Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

PERAN AKTIF PUBLIK FIGUR BERBASIS KEARIFAN LOKAL MENDUKUNG PROMOSI PENCEGAHAN & PENGENDALIAN HIV/AIDS DI KABUPATEN SIDENRENG RAPPANG Ishak, Ishak; Fitriani, Fitriani; Murtini, Murtini
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 10 (2024): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v7i10.3977-3981

Abstract

HIV (human immunodeficiency virus) adalah virus penyebab AIDS dan menyerang sistem kekebalan tubuh, sehingga mustahil bagi orang yang terinfeksi untuk bertahan hidup meskipun penyakitnya ringan. Tokoh agama merupakan aktor penting dalam masyarakat karena mereka mempunyai legitimasi dan sudah lama hidup dalam komunitasnya. Tokoh agama juga diyakini dapat berperan penting dalam mengubah persepsi masyarakat tentang HIV/AIDS. Selain itu, tokoh agama diyakini dapat meningkatkan kesadaran Komunitas yang memerangi HIV/AIDS dan mengurangi stigma dan diskriminasi pengidap HIV/AIDS. Tujuan dari layanan ini adalah untuk mempromosikan pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS melalui Figur Tokoh Agama melalui strategi ABG Advokasi, Bina Suasana dan Gerakan Pemberdayaan Masyarakat berbasis Android dan melakukan screening mandiri melalui aplikasi mobile tersebut. Kegiatan pengabdian dilakukan secara terencana, terkonsep dan ilmiah dengan Sosialisasi, Pelatihan, Penerapan Teknologi Screening Mandiri Mobile HIV, Melakukan pendampingan dan evaluasi. Implementasi Digunakan dalam konteks pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS Muhammadiyah Sidrap, dengan menggunakan Aplikasi Screening Mandiri Mobile dari hasil strategi ABG yang dilakukan dengan kelompok populasi berisiko dalam rangka pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS oleh Muhammadiyah Sidrap dilakukan langkah-langkah antara lain penyuluhan IMS, HIV dan AIDS, pendataan tempat beresiko, membagikan liflet kepada masyaakat,), pertemuan dengan Tokoh Agama, Layanan konsultasi bekerja sama dengan tim layanan kesehatan untuk melakukan skrining terhadap kelompok risiko dan orang sakit, serta merujuk pasien yang sudah terinfeksi.
PENGARUH MATA KULIAH TECHNOPRENERSHIP DAN LINGKUNGAN KELUARGA TERHADAP MINAT MENJADI TECKHNOPRENER PADA MAHASISWA STMIKWIDYA PRATAMA PEKALONGAN Wahjuningsih, Tri Pudji; Murtini, Murtini; Siswanto, Victorianus Aries
IC Tech: Majalah Ilmiah Vol 13 No 1 (2018): IC Tech: Majalah Ilmiah Volume XIII No. 1 April 2018
Publisher : P3M Institut Widya Pratama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47775/ictech.v13i1.29

Abstract

Jumlah pelaku wirausaha di Indonesia hingga kini masih belum mencapai angka ideal yakni dua persen dari jumlah penduduk Indonesia. Data terkini dari Global Entrepreneurship Monitor (GEM) menunjukkan bahwa Indonesia baru mempunyai sekitar 1,65 persen pelaku wirausaha dari total jumlah penduduk 250 juta jiwa. Peran serta perguruan tinggi dalam mengejar ketinggal angka ideal pelaku wirausaha sangat dibutuhkan. Untuk itu STMIK Widya Pratama Pekalongan menggerakkan dan mengenalkan mahasiswa tentang Technopreneur. Dengan memberikan ilmu technopreneur harapannya adalah mahasiswa setelah lulus dari STMIK dapat menciptakan usaha dibidang teknologi. Selama pemberian matakuliah Technopreneur STMIK belum pernah diteliti apakah ada pengaruhnya mata kuliah Technopreneur dan lingkungan keluarga terhadap minat mahasiswa menjadi technopreneur. Penelitian ini mengambil sampel mahasiswa yang telah mengambil matakuliah Technopreneurship dan belum bekerja sebanyak 179. Dari hasil kuesioner dan telah melalui uji validitas, reliabilitas dan normalitas, didapatkan hasil penelitian melalui uji t  yaitu secara parsial terdapat pengaruh variabel mata kuliah Technopreneurship (X1), terhadap minat menjadi technopreneur (Y). Dan dengan menggunakan uji t  didapatkan hasil bahwa secara parsial terdapat pengaruh variabel lingkungan keluarga (X2),  terhadap minat menjadi technopreneur (Y)
RANCANG BANGUN SISTEM PENGENDALIAN SATU HARGA DI PASAR GROGOLAN KOTA PEKALONGAN Arochman, Arochman; Prasetiono, Slamet Joko; Murtini, Murtini
IC Tech: Majalah Ilmiah Vol 15 No 1 (2020): IC Tech: Majalah Ilmiah Volume XV No. 1 April 2020
Publisher : P3M Institut Widya Pratama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47775/ictech.v15i1.101

Abstract

Di pasar Grogolan banyak pedagang menyediakan bahan pokok dengan bermacam kualitas harga. Konsumen sering dirugikan dengan membeli bahan pokok yang harganya di atas harga normal. Perlindungan terhadap konsumen di pasar Grogolan perlu dilakukan dengan penginformasian harga secara aktual dan meyeluruh. Pengembangan sistem informasi pengendalian satu harga berbasis web menjadi tujuan yang tepat untuk mengiformasikan harga bahan pokok kepada pedagang dan pengunjung pasar Grogolan. Pembangunan sistem menggunakan framework CodeIgniter dengan penerapan konsep model-view-controller. Dari pengembangan sistem informasi pengendalian satu harga dapat disimpulkan sistem mampu memberikan informasi standar harga kebutuhan pokok setiap saat sebagai bentuk pengendalian harga, mampu menginformasikan peraturan-peraturan yang harus dipatuhi dalam lingkungan pasar Grogolan, dan memyampaikan pengumuman kepada pengunjung dan pedagang secara langsung.Kata Kunci : rancang bangun, sistem pengendalian satu harga 
PERSEPSI KEPUASAN PELANGGAN PDAM KOTA PEKALONGAN Siswanto, Victorianus Aries; Wahjuningsih, Tri Pudji; Murtini, Murtini
IC Tech: Majalah Ilmiah Vol 14 No 2 (2019): IC Tech: Majalah Ilmiah Volume XIV No. 2 Oktober 2019
Publisher : P3M Institut Widya Pratama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47775/ictech.v14i2.177

Abstract

Teknologi informasi kini menjadi kebutuhan masyarakat dalam mencari informasi secara realtime menjadi hal yang dicari. Sistem Informasi Geografis mempunyai kemampuan untuk menghubungkan berbagai data pada suatu titik tertentu di bumi yang menggabungkan dan akhirnya memetakannya. Praktik kedokteran adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh dokter dalam upaya kesehatan terhadap pasien, baik umum, maupun mata dan memiliki jam praktik. Pelayanan kesehatan yang ada di Kabupaten Pemalang kurang di dukung dengan informasi yang jelas dan akurat. Penyakit yang kadang datang secara tiba-tiba membuat pasien membutuhkan tempat berobat terdekat, terlebih jika pasien kesulitan saat mencari informasi tempat praktek dokter. Dengan dibuatkan sistem informasi geografis tempat praktik dokter di wilayah kabupaten Pemalang berbasis web dinamis, sehingga nantinya dapat ditambahkan lokasi tempat praktik dokter lain untuk memberikan informasi kepada masyarakat agar mudah menemukan tempat praktik dokter di kabupaten Pemalang. Dalam pembuatan sistem ini menggunakan metode waterfall yaitu perencanaan, analisis, perancangan, implementasi, pengujian dan pemeliharaan. Alat pengembangan sistem yang digunakan adalah Unified Modeling Language (UML) dan tahap pengujian menggunakan White Box, Black Box, dan User Acceptance Test (UAT). Melalui proses tahap pengembangan dan pengujian tersebut, maka dihasilkan Sistem Informasi Geografis Tempat Praktik Dokter Umum dan Dokter Mata Di Wilayah Kabupaten Pemalang Berbasis Web.Kata kunci: Pelanggan, Kepuasan, PDAM
Pemberdayaan remaja melalui edukasi gizi sebagai upaya pencegahan stunting sejak dini Hasriani, St. Hasriani; Pratiwi, Wilda Rezki; Qardhawijayanti, Suci; Murtini, Murtini
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i9.1781

Abstract

Background: Indonesia has one of the highest stunting rates in the world, with nearly 25% of Indonesian children under five affected by stunting. The Nutritional Status Research (SSGI) from the Indonesian Ministry of Health revealed that in 2021, stunting affected 24.4% of children under five across the country. Providing adequate nutrition during adolescence and educating women about stunting is a strategy to prevent anemia and contribute to preventing future stunting. Purpose: To increase knowledge about nutrition and stunting among adolescents as an effort to prevent stunting from an early age. Method: This activity was held on September 16, 2025, in Amparita Village, Sidenreng Rappang Regency, with the theme "Preventing Stunting Through Early Nutrition Education." The activity was attended by village officials and local health cadres, and involved 24 adolescent respondents from the Amparita Village community. The outreach included educational material presented through leaflets, covering nutritional issues in adolescents, knowledge of the First 1,000 Days of Life, balanced nutrition, stunting prevention, and understanding healthy eating. Participants' knowledge gains and changes were evaluated by comparing pre-test and post-test data. Results: Data obtained showed that the majority of respondents' knowledge before (pre-test) the educational activity was in the poor category 20 respondents (83.3%), while the majority of respondents' knowledge after the education was in the good category 22 respondents (91.7%). Conclusion: The community service activity, which provided education on nutritional issues for adolescents, went well. The education provided was very effective in increasing adolescents' knowledge of nutritional issues and made a positive contribution as a strategic step in preventing stunting early in the community. Suggestion: It is hoped that health education activities can be implemented regularly both in schools and in adolescent communities. It is also hoped that in addition to educational activities, nutritional behavior mentoring and nutritional consultation interventions will be provided so that the knowledge gained can be effectively applied. Keywords: Adolescents; Health education; Nutrition; Stunting Pendahuluan: Angka stunting di Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia, dimana dengan hampir 25% anak balita di Indonesia terdampak stunting. Riset Status Gizi (SSGI) dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengungkapkan bahwa pada tahun 2021, stunting memengaruhi 24.4% balita di seluruh Indonesia. Sebagai upaya dengan memberikan pemenuhan gizi pada masa remaja dan mengedukasi perempuan tentang stunting merupakan strategi untuk mencegah terjadi anemia dan berkontribusi dalam pencegahan terjadinya stunting di masa datang. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan tentang gizi dan stunting pada remaja sebagai upaya pencegahan stunting sejak dini. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 16 September 2025 di Desa Amparita Kabupaten Sidenreng Rappang dengan tema “Cegah Stunting Melalui Edukasi Gizi Sejak Dini”. Kegiatan dihadiri perangkat desa, kader kesehatan setempat dan melibatkan 24 remaja sebagai responden yang merupakan bagian dari masyarakat Desa Amparita Kabupaten Sidenreng Rappang. Penyuluhan berupa edukasi berupa pemaparan materi dengan media leaflet, yang meliputi masalah gizi pada remaja, pengetahuan tentang 1000 Hari Pertama Kehidupan, asupan gizi seimbang, pencegahan stunting, dan pengertian menu makanan sehat. Peningkatan dan perubahan pengetahuan peserta, di evaluasi dengan membandingkan ata sebelum kegiatan (pre-test) dengan data sesudah kegiatan (post-test). Hasil: Mendapatkan data bahwa sebagian besar tingkat pengetahuan responden sebelum (pre-test) kegiatan edukasi dalam kategori kurang yaitu sebanyak 20 orang (83.3%), sedangkan tingkat pengetahuan responden setelah edukasi menjadi mayoritas dalam kategori baik yaitu sebanyak 22 orang (91.7%). Simpulan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan dengan memberikan edukasi tentang masalah gizi pada remaja telah berjalan dengan baik. Edukasi yang diberikan sangat efektif dalam meningkatkan pengetahuan remaja tentang masalah gizi pada remaja dan memberikan kontribusi positif menjadi langkah strategis dalam pencegahan terjadinya stunting sejak dini pada masyarakat. Saran: Diharapkan kegiatan edukasi kesehatan dapat dilaksanakan secara berkala baik disekolah maupun dikomunitas remaja. Diharapkan juga selain kegiatan edukasi untuk dilakukan pendampingan perilaku gizi dan intervensi konsultasi gizi agar pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan dengan baik.
Edukasi kesehatan reproduksi melalui influencer media sosial terhadap emosi positif dan kepercayaan diri remaja Syamson, Meriem Meisyaroh; Murtini, Murtini; Herikza, Ramli; Khotimah, Husnul; Nurdin, Nasrayanti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9 (edisi khusus konference)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1436

Abstract

Background: Adolescents often experience confusion, anxiety, and social pressure related to the physical and emotional changes that occur during puberty. Low self-confidence and a lack of positive emotions in dealing with these changes can make them vulnerable to unhealthy decision-making, including regarding sexual behavior. Reproductive education that does not address these psychological aspects is less effective in fostering healthy reproductive behaviors. Therefore, a reproductive education approach is needed that is not only informative but also able to increase positive emotions and self-confidence in adolescents to prepare them for the challenges of adolescence. Purpose: To analyze the impact of reproductive health education through social media influencers on adolescents' positive emotions and self-confidence. Method: This quantitative study used a two-group quasi-experimental design and research instruments such as surveys, interviews, and social media content analysis. Data collection included identifying influencers active in reproductive health education, observing uploaded content, and surveying adolescents in the influencers' audiences. Data analysis used paired t-tests and independent t-tests. Results: In the post-test, the health education variable for the intervention group obtained a p-value of 0.000 and a p-value of 0.013 for the control group, indicating similar differences. However, the positive emotion variable for the intervention group was 0.000, while the control group had a p-value of 0.280. This indicates a difference between the intervention group before and after the intervention, while there was no difference between the control group. Similarly, the self-confidence variable for the intervention group obtained a p-value of 0.000 and the control group a p-value of 0.569, indicating a difference between the intervention and control groups. Conclusion: There was a pre- and post-intervention effect of adolescent reproductive health education in the intervention group, while there was no difference or effect pre- and post-intervention in the control group.   Keywords: Reproductive Health Education; Positive Emotions; Influencers; Self-Confidence; Adolescents.   Pendahuluan: Remaja sering mengalami kebingungan, kecemasan, dan tekanan sosial terkait perubahan fisik dan emosional yang terjadi selama masa pubertas. Rendahnya kepercayaan diri dan kurangnya emosi positif dalam menghadapi perubahan tersebut dapat membuat mereka rentan terhadap pengambilan keputusan yang tidak sehat, termasuk dalam hal perilaku seksual. Edukasi reproduksi yang tidak menyentuh aspek psikologis ini menjadi kurang efektif dalam membentuk perilaku reproduksi yang sehat. Oleh karena itu, perlu adanya pendekatan edukasi reproduksi yang tidak hanya informatif tetapi juga mampu meningkatkan emosi positif dan kepercayaan diri remaja sebagai bekal menghadapi tantangan masa remaja. Tujuan: Untuk menganalisis edukasi kesehatan reproduksi melalui influencer media sosial terhadap emosi positif dan kepercayaan diri remaja. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain eksperimen (quasi-experimental design) two grup dan instrumen penelitian seperti survei, wawancara atau analisis konten media sosial. Pengumpulan data identifikasi influencer yang aktif edukasi kesehatan reproduksi, mengamati konten yang diunggah, survei remaja yang menjadi audiens influencer. Analisis data menggunakan statistic paired t test dan independent t-test. Hasil: Ketika post-test, variabel edukasi kesehatan kelompok intervensi mendapatkan p-value sebesar 0.000 dan kelompok kontrol sebesar 0.013, nilai tersebut tidak jauh berbeda. Namun, pada variabel emosi positif kelompok intervensi sebesar 0.000 sedangkan kontrol sebesar 0.280, sehingga kelompok intervensi ada perbedaan sebelum dan sesudah dilakukan intervensi, sedangkan kontrol tidak ada. Begitupun pada variabel kepercayaan diri, pada kelompok intervensi didapatkan p-value sebesar 0.000 dan kontrol sebesar 0.569, sehingga kelompok intervensi ada perbedaan, sedangkan kontrol tidak ada. Simpulan: Ada pengaruh sebelum dan sesudah dilaksanakan edukasi kesehatan reproduksi remaja pada kelompok intervensi, sedangkan kelompok kontrol tidak ada perbedaan atau pengaruh sebelum dan sesudah.   Kata Kunci: Edukasi Kesehatan Reproduksi; Emosi Positif; Influencer; Kepercayaan Diri; Remaja.
Psiko-edukasi kesehatan reproduksi pada remaja melalui pemberdayaan influencer media sosial Rustam, Husnul Khotimah; Syamson, Meriem Meisyaroh; Nurdin, Nasrayanti; Herikzah, Ramli; Murtini, Murtini
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i11.2130

Abstract

Background: This reproductive health psychoeducation program, designed to enhance positive emotions and self-confidence among adolescents using social media influencers, is designed as a promotive-preventive effort to address the developmental challenges of adolescents who are vulnerable to misinformation about reproductive health. The program's background is based on the low reproductive health literacy among adolescents and the high influence of social media on the behavior and mindset of the younger generation. Purpose: To increase adolescents' understanding of reproductive health, build awareness of the importance of self-care, and foster positive emotions and self-confidence through the empowerment of influencers and digital media. Method: This activity was carried out in June 2025 at SMAN 2 Sidenreng Rappang with a population of 120 people while the sample size was 46 people. The material delivery technique was through lectures interspersed with ice breaking. The method of implementing this reproductive health psycho-education program used a social media-based educational approach with collaboration with influencers close to the youth segment. The first stage was conducting a needs analysis, followed by selecting influencers, then producing psycho-educational content, followed by implementation and digital interaction, then conducting program evaluation and analyzing digital engagement (number of views, likes, comments, and participation). This method is designed to be participatory, interactive, and relevant to the digital world of youth, so that psycho-educational messages can be optimally received. Results: The majority of participants demonstrated a better understanding of basic reproductive health concepts, the risks of risky sexual behavior, and the importance of maintaining reproductive health. Positive emotions increased, including feelings of calmer, more motivated, and more optimistic about the physical and social changes they experienced. Adolescents demonstrated greater courage in expressing their opinions, rejecting calls to engage in risky behavior, and making healthy decisions. Participant engagement on social media increased, as evidenced by the high number of views, likes, comments, and participation in online discussions. Conclusion: A social media-based reproductive health psychoeducation program involving influencers has proven to be an innovative and effective approach to improving health literacy, building positive emotions, and fostering self-confidence in adolescents. This activity increased adolescents' understanding, positive attitudes, and courage in making healthy decisions. It also contributes to the development of technology-based educational strategies that are relevant in the digital era and can be replicated across regions. Suggestion: For the program's sustainability, it is recommended that psycho-educational content be continuously developed in more varied and creative formats to attract adolescents in the long term. It is hoped that this program will not be merely a temporary intervention, but can become a model for sustainable reproductive health education with broad impact, supporting the development of a healthy, confident, and psychologically well-being generation. Keywords: Adolescents; Positive emotions; Reproductive health psycho-education; Social media influencers; Self-confidence Pendahuluan: Program psiko-edukasi kesehatan reproduksi untuk meningkatkan emosi positif dan kepercayaan diri remaja menggunakan peran influencer media sosial dirancang sebagai upaya promotif-preventif dalam menghadapi tantangan perkembangan remaja yang rentan terhadap informasi keliru mengenai kesehatan reproduksi. Latar belakang program ini didasari oleh rendahnya literasi kesehatan reproduksi pada remaja serta tingginya pengaruh media sosial terhadap perilaku dan pola pikir generasi muda. Tujuan: Untuk meningkatkan pemahaman remaja tentang kesehatan reproduksi, membangun kesadaran akan pentingnya menjaga diri, menumbuhkan emosi positif dan rasa percaya diri melalui pemberdayaan influencer dan media digital. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan pada Juni 2025 yang bertempat di SMAN 2 Sidenreng Rappang dengan populasi sebesar 120 orang sementara jumlah sampel sebanyak 46 orang. Teknik penyampaian materi adalah dengan ceramah dan diselingi dengan ice breaking. Metode pelaksanaan program psiko-edukasi kesehatan reproduksi ini menggunakan pendekatan edukasi berbasis media sosial dengan kolaborasi influencer yang dekat dengan segmen remaja. Tahap pertama melakukan analisis kebutuhan selanjutnya melakukan pemilihan influencer kemudian produksi konten psiko-edukasi yang dilanjutkan dengan implementasi dan interaksi digital, kemudian melakukan evaluasi program serta analisis keterlibatan digital (jumlah views, likes, komentar, dan partisipasi). Metode ini dirancang agar bersifat partisipatif, interaktif, dan relevan dengan dunia digital remaja, sehingga pesan psiko-edukasi dapat diterima secara optimal. Hasil: Mayoritas peserta menunjukkan pemahaman yang lebih baik mengenai konsep dasar kesehatan reproduksi, risiko perilaku seksual berisiko, serta pentingnya menjaga kesehatan organ reproduksi. Adanya peningkatan emosi positif berupa perasaan lebih tenang, termotivasi, serta lebih optimis dalam memandang perubahan fisik dan sosial yang mereka alami. Remaja menunjukkan keberanian yang lebih besar dalam menyampaikan pendapat, menolak ajakan berperilaku berisiko, serta mengambil keputusan sehat. Keterlibatan (engagement) peserta dalam media sosial meningkat, ditunjukkan oleh tingginya jumlah views, likes, komentar, serta partisipasi dalam diskusi online. Simpulan: Program psiko-edukasi kesehatan reproduksi berbasis media sosial dengan melibatkan peran influencer terbukti menjadi pendekatan inovatif dan efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan, membangun emosi positif, serta menumbuhkan kepercayaan diri remaja. Kegiatan ini memberikan peningkatan pemahaman, sikap positif, serta keberanian remaja dalam mengambil keputusan sehat dan juga memberikan kontribusi pada pengembangan strategi edukasi berbasis teknologi yang relevan di era digital serta dapat direplikasi di berbagai wilayah. Saran: Untuk keberlanjutan program, disarankan agar konten psiko-edukasi terus dikembangkan dengan format yang lebih variatif dan kreatif, agar menarik minat remaja dalam jangka panjang. Diharapkan program ini tidak hanya menjadi intervensi sesaat, tetapi dapat menjadi model edukasi kesehatan reproduksi yang berkelanjutan, berdampak luas, serta mendukung terbentuknya generasi muda yang sehat, percaya diri, dan memiliki kesejahteraan psikologis yang lebih baik.
Analisis Dampak Implementasi Transformasi Digital Pendidikan dan Tantangannya terhadap Mutu Pembelajaran di SMAN 1 Teluk Gelam Triani, Wiwin; Wulandari, Zwesty; Juwita, Indriah; Febriyanti, Elsha Vitria; Husni, Darmawi; Murtini, Murtini; Nelly, Nelly; Efendi, Darwin; Riansyah, Akbar
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.38340

Abstract

Transformasi digital dalam sektor pendidikan telah menjadi agenda strategis nasional Indonesia untuk meningkatkan kualitas dan aksesibilitas pembelajaran, khususnya melalui kebijakan Merdeka Belajar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak implementasi transformasi digital terhadap mutu pembelajaran serta mengidentifikasi tantangan yang dihadapi oleh SMA Negeri 1 Teluk Gelam, Kabupaten Ogan Komering Ilir. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus tunggal yang mendalam. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, studi dokumentasi terhadap pangkalan data pendidikan (DAPODIK), serta tinjauan literatur dari jurnal bereputasi lima tahun terakhir (2021-2026). Hasil penelitian menunjukkan bahwa SMAN 1 Teluk Gelam telah mengadopsi Kurikulum Merdeka dengan kategori "Merdeka Berubah", di mana pemanfaatan platform digital seperti Platform Merdeka Mengajar (PMM) mulai terintegrasi dalam praktik pedagogis. Dampak positif terlihat pada peningkatan efisiensi manajemen performa guru, transparansi administrasi, dan peningkatan keterlibatan siswa melalui media interaktif. Namun, efektivitas transformasi ini masih terhambat oleh kesenjangan infrastruktur digital, keterbatasan akses internet yang stabil di wilayah rural, serta variasi tingkat literasi digital di kalangan tenaga pendidik yang memicu beban kognitif berlebih. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun teknologi memberikan peluang besar untuk peningkatan mutu, keberhasilannya sangat bergantung pada penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui Komunitas Belajar (PLC) dan dukungan infrastruktur yang berkelanjutan. Transformasi digital di SMAN 1 Teluk Gelam memerlukan sinkronisasi antara kebijakan pemerintah pusat dan kesiapan operasional lokal untuk meminimalisir kesenjangan kualitas pembelajaran.
Improving the Ability to Read the Beginning of Consonant Letters in Grade 1 Elementary School with Cooperative Method of Scramble Game Type Murtini, Murtini
Social, Humanities, and Educational Studies (SHES): Conference Series Vol 5 (2022): Social, Humanities, and Educational Studies (SHEs): Conference Series (Special Issue 2
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/shes.v5i6.81033

Abstract

Improving the ability to read beginnings with consonants in grade 1 elementary school through a cooperative method of scramble game type is one of the many ways that low grade teachers can do in fun learning and increase learning motivation because this activity can be done outside the classroom or in the classroom in groups. Learning in low grades requires activities with a pleasant atmosphere because students are still in the learning stage while playing. Teachers must be able to facilitate students who are subjects in the learning system in Indonesia today. In achieving learning outcomes, not only students are active but teachers must always create new ideas that can motivate students and develop students' curiosity.