Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Indonesia Economic Journal

Pengaruh Perceived Organizational Support terhadap Organizational Citizenship Behavior dimoderasi oleh Komitmen Kerja Rizka Rustanti; Ali Jufri; Risdianto, Risdianto
Indonesia Economic Journal Vol. 1 No. 2 (2025): DESEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/9q5tr670

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Perceived Organizational Support (POS) terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB) dengan komitmen kerja sebagai variabel moderasi pada PT. X. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan metode survei. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dibagikan kepada 90 responden, kemudian dianalisis menggunakan Moderated Regression Analysis (MRA) dengan bantuan SPSS 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa POS berpengaruh positif dan signifikan terhadap OCB. Semakin tinggi dukungan organisasi yang dirasakan karyawan, semakin tinggi kecenderungan mereka melakukan perilaku sukarela di luar deskripsi formal pekerjaan, seperti membantu rekan kerja dan menjaga lingkungan kerja kondusif. Komitmen kerja terbukti memoderasi hubungan POS dan OCB, di mana pengaruh POS terhadap OCB lebih kuat pada karyawan dengan komitmen tinggi. Penelitian ini merekomendasikan perusahaan untuk memeratakan akses program dukungan, memperkuat komitmen kerja, meningkatkan kualitas pelatihan, serta memastikan transparansi sistem penghargaan agar OCB dapat berkembang secara merata dan berkelanjutan.
Pengaruh Determinan Work Life Balance terhadap Withdrawal Behavior pada Karyawan Resa Noviani; Ali Jufri; Risdianto, Risdianto
Indonesia Economic Journal Vol. 1 No. 2 (2025): DESEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/t2v3nn81

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh tiga dimensi Work-Life Balance (WLB)—time balance, involvement balance, dan satisfaction balance—terhadap withdrawal behavior pada karyawan PT. FMI-X, perusahaan manufaktur komponen otomotif di Cirebon. Penelitian kuantitatif ini melibatkan 80 responden yang dipilih dengan proportional random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan regresi linier berganda dengan bantuan SPSS 22. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga variabel independen berpengaruh negatif dan signifikan terhadap withdrawal behavior (p<0,05). Time balance yang baik menurunkan kecenderungan absensi, keterlambatan, dan niat keluar; involvement balance yang tinggi mengurangi risiko penarikan diri fisik maupun psikologis; sedangkan satisfaction balance yang tinggi, termasuk kompensasi adil dan hubungan kerja positif, menekan perilaku tersebut. Model menjelaskan 56,7% variasi withdrawal behavior. Temuan ini menegaskan pentingnya strategi peningkatan WLB untuk mempertahankan kinerja dan loyalitas karyawan, khususnya melalui kebijakan fleksibilitas waktu, partisipasi dalam pengambilan keputusan, dan kesetaraan kompensasi.
Pengaruh Work-Life Balance terhadap Withdrawal Behavior dengan Job Dissatisfaction sebagai Variabel Mediasi di Pratama Mitra Sejati Salma Syarifah; Ali Jufri; Risdianto, Risdianto
Indonesia Economic Journal Vol. 1 No. 2 (2025): DESEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/p6edx935

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Work-Life Balance terhadap Withdrawal Behavior dengan Job Dissatisfaction sebagai variabel mediasi pada karyawan PT. Pratama Mitra Sejati. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini berkaitan dengan kecenderungan karyawan untuk menunjukkan perilaku menghindar dari pekerjaan (seperti keterlambatan, ketidakhadiran, hingga niat keluar dari perusahaan) yang diduga dipengaruhi oleh ketidakseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi serta ketidakpuasan kerja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei dan pengumpulan data melalui kuesioner. Responden dalam penelitian ini adalah para driver di perusahaan tersebut. Analisis data dilakukan menggunakan teknik analisis jalur (path analysis) dengan bantuan software SPSS 26 untuk menguji efek mediasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Work-Life Balance berpengaruh negatif signifikan terhadap Withdrawal Behavior, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui mediasi Job Dissatisfaction. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin baik keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi, maka semakin rendah tingkat ketidakpuasan kerja dan perilaku menghindar dari pekerjaan.
Pengaruh Psychological Climate terhadap Job Insecurity dimoderasi oleh Self-Efficacy (Studi Kasus Karyawan Kontrak) Anggun Lestari; Ali Jufri; Risdianto, Risdianto
Indonesia Economic Journal Vol. 1 No. 2 (2025): DESEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/3marbq36

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh psychological climate terhadap job insecurity dengan self-efficacy sebagai variabel moderasi pada PT. CW. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan metode survei. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dibagikan kepada 90 responden, kemudia dianalisis menggunakan Moderated Regression Analysis (MRA) dengan bantuan SPSS 22. Hasil menunjukkan bahwa psychological climate berpengaruh negatif signifikan terhadap job insecurity pada karyawan kontrak. Semakin tinggi psychological climate yang dirasakan karyawan, maka semakin rendah rasa job insecurity. Self-efficacy dapat memoderasi hubungan psychological climate dan job insecurity, Karyawan dengan tingkat self-efficacy tinggi mampu mereduksi rasa tidak aman meskipun berada dalam status kontrak, sedangkan karyawan dengan self-efficacy rendah lebih rentan mengalami job insecurity. Penelitian ini memberikan kontribusi praktis bagi manajemen PT. CW untuk memperkuat iklim psikologis yang positif melalui komunikasi yang transparan, kepemimpinan suportif, dan kebijakan kontrak yang jelas. Selain itu, program pengembangan diri karyawan perlu ditingkatkan guna memperkuat self-efficacy sebagai sumber daya psikologis dalam menghadapi ketidakpastian kerja.