Claim Missing Document
Check
Articles

Upaya Mencegah Infeksi Luka Pasca Operasi Di Bangsal Marwah RS PKU Muhammadiyah Karanganyar Annisa Andriyani; Yessi Lela Sari; Nabila Putri; Lisa Kumala Dewi; Fara Harum Anisa; Nabilla Felicia Az Zahra; Muh Bintang Prabowo
Gudang Jurnal Multidisiplin Ilmu Vol. 2 No. 10 (2024): GJMI - OKTOBER
Publisher : PT. Gudang Pustaka Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/gjmi.v2i10.992

Abstract

Pembedahan atau operasi adalah semua tindakan pengobatan dengan menggunakan prosedur invasif, dengan tahapan membuka atau menampilkan bagian tubuh yang ditangani. Pembukaan bagian tubuh yang dilakukan tindakan pembedahan pada umumnya dilakukan dengan membuat sayatan, setelah yang ditangani tampak, maka akan dilakukan perbaikan dengan penutupan serta penjahitan luka (Sjamsuhidayat & Jong, 2016). Setelah dilakukan pembedahan/operasi maka akan terbentuk sebuah luka dari sayatan yang dibuat tersebut. Luka terdiri dari dua jenis yaitu luka bersih dan luka kotor. Luka yang disebabkan karena tindakan pembedahan/operasi sering disebut dengan luka bersih, yang dapat pulih kembali dalam kurun waktu 6-8 minggu. Dalam masa penyembuhan luka perlu diperhatikan kebersihan dari luka tersebut. Hal ini dikarenakan saat fase penyembuhan, luka sangat rentan terkena infeksi. Infeksi adalah kondisi ketika mikroorganisme seperti virus, bakteri, jamur, atau parasit masuk dan berkembang biak di dalam tubuh, sehingga membuat masa penyembuhan luka memanjang atau bahkan dapat juga menyebabkan penyakit. Gejala yang biasa muncul saat luka terjadi infeksi antaralain : luka terasa nyeri, bengkak, berwarna kemerahan, dan terdapat nanah/pus pada luka.
Pemanfaatan Tanaman Kelor (Moringa oleifera) pada Ibu Pasca Melahirkan untuk Meningkatkan Produksi ASI Maryatun, Maryatun; Andriyani, Annisa; Lusia, Eka; Ikhsan, Maulida Nur; Siyama, Anis
ASJN (Aisyiyah Surakarta Journal of Nursing) Vol 5 No 2 (2024): DESEMBER
Publisher : P3M Universitas Aisyiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30787/asjn.v5i2.1712

Abstract

Latar Belakang: Produksi ASI yang optimal sangat penting bagi kesehatan ibu dan bayi. Namun, banyak ibu pasca melahirkan menghadapi kesulitan dalam memproduksi ASI yang cukup, yang dapat memengaruhi keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Daun kelor (Moringa oleifera) dikenal memiliki berbagai manfaat kesehatan, termasuk kandungan nutrisi tinggi seperti vitamin, mineral, dan antioksidan yang dapat meningkatkan produksi ASI. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh pemberian kapsul Moringa oleifera terhadap peningkatan produksi ASI pada ibu pasca melahirkan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimen dengan melibatkan 15 ibu pasca melahirkan yang memenuhi kriteria inklusi. Partisipan diberi kapsul Moringa oleifera dosis 500 mg dua kali sehari selama dua minggu. Produksi ASI diukur sebelum dan sesudah intervensi, dan analisis data dilakukan menggunakan uji t-berpasangan. Hasil: Rata-rata produksi kolostrum meningkat dari 7,39 ml menjadi 16,73 ml setelah intervensi, dengan deviasi standar 7,39 ml. Nilai p < 0,001 menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik. Kesimpulan: Moringa oleifera terbukti efektif sebagai suplemen tambahan untuk meningkatkan produksi ASI, terutama bagi ibu yang menghadapi kendala laktasi. Selain itu, kandungan nutrisi daun kelor dapat mendukung kesehatan ibu secara keseluruhan. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi variasi dosis, durasi pemberian, serta efek jangka panjangnya pada laktasi dan kesehatan ibu serta bayi.  
The Karakteristik Ibu Hamil dengan Anemia di Wilayah Kerja Puskesmas Grogol Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah Nurrohmah, Anjar; Indarwati; Andriyani, Annisa
Jurnal Keperawatan Florence Nightingale Vol 7 No 1 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Stella Maris Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52774/jkfn.v7i1.124

Abstract

Angka kematian ibu merupakan salah satu indikator penting pada kualitas pelayanan kesehatan di suatu negara, salah satu penyebab tidak langsung angka kematian ibu adalah kejadian anemia saat kehamilan. Anemia pada ibu hamil dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya adalah usia, pendidikan, status nutrisi, kunjungan antenatal, paritas,  jarak kehamilan, pola makan,  dan  konsumsi zat besi. Puskesmas Grogol merupakan salah satu Puskesmas yang menempati urutan pertama dengan kasus ibu hamil yang menderita anemia di wilayah Kabupaten Sukoharjo pada tahun 2022. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik Ibu hamil dengan anemia di wilayah Puskesmas Gogol Kabupaten Sukohajo, Jawa Tengah. Kabupaten Sukoharjo. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptik analitik dengan pendekatan cross sectional survey. Populasi yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah ibu hamil di wilayah kerja puskesmas Grogol Kabupaten Sukoharjo yang berjumlah 274 orang. Sample dalam penelitian ini adalah ibu hamil trimester 2-3 di wilayah Puskesmas Grogol yang mengalami anemia dan bersedia menjadi responden yaitu berjumlah 53 orang. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa bahwa mayoritas responden berusia 20-35 tahun (73.6%), berdasarkan tingkat pendidikan sebagian besar (SMA 65%), sebagian besar ibu tidak bekerja (73.6%), sebagian besar adalah ibu baru mempunyai satu anak (77.4%), dan berdasarkan perilaku kepatuhan minum tablet besi (Fe) sebagian besar (66%) patuh dengan anemia ringan sebesar 98%.  Sebagian besar responden mempunyai level anemia ringan dengan usia sebagaian besar pada rentang 20-35 tahun, Pendidikan SMA, ibu tidak bekerja, dengan paritas anak lebih dari satu dan patuh mengkonsumsi suplemen zat besi dan sebagian besar mempunyai level anemia ringan
Trends in Ultra-Processed Food Consumption and Its Correlation to Obesity Risk in Urban Adolescents Zuhrotunida Zuhrotunida; Irwan Hadi; Annisa Andriyani
Journal of Public Health Indonesian Vol. 2 No. 2 (2025): JULY-JHH
Publisher : PT. Anagata Sembagi Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62872/5fwa9050

Abstract

The trend of ultra-processed food (UPF) consumption among urban adolescents has increased along with the modern, fast-paced lifestyle. This consumption pattern has the potential to increase the risk of obesity, especially in school-age groups. This study aims to analyze the relationship between the level of ultra-processed food consumption and the risk of obesity in adolescents based on Body Mass Index (BMI). The study was conducted with a quantitative approach and cross-sectional design on 200 high school students in the DKI Jakarta area. Data were collected through a Food Frequency Questionnaire (FFQ) and anthropometric measurements (weight and height). The analysis technique used the Kolmogorov-Smirnov normality test, Pearson correlation test, and simple linear regression with a significance level of p < 0.05. The results showed that the majority of respondents consumed ultra-processed foods in the moderate to high category. The highest average BMI was recorded in the high UPF consumption group (24.3), while the low consumption group had an average BMI of 21.4. The Pearson correlation test yielded an r value of 0.479 (p = 0.000), and linear regression showed a 23% contribution of UPF consumption to BMI variation (R² = 0.230). This study concluded that there is a significant positive relationship between ultra-processed food consumption and obesity risk in urban adolescents. These results provide an important basis for strengthening nutrition education programs, limiting unhealthy food advertising, and implementing healthy canteen policies in school environments.
The Impact of Traditional and Modern Practices on Maternal Health During the Postpartum Period Andi Muhammad Multazam; Isah Fitriani; Annisa Andriyani
Journal of Public Health Indonesian Vol. 2 No. 5 (2026): JANUARY-JHH
Publisher : PT. Anagata Sembagi Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62872/wa2v2k33

Abstract

This mixed-method study demonstrates that postpartum care practices significantly influence maternal health outcomes, with modern practices and integrated traditional–modern approaches yielding better results than reliance on traditional practices alone. Quantitative findings indicate that mothers who adopted evidence-based postpartum care experienced improved physical recovery and overall health status, while qualitative insights reveal that traditional practices continue to play an important psychosocial and cultural role. The integration of both approaches emerged as the most beneficial model, suggesting that maternal health outcomes are optimized when biomedical care is complemented by culturally meaningful practices that provide emotional support and social reassurance. The findings carry important implications for maternal health policy and practice. Health professionals should avoid framing traditional postpartum practices as inherently harmful and instead adopt culturally sensitive strategies that encourage safe integration with modern care. Training programs for midwives and postpartum care providers should emphasize respectful communication and cultural competence to enhance maternal trust and service utilization. However, this study has limitations. The findings are context-specific and may not be fully generalizable to regions with different cultural or healthcare systems. Additionally, the cross-sectional nature of the quantitative phase limits causal inference, and self-reported health measures may be subject to recall bias. Future research should employ longitudinal designs and broader geographic coverage to further examine the long-term health effects of integrated postpartum care models.