Claim Missing Document
Check
Articles

Female Teenagers as Sex-Workers: Their Reasons and Adaptive Mechanism Suyanto, Bagong
Makara Human Behavior Studies in Asia Vol. 18, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study attempts to assess and understand the exploitations of girls who are forced into prostitution in the sex industry through critical theory perspective. The study was conducted in Surabaya and in a touristic area Tretes, Pasuruan. Overall, the in-depth interviews were conducted to 45 informants, girls who are forced into prostitution, former young prostitutes, pimps, and also male customers. The study found that it takes more than just pressures of poverty, lack of education, and inadequate access to the labor market for young girls to be involved in the prostitution. In fact, their involvements is the impact of the life style and permissive behavior in dating, victims of dating rape, child abuse, broken home family, as well as victims of fraudulent practices and mode of recruitments that related to the increased market demand for new and young prostitutes, and also the peer groups’ influences which offer shortcuts to overcome problems and life pressures. As children who experienced commodifications in the commercial sex industry, the girls who are forced into prostitution generally undergo exploitation and social alienation process.
MASYARAKAT PENDALUNGAN (Sekilas Akulturasi Budaya di Daerah “Tapal Kuda” Jawa Timur) Prakrisno Satrio; Suryanto Suryanto; Bagong Suyanto
Jurnal Neo Societal Vol 5, No 4 (2020): Edisi Oktober
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.089 KB) | DOI: 10.52423/jns.v5i4.14316

Abstract

Masyarakat Pendalungan adalah contoh kecil dari bangsa Indonesia yang memiliki banyak ragam suku bangsa, dengan banyak pula latar belakang budayanya. Masyarakat Pendalungan berlatar dua kultur yang memiliki banyak perbedaan walau berasal dari satu rumpun yang sama, yaitu kultur Jawa dan kultur Madura. Walaupun kultur Madura adalah sub-kultur dari kultur Jawa namun diantara keduanya terdapat perbedaa-perbedaan mendasar. Dua kultur tersebut berakulturasi menjadi Pendalungan. Penelitian kualitatif ini merupakan penelitian pendahuluan yang melibatkan 3 orang informan dan beberapa ahli. Lokasi penelitian ini adalah di daerah Kabupaten Jember dan daerah kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Indonesia. Dari penelitian ini didapatkan beberapa hal yang merupakan bukti-bukti bahwa masyarakat Pendalungan melakukan adaptasi untuk mengatasi perubahan yang terjadi dan mengurangi tekanan akulturasi yang datang dari adanya pertemuan budaya Jawa dan Madura. Adaptasi tersebut akhirnya berpengaruh pula pada identitas sosial individu. Strategi akulturasi yang dipergunakan untuk beradaptasi oelh masyarakat Pendalungan juga memunculkan adanya budaya baru sebagai peleburan dari budaya yang sudah ada.
The liquid identity of adolescents with disabilities: Changes in the identity of adolescents with disabilities in social media Merlia Indah Prastiwi; Bagong Suyanto; Yuyun Wahyu Izzati
Masyarakat, Kebudayaan dan Politik Vol. 35 No. 3 (2022): Masyarakat, Kebudayaan dan Politik
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.819 KB) | DOI: 10.20473/mkp.V35I32022.310-320

Abstract

Studies on liquid identity have been done by many previous researchers. However, this article sees it differently where liquid identity is experienced by adolescents with disabilities who basically have many difficulties, obstacles in interacting with society in general. This study aimed to look at the process, intention, and purpose of the liquid identity experienced by adolescents with disabilities on social media. This study used a virtual ethnographic method with informants who are members of the Facebook community named “Indonesian Association of People with Disabilities.” The number of informants is 23 adolescents with disabilities who are users of social media. The findings of this study showed that adolescents with disabilities take various ways to get recognition and acceptance by a wide audience according to their type and characteristics. This is done by using social media called liquid identity. To get recognition and acceptance on social media, the practice of liquid identity of adolescents with disabilities was shown by hiding their real identity, having multiple accounts, and sharing positive things on social media. This study concluded that support from various parties is needed, either from the community, parents, friends, schools, and the environment. The role of these parties is important to provide motivation, enthusiasm, and encouragement so that adolescents with disabilities can show value on social media with their identity that is recognized by the public as a positive identity.
Pengetahuan Ibu Hamil Pendek Tentang Tugas Kader Kesehatan : Studi Kualitatif: Knowledge of Short Pregnant Women About the Duties of Health Cadre : Qualitative Study Zuriati Muhamad; Bagong Suyanto; Trias Mahmudiono
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 5 No. 11: NOVEMBER 2022 -Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v5i11.2992

Abstract

Latar belakang: Kader merupakan sosok insan yang menarik perhatian khalayak, kesederhanaannya dan asalnya dari masyarakat setempat, telah membuat kader begitu dekat dengan masyarakat sehingga kader dianggap perpanjangan tangan antara petugas kesehatan dan masyarakat. Peran kader sangat diharapkan dalam meningkatkan pelayanan kesehatan termasuk dalam peningkatan pengetahuan dan sikap ibu hamil dalam pelayanan kehamilan (ANC). Ibu hamil diberikan pengetahuan dan pemahaman dalam menjalankan kehamilannya maka diharapkan ibu hamil dapat menjalankan kehamilannya dengan sehat dan berdampak bagi ibu dan janinnya. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk menganalisa sejauh mana peran kader kesehatan dalam mendampingi dan memberikan pelayanan kehamilan pada ibu hamil pendek. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian Kualitatif dengan pendekatan Fenomenologi yaitu untuk melihat fenomena pengalaman ibu hamil pendek pada saat pelayanan kehamilan yang diberikan oleh kader kesehatan. Informan pada penelitian ini adalah Ibu Hamil Pendek sebanyak 12 orang, bidan desa sebanyak 9 orang serta kader 6 orang. Pengumpulan data dilakukan melalui indepth interview dan observasi. Data di analisis dengan menggunakan Interpretasi Fenomenology Analysis (IFA). Hasil: Dari wawancara mendalam dengan para informan tentang peran (tugas) kader dalam mendampingi ibu hamil pendek diperoleh hasil bahwa pengetahuan ibu hamil pendek tentang tugas kader sebagai pendamping berkaitan erat dengan keaktifan melakukan kunjungan ke posyandu dan interaksinya dengan kader dan bidan, dimana membuka pendaftaran posyandu, mengukur berat badan, tinggi badan, megukur tekanan darah, mengukur Lila, mencatat hasil pemeriksaan kehamilan. Kesimpulan: Pendampingan kader kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan ibu hamil dalam pelayanan ANC hal ini terlihat dengan meningkatnya kunjungan Posyandu oleh ibu hamil setiap bulannya.
Digital marketing communication of skincare products to develop men's consumptive behaviour Putranto, Teguh Dwi; Suyanto, Bagong; Ariadi, Septi
Jurnal Studi Komunikasi Vol. 6 No. 1 (2022)
Publisher : Faculty of Communications Science, Dr. Soetomo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Having an attractive appearance is now not only for women but also for men. Taking care of the body, especially the face has become a new culture that has shifted the masculine side towards metrosexuals. To get an attractive appearance, a series of treatments are needed, one of which is skincare which requires much money. Such self-care behaviour, of course, also encourages men's consumerism. This study determines how digital marketing communication for skincare products builds men's consumptive behaviour on Instagram. Content analysis of Instagram posts related to the consumption of skincare products collected through the hashtag #scarlettlakilaki was used in this study. The results obtained that the element of dependence is 0.94 or 94 per cent. Then the result is considered credible because it exceeds the minimum threshold. This research concludes that Scarlett transforms masculinity into metrosexuality, blur a gender bias, and builds on the idea that the body of men who use Scarlett is depicted with a pure white body resembling a women's body.
Study of Power Relations in The Practice of Obedience of Islamic Religious Teaching at SD Muhammadiyah Malang Raya Mohammad Kamaludin; Bagong Suyanto; Siti Mas'udah
Journal of Applied Business, Taxation and Economics Research Vol. 3 No. 1 (2023): October 2023
Publisher : PT. EQUATOR SINAR AKADEMIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54408/jabter.v3i1.218

Abstract

This research is an attempt to see the other side of Islamic religious education. Previously, research was always emphasized on examining patterns, systems, or a series of learning and teaching mechanisms in an orderly and steady form. Therefore, a system of discipline and obedience is needed for students who are targeted as objects of that order. The other side of this research lies in an in-depth examination of compliance, not only aiming from a psychological perspective but at revealing the hidden meanings behind the actors who want the obedience attitude of students to occur. The goal is clear to photograph the obedience behavior of students based on the concepts that already exist in the agreed pattern and system of religious education. This study uses a qualitative approach by analyzing critically the teacher's understandings that have occurred so far. In the initial observations, it is not clear how the question of student compliance is sociologically constructed, although it is widely known that the question of compliance is the psychological formation of students for the sake of ease of learning. In the end, the researcher found out that not all compliance was interpreted the same by everyone. They will interpret obedience according to the context of the times. There are those who say that obedience is not always subject to submission, there are those who assume that obedience can be understood from only one side, namely those who govern and so on.
A STUDY OF RELIGIOUS SYMBOLS ATTACHED TO THE FORMER TERRORIST CONVICTS’ FAMILY AS SEEN IN SOCIAL INTERACTION Nihayaty, Arini Indah; Suyanto, Bagong; Sutinah, Sutinah
Jurnal Adabiyah Vol 21 No 1 (2021): June (Humanities)
Publisher : Faculty of Adab and Humanities - Alauddin State Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jad.v21i1a6

Abstract

This research discusses religious symbol attached to the former terrorist convicts’ family as seen in social interaction. The theory applied in this study is George Herbert’s the symbolic interactionism. This theory is used in analysing the phenomena in society because it is rooted in and focuses on the essence of humans as relational beings. This study is also reinforced by Erik H. Erikson's theory of psychosocial developmental stages and family sociology. The employed research method is qualitative method supported by interpretive paradigm. The data collection methods in this research are in-depth interview, observation, field notes, and documentation. The locations in the study are the areas of Surabaya (including Sidoarjo), Malang and Probolinggo, which are known as the hideout locations of JAD (Jamaah Asharut Daulah) terrorist network. This study concludes that former terrorist convicts and their families still strongly embrace the religious symbols in the process of social interaction. The radicalization that occurs within the family is classified as a discourse, not an action. The resilience should be embraced by these former convict families to strengthen their existence as well as prevent them from returning to their groups. The government and all stakeholders must continue to provide guidance to the families of former terrorist convicts.Keywords: Family; Psychosocial; Religious Symbols; Symbolic Interaction; Former Terrorist Convictsملخصتناقش هذه الدراسة الرموز الدينية للمدانين بالإرهاب السابقين وأسرهم. النظرية المستخدمة في هذه الدراسة هي تفاعل رمزي أشاعه جورج هربرت ميد. تُستخدم نظرية التفاعل الرمزي في تحليل أعراض المجتمع ، لأنها متجذرة في طبيعة البشر وتركز عليها ككائنات علائقية. هذه الدراسة مدعومة أيضًا بنظرية مراحل التطور النفسي والاجتماعي وعلم اجتماع الأسرة التي روج لها إريك إريكسون. الطريقة المستخدمة هي الطريقة النوعية ، باستخدام نموذج تفسيري. طرق جمع البيانات في هذه الدراسة من خلال المقابلات والملاحظات والملاحظات الميدانية والتوثيق المعمقة. تشمل المواقع التي شملتها الدراسة سورابايا (بما في ذلك سيدوارجو) ومالانج وبروبولينجو ، وهي أماكن اختباء لشبكة JAD  الإرهابية (جماعة أشاروت دولاه). ونتيجة لذلك ، لا يزال المدانون السابقون بالإرهاب وعائلاتهم أقوياء في الحفاظ على الرموز الدينية ، وكلها تستخدم في عملية التنشئة الاجتماعية في المجتمع. يُصنَّف حاليًا احتمال حدوث التطرف داخل أنفسهم وعائلاتهم كشكل من أشكال الخطاب وليس الفعل. في هذا الموقف ، لا تزال هناك حاجة لتدخل من الحكومة وجميع أصحاب المصلحة حتى يمكن تقليل احتمالية التطرف.الكلمات المفتاحية: عائلة; نفسية اجتماعية; رموز دينية; تفاعل رمزي; مدانون إرهابيون سابقونABSTRAKPenelitian ini membahas tentang simbol-simbol keagamaan dari mantan narapidana teroris dan keluarganya. Teori yang dipakai dalam kajian ini adalah interaksi simbolik yang dipopulerkan George Herbert Mead. Teori interaksi simbolik digunakan dalam menganalisis gejala masyarakat, karena berakar dan berfokus pada hakekat manusia sebagai makhluk relasional. Kajian ini juga didukung oleh teori tahap perkembangan psikolososial dan sosiologi keluarga yang dipopulerkan Erik H. Erikson. Metode yang digunakan adalah kualitatif, menggunakan paradigma interpretif. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dengan wawancara mendalam, observasi, catatan lapangan, dan dokumentasi. Lokasi dalam penelitian meliputi wilayah Surabaya (termasuk Sidoarjo), Malang dan Probolinggo yang merupakan lokasi dari persembunyian jaringan teroris JAD (Jamaah Asharut Daulah). Hasilnya, mantan narapidana teroris dan keluarganya masih kuat dalam mempertahankan simbol-simbol keagamaan, yang semua itu digunakan dalam proses sosialisasi dalam masyarakat. Potensi radikalisasi yang terjadi dalam diri mereka dan keluarga saat ini tergolong dalam bentuk wacana bukan aksi. Dalam posisi ini, tetap diperlukan intervensi dari pemerintah dan semua pemangku kepentingan agar potensi radikalisasi itu benar-benar bisa diminimalkan. 
Jurnalisme Warga dalam Strategi Konvergensi: Akomodasi Aspirasi atau Aktifitas Buruh Digital? Asy'ari, Nur Aini Shofiya; Suyanto, Bagong; Septiani, Dina; Wahyudi, Irfan
ETTISAL : Journal of Communication Vol. 8 No. 2 (2023): ETTISAL : Journal of Communication
Publisher : Universitas Darussalam Gontor collaboration with ISKI (Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/ejoc.v8i2.11957

Abstract

Konsep siaran citizen journalism Suara Surabaya dengan tagline News, Interaktif, Solutif berfokus pada keterlibatan khalayak dalam proses produksi berita. Konsep siaran one to many akhirnya berubah menjadi many to many didukung plaform digital yang semakin memudahkan khalayak berpartisipasi. Tingginya loyalitas khalayak terlihat pada tingginya jumlah pengikut dan interaksinya pada platform digital media sosial Suara Surabaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana strategi konvergensi media penyiaran menempatkan khalayak sebagai digital labor melalui bisnis penyiaran dengan konsep citizen journalism. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, serta kajian literatur. Hasil penelitian  menunjukkan adanya fenomena unpaid labor dalam model siaran dengan konsep jurnalis warga karena melibatkan netizen sebagai pekerja yang tidak dibayar sehingga menghasilkan surplus value dan akumulasi modal. Khalayak sebagai pekerja melakukan pekerjaanya dengan sukarela tanpa keterpaksaan, melakukan dengan kesenangan menggunakan waktu luang dan waktu ber-senang-senang yang merupakan permainan kapitalisme yang tersembunyi.
Instrumen Pengukuran Pengentasan Kemiskinan Multidimensi dalam Perspektif Kewarganegaraan dengan Metode Delphi Suwanda, Rian Pramana; Rao, Atif; Suyanto, Bagong; Wijoyo, Suparto
Jurnal Ilmiah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 9, No 2 (2024): Juli 2024
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um019v9i2p122-132

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk menganalisis pengentasan kemiskinan multidimensi melalui mekanisme kewarganegaraan serta instrumen pengukuran efektivitas mekanisme kewarganegaraan dalam pengentasan kemiskinan multidimensi. Kajian ini menggunakan metode Delphi yang dilaksanakan melalui tahap eksplorasi, distilasi, dan utilisasi. Pengentasan kemiskinan multidimensi dapat dilakukan melalui mekanisme kewarganegaraan yang dapat menjamin hak serta kesempatan yang sama bagi setiap individu untuk memperoleh pekerjaan, pendapatan, pendidikan, dan pelayanan publik lainnya. Instrumen pengukuran efektivitas mekanisme kewarganegaraan dalam pengentasan kemiskinan multidimensi didasarkan pada 3 indikator yang dijabarkan dalam 22 butir sub indikator. Indikator efektivitas mekanisme kewarganegaraan dalam pengentasan kemiskinan multidimensi yaitu pemenuhan identitas hukum kewarganegaraan sebagai kunci akses sumber daya negara, perlindungan warga negara migran, serta kebijakan afirmasi untuk warga negara anak, lansia, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya.
POWER RELATIONS IN RELIGIOUS TEACHING SPACES: EXAMINATION OF THE STANDARDIZATION PROGRAM FOR RELIGIOUS PREACHERS IN INDONESIA Kamaludin, Mohammad; Suyanto, Bagong; Mas'udah, Siti
Sosiohumaniora Vol 26, No 2 (2024): Sosiohumaniora: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora, JULY 2024
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v26i2.50559

Abstract

This research seeks to uncover the issues surrounding the controversy over the implementation of standardization by the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia for Islamic preachers and  teachers in Indonesia. This controversy has been going on for so long that before it was implemented, there  were several changes in the name of the program to avoid polemics in the community. The exchange of discourses between policymakers and policy recipients is interesting to further study. To answer these questions, researchers use research methods that are almost the same as those developed by Foucault, namely Critical Discourse Analysis (CDA. This method emphasizes correcting the discourse that develops in society, especially regarding the standardization program for religious teachers (da'i or ustad). Because religious teachers are also closely related to teaching or da'wah issues. The essence of da'wah is the teaching of the Islamic religion; therefore, this research focuses on the relationship patterns in religious teaching toward other parties related to it. Many studies have been conducted regarding power relations, especially those related to education. However, very few people have studied power relations in religious teaching spaces. This method also develops a way of researching by looking at news in the mass media, where the news produces a certain knowledge that is considered new. Therefore, the researcher collected data in three ways: media observation, interviews with actors, and documentation. According to the researcher, these three methods represent the same method used by Michel Foucault. The findings produced by researchers are three factors that influence the dynamics of power relation patterns. First, power/knowledge relations are produced by several parties. Second, the government has a strong interest in the implementation of the standardization program for religious preachers. Third, the political motive isalmost clearly seen. Penelitian yang dilakukan ini berusaha mengungkap persoalan di seputar kontroversi penerapan standardisasi oleh kementerian agama Republik Indonesia terhadap para penceramah atau pengajar agama Islam di Indonesia. Sudah lama kontroversi ini berlangsung sehingga sebelum sempat diterapkan telah terjadi beberapa kali perubahan nama program demi menghindari polemik di masyarakat. Saling tukar wacana antara pihak pembuat kebijakan dan penerima kebijakan menarik untuk diteliti lebih jauh. Guna mendapatkan jawaban atas pertanyaan tersebut peneliti menggunakan metode penelitian yang hampir sama dengan yang dikembangkan Foucault yakni Analisis Wacana Kritis atau lebih dikenal dengan CDA (Critical Discourse Analysis). Metode ini menekankan pada pengkoreksian wacana yang berkembang di masyarakat terutama soal program standardisasi terhadap para pengajar agama (da’i atau ustad). Metode ini juga mengembangkan cara meneliti dengan melihat pemberitaan di media massa, dimana pemberitaan itu menghasilkan pengetahuan-pengetahuan tertentu yang dianggap baru. Karenanya peneliti mengumpulkan data melalui tiga cara ; observasi media, wawancara dari para aktor dan dokumentasi. Ketiga cara ini menurut peneliti sudah mampu mewakili cara yang sama dilakukan Michel Foucault. Temuan yang dihasilkan oleh peneliti adalah menemukan tiga faktor yang memengaruhi terjadinya dinamika pola relasi kuasa. Yakni transparansi, komunikasi, dan politisasi.