Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : MEKOMDA

Sejarah Dakwah Sufistik KH. Abdurrahim Pasuruan Melalui Tarekat Mahabbah dalam ISHARI Shofwan, Arif Muzayin; Hariri, Muh Mirwan
Mekomda: Media Komunikasi Dakwah Vol 2 No 2 (2024): Volume 2 NO 2 Agustus 2024
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28926/mekomda.v2i3.1798

Abstract

KH. Abdurrahim Pasuruan, through the Mahabbah congregation, cannot escape the role of his grandfather, KH. Abdurrahman and studied with Habib Syaikh bin Ahmad Bafaqih Botoputih Surabaya. This qualitative descriptive writing using library research reveals KH's Sufistic preaching. Abdurrahim Pasuruan through the Mahabbah congregation. This article finds the following things, including First, the Sufistic preaching of KH. Abdurrahim Pasuruan, through the Mahabbah order, came from his father, KH. Abdul Hadi, who is named after his grandfather, KH. Abdurrahman studied with Habib Syaikh bin Ahmad Bafaqih Botoputih Surabaya. Second, during the time of KH. Abdurrahim, this Mahabbah order was formed in a forum called ISHARI which was founded on January 23, 1959. Third, the Mahabbah order in ISHARI teaches love for Allah SWT and Rasulullah SAW through reading the Book of Maulid Syaraf Al-Anam and the prayer-poems in the Book. Diwan Hadrah and several other reference books. Fourth, the Sufistic preaching of KH. Abdurrahim through the Mahabbah order in the ISHARI forum has been implemented by many Sufism experts such as Rabiah Al-Adawiyah, Ibrahim bin Adham, Sari As-Saqati, and others.
Wejangan Sunan Kalijaga kepada Sunan Tembayat Shofwan, Arif Muzayin; Hariri, Muh. Mirwan; Rouf, M. Abdul; Yaqin, Fuad Ngainul
Mekomda: Media Komunikasi Dakwah Vol 3 No 2 (2025): Volume 3 Number 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28926/mekomda.v4i2.2498

Abstract

Abstract Sunan Kalijaga memiliki murid bernama Sunan Tembayat sebagai penerus keilmuannya. Penelitian deskriptif kualitatif dengan studi kepustakaan ini membahas wejangan Sunan Kalijaga kepada Sunan Tembayat. Teknik analisanya menggunakan analisis isi dengan memilah-milah data sesuai dengan fokus penelitian. Tulisan ini menghasilkan kesimpulan bahwa beberapa wejangan Sunan Kalijaga kepada Sunan Tembayat, antara lain: (1) wejangan Patembayatan, yakni agar setiap orang tidak merasa sombong terhadap sesama, harus saling menghormati dan menghargai tanpa memandang perbedaan suku, bangsa, kulit, dan semacamnya; (2) wejangan Pambukaning Tata Malige Baitul Muharam, yakni ilmu rasa (batin) yang berguna untuk merasakan empati terhadap semua lapisan masyarakat, tanpa memandang perbedaan agama, golongan, budaya, ras, dan semacamnya. Dengan empati menjadikan manusia tidak merasa ajarannya paling benar di hadapan Tuhan, sementara ajaran lainnya salah; (3) wejangan Sangkan Paraning Dumadi, yakni ilmu yang menjelaskan bahwa semua ini milik Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan; dan (4) wejangan Sekar Telon, yakni berupa: bunga mawar, artinya simbol dari berwarna-warna suku, budaya, agama, dan semacamnya; bunga kenanga, artinya bisa melakukan begini dan begitu; dan bunga kantil, artinya hendaknya selalu bergantung kepada Tuhan dan persatuan semua bangsa. Kata kunci: Wejangan; Sunan Kalijaga; Sunan Tembayat