Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

EDUKASI UPAYA PENCEGAHAN GAGAL GINJAL KRONIS PADA PASIEN HIPERTENSI DAN DIABETES MELITUS rahman, Zakiah; Atrie, Utari Yunie; Ernawati, Ernawati
Jurnal Salingka Abdimas Vol 4, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/jsam.v4i2.5986

Abstract

Pasien dengan hipertensi dan diabetes perlu menjaga kontrol gula darah dan tekanan darah untuk mencegah atau memperlambat perkembangan GGK. Kesadaran pasien sangat penting dalam hal ini. Faktor-faktor yang mempengaruhi kontrol tersebut mencakup ketaatan pasien terhadap minum obat, persepsi positif pasien terhadap pengobatan, serta pengetahuan tentang komplikasi penyakitnya. Tujuan : meningkatkan  pengetahuan  masyarakat  tentang pencegahan gagal ginjal kronik  bagi  pasien  diabetes  melitus dan hipertensi. Metode  :  ceramah,  diskusi  dan  tanya  jawab. Kegiatan PKM dilaksanakan pada tanggal 10 Juli 2023 dengan target responden adalah perawat masyarakat yang mengalami hipertensi dan diabetes melitus sebanyak 20 orang.  Kegiatan PKM  dievaluasi   dengan pre-test dan post-test. PKM menunjukkan  sebelum dilakukan edukasi pengetahuan peserta kategori rendah  sebanyak 16 orang (80 %) dan setelah edukasi pengetahuan peserta mayoritas tinggi 15 orang (75%). Hal ini menunjukkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat sebelum dan setelah  edukasi upaya pencegahan gagal ginjal kronik pada masyarakat yang mengalami diabetes melitus dan hipertensi.  Melalui upaya ini diharapkan dapat mencegah terjadinya gagal ginjal kronik dengan merubah pola hidup, kontrol kadar gula darah dan tekanan darah. Kata kunci: Edukasi, DM, GGK, hipertensi
PENGARUH EDUKASI KESEHATAN TERHADAP KEPATUHAN PEMBATASAN CAIRAN PADA PASIEN YANG MENJALANI HEMODIALISA Zakiah - Rahman; Umu Fadhilah; Utari Yunie Atrie; Nilam Nilam
Menara Medika Vol 7, No 1 (2024): VOL 7 NO 1 SEPTEMBER 2024
Publisher : Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mm.v7i1.5804

Abstract

Pendahuluan : Pemberian edukasi kesehatan mempunyai manfaat dalam mengelola pengaturan cairan pada pasien hemodialisa. Edukasi kesehatan dapat meningkatkan kepatuhan dalam mengontrol asupan cairan agar tidak terjadi komplikasi karena kelebihan cairan pada pasien hemodialisa. Tujuan : untuk mengetahui pengaruh edukasi kesehatan terhadap pembatasan cairan pada pasien hemodialisa di RS-BLUD Kota Tanjungpinang. Metode : Desain penelitian ini menggunakan Quasi eksperimen dengan rancangan pre and post test without control. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner. Edukasi kesehatan diberikan selama 3 minggu, (2 kali seminggu) sebanyak 6 kali pertemuan dalam waktu 5-10 menit setiap pasien. Populasi pada penelitian ini adalah pasien hemodialisa sebanyak 40 orang dengan jumlah sampel 36 responden. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan kriteria inklusi : pasien gagal ginjal kronik yang berumur 18-65 tahun yang rutin melakukan hemodialisa 2 kali dalam seminggu. Analisa data dengan menggunakan uji Wilcoxon. Hasil : didapatkan patuh sebelum intervensi sebanyak (50%) dan tidak patuh (50%) sesudah intervensi terjadi peningkatan yang patuh sebanyak (70%) dan tidak patuh (30%), dengan nilai p value=0,001(0,05), artinya ada pengaruh edukasi kesehatan terhadap kepatuhan pembatasan cairan pada pasien hemodialisa. Kesimpulan: terjadi peningkatan Kepatuhan pembatasan cairan pasien yang menjalani hemodialisa setelah diberikan edukasi kesehatan. Saran : Edukasi kesehatan dapat menambah wawasan dan informasi dalam meningkatkan pemahaman terhadap pembatasan asupan cairan untuk mengurangi/mencegah terjadinya komplikasi akibat kelebihan cairan.
ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN DEKOMPRESI PADA PENYELAM TRADISIONAL DI KAMPUNG BUGIS KEPULAUAN RIAU Yusnaini Siagian; Linda Widiastuti; Utari Yunie Atrie; Liza Wati
Menara Medika Vol 7, No 1 (2024): VOL 7 NO 1 SEPTEMBER 2024
Publisher : Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mm.v7i1.5861

Abstract

Pendahuluan : Penyakit dekompresi di Indonesia banyak dialami nelayan penyelam terutama penyelam tradisional dalam mencari nafkah. Penyelaman tidak dibekali pengetahuan melainkan dilakukan hanya berdasarkan pengalaman yang turun temurun dari keluarganya. Peralatan selam yang digunakan nelayan tradisional hanya seadanya yang sangat jauh dari standar penyelaman yang benar. Penyakit dekompresi pada penyelam tradisional dapat di sebabkan karena beberapa faktor antara lain kedalaman menyelam, durasi menyelam, laju pendakian, masa kerja penyelam, frekuensi penyelam dan penggunaan kompresor sebagai alat bantu napas saat menyelam. Tujuan : Untuk menganalisis faktor risiko kejadian dekompresi pada nelayan penyelam tradisional. Metode : Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif kuantitatif dengan populasi seluruh nelayan penyelam tradisional di Kampung Bugis. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 50 responden dengan tehnik pengambilan sampel simple random sampling. Tehnik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner, observasi dan wawancara. Hasil : (1) Ada risiko kedalaman menyelam, frekuensi menyelam, lama menyelam, cara naik ke permukaan dan waktu istirahat terhadap kejadian penyakit dekompresi pada nelayan penyelam tradisional. (2) Tidak ada risiko masa kerja terhadap kejadian penyakit dekompresi pada nelayan penyelam tradisional. Diskusi : Puskesmas memberikan edukasi penyelaman yang benar dan aman pada nelayan penyelam tradisional dengan melibatkan tenaga ahli dalam melakukan penyelaman. Nelayan penyelam tradisional rutin melakukan pemeriksaan kesehatan ke pelayanan kesehatan terdekat untuk memastikan kondisi fisik yang sehat sebelum melakukan penyelaman sehingga dapat meminimalkan terjadinya penyakit akibat penyelaman seperti dekompresi.
Comparative study of decompression events in traditional divers and modern divers Yusnaini Siagian; Linda Widiastuti; Soni Hendra Sitindaon; Utari Yunie Atrie; Liza Wati
Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada Vol 12 No 2 (2023): Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Akademi Keperawatan Sandi Karsa (Merger) Politeknik Sandi Karsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35816/jiskh.v12i2.1094

Abstract

Decompression can occur due to decreased pressure when the diver rises to the surface, releasing gases from solutions, especially nitrogen, in the tissues and blood, forming bubbles in the blood. The formation of air bubbles can block blood flow and nerves. It will cause symptoms of joint pain, headaches, itching, numbness, paralysis, and even death. Decompression is one of the diseases caused by diving. This study compared decompression events in traditional divers with modern divers in the Kawal area, Gunung Kijang District, Riau Islands. The research design was conducted comparatively with a sample size of 25 traditional and 25 modern divers. The sampling technique used a random sampling technique. The results showed no difference in the incidence of decompression in both traditional divers and modern divers in the Kawal area, Gunung Kijang District, Riau Islands. Most respondents have experienced decompression events, both traditional and contemporary divers. However, there is a tendency for traditional divers to experience decompression events 1.136 times compared to modern divers. Decompression events can occur in all traditional and professional or contemporary divers. In addition to knowing the safety and security of diving, divers must also pay attention to their health conditions.
Pengaruh Aplikasi Self Management Chronic Kidney Disease (SM CKD) Terhadap Self Management Cairan pada Pasien Gagal Ginjal Kronis Siagian, Yusnaini; Atrie, Utari Yunie; Wati, Liza; Rahardiantini, Ikha; Alfiana, Rima
Jurnal Ners Vol. 9 No. 3 (2025): JULI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i3.45500

Abstract

Introduction: Penggunaan teknologi sangatlah penting terutama bagi kesehatan salah satunya mengontrol cairan pada pasien pengidap gagal ginjal kronis. Kejadian yang sering dialami pasien gagal ginjal kronis adalah mengontrol cairan masuk dan keluar. Dalam studi ini penelitian memanfaatkan aplikasi yang mempermudah pasien untuk mengontrol cairan yaitu Aplikasi SM CKD. Objectives: Penelitian ini bertujuan mengetahui Pengaruh Aplikasi SM CKD terhadap Self Management Cairan pada Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisa di RSUD Kota Tanjungpinang. Methods: Penelitian ini menggunakan desain Pre-test and post test nonequivalent control group. Tehnik pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Sampel didapatkan sebanyak 50 responden. Alat pengumpulan data menggunakan kuesioner Cristovao dan menggunakan uji wilcoxon dan man Whitney dan didapatkan nilai p value 0,004 dan 0,002< 0,005. Results: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh aplikasi SM CKD terhadap self management pada pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisa. Conclusions: Hasil penelitian ini direkomendasikan bagi perawat unit hemodialisa untuk menggunakan aplikasi SM CKD pada pasien hemodialisa dalam meningkatkan self management cairan yang berdampak pada peningkatan kualitas hidup pasien tersebut. Kata Kunci: Gagal Ginjal Kronik, Self Management Cairan, Aplikasi SMCKD
Hubungan Kualitas Tidur dengan Fatigue Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Rahman, Zakiah; Anggiana, R. Meeta; Pujiati, Wasis; Wati, Liza; Atrie, Utari Yunie
Jurnal Ners Vol. 9 No. 3 (2025): JULI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i3.45543

Abstract

Diabates Melitus tipe 2 menempati 90% dari keseluruhan kasus diabetes danmenimbulkan gejala polyphagia, polidipsia, polyuria, penurunan berat badan dan kelelahan. Gejala seperti poliuria tersebut pada malam hari juga dialami oleh penderita DM, hal ini dapat mengganggu tidurnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kualitas tidur dengan fatigue pada pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Batu X Tanjungpinang. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif yang menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah Sampel 56 orang yang memenuhi kriteria inklusi dengan tekhnik sampling consecutive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk menilai kualitas tidur dan Multidimensional Fatigue Inventory (MFI) untuk mengukur tingkat kelelahan. Analisis data dilakukan dengan uji statistik Spearman. Hasil penelitian kualitas tidur pada pasien diabetes mellitus tipe 2 sebagian besar kualitas tidur buruk (55,4%), dan kelelahan rendah sebanyak (53,6%). Dengan nilai p value 0,00 (< 0,05).menunjukkan adanya hubungan yang signifikan kualitas tidur dengan fatigue pada pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Batu X Tanjungpinang yaitu Semakin buruk kualitas tidur, semakin tinggi tingkat kelelahan yang dirasakan oleh pasien. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk intervensi yang lebih baik dalam mengelola kualitas tidur dan kelelahan pada pasien DM Tipe 2 guna meningkatkan kualitas hidup pasien.
Perbandingan Efektivitas Familiar Auditory Sensory Training (FAST) dan Terapi Murottal Terhadap Tingkat Kesadaran Pada Pasien Stroke di ICU Atrie, Utari Yunie; Siagian, Yusnaini; Rahman, Zakiah; Widiastuti, Linda; Ernawati, Ernawati; Yolanda, Yolanda
Jurnal Ners Vol. 9 No. 3 (2025): JULI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i3.45680

Abstract

Stroke merupakan sindroma klinis yang ditandai oleh disfungsi cerebral fokal yang berlangsung 24 jam atau lebih yang menyebabkan disabilitas atau kematian. Pasien stroke dengan perawatan di Intensive Care Unit (ICU) biasanya disertai dengan salah satu gejala utama berupa penurunan kesadaran. Familiar Auditory Sensory Training (FAST) dan Terapi Murottal merupakan terapi yang efektif dalam mempengaruhi tingkat kesadaran pasien, namun belum diketahui perbedaan keefektifan antara dua terapi ini. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan efektivitas antara terapi FAST dan terapi murottal terhadap tingkat kesadaran. Desain penelitian ini Quasy Eksperimen dengan rancangan Pre-Post Non Equivalent Control Group. Populasi dilihat dari jumlah pasien stroke dengan penurunan kesadaran di ruang ICU RSUD Kota Tanjungpinang pada bulan Januari-Juni 2024. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 30 responden yang terdiri dari 15 responden terapi Murottal 15 responden terapi FAST dengan teknik Consecutive sampling. Sampel dihasilkan melalui G*Power versi 3.1. Tingkat kesadaran pasien diukur menggunakan instrument Glasgow Coma Scale (GCS) yang terdiri dari 3 komponen yakni respon mata, verbal dan motorik. Hasil uji Paired Sampel T-Test pada kelompok FAST diperoleh nilai p < 0.005 dengan nilai mean sebelum 7.40 dan nilai mean sesudah meningkat menjadi 8.67 membuktikan bahwa ada perbedaan sebelum dan sesudah. Pada kelompok terapi murottal diperoleh nilai p < 0.005 dengan nilai mean sebelum 8.20 dan nilai mean sesudah menjadi 10.0 membuktikan ada perbedaan tingkat kesadaran sebelum dan sesudah. Sedangkan pada hasil uji Independent Sampel T-Test diperoleh hasil nilai p > 0.005 yang membuktikan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan tingkat kesadaran setelah diberikan FAST dan terapi murottal. Terapi FAST dan terapi murottal sama-sama dapat dijadikan terapi nonfarmakologi yang dapat membantu proses pemulihan kesadaran pada pasien stroke. Kata Kunci: Stroke, Familiar Auditory Sensory Training (FAST), Terapi Murottal, Galsgow Coma Scale (GCS), Penurunan Kesadaran
Edukasi Upaya Peningkatan Kualitas Hidup Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Rahman, Zakiah; Atrie, Utari Yunie; Pujiati, Wasis; Ernawati, Ernawati
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/c1ek6b34

Abstract

DM merupakan penyakit metabolik ditandai dengan hiperglikemia yang terjadi karena kelainan pada sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. DM tidak dapat disembuhkan, namun dengan manajemen yang baik dapat mencegah komplikasi yaitu kerusakan dan kegagalan organ. DM berdampak negatif pada kesehatan pasien dan menyebabkan sejumlah masalah dengan kualitas hidup yang rendah. Perawat memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas hidup pasien melalui edukasi untuk meningkatkan pengetahuan. Tujuan meningkatkan pengetahuan tentang peningkatan kualitas hidup pasien diabetes melitus tipe 2. Metode ceramah, diskusi dan tanya jawab. Kegiatan PKM dilaksanakan pada tanggal 10 Maret tahun 2025 dengan target sasaran adalah pasien diabetes melitus tipe 2 sebanyak 30 orang. Kegiatan PKM dievaluasi dengan pre-test dan post-test. PKM menunjukkan sebelum dilakukan edukasi pengetahuan peserta kategori rendah sebanyak 23 orang (76,6 %) dan setelah edukasi pengetahuan peserta mayoritas tinggi 24 orang (80%). Hal ini menunjukkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat sebelum dan setelah edukasi upaya peningkatan kualitas hidup pasien diabetes melitus tipe 2. Melalui upaya ini diharapkan mengenai DM, mengatur pola makan sehat dan aktivitas fisik teratur, pemantauan gula darah secara rutin, melakukan pengobatan, pengelolaan stres, serta dukungan psikologis untuk meningkatkan kualitas hidup pasien DM tipe 2
Edukasi Edukasi Upaya Pencegahan Gagal Ginjal Kronis Pada Pasien Hipertensi Dan Diabetes Mellitus: Edukasi Rahman, Zakiah; Utari Yunie Atrie; Ernawati
Jurnal Pengabdian Masyarakat Kesehatan Vol. 11 No. 1 (2025): JPM MARET 2025
Publisher : UPPM - STIKES Pemkab Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33023/jpm.v11i1.2356

Abstract

Pasien dengan hipertensi dan diabetes perlu menjaga kontrol gula darah dan tekanan darah untuk mencegah atau memperlambat perkembangan GGK. Kesadaran pasien sangat penting dalam hal ini. Faktor-faktor yang mempengaruhi kontrol tersebut mencakup ketaatan pasien terhadap minum obat, persepsi positif pasien terhadap pengobatan, serta pengetahuan tentang komplikasi penyakitnya. Tujuan : meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pencegahan gagal ginjal kronik bagi pasien diabetes melitus dan hipertensi. Metode : ceramah, diskusi dan tanya jawab. Kegiatan PKM dilaksanakan pada tanggal 10 Juli 2023 dengan target responden adalah perawat masyarakat yang mengalami hipertensi dan diabetes melitus sebanyak 20 orang. Kegiatan PKM dievaluasi dengan pre-test dan post-test. PKM menunjukkan sebelum dilakukan edukasi pengetahuan peserta kategori rendah sebanyak 16 orang (80 %) dan setelah edukasi pengetahuan peserta mayoritas tinggi 15 orang (75%). Hal ini menunjukkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat sebelum dan setelah edukasi upaya pencegahan gagal ginjal kronik pada masyarakat yang mengalami diabetes melitus dan hipertensi. Melalui upaya ini diharapkan dapat mencegah terjadinya gagal ginjal kronik dengan merubah pola hidup, kontrol kadar gula darah dan tekanan darah.
Self Efficacy Among Patients with Diabetes Mellitus Type 2 in Community Health Center Widiastuti, Linda; Wati, Liza; Sari, Komala; Atrie, Utari Yunie
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 6 No S5 (2024): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v6iS5.4588

Abstract

Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is a growing global health problem, especially in Indonesia. Self-efficacy or an individual's belief in their ability to manage their health, plays an important role in diabetes management. This study aims to describe the level of self-efficacy in T2DM patients at Toapaya Health Center and identify factors that influence this self-efficacy. This study used a descriptive design with purposive sampling, involving 51 respondents who met the inclusion criteria. Data were collected through the Diabetes Management Self-Efficacy (DMSE) questionnaire and analyzed using frequency distribution. The results showed that 27 respondents (52.94%) had low self-efficacy, while 24 respondents (47.06%) had high self-efficacy. Internal and external factors that contribute to the level of patient self-efficacy, such as knowledge, personal experience, social support, and interaction with health workers, were identified. This study emphasizes the importance of improving the self-efficacy of T2DM patients through education and social support programs.