Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Perkembangan Kajian Hadis Di Indonesia Ulya, Wirda Salamah; Ghifari, Muhammad
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 12 No 01 (2024): Dakwah Digital, Moderasi Beragama dan Kajian Ulama Nusantara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51925/inc.v12i01.112

Abstract

Artikel ini menyajikan analisis mendalam tentang evolusi kajian hadis di Indonesia, menggali sejarah, tokoh-tokoh penting, tantangan, dan prospek masa depan. Dengan pendekatan historis dan analitis, artikel ini menelusuri bagaimana hadis telah dipelajari dan diajarkan dari masa penyebaran Islam di Nusantara hingga era digital saat ini. Penelitian ini menyoroti kontribusi ulama dalam mengembangkan kajian hadis, serta adaptasi metodologi mereka terhadap konteks sosial dan budaya yang berubah. Tantangan seperti aksesibilitas sumber, kualitas penelitian, dan integrasi teknologi modern dibahas untuk mengidentifikasi solusi yang dapat memajukan disiplin ini. Artikel ini juga merenungkan prospek kajian hadis di Indonesia, dengan potensi menjadi pusat studi hadis global, mengingat populasi Muslim terbesar di dunia. Kesimpulannya, artikel ini menawarkan wawasan tentang pentingnya kajian hadis yang terus berkembang dan relevan, serta kontribusinya bagi keilmuan Islam dan masyarakat Muslim secara keseluruhan. This article presents an in-depth analysis of the evolution of hadith studies in Indonesia, exploring its history, key figures, challenges, and future prospects. With a historical and analytical approach, the article traces how hadiths have been studied and taught from the time of Islam's spread in the archipelago to the current digital era. This research highlights the contributions of scholars in developing hadith studies, as well as their adaptation of methodologies to changing social and cultural contexts. Challenges such as source accessibility, research quality, and the integration of modern technology are discussed to identify solutions that can advance this discipline. The article also contemplates the prospects of hadith studies in Indonesia, with the potential to become a global center for hadith studies, considering the world's largest Muslim population. In conclusion, the article offers insights into the importance of continually evolving and relevant hadith studies, as well as its contributions to Islamic scholarship and the Muslim community as a whole.
Pemikiran Dan Kontribusi AGH. Muhammad Nur Dalam Kajian Hadis Di Sulawesi Selatan Ghifari, Muhammad; Zakiyah, Ulfah
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 15 No 02 (2025): Jejak Pemikiran Islam dan Tradisi Lokal Keagamaan
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51925/inc.v15i02.160

Abstract

Artikel ini mengkaji pemikiran dan kontribusi AGH. Muhammad Nur dalam kajian hadis di Sulawesi Selatan, dengan fokus utama pada analisis kitab Kasyf al-Astar. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengkaji kontribusi AGH. Muhammad Nur dalam pengembangan ilmu hadis di Sulawesi Selatan, Indonesia. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana AGH. Muhammad Nur mengintegrasikan nilai-nilai hadis dengan konteks sosial budaya lokal dan bagaimana beliau memanfaatkan kajian hadis sebagai alat untuk menginterpretasikan realitas sosial dan keagamaan di wilayah ini. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan (Library Research), dengan kitab Kasyf al-Astar karya AGH. Muhammad Nur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AGH. Muhammad Nur, melalui kitab Kasyf al-Astar, berhasil menggabungkan analisis mendalam terhadap hadis dengan konteks sosial budaya lokal. Karya ini tidak hanya berfungsi sebagai karya ilmiah yang mendalam, tetapi juga sebagai alat pendidikan yang efektif dalam membentuk pemahaman masyarakat tentang hadis. Kontribusi beliau dalam penyebaran dan pemahaman hadis di Sulawesi Selatan telah memperkaya literatur hadis dan mendukung perkembangan kajian keislaman di wilayah tersebut. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa AGH. Muhammad Nur telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam bidang kajian hadis, dan Kasyf al-Astar merupakan bukti nyata dari upaya beliau dalam mengintegrasikan ajaran hadis dengan kehidupan masyarakat lokal di Sulawesi Selatan. This article examines the thought and contributions of AGH. Muhammad Nur in the study of hadith in South Sulawesi, with a primary focus on the analysis of the book Kasyf al-Astar. The research aims to identify and analyze AGH. Muhammad Nur’s contributions to the development of hadith scholarship in South Sulawesi, Indonesia. In addition, it seeks to explore how AGH. Muhammad Nur integrated the values of hadith with the local socio-cultural context and how he utilized hadith studies as a means to interpret the social and religious realities of the region. The research employs a library study (literature-based) method, using Kasyf al-Astar, authored by AGH. Muhammad Nur, as the primary source. The findings reveal that through Kasyf al-Astar, AGH. Muhammad Nur successfully combined in-depth hadith analysis with the local socio-cultural context. This work serves not only as a profound scholarly contribution but also as an effective educational tool in shaping the community’s understanding of hadith. His role in disseminating and deepening the comprehension of hadith in South Sulawesi has enriched the body of hadith literature and supported the advancement of Islamic studies in the region. Overall, the study concludes that AGH. Muhammad Nur has made significant contributions to the field of hadith scholarship, and Kasyf al-Astar stands as tangible evidence of his efforts to integrate hadith teachings with the everyday life of local communities in South Sulawesi.
THE USE OF HUMAN CHIP IMPLANTS FROM THE HADITH PERSPECTIVE Fharadillah, Vira; Ghifari, Muhammad; Ash, Abil
RIWAYAH Vol 11, No 1 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i1.32233

Abstract

The advancement of chip implant technology in humans has introduced profound transformations across multiple sectors, particularly in healthcare, security, and digital finance. These microelectronic devices, embedded within the human body, serve various functions ranging from medical monitoring and identification to real-time control of digital systems. In medical contexts, chip implants have demonstrated potential in managing chronic illnesses and streamlining access to patient health records. However, their integration into human life also provokes ethical and theological debates, especially within Islamic discourse. This study explores the Islamic ethical framework—focusing on the hadith of Prophet Muhammad Pbuh. —in evaluating the permissibility of chip implants. Employing a qualitative literature review, this research analyzes classical hadith texts alongside contemporary Islamic scholarship, fatwas, and bioethical debates. The study finds that while chip implants are not directly addressed in hadith, foundational Islamic legal principles such as lā ḍarar wa lāḍirār (no harm and no reciprocating harm), ḥifẓ al-nafs (protection of life), and privacy preservation provide normative guidelines. From this perspective, chip implants for urgent medical purposes are conditionally permissible, whereas their use for luxury, surveillance, or non-essential purposes may contravene Islamic ethical standards. This research contributes to contemporary Islamic bioethics by offering a hadith-based framework for navigating emerging biomedical technologies.[Kemajuan teknologi implan chip pada manusia telah membawa perubahan besar di berbagai bidang, khususnya dalam layanan kesehatan, keamanan, dan transaksi keuangan digital. Perangkat mikroelektronik ini, yang ditanamkan ke dalam tubuh manusia, memiliki berbagai fungsi mulai dari pemantauan medis dan identifikasi hingga pengendalian sistem digital secara real-time. Dalam konteks medis, implan chip menunjukkan potensi dalam menangani penyakit kronis serta mempermudah akses cepat terhadap data kesehatan pasien. Namun, integrasi teknologi ini dalam kehidupan manusia juga menimbulkan perdebatan etis dan teologis, terutama dalam wacana Islam. Studi ini mengkaji kerangka etika Islam—dengan fokus pada hadis Nabi Muhammad Saw. —dalam menilai kebolehan penggunaan implan chip. Dengan menggunakan metode kajian literatur kualitatif, penelitian ini menganalisis teks-teks hadis klasik bersama literatur keislaman kontemporer, fatwa, dan perdebatan bioetika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun implan chip tidak secara eksplisit dibahas dalam hadis, prinsip-prinsip dasar hukum Islam seperti lā ḍarar wa lāḍirār (tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain), ḥifẓ al-nafs (perlindungan jiwa), dan perlindungan privasi memberikan pedoman normatif. Dari sudut pandang ini, penggunaan implan chip untuk keperluan medis yang mendesak dapat dibolehkan secara syar’i, sedangkan penggunaannya untuk tujuan non-medis, kemewahan, atau yang berpotensi melanggar privasi dan membahayakan, dinilai bertentangan dengan standar etika Islam. Penelitian ini berkontribusi pada wacana bioetika Islam kontemporer dengan menawarkan kerangka etis berbasis hadis untuk menyikapi kemajuan teknologi biomedis.]
An Analysis of the Meaning of Slander from the Perspective of Tafsir al-Qurtubi Roswati, Ai; Nidhom, Khoirun; Ghifari, Muhammad
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 1 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i1.31322

Abstract

The word “fitnah” in the Qur'an has diverse and contextual meanings, so it requires in-depth exploration to understand its dimensions and implications. Through text analysis method and hermeneutic approach, this study explores Al-Qurtubi's interpretation of the verses containing the word “fitnah”. The word “fitnah” in the Qur'an has a broad and diverse meaning, depending on the context of the verse. According to Imam Al-Qurtubi in his tafsir book, “Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an”, the word “fitnah” and its derivatives are mentioned in various forms, including verbs (fi'il), nouns (isim), and adjectives. “fitnah” and its derivatives are mentioned around 60 times in the Qur'an. However, this number may vary depending on the way the word is counted and interpreted. The word fitnah in its base form (isim) is mentioned 34 times in the Quran and in its verb (fi'il) and adjective forms is mentioned 26 times in the Quran. The results showed that Al-Qurtubi interpreted fitnah in various contexts, such as tests, trials, chaos, misguidance, and torment. This study also reveals the importance of historical, linguistic, and social contexts in Al-Qurtubi's interpretation, as well as the relevance of the concept of fitnah in contemporary life. Kata "fitnah" dalam Al-Qur'an memiliki makna yang beragam dan kontekstual, sehingga membutuhkan eksplorasi mendalam untuk memahami dimensi dan implikasinya. Melalui metode analisis teks dan pendekatan hermeneutika, penelitian ini mengeksplorasi interpretasi Al-Qurtubi terhadap ayat-ayat yang mengandung kata "fitnah". Kata "fitnah" dalam Al-Qur'an memiliki arti yang luas dan beragam, tergantung pada konteks ayatnya. Menurut Imam Al-Qurtubi dalam buku tafsirnya, "Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an", kata "fitnah" dan turunannya disebutkan dalam berbagai bentuk, termasuk kata kerja (fi'il), kata benda (isim), dan kata sifat. "fitnah" dan turunannya disebutkan sekitar 60 kali dalam Al-Qur'an. Namun, angka ini dapat bervariasi tergantung pada cara kata tersebut dihitung dan ditafsirkan. Kata fitnah dalam bentuk dasarnya (isim) disebutkan 34 kali dalam Al-Qur'an dan dalam kata kerja (fi'il) dan bentuk kata sifatnya disebutkan 26 kali dalam Al-Qur'an. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qurtubi menafsirkan fitnah dalam berbagai konteks, seperti ujian, cobaan, kekacauan, kesalahan, dan siksaan. Penelitian ini juga mengungkapkan pentingnya konteks sejarah, bahasa, dan sosial dalam interpretasi Al-Qurtubi, serta relevansi konsep fitnah dalam kehidupan kontemporer.
Pemberdayaan Transmigran Melalui Penerapan Sistem Pertanian Adaptif Berbasis Padi Apung, Tata Air Mikro, Dan Pengelolaan Perikanan Di Lahan Tergenang Desa Papuyuan Kabupaten Balangan Firdaus, Adhitya; Adrianto, Muhammad Subhan Dwi; Nisa, Rahayu; Lestari, Jumiati Indah; Hasanah, Maulida; Febriana, Annisa Dwi; Hairani, Hairani; Fikrulia, Hidayah Jihan; Ghifari, Muhammad; Regandara, Ellysia Putri; Ekawati, Diah; Adawiyah, Rabi'atul; Hadi, Abdul; Mubarak, Ahmad Nazhif; Andani, Nazwa Putri
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 11 No. 3 (2026): September
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v11i3.4843

Abstract

Desa Pupuyuan memiliki karakteristik lahan rawa dengan kondisi jenuh air yang membatasi produktivitas pertanian padi konvensional. Kondisi ini juga menyimpan potensi sumber daya perikanan dan tanaman lokal. Program pemberdayaan masyarakat ini bertujuan untuk mengoptimalkan potensi lokal melalui penerapan sistem padi apung, pengolahan ikan dan genjer menjadi produk bernilai ekonomi. Metode pelaksanaan meliputi survei kebutuhan, sosialisasi, pelatihan, praktik langsung, serta monitoring dan evaluasi dengan pendekatan partisipatif. Kegiatan melibatkan masyarakat, perangkat desa, dan mahasiswa sebagai pendamping. Pendekatan partisipatif digunakan agar masyarakat dapat memahami dan menerapkan teknologi yang diperkenalkan secara mandiri. Hasil dan pembahasan menunjukkan bahwa tingkat penerimaan masyarakat terhadap program tergolong tinggi, dengan 90% responden menyatakan puas dan tertarik. Sistem padi apung dinilai sesuai dengan kondisi lahan tergenang karena mampu mengatasi masalah banjir. Selain itu, pengasapan ikan dan pengolahan genjer menjadi keripik mampu meningkatkan nilai tambah dan memperpanjang masa simpan hasil produksi. Kendala yang dihadapi meliputi keterbatasan biaya awal, partisipasi masyarakat yang belum merata, serta kendala logistik dan infrastruktur. Berdasarkan hal tersebut, teknologi sederhana berbasis potensi lokal efektif meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan ekonomi masyarakat. Keberlanjutan program memerlukan pendampingan berkelanjutan dan keterlibatan aktif masyarakat. Increasing the Capacity of Transmigrants Through an Adaptive Farming System Based on Floating Rice and Fish Smoking in Flooded Land in Pupuyan Village, Balangan Regency Abstract Pupuyuan Village is characterized by swampy, water-saturated conditions that limit the productivity of conventional rice farming. These conditions also hold potential for local fisheries and plant resources. This community empowerment program aims to optimize local potential through the implementation of a floating rice system, processing  fish and genjer into economically valuable products. Implementation method include  needs surveys, outreach, training, hands-on practice, and monitoring and evaluation using a participatory approach. Activities involve the community, village officials, and students as facilitators. A participatory approach is used to  enable the community to understand and independently implement the introduced technology. Results and discussions indicate a high level of community acceptance of the program, with 90% of respondents expressing satisfaction and interest. The floating rice system is considered suitable for inundated land conditions because it can address flooding issues. In addition, smoking fish and processing genjer into chips can increase added value and extend the shelf life of produce. Challenges faced include limited initial costs, uneven community participation, and logistical and infrastructure constraints. Based on this, simple technology based on local potential is effective in improving community knowledge, skills, and economics. The program’s sustainability requires ongoing mentoring and active community involvement.