p-Index From 2021 - 2026
10.315
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia Disease Prevention and Public Health Journal Jurnal Kesehatan Masyarakat EKOMBIS REVIEW: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Bisnis Jurnal Biometrika dan Kependudukan (Journal of Biometrics and Population) Jurnal Keperawatan Silampari Window of Health : Jurnal Kesehatan Jurnal Kesehatan Prima Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat (The Public Health Science Journal) Amerta Nutrition Jurnal Kreativitas PKM Faletehan Health Journal Abdimas Umtas : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Jurnal Bidan Cerdas Poltekita : Jurnal Ilmu Kesehatan AVICENNA Jurnal Kesmas (Kesehatan Masyarakat) Khatulistiwa Jurnal Pengabdian Masyarakat Bumi Raflesia Journal of Telenursing (JOTING) Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Community Development Journal: Jurnal Pengabdian Masyarakat Journal of Nursing and Public Health (JNPH) Ihsan: Jurnal Pengabdian Masyarakat Jurnal Kesmas Asclepius Indian Journal of Forensic Medicine & Toxicology Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Bengkulu Mitra Raflesia (Journal of Health Science) MAHESA : Malahayati Health Student Journal AKM: Aksi Kepada Masyarakat Quality : Jurnal Kesehatan Jurnal Pengabdian Mandiri JIMAKUKERTA Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Jurnal Keperawatan Jurnal Pengabdian Kesehatan Riset Informasi Kesehatan Citra Delima Scientific journal of Citra Internasional Institute Proceeding of Bengkulu International Conference on Health Al-Suaibah Midwifery Journal Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat (The Public Health Science Journal)
Claim Missing Document
Check
Articles

Pengetahuan dan Sikap Berhubungan dengan Risiko Penularan Virus Covid-19 pada Masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas Lingkar Barat Kota Bengkulu Siti Nurazisah; Henni Febriawati; Bintang Agustina Pratiwi; Oktarianita Oktarianita; Wulan Angraini; Riska Yanuarti
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 16. No. 3. Tahun 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.118 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.16.3.2021.160-167

Abstract

Latar Belakang: Covid-19 mewabah dengan cepat keseluruh penjuru dunia karena keunikan model penyebarannya, sehingga pergerakan dan penyebaran virus terus meningkat. Tujuan: untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap dengan risiko penularan virus Covid-19 pada masyarakat di wilayah kerja puskesmas Lingkar Barat Kota Bengkulu. Metode: Jenis penelitian kuantitatif dengan rancangan cros sectional. Sampel sebanyak 96 responden dengan teknik simple random sampling. Pengumpulan data penelitian menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reabilitas. Analisis data penelitian berupa analisis univariat dan bivariat menggunakan uji chi-quare. Hasil: penelitian menunjukan dari 96 responden sebagian besar memiliki pengetahuan baik yaitu 66,7%, dengan masyarakat mayoritas memiliki sikap positif yaitu 56,3% dan 69,8% masyarakat berisiko rendah tertular Covid-19. Hasil analisis bivariat menunjukan ada hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan risiko penularan Covid-19 (p value < 0,05). Kesimpulan: Pengetahuan yang baik dan sikap yang positif dari masyarakat dalam menghadapi pandemi Covid-19 dapat membuat masyarakat melakukan tindakan nyata untuk mengurangi risiko tertular Covid-19.
Analisis Ketersediaan Fasilitas Kesehatan dan Pencapaian Universal Health Coverage Jaminan Kesehatan Nasional se Provinsi Bengkulu Yandrizal Yandrizal; Desri Suryani; Betri Anita; Henni Febriawati; Riska Yanuarti; Bintang Agustina Pratiwi; Heldi Saputra
Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Center for Health Policy and Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.848 KB) | DOI: 10.22146/jkki.v5i3.30668

Abstract

ABSTRACTIntroduction: The National Health Insurance began in 2014 gradually toward Universal Health Coverage. The purpose of the National Health Insurance in general is easier for people to access health services and obtain quality health services. Health providers are limited, extensive spread of population and limited access, leading to less supply (provision of services) by the government and other parties, so it would appear inequality and financing of health care.Purpose: to know the availability of health care facilities as well as efforts to achieve compliance with Univarsal Coverange Health in Bengkulu Province.Metoe Research: Research using design analysis method formative To assess the implementation of policies. Descriptive study is observational, presents an overview and focus on solving the actual problem. The unit analyzes the data collection was health facilities using quantitative and qualitative approaches.Results And Discussion: The first-level health facilities(FKTP) as much as 272 units, 590 units needs. Puskesmas capitation average Rp. 4847, -. All hospitals are already working with BPJS and needs a bed in 1769, the highest available FKTP 1329. Utilization of Physician Practice. Government encourages open pratama clinics and doctors as well as provide opportunities practice at the PPDS.Conclusion: The first-level health facilities are lacking. Doctors and dentists in the health centers are still less impact on the small capitation funds received. Local Government clinics and physician practices to encourage and develop the health center. Shortage of specialist doctors by maximizing all participants Medical Education Program Specialist of the Bengkulu Province can return by providing specialist medical support equipment and incentives.Keywords: Equity Services, Access Services, Equity Health Care Financing.ABSTRAKLatar belakang: Jaminan Kesehatan Nasional dimulai pada Tahun 2014 secara bertahap menuju Universal Health Coverage. Tujuan Jaminan Kesehatan Nasional secara umum yaitu mempermudah masyarakat untuk mengakses pelayanan kesehatan dan mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu. Pemberi pelayanan kesehatan yang terbatas, penyebaran penduduk yang luas dan akses yang terbatas, menyebabkan kurang supply (penyediaan layanan) oleh pemerintah dan pihak lain, sehingga akan muncul ketidakmerataan pelayanan dan pembiayaan kesehatan.Tujuan: mengetahui ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan serta upaya pemenuhan untuk mencapai Univarsal Health Coverange di Provinsi Bengkulu.Metode: penelitian menggunakan rancangan metode analisisformatif Untuk menilai pelaksanaan kebijakan. Jenis penelitian deskriptif yang bersifat observasional, menyajikan Gambaran dan memusatkan pada pemecahan masalah aktual. Unit analisis fasilitas kesehatan. Pengumpulan data menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif.Hasil: Fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) sebanyak 272 unit, kebutuhan 590 unit. Kapitasi Puskesmas rerata Rp. 4.847,-. Semua rumah sakit sudah bekerja sama dengan BPJS dan kebutuhan tempat tidur 1769, tersedia 1329. Pemanfaatan FKTP tertinggi Dokter Praktek. Pemerintah mendorong buka klinik pratama dan prakter dokter serta memberi kesempatan Pendidikan Dokter Spesialis.Kesimpulan: Fasilitas kesehatan tingkat pertama masih kurang. Dokter umum dan dokter gigi di Puskesmas masih kurang berdampak kepada kecil dana kapitasi yang diterima. Pemerintah Daerah mendorong klinik dan dokter praktek dan mengembangkan Puskesmas Perawatan. Kekurangan dokter spesialis dengan memaksimalkan semua peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis dari Provinsi Bengkulu dapat kembali dengan menyediakan peralatan penunjang medis spesialistik dan insentif .Kata Kunci : Pemerataan Pelayanan, Akses Pelayanan, Pemerataan Pembiayaan Kesehatan.
Analisis Besaran dan Pembayaran Kapitasi Berbasis Komitmen Pelayanan terhadap Pengendalian Rujukan di Puskesmas Kota Bengkulu Henni Febriawati; Yandrizal Yandrizal; Yulia Afriza; Bintang Agustina Pratiwi; Riska Yanuarti; Desri Suryani
Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia Vol 6, No 4 (2017)
Publisher : Center for Health Policy and Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2719.886 KB) | DOI: 10.22146/jkki.v6i4.30890

Abstract

Background: Puskesmas as primary health care center where the role of Puskesmas is interpreted as gate keeper or first contact and referral agent in accordance with standard of medical service. BPJS Kesehatan always strives to increase efficiency and effectiveness by developing quality control system of service and payment system of health service through capitation payment pattern to first  level health facility. Problem formulation, how the implementation of Kapuas basaran policy based on fulfillment of service commitment to control at Public Health Center of Bengkulu City. Research Objective, knowing the role of policy of capitation scale based on fulfillment of service commitment to referral control at public health center Bengkulu City. Research methods: This research uses quantitative and qualitative method with exploratory research design, unit of Puskesmas analysis in Bengkulu City. The type of this research is descriptive research to describe the implementation of capitation policy based on fulfillment of service commitment to referral number in public health center Bengkulu City. Results and discussion:Referral from public health center in Bengkulu City decreased from 2014 as many as 113,075 visits and 25,183 (22.27%) referrals, by 2015 149,483 visits and 26,963 (18.04%) referrals, 2016 226,313 visitation and 23,545 referrals (10 , 40%) In 2016 the number of participants in Bengkulu City was 156,854 inhabitants and the number of contact rate was 15.726 (10.06%). Visits were 13,068 (8.33%) and healthy visits 2,658 (1.69%). All informants understand about the activities undertaken to achieve the safe zone target ratio. Conclusions and recommendations:The implementation of a service commitment-based capitation policy can control the referral of the public health center. Informants have a common perception in achieving contact numbers to achieve the target of safe zones and achievement zones by optimizing public health efforts and individual health efforts to make healthy visits and sick visits to the community. Policy implementation can be developed by maximizing existing community health efforts in Puskesmas, improving the achievement of contact rates indicator, non-specialist referral ratios, and proline visits routinely.
Analisis Ketersediaan Fasilitas Kesehatan dan Pemerataan Pelayanan pada Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional di Kota Bengkulu, Kebupaten Selumadan Kabupaten Kaur Yandrizal Yandrizal; Desri Suryani; Betri Anita; Henni Febriawati
Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Center for Health Policy and Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.307 KB) | DOI: 10.22146/jkki.36383

Abstract

Background: National health insurance is starting in 2014 to gradually move towards Universal Health Coverage. The program should make access health services easier for the community. However limited number of health care givers, a vast population and difficult geographical access mean that there is limited provision of services by the Government and other parties. It appears that the difficulty of access to health facilities remains. The provision of health services is dependent on infrastructure in the community. Without any infrastructure improvements, equitable health service becomes difficult and health coverage for the community is not real. The problem is that whether the national health insurance policy administered by the health-BPJS can improve access to medical services and quality health services to all citizens of Indonesia based on fundamental justice. Objective: To assess the availability and equitable health services as well as the policies for equitable distribution of health facilities within the national health insurance program in the city of Bengkulu, District Seluma and District Kaur. Method: This research is using a formative evaluation method, designed to assess how program policy was implemented and how to modify and to develop new policies so as to bring improvement.The kind of data collected are qualitative and quantitative data. Quantitative data is used to see availability and coverage health, while qualitative data is used to get perception of service provider and program manager of the national health insurance, as well as the challenge and barrier found in implementation process. Data qualitative is obtained using open questionnaire. Quantitative data is derived from a contract between District/municipality health office by health- BPJS and health facility data. Data analysis is compared between District/municipal data, standards according to the regulation and health system according to the WHO and scenario planning. Results: The ratio of the available primary care facilityin Kaur is 17,13 per 100.00o or one per 5.837 inhabitants; while in Bengkulu city it is 13,16 per 100.000 or one for 7.598 inhabitants; and in District Seluma it is one for 7.770 inhabitants. Percentage of contracts for primary services in Bengkulu city is 87,62 %, in District Seluma is 80.41 %, and in District Kaur is 80.73 %. The distance to access primary care facility in District Seluma and District Kaur is 2 hours away if using ‘ojek’ (motorcycle taxi), and the is fare IDR200.000,- (one-way). In Bengkulu, the most distant is 20 minutes and the fare is IDR10.000,-. The ratio of available referral care services in Bengkulu City is 1,88 per 100.000 inhabitants, while in District Seluma is 0,56 per 100.000 inhabitants, and in District Kaur is 0,90 per 100.000 inhabitants. Therefore we need additional primary health facilities supported by the agency of the social security (BPJS), District/City government/Provincial government and the Ministry of Health. While the ratio of beds in the Bengkulu City is 629, in District Seluma is 3.574, and in district Kaur is 2.778. District Seluma needs as many as 129 more beds while District Kaur needs another 60 beds to meet the requirement. The Regional Public hospital in District Kaur and District Seluma are still class D. To increase the capacity at these two hospitals to become class C within 5 (five) years is possible. However, these efforts require special policy from city/district government, Provinces and the Ministry of Health as well as the social security agency (BPJS) considering the limited capacity of the local governments. Conclusion: The availability of primary health facilities in Bengkulu city, Seluma districy and Kaur district are not enough according to Road Map to JKN 2019. Referral health facilities in Seluma district and Kaur district are much lower than the target, whereas in Bengkulu city the number is on target. Utilization of primary health facilities in Bengkulu city, Seluma district and Kaur district are still lower than national average. Utilization of referral helth facilities in the province of Bengkulu is still lower than national average. Latar Belakang: Jaminan Kesehatan Nasional dimulai pada tahun 2014 secara bertahap menuju ke Universal Health Coverage, secara umum yaitu mempermudah masyarakat untuk mengakses pelayanan kesehatan dan mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu. Pemberi pelayanan kesehatan yang terbatas, penyebaran penduduk yang luas dan akses yang terbatas, menyebabkan kurang supply (penyediaan layanan) oleh pemerintah dan pihak lain, sehingga akan muncul kesulitan terhadap akses ke fasilitas kesehatan. Penyediaan pelayanan kesehatan tergantung pada infrastruktur di masyarakat, tanpa ada perbaikan infrastruktur pemerataan pelayanan kesehatan menjadi sulit dan jaminan kesehatan bagi masyarakat merupakan hal yang tidak riil. Permasalahan yang muncul apakah kebijakan Jaminan Kesehatan Nasional oleh BPJS Kesehatan ini dapat meningkatkan akses pelayanan kesehatan dan pelayanan kesehatan yang bermutu kepada seluruh warga Indonesia dengan asas keadilan. Tujuan: Mengetahui ketersediaan dan pemerataan pelayanan kesehatan serta upaya kebijakan pemerataan fasilitas kesehatan pada program Jaminan Kesehatan Nasional di Kota Bengkulu, Kabupaten Seluma dan Kabupaten Kaur. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan metode analisis evaluasi formatif yang dirancang untuk menilai bagaimana program/kebijakan sedang diimplementasikan dan bagaimana pemikiran untuk memodifikasi serta mengembangkan sehingga membawa perbaikan. Jenis data yang dikumpulkan kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif digunakan untuk melihat ketersediaan dan cakupan layanan kesehatan, sedangkan data kualitatif untuk mendapatkan persepsi dari penyedia layanan dan manajer program terhadap Jaminan Kesehatan Nasional serta tantangan dan hambatan yang ditemukan pada proses implementasinya. Data Kualitatif diperoleh dengan mengunakan kuesioner terbuka, data kuantitatif berasal dari Kontrak Dinas Kesehatan Kaupaten/kota dengan BPJS dan data fasilitas kesehatan. Analisis data dibandingkan antar kabupaten/kota, standar yang ditetapkan berdasarkan peraturan, sistem kesehatan menurut WHO dan perencanaan berdasar skenario (scenario planning) Hasil: Rasio ketersediaan fasilitas pelayaan primer di Kabupaten Kaur 17,13 per 100.000 atau satu banding 5.837 penduduk, sedangkan di Kota Bengkulu lebih kecil 13,16 per 100.000 ribu atau satu banding 7.598 penduduk dan Kabupaten Seluma satu banding 7.770 penduduk. Persentase nilai kontrak untuk pelayanan primer di Puskesmas Kota Bengkulu sebesar 87,62%, Kabupaten Seluma sebesar 80.41%, Kabupaten Kaur sebesar 80.73% Jarak tempuh ke pelayanan primer di Kabu- paten Seluma dan Kabupaten Kaur paling jauh kira 2 jam perjalanan dengan mengunakan Ojek dan ongkos sekali jalan Rp. 200.000,- dibandingkan Kota Bengkulu paling jauh 20 menit dengan ongkos ojek Rp. 10.000,-, Rasio ketersediaan fasilitas pelayaan rujukan di Kota Bengkulu 1,88 per 100.000, Kabupa- ten Seluma 0,56 per 100.000 dan Kabupaten Kaur 0,90 per 100.000 penduduk, sehingga perlu penambahan fasilitas kese- hatan tingkat pertama oleh Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial, Pemerintah kabupaten/kota/provinsi dan Kementerian Kesehatan. Sedangkan Rasio tempat tidur untuk Kota Bengkulu 629, Kabupaten Seluma 3574 dan Kabupaten Kaur 2778. Kebutuhan Kabupaten Seluma sebanyak 129 Tempat Tidur dan Kabupaten Kaur sebanyak 60 Tempat Tidur untuk memenuhi target, Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten seluma dan Kabu- paten Kaur masih kelas D. Peningkatan kelas rumah sakit men- jadi kelas C dalam kurun waktu 5(lima) tahun kedepan sangat memungkinkan, upaya ini memerlukan kebijakan khusus dari Pemerintah Daerah Kabupaten, Provinsi dan BPJS serta Kemen- terian Kesehatan mengingat keterbatasan pemerintah daerah. Kesimpulan: Ketersediaan fasilitas kesehatan tingkat pertama saat ini di Kota Bengkulu, Kabupaten Seluma dan Kabupaten Kaur belum mencukupi target yang ingikan menurut Peta Jalan Menuju JKN 2019. Fasilitas kesehatan rujukan di Kabupaten Seluma dan Kabupaten Kaur masih rendah dibandingkan tar- get, sedangkan Kota Bengkulu telah mencapai target. Pemanfaatan fasilitas kesehatan tingkat pertama di Kota Bengkulu, Kabupaten Seluma dan Kabupaten Kaur masih rendah dari Provinsi Daerah istimewa Yogjakarta. Pemanfaat fasilitas kesehatan rujukan di Provisinsi Bengkulu masih rendah dari pada dari Provinsi Daerah istimewa Yogjakarta. 
Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Pernikahan Usia Dini Wulan Angraini; Bintang Agustina Pratiwi; Henni Febriawati; Riska Yanuarti; Betri Anita; Oktarianita Oktarianita
Jurnal Biometrika dan Kependudukan (Journal of Biometrics and Population) Vol. 8 No. 2 (2019): JURNAL BIOMETRIKA DAN KEPENDUDUKAN
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jbk.v8i2.2019.183-191

Abstract

Bengkulu Tengah is one of the Regencies in Bengkulu Province with the highest number of marriages in the early age compared to the other nine regencies/cities, which amounted to 29.12 percent. This study aims to determine the factors that influence early marriage in Bengkulu Tengah District. This type of research is quantitative, the population were all married couples in January-September 2017. Sampling using Propotional Random Sampling technique with a total sample of 237 people. Data was collected using a valid and reliable questionnaire then analyzed using univariate and multivariabel analysis (Multiple Linear Regression Test). The result show that youngest age of marriage is 15 years, lowest income Rp 100,000, youngest menarche age 10 years, average knowledge score 6.19, attitude 29.43, media exposure 1.63, influence of friend 5, parental support 2.23, stigma 4.29. The factors that influence the occurrence of early marriage are knowledge, Age of Menarche, and Media (p value < 0.05). The age of Menarche is the most influential factor in the age of marriage. The younger the age of menarche, the younger the age of one's marriage. It is better for teens who have experienced menstruation to maintain their reproductive health by delaying marriage in their teens.
CONTRACEPTIVE CHOICE AMONG COUPLES OF CHILDBEARING AGE (PUS) IN BENGKULU PROVINCE Henni Febriawati; Mario Ekoriano; Wulan Angraini; Edi Purwoko; Iis Suryani
Jurnal Biometrika dan Kependudukan (Journal of Biometrics and Population) Vol. 10 No. 2 (2021): JURNAL BIOMETRIKA DAN KEPENDUDUKAN
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jbk.v10i2.2021.202-214

Abstract

Contraceptives are very useful in achieving the family planning (keluarga berencana) program; however, not all contraceptives are suitable for everyone. The choice of contraception depends on how each person must be able to choose a contraceptive that is suitable for him or her. In general, there are two methods of contraception, namely modern and traditional. The government recommends couples of childbearing age or pasangan usia subur (PUS) to use the modern method, as it is more effective in preventing pregnancy. This study was conducted to determine factors (predisposing, enabling, and reinforcing) that influenced the use of contraceptives in Bengkulu Province. The research design was cross-sectional and used secondary data from the Performance Survey and Accountability Program/Survei Kinerja dan Akuntabilitas Program (SKAP) in 2019. The sample of this study was couples of childbearing age ranged 15-49 years old in Bengkulu. The results showed that 232 couples (59.9%) used modern contraception, while 155 people did not use modern contraception (40.1%). The results of the bivariate analysis of predisposing factors show that there is a relationship between work, education, and attitudes towards using family planning in the future, while age and knowledge are not related. It was also found that there are relationships between enabling factors such as place of residence, level of welfare, number of children, desire to have children, and informed choice. Meanwhile, there is no relationship between insurance membership and mass and room information media. It is known that there is no relationship between reinforcing factors in information sources for health workers, non-health workers, information sources for formal institutions, and information sources for non-formal institutions with the selection of contraceptive methods. The factor that most influenced the choice of family planning methods among the respondents aged 15-49 years in Bengkulu was informed choice with OR of 20.11 (95% CI = (11.24-35.98).
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERNIKAHAN USIA DINI DI KECAMATAN SEMIDANG ALAS MARAS KABUPATEN SELUMA Henni Febriawati; Nopia Wati; Sintia Arlina
Avicenna: Jurnal Ilmiah Vol. 15 No. 1 (2020): Jurnal Ilmiah Avicenna
Publisher : Public Health Department, Faculty of Health Science University Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/avicenna.v15i1.758

Abstract

Informasi yang diperoleh dari BPS Provinsi Bengkulu (2018), Kabupaten Seluma dengan persentase tertinggi kasus pernikahan usia dini ditemukan 30,83 persen. Penyebab tingginya angka menikah usia dini adalah masalah ekonomi yang kurang, diikuti pengaruh teman sebaya, keluarga, dan hamil di luar nikah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pernikahan usia dini di Kecamatan Semidang Alas Maras Kabupaten Seluma. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik pada metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2019 di Kecamatan Semidang Alas Maras Kabupaten Seluma. Populasi penelitian berjumlah 2.648 orang. Jumlah sampel penelitian sebanyak 97 orang responden laki-laki. Yang diambil dengan teknik purposive sampling. Data kemudian dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat melalui uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan signifikan antara pendidikan (p=0,010), status sosial ekonomi (p=0,003), teman sebaya (p=0,036) dan peran orang tua (p=0,003), dengan pernikahan usia dini di Kecamatan Semidang Alas Maras Kabupaten Seluma. Tidak ada hubungan signifikan antara faktor pengetahuan, pekerjaan, dan keterpaparan media informasi dengan pernikahan usia dini di Kecamatan Semidang Alas Maras Kabupaten Seluma. Disarankan kepada dinas kesehatan untuk menjalin kerja sama dengan BKKBN untuk memberikan informasi beserta edukasi kepada remaja dan orang tua tentang dampak pernikahan usia dini.
HUBUNGAN STRATEGI BAURAN PEMASARAN DENGAN LOYALITAS PASIEN RAWAT JALAN DI RSUD Dr. M. YUNUS PROVINSI BENGKULU Oktarianita Oktarianita; henni Febriawati; Deni Kurniawan
Avicenna: Jurnal Ilmiah Vol. 15 No. 3 (2020): Jurnal Ilmiah Avicenna
Publisher : Public Health Department, Faculty of Health Science University Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/avicenna.v15i3.978

Abstract

Bertambahnya Rumah sakit di Bengkulu dapat menyebabkan persaingan semakin ketat. Jumlah pasien rawat jalan dari tahun 2017 ke tahun 2018 mengalami kenaikkan sebesar 8,6%. Keberhasilan dari RSUD Dr. M. Yunus tidak lepas dari kombinasi bauran pemasaran 4P, Product, Price Place, dan Promotion. Jenis penelitian Cross Sectional dengan pendekatan Kuantitatif. Penelitian ini dilakukan di RSUD Dr. M. Yunus Provinsi Bengkulu pada bulan Juli -Agustus 2019 Jumlah Sampel dalam penelitian adalah 166 pasien rawat jalan, teknik pengambilan sampel mengunakan uji beda dua proposi. Analisi data dengan Uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukan ada hubungan bauran pemasaran dengan loyalitas pasien, dengan Product baik 78 (47%), kurang baik 88 (53,0%) Price baik 83 (50%), kurang baik 83 (50,0%), Place baik 77 (46%), kurang baik 89 (53,6%) dan Promotion baik 70 (42%), kurang baik 96 (57,8%). Disarankan kepada RSUD Dr. M. Yunus Provinsi Bengkulu, rutin melakukan promosi mengenai fasilitas yang disediakan rumah sakit sehingga pasien lebih mengetahui fasilitas yang terrsedia di RSUD Dr. M. Yunus. Meningkatkan kualitas dan kinerja karyawan, perawat, dan dokter sehingga pasien merasa puas dengan pelayanan yang diberikan.
PERSEPSI PESERTA POSBINDU PTM TENTANG PELAKSANAAN KEGIATAN POS PEMBINAAN TERPADU PENYAKIT TIDAK MENULAR (POSBINDU PTM) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BERINGIN RAYA KOTA BENGKULU Oktarianita Oktarianita; Nopia Wati; Henni Febriawati
Avicenna: Jurnal Ilmiah Vol. 15 No. 2 (2020): Jurnal Ilmiah Avicenna
Publisher : Public Health Department, Faculty of Health Science University Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/avicenna.v15i2.988

Abstract

One of the strategies for early detection and monitoring of risk factors for Non-Infection Diseases (PTM) is the implementation of Posbindu PTM. Still included in the low category regarding the achievement of the total number of patients checking the basic and primary posbindu for non infection diseases (covering all posbindu activities) which is below the 50% target of 20.2%. This study aims to determine the perceptions of posbindu participants about the implementation of Posbindu for non infection diseases. This research is a descriptive study with a qualitative approach in March-August 2020 through in-depth interviews with 5 informants and 3 triangulations using interview, observation and documentation guidelines. The research focuses on the perspectives of the Posbindu participants about the implementation of Posbindu for non infection diseases at public health center of in the Beringin Raya Bengkulu City.The results showed that the implementation of Posbindu used a 5-table system (registration, height measurement, weighing, recording by cadres then to the medical team for blood pressure, blood sugar, cholesterol and uric acid checks, consultation by Posbindu officers and cadres was carried out once a month at residents' homes. The implementation has been running according to the public health center SOP. Service quality is generally good, but the community's enthusiasm is still low in participating in Posbindu, there are participants who are still afraid to have their health checked at Posbindu, there are things that are felt to be less than optimal in service where people feel less satisfied because only examination but no medicine, insufficient examination tools and the implementation of Posbindu held during working hours A referral system has been implemented if a participant is at risk of being asked to go to the puskesmas for treatment.Salah satu strategi untuk deteksi dini dan pemantauan faktor risiko Penyakit Tidak Menular (PTM) yaitu pelaksanaan Posbindu PTM. Masih termasuk katagori rendah mengenai capaian jumlah keseluruhan pasien melakukan pengecekan pada posbindu PTM dasar dan utama (meliputi semua kegiatan posbindu) yakni dibawah target 50% sebesar 20,2%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi peserta posbindu tentang pelaksanaan kegiatan Posbindu PTM di wilayah Kerja Puskesmas Beringin Raya Kota Bengkulu. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif pada Maret-Agustus 2020 melalui wawancara mendalam terhadap 7 informan dan 3 triangulasi dengan menggunakan pedoman wawancara, pengamatan dan dokumentasi. Penelitian berfokus pada perspsi peserta posbindu tentang pelaksanaan kegiatan Posbindu PTM di Wilayah Kerja Puskesmas Beringin Raya Kota Bengkulu.Hasil Penelitian menunjukan Pelaksanaan Posbindu menggunakan sistem 5 meja (Pendaftaran, Tinggi badan, berat badan, pencatatan oleh kader selanjutnya pemeriksaan tekanan darah, gula darah, cek kolesterol, dan asam urat, konsultasi oleh petugas dan kader posbindu dilaksanakan satu bulan sekali di rumah warga. Pelaksanaan telah berjalan sesuai SOP Puskesmas. Kualitas pelayanan pada umumnya sudah baik, namun masih rendahnya antusias masyarakat mengikuti posbindu, ada peserta yang masih merasa takut memeriksakan kesehatannya ke posbindu, ada hal yang dirasakan masih kurang maksimal dalam pelayanan dimana masyarakat merasa kurang puas karena hanya pemeriksaan tapi tidak ada obat, alat pemeriksaan tidak cukup serta pelaksanaan posbindu diadakan pada jam kerja. Sistem rujukan telah dilakukan jika ada peserta yang berisiko akan disuruh pengobatan ke puskesmas. Diharapkan melakukan pendekatan langsung ke masyarakat dan kader sehingga mampu memberikan kesadaraan bahwa Posbindu ini adalah bagian dari pemantauan kesehatan masyarakat.
FACTORS AFFECTING ANXIETY OF BREAST MILK IN BREASTFEEDING MOTHERS : SCOPING REVIEW: Anxiety; Breastfeeding, breastfeeding mothers Wulan Wijaya Wulan; Henni Febriawati
Avicenna: Jurnal Ilmiah Vol. 17 No. 1 (2022): Avicenna: Jurnal Ilmiah
Publisher : Public Health Department, Faculty of Health Science University Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anxiety before and after childbirth can interfere with maternal function and mother-infant behavior including breastfeeding. Exclusive breastfeeding is breastfeeding alone without any additional food for 6 full months. Not all mothers give exclusive breastfeeding to their babies. This is influenced by various anxiety factors such as not initiating breastfeeding, breastfeeding duration. In this study using a scoping review methodology. This study combines knowledge and information related to current assumptions regarding the factors that influence exclusive breastfeeding. This study emphasizes breastfeeding anxiety factors such as breastfeeding initiation, breastfeeding duration and identifies 8 articles from a total of 8 articles, which were reviewed and summarized in a narrative manner. The findings of this study indicate that anxiety is the main factor for optimal breastfeeding. This research is expected to improve outcomes, and can be used as input for policy makers, health workers and service users.
Co-Authors Achmad Allfaress, Reffky Achmad Faisal Rizal Adhinata, Ferry Afriyanto A Afriyanto Afriyanto Afriyanto Afriyanto Afwan Syarif Agus Ramon Agus Ramon, Agus Agustinawati, Zulaikha Ahmad Bagas Pradani Aldi, Renaldi Wira Pranata Alen Elita Allfaress, Reffky Achmad Amrullah, Hilma Andri, Juli Andry Sartika Angraini, Wulan Annisa Agata Arlina, Sintia Asih Dewi Setyawati Azzaria Fidella Bagus Andrianto, Muhammad Betri Anita Betri Anita Betri Anita, Betri Bintang Agustina Pratiwi Bunga Tiara Kasih Delvita Efrianti Deni Kurniawan Deni Kurniawan, Deni Desri Suryani Dewi Yuliana Diko Anandika Utama diniarti, fiya Dwi Astuti Dwi Astuti Edi Purwoko Efridayanti, Lussy Ekowati, Sri Elviza Qurata Ayun Emi kosvianti1, 2 , Emy Susanti3 , Windhu Purnomo4, Agung Suhadi5 EVA OKTAVIDIATI, EVA Fahreza Kurnia Sari Faisal Rizal, Achmad Fatmawati, Tresna Fatsiwi Nunik Andari Feni Ranwo Ferasinta Ferasinta FIRDAUS, FITRIANA Fitriyanti, Melisa Enni Haifa Wahyu Harsismanto J Heldi Saputra Hilma Amrullah Husin, Hasan Iis Suryani Islamuddin Islamuddin Ivan Ahmad Nurcholis Jafrizal, Jafrizal Joey Ramadan Putra Juli Andri Kartika, Aulia Kuatno, Kuatno Laila, Zarli Nisfa Larra Fredrika Lastari, Desi Leni Delta Lidya Fransisca, Lidya Lina, Liza Fitri M. Amin M. Amin M. Ismail Shaleh Maghfiroh, Arina Amalia Mandraguna, Yosa Mario Ekoriano Martika Yosi Meilaty Finthariasari Finthariasari Meiliyanawati, Rina Meirinasari, Risky Melisa Enni Fitriyanti Mohammad Amin Muhammad Amin Muhammad Arif Tobing Muhammad Randika Alifiyandi Mutiara Nafita Nora Idiawati Nova Kartini Nova Nurwinda Sari Nunik Andari, Fatsiwi Nurhayati, Hestika Oktarianita, Oktarianita Oktavia, Desi Oktavianti, Elia Padila Padila Padila Padila, Padila Panzilion . Pradani, Ahmad Bagas PRAMITA, CHANDRA WIDIATNI Pratama, Yesa Putri PRATIWI, ANDRIANI Pratiwi, Diyan Puteri, Febyona Jolest Rahayu Susmita Restu Wulandari Ririn Harini Rizal, Achmad Faisal Rujung Ali Dori Saputra, Surya Ade Sari, Puja Puspita Sarkawi Sarkawi Sarkawi, Sarkawi Sella, Sabrina Selvi Riwayati Selvia Novita Sari Shaleh, M. Ismail Sinta, Klara Sintia Arlina Siti Chodijah Siti Nurazisah Sri Ekowati Suciati, Ike Sunaryadi - SURYANI, IIS Tendengki, Rein Tresna Fatmawati Tuti Rohani, Tuti Wahyu, Haifa Wati, Nopia Wati, Zulaikha Agustina Weti Wibowo, Mursid Widya Astuti, Riska Wulan Angraini Wulan Wijaya Wulan Wulandari, Restu Yandrizal Yandrizal Yanti, Lussyefrida Yanuarti, Riska Yesa Putri Pratama Yosi Losyanti Yosi, Martika Yulia Afriza Yuni Kartika Yusmaniarti Yusuf Randi