Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Retrogesi Kekuatan Pembuktian Akta Otentik Kutipan Akta Nikah (Analisis Putusan Nomor 105/Pdt.G/2024/PA.LT) Kuala Akbar Andalas; Mulyadi Tanzili; Helwan Kasra
Jurnal Ilmu Hukum, Humaniora dan Politik Vol. 5 No. 3 (2025): (JIHHP) Jurnal Ilmu Hukum, Humaniora dan Politik
Publisher : Dinasti Review Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jihhp.v5i3.4441

Abstract

Pencatatan perkawinan sesuai dengan ketentuan UU No. 1 Tahun 1974 Pasal 2 Ayat (2) bertujuan untuk menjamin ketertiban perkawinan dan kepastian hukum bagi masyarakat. Akta Nikah sebagai Akta Otentik memiliki kekuatan pembuktian sempurna. Namun, dalam putusan Nomor 105/Pdt.G/2024/PA.Lt, Akta Otentik mengalami retrogesi atau penurunan nilai pembuktian. Penelitian ini mengkaji faktor penyebab retrogesi serta pertimbangan Majelis Hakim. Dengan pendekatan yuridis normatif yang didukung data empiris, hasil penelitian menunjukkan bahwa keberatan serta bukti lawan yang setara dan sempurna dapat menggoyahkan eksistensi Akta Otentik, sehingga menurunkan nilai pembuktiannya menjadi bukti permulaan atau setara dengan akta di bawah tangan. 
TATA KELOLA DAN STRATEGI PEMASARAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH (UMKM) KERUPUK DESA JEJAWI OKI SUMATERA SELATAN Gumar Herudiansyah; Abid Djazuli; Fatimah Fatimah; Gusmiatun Gusmiatun; Yudha Mahrom DS; Helwan Kasra; Ahmad Ghiffari; Sulton Nawawi; Yulian Syahri; Bora Alviolesa; Agung Kurniawan; Wiranto Wiranto
Surya Edukasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 1, No 1 (2024): Surya Edukasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/se.v1i1.7784

Abstract

Usaha mikro kerupuk Ibu Dahlia membutuhkan dukungan untuk mendapatkan produk kerupuk yang berkualitas baik, sehat dan laku dipasarkan. Beberapa masalah produksi dan manajemen menjadi kendala untuk mencapai tujuan diantaranya adalah pengeringan dimusim hujan, kurangnya pemahaman akan proses produksi pangan yang baik, pengemasan, pemanfaatan teknologi informasi, pembukuan dan legalitas izin usaha. Untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut dilakukan pendampingan dan pelatihan secara bertahap yang meliputi bidang aspek manajemen pemasaran, administrasi keuangan, manajemen mutu dan keuangan. Dari kegiatan pendampingan dan pelatihan ini, mampu melaksanakan fungsional manajemen yang lebih terstruktur dan baik meliputi pengelolaan keuangan, tata kelola sumber daya manusia, manajemen produksi, serta manajemen pemasaran yang lebih optimal bagi usaha mereka. Diharapkan dengan adanya perbaikan di sisi manajemen tata kelola dan pemasaran akan berdampak pada peningkatan produksi dan penjualan yang berujung kepada peningkatan kesejahteraan pelaku usaha rengginang.
Reconstruction of Employment Termination Regulations in Indonesia Following the Job Creation Law: A Comparative Study with South Korea Helwan Kasra; Slamet Riyanto; Dea Justicia Ardha
Kosmik Hukum Vol. 26 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/kosmikhukum.v26i3.30281

Abstract

This study aims to analyse the regulation of termination of employment in Indonesia following the enactment of Law No. 6 of 2023 on Job Creation, compare it with the legal framework in South Korea, and propose a reconstructed model that ensures a more balanced and equitable employment termination system. Termination of employment (PHK) remains a central issue in labour law because it directly affects workers’ rights, the stability of industrial relations, and sustainable economic development. The enactment of Law No. 6 of 2023 on Job Creation has introduced significant changes to Indonesia’s employment termination framework, reflecting a shift toward greater labour market flexibility while raising concerns regarding legal certainty and the adequacy of worker protection. This study employs normative legal research using statutory and comparative law approaches through an analysis of legislation, judicial decisions, and relevant scholarly literature. The findings reveal that Indonesia’s current regulatory framework primarily focuses on post-termination compensation, while providing insufficient safeguards regarding substantive grounds for dismissal and preventive procedural protections. In contrast, South Korea adopts the principle of dismissal for just cause, supported by strict and participatory dismissal procedures, comprehensive unemployment insurance, and active labour market policies. Based on this comparative analysis, the article proposes a reconstructed model for Indonesia that incorporates clear limitations on dismissal based on valid and objective grounds, strengthens preventive and transparent dismissal procedures, and expands comprehensive post-termination social protection. The proposed model is expected to achieve a more balanced relationship between labour market flexibility and worker protection while enhancing legal certainty and fairness within Indonesia’s industrial relations system.
PELAKSANAAN PENILAIAN INDIVIDUAL OBJEK KHUSUS RUMAH KOS DALAM PENETAPAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN DI KECAMATAN INDRALAYA UTARA KABUPATEN OGAN ILIR Al Ardhi Fil Awali; Erli Salia; Helwan Kasra
GOVERNANCE: Jurnal Ilmiah Kajian Politik Lokal dan Pembangunan Vol. 13 No. 10 (2026): 2026 Oktober
Publisher : Lembaga Kajian Ilmu Sosial dan Politik (LKISPOL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56015/gjikplp.v13i10.1367

Abstract

This study analyzes the implementation of Individual Assessment for Special Objects (PIOK) on boarding houses in Land and Building Tax assessment in North Indralaya District, Ogan Ilir Regency, and its constraining factors. The results indicate that PIOK implementation is not yet optimal. Administratively, most large-scale boarding houses (20–40 rooms) remain passively registered as ordinary residential houses. The Ogan Ilir Bapenda technical team has not implemented the Income Approach mandated by MoF Regulation No. 85/2024, relying instead on conventional Cost Approach via visual inspections. Consequently, the determined Taxable Object Sale Value (NJOP) suffers from undervaluation and fails to reflect the real economic market value around Sriwijaya University. Constraints stem from three aspects: internal tax administration (administrative incapacity, absence of certified tax appraisers, outdated local regulations and ZNT maps, and weak data integration); geography (expansive areas, unnumbered alley locations, and absentee landlords); and external taxpayers (low tax morale, resistance, denied inspection access, and financial underreporting).
STRATEGI PENEGAKAN HUKUM TERHADAP TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG: STUDI KASUS DI POLRES MUSI BANYUASIN Agusti Randa; Saipuddin Zahri; Helwan Kasra
Jurnal Ilmiah Galuh Justisi Vol 14, No 2 (2026): Jurnal Ilmiah Galuh Justisi
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/justisi.v14i2.26105

Abstract

Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) merupakan salah satu kejahatan terhadap harkat dan martabat manusia yang perkembangannya kian kompleks seiring pemanfaatan media digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi penegakan hukum oleh penyidik Polres Musi Banyuasin dalam menangani tindak pidana TPPO berbasis bukti digital, dengan pembedahan kritis menggunakan Teori Penegakan Hukum Soerjono Soekanto dan Teori Sistem Hukum Lawrence M. Friedman. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus empiris di Polres Musi Banyuasin. Data diperoleh melalui studi dokumen perkara, wawancara penyidik Satreskrim Unit PPA, serta penelusuran regulasi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses penyidikan kasus TPPO yang melibatkan eksploitasi anak di Musi Banyuasin (studi kasus tersangka HAP) menghadapi tantangan teknis pada pembuktian digital forensic via aplikasi pesan instan WhatsApp, validasi data transaksi elektronik, serta perlindungan psikologis korban anak. Dilihat dari perspektif teori hukum, kendala utama penegakan hukum TPPO di Polres Musi Banyuasin terletak pada keterbatasan sarana laboratorium siber/forensik digital di tingkat Polres (faktor sarana/struktur) serta budaya hukum masyarakat yang masih bersikap pasif terhadap praktik eksploitasi terselubung. Diperlukan penguatan kapasitas penyidik siber PPA, modernisasi fasilitas forensik digital, serta sinergi kelembagaan lintas sektor guna mewujudkan penegakan hukum yang bereadilan dan berperspektif perlindungan korban.
RE-EVALUATING DEVELOPER LIABILITY IN DOUBLE-SALE HOUSING DISPUTES: A DOGMATIC AND CRITICAL ANALYSIS OF PALEMBANG DISTRICT COURT DECISION NO. 225/PDT.G/2024/PN PLG Vermarien Inneke Julyana; Mulyadi Tanzili; Helwan Kasra
Jurnal Ilmiah Galuh Justisi Vol 14, No 2 (2026): Jurnal Ilmiah Galuh Justisi
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/justisi.v14i2.26106

Abstract

Housing sale and purchase disputes arising from property developers' tortious acts—specifically the systemic practice of double sales—pose severe threats to legal certainty and consumer protection in Indonesia. This research critically analyzes Palembang District Court Decision Number 225/Pdt.G/2024/PN Plg, moving beyond trivial element-matching under Article 1365 of the Indonesian Civil Code to examine deep legal dogmatics surrounding competing property rights, protection of good-faith purchasers, and the legal dichotomy between binding sale and purchase agreements (PPJB) and official land deeds (AJB). Employing a doctrinal legal research methodology with statute, case, and conceptual approaches, this study utilizes grammatical, systematic, and teleological interpretation tools to evaluate judicial reasoning. The findings reveal that the developer's act of selling a single townhouse unit to multiple buyers constitutes an unlawful act (onrechtmatige daad) that directly infringes upon the first buyer's subjective possessory rights, rather than a mere contractual default (wanprestasi). The court correctly applied the principle of protecting good-faith buyers (SEMA No. 1/2017) and the doctrine of nemo plus juris. However, judicial reasoning exhibits critical shortcomings in quantifying immaterial damages and defining evidentiary thresholds for systemic developer fraud. To address these systemic gaps, this paper proposes actionable legal reforms, including mandatory digital PPJB registration within the land registry system, statutory implementation of escrow account mechanisms under Law No. 1/2011, and Supreme Court guidelines for standardizing moral damage awards in property torts.