Claim Missing Document
Check
Articles

Identifikasi Jenis Kelamin Berdasarkan Teraan Gigitan Berbasis Pengolahan Citra Digital Dengan Metode Gabor Wavelet Dan Klasifikasi Decision Tree Dita Kusuma Wardani; Bambang Hidayat; Yuti Malinda
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tindak kriminal saat ini banyak terjadi di Indonesia. Banyak cara untuk melakukan proses identifikasi pada korban atau pelaku tindak kriminal salah satunya menggunakan bekas gigitan . Bite marks atau bekas gigitan adalah sebuah pola yang terbentuk akibat gigitan pada kulit, makanan atau substrat yang lembut tetapi dapat tertekan. Bidang yang ahli dalam menangani proses identifikasi bite marks adalah forensik kedokteran gigi (odontology forensic). Tanda bite marks biasanya ditemukan pada korban atau pelaku kriminalitas, seperti pada kasus kekerasan, pemerkosaan, dan lain-lain. Proses identifikasi bite marks yang sudah dilakukan saat ini melalui proses yang panjang, sehingga membutuhkan waktu yang kurang efisien. Pada tugas akhir ini dilakukan perancangan sistem untuk identifikasi jenis kelamin pria dan wanita menggunakan citra bekas gigitan dengan metode Gabor wavelet untuk ekstraksi ciri bekas gigitan dan klasifikasi citra bekas gigitan menggunakan Decision tree. Dalam teknik pengambilan data, dibutuhkan sampel yang didapat dari hasil cetakan pada gigitan gigi. Dalam penelitian tugas akhir ini jenis kelamin dapat langsung dikenali dan diperoleh hasil akurasi dari pengujian yaitu 89,58% dengan waktu komputasi 2,24 detik dengan parameter skala (u)=8 dan orientasi (v)=3, menggunakan 80 sample citra latih dan 48 citra uji. Sistem ini dapat menjadi perbandingan dan dapat membantu bidang forensik kedokteran gigi dalam proses identifikasi jenis kelamin menggunakan bite marks. Kata Kunci: Gabor Wavelet, Decision Tree, Matlab, forensic, Bite marks, odontology forensic Abstract Criminal acts are currently happening in Indonesia. Many ways to do the process of identifying victims or committing a crime one of them using bite marks. Bite marks are a pattern that is formed based on a tooth, food or substrate that is gentle but can be depressed. The field of expertise in dealing with the identification process of bite marks is forensic dentistry (odontology forensic). Bite marks found in the body can be information one of which is gender, because each individual has the characteristics of different teeth. The process of identifying bite marks that have been done now through a long process, thus requiring less efficient time. In this final project, the design of the system for the identification of male and female gender using the image of bite with Gabor wavelet method for extraction of bite marks and bite image classification using Decision tree. In this final project, gender can be recognized and obtained accurate from 89,58% with computation time 2,24s, with scale parameters (u) = 8 and orientation (v) = 3, using 80 sample of training image and 48 test images. With this system can be a comparison and can assist the field of dental forensics in the process of gender identification using a bite mark. Keywords: Gabor Wavelet, Decision Tree, Matlab, forensic, Bite marks, odontology forensic
Metode Gabor Wavelet Dan K-nearest Neighbor (k-nn) Sebagai Aplikasi Bidang Forensik Biometrik Untuk Identifikasi Pola Sidik Bibir Pada Identitas Manusia Vasya Aulia; Bambang Hidayat; Yuti Malinda
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Bagian tubuh manusia tidak sama satu dengan lainnya dan memiliki ciri khasnya masing-masing. Oleh sebab itu, bagian-bagian dari tubuh manusia tersebut dapat dijadikan sebagai alat bantu pengidentifikasi informasi atau identitas dari seorang individu. Beberapa cara untuk identifikasi identitas seorang individu yaitu dengan memeriksa gigi, identifikasi DNA dari jaringan sel dalam rongga mulut atau sidik bibir. Pada dasarnya, bibir memiliki berbagai pola karakteristik alur, lekuk, keriput dan garis, kombinasi yang bersifat individualistik dan unik seperti sidik jari. Untuk mengidentifikasi pola dari sidik bibir teknik yang digunakan yaitu teknik biometrik. Tugas akhir ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola sidik bibir dari individu yang berbeda untuk mendapatkan informasi dan identitas dari individu tersebut. Metode yang digunakan untuk ekstrasi ciri adalah Gabor Wavelet dan metode yang digunakan untuk mengklasifikasi adalah K-Nearest Neighbor (K-NN) dengan menggunakan aplikasi MATLAB (MATrix LABoratory). Hasil dari tugas akhir ini merupakan program yang dapat mengidentifikasi pola sidik bibir dari individu yang berbeda untuk mengetahui identitas dari individu tersebut dengan akurasi tertinggi yaitu 72.2222% dan waktu komputasi 6.2195 detik. Dengan adanya sistem ini identifikasi sidik bibir dapat dijadikan sebagai alternatif dalam membantu dan mempermudah dokter gigi dan para ahli forensik untuk mengidentifikasi setiap individu. Kata kunci: Sidik bibir, Gabor Wavelet, K-Nearest Neighbor. Abstract Parts of the human body are not equal to each other and have its own characteristics. Therefore, parts of the human body can be used as a tool to identify information or identity of an individual. Some ways to identify an individual's identity is by examining the teeth, DNA identification from cell tissues in the oral cavity or lip print patterns. Basically, lip contains in them various characteristic patterns of groove, furrows, wrinkles and lines, the combination of which is individualistic and unique like finger prints. The techniques used to identify lip print pattern is biometric techniques. This final project aims to identify patterns of lip prints from different individuals to obtain information and the identity of the individual. The method used for feature extraction is Gabor Wavelet and the method used to classify is K-Nearest Neighbor (K-NN) using MATLAB (MATrix LABoratory) application. The result of this final project is a program that can identify lip prints patterns from different individuals to know the identity of the individual with the highest accuracy is 72.2222% and the computation time is 6.2195 seconds. With this system lip print pattern can be used as an alternative in order to help and facilitate the dentist and forensic experts to identify each individual. Keywords: Lip print pattern, Gabor Wavelet, K-Nearest Neighbor.
Identifikasi Pola Sidik Bibir Pada Pria Dan Wanita Menggunakan Metode Gray Level Co-occurrence Matrix (glcm) Dan Learning Vector Quantization (lvq) Sebagai Aplikasi Bidang Forensik Syelanisa Nabilla; Bambang Hidayat; Yuti Malinda
eProceedings of Engineering Vol 4, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Forensik merupakan bidang ilmu pengetahuan yang digunakan untuk membantu proses identifikasi individu maupun kepentingan penegakan hukum. Banyak cara dalam mengidentifikasi individu, namun seringkali karena kondisi fisik individu yang sudah tidak utuh, maka dilakukan pengidentifikasian. Ilmu kedokteran gigi forensik secara sederhana dapat menentukan identitas seseorang berdasarkan pemeriksaan odontologi, rugae palatina, dan sidik bibir. Sidik bibir memiliki karakteristik khas sama halnya dengan perbandingan sidik jari. Tugas Akhir ini dibuat bertujuan untuk memudahkan identifikasi dan klasifikasi sidik bibir pada pria dan wanita. Metode yang digunakan untuk ekstrasi ciri adalah Gray Level Co-occurrence Matrix (GLCM) dan metode yang digunakan untuk klasifikasi adalah Learning Vector Quantization (LVQ). Hasil performansi sistem menggunakan metode tersebut telah dianalisis. Kata kunci: Sidik bibir, Gray Level Co-occurrence Matrix, Learning Vector Quantization
Identifikasi Usia Manusia Berdasarkan Citra Radiografi Panoramik Gigi Kaninus Menggunakan Metode Adaptive Region Growing Approach Prasetyo Tri Herlambang; Bambang Hidayat; Yuti Malinda
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Banyaknya bencana alam, tindak kejahatan, kecurangan dalam kasus pemalsuan usia maupun salah dalam memperkirakan usia melalui bentuk fisiknya terkadang membuat para ahli forensik dipanggil untuk mengetahui identitas usia sebenarnya, tetapi hal itu bukanlah sesuatu yang mudah bagi ahli forensik untuk mengetahui usia seseorang. Salah satu cara untuk dapat mengidentifikasi usia seseorang dapat dilakukan melalui salah satu bagian gigi, yaitu rongga pulpa. Perkembangan rongga pulpa gigi akan semakin menyempit seiring dengan bertambahnya usia manusia. Mengidentifikasi usia melalui gigi dapat dilakukan dengan teknik radiografi, untuk menunjang identifikasi usia melalui gigi dengan pengolahan citra, maka peneliti melakukan pengolahan citra radiografi panoramik dengan metode segmentasi citra Adaptive Region Growing Approach. Hasil penelitian ini menghasilkan akurasi sistem sebesar 63% dari 47 data yang diuji untuk 7 kelas usia serta 17% dari 47 data yang diuji untuk 15 kelas usia. Hasil tersebut didapatkan dengan cara merubah-rubah nilai parameter dalam metode Adaptive Region Growing Approach. Kata kunci :Pulpa gigi, Adaptive Region Growing Approach ABSTRACT The number of natural disasters, crime, fraud in cases of age forgery and wrong in estimating age through physical body sometimes make forensic experts called to know the actual age. The forensic expert admitted that is difficult thing to know the actual age of a person. One way to identify age can be done through one part of the tooth, that is an pulp cavity. The growth of the dental pulp cavity will further narrow with the increasing human age. Identifying age through teeth can be done with radiographic techniques, to support the identification of age through the teeth with image processing, the researcher performs panoramic radiographic image processing with Adaptive Region Growing Approach image segmentation method. The results of this study resulted in a system accuracy of 63% of 47 data tested for 7 age classes as well as 17% of 47 data tested for 15 age classes. The result is obtained by changing the parameter values in Adaptive Region Growing Approach method Keywords: Pulp, Adaptive Region Growing Approach
Identifikasi Jenis Kelamin Berdasarkan Teraan Gigitan Berbasis Pengolahan Citra Digital Dengan Metode Discrete Wavelet Transform (dwt) Dan Klasifikasi K-nearest Neighbor (knn) Ibrahim Adilla; Bambang Hidayat; Yuti Malinda
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Forensik merupakan bidang ilmu pengetahuan yang membantu proses individu untuk kepentingan hukum. Bite mark adalah bekas gigitan yang terdapat pada organ tubuh korban dan pelaku kriminal. Hal ini banyak di temukan pada kasus kekerasan, pemerkosaan dan penganiyayaan anak. Adapun hambatan untuk proses identifikasi bite mark yaitu prosesnya yang membutuhkan waktu lama dan untuk menganalisisnya dengan menggunakan kasat mata. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan pengolahan citra pola bite mark untuk mendapatkan ketepatan identifikasi jenis kelamin pelaku atau korban kriminalitas dengan membutuhkan waktu yang cepat. Pada Tugas Akhir ini, sistem mampu melakukan identifikasi citra pola bitemark menjadi sebuah keluaran berupa jenis kelamin pelaku dan korban kriminalitas. Klasifikasi ciri pada tugas akhir ini menggunakan metode Discrete Wavalet Transform (DWT) selanjutnya menggunakan metode klasifikasi K-Nearest Neighbor (KNN). Nilai akurasi terbesar pada pengujian ini yaitu 82,9787% dengan waktu komputasi 0,7078s. Parameter jarak kaninus menunjukan bahwa jarak kaninus perempuan lebih kecil 0,95% dibanding jarak kaninus laki-laki. Dengan metode ektrasi ciri DWT menggunakan level dekomposisi 5 dan filter LL. Sedangkan pada proses klasifikasi K-NN jenis distance terbaik yang bisa digunakan adalah Euclidean dan nilai k = 1. Ukuran citra yang digunakan 800x1600 piksel. Kata kunci: Forensik, Bite Mark, Discrete Wavalet Transform, K-Nearest Neighbor Abstract Forensic is a field of science that helps the individual process for the benefit of the law. Bite marks are bite mark found on victim’s organs and criminals. It is mostly found in cases of violence, rape and child abuse. The obstacles to the bite mark identification process is the process that takes a long time and to analyze it by using the invisible. Therefore, it is imperative that bite mark pattern image processing be used to obtain accurate identification of sex of the perpetrator or the victim of crime by taking a short time. In this Final Project, the system is able to identify bite mark pattern image into an output in the form of sex of the pepetrator and the victim of crime. The classification feature in this final project using Discrete Wavelet Transform (DWT) next uses the K-Nearest Neighbor (K-NN) classification method. The greatest accuracy value in this test is 82,9787% with computation time 0,7078s. The canine distance parameter shows that the female canine distance is 0,98% smaller than the male canine distance. Method characteristic DWT using decompotition level 5 and LL filter. While in the process of classification K-NN type of the best distance that can used is Euclidean and value k=1. Image size used 800x1600 pixel. Keywords : Forensic, Bite Mark, Discrete Wavalet Transform, K-Nearest Neighbor
Identifikasi Pola Sidik Bibir Pada Identitas Manusia Menggunakan Metode Gray Level Co-occurrence Matrix Dan Local Binary Pattern Dengan Klasifikasi Decision Tree Pattern Sebagai Aplikasi Bidang Forensik Biometrik Angrinda Kharisma Putri; Bambang Hidayat; Yuti Malinda
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses identifikasi pada individu dilakukan dengan dua metode yaitu identifikasi primer dan sekunder. Sidik bibir menjadi identifikasi sekunder jika pemeriksaan pada identifikasi primer tidak mendapatkan hasil yang akurat. Sidik bibir memiliki pola yang unik dan stabil dan tidak berubah seiring bertambahnya umur individu. Penelitian ini menggunakan metode ekstraksi ciri Gray Level Co-Occurrence Matrix (GLCM) dan metode Local Binary Pattern (LBP) dengan klasifikasi ciri Decision Tree. Citra latih yang digunakan berjumlah 50 dan 36 citra uji. Penelitian ini bertujuan untuk memudahkan proses identifikasi kepemilikan sidik bibir yang merupakan hasil kerjasama Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran dengan mahasiswa Universitas Telkom. Hasil dari penelitian ini didapatkan metode terbaik adalah GLCM dengan nilai akurasi sebesar 83,3333% menggunakan parameter orde dua energi, korelasi, homogenitas, kontras dan 8 level kuantisasi. Pada LBP dihasilkan akurasi sebesar 61,1111% dengan radius R=1 dengan masing-masing metode menggunakan klasifikasi Decision Tree. Kata Kunci: Odontologi Forensik, Biometrik, Sidik Bibir, Gray Level Co-Occurrence Matrix, Local Binary Pattern, Decision Tree Abstract The process of identification in individual work with two methods, primary and secondary identification. Lip print becomes secondary identification if examination on primary identification does not get accurate results. Lip print has a unique and stable pattern and does not change with the age of the individual. This research uses extraction method of Gray Level Co-Occurrence Matrix (GLCM) and Local Binary Pattern (LBP) method with Decision Tree classification. The training images that is used amounted to 50 and 36 images of testing data. This research aims to facilitate the identification ownership process of lip prints that obtained a collaboration between Dentistry Faculty of Padjadjaran University and students of Telkom University. The results of this research obtained the best method is GLCM with accuracy value equal to 83.33333% using the second order parameter; energy, correlation, homogeneity, contrast and 8 quantization levels. The LBP results equal to 61.1111% with radius R = 1 with each method using the Decision Tree classification. Keywords: Odontology Forensic, Biometric, Lip Print Pattern, Gray Level Co-Occurrence Matrix, Local Binary Pattern, Decision Tree
Identifikasi Pola Sidik Bibir Pada Identitas Manusia Menggunakan Metode Histogram Of Oriented Gradients (hog) Dengan Klasifikasi Decision Tree Untuk Aplikasi Bidang Forensik Biometrik Janah Eka Widiarni; Rita Purnamasari; Yuti Malinda
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kasus kriminalitas di Indonesia meningkat setiap tahunnya. Odontologi forensik adalah cabang ilmu kedokteran gigi dimana identifikasi dilakukan di area gigi dan sekitarnya sebagai keperluan penegakan hukum, untuk mempermudah penyelidikan korban maupun pelaku kejahatan. Proses identifikasi individu dapat dilakukan dengan berbagai cara salah satunya dengan menggunakan pola sidik bibir. Karena pola sidik bibir bersifat permanen serta memiliki pola yang unik berbeda antara orang yang satu dengan yang lainnya. Pada penelitian Tugas Akhir kali ini, penulis melakukan perancangan serta analisis sistem aplikasi pengolahan citra digital pada pola sidik bibir dengan menggunakan metode ekstraksi ciri Histogram of Oriented Gradients (HOG) dan klasifikasi Decision Tree yang dituangkan kedalam software MATLAB. Hasil penelitian Tugas Akhir ini adalah suatu sistem yang mampu identifikasi pola sidik bibir pada identitas manusia. Sistem tersebut menghasilkan performansi terbaik dengan tingkat akurasi sebesar 82.14% dengan waktu komputasi selama 1.15 detik dengan menggunakan 336 data latih dan 84 data uji. Hasil sistem tersebut didapatkan dari kolaborasi parameter HOG yaitu Cell Size 4x4, Block Size 2x2, dan Bin Numbers 9. Kata Kunci : Odontologi Forensik, Identifikasi, sidik bibir, Histogram of Oriented Gradients, Decision Tree Abstract Criminal cases in Indonesia are increasing every year. Forensic odontology is a branch of dentistry where identification is carried out in the area of the tooth and its surroundings as a law enforcement requirement, to facilitate the investigation of victims and perpetrators. The process of identifying individuals can be done in various ways, one of which is by using lip print patterns. Because the lip print pattern is permanent and has a unique pattern that is different from one person to another. In this final assignment research, the author designs and analyzes the system of digital image processing applications on lip print patterns using the feature extraction method Histogram of Oriented Gradients (HOG) and classification of Decision Tree which is poured into MATLAB software. The results of this research is a system that is able to identify lip print patterns in human identify. The system produces the best performance with an accuracy of 82,14% with coputation time of 1.5 seconds by using 336 training data and 84 testing data. The results of the system are obtained from the collaboration HOG parameters, Cell Size 4x4, Block Size 2x2 and Bin Numbers 9. Keywords: Forensic Odontology, Identification, lip prints, Histogram of Oriented Gradients, Decision Tree.
Potential of palatal rugae patterns and index fingerprint as forensic identification tools in the Deutro-Malay Subrace: cross-sectional study Kancana, Sildha Pura; Shalihah, Desyani; Malinda, Yuti; Zakiawati, Dewi; Supian, Sudradjat; Oscandar, Fahmi
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 7, No 2 (2023): June 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v7i2.41920

Abstract

ABSTRACTIntroduction: Palatine rugae and fingerprints have unique pattern for each individual and have been proven to be used to support forensic identification. The fingerprint identification process can be difficult if the postmortem data is damaged. Palatine rugae have stable and accurate postmortem data but antemortem data are not yet available. This study aimed to analyze the potential of palatine rugae pattern and fingerprints as a means of forensic identification. Methods: This research was conducted in a correlational analysis on 191 Deutro-malay sub races aged 18-25 years. Samples of index and Index finger fingerprints were taken using an FM200 sensor and Zsoft Attendance software. Palatine rugae prints were obtained using occlusal photographs from a 70D DSLR camera. The pattern of both shapes was analyzed using the ImageJ application. Results: The most common pattern of rugae and fingerprints is a combination of the pattern of the rugae palatine curve and the pattern of the loop fingerprint (C-L). Both have a distinctive characteristic of recurving ridges. The pattern of the palatine rugae curve (C) was (25.5%) and the pattern of the Loop print (L) was (51%) on the index finger. Based on statistical analysis, with an error rate of 5%, there was a significant relationship between the 1st right rugae and right index finger (p=0.0004), and right index finger (p=0.005), 2nd left rugae with right index finger (p=0.0092) and 1st right rugae with left index finger (p=0.033). Conclusion: There is a relationship between the pattern of the index and index finger fingerprints with the shape pattern of palatine rugae. These findings can be used as a reference for the development of forensic odontology identification techniques.Keywords: ImageJ, forensic odontology, fingerprints, palatine rugae.Potensi pola bentuk rugae palatina dan sidik jari telunjuk sebagai sarana identifikasi forensik pada sub ras Deutro Melayu: studi cross-sectionalABSTRAKPendahuluan: Rugae palatina dan sidik jari memiliki pola khas setiap individu dan terbukti bisa digunakan sebagai penunjang identifikasi forensik. Proses identifikasi sidik jari bisa sulit dilakukan apabila data postmortem rusak. Rugae palatina memiliki data postmortem yang stabil dan akurat namun belum tersedia data antemortem. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis potensi pola bentuk rugae palatina dan sidik jari sebagai sarana identifikasi forensik. Metode: Jenis penelitian dilakukan secara analitis korelasional pada 191 orang subras Deutero Melayu berusia 18-25 tahun. Sampel sidik jari telunjuk diambil menggunakan alat sensor FM200 dan software Zsoft Attendance. Sidik rugae palatina diperoleh menggunakan foto oklusal dengan kamera DSLR 70D. Pola bentuk keduanya dianalisis menggunakan aplikasi ImageJ. Hasil: Pola bentuk rugae dan sidik jari terbanyak adalah kombinasi pola bentuk rugae palatina. Curve dan pola sidik jari Loop (C-L). Keduanya memiliki karakteristik khas berupa recurving ridge.  Pola bentuk rugae palatina Curve (C) (25,5%) dan pola bentuk sidik Loop (L) (47,5%) pada telunjuk (51%). Berdasarkan analisis statistik, dengan taraf kesalahan 5% terdapat hubungan yang signifikan antara rugae ke-1 kanan dan telunjuk kanan (p=0,0004), rugae ke-1 kiri dengan telunjuk kanan (p=0,005), rugae ke-2 kiri dengan telunjuk kanan (p=0,0092) serta rugae ke-1 kanan dengan telunjuk kiri (p=0,033). Simpulan: Terdapat hubungan antara pola bentuk sidik jari telunjuk dengan pola bentuk rugae palatina. Temuan ini dapat menjadi acuan pada pengembangan teknik identifikasi forensik odontologKata kunci: ImageJ, forensik odontologi, rugae palatina, sidik jari.
Compliance evaluation of dental students in orthodontic clinic towards patient safety: observational study Wilam, Christiana; Harsanti, Andriani; Prisinda, Diani; Malinda, Yuti; Suciati, Ame
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 7, No 2 (2023): June 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v7i2.40507

Abstract

 ABSTRACTIntroduction: Orthodontic clinic Universitas Padjadjaran Dental Hospital (RSGM Unpad) is an outpatient unit that provides services and treatment for malocclusion as one of the five biggest diseases at RSGM Unpad in 2021. Improving the quality of services at the orthodontic clinic by implementing patient safety standards need to be done to improve public health. The purpose of this study was to evaluate the compliance of dental students in orthodontic clinic RSGM Unpad towards patient safety. Methods: The type of research used was descriptive observational research with a purposive sampling technique and a total sample of 87 health workers was obtained. The data collection technique was carried out by observing and evaluating 87 health workers at the Orthodontic Polyclinic of RSGM Unpad in March - April 2022 using an assessment rubric. Results: The results of six quality indicators to determine compliance towards patient safety are: Patient identification compliance is 31.03%; Outpatient waiting time is 30 minutes; National formulary compliance cannot be determined; (4) Hand hygiene compliance is 12.64%; Clinical pathway compliance is 83.33%; Personal Protective Equipment compliance is 13.79%. Conclusion: Compliance evaluation of dental students in orthodontic clinic RSGM Unpad towards patient safety for outpatient waiting time compliance is compliant, and for patient identification compliance, hand hygiene compliance, clinical pathway compliance and Personal Protective Equipment compliance are non-compliant, while compliance with the use of the national formulary cannot be determined.KEY WORDS: compliance, dental students, patient safety, orthodontic clinicEvaluasi kepatuhan peserta didik klinik ortodonti terhadap keselamatan pasien: studi observasionalABSTRAK     Pendahuluan: Poliklinik ortodonti Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran (RSGM Unpad) merupakan unit rawat jalan yang menyediakan pelayanan dan perawatan maloklusi sebagai salah satu dari lima penyakit terbesar di RSGM Unpad pada tahun 2021. Peningkatan mutu pelayanan di poliklinik ortodonti dengan cara menerapkan standar keselamatan pasien perlu dilakukan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Tujuan dari penelitian ini untuk mengevaluasi kepatuhan tenaga kesehatan terhadap keselamatan pasien di poliklinik ortodonti Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional deskriptif dengan teknik purposive sampling dan didapatkan jumlah sampel sebanyak 87 tenaga kesehatan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan melakukan pengamatan dan penilaian terhadap 87 tenaga kesehatan di Poliklinik Ortodonti RSGM Unpad pada bulan Maret – April tahun 2022 menggunakan rubrik penilaian. Hasil: Hasil dari enam indikator mutu untuk mengetahui kepatuhan terhadap keselamatan pasien adalah sebagai berikut: Kepatuhan identifikasi pasien sebesar 31,03%; Waktu tunggu rawat jalan sebesar 30 menit; Kepatuhan penggunaan formularium nasional yang tidak dapat ditentukan kepatuhannya; Kepatuhan kebersihan tangan sebesar 12,64%; Kepatuhan terhadap clinical pathway sebesar 83,33%; Kepatuhan terhadap penggunaan APD sebesar 13,79%. Simpulan: Evaluasi kepatuhan tenaga kesehatan terhadap keselamatan pasien di poliklinik ortodonti RSGM Unpad pada indikator kepatuhan waktu tunggu rawat jalan adalah patuh dan pada indikator kepatuhan identifikasi pasien, kepatuhan kebersihan tangan, kepatuhan terhadap clinical pathway dan kepatuhan penggunaan APD adalah tidak patuh, sedangkan kepatuhan penggunaan formularium nasional tidak dapat ditentukan.KATA KUNCI: kepatuhan, tenaga kesehatan, keselamatan pasien, pelayanan ortodonti
Differences in the reduction of bioaerosol bacterial colonies in preprocedural oral rinse using chlorhexidine gluconate 0,2% and povidone iodine 1% during ultrasonic scaling procedure: Experimental study Khairiah, Arifatul; Malinda, Yuti; Suciati, Ame
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 8, No 2 (2024): June 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v8i2.56096

Abstract

ABSTRACTIntroduction: Dentists frequently come into direct or indirect contact with microorganisms from patients. Bioaerosols are formed during dental procedures involving rotary instruments. Infection control measures in dental practice are crucial to prevent cross-infection. Preprocedural oral rinsing is an infection control measure performed on patients before clinical procedures. This study aims to evaluate the difference in the reduction of bacterial bioaerosol counts using 0.2% Chlorhexidine Gluconate (CHX) and 1% Povidone Iodine (PV) as preprocedural oral rinses. Methods: The study used an experiment with a randomized controlled clinical trial (RCT) method involving 14 systemically healthy scaling patients diagnosed with gingivitis. Agar plates were positioned in three locations: the patient's chest, the dentist, and the assistant. Ultrasonic scaling was performed for 5 minutes without rinsing. Subjects were divided into two groups: patients who rinsed with 0,2% CHX and patients rinsing with 1% PV for 30 seconds. Agar plates were placed in the same three locations, and ultrasonic scaling was continued for 5 minutes. The agar plates were incubated at 36°C for 24 hours, and bacterial colonies were counted. Results: The number of bioaerosol bacterial colonies on agar plates placed on the patient's chest and the assistant decreased after rinsing with 0.2% CHX and 1% PV. Chlorhexidine gluconate reduced bacterial colonies by 17,11%, while povidone iodine increased it by 3,19%. There was a significant difference before and after rinsing with 0,2% CHX at all locations (p<0.05), while 1% PV showed no significant difference (p=0,182). Conclusion: Rinsing with 0,2% Chlorhexidine Gluconate reduces the number of bacterial bioaerosol colonies during ultrasonic scaling compared to povidone iodine.KEY WORDS: bioaerosol, preprocedural oral rinse, mouth rinses, ultrasonic scalingPerbedaan penurunan jumlah bakteri bioaerosol dalam tindakan preprocedural oral rinse menggunakan klorheksidin glukonat 0,2% dan povidone iodine 1% pada prosedur skeling ultrasonikABSTRAKPendahuluan: Dokter sering kali bersentuhan langsung atau tidak langsung dengan mikroorganisme dari pasien.Bioaerosol terbentuk selama prosedur gigi yang melibatkan rotary instrument. Langkah-langkah pengendalian infeksi dalam praktik kedokteran gigi sangat penting untuk mencegah infeksi silang. Preprocedural oral rinse merupakan salah satu langkah pengendalian infeksi yang dilakukan pada pasien sebelum tindakan klinis.Penelitian ini bertujuan menilai perbedaan penurunan jumlah bakteri bioaerosol dalam tindakan preprocedural oral rinse menggunakan Klorheksidin Glukonat (CHX) 0,2% dan Povidone Iodine (PV) 1%. Metode: Penelitian eksperimen dilakukan menggunakan metode randomized controlled clinical trials (RCT) yang melibatkan 14 subjek pasien skeling yang sehat secara sistemik dengan diagnosis gingivitis. Lempeng agar diposisikan di tiga lokasi yaitu, dada pasien, dokter gigi, dan asisten. Kemudian dilakukan skeling ultrasonik selama 5 menit tanpa berkumur. Subjek dibagi menjadi dua kelompok yaitu, pasien yang berkumur dengan CHX 0,2% dan pasien yang berkumur dengan PV 1% selama 30 detik. Lempeng agar ditempatkan pada tiga lokasi yang sama, dan skeling ultrasonik dilanjutkan selama 5 menit. Lempeng agar diinkubasi pada suhu 36°C selama 24 jam dan koloni bakteri yang terbentuk dihitung. Hasil: Jumlah koloni bakteri bioaerosol pada lempeng agar yang ditempatkan di dada pasien dan asisten menurun setelah berkumur dengan CHX 0,2% dan PV 1%. Klorheksidin glukonat menurunkan jumlah koloni bakteri sebesar 17,11%, sementara povidon iodine meningkat 3,19%. Terdapat perbedaan signifikan sebelum dan sesudah berkumur CHX 0,2% di semua lokasi (p<0,05), sedangkan PV 1% tidak menunjukkan perbedaan signifikan (p=0,182). Simpulan: Berkumur dengan klorheksidin glukonat 0,2% dapat menurunkan jumlah koloni bakteri bioaerosol saat skeling ultrasonik dibandingkan povidone iodine.KATA KUNCI: bioaerosol, preprocedural oral rinse, obat kumur, skeling ultrasonik    
Co-Authors - Azhari Agre Liana Bella Clara Ame Suciati Setiawan Ame Suciati, Ame Andriani Harsanti, Andriani Angrinda Kharisma Putri Azhara, Dea Hanin Bambang Hidayat Cunningham, Craig A Dewi Zakiawati, Dewi Diani Prisinda Dimas Anugrah Putra Diny Hafizha Amelia Dita Kusuma Wardani Elfiyatinnufus, Rifqiyah Endah Mardiati Endah Mardiati, Endah Erna Herawati Fahmi Oscandar Fahmi Oscandar Fahmi Oscandar, Fahmi Farah Hana Kusumaputri Firstady Widyarnan Munandar Fitri Rahmadhanti Nurfajrina haifa nawari, bilqis Harnung, Kartikaning Hasna Nur Afina Hidayat, Septian Rahmat Hilda Hindasah Hindrya Meidina Fresty I Putu Aditya Widiatama Ibrahim Adilla Indah Suasani Wahyuni Indra Mustika Setia Pribadi Indra Mustika SP, Indra Inne Suherna Sasmita Intan Melani Irene Dewi Kurniawati Janah Eka Widiarni Kancana, Sildha Pura Khairiah, Arifatul Laut, Deru Marah Lusi Epsilawati Lutfi Yondri Lutfi Yondri Melani, Intan Mieke Hemiawati Satari Mieke Hemiawati Satari Munandar, Firstady Widyarnan Murnisari Dardjan Murnisari Dardjan, Murnisari Nanan Nur&#039;aeny Nanan Nur’aeny Nani Murniati Nina Djustiana Nugraha, Alhana Nur, Muhammad Arfianto Nur, Muhammad Arfianto Paham, Aulia Narendra Mohamad Prasetyo Tri Herlambang Putri, Chany Mony Dwiayu Ramadhani, Triane Ayu Restu Pujiyanti Hidayat Riani Setiadhi Rita Purnamasari Salsabila, Syifa Ainun Fatiha Saputra, Sintia Sarilita, Erli Setiadi, Desyani Shalihah, Desyani Sintia Saputra Soo, Sheng Cheng Sri Mulyanti Sri Tjahajawati, Sri Supian, Sudradjat Suryo Adhi Wibowo Syafiq, Ikram Syelanisa Nabilla Ulfah Utami Vasya Aulia Wahyu Hidayat Wilam, Christiana Wisam Rizqullah Yoni Fuadah Syukriani Yurika Ambar Lita