Claim Missing Document
Check
Articles

Perkembangan Fungsi dan Makna Kain Tenun Gotya dalam Industri Fashion I Wayan Dedy Prayatna; Hendra Santosa; Tjok Istri Ratna Cora
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 36 No 1 (2021): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v36i1.1101

Abstract

Kain Tenun Gotya merupakan salah satu kain tenun tradisional di Desa Adat Tenganan Pegringsingan yang dipercaya oleh masyarakat memiliki makna filosofi dan sangat berperan penting dalam kegiatan upacara adat di Desa Tenganan Pegringsingan. Seiring dengan perkembangan zaman permintaan terhadap kain Tenun Gotya semakin meningkat khususnya dalam industry fashion sehingga menimbulkan suatu perkembangan dari fungsi ataupun makna yang di akibatkan oleh perkembangan tersebut. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis fungsi dan makna kain Tenun Gotya dalam industri fashion. Metode yang di gunakan adalah deskriptif kualitatif. Berdasarkan analisa data menunjukan bahwa dalam perkembangan fungsi kain Tenun Gotya yaitu berupa fungsi personal, fungsi sosial dan fungsi fisik. Fungsi personal dalam perkembangannya kain Tenun Gotya dapat dipakai sebagai ranah dalam menuangkan ide-ide dalam berkarya oleh para penenun dan desainer. Fungsi fisik kain Tenun Gotya sudah digunakan oleh masyarakat luas dan telah dikombinasikan sebagai udeng, saput dan penutup dada. Fungsi social sudah digunakan oleh kalangan masyarakat luas dan telah dikombinasiakan dari segi tampilan dan pemakian. Kain Tenun Gotya memiliki makna denotasi berupa selembar kain yang ditenun dengan tehnik plain weave dengan motif geometris dan garis vertikal dan horizontal. Makna konotasi yaitu sebagai suatu makna pelestarian terhadap kain Tenun Gotya dan pertenunan, sebagai makan pendidikan dan makna perekonomian dalam lingkungan masyarakat.
Jejak Seni Pertunjukan Bali Kuna Dalam Karya Kesusastraan Usana Bali Mayantaka Carita Hendra Santosa; Dyah Kustiyanti; Ida Ayu Wayan Arya Satyani
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 36 No 2 (2021): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v36i2.1247

Abstract

Tulisan ini merupakan bagian dari penelitian yang berjudul “Inventarisasi Istilah-istilah Seni Pertunjukan Bali dalam Karya Kesusastraan Jaman Gelgel (1401-1687) dan bertujuan untuk memperlihatkan bagaimana seni pertunjukan pada masa Bali kuno masih bertahan dan berkembang dengan baik pada masa Gelgel, setelah penaklukan Majapahit. Berbagai karya pada masa Raja Waturenggong lahir di Bali, sehingga dapat dikatakan sebagai sebuah masa keemasan bagi seni sastra di Bali. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yaitu, yaitu melalui tahapan heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Khusus untuk artikel ini karya kesusastraan pada masa Gelgel (1401-1687) dijadikan sebagai sumber primer untuk mengetahui berbagai seni pertunjukan yang lahir pada masa tersebut. Naskah Usana Bali Mayantaka Carita yang diambil dalam buku Karya Sastra Filsafat Kakawin Mayantaka Karya Danghyang Nirartha., karya, I. B. Agastia tahun 2018 terbitan Taman Sastra Wagiswari Dharmasabha karena karya kesusastraan tersebut paling banyak menyuratkan unsur-unsur seni pertunjukan Bali. Metode yang dipergunakan adalah deskripsi analisis dengan interpretasi faktual apa adanya. Berdasarkan Kakawin Usana Bali Mayantaka Carita, dapat ditarik kesimpulan bahwa bahwa pada masa Raja Waturenggong masih terus dipertahankan dan sepertinya terdapat penambahan fungsi serta perubahan istilah terutama pada seni karawitan (instrumen).
Banjuran, Gamelan Prosesi Zaman Bali Kuna Hendra Santosa; Dyah Kustiyanti; Ida Ayu Wayan Arya Satyani
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 37 No 1 (2022): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v37i1.1717

Abstract

This article is part of research entitled "The Evolution of the Balinese Gamelan", which is accompanied by an overview of the changes that occurred after the Gelgel era. This article aims to provide an overview of the Banjuran gamelan form as written in several ancient Balinese inscriptions. Balinese Karawitan experts often associate it with the Balaganjur gamelan, which is now developing in Bali. In order to obtain a comprehensive explanation, this articlewas compiled employing the historical method. The historiography stage in this study was conveyed through the delivery of critical-descriptive analysis. Although the Sukawana A I inscription actually states that Bali's historical era started from 804 AD, the close relationship between Bali and Central Java actually existed around the 7th century, which is proven through various archaeological findings. It certainly opens the suspicion that the Banjuran gamelan image is engraved in the Borobudur Temple’s reliefs. Many asymmetrical shapes of Balinese drums (kendang) are engraved in the reliefs. Furthermore, Balinese drums' shape is also engraved in the Tegawangi Temple’s reliefs in East Java. This form of the Banjuran gamelan is also strengthened by information and data from the Kakawin Nagarakretagama. Gamelan Banjuran is thought to be the forerunner of the development of the Balaganjur gamelan that is currently developing.
Komposisi Tabuh Kreasi Sekar Taji I Kadek Deo Sandiawan; Hendra Santosa; Ni Putu Hartini
Journal of Music Science, Technology, and Industry Vol. 5 No. 2 (2022)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (593.968 KB)

Abstract

Purpose: The creation of a musical piece of musical art creation "Sekar Taji" is to realize the imagination or thoughts of the stylist in a new creative musical work. The stylist got an idea from his own experience to make a creative percussion using the gamelan Gong Kebyar as a medium of expression. Research Method: To achieve Balinese musical works, the stylist uses several methods or stages for the creation process, namely the first with the preparation stage, the exploration stage, the formation stage, the guidance stage and the presentation stage. Results and discussion: The Tabuh Kreasi work "Sekar Taji" uses a kawitan, gendered, bapang and pusher structure by combining musical elements such as dynamics, tempo, melody and rhythm that are combined in such a way as to achieve a karawitan musical work, namely percussion creations. Implication: This work is manifested into a creative percussion through a creative process using existing patterns and patterns of strokes as a means of stimulating creativity in the sector of musical art.
Kajian Historis Tentang Gamelan Ketug Bumi Hendra Santosa
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 34 No 1 (2019): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v34i1.525

Abstract

Gamelan Ketug Bumi merupakan gamelan baru yang lahir pada tahun 2015 atas prakarsa I Gede Arya Sugiartha yang telah berkembang sedemikian rupa. Sebagai gamelan baru, tentulah belum banyak orang yang menuliskannya dalam berbagai kajian baik seni, musikologi, maupun kajian lainnya. Oleh karenanya penulis mencoba untuk menulisnya dalam sebuah kajian historis. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan dan menegaskan bahwa dalam setiap peristiwa yang terjadi pada saat sekarang adalah sebuah rangkaian dari peristiwa-peristiwa masa lampau, seperti halnya gamelan Ketug Bumi yang dapat diurut pekembangan dan perubahannya dari peristiwa masa lampau. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yaitu berupa heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Heuristik dilakukan terhadap dokumen masa kini berupa Surat Keputusan Staf Produksi Pawai Ketug Bumi tahun 2015, kemudian dari dokumen masa lampau berupa kakawin dan babad. Instrumen utama yang dipergunakan dalam gamelan Ketug Bumi yaitu tambur (mredangga), dipergunakan sebagai unsur utama dalam penelusuran kesejarahan gamelan Ketug Bumi. Penjelasan mengenai mredangga sebagian telah penulis terangkan dalam artikel yang berjudul “Mrӗdangga: Sebuah Penelusuran Awal Tentang Gamelan Perang di Bali” pada jurnal Kalangwan. Kata tambur sendiri penulis temukan dalam naskah kesusastraan Bali yang berjenis parikan, tetapi banyak ditemukan pada naskah yang berbentuk babad dari luar Bali.
KARYA KOMPOSISI PETEGAK KREASI JEGOG “NGAKIT” I Komang Diki Putra Sentana; Hendra Santosa; Ni Wayan Masyuni Sujayanthi
Sorai: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Musik Vol 14, No 2 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/sorai.v14i2.4148

Abstract

Karya seni musik khususnya musik karawitan tercipta dari ide kreatif para seniman, ide penciptaan sebuah karya dapat muncul dari beberapa fenomena diantaranya fenomena alam, fenomena kehidupan, maupun fenomena musikal. Sebagian besar ide muncul dari fenomena alam dan fenomena kehidupan namun tidak menutup kemungkinan terciptanya suatu karya seni musik karawitan dapat muncul dari fenomena musikal. Hal ini menggugah penulis untuk menciptakan sebuah karya yang bertujuan memfokuskan pada fenomena musikal yang terdapat dalam karya yang berjudul “Ngakit” sehingga dapat memberikan sentuhan kreatifitas dalam musik karawitan. Metode yang digunakan dalam karya ini adalah metode penciptaan oleh I Wayan Beratha yang terdiri dari proses nguping, menahin, dan ngalusin dengan menambahkan metode ngungkap rasa untuk penghayatan pada setiap bagian lagu. Karya “Ngakit” direalisasikan dengan menggunakan media Gamelan Jegog dengan teknik musikal Kotekan dan teknik khas dari Jegog yaitu teknik Nyelangkit, kedua teknik musikal tersebut diolah sedemikian rupa sehingga membentuk pola musikal baru yang penulis sebut dengan istilah “Ngakit”.
Angganada: Sebuah Komposisi Karawitan Bali I Putu Angga Mahendra; Hendra Santosa; Ni Putu Hartini
Virtuoso: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Musik Vol. 5 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/vt.v5n2.p117-124

Abstract

Angganada's composition aims to realize an idea or imagination about the anatomy of the human body as a motivation to encourage the achievement of an innovative piece of music. The method of creating works of art will be carried out in four stages, namely: the exploration stage, the second stage of experimentation, and the third stage of formation and ending with a performance. This form of composition still uses the grip and structure found in Balinese musical instruments in general, namely the Tri Angga. Tri Angga are the three main parts which are often called kawitan, crew, thrusters, like the human body which consists of head, body and legs. The anatomy of the human body is divided into four main parts, namely the head, body, hands and feet. The purpose of this composition is the sound of the body or Body Cak and facial expressions that are able to strengthen the meaning of Anggaada in collaboration with Balinese gamelan to distinguish the standard of Tri Angga from the anatomy of the human body. The media revealed in this work consists of combining two types of gamelan, namely gamelan Smara Pagulingan, Gender Wayang and Body Cak by producing sounds produced by hitting certain body parts, such as applause, vocal sounds, and hitting certain body parts. collaborate on the sidelines of the song so as to support the stylist's concept.
The Transformation of Wargasari’s Kidung into Composition “Wehyang” | Transformasi Kidung Wargasari ke dalam Komposisi Karawitan “Wehyang” I Made Rai Purna Yasa; Hendra Santosa
GHURNITA: Jurnal Seni Karawitan Vol 2 No 3 (2022): September
Publisher : Pusat Penerbitan LPPMPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The karawitan artwork entitled “WeHyang” is an artwork inspired by the Mesucian tradition found in Kapal Village. The musical art work “WeHyang” is inspired by the wargasari song which is used as a sacred song in the ongoing traditional procession. The strains of the kidung stanzas sung with different padalingsa each are transformed into gamelan patterns. Gamelan used as a medium of expression in the musical art work "WeHyang" is gamelan selonding. Gamelan selonding consists of nyongnyong ageng, nyongnyong alit, peenem, petuduh, gong and kempul. In this work, it is divided into 3 parts, namely part 1 with the transformation of 4 lines of kidung, the second part of the transformation of 4 lines of kidung and the third part that combines all the transformations as outlined in selonding gamelan patterns. The development of melodic patterns, playing techniques that already exist are contained in the "WeHyang" musical art work. Keywords: WeHyang, Selonding, Song.
Mutusake: Interpretasi Putusnya Ekor Cicak dalam Sebuah Karya Musik Karawitan Hendra Santosa; Ni Made Ayu Dwi Sattvitri; Ni Wayan Masyuni Sujayanthi
PROMUSIKA Vol 10, No 2 (2022): Oktober 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v10i2.7486

Abstract

Mutusake merupakan penggambaran fenomena putusnya ekor cicak yang masih dapat bergerak walaupun sudah terlepas dari badannya. Fenomena tersebut diinterpretasikan melalui sebuah karya karawitan bermedia gamelan Gender Wayang dan Selonding. Adapun permasalahan yang dibahas adalah bagaimana cara mengembangkan pola - pola gending Gender Wayang Cecek Megelut untuk membentuk pola yang baru. Karya ini menggunakan metode penciptaan yang dirancang oleh I Wayan Rai, S dengan enam tahapan yaitu modal pokok, kreatif, pemahaman budaya lokal, konsep, doa, dan proses mewujudkan karya seni. Hasil dan pembahasan, karya Mutusake terdiri dari empat bagian yaitu bagian pertama merupakan pengembangan dari gending Gender Wayang Cecek Megelut, bagian kedua pada karya ini menggambarkan gerak - gerik cicak, bagian ketiga yaitu penggambaran aksi gelut / kejar - kejaran yang dilakukan oleh cicak dan musuhnya dan bagian keempat, menggambarkan ekor cicak yang bergerak lincah walaupun sudah terlepas dari badannya. Rekomendasi yang dapat diberikan yaitu teknik - teknik permainan yang terdapat dalam karya ini dapat digunakan sebagai acuan untuk berkarya selanjutnya. AbstractMutusake: An Interpretation of the Breakup of the Lizard Tail in a Karawitan Musical Work. Mutusake describes a lizard tail breaking off, which can still move even though it has been separated from its body. This phenomenon is interpreted through this musical work using the gamelan Gender Wayang and gamelan Selonding. The problem that will be discussed is how to develop the patterns of gending Gender Wayang Cecek Megelut to form a new pattern. This work uses the creation method I Wayan Rai, S designed with six stages: essential capital, creativity, understanding of local culture, concepts, prayers, and the process of creating works of art. Accordingly, Mutusake consists of four parts. The first part develops motives from the traditional Gender Wayang piece Cecek Megelut. The second part of this work imitates the movements of lizards. The third part depicts the action of the struggle/chase - the pursuit carried out by the lizard and its enemies. The fourth part describes a lizard's tail that moves nimbly even though it has been separated from its body. The game techniques in this work can be used as a reference for further work.Keywords: cecek megelut; gending; gender wayang; mutusake; selonding
Being Bizzare: A New Composition Music | Being Bizzare: Sebuah Komposisi Musik Baru I Nyoman Wiradarma Yoga; Hendra Santosa
GHURNITA: Jurnal Seni Karawitan Vol 3 No 1 (2023): Maret
Publisher : Pusat Penerbitan LPPMPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jurnalsenikarawitan.v3i1.1286

Abstract

The purpose of creating the musical composition Being Bizzare is to raise a physiological phenomenon about schizophrenia, namely an acute stress condition.. Like the story of John in the film "A Beautiful Mind" which tells the life journey of a John who suffers from schizophrenia. The life mechanism of a John was later appointed as a new musical composition with the title Being Bizzare with the regenerative nature of Gamelan Semarandana as the medium. Regenerative means to regenerate, focused on the melody element only, namely the melody part one is made up of a long melody which is a derivative of the melody part two, the melody part three is the opposite of the melody part one, the melody part four is derived from the melody part three. The creation method used was adopted from the book by Pande Made Sukerta, among others; organize content ideas, determine work ideas, and determine work. The application of this method resulted in four parts of a new musical composition, namely part one, part two, part three, and part four. As a new music, Being Bizzare is a work with the theme of psychology that aims to contextually inform schizophrenia disorders through musical works.
Co-Authors - Saptono - Saptono Ade Surya Firdaus Ade Surya Firdaus Aditya Putra, I Ketut Anak Agung Gde Bagus Udayana Antara, I Made Bayu Arba Wirawan, I Komang Ardi Gunawan Ardi Aryawaningrat, I Gusti Ayu Agung Darmawan, I Komang Werdi Firdaus, Ade Surya Hasbullah - Hasbullah Hasbullah I Dewa Ketut Wicaksana, I Dewa Ketut I Dewa Ketut Wicaksandita I Gede Adi Sudi Anggara I Gede Mawan I Gede Yudarta, I Gede I Gusti Ayu Putu Pratiwi I Kadek Deo Sandiawan I Ketut Aditya Putra I Ketut Sariada, I Ketut I Ketut Sudhana I Komang Arba Wirawan I Komang Diki Putra Sentana I Komang Sudirga I Komang Werdi Darmawan I Made Bayu Puser, Bhumi I Made Rai Purna Yasa I Made Rianta I Made Rianta I Made, Rianta I Nengah Sama I Nyoman Kariasa, I Nyoman I Nyoman Wiradarma Yoga I Nyoman Yudha Putra Widiantara I Putu Angga Mahendra I Putu Danika Pryatna I Saptono I Wayan Swandi Ida Ayu Gede Sasrani Widyastuti ikadekagus adityaputra Kadek Suartaya Komang Lanang Adi Arimbawa Komang Wira Adhi Mahardika Kunto Sofianto Kustiyanti, Dyah Kuswandari, Ni Kadek Diah Nanta Ni Kadek Wina Ferninaindis Ni Made Ayu Dwi Sattvitri Ni Putu Hartini Ni Wayan Ardini, Ni Wayan Nina Herlina Lubis Nova Agung Rama, Wijaya Nyoman Maruta Gautama Padmini, Tjok Istri Putra Prakasih Putu Paristha Pramana, I Putu Riangga Budi Prasad, Visvam Bhara Prayatna, I Wayan Dedy Putra Adnyana, Made R.M. Mulyadi Ratna Cora Sudharsana, Tjok Istri Saptono Saptono Saptono Saptono Saptono Saptono, Saptono Saptono, I Satyani, Ida Ayu Wayan Arya Sentana, I Komang Diki Putra Sudhana, I Ketut Sujayanthi, Ni Wayan Masyuni Sutirtha, I Wayan Tudhy Putri Apyutea Kandiraras Udayana, A.A. Gde Bagus Visvam Bhara Prasad Wardizal, Wardizal Wardizal, Wardizal