Claim Missing Document
Check
Articles

Kematangan emosi dengan kecenderungan perilaku agresif pada mahasiswa Abubakar, Feliya; Noviekayati, IGAA; Ananta, Aliffia
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 1 No 1 (2023): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v1i1.9833

Abstract

In recent years the phenomenon of aggressiveness in students has increased which does not reflect the role of the student figure. This study to determine the relationship between emotional maturity and the tendency of aggressive behavior in students. This research is a type of quantitative research using correlational research. The subjects in this study were 175 students in the city of Surabaya, who were selected through a simple random sampling technique. This data collection instrument used an aggressiveness scale and an emotional maturity scale. Data analysis techniques in this study used IBM Statistics version 26 for windows. The results of the non-parametric correlation test for Spearman's rho analysis were -0.978 which indicated that there was a negative relationship with a correlation score of 0.000 with p = 0.000 (p <0.01). This means that there is a significant relationship between emotional maturity and aggressive behavior. The lower the emotional maturity, the higher the aggressive behavior in students. And vice versa, the higher the emotional maturity, the lower the aggressive behavior in college students. Beberapa tahun terakhir fenomena agresivitas pada mahasiswa meningkat dimana tidak mencerminkan peran sosok mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kematangan emosi dengan kecenderungan perilaku agresifpada mahasiswa. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan penelitian korelasional. Subjek dalam penelitian ini sebanyak 175 mahasiswa di kota Surabaya, yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Instrument pengumpulan data ini menggunakan skala agresivitas dan skala kematangan emosi Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan IBM Statistics versi 26 for windows. Hasil uji korelasi teknik non parametric analisis spearman rho sebesar -0,978 dimana menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif dengan skor korelasi 0,000 dengan p = 0.000 (p<0,01). Artinya terdapat hubungan signifikan antara kematangan emosi dengan perilaku agresif. Semakin rendah kematangan emosi semakin tinggi perilaku agresif pada mahasiswa. Begitupun sebaliknya, semakin tinggi kematangan emosi semakin rendah perilaku agresif pada mahasiswa.
Fear Of Missing Out Dengan Konformitas Pada Generasi Z Iklimah, Maulida; Noviekayati, IGAA; Ananta, Aliffia
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 1 No 2 (2023): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v1i2.9927

Abstract

The rapid development of technology affects Gen Z to communicate between individuals. This technological explosion gave rise to the phenomenon of fear of missing out, the fear of losing moments so that behavior emerged to continue to monitor, making individuals anxious when they were left behind. Especially when individuals are influenced by conformity in the form of pressure from their group to always be connected with what is happening on social media. This study aims to determine the relationship between fear of missing out and conformity in the z generation. The subjects used in this study were individuals aged 19-23 years involving 98 respondents. Sampling using non-probability sampling technique by accidental sampling by spreading Google form. The instrument used is the fear of missing out scale according to Przybylski's theory (2013) and the conformity scale according to Sears' theory (2004). The analysis technique used is the product moment with a result of 0.926 with a significance of p = 0.000 <0.01. The research measurement to see the reliability of the instrument uses the Cronbach’s alpha coefficient which when analyzing requires the help of SPSS 25.0 software for Windows. The results obtained show that the proposed hypothesis is accepted, the higher the fear of missing out, the higher the conformity. Vice versa, the higher the fear of missing out, the higher the conformity of generation z individuals. Perkembangan teknologi yang pesat mempengaruhi gen z berkomunikasi antar individu. Ledakan teknologi ini memunculkan fenomena fear of missing out ketakutan akan kehilangan momen sehingga muncul perilaku untuk terus memantau sehingga membuat individu gelisah ketika tertinggal. Terutama ketika individu mendapat pengaruh konformitas berupa tekanan dari kelompoknya agar selalu terhubung dengan yang sedang terjadi di media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara fear of missing out dengan konformitas pada generasi z. Subjek yang digunakan pada penelitian ini individu dengan usia 19-23 tahun melibatkan 98 responden. Pengambilan sampel menggunakan teknik non probability sampling secara accidental sampling dengan menyebar google form. Instrumen yang digunakan adalah skala fear of missing out sesuai dengan teori Przybylski (2013) dan skala konformitas sesuai dengan teori Sears (2004). Teknik analisis yang digunakan adalah product moment dengan hasil 0,926 dengan signifikansi p = 0,000 < 0,01. Pengukuran penelitian untuk melihat reliabilitas instrumen menggunakan koefisien cronbach alpha yang ketika analisis membutuhkan bantuan software SPSS 25.0 for Windows. Hasil yang didapat menunjukkan hipotesis yang diajukan diterima, semakin tinggi fear of missing out maka semakin tinggi konformitas. Begitu juga sebaliknya, semakin tinggi fear of missing out maka semakin tinggi konformitas pada individu generasi z.
Psychological Well-being pada Remaja : Bagaimana Peranan Kecenderungan Kecanduan Media Sosial? Saraswati, Diva Adyana; Noviekayati, IGAA; Ananta, Aliffia
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 1 (2024): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v2i1.10411

Abstract

Adolescence is an important stage in a person's life that includes emotional development, physical development, as well as mental and social development. Someone who has difficulty controlling their use of social media. This can lead to various problems, including psychological problems. For adolescents, the high level of use of social networks will have negative consequences. This study aims to determine whether there is a relationship between social media addiction and psychological well-being in late adolescence. This research is a correlational research. The subjects in this study were 144 late adolescents. Hypothesis testing was carried out using the product moment test technique. The results of this study indicate a positive relationship between the tendency of social media addiction to psychological well-being. It can be said that social media can improve psychological well-being of adolescents. It is also not said that adolescents experience a tendency to social media addiction because they do not use social media as a top priority, and use more than 5 hours a day. Keywords: 1) Social Media; 2) Psychologicall Well-being; 3) Teenager. Masa remaja merupakan tahapan penting pada kehidupan seorang yang mencakup perkembangan emosional, perkembangan fisik, dan juga mental, serta sosial. Seseorang yang mengalami kesulitan untuk mengendalikan penggunaan media sosial. Hal ini dapat menyebabkan berbagai masalah, termasuk masalah psikologis. Bagi remaja, tingginya tingkat penggunaan jejaring sosial akan memberikan akibat akibat negative. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara kecanduan kecanduan media sosial terhadap psychological well-being pada usia remaja akhir. Penelitian ini adalah penelitian korelasional. Subjek dalam penelitian ini sebanyak 144 remaja akhir. Pengujian hipotesis yang dilakukan menggunakan teknik uji product moment. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang positif antara kecenderungan kecanduan media sosial terhadap psychological well-being. Hal ini dapat dikatakan media sosial dapat meningkatkan psychological well-being remaja. Hal ini juga tidak dikatakan remaja mengalami kecenderungan kecanduan media sosial karena tidak menggunakan media sosial sebagai prioritas utama, dan menggunakan lebih dari 5 jam dalam sehari. Kata kunci: 1) Media Sosial; 2) Psychological well-being; 3) Remaja.
Analisis Konsep Diri dengan Sikap Remaja terhadap Penyalahgunaan Narkoba Awwalya, Siti Nabila; Noviekayati, IGAA; Rina, Amherstia Pasca
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 2 (2024): Juni
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v2i2.10567

Abstract

Konsep diri merupakan gambaran dan penilaian dari seluruh aspek kehidupan. Konsep dirimencakup seluruh aspek kepribadiannya dan dikembangkan oleh remaja berupa konsep diriyang positif dan negatif. Sikap remaja yang melakukan penyalahgunaan narkoba dilatarbelakangi karena krisis identitas, memiliki kontrol diri yang lemah, kurangnya kasih sayang, minimnya pemahaman tentang keagamaan, pengaruh lingkungan sekitar, dantempat pendidikan. Penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan jumlah penyalahgunaan narkoba kategori satu tahun pakai dikalangan pelajar mencapai 2.297.492 jiwa. Tujuan dari penelitian ini adalahuntuk menguji hubungan antara konsep diri dengan sikap remaja terhadap penyalahgunaan narkoba. Penelitian ini menggunakan metode analisis kuantitatif dengan bantuan spss dalam bentuk regresi berganda melalui penyebaran kuesioner dengan 123 responden di Surabaya dan Sidoarjo yang berumur 12–24 tahun. Sikap remaja dengan konsep diri terutama dalam penyalahgunaan narkoba menunjukkan adanya keterkaitan berdasarkan hasil pengolahandata melalui spss adalah 0,744 dimana hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa memiliki hubungan linier diantara keduanya.
Peer attachment: Kunci mengurangi perilaku agresif pada anak sekolah dasar Muna, Hanifa Wafiqul; Noviekayati, IGAA; Ananta, Aliffia
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 03 (2024): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v2i03.11449

Abstract

Abstract This study aims to determine the relationship between peer attachment and aggressive behavior in elementary school children. Aggressive behavior refers to an individual's response or reaction to their environment that hurts other individuals. Aggressive behavior is characterized by behaviors that individuals do that hurt other individuals in verbal and non-verbal forms. This study used 92 subjects with age variations of 9-11 years old who are elementary school students. Data collection was conducted at school using a questionnaire in the form of a guttman scale, using measurement instruments consisting of The Aggression Questionnaire and Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA). Spearman's Rho analysis shows that Aggressive Behaviour and Peer Attachment have a negative linear association. That is, the stronger the peer relationship, the less aggressive the behaviour of elementary school students. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kelekatan teman sebaya dengan perilaku agresif pada anak sekolah dasar. Perilaku agresif merupakan respon atau reaksi individu terhadap lingkungannya yang menyakiti individu lain. Perilaku agresif ditandai dengan perilaku yang dilakukan individu yang menyakiti individu lain dalam bentuk verbal maupun non verbal. Penelitian ini menggunakan 92 subjek dengan variasi usia 9-11 tahun yang merupakan siswa sekolah dasar. Pengumpulan data dilakukan di sekolah dengan menggunakan kuesioner dalam bentuk skala guttman, dengan menggunakan alat ukur yang terdiri dari Kuesioner Agresi dan Inventori Kelekatan Orangtua dan Teman Sebaya (IPPA). Analisis menggunakan Spearman's Rho yang menunjukkan adanya hubungan negatif dan linier antara Perilaku Agresif dengan Peer Attachment. Artinya, semakin tinggi Peer Attachment, maka semakin rendah perilaku agresif anak sekolah dasar.
Peran Work-Life Balance dengan Burnout pada Karyawan PT X Wicaksono, Lugas; Noviekayati, IGAA; Rina, Amherstia Pasca
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 2 (2024): Juni
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v2i2.11504

Abstract

AbstractThe COVID-19 pandemic had a significant impact on the manufacturing industry, reducing demand for goods and causing production instability. Many companies experienced losses and were unable to pay employees, resulting in layoffs. Now, as COVID-19 has become endemic, companies are striving to recover and ambitiously cover the losses caused by the pandemic by increasing overtime and demanding employees work outside their usual roles due to staff shortages from previous layoffs. On the other hand, companies are neglecting employees' Work-Life Balance, causing excessive pressure and stress as personal time is consumed by work. Prolonged stress can ultimately lead to Burnout. This study aims to examine the relationship between Work-Life Balance and Burnout among employees at PT X. This is a correlational quantitative study involving all 52 employees of PT X, selected using saturated sampling techniques. Data collection was carried out by distributing online questionnaires via Google Forms. The study used two instruments: the Work-Life Balance scale and the Burnout scale. Data were analyzed using the Spearman rank correlation test. The results showed a significant negative relationship between Work-Life Balance and Burnout. Thus, the higher the employees' Work-Life Balance, the lower the Burnout experienced, and vice versa. AbstrakPandemi COVID-19 berdampak besar pada industri manufaktur, menurunkan permintaan barang dan menyebabkan ketidakstabilan produksi. Banyak perusahaan mengalami kerugian, tidak bisa memenuhi gaji karyawan akhirnya perusahaan melakukan PHK. Kini, saat COVID-19 menjadi endemi, perusahaan berusaha bangkit hingga berambisi menutup kerugian yang disebabkan pandemi covid-19 dengan menambah jam lembur dan menuntut karyawan bekerja di luar bidangnya imbas dari perusahaan kekurangan karyawan karena PHK yang dilakukan. Di sisi lain, perusahaan mengabaikan Work-Life Balance karyawan, menyebabkan tekanan berlebih dan stres pada karyawan karena waktu pribadinya terkuras habis untuk bekerja. Pada akhirnya stres berkepanjangan dapat mengakibatkan Burnout. Penelitian ini bertujuang untuk mengetahui hubungan antara Work-Life Balance dengan Burnout pada karyawan PT X. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif korelasional. Subjek penelitian menggunakan seluruh karyawan PT X berjumlah 52 karyawan yang dipilih melalui teknik sampling jenuh. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebar kuisioner online menggunakan google form. Penelitian ini menggunakan dua instrumen yaitu skala Work-Life Balance dan Burnout. Data dianalisis menggunakan uji korelasi spearman rank. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara Work-Life Balance dan Burnout. Maka dari itu, semakin tinggi Work-Life Balance karyawan, maka semakin rendah Burnout yang akan dialami karyawan, dan sebaliknya.
Peran Persepsi Kepemimpinan Transformasional Dengan Burnout Pada Karyawan PT X Amin, Abd Rozaqqil; Noviekayati, IGAA; Rina, Amherstia Pasca
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 2 (2024): Juni
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v2i2.11505

Abstract

Abstract The rapid development in the current era of globalization in the industrial sector. causing companies to face increasingly serious problems due to increasing work demands. Employees often experience mental health problems and prolonged stress (burnout) which will have an impact on their lives and work. The success or failure experienced by an organization is largely determined by the quality of leadership it possesses. Transformational leadership style is considered a leadership model that is able to overcome problems that occur in an organization or company. This research aims to determine the relationship between perceptions of transformational leadership and burnout among employees at PT. X. The method applied in this research is a correlational design with a quantitative approach, involving all 62 employees of PT. The instruments used were the transformational leadership scale and the burnout scale by applying the Spearman Brown correlation test analysis technique. The results of the analysis show that both variables have a significant negative relationship between perceptions of transformational leadership and burnout, meaning that the higher the perception of transformational leadership, the lower the burnout experienced by employees. Conversely, the lower the perception of transformational leadership, the higher the burnout experienced by employees. Abstrak Pesatnya perkembangan di era globalisasi bidang industri masa kini. menyebabkan perusahaan menghadapi masalah yang semakin berat karena tuntutan pekerjaan yang semakin meningkat.Seringkali karyawan mengalami gangguan kesehatan mental dan stress berkepanjangan (burnout) yang akan berdampak pada kehidupannya maupun pekerjaannya. Kesuksesan ataupun kegagalan yang dialami organisasi sebagian besar ditentukan oleh kualitas kepemimpinan yang dimiliki. Gaya kepemimpinan transformasional dianggap sebagai model kepemimpinan yang mampu mengatasi masalah yang terjadi di suatu organisasi atau perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi kepemimpinan transformasional dengan burnout pada karyawan di PT. X.Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah desain korelasional dengan pendekaataan kuantitatif, yang melibatkan seluruh karyawan PT.X sebanyak 62 karyawan. Instrumen yang digunakan yaitu dengan skala kepemimpinan transformasional dan skala burnout dengan menerapkan teknik analisis uji korelasi spearman brown. Hasil analisis menunjukkan kedua variabel memiliki hubungan negatif signifikan antara persepsi kepemimpinan transformasional dengan burnout, artinya semakin tinggi persepsi kepemimpinan transformasional maka akan semakin rendah burnout yang dialami karyawan. Sebaliknya, apabila semakin rendah persepsi kepemimpinan transformasional maka akan semakin tinggi burnout yang dialami karyawan.
Peran Social Comparison dalam Membentuk Body Dissatisfaction pada Ibu-Ibu Pasca Melahirkan Amalia, Vita; Noviekayati, IGAA; Utami, Adnani Budi
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 04 (2024): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v2i04.12486

Abstract

Ibu – Ibu yang sering membandingkan diri sendiri terhadap orang lain karena berbagai paparan dari media, lingkungan, dan keluarga mereka. Kemungkinan ketidakpuasan tubuh dapat meningkat sebagai akibat dari perbandingan sosial ini. Dalam penelitian ini, ketidakpuasan tubuh pada ibu dimaksudkan untuk diperiksa dalam kaitannya dengan perbandingan sosial. Perbandingan sosial dan ketidakpuasan tubuh adalah variabel yang tergantung dan independen yang digunakan dalam penyelidikan. Penelitian ini melibatkan 140 Ibu - Ibu sebagai responden, penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasi dikombinasikan dengan strategi sampling jenuh. Dua komponen dari alat penelitian adalah skala ketidakpuasan tubuh dan perbandingan sosial. Menggunakan perangkat lunak SPSS versi 16.0 untuk Windows, data diperiksa oleh tes korelasi Spearman Rho. Koefisien korelasi ditemukan dalam hasil analisis sebesar 0.646 . Semakin tinggi perbandingan sosial, maka semakin tinggi ketidakpuasan tubuh, begitupun sebaliknya.
Self-Compassion dan Kepribadian Introvert: Potret Kecemasan Sosial pada Remaja Nurinasari, Sofines Ulsy; Noviekayati, IGAA; Ananta, Aliffia
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 04 (2024): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v2i04.12585

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara Self-compassion dan kepribadian Introvert dengan kecemasan sosial pada remaja. Kecemasan Sosial merupakan suatu kondisi dimana individu merasakan ketakutan secara berlebihan ketika berada pada situasi sosial. Individu yang mengalaminya sering khawatir tentang tanggapan orang lain terhadap dirinya, seperti takut diejek atau dikritik. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel accidental sampling pada 384 responden. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah Spearman’s Rho. Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan menunjukkan hubungan negatif antara Self-compassion dengan kecemasan sosial. Artinya semakin tinggi self-compassion semakin rendah kecemasan sosial, begitupun sebaliknya. Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan pada menunjukkan adanya hubungan positif antara kepribadian introvert dengan kecemasan sosial. Artinya semakin tinggi kepribadian introvert remaja semakin tinggi kecemasan sosial, begitupun sebaliknya. Hal ini mengindikasikan bahwa individu dengan kepribadian introvert cenderung memiliki tingkat kecemasan sosial yang lebih tinggi. Temuan ini memberikan wawasan baru bahwa kepribadian Introvert dapat menjadi faktor risiko untuk kecemasan sosial, terutama jika individu tersebut merasa tidak nyaman dalam situasi sosial tertentu.
Kecemasan Sosial Korban Bullying: Bagaimana Peran Perilaku Asertif dan Regulasi Diri? Azzahra, Aninditha; Noviekayati, IGAA; Rina, Amherstia Pasca
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 3 No 01 (2025): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v3i01.12703

Abstract

Kecemasan sosial dapat diartikan sebagai pengalaman rasa takut, cemas atau khawatir terhadap situasi sosial dan takut dievaluasi oleh teman sebaya maupun orang lain. Faktor internal seperti perilaku asertif dan regulasi diri diduga berperan dalam menurunkan kecemasan sosial korban bullying pada siswa SMA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku asertif dan regulasi diri dengan kecemasan sosial korban bullying pada siswa SMA. Populasi penelitian ini sebanyak 127 dengan sampel 101 siswa salah satu SMA Muhammadiyah Surabaya yang dipilih menggunakan Quota Sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan jika tidak adanya hubungan yang signifikan antara perilaku asertif dan regulasi diri dengan kecemasan sosial (F= 0.553 dengan signifikansi 0,577 (p > 0.05)). Temuan ini menunjukkan jika masih ada kesempatan untuk peneliti lain untuk mengeksplor hubungan variabel antar ini. Kata kunci: Kecemasan Sosial, Korban Bullying, Perilaku Asertif, Regulasi Diri siswa SMA
Co-Authors A.A. Ketut Agung Cahyawan W Abbas, Miranda Abubakar, Feliya Afni, Andi Nur Ajeng Pradnyaswari Suryawirawan Amalia, Vita Amana, Lidya Nur Amanda Pasca Rini, Rr. Amin, Abd Rozaqqil Ananta, Aliffia Anrilia E.M. Ningdyah Anrilia Ema Mustikawati Ningdyah Aulia Maharani, Shanaz Nadia Awwalya, Siti Nabila Aziz, Mochammad Rizki Azzahra, Aninditha Bachtiar Surin, Rizki Dwi Budiyono, Aji Pratama Darmawan, Sianawati Dewanto, Satryo Eka Putri, Ellyana Ilsan Evita Santi , Dyan Evita Santi, Dyan Firnandi, Khanza Nabila Hidayatullah, Rizki Maulana husna, kholidatul Iklimah, Maulida Indana, Finanin Nur Jelang Hardika Krisnawardhani, Karina Kandhi Kusumawati, Elza Lestari, Anisa Indah Lestari, Maria Sekar Listiani, Intan Maulidya, Novarida Ma’ruf, Fajri Melati, Inka Sukma Muhamad Gandhi Muhammad Farid Muna, Hanifa Wafiqul Niken Titi Pratitis Niken Titi Pratitis Novita, Dini Nurinasari, Sofines Ulsy Oktavia, Nila Audini Pratama, Okik Yoga Pratiwi, Ananda Prilianti, Oktavia Dwi Putra, Bagas Mahendra Putri Arianti, Salwa Aretha Putri Maskani, Shania Ariffah Putri, Gabriel Aditya Ratida, Aulia Rizka Putri Rina, Amherstia Pacra Rina, Amherstia Pasca Rizal, Muchammad Sahat Saragih Santi, Dyan Evita Saputri, Ratih Wahyu Saraswati, Diva Adyana Shofi’i, Imam Sucipto, Gita Novelia Sukri, Sri Wahyuni Suroso Suroso Syaharani, SRK Syarif Maulana, Syarif Tatik Meiyuntariningsih Umar, Nurul Mahmudah Umar, Nurul Mahmudah Utami, Adnani Budi Valenciarani, Evelina Mei Ling Velinda, Hilda Wahid, Sulhan Wicaksono, Lugas Wulandari, Dyah Asih