Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search
Journal : Flourishing Journal

Cyberbulllying pada Remaja Ditinjau dari Berbagai Tipe Kepribadian Doni Irawan; Tri Atika Melya. B; Raissa Dwifandra Putri
Flourishing Journal Vol. 3 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i12023p22-32

Abstract

The rapid of technological developments has brought many changes in society, including the development of information and communication technology. This also bring many impact to society, not only positive impact but also a negative impact, such as cyberbullying behavior which is increasingly prevalent, especially during adolescence. This happens because the adolescent phase is a phase where many changes are experienced by humans. In addition, the existence of various personalities in many people makes this act of cyberbullying easier to understand from various perspectives. The purpose of this study is to review cyberbullying behavior from various personality perspectives in adolescents. The method used in this study is a literature study in which this method aims to elaborate various opinions or previous studies regarding cyberbullying. So that various theories or perspectives are obtained which explain that the emergence of cyberbullying behavior can arise from various aspects that exist in humans.Abstrak Pesatnya perkembangan teknologi banyak membawa perubahan di masyarakat, termasuk juga perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Hal ini turut membawa berbagai dampak bagi masyarakat, tidak hanya dampak baik tetapi juga dampak buruk seperti adanya perilaku cyberbullying yang semakin marak terjadi, khususnya pada masa remaja. Hal ini terjadi karena fase remaja merupakan fase dimana banyak sekali perubahan yang dialami oleh manusia. Selain itu, adanya berbagai kepribadian pada setiap orang banyak menyebabkan tindakan cyberbullying ini menjadi lebih mudah untuk dipahami dari berbagai macam perspektif. Tujuan dari studi ini ialah untuk meninjau perilaku cyberbullying dari berbagai perspektif kepribadian pada remaja. Metode yang digunakan dalam studi ini ialah studi literatur yang mana metode ini bertujuan mengelaborasikan berbagai pendapat atau studi terdahulu mengenai cyberbullying. Sehingga didapat berbagai teori atau perspektif yang menjelaskan bahwa munculnya perilaku cyberbullying dapat muncul dari berbagai aspek yang ada pada diri manusia.
Ujaran Kebencian dalam Perspektif Teori Kepribadian dalam Psikologi Amelia; Nafidatul Mauliyah; Raissa Dwifandra Putri
Flourishing Journal Vol. 3 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i22023p61-73

Abstract

The development of social media makes it easy to communicate remotely. Apart from making it easier, social media is often used by some individuals to express anger in the form of utterances of hate towards others. Hate speech is a derogatory speech about personal or group characteristics, such as race, religion, gender, or even sexual orientation. Various factors can underlie this behavior. Meanwhile, the purpose of this study is to examine hate speech from the perspective of personality theory in psychology. The method used for data collection is a literature study. The results of this study indicate that hate speech can occur as a form of expression of emotions and conflicts that are not resolved in a person's subconscious mind. These unresolved conflicts and emotions lead to anxiety and psychological distress. Hate speech can appear as a form of a defense mechanism known as displacement. In addition, hate speech can also be done only for personal pleasure (trolling). This is used by individuals because their basic needs to feel safe and valued in everyday life are not met so individuals will develop basic anxiety which eventually leads to compulsive, neurotic, or aggressive behavior patterns, like trolling. Abstrak Perkembangan media sosial memberikan kemudahan untuk berkomunikasi dengan jarak jauh. Selain memudahkan, media sosial sering kali digunakan oleh beberapa individu untuk meluapkan kemarahan dalam bentuk ujaran kebencian kepada orang lain. Ujaran kebencian atau hate speech adalah ucapan yang menghina tentang karakteristik pribadi atau kelompok, seperti ras, agama, jenis kelamin, atau bahkan orientasi seksual. Beragam faktor dapat mendasari perilaku ini. Adapun, tujuan penelitian ini adalah mengkaji ujaran kebencian dalam perspektif teori kepribadian dalam psikologi. Metode yang digunakan untuk pengumpulan data yaitu studi literatur. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ujaran kebencian dapat terjadi sebagai bentuk ekspresi dari emosi dan konflik yang tidak selesai dalam pikiran bawah sadar seseorang. Konflik dan emosi yang tidak terselesaikan ini menyebabkan kecemasan dan tekanan psikologis. Ujaran kebencian dapat muncul sebagai bentuk mekanisme pertahanan yang disebut sebagai pelampiasan (displacement). Selain itu, ujaran kebencian dapat juga dilakukan hanya untuk kesenangan pribadi (trolling). Hal ini digunakan individu sebab kebutuhan dasar mereka akan rasa aman dan dihargai di kehidupan sehari-hari tidak terpenuhi sehingga individu akan mengembangkan kecemasan dasar yang akhirnya memunculkan pola perilaku kompulsif, neurotik, atau agresif salah satunya seperti trolling.
Lanskap Dinamika Skizofrenia: Studi Literatur Terkait Perilaku Pengidap Skizofrenia Aditya Putra Harwanto; Engki Triwahyudi; Raissa Dwifandra Putri
Flourishing Journal Vol. 3 No. 3 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i32023p79-89

Abstract

Schizophrenia is a mental disorder involving all psychological aspects that are quite difficult to observe. One of the factors that can cause this disorder is genetic factors. People with schizophrenia have an increased risk of aggressive behavior. Most people with schizophrenia have behavioral disorder impulses in childhood and brain disorders that indicate abnormal neurological development. The purpose of this study is to examine how the landscape dynamics of behavior occur in schizophrenia sufferers with the aim of readers being able to understand symptoms, impacts, patterns of behavior, to intervention steps for people with schizophrenia disorders. Behavior patterns that usually arise in people with schizophrenia are aggressive, impulsive behavior that begins with the appearance of hallucinations and delusions. People with schizophrenia also have apathetic behavior and tend to be anti-social, they prefer to close themselves to their surroundings. Support from family and the surrounding environment is needed by people with schizophrenia. Based on the results of a literature review, it was found that expressive writing therapy also can be used by people with schizophrenia to deal with stress. AbstrakSkizofrenia merupakan suatu gangguan mental yang melibatkan seluruh aspek psikologis yang cukup sulit diamati. Salah satu faktor yang dapat menyebabkan gangguan ini ialah faktor genetik. Orang dengan gangguan skizofrenia memiliki peningkatan risiko untuk berperilaku agresif. Sebagian besar dari orang pengidap skizofrenia memiliki impuls gangguan perilaku pada masa kanak-kanak dan gangguan otak yang menunjukkan perkembangan neurologis abnormal. Adapun tujuan dari penelitian ini ialah mengkaji mengenai bagaimana lanskap dinamika perilaku yang terjadi pada penderita Skizofrenia dengan tujuan pembaca dapat memahami gejala, dampak, pola perilaku, hingga langkah intervensi pada pengidap gangguan skizofrenia. Pola perilaku yang biasa timbul pada pengidap skizofrenia adalah adanya perilaku agresif, impulsif yang diawali dari munculnya halusinasi serta delusi. Pengidap skizofrenia juga memiliki perilaku apatis serta cenderung anti-sosial, mereka lebih suka menutup diri pada lingkungan sekitarnya. Dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar sangat dibutuhkan oleh pengidap skizofrenia. Berdasarkan hasil kajian literatur juga didapatkan bahwa terapi expressive writing dapat digunakan para pengidap skizofrenia dalam mengatasi stres.
Wewenang atau Otoritas dan Kekerasan Seksual Dikaji melalui Teori Kepribadian Mochammad Rafli Aditya Cahyadi; Natasya Azahra; Raissa Dwifandra Putri
Flourishing Journal Vol. 3 No. 5 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i52023p162-174

Abstract

Sexual violence is a coercive and harmful sexual activity for the victim. Data shows that sexual violence remains a serious problem in Indonesia and worldwide. Perpetrators of sexual violence often hold higher authority or power than the victims. This research aims to explore the correlation between authority or power and sexual violence, examining it through psychological factors using the framework of personality theories. The research employs a literature review method. The findings indicate that sexual violence is correlated with the authority or power held by the perpetrators. It is influenced by feelings of inferiority and superiority, as well as the perpetrators' failure to manage the principles of pleasure and reality. Perpetrators of sexual violence tend to have low scores in openness, indicating a lack of adherence to social norms. This study identifies new variables closely related to sexual violence, such as gender, culture, and social environment. The feelings of inferiority and superiority arise due to deeply rooted patriarchal cultures and social environments that do not prioritize the well-being of the victims. AbstrakKekerasan seksual merupakan aktivitas seksual yang bersifat memaksa dan merugikan korban. Data menunjukkan bahwa kekerasan seksual masih merupakan masalah serius baik di dunia maupun di Indonesia. Pelaku kekerasan seksual seringkali memiliki wewenang atau otoritas yang lebih tinggi dibandingkan dengan korban. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi korelasi antara wewenang atau otoritas dengan perilaku kekerasan seksual yang ditelaah dari faktor-faktor psikologis menggunakan kerangka teori kepribadian. Penelitian ini menggunakan metode literature review. Berdasarkan studi literatur yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa kekerasan seksual berkorelasi dengan wewenang atau otoritas yang dimiliki oleh pelaku. Kekerasan seksual dipengaruhi oleh perasaan inferior dan perasaan superior yang dimiliki pelaku kekerasan seksual. Perasaan inferior dan superior yang ada timbul karena adanya budaya patriarki yang sudah mengakar, dan lingkungan sosial yang kurang berpihak pada korban. Selain itu, perilaku kekerasan seksual juga dipengaruhi oleh kegagalan pelaku dalam mengelola prinsip kesenangan dan prinsip realitasnya. Pelaku kekerasan seksual didapatkan cenderung memiliki skor openness yang rendah karena kurang terbuka terhadap norma sosial. Selain wewenang atau otoritas, kekerasan seksual juga berhubungan dengan faktor – faktor lain seperti gender, budaya, dan lingkungan sosial.
Empati dan Cyberbullying pada Remaja Pengguna Media Sosial: Sebuah Kajian Literatur Ahya Ghina Qolbya; Aleissya Sahira Siswandi; Raissa Dwifandra Putri
Flourishing Journal Vol. 3 No. 9 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i92023p352-359

Abstract

The many emerging social media features and easy access when using them have made the younger generation interested in using social media. However, excessive use of social media or the internet cannot be separated from the risk of being involved in cyberbullying behavior. There are many factors that influence the occurrence of cyberbullying, starting from external factors such as the use of social media, and school climate. Apart from external factors, internal factors within an individual can also be a risk factor for involvement in cyberbullying, such as a feeling of empathy. This lack of empathy will later influence individuals to carry out cyberbullying. The aim of this research is to explore more deeply the relationship between empathy and cyberbullying in adolescent social media users. The method used is literature study by collecting various information through books, journals, and official websites to obtain the necessary data, which is then analyzed by combining, selecting, sorting, and comparing data from previous research. The results obtained indicate that there is a link between low empathy scores and adolescent cyberbullying behavior. Individuals with low empathy scores will tend to feel less guilty about their behavior in bullying others on social media. AbstrakPada era saat ini tidak dapat dipungkiri perkembangan teknologi dan informasi semakin hari semakin pesat. Banyaknya fitur media sosial yang bermunculan dan mudahnya akses ketika menggunakannya membuat generasi muda tertarik menggunakan media sosial. Namun, penggunaan media sosial ataupun internet yang berlebih tidak terlepas dari risiko terlibatnya dalam perilaku cyberbullying. Ada banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya cyberbullying, mulai dari faktor eksternal seperti penggunaan media sosial, dan iklim sekolah. Selain faktor eksternal, faktor internal dalam individu juga dapat menjadi faktor risiko dari keterlibatan dalam cyberbullying, misalnya rasa empati. Ketiadaan rasa empati ini nantinya akan mempengaruhi individu dalam melakukan cyberbullying. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengeksplorasi lebih dalam hubungan empati dengan cyberbullying pada remaja pengguna media sosial. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan cara mengumpulkan berbagai informasi melalui buku, jurnal, dan website resmi hingga mendapat data yang diperlukan kemudian dianalisis dengan penggabungan, pemilihan, pemilahan, dan perbandingan data hasil penelitian sebelumnya. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara skor empati yang rendah dengan perilaku cyberbullying remaja. Individu dengan skor empati yang rendah ini akan cenderung kurang memiliki perasaan bersalah atas perilakunya dalam merundung orang lain di media sosial.
Dampak Video Pendek Terhadap Perkembangan Kognitif dan Bahasa pada Masa Early Childhood Andini Eka Putri; Fraditya Lexcy Aurilio; Muhammad Sifa Alayubi; Raissa Dwifandra Putri
Flourishing Journal Vol. 4 No. 5 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i52024p232-244

Abstract

Short videos are increasingly popular throughout the world because they can be accessed easily and consumed by various groups, one of which is young children. Early childhood is the developmental period from 0 to 6 years old, which is the golden age for cognitive and language growth. The aim of this research is to determine the impact of short videos on the cognitive and language development of early childhood. This research uses a qualitative approach with a literature review method, by describing the positive and negative impacts of short videos. The results found that the positive impact of short videos on children's cognitive development is that children can develop their creativity, train their memory, develop their curiosity, increase attention and concentration, improve their writing skills, process words, and for language development children will acquire new vocabulary from short content. the video. The negative impact of short videos on children's cognitive development is that children's brain health will be disrupted due to negative viewing in the form of pornography and violence. Meanwhile, the negative impact on language development can result in children acquiring new, negative vocabulary. AbstrakVideo pendek semakin populer diseluruh dunia karena dapat diakses dengan mudah dan dikonsumsi oleh berbagai kalangan, salah satunya merupakan anak usia dini. Anak usia dini adalah masa perkembangan dari usia 0 hingga 6 tahun, yang mana merupakan masa keemasan bagi pertumbuhan kognitif dan bahasa. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dampak dari video pendek terhadap perkembangan kognitif dan bahasa anak usia dini. Pada penelitian ini menggunakkan pendekatan kualitatif dengan metode literatur review, dengan mendeskripsikan dampak positif dan negatif dari video pendek. Hasil yang ditemukan bahwa dampak positif dari video pendek terhadap perkembangan kognitif anak yaitu anak bisa mengembangkan kreativitasnya, melatih daya ingat, mengembangkan keingintahuannya, meningkatkan perhatian dan konsentrasi, meningkatkan kemampuan menulis, mengolah kata, dan untuk perkembangan bahasa anak akan memperoleh kosakata baru dari konten short video tersebut. Pada dampak negatif video pendek terhadap perkembangan kognitif anak berupa kesehatan otak anak akan terganggu diakibatkan tontonan yang negatif berupa pornografi dan kekerasan. Sedangkan dampak negatif terhadap perkembangan bahasa bisa membuat anak mendapat kosakata baru yang negatif.
Dampak Penggunaan Screen Media dalam Perkembangan Bahasa dan Kognitif Masa Early Childhood: Kajian Literatur Aqila Permata Amara Danish; Peta Lima Ladina; Reza Adam Arrahman; Raissa Dwifandra Putri
Flourishing Journal Vol. 4 No. 6 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i62024p255-265

Abstract

In today's rapidly evolving era, social media usage has become commonplace, even for young children who already starting to use gadgets and engage with various media. This can significantly impact their development, especially during their golden age when they are highly receptive to stimuli that can influence their growth. This research explores the impact of screen media usage on language and cognitive development in early childhood. The approach involves a literature review of reputable journals in the field. The findings indicate that excessive screen media consumption can harm children's language and cognitive development. Overexposure can disrupt social interactions, hinder vocabulary and grammar development, and negatively impact focus and concentration abilities. However, other studies highlight the benefits of moderate and guided screen media usage for children's development. High-quality educational content can aid in learning new languages, grasping new concepts, and enhancing cognitive skills. Therefore, parents must regulate and monitor their children's screen media usage. They should ensure that children engage with screen media within reasonable time limits, consume age-appropriate and educational content, and maintain adequate social interactions. AbstrakDi era yang berkembang pesat seperti sekarang ini, penggunaan media sosial sudah menjadi hal yang lumrah. Hal ini dapat mempengaruhi perkembangan anak, karena bahkan anak usia dini pun sudah mulai menggunakan gadget dan terlibat dengan berbagai media. Terlebih di masa tersebut, anak sedang di berada di fase golden age, yang sudah dapat menangkap stimulus utk perkembangannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi dampak penggunaan screen media dalam perkembangan bahasa dan kognitif pada masa early childhood. Pendekatan yang diambil adalah melalui telaah literatur yang mencakup jurnal-jurnal terpercaya dalam bidang tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa pemakaian media layar secara berlebihan dapat merugikan perkembangan bahasa dan kognisi anak. Pemaparan yang terlalu lama dapat mengganggu interaksi sosial, menghambat perkembangan kosakata dan tata bahasa, serta mempengaruhi kemampuan fokus dan konsentrasi. Namun, ada juga penelitian yang menyoroti manfaat penggunaan media layar secara moderat dan terarah bagi perkembangan anak. Konten edukatif yang berkualitas dapat membantu mereka dalam mempelajari bahasa baru, memahami konsep-konsep baru, dan meningkatkan keterampilan kognitif. Karenanya, penting bagi orang tua untuk mengatur dan mengawasi penggunaan media layar oleh anak-anak mereka. Mereka perlu memastikan bahwa anak-anak menggunakan media layar dalam batas waktu yang wajar, dengan konten yang bermutu, dan mendapatkan interaksi sosial yang memadai.
Perkembangan Bahasa dan Kemampuan Sosial pada Anak Speech Delay Heryanti, Amanda Putri; Yahman, Femas Arifin; Hermawati, Zahra Putri; Putri, Raissa Dwifandra
Flourishing Journal Vol. 4 No. 11 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i112024p530-538

Abstract

Children with speech delay disorders have difficulty expressing their language orally. This can cause difficulties for children to socialize and adapt to their environment. This research was carried out with the aim of exploring language development and social skills in speech delayed children. Literature review is the method used in writing this article. Based on the results of research conducted, results were obtained which showed that language development in speech delayed children tended to have less than perfect pronunciation of certain words and only responded to stimuli with non-verbal responses. The social skills of children who suffer from speech delays will have difficulty adapting to people in their immediate circle, especially in communicating. Factors that cause speech delay include the number of languages spoken, economic and social factors in the family, use of gadgets, and genetic factors. The handling strategies that can be carried out include guiding the child to speak in correct and appropriate language which is done repeatedly, paying attention to the words the child says when speaking, correcting his speech if the child makes mistakes in pronunciation, carrying out oral stimulation, and using the storytelling method as a stimulus to provoke children to talk. AbstrakAnak dengan gangguan speech delay memiliki kesulitan untuk menyatakan bahasanya secara lisan. Hal tersebut dapat menimbulkan kesulitan yang dialami anak untuk bersosialisasi dan beradaptasi dengan lingkungannya. Dilaksanakannya penelitian ini dengan tujuan untuk mengeksplorasi perkembangan bahasa dan kemampuan sosial pada anak speech delay. Literature review menjadi metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini. Bersumber pada hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa perkembangan bahasa pada anak speech delay cenderung memiliki pengucapan kata-kata tertentu yang kurang sempurna dan hanya merespon stimulus dengan respon non-verbal. Kemampuan sosial pada anak yang mengidap terlambat berbicara akan mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan orang-orang di lingkup terdekatnya khususnya dalam berkomunikasi. Faktor penyebab speech delay meliputi banyaknya bahasa yang digunakan, faktor ekonomi dan sosial keluarganya, penggunaan gadget, dan faktor genetik. Adapun strategi penanganan yang bisa dilakukan diantaranya menuntun anak untuk berbicara dengan bahasa yang benar dan tepat yang dilakukan berulang kali, memperhatikan kata yang diucapkan anak ketika berbicara, mengoreksi ucapannya jika anak mengalami kekeliruan dalam penyebutan, melakukan stimulasi oral, dan menggunakan metode bercerita sebagai stimulus untuk memancing anak berbicara.
Pentingnya Peran Lingkungan dalam Perkembangan Sosioemosional pada Anak Usia Middle Childhood Purba, Julia; Sharon, Sofia Ruth; Al Faza, Rajendra Ahmad Dhafin; Putri, Raissa Dwifandra
Flourishing Journal Vol. 4 No. 11 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i112024p545-553

Abstract

The socio-emotional development of children in middle childhood is a crucial stage influenced by family, school, and peer environments. During this period, children begin to show significant improvements in social and emotional abilities and start to understand more complex social concepts such as friendship, conflict, and cooperation. This study aims to explore how various environmental aspects affect the socio-emotional maturity of children during this stage. Through a literature review of various research sources from the past ten years (2014-2024), it was found that secure attachment with parents, especially fathers, plays a significant role in the development of a child's self-esteem. A positive school environment and good relationships between students and teachers support better self-regulation and self-concept, while conflicts with teachers can disrupt a child's self-regulation. Reciprocal friendships among peers contribute to increased self-esteem and empathy. A supportive home environment and positive parenting also play a role in the consistent development of empathy. The conclusion of this study underscores the importance of positive relationships and consistent support from parents, teachers, and peers in shaping the socio-emotional development of children during middle childhood. AbstrakPerkembangan sosioemosional anak usia kanak-kanak menengah merupakan tahap penting yang dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, sekolah, dan teman sebaya. Pada tahap ini, anak-anak mulai menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan sosial dan emosional, serta mulai memahami konsep sosial yang lebih kompleks seperti persahabatan, konflik, dan kerjasama. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana berbagai aspek lingkungan mempengaruhi kematangan sosio emosional anak pada periode ini. Melalui tinjauan literatur dari berbagai sumber penelitian dalam sepuluh tahun terakhir (2014-2024), ditemukan bahwa keterikatan yang aman dengan orang tua, terutama ayah, berperan besar dalam perkembangan self-esteem anak. Lingkungan sekolah yang positif dan hubungan yang baik antara siswa dan guru mendukung regulasi diri dan konsep diri yang lebih baik, sementara konflik dengan guru dapat mengganggu regulasi diri anak. Teman sebaya yang memiliki hubungan persahabatan timbal balik berkontribusi pada peningkatan self-esteem dan empati. Lingkungan rumah yang mendukung dan pengasuhan positif juga berperan dalam perkembangan empati yang konsisten. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan pentingnya hubungan yang positif dan dukungan konsisten dari orang tua, guru, dan teman sebaya dalam membentuk perkembangan sosioemosional anak pada masa kanak-kanak menengah.
Peran Workplace Well-Being dalam Meningkatkan Work Engagement pada Karyawan Di PT X Siswantoro, Gigo Bimby; Putri, Raissa Dwifandra
Flourishing Journal Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v5i12025p21-34

Abstract

Work engagement is an important aspect that employees should possess, as it is one of the factors that can make a company productive. PT X is a growing cigarette distribution company. PT X has significant development potential due to the increasing number of tobacco product users. Therefore, the work engagement of employees is crucial to support productivity at PT X. Workplace well-being is a predictor of work engagement. Thus, this study aims to examine the role of workplace well-being in enhancing work engagement among employees at PT X. This research uses a quantitative method with purposive non-random sampling as the sampling technique. A total of 65 participants, all employees of PT X, were involved in this study. The research instruments used include the Utrecht Work Engagement Scale (UWES) to measure work engagement and the Workplace Well-being Questionnaire (WWQ) to measure workplace well-being. The results show that workplace well-being plays a role in increasing work engagement among employees at PT X, contributing 42.1%. This finding can provide valuable insights for the company to improve employee work engagement through workplace well-being. AbstrakWork engagement merupakan hal penting yang harus dimiliki oleh karyawan. Sebab salah satu hal yang dapat membuat perusahaan menjadi produktif salah satunya karena work engagement karyawan. PT X merupakan salah satu perusahaan distribusi rokok yang sedang berkembang. PT X memiliki banyak potensi pengembangan perusahaan dikarenakan adanya peningkatan pengguna produk hasil tembakau. Sehingga perlunya work engagement yang dimiliki karyawan untuk mendukung produktivitas bagi PT X. Workplace well-being ditemukan menjadi prediktor dari work engagement. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran workplace well-being dalam meningkatakan work engagement pada karyawan PT X. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel ialah purposive non-random sampling. Total partisipan yang terlibat dalam penelitian ini sebesar 65 partisipan yang merupakan karyawan PT X. Instrumen penelitian yang digunakan berupa Utrecht Work Engagement Scale (UWES) untuk mengukur variabel work engagement dan Workplace Well-being Questionnaire (WWQ) untuk mengukur variabel workplace well-being. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peran workplace well-being dalam meningkatkan work engagement pada karyawan di PT X, dengan kontribusi yang diberikan sebesar 42,1%. Sehingga hal ini dapat menjadi masukan bagi perusahaan untuk dapat meningkatkan work engagement karyawan melalui workplace well-being.