Claim Missing Document
Check
Articles

MAKNA DESAIN KARAKTER “SI METON” PADA MASKOT PILKADA NTB TAHUN 2018 Hasbullah, Hasbullah; Santosa, Hendra; Swandi, I Wayan
ANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia Vol. 6 No. 02 (2020): August 2020
Publisher : Dian Nuswantoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/andharupa.v6i02.3440

Abstract

Abstrak Pilkada NTB tahun 2018, media yang digunakan maskot yang bernama “Si Meton”. “Si Meton” sangat penting diteliti, karena diduga ada makna yang termuat melalui kode visualnya. Akan tetapi, makna dan kode tersebut belum tentu dipahami masyarakat NTB. Permasalahan dalam penelitian ini adalah tentang apa makna di balik kode-kode desain karakter “Si Meton”. Tujuan penelitian ini, untuk menganalisis makna melalui bahasa kode dalam “Si Meton”. Metode yang digunakan penelitian ini adalah kualitatif interpretatif dengan landasan teori kode Rolands Barthes. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sumber data dikumpulkan melalui wawancara kepada R. Fany Printi Ardi sebagai desainer “Si Meton”, Ahmad Badrul Ula, suku Sasak sekaligus akademisi dalam  bidang seni budaya  dan Supandri, suku Mbojo sekaligus pengamat media. Teknik analisis dilakukan melalui reduksi data, penyajian dan penarikan kesimpulan. Hasil yang dicapai berupa makna-makna pada desain karakter “Si Meton” dilihat melalui bahasa kode proairetik dan kode budaya. Kesimpulannya, makna dilihat berdasarkan kode proairetik, terlihat tinta biru pada jari kelingking tangan kanan serta tangan kiri karakter “Si Meton”yang memasukkan kertas kedalam kotak suara sebagai makna promosi. Sedangkan dalam kode budaya terdapat pada ikon menjangan dan simbol pakaian adat pria Suku Sasak yang sebagai makna pengendali. Kata Kunci: Desain Karakter, Kode, Makna, Maskot, Pilkada NTB, Si Meton AbstractNTB elections in 2018, the media used by the mascot named Si Meton. Si Meton is very important to research because it suspected that there was a meaning that comes through the visual code. However, the interpretation and code are not necessarily intelligible by the people of NTB. The problem in this research is about what is the meaning behind the "Si Meton" character design codes. The purpose of this study, to analyze the meaning through code language in Si Meton. The method used in this research is interpretative qualitative based on Rolands Barthes code theory. Data collection techniques performed through observation, interviews, and documentation. Data sources collected through interviews with R. Fany Printi Ardi as Si Meton designer, Ahmad Badrul Ula, Sasak tribe as well as academics in the field of arts and culture and Supandri, Mbojo tribe as well as media observers. The analysis technique performed through data reduction, presentation, and conclusion drawing. The results achieved in the form of meanings on the Si Meton character design seen through the language of Proairetic codes and cultural codes. In conclusion, the mean is seen based on the Proairetic code, visible blue ink on the little finger of the right hand and left hand of Meton character who put the paper into the ballot box as a promotional meaning. Whereas in the cultural code contained in the icon and the symbol of traditional clothing on Sasak tribe men as the controller meaning.  Keywords: Character Design, Code, Mascot, Meaning, NTB Election, Si Meton
Struktur Musik Iringan Tari Puspanjali Saptono Saptono; Hendra Santosa; I Wayan Sutirtha
PANGGUNG Vol 34, No 1 (2024): Artistik dan Estetik pada Rupa, Tari, dan Musik
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v34i1.2446

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan struktur komposisi musik iringan tari Puspanjali karya I Nyoman Windha seorang maestro karawitan Bali. Tari Puspanjali yang dipergunakan sebagai tari penyambutan ciptaan NLN Swasthi Widjaja diciptakan tahun 1989, menjadikannya sebagai sebuah karya tari yang monumental. Puspanjali berasal dari kata puspa berarti bunga dan anjali berarti sebuah penghormatan, dengan kata lain Puspanjali adalah taburan bunga sebagai sebuah penghormatan. Metode yang dipergunakan adalah deskriptif melalui penjabaran struktur dan bentuk musik iringan tari yang terdiri dari kawitan, pengawak, dan pekaad dengan persyaratan mungkus. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi langsung baik melihat pertunjukannya ataupun melalui video, wawancara, dan studi kepustakaan. Penciptaan tari dan iringannya sangat spontan yang keluar dari ide, gerak tari, dan melodi yang diramu dalam komposisi yang sederhana tetapi sampai saat ini karya tersebut dapat digolongkan sebagai karya monumental karena masih bertahan dan banyak dipergunakan oleh masyarakat di Bali. Penjabaran struktur musik iringan tari dilakukan melalui notasi balok yang digabungkan dengan notasi dindong. Tarian Puspanjali sangat cocok dipelajari oleh anak usia dini karena kesederhanaan gerakannya, dan musik iringan dapat dipelajari oleh para pemula usia SD karena kesederhanaan komposisi musiknya.
Jejak Karawitan dalam Kakawin Sumanasantaka Hendra Santosa; Dyah Kustiyanti; I Komang Sudirga
PANGGUNG Vol 28 No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v28i1.272

Abstract

ABSTRACT Kakawin Sumanasantaka (Death Because Sumanasa Flowers) is one of sources in searching musical terms from about 22 manuscripts in early Old Javanese literature. This article is part of the research entitled "Tracing The Karawitan Trail in an Ancient Java Script: Studies of Its Forms, Functions and Meanings". The study is intended to clarify the forms and functions of musical instruments during the East Java period around the 10th century. This study uses a historical method, following the stages of heuristics, criticism, interpretation, and historiography. At the heuristical stage, kakawin Sumanasantaka written by Worsley, P., S. Supomo, M. Fletchert dan T.H. Hunter was found. In 2014, it was also found a work entitled Kakawin Sumanasantaka, Mati Karena Bunga Sumanasa Karya Mpu Monaguna: Kajian Sebuah Puisi Epik Jawa Kuno. A critical analysis of the texts is applied internally through a direct translation and then followed by the historiography process. Forms and functions of musical instruments in Kakawin Sumanasantaka cannot be separated from the functions of musical instruments in the Old Java period, as a means of Javanese ceremonies and accompaniments of secular activities.Keywords: form, function, karawitan, kakawin, Sumanasantaka ABSTRAK Kakawin Sumanasantaka (Mati Karena Bunga Sumanasa) merupakan salah satu sumber penelusuran jejak istilah karawitan dari sekitar 22 naskah kesusastraan berbahasa Jawa Kuno awal. Tulisan ini merupakan bagian dari hasil penelitian yang berjudul “Melacak Jejak Karawitan dalam Naskah Jawa Kuno: Kajian Bentuk, fungsi, dan Makna”. Pembahasan ini dimaksudkan untuk memperjelas bentuk dan fungsi instrumen musik pada masa periode Jawa Timur sekitar abad ke-10. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yaitu, melalui tahapan heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Pada tahap heuristik ditemukan sebuah kakawin Sumanasantaka yaitu karya Worsley, P., S. Supomo, M. Fletchert dan T.H. Hunter. Tahun 2014, ditemukan juga tulisan berjudul Kakawin Sumanasantaka, Mati Karena Bunga Sumanasa Karya Mpu Monaguna: Kajian Sebuah Puisi Epik Jawa Kuno. Kritik dilakukan secara internal melalui terjemahan secara langsung sebagai fakta yang berbicara, dan yang terakhir adalah tahap historiografi. Bentuk dan fungsi instrumen karawitan dalam Kakawin Sumanasantaka  tidak terlepas dari fungsi instrumen musik pada masa Jawa Kuna yaitu sebagai sarana upacara dan sebagai pengiring kegiatan sekuler.Kata kunci: bentuk, fungsi, karawitan, kakawin, Sumanasantaka
Transformasi Musik Balaganjur Teruna Goak Ke dalam Musik Jazz Ade Surya Firdaus; Hendra Santosa; Ni Wayan Ardini
PANGGUNG Vol 29 No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v29i3.1008

Abstract

ABSTRACT           The Megoak-goakan tradition from a Panji Village is played with Balaganjur Teruna Goak music, both of which are very interesting when they are transformed into jazz because they have the same basic musical form. This article aims to provide an overview of the process of transformation of Balaganjur Teruna Goak Village in Panji Village into jazz music. The process of transformation into jazz music was carried out with the creation method of exploratory which began with a literature study on the Megoak-goakan tradition in Panji Village, Buleleng, and then conducted participant observations, interviews, and continued with experiments on various musical motifs which were considered suitable with a jazz music. The results are obtained from observing and analyzing the process using the theory of basic form of music of Pono Banoe and Prier’s. It is found that Balaganjur Teruna Goak's music had a lively expression with the phrases of antecedent (question) and consequent (answer). Furthermore, the experimental stage begins with pouring musical inspiration that is used in this work in several stages through writing notation. The formation step is done by assembling existing motifs and then formed into a unified whole composition. The creation of jazz music is based on Balaganjur music, and in its creating processes does not neglect the work of others so that it is possible that in its motifs and patterns on musical arrangements have adopted the previous works.Keyword: Teruna Goak, Balaganjur, Jazz Music, Transformation, Panji VillageABSTRAK           Tradisi Megoak-goakan dari Desa Panji dimainkan dengan musik Balaganjur Teruna Goak. Keduanya sangatlah menarik jika ditransformasikan ke dalam musik jazz karena memiliki bentuk dasar musik yang sama. Artikel ini bertujuan memberikan gambaran bagaimana proses transformasi musik Balaganjur Teruna Goak Desa Panji ke dalam musik jazz. Proses transformasi ke dalam musik jazz dilakukan dengan metode penciptaan dari penjajakan yang diawali dari studi literatur tentang tradisi Megoak-goakan di Desa Panji Buleleng, kemudian melakukan pengamatan langsung, wawancara, dan dilanjutkan dengan percobaan berbagai motif musik yang diperkirakan cocok dengan musik jazz. Hasil yang didapat dari pengamatan dan proses analisis menggunakan teori bentuk dasar musik Pono Banoe dan teori bentuk musik dari Prier. Musik Balaganjur Teruna Goak memiliki ekspresi yang bersemangat dengan frase antiseden (tanya) dan konsekuen (jawab). Selanjutnya, pada tahap percobaan dimulai dengan cara menuangkan inspirasi musik yang akan digunakan dalam garapan ini secara bertahap melalui penulisan notasi. Tahap pembentukan dilakukan dengan merangkai motif-motif yang telah ada kemudian dibentuk menjadi suatu kesatuan komposisi yang utuh. Penciptaan musik jazz yang berdasarkan musik Balaganjur ini, pada penggarapannya tidak mengabaikan hasil karya orang lain sehingga kemungkinan dari segi motif dan pola garap musikal mengadopsi yang sudah ada sebelumnya.Kata Kunci: Teruna Goak, Balaganjur, Musik Jazz, Transformasi, Desa Panji
Estetika Adegan Bondres Wayang Tantri oleh Dalang I Wayan Wija I Dewa Ketut Wicaksandita; I Ketut Sariada; Hendra Santosa
PANGGUNG Vol 30 No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v30i1.1146

Abstract

ABSTRACTBebondresan is a scene that is raised in order to entertain the audience. The scene of the bonding on theTantri puppet play Bhagawan Kundala Nangun Yadnya by Dalang Wija was brought up with a varietyof creativity that no other Dalang had ever done. This gave rise to appreciation in the form of applausefrom the audience who indicated the fulfillment of the wonderful taste of the aesthetic values that emerged.The main purpose of this research is to find out the aesthetics of the bebondresan scene. The researchmethod in the form of observation, interviews and documentation is the source of data acquisition by theauthor, which is then reduced and analyzed using instrumental aesthetic theory and aesthetic theoriesof aesthetics. The results of this study later found that the form of the bondres scene was formed visuallyin the form of three puppet Bondres namely, men holding drums, sexy women and agile old women,the structure consisted of three two-dimensional leather puppets, a drum and tambourine combinedthrough puppet play patterns, musical instruments and vocal wayang dialogues. The aesthetics of theBondres scene lies in, (1) ‘interrelations’, namely wholeness which is seen from the interrelationship,integration and harmony in the elements forming the scene; (2) ‘complexity’ that is interwoven betweenthe elements in the structure that are staged through complex playing patterns; (3) ‘prominence’ whichis the presentation of the results of the achievement of creativity by Dalang Wija which is seen from thecharacteristics of the artwork, the background of the mastermind’s abilities and his motivation.Keywords: Bondres Scene, Wayang Tantri, I Wayan WijaABSTRAKAdegan bondres merupakan sebuah adegan yang dimunculkan dengan tujuan untukmenghibur penonton. Adegan bondres pada wayang Tantri lakon Bhagawan Kundala NangunYadnya oleh Dalang Wija dimunculkan dengan beragam kreativitas yang tidak pernahdilakuakn Dalang lain. Hal ini memunculkan apresiasi berupa tepuk tangan dari penoton yangmengindikasikan terpenuhinya rasa nikmat indah atas nilai estetis yang muncul. Tujuan utamapenelitian ini ialah untuk mengetahui estetika dari adegan bebondresan. Metode penelitianberupa observasi, wawancara dan dokumentasi menjadi sumber perolehan data oleh penulisyang selanjunya direduksi dan dianlisis menggunakan teori estetika instrumental dan teoriestetika sifat estetis. Hasil penelitian ini selajutnya menemukan bahwa wujud adegan bondresini terbentuk secara visual berupa tiga wayang bondres yaitu, pria memegang kendang, wanitasexy dan wanita tua lincah, strukturnya terdiri atas tiga buah wayang kulit dua dimensi, sebuahkendang dan tamborin yang dikombinasi melalui pola bermain wayang, alat musik dan vokaldialog wayang. Estetika adegan bondres ini terletak pada, (1) ‘keterkaitan’ yaitu keutuhan yangdilihat dari keterkaitan, keterpaduan dan harmoni pada elemen-elemen pembentuk adegan;(2) ‘kerumitan’ yang terjalin di antara elemen-elemen pada struktur yang dipentaskan melaluipola bermain yang kompleks; (3) ‘penonjolan’ yaitu presentasi hasil pencapaian kreativitasoleh Dalang Wija yang dilihat dari ciri-ciri karya seni, latar belakang kemampuan dalang danmotivasinya.Kata Kunci: Adegan Bondres, Wayang Tantri, I Wayan Wija
Struktur Musik Iringan Tari Puspanjali Saptono Saptono; Hendra Santosa; I Wayan Sutirtha
PANGGUNG Vol 34 No 1 (2024): Artistik dan Estetik pada Rupa, Tari, dan Musik
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v34i1.2446

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan struktur komposisi musik iringan tari Puspanjali karya I Nyoman Windha seorang maestro karawitan Bali. Tari Puspanjali yang dipergunakan sebagai tari penyambutan ciptaan NLN Swasthi Widjaja diciptakan tahun 1989, menjadikannya sebagai sebuah karya tari yang monumental. Puspanjali berasal dari kata puspa berarti bunga dan anjali berarti sebuah penghormatan, dengan kata lain Puspanjali adalah taburan bunga sebagai sebuah penghormatan. Metode yang dipergunakan adalah deskriptif melalui penjabaran struktur dan bentuk musik iringan tari yang terdiri dari kawitan, pengawak, dan pekaad dengan persyaratan mungkus. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi langsung baik melihat pertunjukannya ataupun melalui video, wawancara, dan studi kepustakaan. Penciptaan tari dan iringannya sangat spontan yang keluar dari ide, gerak tari, dan melodi yang diramu dalam komposisi yang sederhana tetapi sampai saat ini karya tersebut dapat digolongkan sebagai karya monumental karena masih bertahan dan banyak dipergunakan oleh masyarakat di Bali. Penjabaran struktur musik iringan tari dilakukan melalui notasi balok yang digabungkan dengan notasi dindong. Tarian Puspanjali sangat cocok dipelajari oleh anak usia dini karena kesederhanaan gerakannya, dan musik iringan dapat dipelajari oleh para pemula usia SD karena kesederhanaan komposisi musiknya.
Trans Memori Imajinasi Dalam Pewarisan Nilai Monumental Pertunjukan Wayang Kulit Bagi Masyarakat Hindu di Bali Wicaksandita, I Dewa Ketut; Hendra, Santosa; Saptono, Saptono; Sutirtha, I Wayan; Wicaksana, I Dewa Ketut
Jurnal Penelitian Agama Hindu Vol 9 No 1 (2025)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/jpah.v9i1.3499

Abstract

Memory transfer (memory trance) conceptually involves actively remembering, realizing, and inheriting values of greatness, survival, and stability in performing arts. Imagination, used to affirm memory transfer, creates mental images that emphasize large, impressive objects, ideas, or concepts, significantly influencing the inheritance of the monumental value of Balinese traditional wayang kulit performances. This research aims to first identify memory trance based on imagination in inheriting Balinese wayang kulit's monumental value; second, analyze the significance of memory trances in this inheritance. A phenomenological approach (psychology-imagination) and instrumental aesthetic theory support the qualitative research. Findings include: first, imagination memory trance reveals action phases based on imagination behavior, such as 'imagination' (transmutation of objects by the subject), ‘creativity and mental imagery’ (transformation through metacognition), ‘cultural context’ (value clarification and internalization), and 'monumental value' (understanding the majestic value). Second, the significance of imaginary memory transience impacts active behavior in inheriting Balinese wayang kulit's monumental value. It examines the audience's aesthetic experience from imaginary images presented by the puppeteer and transforms artistic sources into aesthetic elements involving socio-cultural trends, creating 'dialectics' and 'catharsis' for audience appreciation. Additionally, it involves internalizing socio-religious values, building involvement, and vertical-horizontal existence, and forming the image of wayang as monumental art.
CHARACTER EDUCATION AND MORAL VALUE IN 2D ANIMATION FILM ENTITLED "PENDETA BANGAU" Anggara, I Gede Adi Sudi; Santosa, Hendra; Udayana, A.A. Gde Bagus
Capture : Jurnal Seni Media Rekam Vol. 10 No. 2 (2019)
Publisher : Seni Media Rekam ISI Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.942 KB) | DOI: 10.33153/capture.v10i2.2449

Abstract

Character is a very important and fundamental matter in a child's development. Character education has the same orientation with moral education, whereas moral education is very important in directing young generation to become good people through good values approach. In the midst of current IT advances, animated films are one of the effective and interesting media in transferring the values of character education and moral messages to children. The 2D animated film entitled Pendeta Bangau (The Priestess of Stork) is an animated film which source of story comes from Balinese folklore entitled Pedanda Baka. The aim of this study is to discuss the values of character education and moral messages/values contained in the animated film entitled “Pendeta Bangau”. This study uses qualitative research methods with qualitative data analysis techniques model of Miles and Huberman. The result of this study shows that the character education values from the animated film entitled Pendeta Bangau contains the values of honesty, tolerate, friendship / communicative, love of peace, and curiosity. While the moral message/value was seen in the final/end of film, namely the Bangau (stork) died due to its immorality. Its Bangau dead is related to the principal of Prarabda Karmaphala, namely Bangau, gets the results of his behavior in the present, and is now available without being there anymore. 
ACTUALIZATION OF WOMEN IN DOMESTIC AREAS IN THE GALUH FILM Aryawaningrat, I Gusti Ayu Agung; Santosa, Hendra; Wirawan, I Komang Arba
Capture : Jurnal Seni Media Rekam Vol. 11 No. 1 (2019)
Publisher : Seni Media Rekam ISI Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.022 KB) | DOI: 10.33153/capture.v11i1.2651

Abstract

This research focuses on the actualization of women in the domestic area in the film Galuh. This film is an interesting study because the content in this film that contains local wisdom with the source of film ideas from marriage Pada Gelahang and also emphasizes the identity of conventional women with their domestic space. The formulation of the problem in the research is how the actualization of women in their domestic areas in the film Galuh. The purpose of this study is to study the actualization of women in their domestic territory in the film Galuh. This study uses descriptive qualitative research methods, with interpretive analysis. This research uses film’s elements such as narrative film and cinematic as well as ecofemism to present the spectrums that are seen in films that show women in quite different ways by complementing Galuh and which load more in the domestic area. The results of this study provide a specific understanding of Galuh through narrative and cinematic films that depict Galuh and her daughter as conventional and unconventional female characters with their domestic space.
Estetika Posmoderen: Idealisasi Seni Karawitan dalam Agama Hindu di Bali Mawan, I Gede; Santosa, Hendra
Jurnal Penelitian Agama Hindu Vol 9 No 1 (2025)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/jpah.v9i1.3683

Abstract

Balinese musical art is essentially a cultural heritage passed down from generation to generation from the predecessors, and always adheres to existing traditions, relying on traditional patterns that develop in society. There is no traditional or religious ceremony in Bali without the involvement of musical arts. The diversity and complexity of Balinese gamelan playing has been the subject of study among researchers with various scientific approaches. This paper aims to discuss the art of Balinese gamelan music in the realm of postmodern aesthetic studies, one of the disciplines that is growing quite rapidly today. This research uses a descriptive method of analysis with data collection techniques such as observation, interviews, and literature studies as well as the author's experience as a musical performer. The results of this study show that in the last decade or 10 years there has been a fundamental change in the process of creating new works in Balinese karawitan. The process of creating new works, which has been based on a strong tradition, has now changed into contemporary (modern), postmodern or contemporary art. This phenomenon occurs due to the change in the mindset of artists who always want to keep up with the times. The forms or idioms of postmodern aesthetics found in the process of creating new works in Balinese musical art include Pastiche, Parody, Kitsch, Camp, and Schizophrenia. The emergence of postmodern aesthetic idioms in new Balinese musical works from artists at this time is to fulfill the need for beauty values as humans in general, also based on the desire to achieve intrinsic values contained in the art itself to achieve perfection as a human being.
Co-Authors - Saptono - Saptono Ade Surya Firdaus Ade Surya Firdaus Aditya Putra, I Ketut Anak Agung Gde Bagus Udayana Antara, I Made Bayu Arba Wirawan, I Komang Ardi Gunawan Ardi Aryawaningrat, I Gusti Ayu Agung Darmawan, I Komang Werdi Firdaus, Ade Surya Hasbullah - Hasbullah Hasbullah I Dewa Ketut Wicaksana, I Dewa Ketut I Dewa Ketut Wicaksandita I Gede Adi Sudi Anggara I Gede Mawan I Gede Yudarta, I Gede I Gusti Ayu Putu Pratiwi I Kadek Deo Sandiawan I Ketut Aditya Putra I Ketut Sariada, I Ketut I Ketut Sudhana I Komang Arba Wirawan I Komang Diki Putra Sentana I Komang Sudirga I Komang Werdi Darmawan I Made Bayu Puser, Bhumi I Made Rai Purna Yasa I Made Rianta I Made Rianta I Made, Rianta I Nengah Sama I Nyoman Kariasa, I Nyoman I Nyoman Wiradarma Yoga I Nyoman Yudha Putra Widiantara I Putu Angga Mahendra I Putu Danika Pryatna I Saptono I Wayan Swandi Ida Ayu Gede Sasrani Widyastuti ikadekagus adityaputra Kadek Suartaya Komang Lanang Adi Arimbawa Komang Wira Adhi Mahardika Kunto Sofianto Kustiyanti, Dyah Kuswandari, Ni Kadek Diah Nanta Ni Kadek Wina Ferninaindis Ni Made Ayu Dwi Sattvitri Ni Putu Hartini Ni Wayan Ardini, Ni Wayan Nina Herlina Lubis Nova Agung Rama, Wijaya Nyoman Maruta Gautama Padmini, Tjok Istri Putra Prakasih Putu Paristha Pramana, I Putu Riangga Budi Prasad, Visvam Bhara Prayatna, I Wayan Dedy Putra Adnyana, Made R.M. Mulyadi Ratna Cora Sudharsana, Tjok Istri Saptono Saptono Saptono Saptono Saptono Saptono, Saptono Saptono, I Satyani, Ida Ayu Wayan Arya Sentana, I Komang Diki Putra Sudhana, I Ketut Sujayanthi, Ni Wayan Masyuni Sutirtha, I Wayan Tudhy Putri Apyutea Kandiraras Udayana, A.A. Gde Bagus Visvam Bhara Prasad Wardizal, Wardizal Wardizal, Wardizal