Claim Missing Document
Check
Articles

Translation and Validation of the Digital Stress Scale (DSS) in Indonesian Version Rizal Kurniawan; Elrisva Magistarina; Rahayu Hardianti Utami; Puspaneli; Dedi Supendra
Psympathic : Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 13 No. 1 (2026): PSYMPATHIC
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/psy.v13i1.51799

Abstract

This study aimed to translate the digital stress scale (DSS) into Indonesian version using three stages. Study 1 translated and validated the DSS into Indonesian using a back-translation approach with six experts and produced a scale translation script in the Indonesian version. Subsequently, study 2 validated the DSS in the Indonesian version through exploratory factor analysis (EFA), and a total of 453 respondents participated in this stage. EFA results showed a KMO value of .87, accounting for 56.3% of the total variance. The analysis identified five factors, consistent with the original version, but two items were excluded because of low factor loading. Study 3 was conducted to confirm the model from Study 2 using confirmatory factor analysis (CFA), and a total of 544 respondents participated. CFA showed that the DSS has five dimensions, similar to the original version, with a CFI value = .93, TLI = .91, NFI = .90, GFI = .91, and RMSEA = .07. However, the results did not support measurement invariance across gender. In conclusion, this study produced an instrument with good psychometric properties for measuring stress resulting from digital activities.
Isu Politik dan Identitas Sosial: Respons Emosional Masyarakat terhadap Tuduhan Kepalsuan Ijazah Presiden Aisyah Mawar Jingga Situngkir; Rizal Kurniawan
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 4 (2026): JUNI-JULI
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/jhef2g23

Abstract

This study aims to examine public emotional responses to the allegations of President Joko Widodo's forged academic diploma and to explore the role of social-political identity in shaping these perceptions. A descriptive qualitative approach was employed, involving 251 respondents aged 18 years and above who were eligible to vote. Data were collected through an online open-ended questionnaire distributed via Google Forms and analyzed using coding techniques and thematic analysis. The findings indicate that public responses to the issue are influenced by social-political identity, trust in government institutions, media exposure, and emotional attachment to political figures. Respondents who believed the allegations generally expressed distrust toward the government, suspicion regarding the authenticity of official documents, and were influenced by media coverage or political figures. In contrast, respondents who rejected the allegations based their views on factual evidence, logical reasoning, trust in governmental institutions, and official clarifications. From an emotional perspective, participants exhibited a range of responses, including anger, disappointment, anxiety, confusion, as well as neutral and apathetic attitudes. These findings suggest that public perceptions of political issues are shaped not only by factual information but also by group identity and emotional dynamics within a politically polarized society. This study contributes to the field of political psychology by highlighting the importance of understanding the interaction between social identity, emotions, and political attitude formation in responding to controversial political issues.
How Reliable, How Certain? A Bayesian Reliability Analysis of the Short Dark Tetrad (SD4) Among Indonesian University Students Aflah Zakinov Irta; Rizal Kurniawan; Anindra Guspa
Nusantara Journal of Behavioral and Social Science Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Utan Kayu Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/njbss.202619153

Abstract

The Dark Tetrad (subclinical narcissism, Machiavellianism, psychopathy, and sadism) is a central framework in personality psychology and is studied across clinical, organisational, and forensic contexts. The Short Dark Tetrad (SD4) has been adapted into several languages, but Indonesian studies have reported its reliability only as point estimates, without quantifying estimation uncertainty. This study therefore estimated the internal-consistency reliability of the Indonesian SD4 within a Bayesian framework. Responses from 289 Indonesian university students were analysed in JASP (1,000 MCMC samples; 50 burn-in) through a four-step sequence: MCMC trace plots, Posterior Predictive Check (PPP) eigenvalue plots, Bayesian single-factor fit diagnostics, and McDonald's ω posterior distributions with 95% Bayesian credible intervals (BCI). All chains converged, the eigenvalue evidence supported a dominant single factor (F1/F2 ratio = 2.5 to 3.6), and model fit was adequate to excellent (B-CFI = .905 to .965). Reliability was good for Sadism (ω = .813) and Narcissism (ω = .808) and acceptable for Machiavellianism (ω = .725) and Psychopathy (ω = .717). The Indonesian SD4 therefore shows acceptable-to-good internal-consistency reliability, reported here with explicit uncertainty and accompanied by a reproducible Bayesian reporting template. Because this evidence concerns reliability rather than validity, it supports research use in university-student samples, whereas high-stakes application will require further validity and measurement-invariance evidence. Abstrak: Dark Tetrad (narsisisme subklinis, Machiavellianisme, psikopati, dan sadisme) merupakan kerangka sentral dalam psikologi kepribadian dan dikaji pada konteks klinis, organisasi, serta forensik. Short Dark Tetrad (SD4) telah diadaptasi ke dalam beberapa bahasa, tetapi studi di Indonesia baru melaporkan reliabilitasnya sebagai estimasi titik tanpa mengukur ketidakpastian estimasi. Oleh karena itu, penelitian ini mengestimasi reliabilitas konsistensi internal SD4 versi Indonesia dalam kerangka Bayesian. Data dari 289 mahasiswa Indonesia dianalisis menggunakan JASP (1.000 sampel MCMC; burn-in 50) melalui empat langkah berurutan: plot jejak (trace plot) MCMC, plot nilai eigen Posterior Predictive Check (PPP), diagnostik kecocokan model faktor tunggal Bayesian, dan distribusi posterior ω McDonald beserta interval kredibel Bayesian 95% (BCI). Seluruh rantai konvergen, bukti nilai eigen mendukung satu faktor dominan (rasio F1/F2 = 2,5 hingga 3,6), dan kecocokan model tergolong memadai hingga sangat baik (B-CFI = 0,905 hingga 0,965). Reliabilitas tergolong baik untuk Sadisme (ω = 0,813) dan Narsisisme (ω = 0,808), serta dapat diterima untuk Machiavellianisme (ω = 0,725) dan Psikopati (ω = 0,717). Dengan demikian, SD4 versi Indonesia menunjukkan reliabilitas konsistensi internal yang dapat diterima hingga baik, dilaporkan disertai ketidakpastian yang eksplisit dan templat pelaporan Bayesian yang dapat direproduksi. Karena bukti ini menyangkut reliabilitas, bukan validitas, temuan ini mendukung penggunaan untuk keperluan penelitian pada sampel mahasiswa, sedangkan penerapan berisiko tinggi memerlukan bukti validitas dan invariansi pengukuran lebih lanjut.
HUBUNGAN HARDINESS DENGAN STRES PADA GENERASI Z Wita Nur Hafidzah; Rizal Kurniawan
CAUSALITA : Journal of Psychology Vol 4 No 1 (2026): CAUSALITA: Journal of Psychology
Publisher : CV. Causalita Dynamic Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62260/causalita.v4i1.532

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara hardiness dengan stres pada Generasi Z. penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional, sampel dalam penelitian ini sebanyak 384 orang berusia 14–27 tahun menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah  skala Dispositional Resilience Scale  A Short hardiness Scale (DRS-15) yang diadopsi dari Maeshade et al., (2022) yang disusun oleh (P. Bartone, 2019) berdasarkan aspek-aspek hardiness menurut (Kobasa, 1979) untuk mengukur hardiness selanjutnya skala Depression Anxiety Stress Scales 42 (DASS 42) yang diadopsi dari Yuliansyah (2021) berdasarkan aspek-aspek Lovibond dan Lovibond (1995) untuk mengukur stres. Teknik analisis data yang digunakan korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan IBM SPSS Statistic 25 for windows. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara hardiness dan stres pada Generasi Z (r = -0,343; p < 0,05) yang berarti Ha diterima dan Ho ditolak artinya terdapat hubungan antara hardiness dengan stres pada Gen Z, semakin tinggi tingkat hardiness maka semakin rendah tingkat stres yang dirasakan.
PENGEMBANGAN WEBSITE NAGARI BATU BASA UNTUK MENDORONG TRANSFORMASI DIGITAL DAN POTENSI LOKAL Haq, Syaiful; Utama, Rizky Indra; Kurniawan, Rizal
Journal of Community Service Vol 8 No 1 (2026): JCS, June 2026
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56670/jcs.v8i1.392

Abstract

Pemerintah Indonesia tengah mendorong percepatan transformasi digital di tingkat desa guna mewujudkan tata kelola pemerintahan yang transparan, partisipatif, dan berkelanjutan. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat pelayanan publik, meningkatkan promosi potensi lokal, serta mendukung pencapaian Sustainable Development Goals. Namun demikian, implementasi transformasi digital belum merata di seluruh wilayah Indonesia, termasuk di Nagari Batu Basa yang memiliki potensi besar tetapi belum didukung oleh media digital yang representatif. Nagari ini kaya akan sumber daya alam, kebudayaan, kuliner, serta potensi ekonomi lokal yang belum terpublikasi secara optimal. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, tim pelaksana mengembangkan website resmi Nagari Batu Basa sebagai media informasi, promosi, dan pemberdayaan masyarakat berbasis teknologi digital. Website tersebut dirancang untuk menampilkan profil nagari, data pemerintahan, sarana dan prasarana, serta potensi wisata dan budaya lokal. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa keberadaan website ini menjadi sarana strategis dalam memperkenalkan potensi Nagari Batu Basa sekaligus mendukung penguatan kapasitas digital masyarakat menuju pembangunan nagari yang berdaya saing dan berkelanjutan.
Machiavellianisme dan Sikap terhadap AI Generatif pada Mahasiswa Sarjana di Indonesia Aflah Zakinov Irta; Rizal Kurniawan
GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling Vol. 16 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/gdn.v16i2.16404

Abstract

Generative artificial intelligence (Gen AI) has become increasingly integrated into higher education, offering academic benefits while also raising concerns about academic integrity. Although previous studies have examined students’ acceptance of Gen AI, the role of dark personality traits, particularly Machiavellianism, remains underexplored in the Indonesian higher education context. This study aimed to examine the relationship between Machiavellianism and attitudes toward Gen AI among Indonesian undergraduate students. A quantitative cross-sectional correlational design was employed. The participants consisted of 226 undergraduate students from universities in Java and Sumatra who had used or were familiar with Gen AI tools such as ChatGPT, Gemini, or Claude. Participants were recruited through convenience sampling via online survey distribution. Machiavellianism was measured using the four-item Machiavellianism subscale of the Indonesian-validated Dark Triad Dirty Dozen (DTDD), while attitudes toward Gen AI were assessed using an Indonesian adaptation of the four-item AI Attitude Scale (AIAS-4). Both instruments demonstrated satisfactory internal consistency, with Cronbach’s alpha values of 0.82 for Machiavellianism and 0.86 for attitudes toward Gen AI. Data were analyzed using Pearson product–moment correlation. The results revealed a significant positive relationship between Machiavellianism and favorable attitudes toward Gen AI, r(224) = 0.264, p < 0.001, indicating that students with stronger Machiavellian tendencies tended to evaluate Gen AI more positively. Although the effect size was modest, the finding suggests that strategic, manipulative, and utilitarian personality tendencies may shape how students perceive Gen AI as an academic tool. This study contributes to the literature on personality and technology acceptance in a collectivist educational context. The findings imply the need for AI literacy programs and academic integrity policies that address not only technological competence but also ethical reflection and responsible AI use among university students.
Ketika Likes Menentukan Harga Diri: Eksplorasi Kualitatif Tentang Validitas Eksternal Di Instagram Pada Generasi Z Rizkiqa Tria Fanesha; Rizal Kurniawan; Amin Akbar; Aflah Zakinov Irta
Science and Education Journal (SICEDU) Vol 5 No 3 (2026): Science and Education Journal 2026
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/sicedu.v5i3.1260

Abstract

Perkembangan media sosial telah mengubah cara individu membangun identitas diri dan memperoleh pengakuan sosial. Pada Generasi Z, fitur likes di Instagram tidak lagi dipandang sebagai sekadar bentuk apresiasi terhadap unggahan, tetapi juga sebagai simbol penerimaan sosial yang berpotensi memengaruhi harga diri. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana Generasi Z memaknai likes sebagai bentuk validasi eksternal serta bagaimana pengalaman tersebut berhubungan dengan dinamika harga diri mereka. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Thematic Analysis. Data diperoleh melalui kuesioner terbuka yang disebarkan kepada 336 responden Generasi Z pengguna aktif Instagram. Analisis dilakukan mengikuti enam dari tahapan Braun dan Clarke (2006). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman memperoleh likes menghasilkan berbagai respons psikologis, mulai dari munculnya emosi positif, meningkatnya rasa percaya diri, perasaan dihargai, hingga munculnya persepsi bahwa diri mereka diterima oleh lingkungan sosial digital. Sebaliknya, tidak memperoleh likes memunculkan pengalaman emosional berupa kekecewaan, keraguan terhadap diri sendiri, kecemasan sosial, serta kecenderungan melakukan evaluasi terhadap kualitas diri maupun konten yang diunggah. Hasil ini menunjukkan bahwa likes memiliki fungsi sebagai bentuk validasi eksternal yang dapat memperkuat maupun melemahkan evaluasi diri individu. Meskipun demikian, tingkat pengaruhnya dipengaruhi oleh kemampuan individu dalam membangun sumber harga diri yang berasal dari dalam diri.
PENGARUH KONTROL DIRI TERHADAP PERILAKU IMPULSIVE BUYING PADA PRODUK KECANTIKAN DI KALANGAN MAHASISWA RANTAU KOTA PADANG Wulandari, Niken; Kurniawan, Rizal
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 02 (2026): Volume 11 No. 2, Juni 2026 Release
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i02.54288

Abstract

This research aims to analyze the influence of self-control on impulsive buying behavior toward beauty products among overseas students in Padang City. This study used a quantitative approach with a correlational design and incidental sampling technique. The population in this research consisted of overseas students in Padang City, with a total sample of 400 respondents. The research instruments included a self-control scale developed based on the aspects proposed by Tangney et al. (2004) and an impulsive buying scale developed based on the aspects proposed by Verplanken and Herabadi (2001). Data analysis was conducted using assumption tests and simple linear regression with the assistance of SPSS version 20 for Windows. The results showed that the majority of respondents were in the moderate category for impulsive buying, particularly on the affective and cognitive aspects. Likewise, most respondents were also in the moderate category for self-control, especially on the aspects of resisting temptation and self-discipline. The findings indicate that overseas students in Padang City tend to engage in impulsive buying behavior toward beauty products, although they still possess relatively adequate self-control abilities. The hypothesis test results revealed a significant negative effect of self-control on impulsive buying, meaning that higher self-control is associated with lower impulsive buying behavior among overseas students in Padang City.
Hubungan Tingkat Konsumsi Dark Humour Di TikTok Dengan Schadenfreude Pada Generasi Z Di Kota Padang M. Farhan Putra Maisoni; Rizal Kurniawan
Science and Education Journal (SICEDU) Vol 5 No 3 (2026): Science and Education Journal 2026
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/sicedu.v5i3.1323

Abstract

Perkembangan media sosial menjadikan dark humour sebagai salah satu bentuk hiburan yang banyak dikonsumsi Generasi Z, termasuk melalui TikTok. Paparan humor yang menjadikan penderitaan, kegagalan, atau situasi tabu sebagai bahan candaan diduga berkaitan dengan schadenfreude, yaitu perasaan senang ketika melihat kemalangan orang lain. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat konsumsi dark humour, tingkat schadenfreude, serta hubungan antara kedua variabel pada Generasi Z di Kota Padang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan teknik purposive sampling terhadap 384 responden berusia 15–29 tahun yang berdomisili di Kota Padang dan aktif menggunakan TikTok. Konsumsi dark humour diukur menggunakan Social Networking Time Use Scale (SONTUS) yang dimodifikasi, sedangkan schadenfreude diukur menggunakan skala schadenfreude. Analisis dilakukan dengan JASP. Hasil menunjukkan konsumsi dark humour mayoritas berada pada kategori sedang (54,7%) dan schadenfreude juga didominasi kategori sedang (81,3%). Uji korelasi Pearson menghasilkan r = 0,6079 dengan p < 0,001, yang menunjukkan hubungan positif, kuat, dan signifikan. Semakin tinggi konsumsi dark humour, semakin tinggi kecenderungan schadenfreude pada responden.
Bertahan Dalam Hubungan Pacaran Yang Toxic : Sebuah Pendekatan Analisis Tematik Citra Anriani; Rizal Kurniawan
Science and Education Journal (SICEDU) Vol 5 No 3 (2026): Science and Education Journal 2026
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/sicedu.v5i3.1354

Abstract

Riset ini bertujuan untuk menganalisis dan mengeksplorasi secara mendalam pengalaman subjektif perempuan dewasa awal yang bertahan dalam hubungan pacaran yang toxic, faktor psikologis yang mendorong keputusan tersebut, serta dampaknya terhadap kehidupan. Penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis tematik ini menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria perempuan berusia 20–30 tahun di Kota Padang yang memiliki pengalaman bertahan dalam hubungan pacaran toxic minimal 1 tahun. Subjek penelitian terdiri dari tiga orang perempuan dewasa awal berusia 21–22 tahun. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi, serta diuji keabsahannya menggunakan triangulasi penyidik dan member check. Hasil penelitian mengidentifikasi empat tema utama: awal menjalin hubungan yang diwarnai komunikasi intens dan pengalaman positif; pengalaman toxic relationship berupa kontrol berlebihan, tuduhan tak berdasar, perselingkuhan, hingga kekerasan verbal dan fisik; dampak multidimensional yang mencakup gangguan psikologis (stres, kecemasan, penurunan harga diri, hingga self-harm), masalah kesehatan fisik (sesak napas, gangguan pencernaan, penurunan berat badan, cedera), serta penurunan fungsi sosial dan prestasi akademik; serta alasan bertahan yang dipengaruhi oleh keterikatan emosional, ketergantungan, harapan akan perubahan pasangan, bujukan serta permintaan maaf, trauma bonding, besarnya investasi hubungan, dan ketakutan mengakhiri hubungan. Temuan ini menegaskan bahwa keputusan bertahan merupakan proses psikologis kompleks yang saling berinteraksi, bukan sekadar didasari oleh rasa cinta semata.