Claim Missing Document
Check
Articles

Pengembangan Ekowisata Mangrove Terhadap Perubahan Sosial Masyarakat Lokal di Desa Sungai Kupah Holik, Mat; Sikwan, Agus; Listyaningrum, Indah; Arkanudin, Arkanudin; Rahmaniah, Syarifah Ema
SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum Vol. 3 No. 5 (2024): SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum, Oktober 2024
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/seikat.v3i5.1503

Abstract

Penulisan Tesis ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengembangan Ekowisata Mangrove Telok Berdiri di Desa Sungai kupah, strategi pengelola dalam memperoleh bantuan pembangunan dari pemerintah maupun pihak swasta, dan perubahan sosial yang terjadi akibat interaksi antara masyarakat lokal dengan pengunjung serta menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan sosial akibat interaksi yang terjadi di Desa Sungai Kupah. Metode penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Setelah melakukan penelitian lapangan dan analisa, hasil penulisan ini mengungkapkan bahwa pengembangan Ekowisata Telok Berdiri diakibatkan oleh penambahan pembangunan dan kunjungan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kratif Republik Indonesia, Dr. H. Sandiaga Salahuddin Uno, B.B.B.A.,M.A. dalam rangka penganugerahan desa wisata dan penghargaan KALPATARU untuk penggagas Ekowisata Telok Berdiri dan perubahan sosial masyarakat lokal dari gaya bicara mengikuti gaya modern yang di bawah oleh pengunjung serta budaya berpakaian lebih mengikuti budaya berpakaian pengunjung Seperti dahulunya masyarakat tidak terlalu mementingkan urusan penampilan dan gaya hidup, mereka lebih mementingkan masalah kebutuhan pokok dari pada masalah penampilan, tetapi sekarang berbeda keadaannya, karena kini urusan penampilan dan gaya hidup mulai menjadi perhatian serius.
Fenomena Wanita dalam Budaya Kerja “Pengerih” di Desa Pandu Raya Kecamatan Parindu Kabupaten Sanggau Petrix, Lusiandro Julian; Rahmaniah, Syarifah Ema; Syarmiati, Syarmiati
JSSH (Jurnal Sains Sosial dan Humaniora) JSSH (Jurnal Sains Sosial dan Humaniora) Vol. 8 No. 2 September 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/jssh.v8i2.23866

Abstract

Permasalahan mengenai dominasi kaum wanita dalam budaya kerja pengerih di Desa Pandu Raya ini menjadi topik permasalahan yang cukup menarik untuk diteliti. Hal ini dikarenakan beban pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawab kaum pria, berubah menjadi tanggung jawab kaum wanita. Budaya kerja pengerih sendiri merupakan budaya kerja sama atau gotong–royong didalam masyarakat Desa Pandu Raya dan sekaligus menjadi suatu tradisi atau budaya leluhur masyarakat Suku Dayak Panu. Walaupun telah mengenal sistem pembagian kerja yang jelas antara kaum pria dan wanita, namun dapat dilihat bahwa kaum wanita adalah kaum yang dominan dari pada kaum pria. Kurang terlibatnya kaum pria dalam budaya kerja pengerih disebabkan oleh profesi yang telah dimiliki oleh kaum pria seperti Petani Sawit, Petani Karet, karyawan perusahaan, Guru, Pedagang Kecil, dan lainnya sehingga untuk terlibat dalam budaya kerja pengerih bagi kaum pria hanya dapat dilakukan apabila waktu luang saja.
Gastronomi Kue Bingke sebagai Makanan Khas Kota Pontianak Hikmat, Ismunandy Miftahul; Praptantya, Donatianus BSE; Rahmaniah, Syarifah Ema
Balale' : Jurnal Antropologi Vol 5, No 2 (2024): November 2024
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/balale.v5i2.80331

Abstract

Gastronomi Kue Bingke sebagai makanan khas Kota Pontianak merupakan fenomena budaya yang menarik untuk diteliti. Kue Bingke adalah salah satu kue tradisional yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Pontianak. Penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam tentang sejarah, proses pembuatan, variasi rasa, dan peran Kue Bingke dalam konteks gastronomi lokal. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam dengan para penjual dan pengrajin Kue Bingke, serta observasi langsung di tempat-tempat pembuatan dan penjualan kue tersebut. Data juga dikumpulkan melalui studi literatur untuk memahami konteks sejarah dan budaya Kue Bingke di Pontianak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kue Bingke memiliki sejarah panjang dan merupakan warisan budaya yang turun-temurun di Kota Pontianak. Proses pembuatannya yang sederhana namun membutuhkan keterampilan khusus telah menjadi bagian dari identitas kuliner lokal. Berbagai variasi rasa Kue Bingke, mulai dari tradisional hingga modern, juga memperkaya pengalaman gastronomi masyarakat Pontianak. Kue Bingke tidak hanya menjadi camilan atau hidangan pendamping, tetapi juga memiliki nilai simbolis dan sosial yang kuat dalam budaya masyarakat Pontianak. Kehadirannya dalam berbagai acara tradisional dan perayaan merupakan bukti akan peran pentingnya dalam memperkuat ikatan sosial dan identitas komunitas. Penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang gastronomi Kue Bingke sebagai makanan khas Kota Pontianak serta kontribusinya dalam memperkaya warisan budaya dan menjaga keberlanjutan tradisi kuliner lokal.
Early Marriage Among Teenagers in Peniti Dalam II Village, Segedong Subdistrict, Mempawah Regency Desita Sari; Endang Indri Listiani; Syarifah Ema Rahmaniah; Mukhlis, Mukhlis; Syarmiati, Syarmiati
International Journal of Education, Vocational and Social Science Vol. 3 No. 01 (2024): Pebruary, International Journal of Education, vocational and Social Science (I
Publisher : Cita konsultindo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63922/ijevss.v3i01.628

Abstract

Early marriage in the Peniti Dalam II Village Community is quite common. The causes of early marriage in Peniti Dalam II Village are promiscuity, avoiding adultery, pregnancy outside of marriage, self-will, culture, invitations have been spread, broken home children, and because they have been dating for a long time. The puspose of this research is to explain the causes of early marriage and the impact of early marriage in the Peniti Dalam II Village, Segedong District, Mempawah Regency. The method used in this research is descriptive qualitative reseacrh method with observation, interview, and dokumentation techniques. The results of this study indicate that the negative impact is more dominant in early marriages conductred by teenagers in Peniti Dalam II Village.
The Impact of Developing Tourist Villages on Social Resilience in Sungai Kakap Sub-District, Kubu Raya District Syarmiati, Syarmiati; Rupita, Rupita; Yulianti, Yulianti; Rahmaniah, Syarifah Ema; Th Musa, Dahniar
International Journal of Education, Vocational and Social Science Vol. 3 No. 02 (2024): May, International Journal of Education, Vocational and Social Science( IJVESS
Publisher : Cita konsultindo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63922/ijevss.v3i02.805

Abstract

The development of a tourist village in Sungai Kakap District, Kubu Raya Regency has a significant impact on the social resilience of the local community. This development process not only increases economic potential, but also strengthens social interactions between residents and tourists. First of all, the tourism sector is a new source of income for the community, creating jobs and increasing economic prosperity. This can reduce poverty levels and increase population access to education and health services. Apart from that, the existence of tourist villages creates opportunities for local communities to market their traditional products, increasing added value and sustainability of the local economy. The development of tourist villages also strengthens the social networks of local communities. Interaction between residents and tourists results in an exchange of culture, values and experiences. It enriches people's social lives by introducing them to diverse perspectives and traditions. In this way, tourist villages create an inclusive environment that promotes tolerance and mutual understanding between cultures. The active involvement of residents in welcoming and serving tourists also builds a sense of shared responsibility for the development of the destination. However, it should be remembered that developing tourist villages can also pose challenges, such as the possibility of rapid social change and potential conflicts between local and commercial interests. Therefore, it is important for the government and relevant stakeholders to manage the development of tourist villages wisely, ensuring the right balance between economic growth, cultural preservation and social justice so that the positive impacts can be felt in a sustainable manner by all local communities.
Biopolitics and Stunting Treatment: Barriers to Community Participation in Sambas Regency, Indonesia Rahmaniah, Syarifah Ema; Hasni, Ali Almurthadho; Halida, Halida; Syarmiati, Syarmiati; Ghozali, Ahmad; Rabbani Lubis, Ali Akhbar Abaib Mas
Jurnal Ilmiah Peuradeun Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah Peuradeun
Publisher : SCAD Independent

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26811/peuradeun.v13i2.1872

Abstract

Stunting remains a major public health issue in Indonesia, especially in border areas like Sambas Regency, where intervention efforts have seen limited success. This study investigates the biopolitical dimensions of stunting by highlighting the disconnect between national policies and local realities, particularly in community participation and behavioral change. Using a qualitative case study in Lela Village, data were collected through interviews, observations, and document analysis. Results indicate that low paternal involvement, reliance on traditional medicine, poor health literacy, and smoking habits hinder prevention efforts. State narratives also tend to overburden mothers while neglecting shared responsibility. Biopolitical and gender based approaches to stunting remain underexplored in Indonesia. Stunting is understood here as a complex interaction of power and knowledge that influences public perspectives and government policy. The study calls for a shift from top-down technical fixes to inclusive strategies that promote gender equity, empower communities, and adapt to socio-cultural contexts. It contributes to the discourse on public health governance by advocating participatory, context-sensitive, and transformative solutions for sustainable stunting reduction.
Human Trafficking pada Masa Pandemi COVID-19 di Perbatasan Darat Malaysia-Indonesia, Kalimantan Barat Rupita, Rupita; Herlan, Herlan; Gaffar, Zakiah Hassan; Rahmaniah, Syarifah Ema; Niko, Nikodemus
Jurnal Masyarakat Maritim Vol 5 No 2 (2021): Oktober, 2021
Publisher : Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/jmm.v5i2.4065

Abstract

The covid-19 pandemic threatens public health alone, therefore most governments in various countries in the world affected by covid-19 take steps in the form of mobility restriction policies to prevent the spread of the virus in the community this also applies in Indonesia. Restrictions on people's mobility make the problems experienced by the community more complex and difficult to control, the number of mass layoffs becomes a trigger for high unemployment in Indonesia. This research uses descriptive qualitative methods. Data collection is done through an online repository, by filtering keywords in search; criminal acts of trafficking, women migrant workers, protection of migrant workers and handling of trafficking cases in the period of emigrants. Each author is tasked with collecting data based on search keywords. Based on the results of research, the high unemployment rate in the pandemic period became one of the main triggers for the criminal act of trafficking in persons. The situation of female migrant workers working abroad is increasingly complex because some of them are undocumented and some have been over-stayers. There are currently around 6 to 8 million Indonesian migrant workers abroad and the majority of them are women. Cases of human trafficking in the border region during the COVID-19 pandemic increased with economic mode. The closure of cross-border postal access is not effective enough in suppressing cases of trafficking at the country's borders. Various efforts have been made by the Indonesian government ranging from implementing policies to efforts to cooperate with various stakeholders — namely the government as regulators, policy makers, as well as law enforcement, and private parties as business actors / recruiters of labor and banking, as well as civil society institutions that are the driving force – to seek protection for Indonesian migrant workers abroad.
Edukasi dan upaya pencegahan kekerasan seksual pada remaja Sari, Desita; Rahmaniah, Syarifah Ema; Yuliono, Agus; Alamri, Annisa Risqa; Utami, Sonia; Andraeni, Vindy; Wati, Riska
Jurnal Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (JP2M) Vol. 4 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jp2m.v4i1.19818

Abstract

Desa Gunungrejo yang terletak di Kecamatan Singasari Kabupaten Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Kabupaten Mempawah, kasus kekerasan seksual terjadi peningkatan. Kekerasan seksual ini kerap kali menimbulkan korban yang dianggap sebagai oknum-oknum yang lemah seperti perempuan dan anak–anak yang masih di bawah umur.  Hadirnya kekerasan seksual ini tentunya menjadi sebuah permasalahan yang cukup besar yang mana hal ini akan menimbulkan dampak yang negatif kepada korban. Tujuan kegiatan ini yaitu untuk meningkatkan kesadaran dan penguatan upaya pencegahan serta penanganan kekerasan seksual di lingkungan remaja dan sekolah. Metode kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan Participatory Action Research (PAR). Aksi dilaksanakan dengan model ceramah, diskusi dan disertai game di SMPN 2 Segedong, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Adapun materi yang disampaikan oleh kami berisikan tentang materi pengertian kekerasan seksual, pentingnya edukasi seksual, bentuk-bentuk dari kekerasan seksual, macam-macam kekerasan seksual, dampak dari kekerasan seksual dan hukum yang mengatur & melindungi korban tindak pidana dalam kekerasan seksual.  Kasus kekerasan seksual terjadi peningkatan dari tahun ke tahun dan remaja menjadi kelompok rentan yang menjadi korban. kasus pelecehan seksual ini bisa terjadi karena adanya pemain kekuasaan (Quid Pro Quo). Penting untuk pihak sekolah membuat kebijakan untuk mencegah dan menangani kekerasan seksual.  Para remaja juga mesti tahu apa yang dilakukan ketika mendapat kekerasan seksual. Selain itu perlu membuat gerakan upaya apa saja yang bisa mereka lakukan untuk melawan kasus kekerasan di lingkungan sekolah. Hasil kegiatan ini memperlihatkan adanya peningkatan pengetahuan, afektif dan psikomotor terkait pencegahan dan penanganan kekerasan seksual.
DISCRIMINATION OF RELIGIOUS FREEDOM: The Case of Persecution of the Ahmadiyya Minority Group in West Kalimantan Suprianto, Bibi; Rahmaniah, Syarifah Ema; Alfian, Andi; Lubis, Sopian
AL-TAHRIR Vol 23 No 1 (2023): Islamic Studies
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/altahrir.v23i1.6959

Abstract

Human rights are an aspect of social existence. Human rights also include the right to religious freedom in retaining faith and belief in human beings. By comprehending the right to religious freedom, we may identify the rights of belief in all individuals. This study aims to inform readers about the Ahmadiyya minority group’s religious freedom abuses in West Kalimantan due to discriminatory policies. This study argues that Ahmadiyya in Sintang has encountered forms of discrimination against the rights to religious freedom in Indonesia.Thus, this study formulates research questions such as (1) what is the chronology and form of persecution against Ahmadiyya? (2) what is the role of actors in discriminating against the Ahmadiyya minority group in West Kalimantan? (3) What is the policy on religious freedom toward the Ahmadiyya minority group in West Kalimantan? This study employed qualitative methods to describe the chronology of Ahmadiyya events in West Kalimantan through interviews and documentation. The findings of the study indicate that religious freedom discrimination against Ahmadiyya in West Kalimantan demonstrates: 1) the existence of violations of the right to freedom of religion; 2) the existence of contradictory policies; and 3) the existence of religiously motivated violence in West Kalimantan. This study’s findings demonstrate that the violation of religious freedom against the Ahmadiyya in West Kalimantan is a type of religious-based discrimination.
The Role of the Ismuhu Yahya Mosque in Helping the Government for the Welfare of the Community Through the “Pasar Bahagia” Program Riwayati, Anny; Juminta, Juminta; Rizki, Abang Dede Predi; Rahmaniah, Syarifah Ema; Herlan, Herlan
PINISI Discretion Review Volume 7, Issue 1, September 2023
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pdr.v7i1.54005

Abstract

The economic system adopted by Indonesia based on Pancasila and the 1945 Constitution has the implied meaning of placing the people in a noble position. An economy that always prioritizes the people with the principles of social justice or a just and prosperous society. An idea emerged from the community, namely in the Ismuhu Yahya Mosque area to move the Indonesian economy by launching the "Pasar Bahagia" program. It aims to help the government eradicate poverty. The Ismuhu Yahya Mosque, located in Parit Baru Village, Kubu Raya, West Kalimantan, is also in the midst of a heterogeneous society, both religion and ethnicity. The role of the village head in providing support for ideas made by the mosque makes everything run smoothly without any friction with the community in general. The method used in this study is to use qualitative methods using descriptive analysis. By conducting interviews with the mosque, beneficiaries of the “Pasar Bahagia” program, and village heads. The result obtained from the "Pasar Bahagia" program is the creation of a happy society, because there is basic food assistance and vegetables that can be used to meet basic needs for one or two days. In addition, there are many benefits from a health perspective, people become mentally healthy and increase their faith so that when they return home, they can spread positive energy in their surroundings. The village head also feels very grateful for the presence of the Ismuhu Yahya Mosque. It is hoped that the role of mosques in all regions can be optimized for the welfare of the community.
Co-Authors Abas, Abas Agnes Nova Triyanasrani Alamri, Annisa Risqa Alamri, Annisa Rizqa Alfian, Andi Andi Alfian Andraeni, Vindy Anggi Jessica Anny Riwayati Antonia Sasap Abao Arkanudin Arkanudin Astira Basuni Bibi Suprianto Chainar, Chainar Dahniar Th. Musa Dede Oktavianus Desita Sari Desita Sari Desita Sari Diaz Restu Darmawan, Diaz Restu Elyta Elyta Elyta Elyta Endang Indri Listiani Fathmawati Fatmawati Fitriani, Nurul Amira Gaffar, Zakiah Hassan Ghozali, Ahmad Halida Halida Hasan Amutahar Hasanah Hasni, Ali Almurthadho Hendra Ramdani Herlan Herlan Herlan Herlan Herlan Herlan, Herlan Hikmat, Ismunandy Miftahul Holik, Mat Indah Budiastutik Indah Listyaningrum Jumadi Jumadi Juminta, Juminta Kristin Apriliani Puspita Putri Listyaningrum, Indah Lubis, Ali Akhbar Abaib Mas Rabbani Lubis, Sopian Lusiandro Julian Petrix Marini . Marini Marini Meisya Dwi Lianti Metha Mirandimahyana Muhammad Adam Abd Azis Muhammad Iqbal Muhammad Musa Hasni Mukhlis Mukhlis Natalia A.I. Barage Nikodemus Niko, Nikodemus Nurul Amira Fitriani Nurwijayanti Oktaulani Ayu Lestari Pabali Musa Pabali Musa Paramita, Rizqi Ratna Patriani, Ira Petrix, Lusiandro Julian Praptantya, Donatianus BSE Purnawan, Endar Ramdani, Hendra Reiki Nauli Harahap Riska Nawila Riska Wati Rivella Irene Rizki Ratna Paramita Rizki, Abang Dede Predi Rupita Rupita, Rupita Rupita, Rupita Sari, Desita Septiaji Eko Nugroho Sikwan, Agus Siti Arieta Sonia Utami Sopian Lubis Sudirman Sudirman Syarmiati Syarmiati, Syarmiati Teguh Setiandika Igiasi Th Musa, Dahniar utami, sonia Vindy Andraeni Viza Juliansyah Wati, Riska Yulianti Yulianti Yulianti Yulianti Yuliono, Agus Zakiah Hasan Gaffar