Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN DEKOMPRESI PADA PENYELAM TRADISIONAL DI KAMPUNG BUGIS KEPULAUAN RIAU Yusnaini Siagian; Linda Widiastuti; Utari Yunie Atrie; Liza Wati
Menara Medika Vol 7, No 1 (2024): VOL 7 NO 1 SEPTEMBER 2024
Publisher : Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mm.v7i1.5861

Abstract

Pendahuluan : Penyakit dekompresi di Indonesia banyak dialami nelayan penyelam terutama penyelam tradisional dalam mencari nafkah. Penyelaman tidak dibekali pengetahuan melainkan dilakukan hanya berdasarkan pengalaman yang turun temurun dari keluarganya. Peralatan selam yang digunakan nelayan tradisional hanya seadanya yang sangat jauh dari standar penyelaman yang benar. Penyakit dekompresi pada penyelam tradisional dapat di sebabkan karena beberapa faktor antara lain kedalaman menyelam, durasi menyelam, laju pendakian, masa kerja penyelam, frekuensi penyelam dan penggunaan kompresor sebagai alat bantu napas saat menyelam. Tujuan : Untuk menganalisis faktor risiko kejadian dekompresi pada nelayan penyelam tradisional. Metode : Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif kuantitatif dengan populasi seluruh nelayan penyelam tradisional di Kampung Bugis. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 50 responden dengan tehnik pengambilan sampel simple random sampling. Tehnik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner, observasi dan wawancara. Hasil : (1) Ada risiko kedalaman menyelam, frekuensi menyelam, lama menyelam, cara naik ke permukaan dan waktu istirahat terhadap kejadian penyakit dekompresi pada nelayan penyelam tradisional. (2) Tidak ada risiko masa kerja terhadap kejadian penyakit dekompresi pada nelayan penyelam tradisional. Diskusi : Puskesmas memberikan edukasi penyelaman yang benar dan aman pada nelayan penyelam tradisional dengan melibatkan tenaga ahli dalam melakukan penyelaman. Nelayan penyelam tradisional rutin melakukan pemeriksaan kesehatan ke pelayanan kesehatan terdekat untuk memastikan kondisi fisik yang sehat sebelum melakukan penyelaman sehingga dapat meminimalkan terjadinya penyakit akibat penyelaman seperti dekompresi.
Comparative study of decompression events in traditional divers and modern divers Yusnaini Siagian; Linda Widiastuti; Soni Hendra Sitindaon; Utari Yunie Atrie; Liza Wati
Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada Vol 12 No 2 (2023): Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Akademi Keperawatan Sandi Karsa (Merger) Politeknik Sandi Karsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35816/jiskh.v12i2.1094

Abstract

Decompression can occur due to decreased pressure when the diver rises to the surface, releasing gases from solutions, especially nitrogen, in the tissues and blood, forming bubbles in the blood. The formation of air bubbles can block blood flow and nerves. It will cause symptoms of joint pain, headaches, itching, numbness, paralysis, and even death. Decompression is one of the diseases caused by diving. This study compared decompression events in traditional divers with modern divers in the Kawal area, Gunung Kijang District, Riau Islands. The research design was conducted comparatively with a sample size of 25 traditional and 25 modern divers. The sampling technique used a random sampling technique. The results showed no difference in the incidence of decompression in both traditional divers and modern divers in the Kawal area, Gunung Kijang District, Riau Islands. Most respondents have experienced decompression events, both traditional and contemporary divers. However, there is a tendency for traditional divers to experience decompression events 1.136 times compared to modern divers. Decompression events can occur in all traditional and professional or contemporary divers. In addition to knowing the safety and security of diving, divers must also pay attention to their health conditions.
Self Efficacy Among Patients with Diabetes Mellitus Type 2 in Community Health Center Widiastuti, Linda; Wati, Liza; Sari, Komala; Atrie, Utari Yunie
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 6 No S5 (2024): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v6iS5.4588

Abstract

Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is a growing global health problem, especially in Indonesia. Self-efficacy or an individual's belief in their ability to manage their health, plays an important role in diabetes management. This study aims to describe the level of self-efficacy in T2DM patients at Toapaya Health Center and identify factors that influence this self-efficacy. This study used a descriptive design with purposive sampling, involving 51 respondents who met the inclusion criteria. Data were collected through the Diabetes Management Self-Efficacy (DMSE) questionnaire and analyzed using frequency distribution. The results showed that 27 respondents (52.94%) had low self-efficacy, while 24 respondents (47.06%) had high self-efficacy. Internal and external factors that contribute to the level of patient self-efficacy, such as knowledge, personal experience, social support, and interaction with health workers, were identified. This study emphasizes the importance of improving the self-efficacy of T2DM patients through education and social support programs.
Pencegahan dan Penyebaran Wabah Covid-19 di Daerah Pesisir Widiastuti, Linda; Liestyaningrum, Wiwiek; Wati, Liza; Rahardiantini, Ikha; Siagian, Yusnaini; Atrie, Utari Yunie
Jurnal Abdimas Kesehatan (JAK) Vol. 6 No. 1 (2024): Januari
Publisher : Universitas Baiturrahim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36565/jak.v6i1.550

Abstract

COVID-19 is an acute respiratory disease caused by a new type of corona virus. This disease first broke out in Wuhan, China and then spread to almost the entire world and caused a global pandemic. Main symptoms. Covid-19 includes cough, fever and shortness of breath. This disease attacks all age groups: adults, the elderly, and children. Coastal communities need to get easy-to-understand education about Covid-19 and ways to prevent it. This is the basis for the community service team for the professional study program Ners Stikes Hang Tuah Tanjungpinang to actively participate in efforts to prevent and control the Covid-19 virus by providing counseling or outreach about Covid-19 and its prevention efforts to coastal communities on the Nyirih River. The results obtained were 115 people with elementary education background 86 people (75.6%), infected with Covid-19 10 people (8.6%) positive antigen, cormobid hypertension 28 people (24.3%), cormobid DM 12 people (10 .4%) who have hyperglycemia blood glucose levels. The majority of participants have high risk factors for being infected with Covid-19 which can cause respiratory failure and death in the Comorbid group
ASUHAN KEPERAWATAN POLA NAFAS TIDAK EFEKTIF PADA Tn. L DENGAN PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIS (PPOK) DAN PENERAPAN TEKNIK PURSED LIP BREATHING DI IGD RSUD KABUPATEN BINTAN TAHUN 2025 Rika Erviana; Utari Yunie Atrie; Denis Endro Sihombing
Integrative Perspectives of Social and Science Journal Vol. 2 No. 06 November (2025): Integrative Perspectives of Social and Science Journal
Publisher : PT Wahana Global Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) dapat menyebabkan sesak napas yang terjadi akibat dari hiperinflasi dinamik yang bertambah berat dengan peningkatan Respiratory Rate. Hal ini terjadi karena pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) mengalami kelemahan otot inspirasi atau disfungsi otot yang berkontribusi terhadap terjadinya sesak nafas (Siska, 2019). Dengan terjadinya sesak nafas tersebut akan menyebabkan perubahan frekuensi dan pola pernafasan yang menjadi tanda adanya gangguan serius pada sistem pernafasan. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi pola nafas tidak efektif yaitu dengan pengobatan farmakologi dan non farmakologi. Adapun intervensi secara non farmakologi yang dapat dilakukan adalan dengan teknik pursed lip breathing. Tujuan dari karya ilmiah ini adalah untuk memberikan asuhan keperawatan secara menyeluruh pada pasien dengan pola nafas tidak efektif dan penerapan teknik pursed lip breathing. Pelaksanaan asuhan keperawatan ini dilakukan pada tanggal 26 Januari 2025 di IGD RSUD Kabupaten Bintan selama ±5 jam. Hasil asuhan keperawatan terjadi perbaikan pola nafas yang ditandai dengan penurunan respiratory rate dan peningkatan kadar oksigen (SpO2) pada pasien. Sebelum dilakukan tindakan keperawatan pasien mengalami sesak nafas dengan respiratory rate 34x per menit dan SpO2 89% udara ruang dan setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien mengatakan sesak nafas berkurang dengan respiratory rate 24x per menit dan SpO2 93% udara ruang atau SpO2 97% dengan oksigen 4 liter per menit. Diharapkan hasil karya ilmiah ini dapat menjadi informasi dan acuan bagi pelayanan kesehatan dalam mengatasi pola nafas tidak efektif pada penderita Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) dengan menerapkan teknik pursed lip breathing sehingga dapat meningkatkan pelayanan kesehatan yang maksimal.
Pengaruh Aplikasi Self Management Chronic Kidney Disease (SM CKD) Terhadap Self Management Cairan pada Pasien Gagal Ginjal Kronis Yusnaini Siagian; Utari Yunie Atrie; Liza Wati; Ikha Rahardiantini; Rima Alfiana
Jurnal Ners Vol. 9 No. 3 (2025): JULI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i3.45500

Abstract

Introduction: Penggunaan teknologi sangatlah penting terutama bagi kesehatan salah satunya mengontrol cairan pada pasien pengidap gagal ginjal kronis. Kejadian yang sering dialami pasien gagal ginjal kronis adalah mengontrol cairan masuk dan keluar. Dalam studi ini penelitian memanfaatkan aplikasi yang mempermudah pasien untuk mengontrol cairan yaitu Aplikasi SM CKD. Objectives: Penelitian ini bertujuan mengetahui Pengaruh Aplikasi SM CKD terhadap Self Management Cairan pada Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisa di RSUD Kota Tanjungpinang. Methods: Penelitian ini menggunakan desain Pre-test and post test nonequivalent control group. Tehnik pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Sampel didapatkan sebanyak 50 responden. Alat pengumpulan data menggunakan kuesioner Cristovao dan menggunakan uji wilcoxon dan man Whitney dan didapatkan nilai p value 0,004 dan 0,002< 0,005. Results: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh aplikasi SM CKD terhadap self management pada pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisa. Conclusions: Hasil penelitian ini direkomendasikan bagi perawat unit hemodialisa untuk menggunakan aplikasi SM CKD pada pasien hemodialisa dalam meningkatkan self management cairan yang berdampak pada peningkatan kualitas hidup pasien tersebut. Kata Kunci: Gagal Ginjal Kronik, Self Management Cairan, Aplikasi SMCKD
Hubungan Kualitas Tidur dengan Fatigue Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Zakiah Rahman; R. Meeta Anggiana; Wasis Pujiati; Liza Wati; Utari Yunie Atrie
Jurnal Ners Vol. 9 No. 3 (2025): JULI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i3.45543

Abstract

Diabates Melitus tipe 2 menempati 90% dari keseluruhan kasus diabetes danmenimbulkan gejala polyphagia, polidipsia, polyuria, penurunan berat badan dan kelelahan. Gejala seperti poliuria tersebut pada malam hari juga dialami oleh penderita DM, hal ini dapat mengganggu tidurnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kualitas tidur dengan fatigue pada pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Batu X Tanjungpinang. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif yang menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah Sampel 56 orang yang memenuhi kriteria inklusi dengan tekhnik sampling consecutive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk menilai kualitas tidur dan Multidimensional Fatigue Inventory (MFI) untuk mengukur tingkat kelelahan. Analisis data dilakukan dengan uji statistik Spearman. Hasil penelitian kualitas tidur pada pasien diabetes mellitus tipe 2 sebagian besar kualitas tidur buruk (55,4%), dan kelelahan rendah sebanyak (53,6%). Dengan nilai p value 0,00 (< 0,05).menunjukkan adanya hubungan yang signifikan kualitas tidur dengan fatigue pada pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Batu X Tanjungpinang yaitu Semakin buruk kualitas tidur, semakin tinggi tingkat kelelahan yang dirasakan oleh pasien. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk intervensi yang lebih baik dalam mengelola kualitas tidur dan kelelahan pada pasien DM Tipe 2 guna meningkatkan kualitas hidup pasien.
Edukasi Edukasi Upaya Pencegahan Gagal Ginjal Kronis Pada Pasien Hipertensi Dan Diabetes Mellitus: Edukasi Zakiah Rahman; Utari Yunie Atrie; Ernawati
Jurnal Pengabdian Masyarakat Kesehatan Vol. 11 No. 1 (2025): JPM MARET 2025
Publisher : UPPM - STIKES Pemkab Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33023/jpm.v11i1.2356

Abstract

Pasien dengan hipertensi dan diabetes perlu menjaga kontrol gula darah dan tekanan darah untuk mencegah atau memperlambat perkembangan GGK. Kesadaran pasien sangat penting dalam hal ini. Faktor-faktor yang mempengaruhi kontrol tersebut mencakup ketaatan pasien terhadap minum obat, persepsi positif pasien terhadap pengobatan, serta pengetahuan tentang komplikasi penyakitnya. Tujuan : meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pencegahan gagal ginjal kronik bagi pasien diabetes melitus dan hipertensi. Metode : ceramah, diskusi dan tanya jawab. Kegiatan PKM dilaksanakan pada tanggal 10 Juli 2023 dengan target responden adalah perawat masyarakat yang mengalami hipertensi dan diabetes melitus sebanyak 20 orang. Kegiatan PKM dievaluasi dengan pre-test dan post-test. PKM menunjukkan sebelum dilakukan edukasi pengetahuan peserta kategori rendah sebanyak 16 orang (80 %) dan setelah edukasi pengetahuan peserta mayoritas tinggi 15 orang (75%). Hal ini menunjukkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat sebelum dan setelah edukasi upaya pencegahan gagal ginjal kronik pada masyarakat yang mengalami diabetes melitus dan hipertensi. Melalui upaya ini diharapkan dapat mencegah terjadinya gagal ginjal kronik dengan merubah pola hidup, kontrol kadar gula darah dan tekanan darah.
Sosialisasi dan Pelatihan Terapi Familiar Auditory Sensory Training (FAST) Sebagai Upaya Peningkatan Pengetahuan Dan Kompetensi Perawat ICU Dalam Kolaborasi Dengan Keluarga Pasien Stroke Utari Yunie Atrie; Yusnaini Siagian; Zakiah Rahman; Linda Widiastuti; Liza Wati
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 4 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/0qgbm726

Abstract

Pasien stroke dengan penurunan kesadaran yang dirawat di ICU memerlukan pendekatan holistik, salah satunya melalui terapi non-farmakologis seperti Familiar Auditory Sensory Training (FAST). FAST merupakan bentuk stimulasi auditori menggunakan suara yang familiar bagi pasien untuk meningkatkan kesadaran dan respons neurologis. Namun, masih banyak perawat ICU yang belum memahami konsep dan implementasi terapi ini dalam praktik klinik. Tujuan: Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kompetensi perawat ICU mengenai terapi FAST serta memperkuat keterlibatan keluarga pasien stroke dalam proses rehabilitasi sensorik di ruang intensif. Metode: Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dilaksanakan di RSUD Kota Tanjungpinang dengan melibatkan 15 perawat ICU. Kegiatan terdiri dari sosialisasi dan pelatihan FAST selama dua hari melalui metode ceramah interaktif, video edukatif, dan return demonstration. Penilaian dilakukan menggunakan pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan dan kompetensi perawat. Analisis data menggunakan uji Paired t-Test dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil: Hasil menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada skor pengetahuan dan kompetensi perawat setelah pelatihan (mean pre-test=42,56; mean post-test=92,20; p 0,000). Peningkatan sebesar 49,64 poin menunjukkan bahwa sosialisasi dan pelatihan FAST efektif dalam meningkatkan kemampuan perawat ICU dalam penerapan intervensi sensorik berbasis keluarga. Kesimpulan: Pelatihan FAST terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kompetensi perawat ICU terhadap penerapan terapi sensorik non-farmakologis berbasis keluarga. Implementasi berkelanjutan terapi FAST di ruang ICU diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan kritis, mempercepat pemulihan kesadaran pasien stroke, dan memperkuat peran keluarga dalam proses rehabilitasi.
PKM Upaya Deteksi Dini Dampak Penggunaan Gadget pada Remaja terhadap Masalah Psikologis Dea Muspratiwi; Mawar Eka Putri; Syamilatul Khariroh; Komala Sari; Linda Widiastuti; Yusnaini Siagian; Utari Yunie Atrie
Jurnal Medika: Medika in progres
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/70csc630

Abstract

The use of gadgets among school adolescents has increased significantly and has the potential to cause various psychological problems such as anxiety, sleep disturbances, decreased social interaction, and impaired learning concentration. This community service activity aimed to conduct early detection of adolescent mental health problems and improve students’ knowledge regarding healthy and wise gadget use. The implementation methods included health education, interactive discussions, question-and-answer sessions, mental health screening using questionnaires, and pre-test and post-test evaluations. The activity was conducted among school students in the community health center working area. The screening results showed that most students had relatively good mental health conditions, where 80% of students did not frequently feel anxious or worried, 76% did not experience overthinking, and 87% did not feel sad or depressed. In addition, there was an improvement in students’ knowledge after receiving mental health education and healthy gadget use education. The percentage of students with high scores increased from 76.5% in the pre-test to 90% in the post-test. Mental health screening and educational activities proved effective as promotive and preventive efforts in increasing adolescents’ awareness of the impact of gadget use on mental health.