun sawit tidak berpengaruh secara signifikan terhadap taraf hidup rumah tangganya. Namun, keberadaan industri sawit yang berpengaruh secara signifikan terhadap taraf hidup rumah tangga buruh pabrik dan buruh kebun sawit, yaitu pada variabel tingkat kesempatan kerja dan tingkat dampak terhadap lingkungan. Tingkat kesempatan kerja yang rendah dan tingkat dampak terhadap lingkungan yang tinggi mengakibatkan taraf hidup rumah tangga buruh kebun sawit lebih rendah dibandingkan taraf hidup rumah tangga buruh pabrik.
Gender Analysis on CSR Program of Local Economic Empowerment by PT Holcim Indonesia Tbk Luciani Prastiwi, Debbie; Sumarti, Titik
Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Vol. 6 No. 1 (2012): Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan
Publisher : Departement of Communication and Community Development Sciences, Faculty of Human Ecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.349 KB) | DOI: 10.22500/sodality.v6i1.5804

Abstract

Baitul Maal wa Tamwil (BMT) Swadaya Pribumi is Corporate Social Responsibility (CSR) of local economic empowerment by PT Holcim Indonesia Tbk. Gender analysis is used as an analysis tools to see the success rate of BMT Swadaya Pribumi from a gender perspective by understanding the roles (division of labour) in the household, access, control to get resources (credit, training, and mentoring efforts), and the benefits for participants. Quantitatively, BMT is successful and it has considerd gender practical and strategic gender needs are different between the participants of women and men
Konstruksi Sosial Kuasa Pengetahuan Zakat : Studi Kasus Lembaga Amil Zakat di Propinsi Jambi dan Sumatera Barat Malik, Abdul; Hadi Dharmawan, Arya; Sumarti, Titik
Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Vol. 4 No. 2 (2010): Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan
Publisher : Departement of Communication and Community Development Sciences, Faculty of Human Ecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.678 KB) | DOI: 10.22500/sodality.v4i2.5847

Abstract

The governances of zakat is important to be studied, especially about the dynamics of knowledge, rationality, and interest in zakat governance. This study focused on the battle of knowledge, rationality and conflicts of interest in zakat governance. The approach in this study is a qualitative approach with a methodology constructivism paradigm. The data obtained by phenomenology method with depth interview techniques and documentation. Data were analyzed using structural conflict perspective with Foucaultian style, especially the theory of power and knowledge. The results showed that: there are three spheres of knowledge, that competing to get authorities in the governance of zakat (religious knowledge, modern knowledge and local knowledge). The discourse of the governance of zakat in the LAZ of community was dominated by the religious knowledge and local knowledge, while at the Bazda and LAZ of Semen Padang, discourse is dominated by modern knowledge. Second, the rationality of LAZ of community is asceticism and altruism with the interests of individual piety and social piety, but the rationality of Bazda is developmentalism to achieve integration and uniformity, while the rationality of LAZ Semen Padang is maximize Utility, with profit interests and investment security. Finally, the phenomenon of zakat governances was showed as moral laundering efforts
Co-Authors ., Rokhani A.A. Ketut Agung Cahyawan W Abdul Malik Adawiyah, Sa'diyah El Adistika, Exciyona Ahmad Alam Ahmad Taqi Rayhan Aida Vitayala Aida Vitayala Hubeis Aida Vitayala S. Hubbeis Aida Vitayala S. Hubeis Alfiasari Ambarwati Dwi Astuti Ningrum Anggoro Wakhid Subkhan Hamid Anggriani Syarif, Selvy Arif Satria Armelia Agustina Arya Hadi Dharmawan Asri Sulistiawati Borni Kurniawan, Kharis Fadlan D S Priyarsono Debbie Luciani Prastiwi Dedy Irawan Dhevi Pradipta, Novitha Syari Dian Permata Sari Dian Permata Sari Didin S. Damanhuri Djoko Susanto Dwi Hastuti DWI HASTUTI Edi Puspito Ekawati Sri Wahyuni Eko Wahyono Endriatmo Soetarto Ety Riyani Fahmi Taufiqurrahman Falatehan, Sriwulan Ferindian Feliatra Hamid, Anggoro Wakhid Subkhan Hana Indriana Hardinsyah Haryono Haryono Hilmawan, Arif Iin Sulis Setyowati Ikeu Tanziha Indiati, Laksmi Irni Rahmayani Johan Ivanovich Agusta Iwan Nurhadi Laksmi Indiati Lala M Kolopaking Mahmudi Siwi, Mahmudi Maihasni M Maksum, Mohammad Maliati, Nulwita Melly Amalia Muhammad Obie Muhartono, Rizky Mukhtar Mukhtar Mutmainna . Ningrum, Ambarwati Dwi Astuti Novitha Syari Dhevi Pradipta Nurismawan, Fajar Imani Nurmala Katrina Pandjaitan Okka, Oktavianus Pudji Muljono Rahmawati . Retna Mutiar, Indria Rilus Kinseng Rina Mardiana Riyani, Ety Rokhani Rokhani Ryandi Simanjuntak S Damanhuri, Didin S.M.P. Tjondronegoro Saharuddin Simanjuntak, Asnika Putri Sinta Oktavi Siti Masithoh Siti Nurul Qoriah Soeryo Adiwibowo Sofyan Sjaf Sonny Koeshendrajana Suhaeri Mukti Sumardjo Taufiqurrahman, Fahmi Taufiqurrahman, Fahmi TRI PRANADJI Valenikha Fitri Nadhira Valenikha Fitri Nadhira, Valenikha Fitri Wati, Elva Wulandari w Youwikijaya, Siti Erwina Yunindyawati Yunindyawati Zahri Nasution