Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Penguatan Peran Masyarakat dalam Penggunaan Obat Rasional melalui Edukasi DAGUSIBU di Wilayah Pesisir Desa Aoreo Kecamatan Lainea, Kabupaten Konawe Selatan Risky Juliansyah Putri; Nurhyuni; Waode Siti Hartina; Sari Arie Lestari B; Ririn Teguh Ardiansyah; Hartian Dode; Nur Hatidjah Awaliyah Halid; Himaniarwati; Dian Rahmaniar Trisnaputri; Wa Ode Ida Fitriah
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bumi Anoa Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat Bumi Anoa
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jpmba.v5i1.1691

Abstract

Penggunaan obat yang tidak rasional masih menjadi masalah di masyarakat, khususnya dalam hal cara memperoleh, menggunakan, menyimpan, serta membuang obat yang belum dilakukan dengan tepat. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat melalui edukasi DAGUSIBU di Desa Aoreo, Kecamatan Lainea, Kabupaten Konawe Selatan. Metode kegiatan dilakukan dengan pendekatan door-to-door yang meliputi penyuluhan secara langsung, pembagian leaflet, diskusi interaktif, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Kegiatan ini dilaksanakan pada 20 Februari 2026 dengan jumlah peserta sebanyak 40 orang. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata dari 52,3 pada pretest menjadi 67,8 pada posttest. Selain itu, persentase kategori pengetahuan “baik” meningkat dari 20% menjadi 70%, sementara kategori “kurang” menurun dari 42,5% menjadi 5%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa edukasi DAGUSIBU mampu meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penggunaan obat yang benar. Oleh karena itu, kegiatan edukasi kesehatan perlu dilakukan secara berkelanjutan guna mendukung penggunaan obat yang rasional di masyarakat. 
Hubungan Durasi Penggunaan Smartphone Terhadap Perkembangan Psikologis Sosial Anak Usia 06-08 Tahun Di SDN 01 Poasia Kecamatan Poasia Kota Kendari Anisa Purnamasari; Lisnawati; Sari Arie Lestari; Sitti Masriwati; Nazaruddin
Jurnal Anoa Keperawatan Mandala Waluya Vol. 1 No. 1 (2022): Jurnal Anoa Keperawatan Mandala Waluya
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners. Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jakmw.v1i1.206

Abstract

Penggunaan smarthphone di Indonesia menunjukkan angka yang semakin meningkat, data yang diperoleh dari Portal Techin Asia sampai dengan saat ini sudah mencapai 15 juta lebih pengguna smarthphone. Hasil survey yang dilakukan menunjukkan bahwa penduduk Indonesia terutama anak usia dini menjadi pengguna utama smarthphone. World Health Organization melaporkan bahwa 5-25% dari anak-anak usia sekolah menderita gangguan perkembangan. Sekitar 8-9% anak usia sekolah mengalami masalah psikososial khususnya masalah social emosional seperti kecemasan, sulit beradaptasi, bersosialisasi, susah berpisah dari orang tua, anak sulit diatur, dan perilaku agresif merupakan masalah yang paling sering muncul pada anak usia sekolah. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan durasi penggunaan smartphone terhadap perkembangan psikologis sosial Anak Sekolah di SDN 01 Poasia, Kecamatan Poasia, Kota Kendari. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional Study. Populasi penelitian yaitu seluruh anak yang menggunakan smartphone usia 6-8 tahun yang bersekolah di SDN 01 Poasia sebanyak 315 orang dengan jumlah sampel 64 anak. Teknik pengambilan sampel menggunakan proportional random sampling. Analisis menggunakan Uji Chi Square. Hasil penelitian didapatkan nilai p value = 0.000 (X2 hitung = 13.012 > X2 tabel = 3.841), menunjukkan bahwa ada hubungan antara durasi penggunaan smartphone terhadap perkembangan psikologis sosial pada anak usia 06-08 tahun. Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu ada hubungan antara durasi penggunaan smartphone terhadap perkembangan psikologis sosial anak usia 06-08 tahun di SDN 1 Poasia Kecamatan Poasia, Kota Kendari
Risk Factors for Pulmonary Tuberculosis Occurrence Among Active Smokers in the Working Area of Poasia Community Health Center Sari Arie Lestari B; Mohamad Guntur Nangi; Apriyanti Apriyanti
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1379

Abstract

Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam beban tuberkulosis dengan kontribusi 10 persen dari total kasus global pada tahun 2024. Sementara itu di Provinsi Sulawesi Tenggara, Kecamatan Poasia di Kota Kendari, mencatat angka kejadian tuberkulosis yang tinggi. Merokok merupakan faktor risiko penting bagi kejadian tuberkulosis paru, namun studi epidemiologis di wilayah tersebut masih terbatas. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor risiko kejadian tuberkulosis paru pada perokok aktif di wilayah kerja Puskesmas Poasia. Penelitian ini menggunakan desain kasus kontrol dengan sampel perokok aktif berusia minimal 18 tahun. Variabel yang dikaji meliputi umur, tingkat pendidikan, lama merokok, jumlah konsumsi rokok per hari, indeks Brinkman, karboksihemoglobin, riwayat kontak, kondisi ventilasi rumah, kepadatan hunian, dan status gizi. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner terstruktur dan pemeriksaan laboratorium bakteriologi tahan asam serta karboksihemoglobin. Analisis data menggunakan uji kai kuadrat untuk analisis bivariat dan regresi logistik untuk menentukan faktor risiko independen. Hasil studi menunjukkan bahwa perokok berat dengan konsumsi lebih dari 10 batang per hari memiliki risiko 4,27 kali lebih tinggi (OR=4,27; 95% CI: 2,31-7,89; p<0,001) dibandingkan kelompok kontrol. Kadar karboksihemoglobin tinggi (OR=3,15; p<0,001), riwayat kontak erat dengan penderita tuberkulosis (OR=3,88; p=0,001), ventilasi rumah yang buruk (OR=2,97; p=0,001), status gizi kurang (OR=2,99; p<0,001), dan kepadatan hunian yang tinggi (OR=2,95; p<0,001) juga berhubungan signifikan dengan kejadian tuberkulosis paru. Perilaku merokok merupakan faktor risiko independen paling dominan terhadap kejadian tuberkulosis paru (AOR=3,95; 95% CI: 2,11-7,42; p=0,001), diikuti oleh kadar karboksihemoglobin tinggi (AOR=2,87; 95% CI: 1,52-5,41; p=0,001). Disarankan dilakukan skrining tuberkulosis ekstensif bagi perokok, program penghentian merokok terintegrasi, serta peningkatan ventilasi dan pengurangan kepadatan hunian di wilayah Poasia
Pendekatan Interprofesional Berbasis Komunitas dalam Deteksi Dini dan Pencegahan Stunting pada Balita di Wilayah Pesisir Desa Polewali Kecamatan Lainea Sari Arie Lestari
Karya Kesehatan Journal of Community Engagement Vol 7 No 1 (2026): Karya Kesehatan Journal of Community Engangement
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Karya Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46233/k2jce.v7i1.1687

Abstract

Abstrak. Stunting merupakan masalah gizi kronis yang masih menjadi prioritas nasional di Indonesia, terutama di wilayah pesisir yang memiliki keterbatasan akses sanitasi, rendahnya literasi kesehatan, serta pemanfaatan pangan lokal yang belum optimal. Permasalahan ini bersifat multidimensional sehingga memerlukan pendekatan komprehensif berbasis komunitas. Kegiatan ini bertujuan untuk mengimplementasikan model interprofesional berbasis komunitas dalam meningkatkan deteksi dini, pengetahuan ibu, kapasitas kader, serta perubahan perilaku keluarga dalam pencegahan stunting di Desa Bangun Jaya Kecamatan Lainea. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan pendekatan interprofesional berbasis komunitas dengan desain partisipatif dan aplikatif. Partisipan terdiri dari 45 ibu balita, 52 balita (usia 0-59 bulan), dan 12 kader Posyandu di wilayah pesisir Desa Bangun Jaya Kecamatan Lainea Kabupaten Konawe Selatan. Metode pelaksanaan dirancang secara sistematis untuk mengintegrasikan keilmuan keperawatan, sanitasi lingkungan, kesehatan masyarakat, dan farmasi. Tahapan kegiatan meliputi: (1) persiapan dan koordinasi; (2) pengkajian terpadu berupa pengukuran antropometri balita menggunakan timbangan dan microtoise yang telah dikalibrasi sesuai standar SKI/SSGI Kemenkes RI, observasi sanitasi lingkungan rumah tangga menggunakan lembar checklist, serta wawancara terstruktur menggunakan kuesioner KAP (Knowledge, Attitude, Practice) yang telah divalidasi; (3) implementasi intervensi berupa edukasi terintegrasi, konseling keluarga, dan pelatihan kader Posyandu; (4) monitoring dan evaluasi. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dengan membandingkan hasil sebelum dan sesudah intervensi. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada beberapa indikator. Pengetahuan ibu meningkat dari 29% (kategori kurang) menjadi 84% (kategori baik), praktik sanitasi rumah tangga dari 28% (kategori kurang baik) menjadi 72% (kategori baik), dan keterampilan kader dalam skrining pertumbuhan dari 15% (kategori kurang terampil) menjadi 76% (kategori terampil). Selain itu, terjadi perubahan perilaku awal pada keluarga, seperti peningkatan praktik cuci tangan pakai sabun pada lima momen kritis, perbaikan pengelolaan air bersih, serta variasi menu berbasis sumber protein laut. Pendekatan interprofesional berbasis komunitas efektif dalam meningkatkan kapasitas individu dan keluarga serta mendorong perubahan perilaku kesehatan sebagai upaya pencegahan stunting. Model ini berpotensi untuk direplikasi di wilayah dengan karakteristik serupa guna mendukung percepatan penurunan stunting secara berkelanjutan.