Claim Missing Document
Check
Articles

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN, KADAR PATI RESISTEN, DAN ORGANOLEPTIK ES KRIM PISANG BATU (Musa Balbisiana Colla) SEBAGAI MAKANAN FUNGSIONAL UNTUK PENCEGAHAN PENYAKIT KANKER KOLOREKTAL Ahsin, Almuthya; Wijayanti, Hartanti Sandi; Afifah, Diana Nur
Journal of Nutrition College Vol 8, No 3 (2019): Juli
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.908 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v8i3.25800

Abstract

Latar Belakang: Kanker kolorektal dapat disebabkan karena berlebihnya produksi radikal bebas atau kurangnya antioksidan dalam tubuh. Kandungan pati resisten dan aktivitas antioksidan pada pisang batu dapat memberikan pencegahan penyakit kanker kolorektal.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan aktivitas antioksidan, kadar pati resisten dan organoleptik es krim pisang batu  sebagai makanan fungsional untuk pencegahan penyakit kanker kolorektal. Metode: Penelitian eksperimental acak lengkap dua faktor meliputi kadar tepung pisang batu, yaitu 12% dan 17% serta variasi cara penambahan, yaitu pada saat pemasakan dan pendinginan. Analisis aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH dan kadar pati resisten menggunakan metode Kim et al. Analisis statistik aktivitas antioksidan dan kadar pati resisten menggunakan uji one way Anova, Kruskall-Wallis dan tukey. Analisis organoleptik menggunakan uji Kruskall-Wallis dan mann withney. Hasil:. Aktivitas antioksidan tertinggi didapatkan pada es krim dengan penambahan tepung pisang batu 17% dan yang ditambahkan ketika pendinginan. Kadar pati resisten tidak menunjukkan beda secara statistik, walaupun didapatkan kadar pati resisten lebih tinggi yang ditambahkan ketika pemasakan. Terdapat perbedaan signifikan pada uji organoleptik aroma dan rasa dengan yang paling disukai es krim dengan kadar 12% untuk aroma dan es krim dengan cara penambahan saat pendinginan untuk rasa.Simpulan: Terjadi peningkatan aktivitas antioksidan seiring banyaknya tepung pisang batu yang digunakan dan ditambahkan ketika proses pendinginan. Produk terbaik yang direkomendasikan adalah es krim yang diberikan tepung pisang batu dengan  kadar 17% dan ditambahkan saat pendinginan.
ASUPAN VITAMIN D DAN PAPARAN SINAR MATAHARI PADA ORANG YANG BEKERJA DI DALAM RUANGAN DAN DI LUAR RUANGAN Rimahardika, Rosita; Subagio, Hertanto Wahyu; Wijayanti, Hartanti Sandi
Journal of Nutrition College Vol 6, No 4 (2017): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (782.23 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v6i4.18785

Abstract

Background: The high deficiency of vitamin D were caused by low vitamin D intake which are limited amounts of vitamin D food sources, and sunlight exposure. Indoor workers were likely to be lower sunlight exposure, while outdoor workers were higher of sunlight exposure, but when someone often exposed sunlight used covering clothes and sun protector then the exposure was not enough to complete the needs of vitamin D. The purpose of this study was to compare intake of vitamin D and sunlight exposure between indoor and outdoor workers.Methods: The analytic descriptive study was held in Sayung Subdistrict with 60 sample aged 19-64 years were selected by using consecutive sampling. Vitamin D intakes was measured by SQ-FFQ and analyzed using nutrisurvey. Sunlight exposure were obtained by doing direct interview with questionnaire and sunlight exposure recall 3x24h. The data were analyzed by using descriptive tests and bivariate tests.Results: The indoor worker’s frequency of sunlight exposure was higher (p = 0.001), indoor worker’s body was more closed (p = 0.02), indoor worker’s habit of using sunlight protector was more often (p = 0.001), outdoor worker’s total duration of sunlight exposure was higher (p = 0.001), outdoor workers were more often to use polyester material textile (p= 0.07), and vitamin D intake was higher in outdoor workers than indoor workers (p = 0.79).   Conclusion: Indoor workers were at higher risk of vitamin D deficiency due to low vitamin D intake and sunlight exposure because of often used covering clothes and sunlight  protectors.
Perbedaan aktivitas fisik, screen time, dan persepsi ibu terhadap kegemukan antara balita gemuk dan non-gemuk di Kota Semarang Syahidah, Zulfah Asy; Wijayanti, Hartanti Sandi
Journal of Nutrition College Vol 6, No 1 (2017): Januari
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (660.575 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v6i1.16886

Abstract

Latar Belakang: Kegemukan merupakan masalah gizi balita yang terus meningkat. Kurangnya aktivitas fisik dan lamanya menatap layar elektronik (screen time) dapat memicu kegemukan. Kegemukan pada balita kurang disadari orang tua sebagai suatu masalah. Persepsi ibu berperan penting dalam mengelola asupan dan aktivitas fisik anak yang berpengaruh terhadap kegemukan balita.Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan aktivitas fisik, screen time, dan persepsi ibu terhadap kegemukan antara balita gemuk dan non-gemuk, serta besar risikonya.Metode: Penelitian observasional dengan pendekatan kasus-kontrol dilakukan di Kelurahan Bangetayu Kulon dan Kelurahan Jangli, Semarang melibatkan 58 balita berusia 24-59 bulan beserta ibunya. Pengumpulan data meliputi identitas sampel, berat badan (BB), tinggi badan (TB), aktivitas fisik (AF), screen time (ST), dan persepsi ibu terhadap kegemukan balita. Data BB dan TB diambil melalui pengukuran antropometri, data AF, ST, dan persepsi diambil melalui wawancara dengan instrumen kuesioner, dianalisis dengan uji Chi Square.Hasil: Aktivitas fisik kurang ditemukan pada kelompok gemuk sebanyak 20(68.9%) dan kelompok non-gemuk 11(37.9%). Screen time tinggi terdapat pada kelompok gemuk sebanyak 25(86.3%) dan kelompok non-gemuk 11(37.9%). Persepsi negatif ibu terhadap kegemukan ditemukan pada kelompok gemuk sebanyak 15(51,7%) dan kelompok non-gemuk 17(58,6%). Perbedaan aktivitas fisik, screen time, dan persepsi ibu terhadap kegemukan balita ditunjukkan berturut–turut oleh p=0,034 (OR= 3,63; 95% CI:1,22;10,78), p<0,001 (OR= 10,22; 95% CI:2,80;37,33), dan p=0,792.Simpulan: Terdapat perbedaan aktivitas fisik serta screen time antara balita gemuk dan non-gemuk. Namun, tidak terdapat perbedaan mengenai persepsi ibu terhadap kegemukan balita pada kedua kelompok. Balita dengan aktivitas fisik kurang berisiko 3,63 kali lebih besar untuk mengalami kegemukan, sementara balita dengan screen time yang tinggi berisiko 10,2 kali lebih besar untuk mengalami kegemukan.
Hubungan Asupan Sugar-Sweetened Beverage dan Mssa Lemak Tubuh dengan Kejadian Menarche Dini Amelia, Annisa Eka; Ardiaria, Martha; Wijayanti, Hartanti Sandi
Journal of Nutrition College Vol 6, No 3 (2017): Juli
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (641.042 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v6i3.16911

Abstract

Latar Belakang : Angka kejadian menarche dini makin meningkat beberapa tahun terakhir. Menarche yang terlalu dini meningkatkan risiko penyakit degeneratif. Asupan sugar-sweetened beverage berlebih menyebabkan tingginya kadar hormon seks dan IGF-1 di sirkulasi dan mempercepat menarche. Massa lemak tubuh yang besar berhubungan dengan kadar leptin yang tinggi serta kejadian menarche yang lebih awal. Penelitian bertujuan mengetahui hubungan asupan sugar-sweetened beverage dan massa lemak tubuh dengan kejadian menarche dini.Metode : Desain penelitian case control dengan jumlah sampel 20 anak perempuan pada setiap kelompok yang berusia 10,1-11,9 tahun dipilih secara consecutive sampling. Data asupan sugar-sweetened beverage dan asupan zat gizi diperoleh menggunakan Semi Quantitative Food Frequency Questionaire (SQFFQ), massa lemak tubuh dengan persamaan regresi berdasarkan indeks massa tubuh, usia, dan jenis kelamin, dan aktivitas fisik dengan Physical Activity Questionnaire for Children (PAQ-C). Data dianalisis dengan uji Chi-Square dan uji regresi logistik ganda.Hasil : Terdapat hubungan asupan sugar-sweetened beverage (p <0,001), massa lemak tubuh (p 0,003), asupan kalsium (p 0,020), dan aktivitas fisik (p 0,016) dengan kejadian menarche dini. Uji multivariat menunjukkan bahwa hanya asupan sugar-sweetened beverage yang berpengaruh terhadap kejadian menarche dini (p 0,007).Simpulan : Asupan sugar-sweetened beverage dan massa lemak tubuh berhubungan dengan kejadian menarche dini. Asupan sugar-sweetened beverage merupakan faktor risiko kejadian menarche dini.
HUBUNGAN ASUPAN ZAT BESI HEME, ZAT BESI NON-HEME DAN FASE MENSTRUASI DENGAN SERUM FERITIN REMAJA PUTRI Arima, Lia Andriani Titik; Murbawani, Etisa Adi; Wijayanti, Hartanti Sandi
Journal of Nutrition College Vol 8, No 2 (2019): April
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.438 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v8i2.23819

Abstract

Latar Belakang : Remaja putri di Indonesia memiliki asupan zat besi tergolong kurang dimana sumber zat besi didominasi asupan non heme. Biovailabilitas besi non heme dipengaruhi oleh zat yang menghambat penyerapan sehingga berisiko mengalami defisiensi besi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan asupan zat besi heme, zat besi non-heme dan fase menstruasi dengan serum feritin remaja putri.Metode : Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan 50 remaja putri berusia 12-16 tahun yang dipilih dengan metode random sampling. Data yang diambil yaitu asupan zat besi heme dan non heme, fase menstruasi dan serum feritin. Data asupan zat besi diperoleh dari kuesioner Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ). Data fase menstruasi adalah rata-rata fase menstruasi selama tiga bulan. Serum feritin dan Kadar C-Reactive Protein (CRP) diukur menggunakan metode Immunosorbent Enzyme-Linked). Analisis data menggunakan  uji korelasi rank spearman.Hasil : Prevalensi defisiensi besi ditemukan sebanyak 28%. Rata-rata asupan besi total 16,43 ± 5,63 mg. Rata-rata asupan zat besi heme dan non heme sebesar 5,16 ± 2,23 mg dan 11,27 ± 4,1 mg. Terdapat hubungan yang signifikan antara asupan zat besi heme (p<0,001), zat besi non heme (p<0,001), zat besi total (p<0,001) dan fase menstruasi (p=0,012) dengan serum feritin remaja putri. Simpulan : Terdapat hubungan signifikan antara asupan zat besi heme, zat besi non heme dan fase menstruasi dengan serum feritin remaja putri.
PERBEDAAN ASUPAN PROTEIN, ZAT BESI, ASAM FOLAT, VITAMIN B12 DAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU NIFAS YANG MELAKUKAN MUTIH DAN TIDAK MELAKUKAN MUTIH DI KECAMATAN GEBOG, KABUPATEN KUDUS Saputri, Titien Indah; Wijayanti, Hartanti Sandi
Journal of Nutrition College Vol 4, No 4 (2015): Oktober 2015
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.854 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v4i4.10168

Abstract

Latar Belakang: Mutih merupakan budaya pantang makan yang dilakukan ibu nifas dengan hanya mengkonsumsi nasi, tempe, tahu, beberapa jenis sayur dan buah. Rendahnya jumlah asupan dan variasi makanan menyebabkan ibu nifas berisiko mengalami defisiensi protein, zat besi, asam folat, dan vitamin B12. Hal tersebut dapat menjadi faktor risiko terjadinya anemia gizi pada ibu nifas.Tujuan: Menganalisis perbedaan asupan protein, zat besi, asam folat, vitamin B12, dan kejadian anemia pada ibu nifas mutih dan tidak mutih.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross sectional. Jumlah sampel terdiri dari 16 ibu nifas mutih dan 16 ibu nifas tidak mutih. Pemilihan subjek penelitian dengan purposive sampling. Asupan zat gizi diperoleh dari Semiquantitative Food Frequency Questionaire dan kadar hemoglobin diukur menggunakan metode cyanmethemoglobin. Perbedaan kadar hemoglobin diuji menggunakan uji independent t-test, dan asupan zat gizi, meliputi protein, zat besi, asam folat, dan vitamin B12 menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil: . Kejadian anemia pada ibu nifas mutih sebesar 93,7%, sedangkan pada ibu nifas tidak mutih hanya sebesar 25%. Terdapat perbedaan bermakna asupan protein  (p<0.01),  vitamin B12 ( p<0.01), dan kejadian anemia (p<0.01) antara ibu nifas mutih dan tidak mutih. Tidak terdapat perbedaan bermakna asupan zat besi dan asam folat antara ibu nifas mutih dan tidak mutih (p= 0.07 dan p=0.19). Asupan protein, zat besi, asam folat, dan vitamin B12 kedua kelompok tidak mencukupi kebutuhan seharusnya.Simpulan: Terdapat perbadaan kadar hemoglobin, asupan protein, dan vitamin B12 antara ibu nifas mutih dan tidak mutih. 
Pengaruh Pemberian Sari Ubi Ungu (Ipomea batatas L.) Terhadap KadarHigh Sensitivity C-Reactive Protein(hs-CRP) Pada Tikus Sprague Dawley Dengan Pakan Tinggi Lemak Puspitadewi, Irene Nucifera; Margawati, Ani; Wijayanti, Hartanti Sandi
Journal of Nutrition College Vol 7, No 4 (2018): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.506 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v7i4.22274

Abstract

Latar Belakang: Komposisi makanan tinggi lemak dapat menjadi faktor terjadinya obesitasyang menyebabkan oksidasi lemak. Oksidasi lemak dapat menyebabkan inflamasi yang dikarakterisasikan dengan tingginya kadar High Sensitivity C-Reactive Protein (hs-CRP). Ubi ungu kaya akan antioksidan terutama antosianin yang mungkin dapat menurunkan kadar hs-CRP. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sari ubi ungu terhadap kadar hs-CRP tikus sprague dawley dengan pakan tinggi lemak.Metode: Jenis penelitian ini adalah true experimental dengan  pre-post test control group design. 24 tikus sprague dawley jantan dibagi menjadi 4 kelompok yaitu kontrol negatif, kontrol positif, perlakuan 1 dan perlakuan 2. Perlakuan 1 dan 2 diberikan sari ubi ungu dengan dosis 2 gram/200grBB dan 3 gram/200grBB berturut-turut selama 6 hari. Sebelum dan sesudah perlakuan, kadar hs-CRP dianalisis dengan menggunakan metode ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assay).Hasil: Selisih kadar  hs-CRP pada keolompok kontrol negatif, kontrol positif, perlakuan 1 dan perlakuan 2 adalah 0.4±0.20, -0.07±4.70, -4.3±0.79 dan -8.1±0.45. Terdapat perbedaan signifikan kadar  hs-CRP antar kelompok sesudah intervensi (p=<0.001). Pada kelompok perlakuan 2 terdapat penurunan yang paling tinggi (persen delta 33,33% dengan nilai p=<0.001).Simpulan: Sari ubi ungu dapat menurunkan kadar  High Sensitivity C-Reactive Protein (hs-CRP) secara signifikan.
Faktor Risiko Kegagalan ASI Eksklusif Wendiranti, Catra Ibriza; Subagio, Hertanto Wahyu; Wijayanti, Hartanti Sandi
Journal of Nutrition College Vol 6, No 3 (2017): Juli
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v6i3.16916

Abstract

Latar Belakang: Kegagalan ASI eksklusif sangat umum terjadi di Indonesia, walaupun ASI eksklusif telah dianjurkan oleh pemerintah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko kegagalan ASI eksklusif.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian case-control dengan subjek ibu menyusui yang memiliki bayi usia 6-8 bulan di wilayah kerja Puskesmas Pegandan. Total subjek penelitian ini sebanyak 70 orang, yang terbagi menjadi kelompok kasus dan kelompok kontrol. Informasi mengenai dukungan suami, pemberian informasi oleh petugas kesehatan, penolong persalinan, tempat bersalin, pendapatan keluarga, status pekerjaan ibu, dan ketersediaan ruang ASI di tempat kerja didapatkan melalui wawancara langsung. Analisis data dengan tabulasi silang 2x2 dan regresi logistik.Hasil: Hampir separuh subjek penelitian berada di kelompok usia 20-29 tahun dengan rerata usia 31,1±5,58. Ibu menyusui yang tidak didukung suami untuk melakukan ASI eksklusif berisiko 3,59 kali lebih besar untuk mengalami kegagalan ASI eksklusif, ibu menyusui yang melahirkan di fasilitas kesehatan tingkat pertama berisiko 5,18 kali lebih besar untuk mengalami kegagalan ASI eksklusif, serta ibu menyusui yang menerima informasi yang salah dari petugas kesehatan berisiko 8,06 kali lebih besar untuk mengalami kegagalan ASI eksklusif.Simpulan: Faktor risiko kegagalan ASI eksklusif adalah suami yang tidak mendukung, tempat bersalin di fasilitas kesehatan pertama, dan pemberian informasi yang salah oleh petugas kesehatan.
PERAN LINGKUNGAN SOSIAL, PENGETAHUAN GIZI DAN PENGALAMAN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN IBU NIFAS UNTUK MELAKUKAN MUTIH DI KECAMATAN GEBOG, KABUPATEN KUDUS Apriliani, Linda; Wijayanti, Hartanti Sandi
Journal of Nutrition College Vol 4, No 4 (2015): Oktober 2015
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.706 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v4i4.10117

Abstract

Latar Belakang: Mutih merupakan salah satu pantangan makanan di Kec.Gebog, Kab. Kudus yang dapat menimbulkan masalah gizi seperti anemia. Perilaku makan biasanya dipengaruhi oleh kepercayaan terhadap perilaku yang berkaitan dengan tingkat pengetahuan, evaluasi terhadap hasil perilaku atau pengalaman, pandangan lingkungan sosial terhadap perilaku subjek, dan kontrol terhadap pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kedudukan subjek dalam lingkungan sosial. Tujuan: Mengeksplorasi peran lingkungan sosial, pengetahuan gizi dan pengalaman dalam pengambilan keputusan ibu nifas untuk melakukan Mutih.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode kualitatif. Informan terdiri dari 7 ibu nifas Mutih, 2 orang tua ibu nifas, seorang ibu nifas tidak Mutih dan seorang tetua desa. Pemilihan informan penelitian dengan purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara mendalam dan pengolahan data menggunakan metode induksi.Hasil: Lingkungan sosial yang memiliki peran dalam mempengaruhi ibu nifas untuk melakukan Mutih adalah orang tua, suami dan tetangga, sedangkan tenaga kesehatan tidak mendukung ibu nifas untuk melakukan Mutih. Pengetahuan gizi ibu nifas yang kurang tentang sumber pangan serta manfaatnya mempengaruhi ibu nifas melakukan Mutih. Dampak yang dirasakan oleh ibu nifas dari pengalaman yang dialaminya mempengaruhi ibu nifas untuk melakukan Mutih. Pengambilan keputusan lebih banyak dilakukan oleh ibu nifas sendiri. Alasan ibu melakukan Mutih karena merasa khawatir luka uterus tidak lekas sembuh. Simpulan: Keputusan ibu nifas untuk melakukan Mutih dipengaruhi oleh pengalaman, pengetahuan gizi yang kurang, serta peran lingkungan sosial terutama orang tua.
Konsumsi susu formula sebagai faktor risiko kegemukan pada balita di Kota Semarang Utami, Citra Tristi; Wijayanti, Hartanti Sandi
Journal of Nutrition College Vol 6, No 1 (2017): Januari
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (570.047 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v6i1.16898

Abstract

Latar belakang: Saat ini kegemukan telah banyak ditemukan pada umur dini, yakni mulai dari umur 0-5 tahun. Pemberian susu formula dengan kandungan energi dan protein yang tinggi pada awal pertumbuhan dapat meningkatkan risiko terjadinya kegemukan pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara konsumsi susu formula dengan kegemukan pada balita di Kota Semarang.Metode: Desain penelitian ini adalah kasus-kontrol. Subjek penelitian terdiri dari 27 subjek pada kelompok kasus dan 27 subjek pada kelompok kontrol dengan umur 2-5 tahun. Kriteria kegemukan menggunakan indikator z-score BB/TB. Waktu pertama pemberian susu formula dan berat rata-rata konsumsi susu formula diperoleh melalui kuisioner. Asupan energi, karbohidrat, protein dan lemak dihitung dengan formulir semi quantitative-food frequency questionaire (SQ-FFQ). Analisis bivariat menggunakan uji Chi-square. Analisis Multivariat menggunakan Regresi Logistik Ganda.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan 85.2% subjek pada kelompok kasus pertama kali mengonsumsi susu formula sebelum umur 6 bulan, sedangkan pada kelompok kontrol hanya 48.1%. Pada kelompok kasus, 77.8% subjek mengonsumsi susu formula >100 g/hari dibandingkan dengan kelompok kontrol hanya 33.3% dari subjek. Terdapat perbedaan pada waktu pertama pemberian susu formula (p= 0.004) dan konsumsi susu formula >100 g/hari (p= 0.001) antara kelompok kasus dan kelompok kontrol. Konsumsi susu formula >100 g/hari berhubungan secara signifikan dengan kegemukan pada balita setelah dikontrol dengan asupan energi, protein, karbohidrat dan lemak (p = 0.009). Balita yang mengonsumsi susu formula >100 g/hari berisiko 7 kali lipat mengalami kegemukan dibandingkan dengan balita yang mengonsumsi < 100 g/hari.Simpulan: Balita yang mengonsumsi berat rata-rata susu formula >100 g/hari berisiko 7.0 kali mengalami kegemukan.
Co-Authors 'Aisy, Amalia Rihadatul Adriyan Pramono ahmad syauqi, ahmad Ahmad Syauqy Ahsin, Almuthya Aila, Safrina Luthfia Alfauzia Syafni, Alfauzia Alfianti, Esya Aqilla Amelia, Annisa Eka Ani Margawati Anjani, Gemala Annisa Wijayanti Arima, Lia Andriani Titik Aryu Candra Aulia, Nurhanna Putri Avisha, Rosita Nur Ayu Rahadiyanti Ayu, Azzahra Mutiara Ayumar, Duena Firsta Sridiasti Binar Panunggal Camelia, Rusda Chatarina Umbul Wahyuni Christanto, Monica Lemuela Daniartama, Bela Deny Yudi Fitranti Deny Yudi Fitranti Deny Yudi Fitranti Deny Yudy Fitranti Dewi Marfu'ah Kurniawati Dewi Marfu’ah Kurniawati Diana Nur Afifah, Diana Nur Dwi Ratna Sari Elserinawati Sinambela Endrinikapoulos, Ariana Enny Probosari Etika Ratna Noer Etika Ratna Noer Etisa Adi Murbawani Faizah, Nur Azkiyati Fariski, Cindy Fauzia, Ria Fauziyah, Syifa Nala Fillah Fithra Dieny Fillah Fitra Dieny Fitriyono Ayustaningwarno Ginting, Ignasia Agatha Br Hardianti, Rahma Hastuti, Vivilia Niken Henny, Via Anugrah Hertanto Wahyu Subagio Hindarta, Nadhea Alriessyanne Hisanah, Raniah Ina Susanti Indriyanti, Risa Jauharany, Firdananda Fikri Kadita, Febiandra Khikmaturrohman, Sya’bani Isnaen Khusana Aniq Kurniawati, Dewi Marfu’ah Lestari, Rahma Wati Dwi Lili Nor Indah Sari Lilis Endang Wijayanti, Lilis Endang Linda Apriliani, Linda Maretha, Febrina Yollanda Marsa, Firdaus Shadiqa MARTHA ARDIARIA Mohammad Sulchan Mursid Tri Susilo Nafsih, Vifin Zakiahtin Ninik Rustanti Nissa, Choirun Nugraheni, Dini Nur Aini, Fadhilah Nur Indah Kurniawati Nurhidayati, Lisa Rosyida Nurmasari Widyastuti Nuryanto Nuryanto Pratiwi, Syafira Noor Puspitadewi, Irene Nucifera Qoniatu Zulfa Rachma Purwanti Rachmayanti, Annisa Alifaradila Rahma Wati Dwi Lestari Rahmadani, Prita Ady Ramadhan, Nauval Rifqy Ramadhan, Rahmawati Rani Ridowahyu Saphira Ranitadewi, Ika Nindyas Ratih Paramastuti Rimahardika, Rosita Rizqiawan, Angga Rosmalinda, Yusie Sari, Mega Lucyta Siti majidah Syahadah, Muti'ah Mustaqimatusy Syaher, Miladita Ilmanda Syahidah, Zulfah Asy Titien Indah Saputri, Titien Indah Tsani, A Fahmy Arif Tzani, Niza Iana Utami, Citra Tristi Velicia, Velicia Wendiranti, Catra Ibriza Yumni, Dienny Zata