Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN SAINS DAN AGAMA: Refleksi Filosofis atas Pemikiran Ian G. Barbour Waston, Waston
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 15, No. 1, Juni 2014
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v15i1.1968

Abstract

This paper investigates Ian G. Barbour?s thoughts on the relationship betweenscience and religion from the perspective of philosophy of knowledge, and observes itsrelevance for the development of Islamic contemporary thought. The research findsthat according to Barbour there are four typologies of the relationship between scienceand religion, namely: (1) Conflict typology, which includes ?Biblical Literalism? and?Scientific Materialism?; (2) Independence typology, which includes ?Contrasting Methods?(including existentialism and neo-orthodoxy) and ?Differing Languages? (i.e.analytic traditions); (3) Dialogue, which contains ?Presuppositions and Limit Questions?,and ?Methodological Parallels?; and (4) Integration, which consists of the three subtypologies?Natural Theology?, ?Theology of Nature?, and ?Systematic Synthesis? (whichis indebted to Whitehead?s process theology). The some opinion comes from Cristianteology, John F. Haught. He finds there are four approachs to study the relation betweenscience and religion, namely: conflict, contras, contact, and confirmation. But Somescholars critize Barbour?s typlogies, among them are Cristian and Islamic teology:Houston Smith and Seyyed Hossein Nasr. Both of the note that Barbour?s integrationhas subordinate theology under science; the theology are modofied for the shake ofscientific invention. For Smith and Nasr, who are the supporters of perennial philoshopy,it is the theology in terms of Tradition that should be the parameter of scientific theories.Key words: Ian Barbour; conflict; dialogue; independence; integration, science-religionrelationship.Makalah ini membahas mengenai pemikiran Ian G. Barbour tentang hubunganantara sains dan agama dari perspektif filsafat ilmu dan bagaimana relevansinya denganperkembangan pemikiran Kristen dan Islam kontemporer. Pembahasan ini menemukan bahwaterdapat empat tipologi hubungan sains dan agama yang dibuat Barbour yaitu: (1) Tipologikonflik, yang melibatkan antara materialisme ilmiah dan literalisme biblical. (2) Tipologiindependen, memisahkan dua tipe itu dalam dua kawasan yang berbeda. Keduanya dapatdibedakan berdasakan masalah yang ditelaah, domain yang dirujuk, dan metode(eksistensialisme dan neo-ortodoksi) yang digunakan dan dua bahasa dan dua fungsinyayang berbeda (tradisi analitik) (3) Tipologi dialog, yang mempertimbangkan pra-anggapandalam upaya ilmiah, atau mengeksplorasi dalam kesejajaran metode antara sains dan agama,(4) Integrasi, yang terdiri dari natural theology, theology of nature, sintesis sistematis (sainsataupun agama memberikan kontribusi pada pengembangan metafisika inklusif seperti telogifilsafat proses Whitehead). Pandangan yang mirip tetapi tak sama dengan Barbour diajukanBarolehJohn F. Haught yang membagi pendekatan ilmu dan agama menjadi: konflik, kontras,kontak, dan konfirmasi. Keempat pandangan ini bisa dilihat sebagai semacam tipologi sepertiyang dibuat Barbour, namun Haught juga melihatnya sebagai semacam perjalanan. Tetapi,terdapat beberapa kritik dari pemikir Kristen dan Islam kontemporer terhadap tipologi yangdibuat oleh Barbour. Diantaranya kritik yang dilakukan oleh Houston Smith dan SeyyedHossein Nasr. Keduanya mengkritik Integrasi Barbour karena di sini teologi tampak sepertiditaklukkan oleh sains; teologi diubah demi mempertimbangkan hasil-hasil pengkajian sain.Bagi Smith dan Nasr yang keduanya pendukung filsafat perenial, yang sebaliknyalah yangseharusnya terjadi: teologi tepatnya Tradisi menjadi tolok ukur teori-teori ilmiah.Kata Kunci: Ian Barbour; konflik; dialog; independen; integrasi; hubungan sain-agama.
Building peace through mystic philosophy: study on the role of Sunan Kalijaga in Java Waston Waston
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 8, No 2 (2018): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v8i2.281-308

Abstract

This paper aims to study the teachings of peace invented in the Javanese tradition particularly by Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga was a Muslim saint in the 15th century AD who taught mystical-philosophical teachings. His role permeates in the Javanese tradition so peaceful values that are embedded in its teachings still be traced and developed. We conducted a literature study on the role, influence and legacy of Sunan Kalijaga. We focused on his philosophical approach to religious thought as oppose to the mystical aspect. Our findings show that Sunan Kalijaga succeeded in using proper choice of words to combine Islamic values and predominant cultural elements (e.g., Hinduism, Buddhism). Therefore, instead of using the Arabic terms, Sunan Kalijaga used many old Javanese and Sanskrit terms commonly used in the 15th-16th century Javanese society. As an implication, Sunan Kalijaga created terms that are less Islamic but loaded with Islamic values. His examination is not only inherited into terms, but also practices, symbols and institutions. Among those Javanese traditions, some of them are critically important in supporting peace-building. This paper reaps the peaceful values of the Sunan teachings in the hope of countering the stream of extreme ideologies that have recently flooded the public. Paper ini bertujuan mengunduh ajaran damai yang ditanam dalam tradisi Jawaterutama yang disemai oleh Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga adalah seorang walipada abad ke 15 M yang memiliki ajaran bersifat mistis-filosofis. Hingga saat ini,pengaruh Sunan Kalijaga sangat terasa dalam tradisi Jawa sehingga nilai-nilaidamai yang ada dalam ajarannya masih dapat ditelusuri dan dikembangkan.Dengan menerapkan studi pustaka, data-data dalam riset ini dikumpulkan darisumber-sumber yang mengkaji Sunan Kalijaga, peran, pengaruh, dan warisanwarisannya.Oleh karena corak pemikiran keagamaan Sunan Kalijaga bersifatmistis-filosofis, maka aspek mistisisme dan pendekatan filsafat juga digunakandalam tulisan ini. Paper ini memaparkan temuan bahwa dalam pratiknya, SunanKalijaga melakukan permainan bahasa yang dengan cara tersebut ia berhasilmemadukan antara nilai-nila i keislaman dengan unsur buda y a dominanyang telah ada sebelumnya yaitu Hindu dan Buddha. Oleh karena itu, alihalihmenggunakan istilah Arab, Sunan Kalijaga justru banyak menggunakanistilah Jawa Kuna dan Sansekerta yang lazim digunakan dalam masyarakat Jawaabad 15-16. Hasil dari upaya tersebut, Sunan Kalijaga menghadirkan istilahistilahyang tampaknya kurang Islami namun sarat muatan nilai-nilai Islam.Ijtihad Sunan Kalijaga tidak hanya terwariskan menjadi istilah-istilah, namunjuga menjadi praktik, simbol bahkan melembaga. Dari beberapa bentuk tradisijawa yang diwariskan Sunan Kalijaga dapat diambil bebera p a nilai pentingyang mendukung iklim damai. Paper ini memetik nilai-nilai damai ajaran sangSunan tersebut dengan harapan dapat membendung arus ideologi ekstrim yangakhir-akhir ini semakin membanjiri ruang publik.
SOLUSI METODOLOGIS AMIN ABDULLAH: PENCIPTAAN “JEMBATAN” ANTARA ILMU DAN AGAMA (Tinjauan Ontologis, Epistemologis dan Aksiologis) Waston waston
Suhuf Vol 27, No 1 (2015): Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dikotomi yang begitu ketat antara ilmu-ilmu agama dan ilmu umum, sangat disayangkan karena telah mengarah pada pemisahan yang tidak bisa dipertemukan lagi antara keduanya dan bahkan cenderung pada penolakan keabsahan masing-masing dengan menggunakan metode yang sangat berbeda dengan sudut jenis dan prosedurnya. Demikian tegas pemisahan di antara mereka, sehingga kedua kelompok ilmu tersebut seakan akan takkan pernah bisa dipersatukan, dan harus dikaji secara terpisah dengan cara dan prosedur yang berlainan. Tulisan ini bermaksud mengungkap bagaimana Amin Abdullah memberikan solusi metodologis untuk menciptakan “jembatan” antara ilmu agama dan ilmu umum. Tulisan ini menggunakan pendekatan filsafat ilmu yaitu landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis. Amin melihat bahwa dalam sistem ilmu yang integratif-interkonektif yang digagasnya pemisahan tersebut masih bisa diatasi dengan menemukan basis ontologis, yang didasarkan pada landasan teoantroposentrik-integralistik.Secara epistemologis, didasarkan pada landasan interconnected entities ( bergabungnya antara hadarah al-nas, hadarah al-ilm, dan hadarah al falsafah). Secara aksiologis, pemikiran Amin didasarkan pada landasan etik yang bersifat transformatif-liberatif. Sejalan dengan epistemologi M. Iqbal, Fazlur Rahman dan Whitehead, Amin berpendapat bahwateologi terbuka terhadap perubahan. Teologi lama bisa dimodifikasi dengan cukup radikal sebagai akibat ilmu pengetahuan  empiris baru tentang alam. Menurut penulis, teologi Amin akan tepat bila disebut “teologi proses” (yang diilhami dari filsafat proses ilmuwan-filosof A.N.Whitehead di awal abad ke-20). Amin biasa menyebutnya dengan istilah  “Qobilun li al niqas wa al-taghyir). Pendapat Amin ini memiliki persamaan dengan pendapat  Whitehead, karena teologi ini dia pandang lebih sesuai dengan teori-teori sains mutakhir. Penulis memberikan  beberapa kritik terhadap pemikiran Amin. Amin tidak pernah mempertanyakan legitimasi epistemik sains. Konsepnya tentang interconnected entities (bergabungnya nash, ilmu dan faslafah) selain memberinya dasar untuk menerima apa yang dinyatakan teori sains sebagai representasi alam, juga mengindikasikan penerimaannnya akan objektivitas dan netralitas sains. Pemikiran Amin memberikan tegangan pemikiran epistemologis dalam Islamic studies, namun jika ketegangan –yang tak selalu berkonotasi buruk- ini diubah menjadi sumber kreativitas, kita bisa berharap pemahaman Islamic studies yang diperoleh melalui pendekatan ilmiah  mampu memperkaya pemahaman keagamaan.
PERAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN DI SEKOLAH DASAR ISLAM TERPADU MUHAMMADIYAH JUMAPOLO KARANGANYAR Waston Waston; Taryanto Taryanto
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 20, No. 1, Juni 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v0i0.8949

Abstract

: The way in improving the quality of education institution or a school is determined by the headmaster leadership in an effective management. The progress of school retreat is inseparable from the role of the principal, because the principal acts as a central force which is the driving force of school life. In order for schools to be able to compete, the principal must be committed to change by carrying out his role as the principal. The totality of the role of the principal must have a vision of the future and be able to actualize all existing potential into a synergistic force in order to achieve educational goals. The research objective is to describe the role of the principal in improving the quality of education in SDIT Muhammadiyah Jumapolo Karanganyar 2018/2019 academic year. This type of research is in the form of field research with qualitative descriptive analysis, and uses a sociological approach. Methods of collecting data through interviews, observation, and documentation. The results of this study indicate that, First, the role of principals in improving the quality of education in SDIT Muhmamadiyah Jumapolo is realized by: 1) Increasing teacher professionalism, 2) Improving the quality of learning, 3) Improving facilities and infrastructure, 4) Increasing student learning motivation. Second, the principal's strategy in improving the quality of education at SDIT Muhmamadiyah Jumapolo is done by: 1) Increasing teacher professionalism carried out with the OJT period (On Job Training) for new teachers and self-development for old teachers and intensive motivational development, 2) Improving the quality of learning done by integrating four curricula (DIKNAS, KEMENAG, PONPES GONTOR and ISMUBA) with a variety of learning methods approach 3) Improvement of facilities and infrastructure carried out by optimizing the utilization of existing SARPRAS and procurement of SARPRAS needed, 4) Increasing motivation for student learning by giving reward and punishman, giving praise and competition.The key word: visionary leadership, headmaster, quality of education. Third, the obstacles and solutions to the role of principals in improving the quality of education at SDIT Muhmamadiyah Jumapolo include: 1) Increasing teacher professionalism such as teacher recruitment that is not suitable for qualifications. The solution is to participate in self-development activities and re-study or further study, 2) Improving the quality of learning such as school status that is not ful day school. The solution is by organizing material and reducing material in the gontor curriculum, 3) Improving facilities and infrastructure such as funding problems. The solution is cooperation with student guardians and donors, 4) Increased learning motivation of students such as children lacking assistance at home. The solution is intense collaboration and communication between the teacher and parents of children through via cell phones, contact books and home visits.Abstrak: Upaya memperbaiki kualitas dalam suatu lembaga pendidikan atau sekolah sangat ditentukan oleh kepemimpinan kepala sekolah dalam manajemen yang efektif. Maju mundurnya sekolah tidak terlepas dari peran kepala sekolah, karena kepala sekolah berperan sebagai kekuatan sentral yang menjadi kekuatan penggerak kehidupan sekolah. Agar sekolah mampu bersaing, kepala sekolah harus memiliki komitmen dalam perubahan dengan menjalankan perannya sebagai kepala sekolah. Totalitas peran kepala sekolah harus mempunyai visi masa depan serta mampu mengaktualisasikan seluruh potensi yang ada menjadi sesuatu kekuatan yang bersinergi guna mencapai tujuan pendidikan. Tujuan penelitian adalah mendiskripsikan peran kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan di SDIT Muhammadiyah Jumapolo Karanganyar tahun pelajaran 2018/2019. Jenis penelitian ini berupa penelitian lapangan dengan analisis deskriptif kualitatif, dan memakai pendekatan sosiologis. Metode pengumpulan data dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, Pertama, peran kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan di SDIT Muhmamadiyah Jumapolo diwujudkan dengan: 1)Peningkatan profesionalisme guru, 2)Peningkatan kualitas pembelajaran, 3)Peningkatan sarana dan prasarana, 4)Peningkatan motifasi belajar siswa. Kedua, strategi kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan di SDIT Muhmamadiyah Jumapolo dilakukan dengan: 1)Peningkatan profesionalisme guru dilakukan dengan masa OJT (On Job Training) bagi guru baru dan pengembangan diri bagi guru lama serta pembinaan motivasi secara intensif, 2)Peningkatan kualitas pembelajaran dilakukan dengan mengintegrasikan empat kurikulum (DIKNAS, KEMENAG, PONPES GONTOR dan ISMUBA) dengan pendekatan berbagai metode pembelajaran 3)Peningkatan sarana dan prasarana dilakukan dengan cara optimalisasi pemanfaatan SARPRAS yang ada dan pengadaan SARPRAS yang dibutuhkan, 4)Peningkatan motifasi belajar siswa dilakukan dengan cara pemberian reward dan punishman, pemberian pujian dan kompetisi. Ketiga, kendala dan solusi peran kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan di SDIT Muhmamadiyah Jumapolo diantaranya: 1)Peningkatan profesionalisme guru seperti rekruetmen guru yang tidak sesuai kualifikasi. Solusinya adalah dengan menguikutsertakan dalam kegiatan pengembangan diri dan studi ulang atau study lanjut, 2)Peningkatan kualitas pembelajaran seperti status sekolah yang bukan ful day school. Solusinya dengan pengorganisasian materi dan pengurangan materi di kurikulum gontor, 3)Peningkatan sarana dan prasarana seperti masalah pendanaan. Solusinya adalah kerja sama dengan wali murid dan pendonatur, 4)Peningkatan motifasi belajar siswa seperti anak kurang pendampingan di rumah. Solusinya adalah kerja sama dan komunikasi intens antara guru dan orang tua anak melalui via HP, buku penghubung dan home visit.
HUBUNGAN SAINS DAN AGAMA: Refleksi Filosofis atas Pemikiran Ian G. Barbour Waston Waston
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 15, No. 1, Juni 2014
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v15i1.1968

Abstract

This paper investigates Ian G. Barbour’s thoughts on the relationship betweenscience and religion from the perspective of philosophy of knowledge, and observes itsrelevance for the development of Islamic contemporary thought. The research findsthat according to Barbour there are four typologies of the relationship between scienceand religion, namely: (1) Conflict typology, which includes ‘Biblical Literalism’ and‘Scientific Materialism’; (2) Independence typology, which includes ‘Contrasting Methods’(including existentialism and neo-orthodoxy) and ‘Differing Languages’ (i.e.analytic traditions); (3) Dialogue, which contains ‘Presuppositions and Limit Questions’,and ‘Methodological Parallels’; and (4) Integration, which consists of the three subtypologies‘Natural Theology’, ‘Theology of Nature’, and ‘Systematic Synthesis’ (whichis indebted to Whitehead’s process theology). The some opinion comes from Cristianteology, John F. Haught. He finds there are four approachs to study the relation betweenscience and religion, namely: conflict, contras, contact, and confirmation. But Somescholars critize Barbour’s typlogies, among them are Cristian and Islamic teology:Houston Smith and Seyyed Hossein Nasr. Both of the note that Barbour’s integrationhas subordinate theology under science; the theology are modofied for the shake ofscientific invention. For Smith and Nasr, who are the supporters of perennial philoshopy,it is the theology in terms of Tradition that should be the parameter of scientific theories.Key words: Ian Barbour; conflict; dialogue; independence; integration, science-religionrelationship.Makalah ini membahas mengenai pemikiran Ian G. Barbour tentang hubunganantara sains dan agama dari perspektif filsafat ilmu dan bagaimana relevansinya denganperkembangan pemikiran Kristen dan Islam kontemporer. Pembahasan ini menemukan bahwaterdapat empat tipologi hubungan sains dan agama yang dibuat Barbour yaitu: (1) Tipologikonflik, yang melibatkan antara materialisme ilmiah dan literalisme biblical. (2) Tipologiindependen, memisahkan dua tipe itu dalam dua kawasan yang berbeda. Keduanya dapatdibedakan berdasakan masalah yang ditelaah, domain yang dirujuk, dan metode(eksistensialisme dan neo-ortodoksi) yang digunakan dan dua bahasa dan dua fungsinyayang berbeda (tradisi analitik) (3) Tipologi dialog, yang mempertimbangkan pra-anggapandalam upaya ilmiah, atau mengeksplorasi dalam kesejajaran metode antara sains dan agama,(4) Integrasi, yang terdiri dari natural theology, theology of nature, sintesis sistematis (sainsataupun agama memberikan kontribusi pada pengembangan metafisika inklusif seperti telogifilsafat proses Whitehead). Pandangan yang mirip tetapi tak sama dengan Barbour diajukanBarolehJohn F. Haught yang membagi pendekatan ilmu dan agama menjadi: konflik, kontras,kontak, dan konfirmasi. Keempat pandangan ini bisa dilihat sebagai semacam tipologi sepertiyang dibuat Barbour, namun Haught juga melihatnya sebagai semacam perjalanan. Tetapi,terdapat beberapa kritik dari pemikir Kristen dan Islam kontemporer terhadap tipologi yangdibuat oleh Barbour. Diantaranya kritik yang dilakukan oleh Houston Smith dan SeyyedHossein Nasr. Keduanya mengkritik Integrasi Barbour karena di sini teologi tampak sepertiditaklukkan oleh sains; teologi diubah demi mempertimbangkan hasil-hasil pengkajian sain.Bagi Smith dan Nasr yang keduanya pendukung filsafat perenial, yang sebaliknyalah yangseharusnya terjadi: teologi tepatnya Tradisi menjadi tolok ukur teori-teori ilmiah.Kata Kunci: Ian Barbour; konflik; dialog; independen; integrasi; hubungan sain-agama.
PEMIKIRAN EPISTEMOLOGI AMIN ABDULLAH DAN RELEVANSINYA BAGI PENDIDIKAN TINGGI DI INDONESIA Waston Waston
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 17, No. 1, Juni 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v17i01.2102

Abstract

The relation between religion and science seems to be the dichotomous view. Bothof them are like oil and water, two entities that cannot be reunited and separated. Due to “thisdispute”, science often misses their ethics, so science and modern technology have actuallyhumanized humans and distanced them from their nature. The conflict between them forcesmany intellectual Muslims to make “epistemology bridge” for reconciling science and religion.One of them is M. Amin Abdullah, who argues with the concept of integration-interconnectionwhich is the effort to avoid the dichotomous view of the science and religion (especiallyIslam-science) and in the epistemology view, the concept is to close back all disciplines so thereare dialogues, communications, relationships, and mutual help. This article aims to discussthe epistemology thought of M. Amin Abdullah concerning on integration-interconnectionwith its methodology and relevance for the scientific development of higher education in Indonesia.Keywords: Epistemology; Islam; science; Integration-interconnection.Abstrak: Hubungan antara agama dan ilmu pengetahuan tampaknya menjadi pandangandikotomis. Keduanya ibarat minyak dan air, dua entitas yang tidak bisa bersatu kembali dandipisahkan. Karena “sengketa ini” ilmu pengetahuan mencoba merangkul konsep-konsep agamadan etika agar ilmu pengetahuan-teknologi memiliki nuansa yang manusiawi. Konflikantara keduanya memaksa kaum Muslim intelektual membuat “jembatan epistemologi” untukmendamaikan sains dan agama. Salah satunya adalah M. Amin Abdullah, yang berpendapatbahwa konsep integrasi-interkoneksi yang merupakan upaya untuk menghindari pandangandikotomis dari ilmu dan agama (khususnya Islam-ilmu) dan dalam pandangan epistemologi,konsep ini mencoba menawarkan kembali semua disiplin ilmu sehingga ada dialogisasi, komunikasi,sinergitas, dan hubungan saling membantu. Artikel ini bertujuan untuk membahasepistemologi pemikiran M. Amin Abdullah berkenaan konsep integrasi-interkoneksi denganmetodologi dan relevansinya bagi pengembangan ilmu pengetahuan pendidikan tinggi di Indonesia.Kata kunci: Epistemologi; Islam; ilmu pengetahuan; Integrasi-interkoneksi.
KRITIK TERHADAP EPISTEMOLOGI UNIVERSAL DECLARATION OF HUMAN RIGHTS: PERSPEKTIF ISLAM Afdal Afdal; Waston Waston
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 16, No. 2, Desember 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v16i2.1845

Abstract

Since established, Universal Declaracion of Human Rights (UDHR) upheldas a global value by all the countries in the world. UDHR through the UN as a referenceas a common standard for measuring the level of success of a country in upholdinghuman rights. How this study focus on the implications of the secular epistemologyagainst the substance of the Universal Declaration Of Human Rights? and How doesIslam look at epistemology Universal Declaration Of Human Rights? To answer thesequestions used the data of literature with a philosophical approach as research methodsand using several analytical tools such as interpretation, induction and deduction,internal coherence, holistika and description. Results from this study indicate that thesecular epistemology epistemology UDHR as the foundation material implicationsfor cargo. Substance of the UDHR can be translated very freely and without limitvalues mengabaiakan even religiosity. Humans are considered as central, source anddestination at the same time the fi nal orientation of each human behavior. Religionand God are not regarded as something sacred, but only considered as a complement tohuman life into the realm of free privatization adopted or not by each individual. Such aview is contrary to Islam. Islam holds that religion and God is something that is sacredand can not be separated from every facet of human life. God is central, as well as sourceand destination end orientation every human behavior.Keywords: epistemology; human rights; the Islamic human rights.
PENDIDIKAN ANAK DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI ISLAM (STUDI PEMIKIRAN PROF. DR. ZAKIYAH DARADJAT) Waston Waston; Miftahudin Rois
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol, 18. No, 1 Juni 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v18i1.6298

Abstract

The background of this research is the discovery of educators often less understood aspects of child psychology in education. Komnas PA via Media Center, noted that the majority of child abuse occurs in the immediate environment such as home and school, 62 percent of child abuse occur in the immediate environment of family and school environment, the remaining 38 percent in the public space, coupled with the state of Islamic education that was not based on the psychology of Islam. The purpose of this study is to describe the rationale Zakiyah about children's education, and invented the concept of children's education in psychology perspective of Islam, and its implications for Islamic education. This type of research library research, data collection techniques using the documentation, after the data is collected and analyzed by descriptive analysis and content analysis. The first results of this study: Zakiyah have a view of the basic concepts of human has three main dimensions, namely, physical, psychological, spiritual. Zakiyah refer to mankind as a pedagogic, then the pedagogical process Zakiyah grounded on the theory of convergence. Parenting education in children should be in accordance with the child's psychological condition, namely the authoritative style. Second: to educate the perspective piskologi Islam, will make children more healthy soul to those who have a peak physical condition, mental aptitude intellectual (IQ) is high, the health condition of the soul / kepibadian mature and stable in mental emosinalnya (EQ), integrity high personality (mental-social), and has the firmness of faith and Islam. Third, the psychological concepts of Islam which has four dimensions, it will have implications for the study of Islam, namely to create a balanced growth of the human personality as a whole, by training the soul, a mind, physical, ruhaniahnya, because basically the entire education should pursue the growth of human potential.Latar belakang penelitian ini adalah sering ditemukannya para pendidik yang kurang memahami aspek-aspek psikologi anak dalam pendidikan. Komnas PA melalui Pusdatin, mencatat, sebagian besar kekerasan anak terjadi di lingkungan terdekat seperti rumah dan sekolah, 62 persen kekerasan terhadap anak terjadi di lingkungan terdekat keluarga dan lingkungan sekolah, selebihnya 38 persen di ruang publik, ditambah lagi dengan  keadaan pendidikan Islam  yang ternyata tidak dilandasi dengan psikologi Islam. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan dasar pemikiran Zakiyah tentang pendidikan anak, dan menemukan konsep pendidikan anak dalam perspektif psikologi Islam, serta implikasinya terhadap pendidikan Islam. Jenis penelitian ini library research, teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi, setelah data terkumpul kemudian dianalisis dengan analisis deskriptif dan content analysis. Hasil penelitian ini yang pertama: Zakiyah memiliki pandangan terhadap konsep dasar manusia yang memiliki tiga dimensi utama yaitu, fisik, psikis, spiritual. Zakiyah menyebut manusia sebagai makhluk pedagogik, kemudian pada proses pedagogiknya Zakiyah melandaskan pada teori konvergensi. Pola asuh pendidikan pada anak harus sesuai dengan kondisi psikologis anak, yaitu dengan gaya autoritatif.  Kedua: mendidik dengan persepektif piskologi Islam, akan menjadikan anak lebih sehat jiwanya yaitu mereka yang memiliki kondisi fisik yang prima, kecerdasan mental intelektual (IQ) yang tinggi, kondisi kesehatan jiwa/kepibadian yang matang dan stabil dalam mental emosinalnya (EQ), mempunyai integritas kepribadian yang tinggi (mental-sosial), dan mempunyai keteguhan iman dan Islam. Ketiga, konsep psikologi Islam yang memiliki empat dimensi itu, akan berimplikasi pada pendidikan Islam, yaitu menciptakan keseimbangan pertumbuhan kepribadian manusia secara menyeluruh, dengan cara melatih jiwa, akal pikiran, fisik, ruhaniahnya, karena pada dasarnya pendidikan harus mengupayakan tumbuhnya seluruh potensi manusia.
LEARNING MANAGEMENT BASED ON MULTICULTURAL AT ISLAMIC BOARDING SCHOOL DARUSY SYAHADAH SIMO BOYOLALI Deddy Ramdhani; Musa Asy’arie; Waston Waston; Muh. Nur Rochim Maksum; Meti Fatimah
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 23, No. 1, Juni 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v23i1.16789

Abstract

Islamic Boarding School has the main task to develop religious values in students. But on the other hand, boarding schools must develop social intelligence by actualizing multicultural education. This research aims to find out the planning, implementation, and evaluation of learning that contains multicultural values in Islamic boarding school Darusy Syahadah Simo Boyolali. This type of research is field research, with qualitative descriptive methods and using a phenomenological approach. Data collection techniques use interview, observation, and documentation methods. While the data analysis technique used is interpretive descriptive analysis. There are three results from this study. First, learning planning seen from the perspective of multicultural education has contained multicultural values such as the value of togetherness, and the value of democracy is seen in the learning planning process which involves many parties to conduct group discussions (musyawarah). While the value that contradicts multicultural values is born from the non-creation of products from the planning process in the form of learning tools such as syllabuses and documented learning implementation plans. Second, the implementation of his learning is seen from the strategies used that have contained multicultural values such as the values of democracy, tolerance, justice, togetherness, peace, solidarity. While the contradictory value of multicultural values there are values of injustice and the value of discrimination in interacting between students and teachers in the process of learning activities. Third, the evaluation of learning contains multicultural values in terms of processes and products such as democratic values, values of justice, diversity, tolerance, peace. At the same time, there is also a contradictory value characterized by the value of a conflict, hegemony, and dominance among the students in interacting daily in the environment of Islamic boarding school Darusy Syahadah. 
Strategi Menang Dalam Revolusi Industri 4.0 (Perspektif Filsafat Thomas Kuhn) Waston Waston
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 10th University Research Colloquium 2019: Bidang Pendidikan, Humaniora dan Agama
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.266 KB)

Abstract

Peralihan Revolusi Industri pertama (1.0) hingga saat ini (4.0)terbilang kilat dalam ukuran peradaban manusia. Pada saat KarlPopper dan orang-orang sezamannya melihat gerak ilmu secaraevolutif, Thomas Kuhn (1922-1996) menjadi orang pertama yangberani menyatakan bahwa ilmu bergerak secara revolutif. Olehkarena itu, paradigma Thomas Kuhn merupakan cara pandang yangpaling siap untuk menghadapi revolusi saintifik dibandingkanparadigma filsafat lainnya. Tidak disangkal oleh siapapun, revolusiIndustri pada hakikatnya adalah revolusi saintifik. Setiap perubahanpada sektor Industri selalu dimotori oleh perubahan pada ranahsains dan teknologi. Oleh karena itu sangat penting untuk melihatRevolusi Industri dalam perspektif Revolusi Saintifik sebagaimanadilakukan oleh Thomas Kuhn. Setidaknya terdapat 4 langkahstrategis dalam menghadapi sebuah revolusi Industri sesuaiparadigma Scientific Revolution Thomas Kuhn: pertama, menjadikanpenguasaan sains-teknologi baru sebagai sebuah kewajiban. Hal inikarena sains-teknologi baru dalam revolusi Industri 4.0, menurutparadigma Kuhn, telah menjadi normal science; sehingga manusiayang tidak menguasainya, sebenarnya tidak dapat disebut normal.Kedua, normal science pada saatnya nanti akan berhadapan dengananomali-anomali. Revolusi Industri 4.0 yang kini dielu-elukan padasaatnya nanti akan menampilkan ekses-ekses negatifnya. Makadiperlukan sikap kritis untuk mengenali anomali-anomali itu. Ketiga,anomali akan memunculkan crisis dan menuntut hadirnya revolusiberikutnya. Krisis ini tidak hanya berdampak pada dimensi ekonomi,namun juga sosial budaya, sehingga perlu persiapan khusus agardapat bertahan dalam krisis dan bertransformasi menuju revolusiberikutnya. Keempat, temuan-temuan baru yang nantinya munculakan menjadi juru selamat dari krisis sekaligus pembuka jalan bagirevolusi selanjutnya. Artinya, perlu ada upaya terus menerus untukgerak keilmuan yang bersifat discovery dan invention. Pendidikanharus diubah orientasinya dari sekedar penguasaan sains-teknologimenjadi orientasi penemuan-penemuan baru. Empat kesadarantersebut menjadi landasan strategi untuk menang dalam setiaptahapan revolusi. Dengan demikian, perspektif Thomas Kuhn yangdiulas dalam penelitian kefilsafatan ini bukan sekedar untukmenaklukkan Revolusi Industri 4.0, namun bagaimana strategi agarmampu mencuri start untuk mempelopori dan memenangkan revolusiindustri berikutnya (5.0).