p-Index From 2021 - 2026
8.025
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Humaniora Dialektika Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya Litera Lingua Didaktika: Jurnal Bahasa dan Pembelajaran Bahasa Indonesian Journal of Applied Linguistics (IJAL) BAHASTRA BAHASA DAN SASTRA Lingua Cultura LITERASI: Jurnal Ilmu-Ilmu Humaniora Semantik : Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Jurnal Arbitrer KEMBARA Kajian Linguistik dan Sastra Jurnal Gramatika Indonesian Language Education and Literature International Journal of Humanity Studies (IJHS) Jurnal Orientasi Baru Briliant: Jurnal Riset dan Konseptual Aksara RETORIKA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Diglosia Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Pendas : Jurnah Ilmiah Pendidikan Dasar Kandai Adabiyyat: Jurnal Bahasa dan Sastra Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni Linguistik Indonesia Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa SALINGKA Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Suar Betang Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Bahtera Indonesia; Jurnal Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia Imajeri: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia SCAFFOLDING: Jurnal Pendidikan Islam dan Multikulturalisme Jurnal Edukasi Sumba (JES) Jurnal Pena Indonesia Loa : Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan TANDA: Jurnal Kajian Budaya, Bahasa dan Sastra Journal of Pragmatics and Discourse Research Jurnal Gramatika: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajaran BAHASTRA Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Aksara JURNAL PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN MISSIO Majalah Ilmiah Bahasa dan Sastra Sawerigading Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Claim Missing Document
Check
Articles

PERAN KONTEKS SIBERTEKS MULTIMODAL VISUAL DALAM MENGUNGKAP MAKSUD PENUTUR DI RUANG PUBLIK MAYA Rahardi, Kunjana
Linguistik Indonesia Vol. 42 No. 1 (2024): Linguistik Indonesia
Publisher : Masyarakat Linguistik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/li.v42i1.604

Abstract

Studi perihal maksud penutur dalam cyberpragmatics perlu terus digelorakan karena konteks konvensional dalam berkomunikasi di era teknologi informasi telah bergeser dan berubah wujud menjadi konteks siberteks berdimensi multimodalitas. Konteks siberteks berdimensi multimodalitas ini tidak lepas dari kehadiran teknologi internet dalam berbagai bidang sebagai wujud nyata dari perkembangan budaya masyarakat digital. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peran konteks siberteks visual sebagai pengungkap maksud yang paling dominan dalam kajian cyberpragmatics berperspektif multimodal sosio-semiotik (Kress & Leeuwen, 2011). Penelitian ini berjenis deskriptif-kualitatif. Teori yang dijadikan dasar penelitian konteks siberteks visual ini adalah teori makna pragmatik, cyberpragmatics, dan multimodalitas sosio-semiotik. Data penelitian berupa teks-teks siber berdimensi visual dalam berbagai jenis media sosial yang memiliki wujud konteks siberteks visual sebagai pengungkap maksud penutur. Metode pengumpulan data yang diterapkan adalah metode simak dengan teknik baca-catat. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian adalah metode analisis padan ekstralingual. Teknik yang diterapkan untuk menganalisis data adalah teknik hubung banding. Langkah terakhir tahapan analisis data adalah pemaknaan atau interpretasi yang selanjutnya disajikan dengan metode informal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konteks siberteks visual memiliki peran yang paling dominan sebagai wahana pengungkap maksud penutur dalam berkomunikasi di media sosial. Sebagai pengungkap maksud yang paling diminan, konteks siberteks visual tersebut memerankan fungsi-fungsi berikut: (1) memperjelas maksud tuturan; (2) mempertegas maksud tuturan; (3) melatarbelakangi maksud tuturan; (4) mendukung maksud tuturan; (5) memerinci maksud tuturan.
DOMINANSI TIPE-TIPE ARGUMENTASI ANAK-ANAK USIA DINI DALAM PERSPEKTIF STEPHEN TOULMIN: STUDI KASUS DICTO DAN IVO Setyaningsih, Yuliana; R. Kunjana Rahardi
Linguistik Indonesia Vol. 42 No. 2 (2024): Linguistik Indonesia
Publisher : Masyarakat Linguistik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/li.v42i2.616

Abstract

Kajian terhadap penalaran anak usia dini erat kaitannya dengan perkembangan metakognisi anak. Anak yang kuat mengemukakan argumennya dalam berkomunikasi biasanya mempunyai kemampuan metakognitif yang tinggi. Kajian mengenai hal ini masih sangat jarang ditemukan di Indonesia berdasarkan penelusuran peneliti dari berbagai sumber referensi yang dapat diakses. Sementara itu, argumen-argumen tersebut mendesak untuk dideskripsikan mengingat keterkaitannya dengan perkembangan metakognitif anak muda sebagai generasi penerus bangsa. Berdasarkan asumsi tersebut maka dilakukan penelitian terhadap argumentasi anak usia dini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dominasi tipe argumentasi pada anak usia dini. Perspektif teoritis yang digunakan adalah teori argumen Stephen Toulmin. Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus. Studi kasus ini menempatkan Dicto dan Ivo sebagai subjek penelitian ini. Kedua anak kecil tersebut berjenis kelamin laki-laki, Dicto berusia 4 tahun berlatar belakang etnis Sunda, sedangkan Ivo berusia 6 tahun berlatar belakang etnis Jawa. Data penelitian ini berupa tuturan argumentatif berupa sejumlah klaim yang merupakan tanggapan terhadap situasi yang dikonstruksikan peneliti sebagai instrumen penelitiannya. Peneliti menganalisis transkripsi teks video atau audio yang berisi tanggapan spontan terhadap situasi yang dikonstruksi oleh peneliti dan disampaikan kepada kedua subjek penelitian melalui orang tuanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe argumentasi yang dominan pada anak usia dini adalah tipe Claim + Ground.
MAKNA SEMIOTIKA PADA MAKANAN SUP KHAS KOREA KAJIAN: EKOLINGUISTIK METAFORIS Kim , Eun Sook; Rahardi, R. Kunjana; Widharyanto, B.; Lestari, Dyah Puji
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 7 No. 2 (2024): Volume 7 No. 2 Tahun 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v7i2.26339

Abstract

Tujuan penelitian ini mendeskripsikan merupakan makanan sup tradisional yang terdapat seluruh Korea Selatan. Macam dari sup tradisional Khas Korea yaitu: Miyeokguk (???) atau sup lumput laut, Samgyetang(???) atau sup ayam, Haejangguk(???) atau sup sayur dengan camourang daging, Galbitang(???) atau sup iga, dan terakhir adalah sup Seogogi Muguk ( ??? ??) atau sup daging sapi. Tujuan penelitian dilakukan ialah memperoleh penggambaran dari keberadaan sup-sup khas tradisional di negara Korea Selatan. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan mengumpulkan data dengan melakukan observasi dan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat dua versi tradisi khas sup Korea Selatan, yaitu apa yang makna tradisional dan apa yang perbedaan khas sup di Korea Selatan. Dalam pembuatan tradisional khas sup-sup Korea Selatan sudah menyediakan tempat untuk wisata kuliner yaitu, di Seoul, di Gangnam dan di Leeteawon.
Substantive feasibility of the implementation of the final product development of ecolinguistic learning model in the perspective of green ecology Rahardi, R. Kunjana
BAHASTRA Vol. 43 No. 2 (2023): BAHASTRA
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26555/bs.v43i2.475

Abstract

Damage to the natural environment caused by exploitation, deforestation and uncontrolled deforestation is also a major concern. The Indonesian Language Education Study Program at the Masters Program, Sanata Dharma University has included the Ecolinguistics course since its establishment in 2015. The purpose of this research was formulated as follow: Describe the feasibility of developing a Naturalistic Ecolinguistic learning model in the perspective of Green Ecology. The research and development steps follow the model proposed by Borg and Gall consisting of the following stages: a) The initial stage involves research and data collection by collecting relevant information to formulate a product design framework. b) The planning stage involves making a product development plan. c) The product draft development stage involves the initial development of the ecolinguistic learning model design. d) The initial field trial phase involved limited field trials to collect data to be used as a basis for product design revisions. e) The main product revision stage. f) The main field trial phase involves a wider trial of the ecolinguistic learning model design product. g) The product improvement stage based on field test results involves product design improvements based on input from field trials. h) The field implementation test phase involves testing the product design. i) The final product improvement stage. j) The dissemination and implementation phase focuses on disseminating the ecolinguistic learning model. The research results showed that 43% of respondents stated that it was suitable for use with revisions according to the notes and 57% of respondents stated that it was suitable for use without revisions. Thus, it can be concluded that the ecolinguistic learning model for the Indonesian Language Education Masters Program is feasible to implement without revision.
Socio-political hoaxes in virtual public space: Assertive illocutionary manifestations of dishonesty in a critical pragmatics perspective Rahardi, R. Kunjana; Firda Utami , Septa
BAHASTRA Vol. 44 No. 2 (2024): BAHASTRA
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26555/bs.v44i2.998

Abstract

Fake news in a socio-political context is a form of language abuse that aims to create chaos and influence public opinion wrongly. The purpose of this study is (1) to describe the purpose of socio-political hoaxes in the public space as a clear manifestation of dishonesty. (2) Describe the purpose of socio-political hoaxes in the public space as a clear manifestation of dishonesty. This study applies a qualitative descriptive approach to explore the complexity of language phenomena in the context of socio-political hoaxes. The research data is a snippet of a speech of socio-political reality on social media. The data collection method is a listening method that involves reading and recording social media content. In the analysis stage, additional language matching methods are applied to connect the language used with the relevant social, cultural, and situational context. The analysis steps carried out include identification, classification, typification, and interpretation. The findings of the embodiment of the form and purpose of this research are presented as follows: (1) Fake content with the aim of provoking and misleading the public; (2) Fake video content with the purpose of misleading and lying; (3) False illustrations with the aim of deceiving the public; (4) False content with the purpose of defaming and deceiving the public; (5) False content with the purpose of inciting and misleading the public; (6) Hoaxes with the purpose of insulting and defaming; (7) False content with the aim of inciting and misleading the public.
Communication literacy in podcast media: An inferential-ostentive discursive pragmatics perspective Rahardi, R. Kunjana; Noviance, Kristina Marta
BAHASTRA Vol. 45 No. 1 (2025): BAHASTRA
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26555/bs.v45i1.1374

Abstract

This study describes the pragmatic meanings of phatic communication in podcast media from a discursive pragmatic perspective based on inferential-ostentive intent. The data source comes from seven episodes of the Agak Laen podcast titled "Didn't Get Angry Even After Crashing a Pajero? 'Habib, I'm Just Happy'" featuring Habib Husein Ja'far Al-Hadar and hosts Boris Bokir, Oki Rengga, Bene Dion, and Indra Jegel. Data collection employed the listening method with note-taking techniques, followed by data reduction and classification. Data analysis used the contextual analysis method involving conventional and virtual contexts, with multimodality-based cybertextual context being the most dominant, along with social, societal, situational, and cultural contexts. Research steps included identification, reduction, interpretation, and presentation of data analysis results. The results of this study are: (1) The pragmatic meaning of the phatic communication of greetings, (2) The pragmatic meaning of the phatic communication of jokes, and (3) The pragmatic meaning of the phatic communication of affirmations. Among the total data analyzed, greetings accounted for 41%, jokes for 36%, and affirmations for 23%, indicating that greetings were the most dominant form of phatic communication found in the podcast. The results of this study are believed to be very useful in developing the science of pragmatics, especially integrative pragmatics which is the integration of discursive pragmatics and multimodality in its five dimensions, namely visual, spatial, gestural, aural, and linguistic.
NEGOTIATING IDENTITY AND POWER THROUGH ANGER: A SOCIO-PRAGMATIC STUDY OF JAVANESE MINORITY VOICES IN DIGITAL INTERACTION Rahardi, R. Kunjana; Rahmat, Wahyudi
Journal of Pragmatics and Discourse Research Vol 6, No 1 (2026)
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/jpdr.v6i1.1587

Abstract

This study investigates how anger functions as a communicative strategy for negotiating identity, power, and social hierarchy within the context of Javanese interaction, particularly among speakers who represent a cultural minority within Indonesia’s broader linguistic landscape. Moving beyond universalist interpretations of anger as purely an emotional outburst, this study conceptualizes anger as a culturally situated and socially meaningful act. Using a socio-pragmatic framework grounded in Goffman’s face theory and Brown and Levinson’s politeness model, the study qualitatively analyzes naturally occurring expressions of anger collected from Javanese digital discourse. The analysis reveals that anger is not merely an antisocial or impolite act but a pragmatic performance that affirms self-worth, challenges authority, and restores disrupted social balance. Five dominant identity functions of anger emerge: self-assertion, defense of dignity, moral correction, contestation of disrespect, and negotiation of masculinity. These functions highlight how anger, while face-threatening, becomes a resource for identity positioning and community solidarity within Javanese cultural logic. Furthermore, digital environments allow speakers to reframe traditional norms of emotional restraint, reflecting a generational shift in how minority identities express moral and social legitimacy. The study contributes to understanding the intersection between culture, emotion, and discourse by revealing how anger articulates both vulnerability and empowerment within culturally embedded communicative systems.
Lullabying in Javanese Caregiver-Infant Interaction: A Discursive-Integrative Pragmatic Approach Rahardi, R. Kunjana; Firdaus, Winci
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8384

Abstract

The objective of this research was to depict pragmatic functions of lullabying within the Javanese cultural context, examining how linguistic practices in early infant caregiving facilitate emotional bonding, cultural transmission, and behavioral socialization. Utilizing a qualitative, discursive-integrative pragmatic framework, the research employs multimodal discourse analysis on verbal lullabies collected from digital social media platforms, notably TikTok. Data were collected using the observation method combined with the note-taking technique. Subsequently, the data were analyzed through the application of a contextual analysis method. The results of the analysis reveal five pragmatic functions of lullabying in Javanese caregiving practices. These five functions are as follows: (1) shooting songs using metaphorical language to convey protection and comfort; (2) onomatopoeic refrains that leverage rhythmic repetition to capture attention and induce calm; (3) ludic and culturally embedded references connecting infants to Javanese heritage; (4) vernacular intimacy that subtly guides behavior through affectionate, colloquial speech; and (5) playful nonsense lullabies infused with domestic referentiality to create soothing yet engaging interactions. These findings reveal lullabying as a complex pragmatic performance deeply rooted in Javanese values such as humility, social harmony, and compassion, serving not only as a means of soothing but also as a culturally specific mechanism for early moral and social education. Abstrak Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan fungsi-fungsi pragmatik dari aktivitas meninabobokan dalam konteks budaya Jawa, dengan menelaah bagaimana praktik kebahasaan dalam pengasuhan bayi pada tahap awal berperan dalam membangun ikatan emosional, mentransmisikan nilai budaya, serta melakukan sosialisasi perilaku. Dengan menggunakan kerangka pragmatik kualitatif berorientasi diskursif-integratif, penelitian ini menerapkan analisis wacana multimodal terhadap lagu-lagu nina bobo yang dikumpulkan dari media sosial digital, khususnya TikTok. Data dikumpulkan melalui metode observasi yang dipadukan dengan teknik pencatatan. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan metode analisis kontekstual. Hasil analisis mengungkap lima fungsi pragmatik dari aktivitas meninabobokan dalam praktik pengasuhan Jawa. Kelima fungsi tersebut adalah: (1) lagu penenang yang menggunakan bahasa metaforis untuk menyampaikan perlindungan dan kenyamanan; (2) refrein onomatope yang memanfaatkan pengulangan ritmis untuk menarik perhatian dan menimbulkan ketenangan; (3) unsur ludik dan rujukan budaya yang menghubungkan bayi dengan warisan Jawa; (4) keintiman vernakular yang secara halus membimbing perilaku melalui tuturan penuh kasih dan bersifat kolokial; dan (5) lagu nina bobo bernuansa “nonsense” yang dipadukan dengan referensialitas domestik untuk menciptakan interaksi yang menenangkan sekaligus menarik. Temuan ini menunjukkan bahwa aktivitas meninabobokan merupakan sebuah performa pragmatik yang kompleks dan berakar kuat pada nilai-nilai Jawa seperti kerendahan hati, harmoni sosial, dan kasih sayang, yang tidak hanya berfungsi untuk menenangkan, tetapi juga sebagai mekanisme khas budaya dalam pendidikan moral dan sosial pada tahap awal kehidupan.
Penanda Fatis Sosial-Politik: Perspektif Pragmatik Diskursif-Integratif Epistemologis Kristina Marta Noviance; R. Kunjana Rahardi
SAWERIGADING Vol 31, No 1 (2025): Sawerigading, Edisi Juni 2025
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v31i1.1536

Abstract

The objective of this study is to describe the findings on the forms, pragmatic meanings, and functions of phatic markers in sociopolitical internet media, using an epistemologically-based discursive-integrative pragmatic perspective. The data consist of manifestations of forms, pragmatic meanings, and functions of phatic markers in sociopolitical discourse on internet platforms. The substantive data sources are sociopolitical texts containing phatic markers across various online platforms. The data collection method employed is the observation method, using recording and note-taking techniques. Data collection concluded upon the identification of clear classifications and types of data ready for appropriate analysis methods and techniques. The technique applied in the analysis is the comparative relationship technique. This study has produced the following findings: (1) The markers “Come On,” “Yes, Right?” and “Nah” to express the intention to convince; (2) The markers “I apologize inwardly”, “I appreciate”, and “Please…” to build an image and power relations; (3) The markers “Yes, right!”, narrative repetition, and personalization of reality to frame the narrative of optimism; (4) The markers “Nah”, “I am sure”, and “Yes” to express the intention of optimism; (5) The markers “Mr. President”, Causal Structure, and Digital Diction “Banget” as strategies for legitimization, rationalization, and audience adaptation; (6) The phatic markers “If You Can”, “99.9 Percent”, and “Can’t Live Him Back” as strategies for modulation, rationalization, and emotionalization in leadership representation.  AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan hasil riset bentuk, makna pragmatik, dan fungsi penanda fatis sosial-politik media internet dalam perspektif pragmatik diskursif-integratif berbasis epistemologis. Data berupa manifestasi bentuk, makna pragmatik, dan fungsi penanda fatis sosial-politik dalam media internet. Sumber data substantif penelitian ini adalah teks-teks sosial-politik yang mengandung penanda-penanda kefatisan dalam berbagai platform internet. Metode pengumpulan data yang diterapkan adalah metode simak dengan teknik rekam dan catat. Metode analisis data yang diterapkan dalam penelitian ini adalah metode analisis padan ekstralingual. Metode analisis padan ini lazim disebut sebagai metode kontekstual. Selanjutnya teknik yang diterapkan dalam rangka analisis data tersebut adalah teknik hubung banding. Penelitian ini telah menghasilkan temuan-temuan berikut ini: (1) Penanda “Come On,” “Iya, Kan?” dan “Nah” untuk menyatakan maksud meyakinkan; (2) Penanda “Mohon maaf lahir batin”, “Saya apresiasi”, dan “Silakan…” untuk membangun citra dan relasi kekuasaan; (3) Penanda “Iya, kan!”, pengulangan naratif, dan personalisasi realitas untuk membingkai narasi optimisme; (4) Penanda “Nah”, “Saya yakin”, dan “Ya” untuk menyatakan maksud optimis; (5) Penanda “Bapak Presiden”, Struktur Kausal, dan Diksi Digital “Banget” sebagai strategi legitimasi, rasionalisasi, dan adaptasi Audiens dalam Pidato Sri Mulyani; (6) Penanda Fatis Sosial-Politik “Kalau Bisa”, “99,9 Persen”, dan “Nggak Bisa Hidupkan Dia Kembali” sebagai Strategi Modulasi, Rasionalisasi, dan Emosionalisasi dalam Representasi Kepemimpinan.
Visual Ostentivity of Cybertext Context: Critical Pragmatic Perspective of Socio-political Hate Speech in Public Spaces R. Kunjana Rahardi; Winci Firdaus
SAWERIGADING Vol 30, No 2 (2024): Sawerigading, Edisi Desember 2024
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v30i2.1386

Abstract

The purpose of this study is to describe the form and pragmatic meaning of visual ostentivity in the cybertext context of socio-political hate speech in public spaces from a critical pragmatic perspective. This study is a qualitative study. The object of this study is the visual ostentivity of the cybertext context. The research data were excerpts of speech in social media which contain forms and pragmatic meanings of visual ostentivity in the cybertext context. The data source for this study was social media on various platforms found in public spaces, especially virtual public spaces which contain data on visual ostentivity in the cybertext context. Data were collected using the listening method and the listening was carried out using the note-taking technique. Recording was carried out by paying attention to the multimodality-based cybertext context before data classification and typification were carried out. Triangulation was carried out with an investigation model carried out by related experts. Data analysis was carried out by applying distributional methods and equivalent methods, especially extralingual. The distributional analysis method was used to reach the linguistic dimensions of this study. The extralingual equivalent analysis method was used to reach its pragmatic dimensions. The steps of data analysis were identification, classification, interpretation, and ending with the presentation of the analysis results. This study found five forms of visual ostentivity in the cybertext context. The five forms of ostentivity were presented below: (1) Visual Ostentivity in Cybertext Context with Pragmatic Meaning of Insult, (2) Visual Ostentivity in Cybertext Context with Pragmatic Meaning of Blasphemy, (3) Visual Ostentivity in Cybertext Context with Pragmatic Meaning of Mockery, (4) Visual Ostentivity in Cybertext Context with Pragmatic Meaning of Satire, (5) Visual Ostentivity in Cybertext Context with Pragmatic Meaning of Insult.