Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Perkembangan Dan Peninggalan Dinasti Moghul Di India 1525-1857 Muhammad Basri; Nur Saadah; Ijar Salna
Pendekar : Jurnal Pendidikan Berkarakter Vol. 2 No. 1 (2024): Februari : Jurnal Pendidikan Berkarakter
Publisher : LPPM Politeknik Pratama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51903/pendekar.v2i1.582

Abstract

There are three aims of writing this article: first to understand the identity of the Moghul kingdom;the second is to understand the growth of the Moghul empire, and the third is to study some of themisfortunes of the Moghul empire, such as in the fields of politics, socialism, and politics, art, andso on. The founder of the Moghul empire was Kutbu'ddin Aibak (1206–11), who was able toestablish an independent Islamic kingdom in India. There were three rulers: Aurangzib, ShahJahan, and Sultan Akbar. Sultan Akbar also combined Islamic and Hindu civilization and had aruler who was able to maintain the stability of the sultanate. On the other hand, Shah Jahan gaveaway a few secrets, such as the famous Taj Mahal. Other Aurangzib people are still struggling toimprove their education. However, after Aurangzib succeededin establishing the unity of thekingdom, the Moghuls were reluctant to become the few remaining kingdoms. The imprisonment ofthe Sepoys in 1857 marked the end of the Moghul era. The English were different from the Moghulmonarchy.
Relevansi Nilai-Nilai Peradaban Islam dalam Kehidupan Masyarakat Modern Muhammad Basri; Iis Rosidah
Maksimal Jurnal : Jurnal Ilmiah Bidang Sosial, Ekonomi, Budaya, Teknologi, Dan Pendidikan Vol 3 No 6 (2026): Agustus
Publisher : Maximal Journal : Jurnal Ilmiah Bidang Sosial, Ekonomi, Budaya dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi dan globalisasi membawa kemajuan sekaligus tantangan berupa degradasi moral, individualisme, kesenjangan sosial, dan krisis identitas. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya nilai-nilai peradaban Islam sebagai landasan moral dan etika dalam menghadapi perubahan kehidupan masyarakat modern. Penelitian ini bertujuan menganalisis relevansi nilai-nilai peradaban Islam dalam kehidupan masyarakat modern serta implementasinya dalam kehidupan sosial. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan. Data diperoleh dari buku, jurnal ilmiah, artikel akademik, dan dokumen relevan. Data dianalisis melalui tahapan pengumpulan, reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan berdasarkan tema penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai keadilan, keilmuan, toleransi, musyawarah, dan tanggung jawab sosial tetap relevan dalam menghadapi tantangan masyarakat modern. Nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam bidang pendidikan, kehidupan sosial, budaya, dan kemasyarakatan untuk memperkuat keharmonisan, solidaritas, kesejahteraan, serta keseimbangan antara kemajuan material dan spiritual. Nilai-nilai peradaban Islam tetap relevan sebagai landasan moral dalam membangun masyarakat modern yang adil, toleran, berilmu, dan berkeadaban. Penelitian ini mengintegrasikan lima nilai utama peradaban Islam sebagai kerangka etis untuk menghadapi tantangan sosial masyarakat modern secara seimbang.
Meneladani Sikap Abu Bakar As Siddiq Kepada Anak Usia Dini Melalui Metode Cerita Di TK Al-Mustaqiem Muhammad Basri; Isnaini Kurnia Syahri; Nurul Oktafianti
Khatulistiwa: Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora Vol. 2 No. 4 (2022): Desember : Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora
Publisher : AMIK Veteran Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/khatulistiwa.v2i4.974

Abstract

One of the characteristics of early childhood is imitation, children can imitate what they see around them. In fostering the attitude of early childhood to become a good person can be trained as early as possible. When instilling a commendable attitude can be done through the story method because the story method aims to train children in communicating, understanding messages or lessons that can be drawn from stories, as well as broadening insight and vocabulary knowledge. This study aims to find out how to use the story method when imitating the attitude of Abu Bakar Ash-Shiddiq in Al-mustaqiem Kindergarten. This study uses qualitative methods that tend to use analysis.
REALISASI METODE DISKUSI RASULLAH SAW TERHADAP PEMBELAJARAN ANAK USIA DINI Fadilla Aini Nasution; Sarah Ramadhani; Muhammad Basri
Journal of Creative Student Research Vol. 1 No. 2 (2023): April : Journal of Creative Student Research
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (650.945 KB) | DOI: 10.55606/jcsrpolitama.v1i2.1055

Abstract

Metode Rasulullah dalam aktivitas pengajaran adalah bentuk Pertanyaan logis atau pasional metode Ini biasanya, beliau tempuh dalam rangka Menyadarkan Seseorang, tentang kebenaran Metode berdiskusi ini mengenai Pemecahan masalah Sebagai mana Pula Rasulullah berdiskus, Kepada Para Sahabatnya memberikan Pengabaran fentang perilalu melalui teladan yang baik dan Pengajaran oleh keesaan Allah.Ada banyak metode dalam pengajaran yang diterapkan Oleh guru di Salah satunya metode diskusi metode ini menekankan pada Interaksi antara sesama Peserta didik dan juga guru dalam Membahas atau mencari solusi Pembelajaran materi. Rasulullah SAW merupakan salah satu contoh dari beberapa amalan pembelajaran yang baik. Sebelum mengajar, guru harus menjelaskan kepada siswa tentang keutamaan ilmu dan pencarian ilmu, sehingga siswa merasa membutuhkan ilmu. Kemudian menggabungkan pengajaran dan pendidikan, yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi menumbuhkan perilaku peserta didik menjadi manusia yang berakhlak baik. metode pembelajaran yang sesuai yaitu metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi, kemudian evaluasi. Guru juga harus memperhatikan dan memuji siswa agar siswa merasa dihargai dalam meningkatkan pembelajarannya. Selain itu, guru harus mengetahui potensi dan kemampuan berpikir siswa sehingga dapat menilai tingkat belajar siswa.