p-Index From 2021 - 2026
9.027
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Humaniora Dialektika Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya Litera Lingua Didaktika: Jurnal Bahasa dan Pembelajaran Bahasa Indonesian Journal of Applied Linguistics (IJAL) BAHASTRA BAHASA DAN SASTRA Lingua Cultura LITERASI: Jurnal Ilmu-Ilmu Humaniora Semantik : Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Jurnal Arbitrer KEMBARA Kajian Linguistik dan Sastra Jurnal Gramatika International Journal of Humanity Studies (IJHS) Jurnal Orientasi Baru Briliant: Jurnal Riset dan Konseptual Aksara RETORIKA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Diglosia Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Pendas : Jurnah Ilmiah Pendidikan Dasar Kandai Adabiyyat: Jurnal Bahasa dan Sastra Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni Linguistik Indonesia Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa SALINGKA Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Suar Betang Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Bahtera Indonesia; Jurnal Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia Imajeri: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia SCAFFOLDING: Jurnal Pendidikan Islam dan Multikulturalisme Jurnal Edukasi Sumba (JES) Jurnal Pena Indonesia Loa : Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan TANDA: Jurnal Kajian Budaya, Bahasa dan Sastra Journal of Pragmatics and Discourse Research Jurnal Gramatika: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajaran BAHASTRA Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Aksara JURNAL PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN MISSIO Majalah Ilmiah Bahasa dan Sastra Sawerigading Aksara Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Indonesian Language Education and Literature Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Studies in English Language and Education
Claim Missing Document
Check
Articles

Penyimpangan Pemakaian Kaidah Fungtor Kalimat Pada Artikel Jurnal Priscila Felicia Elu; R Kunjana Rahardi
Indonesian Language Education and Literature Vol. 6 No. 1 (2020)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v6i1.6078

Abstract

Conjunctions are part of the construction of a sentence. In writing, there is often a deviation from the sentence function rules related to the conjunction. This study aims to describe the errors of sentence functions in Indonesian. This qualitative research data source is the Indonesian Language Education Master Program students, Sanata Dharma University Yogyakarta. This research's data are sentences in journal articles that deviate from the rules of Indonesian sentence functions. From 100 data, 45 functional errors, 31 conjunction errors, four-function, and conjunction errors at once, and 20 idea ineffectiveness. These functions' errors were categorized into 14 errors in the subject function, 15 errors in the predicate function, three errors in the object function, and 13 errors for both the subject and predicate functions.Konjungsi merupakan bagian dari konstruksi sebuah kalimat. Dalam sebuah tulisan, acap kali terjadi penyimpangan kaidah fungtor kalimat berkaitan dengan konjungtor. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesalahan fungtor-fungtor kalimat berbahasa Indonesia. Sumber data penelitian kualitatif ini adalah para mahasiswa Program Magister Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Data penelitian ini adalah kalimat-kalimat dalam artikel jurnal yang menyimpang dari kaidah fungtor-fungtor kalimat bahasa Indonesia. Dari 100 data, ditemukan 45 kesalahan fungtor, 31 kesalahan konjungtor, empat kesalahan fungtor dan konjungtor sekaligus, dan 20 ketidakefektifan gagasan. Adapun kesalahan fungtor tersebut dikategorisasikan menjadi 14 kesalahan pada fungtor subjek, 15 kesalahan pada fungtor predikat, tiga kesalahan pada fungtor objek, dan 13 kesalahan untuk fungtor subjek dan predikat sekaligus.
Lanskap Konteks Sosial-Sosietal dalam Pragmatik Berbasis Cybertexts Vaksinasi Covid-19 (Socio-Social Context Landscape in Cybertexts-Based Pragmatics Covid-19 Vaccination) R. Kunjana Rahardi
Indonesian Language Education and Literature Vol. 6 No. 2 (2021)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v6i2.8112

Abstract

This study aims to describe the types of social-social context landscapes in cybertexts-based pragmatics related to the Covid-19 vaccination discourse. The research data is in the form of speech excerpts that contain the identity of the social-social context landscape in cybertexts. The data collection method applied is the listening method with reading and note-taking techniques. Furthermore, the data are identified, classified, and typified to apply data analysis methods and techniques. The data analysis method applied was the extra lingual equivalent method. The validity of the data used expert validation and theoretical triangulation. This study resulted in findings in the form of six types of social-social context landscapes for Covid-19 vaccination, namely (1) confirming the meaning of the speech, (2) clarifying the meaning of the speech, (3) informing the purpose of the speech, (4) setting the background for the speech, (5) supporting the meaning of the speech. the meaning of the speech, and (6) clarify the meaning of the speech.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan jenis-jenis lanskap konteks sosial-sosietal dalam pragmatik berbasis cybertexts terkait dengan wacana vaksinasi Covid-19. Data penelitian berupa cuplikan-cuplikan tuturan yang di dalamnya terkandung identitas lanskap konteks sosial-sosietal dalam cybertexts. Metode pengumpulan data yang diterapkan adalah metode simak dengan teknik baca dan teknik catat. Selanjutnya data diidentifikasi, diklasifikasi, dan ditipifikasi untuk dikenakan metode dan teknik analisis data. Metode analisis data yang diterapkan adalah metode padan ekstralingual. Keabsahan data menggunakan validasi pakar dan triangulasi teori. Penelitian ini menghasilkan temuan berupa enam jenis lanskap konteks sosial-sosietal vaksinasi Covid-19, yakni (1) menegaskan maksud tuturan, (2) mengklarifikasi maksud tuturan, (3) menginformasikan maksud tuturan, (4) melatarbelakangi maksud tuturan, (5) mendukung maksud tuturan, dan (6) memperjelas maksud tuturan.
Multimodalitas sebagai Perspektif Baru Pembelajaran Pragmatik Edukasional: Persepsi Urgensi Inklusinya (Multimodality as a New Perspective of Educational Pragmatic Learning: Perception of the Urgency of Inclusion) R. Kunjana Rahardi
Indonesian Language Education and Literature Vol. 7 No. 2 (2022)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v7i2.10018

Abstract

The purpose of this study was to describe the perception of the urgency of the components of socio-semiotic multimodality to be included in educational pragmatic learning. The theory that underlies this research is the social semiotic theory of M.A.K. Halliday. Data in the form of perceptions of aspects of social-semiotic multimodality were collected through a questionnaire. The collected data are identified, classified, and typified. The results showed that students' understanding of multimodality in the design of multimodality-based educational pragmatic learning models: was 72%, the existence of modality linguistic aspects at 52%, the inclusion of visual aspects at 68%, aural aspects in determining speech intent at 100%, the inclusion of sound aspects in determining speech intent 48 %, inclusion of gestural aspects 56%, spatial aspects required in the design of learning models 100%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan persepsi urgensi komponen-komponen multimodalitas sosial-semiotik dimasukkan dalam pembelajaran pragmatik edukasional. Teori yang mendasari penelitian ini adalah teori semiotika sosial M.A.K. Halliday. Data berupa persepsi aspek-aspek multimodalitas sosial-semiotik yang dikumpulkan melalui kuesioner. Data yang terkumpul diidentifikasi, diklasifikasi, dan ditipifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman mahasiswa ihwal multimodalitas dalam desain model pembelajaran pragmatik edukasional berbasis multimodalitas: 72%, eksistensi aspek linguistik modalitas 52%, inklusi aspek visual 68%, aspek aural dalam penentuan maksud tuturan 100%, inklusi aspek suara dalam penentuan maksud tuturan 48%, inklusi aspek gestural 56%, aspek spasial diperlukan dalam desain model pembelajaran 100%
Numerical Wordplay in Digital Communication: A Corpus Linguistic Study on Cyber-pragmatics Kunjana Rahardi; Wahyudi Rahmat
Indonesian Language Education and Literature Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v10i2.18656

Abstract

This research aims to elucidate the pragmatic significance of employing numerical wordplay with humorous undertones from a cyber-text semio-pragmatics perspective. Social media serves as the primary data source, with textual content featuring instances of numerical wordplay with comedic elements constituting the substantive data. Data collection involved reading and note-taking techniques, followed by identification, selection, classification, and typification to distinguish between suitable and unsuitable data for analysis. Triangulation was employed to validate the data, involving both experts in the field and relevant theoretical frameworks. Contextual analysis was utilized as the analytical method to uncover the pragmatic meanings embedded within the use of numerical wordplay. The findings reveal various pragmatic functions, including concealing speech intent, maintaining secrecy, easing speech delivery, playful engagement, manipulation of speech intent, and inviting humor with speech partners. This research contributes theoretically to the advancement of pragmatics and cyber-pragmatics as interdisciplinary fields within linguistics, particularly in the realm of digital communication. Furthermore, it offers practical implications for fostering further research in pragmatics, especially in the emerging field of cyber-pragmatics, which warrants further exploration and scholarly attention.   Permainan Kata Numerik dalam Komunikasi Digital: Sebuah Studi Linguistik Korpus tentang Pragmatik SiberPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan signifikansi pragmatis dari penggunaan permainan kata numerik dengan nada humor dari perspektif semio-pragmatik teks siber. Media sosial berfungsi sebagai sumber data utama, dengan konten tekstual yang menampilkan contoh permainan kata numerik dengan elemen komedi yang merupakan data substantif. Pengumpulan data melibatkan teknik membaca dan mencatat, diikuti oleh identifikasi, pemilihan, klasifikasi, dan tipifikasi untuk membedakan antara data yang sesuai dan tidak sesuai untuk analisis. Triangulasi digunakan untuk memvalidasi data, melibatkan para ahli di lapangan dan kerangka teoritis yang relevan. Analisis kontekstual digunakan sebagai metode analisis untuk mengungkap makna pragmatis yang tertanam dalam penggunaan permainan kata numerik. Temuan tersebut mengungkapkan berbagai fungsi pragmatis, termasuk menyembunyikan maksud ujaran, menjaga kerahasiaan, memudahkan penyampaian ujaran, keterlibatan yang menyenangkan, manipulasi maksud ujaran, dan mengundang humor dengan mitra tutur. Penelitian ini berkontribusi secara teoritis terhadap kemajuan pragmatik dan pragmatik siber sebagai bidang interdisipliner dalam linguistik, khususnya dalam bidang komunikasi digital. Lebih jauh, penelitian ini menawarkan implikasi praktis untuk mendorong penelitian lebih lanjut dalam pragmatik, khususnya dalam bidang cyber-pragmatik yang sedang berkembang, yang memerlukan eksplorasi lebih lanjut dan perhatian ilmiah.
Lullabying in Javanese Caregiver-Infant Interaction: A Discursive-Integrative Pragmatic Approach R. Kunjana Rahardi; Winci Firdaus
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8384

Abstract

The objective of this research was to depict pragmatic functions of lullabying within the Javanese cultural context, examining how linguistic practices in early infant caregiving facilitate emotional bonding, cultural transmission, and behavioral socialization. Utilizing a qualitative, discursive-integrative pragmatic framework, the research employs multimodal discourse analysis on verbal lullabies collected from digital social media platforms, notably TikTok. Data were collected using the observation method combined with the note-taking technique. Subsequently, the data were analyzed through the application of a contextual analysis method. The results of the analysis reveal five pragmatic functions of lullabying in Javanese caregiving practices. These five functions are as follows: (1) shooting songs using metaphorical language to convey protection and comfort; (2) onomatopoeic refrains that leverage rhythmic repetition to capture attention and induce calm; (3) ludic and culturally embedded references connecting infants to Javanese heritage; (4) vernacular intimacy that subtly guides behavior through affectionate, colloquial speech; and (5) playful nonsense lullabies infused with domestic referentiality to create soothing yet engaging interactions. These findings reveal lullabying as a complex pragmatic performance deeply rooted in Javanese values such as humility, social harmony, and compassion, serving not only as a means of soothing but also as a culturally specific mechanism for early moral and social education. Abstrak Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan fungsi-fungsi pragmatik dari aktivitas meninabobokan dalam konteks budaya Jawa, dengan menelaah bagaimana praktik kebahasaan dalam pengasuhan bayi pada tahap awal berperan dalam membangun ikatan emosional, mentransmisikan nilai budaya, serta melakukan sosialisasi perilaku. Dengan menggunakan kerangka pragmatik kualitatif berorientasi diskursif-integratif, penelitian ini menerapkan analisis wacana multimodal terhadap lagu-lagu nina bobo yang dikumpulkan dari media sosial digital, khususnya TikTok. Data dikumpulkan melalui metode observasi yang dipadukan dengan teknik pencatatan. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan metode analisis kontekstual. Hasil analisis mengungkap lima fungsi pragmatik dari aktivitas meninabobokan dalam praktik pengasuhan Jawa. Kelima fungsi tersebut adalah: (1) lagu penenang yang menggunakan bahasa metaforis untuk menyampaikan perlindungan dan kenyamanan; (2) refrein onomatope yang memanfaatkan pengulangan ritmis untuk menarik perhatian dan menimbulkan ketenangan; (3) unsur ludik dan rujukan budaya yang menghubungkan bayi dengan warisan Jawa; (4) keintiman vernakular yang secara halus membimbing perilaku melalui tuturan penuh kasih dan bersifat kolokial; dan (5) lagu nina bobo bernuansa “nonsense” yang dipadukan dengan referensialitas domestik untuk menciptakan interaksi yang menenangkan sekaligus menarik. Temuan ini menunjukkan bahwa aktivitas meninabobokan merupakan sebuah performa pragmatik yang kompleks dan berakar kuat pada nilai-nilai Jawa seperti kerendahan hati, harmoni sosial, dan kasih sayang, yang tidak hanya berfungsi untuk menenangkan, tetapi juga sebagai mekanisme khas budaya dalam pendidikan moral dan sosial pada tahap awal kehidupan.
Metafungsi Interpersonal Siberteks Vaksinasi Covid-19: Perspektif Multimodalitas R. Kunjana Rahardi
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 1 (2022): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i1.4196

Abstract

The purpose of this study was to describe the interpersonal metafunctions of the Covid-19 vaccination cybertext in a multimodality perspective. The source of the locational data for this research was the posters of Covid-19 vaccination obtained from google pictures which have been downloaded and acknowledged that their citation was in accordance with applicable scientific procedures, so that they did not conflict with ethical clearance principles of internet-based research. The data of this research were in the form of speeches and graphic images contained in Covid-19 vaccination posters which contain interpersonal metafunctions. Data were collected by reading and taking notes. The method that accommodates the two data collection techniques was the observation method. Data that had been collected properly is selected to separate good data from bad data. Good data were then classified to obtain data types to be subjected to data analysis methods and techniques. Data were validated against relevant experts and theories. The data were analyzed using the extra lingual equivalent analysis method. The matching process was carried out on the extra lingual aspects. The results of this research on interpersonal metafunctions in this multimodality perspective were: (1) Interpersonal metafunctions that provide clarity on the flow of the Covid-19 vaccination, (2) Interpersonal metafunctions that motivate people to undergo Covid-19 vaccination, (3) Interpersonal metafunctions for inviting the success of the Covid-19 vaccination program, (4) Interpersonal metafunctions that provide an explanation for the impact of Covid-19 vaccination, (5) Interpersonal metafunctions invite residents to administer Covid-19 vaccinations. With the findings of metafunction in cybertext through the research, it can be emphasized that interpersonal metafunctions in a multimodality perspective can manifest in various ways. The diversity of these manifestations cannot be separated from technology as a major part of culture which determines the development of language in this new era. AbstrakTujuan penelitian ini adalah mendiskripsikan manisfetasi metafungsi interpersonal teks siber vaksinasi Covid-19 dalam perspektif multimodalitas. Sumber data lokasional penelitian ini adalah poster-poster vaksinasi Covid-19 yang diperoleh dari google pictures yang telah diunduh dan diakui penyitirannya sesuai dengan prosedur ilmiah yang berlaku, sehingga tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip etik (ethical clearance) penelitian berbasis internet. Data penelitian ini berupa tuturan dan gambar grafis yang terdapat dalam poster-poster vaksinasi Covid-19 yang di dalamnya terkandung metafungsi interpersonal. Data diperoleh di seputar waktu pelaksanaan penelitian, yakni pertengahan hingga akhir tahun 2021. Data dikumpulkan dengan teknik membaca dan mencatat. Metode yang mewadahi kedua teknik pengumpulan data tersebut adalah metode simak. Data yang telah dikumpulkan dengan baik diseleksi untuk memisahkan data baik dan data nakal atau tidak baik. Data yang baik selanjutnya diklasifikasi untuk mendapatkan tipe-tipe data untuk dikenakan metode dan teknik analisis data. Data divalidasikan kepada pakar dan teori yang relevan. Data dianalisis dengan metode analisis padan ekstralingual. Lanskap pemadanan dilakukan pada aspek-aspek ekstralingualnya. Hasil penelitian metafungsi interpersonal dalam perspektif multimodalitas ini ini adalah: (1) Metafungsi interpersonal pemberi kejelasan alur pelaksanaan vaksinasi Covid-19, (2) Metafungsi interpersonal pemotivasi orang menjalani vaksinasi Covid-19, (3) Metafungsi interpersonal pengajak menyukseskan program vaksinasi Covid-19, (4) Metafungsi interpersonal pemberi penjelasan dampak vaksinasi Covid-19, (5) Metafungsi interpersonal pengajak warga melaksanakan vaksinasi Covid-19. Dengan temuan-temuan metafungsi dalam siberteks tersebut dapat ditegaskan bahwa metafungsi interpersonal dalam perspektif multimodalitas dapat bermanifestasi beragam. Keberagaman manifestasi tersebut tidak lepas dari teknologi sebagai bagian pokok dari budaya yang menjadi penentu  perkembangan bahasa di era baru sekarang ini.
Variasi Maksud Kata Emotif “Wela” dalam Bahasa Jawa: Perspektif Sosiopragmatik Kunjana Rahardi
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 9, No 2 (2020): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v9i2.2937

Abstract

This study aims to describe manifestation of the variations of  meanings of the emotive word 'wela' in Javanese language. The research data were in the form of snippets of utterances which contain variations of meanings of the Javanese emotive word 'wela'. The source of the substantive data was the daily speech of villagers in which there were manifestations of variations in the meaning of the emotive word 'wela'. The data were collected using the observation and interview method. The observation method was done by using the recording and note-taking technique. The interview method was carried out with the face-to-face interview and the indepth interviewing techniques. The next step is the data identification, data classification, and data typification. Data that had been typified were then subjected to data analysis methods and techniques, but previously triangulated to the experts. Data analysis was performed using extralingual equivalent analysis method. Through this research, six meanings of the emotive word 'wela' have been found in Javanese language, namely: (1) showing the intention of surprise, (2) showing the intention of defense, (3) showing the intention of reminding, (4) showing the intention of surprise, (5) shows the intention of relief to give thanks, (6) shows the intention of disappointment. AbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan variasi manifestasi maksud kata emotif ‘wela’ dalam bahasa Jawa. Data penelitian berupa cuplikan-cupkikan tuturan yang di dalamnya terkandung variasi maksud kata emotif ‘wela’. Sumber data substantifnya adalah tuturan keseharian warga masyarakat perdesaan yang di dalamnya terdapat manifestasi variasi maksud kata emotif ‘wela’. Data dikumpulkan dengan metode simak dan cakap. Metode simak dilakukan dengan teknik rekam dan catat. Metode cakap dilaksanakan dengan teknik cakap semuka dan cakap tansemuka. Langkah selanjutnya adalah identifikasi data, klasifikasi data, dan tipifikasi data. Data yang telah ditipe-tipekan lalu dikenai metode dan teknik analisis data, tetapi  sebelumnya ditriangulasikan terlebih dahulu kepada pakar. Analisis data dilakukan dengan metode analisis padan ekstralingual. Melalui penelitian ini telah ditemukan enam maksud kata emotif ‘wela’dalam bahasa Jawa, yakni maksud: (1) menunjukkan maksud keterkejutan, (2) menunjukkan maksud pembelaan, (3) menunjukkan maksud mengingatkan, (4) menunjukkan maksud keheranan, (5) menenunjukkan maksud kelegaan untuk bersyukur, (6) menunjukkan maksud kekecewaan.
Ketriaditisan Konteks Pragmatik Tuturan Tidak Santun: Perspektif Kultur Spesifik R. Kunjana Rahardi
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 9, No 1 (2020): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v9i1.2340

Abstract

The objective of this research was to describe the types of triadicities of pragmatic contexts on impolite utterances in the Indonesian language in culture-specific perspective. The research data were the natural utterances in a culture-specific domain intrinsically containing triadicity of pragmatic contexts. The data were collected and presented through the observation methods, both through the engaged conversation technique and uninvolved conversation technique. The data gathering techniques being applied in the observation method were the recording and note-taking techniques. In addition to the conversation technique, an interview technique was applied both the face-to-face and indirect conversations. The data gathering stage was completed when the data was ready to be analyzed. Data analysis was carried out using the identity method, especially the extralingual identity method. This aligned with the contextual analysis in pragmatics in which contextual aspects must be identified. The results of the study showedthat there were 10 types of triadicities of pragmatic contexts on impolite utterances in the Indonesian language in culture-specific perspective. They were triadicities of pragmatic contexts in: (1) pretense, (2) association, (3) taboos, (4) taunting, (5) arrogance, (6) pleonasm, (7) puns, (8) insults, (9) teasing, (10) interjection. The findings of research bring the significant contribution to the development of pragmatics, particularly the culture-specific pragmatics AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tipe-tipe ketriaditisan konteks pragmatik dalam bahasa Indonesia dengan perspektif kultur spesifik. Data penelitian berupa tuturan-tuturan natural manusia dalam domain kultur spesifik yang secara implisit mengandung triadisitas konteks pragmatik tersebut. Data dikumpulkan dengan menerapkan metode simak, baik simak libat cakap maupun simak bebas libat cakap. Teknik pengumpulan data yang diterapkan adalah teknik catat dan teknik rekam. Selain teknik-teknik tersebut, diterapkan pula teknik wawancara, baik yang sifatnya semuka maupun tidak semuka. Tahap pengumpulan data dipandang selesai ketika data benar-benar telah siap untuk dianalisis. Selanjutnya, analisis data dilakukan dengan menerapkan metode padan, khususnya padan yang bersifat ekstralingual. Metode tersebut selaras dengan metode analisis kontekstual dalam pragmatik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 10 jenis ketriaditisan konteks pragmatik dalam bahasa Indonesia dalam perspektif kultur spesifik. Kesepuluh jenis tersebut adalah ketriaditisan konteks pragmatik dalam tuturan yang mengandung makna: (1) kepura-puraan, (2) asosiasi, (3) tabu, (4) ejekan, (5) kesombongan, (6) pleonasme, (7) lelucon, (8) hinaan, (9) godaan, (10) interjeksi. Temuan penelitian ini diyakini dapat memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan ilmu pragmatik, khususnya pragmatik dalam perspektif kultur spesifik.
Politeness, Power, and Identity in Podcast Discourse: an Emic Discursive Pragmatic Analysis of Digital Talk Kristina Marta Noviance; R. Kunjana Rahardi
Aksara Vol 38, No 1 (2026): AKSARA, EDISI JUNI 2026
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v38i1.4951.82-97

Abstract

Podcast communication has evolved into a significant site of digital public discourse, where norms of politeness are no longer fixed but are continuously negotiated and redefined within dynamic interactions. This study aims to analyze politeness practices in podcast discourse by examining how politeness is constructed, interpreted, and negotiated in relation to power relations and identity formation among speakers. This research employs a qualitative design using an integrative discursive pragmatic approach grounded in an emic–epistemological perspective. The data consist of utterances from naturally occurring podcast interactions. The data sources are selected podcast episodes featuring interactions between hosts and guests. Data were collected through observation methods, employing recording and note-taking techniques. Data analysis was conducted using discursive pragmatic analysis, involving data reduction, categorization of politeness strategies, interpretation of interactional and sociocultural contexts, and meaning-making based on participants’ emic perspectives. The findings reveal that politeness in podcast discourse functions not only to maintain interpersonal harmony but also to assert authority, expertise, and social identity. Speakers with higher symbolic power tend to control interactional norms, while less dominant participants adjust their politeness strategies accordingly. Furthermore, discrepancies between actual politeness practices and conventional theoretical models indicate that politeness is highly contextual and dynamic within digital environments. The implications of this study highlight the need to develop more context-sensitive and adaptive politeness theories in digitally mediated communication, particularly within discursive pragmatics. This research also contributes to fostering more inclusive communication practices and opens avenues for further studies across diverse podcast genres, marginalized speaker groups, and cross-cultural contexts. AbstrakKomunikasi podcast telah berkembang menjadi ruang penting dalam wacana publik digital, di mana norma kesantunan tidak lagi bersifat tetap, melainkan dinegosiasikan dan didefinisikan ulang dalam interaksi yang dinamis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik kesantunan dalam wacana podcast dengan menyoroti bagaimana kesantunan dikonstruksi, ditafsirkan, dan dinegosiasikan dalam kaitannya dengan relasi kekuasaan dan pembentukan identitas penutur. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan pragmatik diskursif integratif berbasis perspektif emik–epistemologis. Data penelitian berupa tuturan dalam interaksi podcast yang diperoleh dari rekaman podcast autentik (naturally occurring data). Sumber data berasal dari beberapa episode podcast yang memuat interaksi antara host dan narasumber. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui metode simak dengan teknik rekam dan catat. Teknik analisis data menggunakan analisis pragmatik diskursif, dengan tahapan reduksi data, kategorisasi strategi kesantunan, interpretasi konteks interaksional dan sosiokultural, serta penafsiran makna berdasarkan perspektif emik partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesantunan dalam wacana podcast tidak hanya berfungsi menjaga keharmonisan interpersonal, tetapi juga menjadi sarana untuk menegaskan otoritas, keahlian, dan identitas sosial. Penutur dengan kekuasaan simbolik lebih tinggi cenderung mengontrol norma interaksi, sedangkan partisipan yang kurang dominan menyesuaikan strategi kesantunannya. Selain itu, ditemukan adanya perbedaan antara praktik kesantunan aktual dengan model teoretis konvensional, yang menunjukkan bahwa kesantunan bersifat kontekstual dan dinamis dalam ruang digital. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya pengembangan teori kesantunan yang lebih kontekstual dan adaptif terhadap media digital, khususnya dalam kajian pragmatik diskursif. Penelitian ini juga memberikan kontribusi bagi pengembangan praktik komunikasi yang lebih inklusif serta membuka peluang penelitian lanjutan pada berbagai genre podcast, kelompok marjinal, dan konteks lintas budaya.
Discovering the communicative functions of cybertextual contexts in digital media environments: A sociosemiotic multimodal perspective R. Kunjana Rahardi; Faizal Risdianto; Budi Purnomo; Ita Fitriana; Mezia Kemala Sari; Dian Rianita; Jumanto
Studies in English Language and Education Vol. 13 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/siele.v13i2.1101

Abstract

Context plays a crucial role in language use, as it shapes the meaning of text interaction or communication. The exploration of the conceptualization of contexts in contemporary language studies, including cybertextual contexts, has long been debated among linguists. With the emergence of computer-mediated communication, social identity cues within cybertextual contexts have become an important area of inquiry. This research examined cyberpragmatics by analyzing textual environments through a socio-semiotic multimodal lens. Drawing on Leech’s perspective on general pragmatics, the notion of ‘context’ acquires a broader dimension, encompassing the circumstances surrounding digital interactions beyond the immediate social environment. This study employed online observation, expert-based selection, verification, classification, and interpretation to discover the communicative functions of the cybertextual contexts in the digital media environment. Based on a socio-semiotic multimodal analysis of six multimodality cybertextual contexts data, the findings identified six functions of cybertextual contexts: (1) providing background for intent delivery, (2) affirming intent delivery, (3) illustrating intent delivery, (4) shaping intent interpretation, (5) complementing intent conveyance, and (6) describing intent and meaning. Theoretically, this research highlighted the roles of visual, spatial, gestural, and aural contexts within cyberpragmatics. Empirically, this research illustrates the relationship between language and context in digital environments to uncover the evolving nature of communication in cyberspace.