Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Exploring the Benefits and Challenges of Artificial Intelligence (AI) in Nursing Cyril B. Romero; Oscar Agyemang Opoku; Sitti Syabariyah; Dhesi Ari Astuti; Iqra Asif; Rostinah
Engineering Science Letter Vol. 2 No. 01 (2023): Engineering Science Letter
Publisher : The Indonesian Institute of Science and Technology Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56741/esl.v2i01.278

Abstract

This paper discusses the trend of AI (Artificial Intelligence) and its role in the healthcare industry. AI is being used to improve efficiency and effectiveness in healthcare. Still, challenges remain, such as privacy and data protection and healthcare workers' hesitancy to replace their work with technology. This study aims to see opportunities for using AI in the health sector and understand existing problems, such as barriers to significant initial investments. This study uses a qualitative approach and focuses on the author's understanding based on secondary sources and personal experience. The study results show that AI can assist health workers in making diagnoses and providing more efficient health services. However, it still has to be used as a tool and cannot replace the role of health workers as a whole.
Hubungan Antara Lingkungan Sekolah Terhadap Kejadian Penyakit Diare Pada Anak Sekolah Dasar Negeri 13 Pal V Sitti Syabariyah
Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Vol 6 No 1 (2015): Jurnal Keperawatan dan Kesehatan (JK2)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan Muhammadiyah Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.668 KB) | DOI: 10.54630/jk2.v6i1.30

Abstract

Latar Belakang: Penyakit diare sampai kini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, walaupun secara umum angka kesakitan masih berfluktuasi, dan kematian diare yang dilaporkan oleh sarana pelayanan dan kader kesehatan mengalami penurunan namun penyakit diare ini masih sering menimbulkan kejadian luar biasa yang cukup banyak bahkan menimbulkan kematian. Dilihat dari jumlah kasus diare pada usia balita terjadi ketidak sesuaian dengan usia diatas 5 tahun. Pada usia diatas 5 thn atau pada usia sekolah cenderung meningkat jumlahnya. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan pengetahuan tentang penyakit diare dengan tingkat kejadian diare pada anak usia pada anak Sekolah Dasar Negeri 13 Pal V. Metode: Penelitian jenis kuantitatif dengan metode deskriptif yaitu suatu penelitian yang dilakukan untuk suatu kondisi atau fenomena yang terjadi pada suatu kelompok subjek tertentu yang kemudian dilanjutkan dengan metode korelasi yaitu penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang hubungan antara dua atau lebih variabel penelitian. Berdasarkan tujuan penelitian, maka rancangan penelitian yang digunakan adalah metode Cross Sectional Studi yaitu penelitian potong lintang yang dilakukan secara bersamaan pada saat itu juga dan hanya dilakukan satu kali. Hasil: Hasil pengumpulan data yang telah dilaksanakan selama penelitian, akan dijelaskan pada bab ini. Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar Negeri 13 Pal V, yang dilaksanakan pada tanggal 25-26 Januari 2014. Pada penelitian ini di ambil sampel sebanyak 57 responden, kemudian disebarkan sebanyak 57 kuesioner. Dari 57 kuesioner yang disebarkan, semuanya terisi oleh responden maupun diisi dengan bantuan peneliti. Kesimpulan: Berdasarkan tujuan penelitian yang diharapkan, maka dapat ditarik kesimpulan Frekuensi anak yang pernah mengalami diare selama satu bulan terahir di Sekolah dasar Negeri 13 Pal V sebanyak 26.3% sedangkan Frekuensi anak yang tidak pernah mengalami diare selama satu bulan terakhir di Sekolah Dasar Negeri 13 Pal V sebanyak 73.7%.
Vibration Adjuvant Wound Therapy Enchances The Healing Of Diabetic Foot Ulcers: An Interim Analysis Of 31 Patients Sitti Syabariyah; Elly Nurachmah
Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Vol 6 No 3 (2015): Jurnal Keperawatan dan Kesehatan (JK2)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan Muhammadiyah Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.94 KB) | DOI: 10.54630/jk2.v6i3.35

Abstract

Introduction: Diabetic foot ulcer (DFU) is a common complication of diabetes mellitus and remains a major global public health problem and a great challenge in the realm of clinical nursing care. Previous studies suggested that vibration can improve skin blood flow. However, there was no evidence to suggest that vibration had an effect on diabetic wound healing. Objectives:This study is to establish whether vibration therapy, as an adjunct to standard wound care, can significantly improve the healing of diabetic foot ulcers. Methods:In this prospective experimental study thirty one patients with grade I-III Wagner Grading of DFU in Sudarso General Hospital, Pontianak and Ade Muhammad Djoen General Hospital, Sintang, West Borneo, Indonesia, were randomly assigned to experimental group (EG, received standard wound care and vibration therapy, n = 16) and control group (CG, received standard wound care alone, n = 15). Results:There were significant differences in total duration of wound care between EG (21.12±10.86 days) and CG (41.47±18.61 days) (P = .04). There were also differences in percentage of wound healing as a function of time. By the end of week 2, percentage of wound healing in EG was 25% while in CG it was nil (P = .038). By the end of week 3, percentage of wound healing in EG was 50% while in CG it was 13.3%, (P = .029). By the end of week 4, percentage of wound healing in EG was 100% while in CG it was 66.7%, (P = .012). Conclusions:The findings of the present study shows that vibration therapy, as an adjunct to standard
Tinjauan Pola Pengobatan Yang Dilakukan Pengobat Tradisional (Batra) Pasien Patah Tulang Di Kota Pontianak Sitti Syabariyah; Imran Imran; Rara Barbara Nurlah
Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Vol 7 No 1 (2016): Jurnal Keperawatan dan Kesehatan (JK2)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan Muhammadiyah Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.885 KB) | DOI: 10.54630/jk2.v7i1.47

Abstract

Latar Belakang: Berdasarkan data yang didapatkan sekitar delapan juta orang mengalami kejadian fraktur dengan jenis penyebab yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa kasus patah tulang di Indonesia semakin meningkat dari waktu ke waktu dan cenderung membutuhkan biaya serta fasilitas yang mahal untuk mengobatinya. Pengobatan patah tulang secara umum pada tindakan medis melalui 3 proses, yaitu reduksi, imobilisasi dan rehabilitasi. Tetapi masyarakat banyak menggunakan jasa pengobat tradisional patah tulang dengan alasan kondisi saat ini dalam krisis ekonomi. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk Meninjau pola pengobatan yang dilakukan pengobat tradisional (batra) pasien patah tulang di Kota Pontianak. Metode Penelitian: Metode pendekatan kualitatif kombinasi dengan kuantitatif tipe studi observational. Peneliti mengobservasi pola pengobatan yang dilakukan batra patah tulang dan melakukan wawancara kepada batra patah tulang. Populasi penelitian adalah batra patah tulang di wilayah Kota Pontianak berjumlah 40 orang. Sampel penelitian adalah pengobat tradisional (batra) patah tulang, dengan menggunakan teknik purposive sampling dan snowball sampling. Hasil: Batra menggunakan teknik arah gerakan yang satu arah (proksimal-distal) selama proses mengurut dan ada batra yang tidak menggunakan arah gerakan karena saat mengurut hanya sebentar guna mencari bagian yang patah dan melemaskan ketegangan. Batra memperhatikan kondisi pasien dan bagian yang patah karena akan sangat berbahaya bila harus dipaksakan menekan jika pasien tidak mampu untuk menahannya. Saat teknik irama gerakan, batra menggunakan irama yang searah, maju mundur dan selang seling. Posisi batra saat mengurut menyesuaikan pada bagian yang patah dan kadang batra mengurut bagian selain yang patah guna mengalihkan sakit yang dirasakan pasien. Batra membutuhkan waktu ± 10-15 menit untuk memperbaiki/mengurut dengan menggunakan minyak urut, memberi ramuan kemudian membalut dengan menggunakan perban. Jika diperlukan batra akan memakai spalk/bidai untuk menopang bagian yang patah. Kesimpulan: Pengobatan tradisional patah tulang pada umumnya masih cukup banyak diminati. Biaya yang relatif murah dan keberadaannya mudah ditemui menjadi hal positif dalam pengobatan ini. Namun kecenderungan terjadinya gangguan lanjutan atau infeksi merupakan sisi negatif metode pengobatan tersebut yang tidak baik untuk kesehatan.
Gambaran Cost-Effektiviness Pada Pasien Diabetic Foot Ulcer Grade Iii Dan Iv Di Klinik Kitamura Pontianak Ryan Thea Suhendra; Sitti Syabariyah; Wisnu Shadana
Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Vol 7 No 2 (2016): Jurnal Keperawatan dan Kesehatan (JK2)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan Muhammadiyah Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.907 KB) | DOI: 10.54630/jk2.v7i2.50

Abstract

Latar belakang : Diabetic Foot Ulcer adalah termasuk polineuropati simetris yang bermanifestasi secara klinis sebagai penurunan sensasi tekanan kulit dan getaran serta ketiadaan refleks dan sekitar 75-90 % penderita Diabetes Mellitus adalah dengan ulkus kaki diabetik. di Indonesia khususnya di pontianak jumlah penderita Diabetes mellitus tipe II masih sangat tinggi. Di Klinik Kitamura terhitung pada tahun 2015 sebanyak 470 penderita di sertai komlikasi Diabetic Foot Ulcer. Tujuan : Mengetahui Gambaran Cost-Effektiviness pada biaya total Diabetic Foot Ulcer grade III dan IV selama tiga bulan diklinik Kitamura Pontianak. Metode penenelitian : Jenis penelitian ini adalah secara deskriptif dengan rencana penelitian retrosfektif. Populasi berjumlah 60 orang, dengan jumlah sampel yang diambil sebanyak 30 orang. Instrumen yang digunakan adalah observasi buku rekam medik. Perbedaan efektivitas biaya antara perawatan modern dan konvensional diuji dengan uji t independent dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian : Hasil penelitian menunjukan bahwa metode perawatan konvensional lebih efektif dan terdapat perbedaan efektivitas antara kelompok modern dan konvensional dengan nilai p=0,001 Kesimpulan : Perawatan luka DFU dengan metode konvensional lebih efektif dalam pembiayaan karna jumlah responden yang menggunakan perawatan konvensional lebih sedikit dibandingkan metode perawatan modern.
Persepsi Berhubungan dengan Stigma Masyarakat pada Penderita Tuberkulosis Paru: Persepsi dan Stigma Sajodin Sajodin; Virna Damayanthy Ekasari; Sitti Syabariyah
Jurnal Keperawatan Vol 14 No 4 (2022): Jurnal Keperawatan: Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.362 KB) | DOI: 10.32583/keperawatan.v14i4.157

Abstract

Penderita tuberculosis mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan baik dari lingkup masyarakat, lingkungan disekitar rumah, maupun lingkungan kerja seperti adanya sebuah penolakan, dikucilkan, diskriminasi, bahkan hingga pemecatan dari tempat kerja. Stigma negative ini disebabkan karena adanya pengetahuan masyarakat mengenai penyakit tuberculosis yang masih terbatas, sehingga masyarakat minimnya sebuah informasi sehingga masyarakat memiliki persepsi yang salah terhadap penderita tuberculosis. Tujuan dari penelitian ini merupakan untuk mengetahui adanya hubungan antara persepsi dengan stigma masyarakat terhadap penderita tuberkulosis paru di wilayah kerja Puskesmas Parongpong Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat. Metode penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sctional terhadap 100 sampel dengan menggunakan sebar kuesioner secara online. Sampel pada penelitian ini adalah masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Parongpong. Pengambilan sampel dilakukan secara purposiv sampling. Analisa data menggunakan distribusi frekuensi dan untuk mengetahui hubungan menggunakan uji statistik Perason Product Moment. Dari hasil penelitian ini menunjukan tidak ada hubungan yang signifikan (p value = 0,183 > 0,05; r=  0,134) antara persepsi dengan stigma masyarakat terhadap penderita tuberkulosis paru
Effect of Aloe Vera Gel in the Healing of Post Operating Incissions: Evidence Based Nursing Sitti Syabariyah; Belinda Rizky Amalia; Nina Gartika
Journal of Health Sciences and Medical Development Vol. 1 No. 02 (2022): Journal of Health Sciences and Medical Development
Publisher : The Indonesian Institute of Science and Technology Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.883 KB) | DOI: 10.56741/hesmed.v1i02.127

Abstract

The incidence of injuries in the world throughout the year is increasing, both acute and chronic wounds. In Indonesia, the prevalence of incisional wounds is 8.2%. Wound healing can be assisted with herbal plants, one of which is aloe vera. The purpose of this evidence-based nursing study was to determine aloe vera's effectiveness in the healing process of incisional wounds. The method used is a literature review. Database searches were conducted through Pubmed, Science Direct, Science Open and Google Scholar. The inclusion criteria of the journal in this study were journals that examined incisions, cuts or surgical wounds given intervention using aloe vera in a quasi-experimental research design, case study, double-blind, controlled trial, journals published in 2016-2021 and used Indonesian or English. This study's results indicate an influence of aloe vera in the wound-healing process, especially in the proliferative phase. This literature study can be used as evidence-based nursing at the level of nursing health services, especially wound care management based on aloe vera.
Kemaknaan Lengkung Kurvatura dan Rib Hump pada Skrining Risiko Skoliosis Sitti Syabariyah; Retno Anesti; Riandi Alfin
Buletin Ilmu Kebidanan dan Keperawatan Vol. 1 No. 02 (2022): Buletin Ilmu Kebidanan dan Keperawatan
Publisher : The Indonesian Institute of Science and Technology Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.398 KB) | DOI: 10.56741/bikk.v1i02.125

Abstract

Indikator klinis pada skoliosis khususnya pada remaja (misalnya kelengkungan lateral; tulang rusuk (rib hump), pinggul dan asimetris bahu) biasanya muncul di awal masa remaja dan dapat menyebabkan deformitas fisik, penurunan harga diri rendah, tingkat depresi yang lebih tinggi dan kompromi paru. Kajian ini menjelaskan subjek skrining skoliosis di sekolah. Fokus kajian adalah dengan tinjauan literatur kemaknaan lengkung kurvatura dan rib hump pada pemeriksaan skrining risiko skoliosis di sekolah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan desain penelitian tinjauan literatur. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa artikel yang relevan dari Scopus, PubMed, Science Direct, CINAHL, ProQuest dan Garuda. Dengan pelaksanaan skrining skoliosis terutama pada usia remaja adalah untuk menurunkan dan menghentikan progresifitas kurvatura skoliosis pada tulang belakang di usia pertumbuhan sebelum maturitas skeletal terbentuk sempurna, dengan harapan melalui deteksi dini dapat mempercepat penetapan diagnosis skoliosis sehingga tatalaksana yang sesuai dapat segera diberikan.
Keperawatan dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Luka Nekrotik Usus pada Pasien Covid-19 Sitti Syabariyah; Afdhalun Nisa; Nina Gartika
Buletin Ilmu Kebidanan dan Keperawatan Vol. 2 No. 01 (2023): Buletin Ilmu Kebidanan dan Keperawatan
Publisher : The Indonesian Institute of Science and Technology Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56741/bikk.v2i01.126

Abstract

Pasien COVID-19 yang parah sering mengalami hiperinflamasi. Hiperinflamasi sistemik dapat menyebabkan mikrotrombosis sebagai akibat hiperkoagulasi. Hal ini dapat menyebabkan iskemia pada jaringan pencernaan dan akhirnya menimbulkan luka nekrotik usus. Penelitian ini mengidentifikasi faktor apa saja yang mempengaruhi timbulnya luka nekrotik usus pada pasien COVID-19 serta implikasi keperawatnnya. Analisis dilakukan dengan strategi pencarian pada tiga studi yaitu case study, systematic review dan meta-analysis yang disusun dari Maret 2021 hingga Juli 2021. Database yang digunakan Google Scholar, Pubmed, Research Gate dan Science Direct yang setidaknya membahas mekanisme luka nekrotik usus dan presentasi kasus luka nekrotik usus pada pasien COVID-19. Hasil penelitian menujukkan pasien COVID-19 yang berjenis kelamin laki, kelompok usia dewasa dengan komorbid diabetes memiliki resiko tinggi terhadap masalah luka nekrotik usus dan untuk tata laksana, keperawatan kritis dapat menjadi bidang yang perlu dipilih oleh perawat selama memberikan perawatan pada pasien. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi referensi dalam pengembangan ilmu keperawatan mengenai mekanisme luka nekrotik usus pada pasien COVID-19.
The Relationship Between Sedentary Behavior and Body Mass Index of Student from Faculty of Health Sciences Aisyiyah University Bandung During Online Learing Sajodin Sajodin; llham Fadhil Muhamad; Sitti Syabariyah
Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 7, No 4: December 2022
Publisher : Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.889 KB) | DOI: 10.30604/jika.v7i4.1343

Abstract

Sedentary behavior is behavior that is carried out in a sitting position or for long periods of time. The existence of the Covid-19 pandemic has an impact on lifestyle changes in the form of a decrease in physical activity caused by social disturbances and an increase in student eating patterns that occur in the incidence of obesity. The purpose of the study was to determine the relationship between sedentary behavior and the body mass index of students from the Faculty of Health Sciences, the University of Aisyiyah Bandung during the online learning period. The research method uses descriptive quantitative. Sampling using simple random sampling with a total of 246 respondents college students. The data collection technique used the Sedentary Behavior Questionnaire which was adapted by Rosenberg with a total of 18 statements and a scale of body mass index. The results showed that there was a relationship between sedentary behavior and body mass index with a correlation coefficient value (G) and p-value = 0.007 (p less than 0.05). so that the proposed hypothesis can be accepted. This shows that the higher a person is on sedentary behavior can affect obesity. The suggestion from this study is that students know how important it is to avoid sedentary behavior so that it does not have an impact on other health. Abstrak: Perilaku sedentari merupakan perilaku yang dilakukan dalam posisi duduk maupun berbaring dengan waktu lama. Adanya pandmi Covid-19 berdampak pada perubahan gaya hidup berupa penurunan aktivitas fisik yang diakibatkan karena adanya pembatasan sosial serta peningkatan pola makan mahasiswa yang berujung pada kejadian obesitas. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan perilaku sedentari dengan indeks masa tubuh mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas ‘Aisyiyah Bandung di masa pembelajaran daring. Metode penelitian menggunakan deskriptif kuantitatif. Pengambilan sampel menggunakan simple random sampling dengan jumlah 246 responden mahasiswa. Teknik pengumpulan data menggunakan Sedentary Behavior Questionnaire yang di adaptasi oleh Rosernberg dan dimodifikasi oleh Luthfiati dengan jumlah 18 pernyataan serta pengukuran indeks massa tubuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan perilaku sedentari dengan indeks massa tubuh dengan nilai koefisiensi korelasi (G) dan nilai p=0,007 (p kurang dari 0,05). Sehingga hipotesis yang diajukan dapat diterima. Hal ini menunjukan bahwa semakin tinggi perilaku sedentari seseorang dapat mempengaruhi tingginya resiko obesitas. Saran dari penelitian ini yaitu agar mahasiswa lebih mengetahui bagaimana pentingnya menghindari perilaku sedentari agar tidak berdampak terhadap kesehatan lainnya.