Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

HARMONIZING RELIGIOUS COEXISTENCE THROUGH EDUCATION AND POLITICAL ECONOMY: A CASE STUDY OF PANDOWOHARJO VILLAGE Mukotip, Mukotip; Muslim, Azis; Jamil, Muhammad Abdun; Kusuma, Danar; Azka, Ibnu
Al-Qalam Vol. 30 No. 2 (2024)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/alq.v30i2.1531

Abstract

The life of the Pandowoharjo people in the framework of harmony has been going on for a long time. Pandowoharjo Village is 1 of 75 villages in Bantul district, which administratively consists of 16 hamlets and 94 RTs, with a population in 2023 of 22,818 people. In this village, the majority of people are Muslim, reaching 93%, Catholics 3%, Christians 1% and Hindu-Buddhists below 1%. However, people can live side by side without conflict and are able to construct religious coexistence in daily life. The aim of this research is to find out how education and political economy can build coexistence in society. The research method used is a qualitative method. The research results show that; 1) Education has an important role in building coexistence, this is to provide understanding and a basic foundation for society. So far, there are various religious organizations that are active in community religious activities, and there are also religious leaders who call for the importance of maintaining religious coexistence. 2) Political economy is an important sector in efforts to maintain a harmonious life. In Pendoharjo Village, the entire community can access various sectors, including economic, political and educational, regardless of religious background. This is proof that Pandowoharjo Village has been able to construct coexistence in all aspects of life.
Perbandingan Pendekatan Inklusif dan Eksklusif dalam Pembelajaran Sains di MI: Implikasinya terhadap Pemahaman Konsep dan Karakter Religius Siswa Abdun Nasir, Muhammad Fikri
Madrasah Ibtidaiyah Research Journal Vol. 2 No. 2 (2024)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/maraja.v2i2.5596

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan dua pendekatan pembelajaran sains di Madrasah Ibtidaiyah, yaitu pendekatan inklusif dan eksklusif, dalam hal implikasinya terhadap pemahaman konsep dan karakter religius Islam siswa. Pendekatan inklusif menekankan pada keterlibatan semua siswa dalam pembelajaran, sedangkan pendekatan eksklusif menekankan pada pengelompokan siswa berdasarkan kemampuannya. Penelitian ini menggunakan metode grounded theory untuk menganalisis data yang diperoleh dari observasi kelas, wawancara dengan guru dan siswa, dan analisis dokumen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan inklusif lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep dan karakter religius Islam siswa dibandingkan dengan pendekatan eksklusif. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti (a) pendekatan inklusif memberikan kesempatan yang sama bagi semua siswa untuk belajar dan berpartisipasi dalam pembelajaran; (b) pendekatan inklusif mendorong siswa untuk saling membantu dan belajar dari satu sama lain; dan (c) pendekatan inklusif menciptakan lingkungan belajar yang lebih positif dan mendukung. Temuan penelitian ini memiliki implikasi penting bagi praktik pembelajaran sains di Madrasah Ibtidaiyah. Guru perlu mempertimbangkan untuk menggunakan pendekatan inklusif dalam pembelajaran sains untuk meningkatkan pemahaman konsep dan karakter religius Islam siswa.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CTL DALAM MEMEPERKUAT KARAKTER PEDULI SOSIAL SISWA MELALUI MATA PELAJARAN PPKN DI MI (MADRASAH IBTIDAIYYAH) aulia, rahma; Adha, Ardhilla Nuril; Nasir, Muhammad Fikri Abdun
Jurnal Inovasi Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah (JIPMI) Vol. 3 No. 3 (2024): 2024
Publisher : LPPM STAI Syekh Jangkung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan karakter menjadi aspek penting dalam membentuk siswa yang memiliki nilai moral dan sosial yang baik, terutama di tengah tantangan era globalisasi yang seringkali menyebabkan menurunnya rasa kepedulian sosial. Model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) menawarkan pendekatan yang menghubungkan materi pelajaran dengan konteks kehidupan nyata, mendorong siswa untuk aktif belajar dan menginternalisasi nilai sosial melalui pengalaman langsung. Dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) di Madrasah Ibtidaiyah (MI), penerapan CTL relevan untuk memperkuat karakter peduli sosial siswa, seperti empati, toleransi, dan kerja sama. Melalui metode pembelajaran berbasis pengalaman nyata, siswa tidak hanya memahami nilai-nilai sosial secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan model CTL dalam pembelajaran PPKn di MI, dengan harapan siswa dapat menjadi individu yang tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
MEMBENTUK KARAKTER DAN JIWA NASIONALIS DI ERA DIGITAL PADA SISWA SD/MI MELALUI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Rohmah, Lailiya Nur; Latihah, Inarotul; Nasir, Muhammad Fikri Abdun
Jurnal Inovasi Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah (JIPMI) Vol. 3 No. 3 (2024): 2024
Publisher : LPPM STAI Syekh Jangkung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transformasi era digital membawa tantangan dan peluang baru dalam membangun karakter dan semangat nasionalisme pada siswa SD/MI Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) memainkan peran penting dalam menanamkan nilai-nilai cinta tan ah air, kebangsaan, dan tanggung jawab sosial di tengah derasnya arus teknologi dan globalisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pembelajaran PPKn yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai tersebut pada siswa sekolah dasar. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara, observasi, dan telaah pustaka. Temuan menunjukkan bahwa pemanfaatan media digital secara tepat, integrasi nilai-nilai nasionalisme dalam kurikulum, serta dukungan aktif dari guru dan orang tua merupakan elemen penting keberhasilan pembelajaran PPKn. Di samping itu, kegiatan berbasis proyek seperti simulasi musyawarah, pembuatan konten digital bertema kebangsaan, dan kunjungan virtual ke situs-situs sejarah terbukti mampu memperkuat pemahaman siswa terhadap nilai-nilai Pancasila. Oleh karena itu, inovasi dalam pembelajaran PPKn di era digital dapat menjadi solusi strategis untuk membentuk generasi muda yang memiliki karakter kuat dan jiwa nasionalis.
MENGUAK DAMPAK TIKTOK TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA MADRASAH IBTIDAIYYAH DAN UPAYA MENARIK GENERASI DIGITAL TERHADAP MINAT BELAJAR Nasir, Muhammad Fikri Abdun
Al-Mubtadi: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 2 No. 2 (2025)
Publisher : Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58988/almubtadi.v2i2.414

Abstract

Using TikTok can influence changes in children's behavior, both moral and social behavior around them. Therefore, it is very important for teachers and parents to carry out careful, ongoing supervision and limit children's use of TikTok. Based on research results from several researchers, it is known that TikTok has a significant influence on students' interest in learning, giving rise to concerns among teachers regarding its impact on learning outcomes. The findings of this research indicate the need to change the learning system or process to make it more innovative, with the aim of increasing students' interest in learning.
KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN DASAR ISLAM MASA TURKI USMANI DAN RELEVANSINYA DI ERA 5.0 Abdun Nasir, Muhammad Fikri
FIHROS: Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 8 No 2 Agustus (2024): Fihros: Jurnal Sejarah dan Budaya
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63915/fihros.v8i2 Agustus.95

Abstract

In this article, we will discuss the basic education curriculum in the Ottoman era. The education system is the totality of interactions of a set of educational elements that work together in an integrated manner and complement each other towards achieving educational goals that have achieved the common goals of the actors. It is clear that something is expected to be realized after people experience Islamic education as a whole, namely a person's personality that makes him a human being. Muslims experienced a golden peak during the reign of the Abbasids. During that time, famous Islamic thinkers emerged whose thoughts are still discussed and used as a basis. Looking back at the history of Ottoman Turkey, the state of education in Turkey at that time played a very important role in the development of a nation. Most Ottoman rulers tended to be taqlid and fanatical towards one school of thought and opposed other schools of thought. The teaching system developed in Ottoman Turkey was to memorize matan-matan even though students did not understand the meaning, such as memorizing Matan al-Jurumiyah, Matan Taqrib, Matan Alfiah, Matan Sultan, and others. After students memorize the matan, they learn the sharah. Because of this, the lessons became heavier and more difficult for him to memorize. This in turn makes learning more of a textual study rather than an effort to understand and encourages memorization rather than actual understanding. In the history of Muslims, Turkey has a very important role, especially in. The method used in this writing is descriptive qualitative, the author reveals historical facts that occurred during the Ottoman era, through literature review.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CTL DALAM MEMEPERKUAT KARAKTER PEDULI SOSIAL SISWA MELALUI MATA PELAJARAN PPKN DI MI (MADRASAH IBTIDAIYYAH) aulia, rahma; Adha, Ardhilla Nuril; Nasir, Muhammad Fikri Abdun
Jurnal Inovasi Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Vol 4 No 1 (2025): 2025
Publisher : LPPM STAI Syekh Jangkung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan karakter menjadi aspek penting dalam membentuk siswa yang memiliki nilai moral dan sosial yang baik, terutama di tengah tantangan era globalisasi yang seringkali menyebabkan menurunnya rasa kepedulian sosial. Model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) menawarkan pendekatan yang menghubungkan materi pelajaran dengan konteks kehidupan nyata, mendorong siswa untuk aktif belajar dan menginternalisasi nilai sosial melalui pengalaman langsung. Dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) di Madrasah Ibtidaiyah (MI), penerapan CTL relevan untuk memperkuat karakter peduli sosial siswa, seperti empati, toleransi, dan kerja sama. Melalui metode pembelajaran berbasis pengalaman nyata, siswa tidak hanya memahami nilai-nilai sosial secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan model CTL dalam pembelajaran PPKn di MI, dengan harapan siswa dapat menjadi individu yang tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
MEMBENTUK KARAKTER DAN JIWA NASIONALIS DI ERA DIGITAL PADA SISWA SD/MI MELALUI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Rohmah, Lailiya Nur; Latihah, Inarotul; Nasir, Muhammad Fikri Abdun
Jurnal Inovasi Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Vol 4 No 1 (2025): 2025
Publisher : LPPM STAI Syekh Jangkung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63915/jipmi.v4i1.163

Abstract

Transformasi era digital membawa tantangan dan peluang baru dalam membangun karakter dan semangat nasionalisme pada siswa SD/MI Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) memainkan peran penting dalam menanamkan nilai-nilai cinta tan ah air, kebangsaan, dan tanggung jawab sosial di tengah derasnya arus teknologi dan globalisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pembelajaran PPKn yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai tersebut pada siswa sekolah dasar. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara, observasi, dan telaah pustaka. Temuan menunjukkan bahwa pemanfaatan media digital secara tepat, integrasi nilai-nilai nasionalisme dalam kurikulum, serta dukungan aktif dari guru dan orang tua merupakan elemen penting keberhasilan pembelajaran PPKn. Di samping itu, kegiatan berbasis proyek seperti simulasi musyawarah, pembuatan konten digital bertema kebangsaan, dan kunjungan virtual ke situs-situs sejarah terbukti mampu memperkuat pemahaman siswa terhadap nilai-nilai Pancasila. Oleh karena itu, inovasi dalam pembelajaran PPKn di era digital dapat menjadi solusi strategis untuk membentuk generasi muda yang memiliki karakter kuat dan jiwa nasionalis.
KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN DASAR ISLAM MASA TURKI USMANI DAN RELEVANSINYA DI ERA 5.0 Abdun Nasir, Muhammad Fikri
FIHROS: Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 8 No 2 Agustus (2024): Fihros: Jurnal Sejarah dan Budaya
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63915/fihros.v8i2 Agustus.95

Abstract

In this article, we will discuss the basic education curriculum in the Ottoman era. The education system is the totality of interactions of a set of educational elements that work together in an integrated manner and complement each other towards achieving educational goals that have achieved the common goals of the actors. It is clear that something is expected to be realized after people experience Islamic education as a whole, namely a person's personality that makes him a human being. Muslims experienced a golden peak during the reign of the Abbasids. During that time, famous Islamic thinkers emerged whose thoughts are still discussed and used as a basis. Looking back at the history of Ottoman Turkey, the state of education in Turkey at that time played a very important role in the development of a nation. Most Ottoman rulers tended to be taqlid and fanatical towards one school of thought and opposed other schools of thought. The teaching system developed in Ottoman Turkey was to memorize matan-matan even though students did not understand the meaning, such as memorizing Matan al-Jurumiyah, Matan Taqrib, Matan Alfiah, Matan Sultan, and others. After students memorize the matan, they learn the sharah. Because of this, the lessons became heavier and more difficult for him to memorize. This in turn makes learning more of a textual study rather than an effort to understand and encourages memorization rather than actual understanding. In the history of Muslims, Turkey has a very important role, especially in. The method used in this writing is descriptive qualitative, the author reveals historical facts that occurred during the Ottoman era, through literature review.
REVOLUSI PEMBELAJARAN PPKn LEBIH SERU DAN EFEKTIF DENGAN TEKNOLOGI DIGITAL DI SD 2 JEPANG: Revolution of Learning PPKn More Fun and Efective with Digital Technology at SD 2 Jepang Supriyantini, Supriyantini; Okta Afiana, Devi; Nasir, Muhammad Fikri Abdun
Al-Qalbu: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Sains Vol. 3 No. 1 (2025): April 2025
Publisher : Yayasan Al-Amin Qalbu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59896/qalbu.v3i1.125

Abstract

This study aims to examine the effectiveness of integrating digital technology in the teaching of Civic Education (PPKn) at SD 2 Jepang. Using a qualitative literature review method, the research analyzes the application of digital tools such as interactive apps, animated videos, and online quizzes in the learning process. The findings indicate that digital technology enhances student engagement, understanding of Pancasila values, and fosters a dynamic learning environment. However, challenges such as limited teacher digital literacy and the need for more integrated learning content were also identified. The study concludes that digital technology offers significant benefits for PPKn instruction, yet continuous efforts are required to ensure its effective and equitable implementation