Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Uji Kualitas Jenis Bahan Gelas Terhadap Kerusakan Cacat Produk Triyanto, ; Slamet Riyanto,
Teknika Vol 7, No 1 (2006)
Publisher : Teknika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses pengujian bahan atau  kontrol kualitas  adalah bagian penting  dari kegiatan proses produksi. Produk akan bagus apabila telah melalui proses pengujian bahan. Keuntungan dengan dilakukan proses pengujian produk yaitu perusahaan akan lebih produktif,  efektif dan efisien, dan lebih ekonomis. Perlunya dilakukan uji produk ini adalah untuk mengetahui terjadinya atau timbulnya cacat – cacat yang tampak maupun tidak tampak secara visual. Masalah yang sering dihadapi oleh sebagian besar industri yaitu jika produk yang dihasilkan berkapasitas atau mencapai volume besar, sehingga memerlukan penanganan dan  rencana  uji kualitas produk secara akurat. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi uji kualitas produk sehingga hasil produk akan memiliki mutu yang bagus antara lain : (1) Alat uji yang digunakan, (2) metode yang digunakan, (3) manusia yang mengoperasikan, (4) lingkungan pendukung, dan (5) materialnya yang diuji. Oleh karena itu bila ingin memeroleh hasil produk yang bagus minimal kelima kriteria itu dapat dipenuhi, akan lebih bagus diusahakan secara optimal.Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan didukung data angka-angka atau persentase. Populasi dalam penelitian ini adalah  jumlah produk botol yang mengalami cacat visual loading marks yang terjadi pada bulan Maret, April, dan Mei tahun 2000 yaitu sebesar 401.638 botol, sedang sampel diambil sejumlah produk botol  yang mengalami cacat visual loading marks pada mesin cetak II.1 sejumlah 135.252 botol.Hasil penelitian menyatakan banyak terjadi cacat visual loading marks pada mesin cetak II.1 yang diakibatkan karena alat dan metode penggunaannya yaitu sebesar 42,32 %.  Saran yang perlu diperhatikan adalah, diusahakan perlunya dibuatkan standarisasi  atau prosedur kerja yang lebih baik, perlunya inspeksi secara teratur, berkala, dan  menggunakan metode pengendalian mutu dengan cara penggunaan alat-alat yang benar-benar akurat.    Material testing or quality control is an essential part of production process. Product will be good if it has passed material testing or has been manufactured accurately. The benefit of applying the test is that the company will be more productive, effective, efficient, and more economical. The test is necessary to know the occurrence or the appearance of failure whether it can be seen visually or not. The problems which are often faced by most industry is when the yielded product has big capacity or achieve big volume so that requires accurate product quality testing plan and conduct. The factors which influence product testing to gain high quality product are the: (1) equipments, (2) applied method, (3) operators, (4) supporting environment, and (5) tested material. Therefore, wanting to yield good product means that the five criteria should be available, and it will be a lot better if the criteria is provided optimally.The method which is employed in this research is descriptive qualitative which is supported by numeric data or percentage. The population of the research is the number of bottle products which fail on visual loading marks in March, April and May 2000 that is 401,638 bottles, in which 135,252 bottles of the printing machine II.1, which carry visual loading marks failure, are taken as the sample. The research finding is that many visual loading marks failures in printing machine II.1 as the result of the equipment and the using method is as many as 42,32%. The suggestions to be paid attention are it is important to make a standard or better working procedures, conduct regular and periodical inspection, and use quality control method by using precisely accurate equipments.
Karakteristik Struktur Mikro Produk Brush Motor Listrik Dengan Proses Teknologi Serbuk (Powder Metallurgy) Slamet Riyanto,
Teknika Vol 8, No 1 (2007)
Publisher : Teknika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teknologi serbuk (powder metallurgy) merupakan pendekatan proses yang merupakan sub divisi dari teknologi pengerjaan logam. Dengan berbagai kelebihan yang dimiliki yaitu biaya yang ekonomis, sifat-sifat material tidak berubah meliputi sifat kimia, perlakuan panas (heat treatment), dan mikrostruktur, teknologi serbuk digunakan untuk membuat produk yang sifat-sifat kimianya terutama struktur mikro tidak berubah dari materialnya sehingga produk yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan keinginan pembuatnya.Dari data penelitian dan analisa dapat ditarik simpulan sebagai berikut: a) Karakterisasi part atau bagian meliputi sifat bahan berupa campuran serbuk tembaga dan karbon dengan kekerasan rata-rata 16,43 HBN/10Kg/10 pada tekanan kompaksi 375 MPa, b) Produk brush motor listrik yang dihasilkan dengan kualitas tinggi mempunyai sifat fisis kekerasan tidak melebihi 16,43 HBN/10kg/10. Dari hasil eksperimen, tekanan kompaksi yang paling mendekati adalah 375 MPa, suhu sinter 800oC dan lama pemanasan 30 menit, c) Proses pembentukan brush motor listrik dengan teknologi serbuk melalui tahapan sebagai berikut: a) pemilihan serbuk, b) mixing, c) kompaksi, dan d) sintering. Powder metallurgy is a processing approach which is subdivision of metalworking technologies. Powder metallurgy is very attractive because its ability to shape powders into a final component. Product made with powder metallurgy occasionally represents a mixture of different metal powders or non special metal to improve the quality of particle bonding and properties of product.From the research data and analysis, the following conclusions are gained: a) part characteristic include material properties that are mixture of copper powder and carbon with average hardness 16,43 HBN/10Kgs/10 compaction pressure 375 MPa, b) The brush of electric motor product with high quality hardness has hard characteristic which is lower than 16,43 HBN/10 kgs/10. From the experiment, the nearest compaction pressure is 375 MPa, sinter temperature 800oC and heating duration 30 minutes, c)  the electric motor brush formation process with powder metallurgy  is trough the following stages: a) powder selection, b) mixing, c) compaction, and d) sintering.
Optimalisasi Keahlian Anggota Badan Permusyawaratan Desa (Bpd) Dalam Mewujudkan Pembentukan Peraturan Desa Yang Partisipatif Di Kabupaten Bekasi Studi Kasus Anggota Bpd Di Kecamatan Tarumajaya Slamet Riyanto; Damrah Mamang; Siti Nur Intihani; Muhammad Fahruddin; Habloel Mawardi
VERITAS Vol 9 No 2 (2023): VERITAS
Publisher : Jurnal Program Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Islam As-Syafi'iyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34005/veritas.v9i2.3115

Abstract

Penelitian ini didasari oleh pemikiran bahwa pembentukan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) adalah untuk mendukung pemerintahan Desa agar mampu meningkatkan kesejahteraan dan kesejahteraan di desa. BPD merupakan lembaga yang melaksanakan fungsi pemerintahan yang anggotanya merupakan wakil dari penduduk Desa berdasarkan keterwakilan wilayah dan ditetapkan secara demokratis. Pembentukan BPD dimaksudkan untuk mendampingi dan membantu Kepala Desa dalam menyelenggarakan Pemerintahan Desa. Dasar hukum pembentukan BPD adalah amanah dari Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Dalam Pasal 55 UU Desa diatur tentang fungsi BPD yaitu: (a)membahas dan menyepakati rencana Peraturan Desa bersama Kepala Desa; (b) menggali, menampung, dan menyalurkan aspirasi masyarakat; (c) pengawasan terhadap kinerja Kepala Desa. Dalam kaitannya dengan fungsi pertama BPD yaitu membahas dan menyepakati rancangan Peraturan Desa bersama Kepala Desa, timbul pertanyaan apakah fungsi ini sudah terlaksana atau belum. Atas dasar permasalahan tersebut, permasalahan penelitian ini adalah: (1) bagaimana pelaksanaan fungsi Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam pembentukan peraturan desa, dan (2) bagaimana optimalisasi keahlian anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam pembentukan peraturan desa yang partisipatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriptif, dengan pendekatan yuridis sosiologis. Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara danFocus Group Discussion (FGD) dengan perwakilan anggota BPD (7 desa) se-Kecamatan Tarumajaya, pejabat Kecamatan, dan tokoh masyarakat desa di Kecamatan Tarumajaya. Data primer di atas dilengkapi dengan data sekunder yang dikumpulkan melalui studi dokumen peraturan desa dan sumber-sumber kepustakaan lainnya. Hasil penelitian menggambarkan: (1) pelaksanaan fungsi Badan Permusyawaratan Desa (BPD) di Kecamatan Tarumajaya dalam pembentukan peraturan desa relative telah dijalankan. Pada setiap desa telah diterbitkan peraturan desa baik hasil inisiatif anggota BPD maupun kepala desa yang perancangannya dibahas bersama; (2) Namun keahlian anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam pembentukan peraturan desa yang partisipatif belum optimal sehingga perlu ditingkatkan. Optimalisasi keahlian perlu dilakukan pada semua tahapan penyusunan peraturan desa, mulai dari perencanaan, perancangan, pembahasan, sampai ke pengundangan. Adapun bentuk optimalisasi keahlian yang perlu dilakukan adalah melalui pemberian bimbingan teknis ketrampilan perancangan (legal drafting)dan program pendampingan penyusunan peraturan desa yang partisipatif sesuai kebutuhan masyarakat.
Exploring The Importance And Application Of Licensing Law In Environ-mental Protection In Indonesia Agung Prasetyo; Slamet Riyanto; Ibrahim Fikma
LEGAL BRIEF Vol. 12 No. 6 (2024): February: Law Science and Field
Publisher : IHSA Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/legal.v12i6.915

Abstract

Environmental pollution in Indonesia is a serious issue that affects a wide area. This article discusses the impacts of environmental issues, particularly related to the underdevelopment in Indonesia. One preventive measure taken to address environmental pollution is the implemen-tation of a legal permitting policy system. However, there are several issues within the permitting policy, including the mismatch between permitting policies and environmental issues in the re-spective regions. This article discusses the role of permitting laws in supporting environmental preservation and how law enforcement in the field of permitting law can address cases of envi-ronmental degradation. In the research context, the author uses normative and empirical legal research methods. In the main discussion, the article explains the role of permitting laws in sup-porting environmental preservation, including human rights related to the environment and ap-plicable regulations. Furthermore, the author discusses law enforcement in the permitting domain related to cases of environmental destruction, including the types of administrative and criminal sanctions that can be applied
RELASI ANTARA KONSTITUSIONALITAS HAK ASASI MANUSIA DAN KEARIFAN LOKAL BUDAYA MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP Riyanto, Slamet
Legalita Vol 5 No 2 (2023): Jurnal Hukum Legalita
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kotabumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47637/legalita.v5i2.978

Abstract

Abstract The focus of the discussion in this article is the relationship between human rights protection and local wisdom in environmental regulation and use. The background to the problem in this paper is that excessive development processes without paying attention to environmental sustainability are actually detrimental to humans. The result of the discussion is that the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia regulates human rights guarantees in the environmental sector. Development by utilizing natural resources must pay attention to human rights principles and community culture. There is a strong relationship between the use of the environment and human rights principles and the local wisdom of indigenous communities in Indonesia. Keywords: Human rights, local wisdom, environment Abstrak Fokus bahasan tulisan ini adalah mengenai relasi antara perlindungan HAM dengan kearifan lokal dalam regulasi dan pemanfaatan lingkungan hidup. Latar belakang masalah dalam tulisan ini adalah bahwa proses pembangunan yang berlebihan dan tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan justeru merugikan manusia. Hasil pembahasan adalah, bahwa dalam konstitusi UUD NRI Tahun 1945 telah diatur mengenai jaminan HAM di bidang lingkungan. Pembangunan dengan memanfaatkan sumberdaya alam harus memperhatikan prinsip-prinsip HAM dan budaya masyarakat. Terdapat relasi yang kuat antara pemanfaatan lingkungan hidup dengan prinsip HAM dengan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat adat di Indonesia. Kata-kata kunci: HAM, kearifan lokal, lingkungan hidup.
Peningkatan Kualitas Pembelajaran Melalui Optimalisasi Akses Internet (Pengabdian di Desa Sumber Arum, Lampung Utara) Khatimah, Khusnul; Wibowo, Adi; Indrajaya, Indrajaya; Riyanto, Slamet
'Asabiyah: Jurnal Pengabdian Hukum Volume 1 No. 2 Oktober 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jph.v1i2.6863

Abstract

Pengabdian masyarakat yang dilakukan untuk membantu mengatasi persoalan yang dihadapi terkait dengan proses pembelajaran daring pada masa pandemic Covid-19. Pembelajaran daring membutuhkan koneksi internet yang baik dan stabil untuk menghadiri video conference. Permasalahan muncul ketika infrastruktur internet di pedesaan belum mampu memenuhi kebutuhan untuk proses pembelajaran secara memadai. Pengabdian masyarakat yang dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran dengan mengoptimalkan internet sebagai media pembelajaran daring. Pengabdian dilakukan dengan metode, yaitu: 1) penyuluhan, untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat sasaran mengenai kebijakan pembelajaran daring; 2) memberikan pelatihan penggunaan internet sebagai sarana pembelajaran daring; dan 3) hibah atau  bantuan secara langsung berupa pemasangan infrastruktur internet. Penyuluhan yang dilakukan dalam kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Sumber Arum, dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai seluk beluk pembelajaran daring. Materi penyuluhan yang diberikan kepada masyarakat ada 2 (dua) materi pokok, yaitu: kebijakan tentang pembelajaran daring dan teknis pembelajaran daring. Penyampaian materi melalui metode ceramah yang disampaikan oleh pemateri di depan audiens masyarakat sasaran, dan dilanjutkan dengan tanya jawab seputar materi penyuluhan. Setelah dilakukan penyuluhan, diberikan pelatihan dengan praktek langsung pembelajaran daring dengan memanfaatkan infrastruktur jaringan internet yang telah terpasang. Pelaksanaan pelatihan tidak mengalami kendala, karena pada dasarnya peserta pelatihan sudah memahami bagaimana menggunakan perangkat teknologi informasi untuk melakukan pembelajaran daring.
Study on the Production of Tenjo Dodol and Glutinous Rice Sweet With The Addition of Emprit Ginger Purnawan , Lesna; Sumardi, Sumardi; Irwansyah, Novi; Adham , Ibnu; Riyanto , Slamet
The International Journal of Education Management and Sociology Vol. 3 No. 5 (2024): September - October : The International Journal of Education Management and Soc
Publisher : PDPI (Perkumpulan Dosen Peneliti Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58818/ijems.v3i5.163

Abstract

This study aims to determine (1) the optimal concentration of ginger extract for enhancing the quality of white glutinous rice dodol, and (2) the moisture content, total solids, and organoleptic evaluation of white glutinous rice dodol in accordance with the Indonesian National Standards. The research method involved mixing the water content, total solids, and organoleptic properties (color, aroma, texture, and taste) of the dodol through four treatments and three repetitions. Data were analyzed using SPSS. The treatments were as follows: 100% glutinous rice with 0% ginger extract, 95% glutinous rice with 5% ginger extract, 90% glutinous rice with 10% ginger extract, and 85% glutinous rice with 15% ginger extract. The research design used a repeated measures model with three repetitions. The highest organoleptic score for color was obtained with the addition of 10% ginger extract, receiving a score of 3.80 (liked), while the lowest score was found in the 15% ginger extract group, with a score of 3.37 (liked). For aroma, the highest score was observed in the 10% ginger extract group, while the lowest score was recorded in the 0% ginger extract group. Texture received the highest score in the 0% ginger extract group. The taste evaluation revealed that the highest score, 4.47 (liked), was in the 10% ginger extract group, and the lowest score was found in the 0% ginger extract group. The analysis of variance results indicated that there was no significant difference among the treatments (p > 0.05), and no further testing was necessary.
Tempe Production Business in Community Empowerment at Sodong Company, Tangerang Purnawan , Lesna; Mulyana, Achmad; Setiawan, Aries; Kala Kusumajati, Wisnu; Riyanto , Slamet
The International Journal of Education Management and Sociology Vol. 3 No. 5 (2024): September - October : The International Journal of Education Management and Soc
Publisher : PDPI (Perkumpulan Dosen Peneliti Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58818/ijems.v3i5.165

Abstract

This study aims to explore the efforts and challenges faced by tempe producers in community empowerment. It employs a qualitative descriptive approach and uses both primary and secondary data. Data collection methods include observation, in-depth interviews with respondents, and document analysis. Data analysis techniques involve data reduction, data presentation, and data verification. The findings indicate that: (1) There are ongoing efforts to empower the community in Tangerang Regency, particularly through Sodong Trading's tempe production initiative. The company recruits two men and four women, providing them with raw soybeans and step-by-step theoretical training on tempe production, progressing from beginner to independent production. The training emphasizes practical, hands-on experience, including how to manage and market the tempe, with average monthly production increasing over time. As a result, the economic conditions of the community have improved. (2) However, the main challenge faced by the tempe producers is the availability of raw materials, particularly soybeans. Imported soybeans are often difficult to obtain, while local soybeans are insufficient and expensive.
TANGGUNG JAWAB PEMERINTAH DALAM PEMENUHAN PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL SPESIFIK LOKAL: KOMPARASI INDONESIA DAN INDIA Haryadi, Slamet; Novekawati, Novekawati; Riyanto, Slamet
Masalah-Masalah Hukum Vol 53, No 2 (2024): MASALAH-MASALAH HUKUM
Publisher : Faculty of Law, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mmh.53.2.2024.179-190

Abstract

The Indonesian government needs to give more responsibility to traditional medicine. Because it can affect the quality and access to traditional health services. This study comparatively examines the responsibilities of the Indonesian and Indian governments to recommend improvements to the current Indonesian government policy regarding traditional health. This study is a normative legal study with a legislative approach sourced from primary and secondary materials. The results of the analysis show that the Indonesian government needs to learn from India's experience in strengthening the role of traditional medicine through support for research, education, and scientific development. The expected results of this study will be significant for the Indonesian government in making policies About Traditional Healthcare.
Bhinneka Tunggal Ika: Nilai Dan Formulasinya Dalam Peraturan Perundang-Undangan Riyanto, Slamet -; Febrian, Febrian; Zanibar, Zen -
Jurnal Legislasi Indonesia Vol 20, No 2 (2023): Jurnal Legislasi Indonesia - Juni 2023
Publisher : Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undang, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54629/jli.v20i2.993

Abstract

Abstract Bhinneka Tunggal Ika becomes an important concern when the issue of national disintegration arises. Therefore, it is necessary to study the value contained in it and its formulation in the legislation. This normative legal research is carried out with a statutory, conceptual, historical and futuristic approach. The results of the research are: first, the value contained in Bhinneka Tunggal Ika, namely the value of unity-unitary must be actualized in the life of the state. Second, Bhinneka Tunggal Ika should be formulated in laws and regulations through: a) strict regulation as the state motto in constitution; and b) formulated in a law concerning the formation of laws and regulations, which are based on the principles of harmony and equality. Abstrak Bhinneka Tunggal Ika menjadi perhatian penting ketika muncul isu disintegrasi bangsa. Oleh karena itu perlu dilakukan pengkajian tentang nilai yang terkandung di dalamnya dan formulasinya di dalam peraturan perundang-undangan. Penelitian hukum normatif ini dilakukan dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, sejarah dan futuristik. Hasil penelitian adalah: pertama, nilai yang terkandung dalam Bhinneka Tunggal Ika yaitu nilai persatuan-kesatuan harus diaktualisasikan dalam kehidupan bernegara. Kedua, seharusnya Bhinneka Tunggal Ika diformulasikan dalam peraturan perundang-undangan melalui: a) pengaturan secara tegas sebagai semboyan negara dalam Undang-Undang Dasar; dan b) diformulasikan dalam undang-undang tentang pembentukan peraturan perundang-undangan, yang berlandaskan asas kerukunan dan kesetaraan.