Claim Missing Document
Check
Articles

Parameter Primer Dan Sekunder Oksidasi Pada Kombinasi Minyak Hati Ikan Cucut (Centrophorus sp.) Dan Minyak Ikan Sarden (Sardinella sp.) Insani, Sri Ayu; Akbardiansyah, Akbardiansyah; Fuadi, Afdhal; Isbah, Faliqul; Hamidi, Hamidi
Jurnal Perikanan Terpadu Vol 3, No 1 (2022): Jurnal Perikanan Terpadu Volume 3 Nomor 1
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jupiter.v3i1.6177

Abstract

Minyak ikan dan Squalene merupakan minyak hewani yang memiliki stabilitas yang sangat rendah. Hal ini disebabkan karna minyak ikan mengandung asam lemak tidak jenuh, sehingga minyak ikan sangat mudah rusak atau teroksidasi. Karakterisasi pada minyak ikan dapat dilakukan dengan melakukan analisis parameter oksidasi primer maupun sekunder, viskositas, densitas dan uji kejernihan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis Parameter oksidasi yang terkandung dalam minyak sardine dan hati ika cucut yang mengandung squalene. Parameter yang diujikan meliputi, nilai asam lemak bebas (FFA), peroksida (PV), ansidin (p-AV) dan total oksidasi (totox). Hasil pengujian parameter oksidasi dari kombinasi minyak ikan menunjukan bahwa minyak ikan dengan kombinasi 1:4 memiliki nilai totox paling rendah dan tidak melebihi batas standar IFOS. Nilai parameter oksidasi pada kombinasi minyak ikan tersebut adalah FFA (0,5%), PV (4,67 mEq/kg), anisidin (4,98 mEq/kg), dan TOTOX (14,30 mEq/kg).
Dampak Model Rumpon Terhadap Produktivitas Penangkapan Nelayan Di Kecamatan Mesjid Raya Isbah, Faliqul; Indra, Indra; Muhammdar, Muhammadar; Akbardiansyah, Akbardiansyah; Fuadi, Afdhal; Hamidi, Hamidi; Insani, Sri Ayu
Jurnal Perikanan Terpadu Vol 3, No 1 (2022): Jurnal Perikanan Terpadu Volume 3 Nomor 1
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jupiter.v3i1.5510

Abstract

Indonesia merupakan negara yang sebahagian besar wilayahnya terdiri dari lautan yang tersebar luas dari Sabang sampai Marauke, dalam hal ini seharusnya dapat mensejahterakan masyarakat khususnya yang berprofesi sebagai nelayan dikarenakan kekayaan akan potensi yang terdapat di dalamnya. Penelitian ini bertujuan agar mendapatkan informasi berapa besar nilai pendapatan yang diperoleh nelayan apabila menggunakan rumpon. Metode pengumpulan data yang digunakan menggunakan kuisioner dengan pendekatan kualitatif dan dianalisis menggunakan metode Paired Sample T Test. Rata-rata pendapatan yang diterima oleh nelayan tanpa adanya rumpon adalah sebesar Rp. 388.000, sementara pendapatan rata-rata yang diterima oleh para nelayan dengan adanya rumpon adalah sebesar Rp. 592.000 per sekali aktivitas penangkapan ikan. Keberadaan rumpon yang diletakkan di dasar perairan, dapat meningkatnya pendapatan nelayan. Harapannya masyarakat setempat dapat mengelolanya dengan baik dan benar agar kesejahteraan para nelayan dapat meningkat. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka diperoleh kesimpulan yaitu pendapatan nelayan tanpa dan dengan rumpon adalah sangat memiliki perbedaan yang signifikan dan diharapkan dengan adanya peningkatan pendapatan masyarakat nelayan tidak lagi hidup dalam kemiskinan
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT LHOK ACEH JAYA DALAM MENINGKATKAN HASIL TANGKAPAN MELALUI INOVASI RUMPON ATRAKTOR IJUK Rizal, Muhammad; Hafinuddin, Hafinuddin; Khairi, Ikhsanul; Fuadi, Afdhal; Bahri, Samsul; Al Misbah, Iyan; Karim, Abdul
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 4 (2024): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v7i4.1395-1401

Abstract

Rumpon dikabupaten aceh jaya, terdapat berbagai permasalahan adat terutamanya dengan sering hilangnya rumpon, pengambilan hasil rumpon tanpa sepengetahuan pemiliknya jika diletakkan di laut, untuk mengatasi permasalah yang ada penulis mencoba untuk melakukan pengapdian tentang perancangan rumpon dan juga disertakan qanun atau hukum adat yang dikontrol penuh oleh panglima laot setempat, sehingga memudahkan panglima laot untuk kedepannya dalam pengelolaan rumpon.Tujuan dari pengapdian ini antara lain menerapkan inovasi rumpon ataktor ijuk untuk meingkatkan hasil tangkapan nelayan beserta dengan penegakan qanun atau hokum adat dalam pengelolaan rumpon. Metode yang digunakan dalam kegiatan pendampingan dan edukasi nelayan dalam penerapan pembuatan rumpon untuk masyarakat nelayan Desa Gle Jong Kabupaten Aceh jaya atau Lhok Kuala Daya antara lain dilakukan Focus Discusi Group (FGD), Pelatihan pembuatan, Pendampingan. Kegiatan program yang dilakukan dengan bermitra nelayan ini melibatkan banyak pihak, mulai dari DKP, panglima laot kabupaten, panglima loat lhok dan para nelayan disetiap kecamatan yang ada di Kabupaten Aceh. Hal yang urgen didiskusikan adalah mencari alternatif yang paling efektif dalam inovasi rumpon berbasis pengelolaa adat secara sustainable.Pengabdian yang telah dilaksanakan dapat menambah ketrampilan teknis untuk nelayan dalam pembuatan rumpon atraktor ijuk dan juga mengukuhkan qanun/hukum adat terhadap pengelolan rumpon sehingga peran dari Panglima Laot semakin berperan. Keberhasilan kegiatan pengabdian masyarakat ini diharapkan masyarakat nelayan tidak terjadi lagi permasalahan terhadap pengelolaan dan mendapatkan ilmu inovasi rumpon untuk dapat diimplimentasikan oleh masyarakat nelayan dengan meningkatkan hasil tangkapannya
PENGUATAN PENGELOLAAN RUMPON IJUK UNTUK PENGENDALIAN INFLASI KOMODITAS PERIKANAN DI KABUPATEN ACEH BARAT Hafinuddin, Hafinuddin; Rizal, Muhammad; Sulaiman, Ismail; Khairi, Ikhsanul; Mursyidin, Mursyidin; Yusfiandayani, Roza; Iqbal Irfany, Mohammad; Muthohharoh, Marhamah; Fuadi, Afdhal; Bahri, Samsul; Al Misbah, Iyan; Karim, Abdul
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 2 (2025): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v8i2.768-776

Abstract

Perikanan tangkap menjadi komoditi industri laut yang saat ini masih didominasi di seluruh nusantara. Bahkan, indonesia menjadi salah satu negara eksportir perikanan pelagis dan demersal di dunia. Aceh memiliki potensi perikanan tangkap yang besar yang mampu memproduksi perikanan tangkap mencapai 230 ribu ton per tahunnya. Namun pengelolaan perikanan tangkap di Aceh masih sangat rendah sehingga produksi perikanan tangkap umumnya hanya didominasi oleh beberapa nelayan besar saja. Pelaksanaan kegiatan penguatan pengelolaan rumpon ijuk untuk pengendalian inflasi komoditas perikanan di Kabupaten Aceh Barat dilakukan dengan tujuan: 1) Sosialisasi program kepada multi stakeholders; 2) Menyelaraskan persepsi dan sinkronisasi program terkait dengan multi stakeholders; 3) Kesepakatan berbagai pihak terkait dalam pengelolaan rumpon ijuk; dan 4) Terbentuknya aturan pengelolaan rumpon ijuk berbasis komunal melalui lembaga adat laot di Kabupaten Aceh Barat. Kegiatan dilakukan pada empat lokasi Lhok Panglima Laot yang berbeda meliputi Lhok Meureubo, Lhok Padang Seurahet, Lhok Suak Seumaseh dan Lhok Bubon. Adapun kegiatan yang dilakukan meliputi Kegiatan Pra Kick Off, Kegiatan Capacity Building Untuk Nelayan Penerima Program, FGD Pengelolaan Rumpon Di Lhok Meureubo, FGD Pengelolaan Rumpon Di Lhok Padang Seurahet, Lhok Bubon, dan Lhok Suak Seumaseh, Pembuatan Draft Qanun Pengelolaan Rumpon Secara Komunal Berbasis Lembaga Adat Laot, FGD Pengelolaan Rumpon Di Kabupaten Aceh Barat, FGD Pengelolaan Rumpon Ijuk Di Kabupaten Aceh Barat: Sinergi Qanun Rumpon Dan Keterlibatan Berbagai Stakeholders Perikanan Tangkap, High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Dan Tim Percepatan Dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD), Pemasangan Rumpon Ijuk Di Perairan Lhok Meureubo, Lhok Padang Seurahet, Lhok Suak Seumaseh dan Lhok Bubon. Berdasarkan kegiatan yang telah dilaksanakan terhadap nelayan. dapat disimpulkan bahwa penguatan dan pengelolaan kelompok nelayan dapat dilakukan secara sistematis.
Mapping of fisheries centers in West Aceh Regency based on the distribution of fishing infrastructure Amir, Fachrurozi; Erfan, Erfan; Fardian, Fardian; Nuansa, Fajar; Dwiriansyah, Ridha; Rosmalinda, Rosmalinda; Mauliza, Tania; Zulfahmi, Zulfahmi; Fuadi, Afdhal
Jurnal Perikanan Terpadu Vol 6, No 2 (2025): Jurnal Perikanan Terpadu Volume 6 Nomor 2
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jpterpadu.v6i2.11994

Abstract

The availability of fisheries infrastructure data in an area is the first step in improving and enhancing the management of the fisheries system, because the existence of fisheries infrastructure is an inseparable part in supporting the success of fishing activities. With accurate infrastructure data, it can be used as a reference in planning the development of marine and fisheries centers. In West Aceh Regency, there are currently many marine and fisheries infrastructures, but no research has been conducted on mapping fisheries centers based on the distribution of existing fisheries infrastructure. The absence of updated infrastructure data is worried to have an impact on the optimization of marine and fisheries resource management. The purpose of this study is to map fisheries centers based on the distribution of fisheries infrastructure. The method used in this study is the survey method, where data collection in the field was carried out in three sub-districts that directly border the coastal area, namely Samatiga District, Johan Pahlawan District and Meureubo District. The infrastructure coordinates obtained from the field will be processed and presented in the form of a map using the ArcGIS application. The results of the study showed that in West Aceh Regency there are 1 PPI and 6 TPI, 31 infrastructure for procurement and repair of fishing vessels, and 9 infrastructures before and  after fishing. The fisheries center in Samatiga District is in the Kuala Bubon area, the fisheries center in Johan Pahlawan District is along the Krueng Cangkoi estuary river, while the fisheries center in Meureubo District is in one of the rivers in Gampong Meureubo and Gampong Ujong Drien.
Productivity of trap catches in different fishing ground at Lhok Kuala Daya, Aceh Jaya Rizal, Muhammad; Hafinuddin, Hafinuddin; Fuadi, Afdhal; Khairi, Ikhsanul; Rahayu, Rosi; Al-misbah, Iyan
Depik Jurnal Ilmu Ilmu Perairan, Pesisir, dan Perikanan Vol 14, No 4 (2025): December 2025
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.14.4.50266

Abstract

Trap fishing gear offers several advantages, including high selectivity, the ability to keep fish alive, and support for sustainable fisheries. The productivity of catches around coral reefs and fish aggregating devices (FADs) is important to study in order to evaluate fish diversity in deeper waters across biological, genetic, species, and ecological levels. Such assessments are crucial for environmental conservation and for management based on diversity and dominance indices. This study aimed to determine the productivity, diversity, and dominant species composition of trap catches in two fishing grounds (FGs): coral reef areas and FAD zones at Lhok Kuala Daya, Aceh Jaya. The research employed an experimental fishing method, conducting five fishing operations in each zone. The overall diversity index of trap catches in Lhok Kuala Daya was 1.26, indicating a moderate level of diversity. The diversity index for catches around coral reefs was 1.15, while around FADs it was 1.58. The overall dominance index value of trap catches was 2.74, with dominance values of 0.74 in coral reef areas and 2.00 in FAD zones. These results indicate a low level of species dominance and a moderately diverse fish community in both fishing zones.Keywords:ProductivityTrapcatchFishing groundKuala daya
Productivity of trap catches in different fishing ground at Lhok Kuala Daya, Aceh Jaya Rizal, Muhammad; Hafinuddin, Hafinuddin; Fuadi, Afdhal; Khairi, Ikhsanul; Rahayu, Rosi; Al-misbah, Iyan
Depik Jurnal Ilmu Ilmu Perairan, Pesisir, dan Perikanan Vol 14, No 4 (2025): December 2025
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.14.4.50266

Abstract

Trap fishing gear offers several advantages, including high selectivity, the ability to keep fish alive, and support for sustainable fisheries. The productivity of catches around coral reefs and fish aggregating devices (FADs) is important to study in order to evaluate fish diversity in deeper waters across biological, genetic, species, and ecological levels. Such assessments are crucial for environmental conservation and for management based on diversity and dominance indices. This study aimed to determine the productivity, diversity, and dominant species composition of trap catches in two fishing grounds (FGs): coral reef areas and FAD zones at Lhok Kuala Daya, Aceh Jaya. The research employed an experimental fishing method, conducting five fishing operations in each zone. The overall diversity index of trap catches in Lhok Kuala Daya was 1.26, indicating a moderate level of diversity. The diversity index for catches around coral reefs was 1.15, while around FADs it was 1.58. The overall dominance index value of trap catches was 2.74, with dominance values of 0.74 in coral reef areas and 2.00 in FAD zones. These results indicate a low level of species dominance and a moderately diverse fish community in both fishing zones.Keywords:ProductivityTrapcatchFishing groundKuala daya
Peningkatan keterampilan ibu rumah tangga melalui pengolahan daun dan Labu Siam (Sechium Edule) menjadi produk krispi Afdhal Fuadi; Bimo Arif Syahputra; Tasa Maulana Putra; Adila Erlita; Defia Defia; Efi Lisa; Jeli Novita
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 2 (2025): March
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i2.29066

Abstract

AbstrakDesa Aih Selah merupakan salah satu desa yang lokasinya berada pada dataran tinggi sehingga membuat udaranya bersih dengan suhu yang sejuk yaitu di kabupaten Gayo Lues Provinsi Aceh. Desa tersebut memiliki tanah yang subur sehingga banyak lahan yang di manfaatkan oleh masyarakat untuk berkebun yaitu menanam tembakau, sayuran salah satunya adalah labu siam di sekitar perkarangan dan lahan rumah. Potensi sumberdaya yang ada di Desa Aih Selah yaitu labu siam yang selama ini dimanfaatkan untuk konsumsi seperti membuat sayuran. Sehingga pemanfaatan labu siam tersebut kurang adanya inovasi dalam pengolahan daun dan labu siam. Oleh karena itu tim pengabdian memberikan pelatihan pengolahan daun dan buah labu siam di Desa Aih Selah menjadi produk krispi yang mudah untuk di produksi dan di pasarkan oleh masyarakat, hal tersebut akan berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat tersebut. Metode yang diterapkan pada kegiatan ini yaitu sosialisasi pengenalan produk krispi dan workshop pengolahan daun dan buah labu siam menjadi krispi mulai dari perencanaan, persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi hasil dari kegiatan tersebut. Sasaran dari kegiatan ini adalah Ibu-ibu PKK dan masyarakat Desa Aih Selah kabupaten Gayo Lues berjumlah 20 orang. Hasil yang diperoleh dari kegiatan pengabdian ini adalah ibu-ibu PKK dan masyarakat Desa Aih Selah sangat antusias dalam mengikuti kegiatan tersebut, hal ini dilihat dari banyaknya pertanyaan yang muncul dan keingintahuan dari masyarakat dan ibu-ibu PKK dalam membuat produk krispi yang berbahan dari buah labu siam pada saat dilakukan sosialisasi pengenalan produk olahan. Kemudian masyarakat dan ibu-ibu PKK juga berperan aktif serta terlibat langsung pada kegiatan workshop pengolahan daun dan buah labu siam menjadi produk krispi, sehingga kegiatan ini dapat menambahkan pengetahuan dan meningkatkan pendapatan atau mata pencaharian ibu-ibu PKK dan masyarakat Desa Aih Selah kabupaten Gayo Lues. Hasil dari pengolahan produk krispi dari potensi sumberdaya lokal daun dan labu siam dapat untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dan membantu mengurangi angka kemiskinan ektrem yang ada di Desa Aih Selah. Kata kunci: labu siam krispi; perekonomian; produk olahan; sumberdaya lokal. AbstractAih Selah Village is one of the villages located on a plateau so that it makes the air clean with a cool temperature, namely in Gayo Lues district, Aceh Province. Aih Selah Village has fertile land so that a lot of land is used by the community for gardening, so that many Aih Selah Village people grow tobacco, vegetables, one of which is chayote around the yard and land at home. By looking at the potential that exists in Aih Village, one of them is chayote which has been used for consumption and lack of innovation in the processing of Siamese leaves and pumpkin, through training activities on the processing of chayote leaves and fruits in Aih Selah Village into crispy products that are easy to produce and market by the community. The method applied in this activity is social reflection through interviews then holding socialization activities by introducing products from processed leaves and fruits of chayote, and then conducting training workshop on processing chayote leaves and fruits into crispy products. The target of this activity is PKK mothers and the people of Aih Selah Village, Gayo Lues regency. The results of processing crispy products from the potential of local resources of Siamese leaves and pumpkins can improve the community's economy and help reduce extreme poverty in Aih Selah Village. Keywords: crispy chayote; economy; processed products; on-premises resources.
Edukasi teknologi BuDar (BuBu Dasar) ramah lingkungan berbasis sumberdaya lokal untuk peningkatan hasil tangkapan nelayan tradisional Lhok Kuala Bubon Hamidi Hamidi; Afdhal Fuadi; Rosi Rahayu; Muhammad Arif; Akbardiansyah Akbardiansyah; Rahmawati Rahmawati; Nabila Ukhty; Fiki Rebi Hidayat; Rusdi Rusdi; Fachrorazi Amir; Nurhatijah Nurhatijah
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 6 (2025): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i6.34365

Abstract

AbstrakSalah satu alat penangkapan ikan yang selama ini digunakan oleh nelayan tradisional Lhok Kuala Bubon yaitu pukat tarik dengan hasil tangkapan yang relatif berukuran kecil dan secara perlahan dapat merusak dasar perairan, sehingga perlu adanya alat penangkapan ikan yang ramah terhadap lingkungan dan hasil tangkapan yang diperoleh sudah layak tangkap serta memiliki nilai ekonomis penting salah satunya adalah bubu dasar. Oleh karena itu perlu adanya kegiatan edukasi pengenalana teknologi BuDar (Bubu Dasar) ramah lingkungan dan berbasis sumberdaya lokal yang diberikan kepada kelompok nelayan tradisional tersebut. Jumlah penerima manfaat langusng dari kegiatan pengabdian ini yaitu 35 orang atau kelompok nelayan tradisional dengan menggunakan armada penangkapan ikan <5 GT di perairan Aceh Barat. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memperkenalkan alat penangkapan ikan tepat guna yaitu BuDar kepada kelompok nelayan tradisional untuk meningkatkan pendapatan dan mengurangi penggunaan alat tangkap yang tidak ramah terhadap lingkungan. Metode yang digunakan pada kegiatan pengabdian ini yaitu menggunakan metode pendidikan dengan melakukan edukasi dan sosialisasi kepada kelompok nelayan tradisional mulai dari FGD persiapan pengabdian, pelaksanaan pengabdian, dan evaluasi dari pelaksanaan kegiatan. Hasil FGD persiapan kegiatan ditemukan beberapa masalah utama pada kelompok nelayan tradisional Lhok Kuala Bubon yaitu masih menggunakan alat tangkap pukat tarik yang secara tidak langsung dapat merusak dasar perairan, kemudian nelayan tradisional tersebut masih kurang pahamnya alternatif alat tangkap yang tidak merusak lingkungan. Timbulnya partisipasi aktif oleh kelompok nelayan tradisional Lhok Kuala Bubon dari edukasi teknologi BuDar ramah lingkungan, sehingga nelayan tersebut tertarik menggunakan bubu dasar sebagai alternatif untuk menangkap ikan demersal khususnya ikan karang yang memiliki nilai ekonomis penting. Kemudian terjadi peningkatan pengetahuan kelompok nelayan tradisional sebanyak 80% terkait materi yang diberikanan mulai dari alat dan bahan yang digunakan, manfaatn bubu dasar, dan jenis hasil tangkapan yang akan diperoleh. Kata kunci: edukasi; budar; ramah lingkungan; sumberdaya lokal; nelayan tradisional. AbstractOne of the fishing tools that has been used by traditional fishermen of Lhok Kuala Bubon is the trawl net, which has a relatively small catch and can slowly damage the bottom of the waters, so there is a need for fishing tools that are environmentally friendly and the catch obtained is suitable for fishing and has important economic value, one of which is the bottom trap. Therefore, there is a need for educational activities to introduce BuDar (bottom trap) technology, which is environmentally friendly and based on local resources, to these traditional fishing groups. The number of direct beneficiaries of this community service activity is 35 people or groups of traditional fishermen using fishing fleets <5 GT in the waters of West Aceh. This community service activity aims to introduce appropriate fishing gear, namely BuDar, to traditional fishing groups to increase income and reduce the use of fishing gear that is not environmentally friendly. The method used in this community service activity is using an educational method by providing education and outreach to traditional fishermen groups starting from FGD preparation for community service, implementation of community service, and evaluation of the implementation of activities. The results of the FGD on preparation for the activity found several main problems in the Lhok Kuala Bubon traditional fishermen group, namely that they still use trawl fishing gear, which can indirectly damage the waters, and that the traditional fishermen still do not understand alternative fishing gear that does not damage the environment. The emergence of active participation by the traditional fishermen group of Lhok Kuala Bubon from the education of environmentally friendly BuDar technology made from local resources available around Lhok Kuala Bubon Village so that the fishermen are interested in using bottom traps as an alternative to catch demersal fish, especially reef fish, which have important economic value. Keywords: education; BuDar; environmentally friendly; local resources; traditional fishermen.
Peningkatan ketrampilan nelayan tradisional Desa Ujong Drien melalui teknologi budarjan (bubu dasar jaring) berbasis sumberdaya lokal Fuadi, Afdhal; Rizal, Muhammad; Rusdi, Rusdi; Fajri, Ilham; Ujirta, Randi; Yuslil, Adima
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 1 (2026): February
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i1.36671

Abstract

AbstrakSalah satu kabupaten yang berada di WPP 572 adalah kabupaten Aceh Barat dengan manyoritas sebagai nelayan tradisional sebagai pelaku usaha penangkapan ikan salah satunya adalah Desa Ujong Drien. Kelompok nelayan tradisional Desa Ujong Drien melakukan penangkapan ikan di perairan dibawah 12 mil laut, sehingga hasil tangkapan ikan yang diperoleh relatif kecil jika dibandingkan dengan kapal perikanan yang berukuran <5 GT melakukan penangkapan ikan di perairan laut lepas. Selama ini kelompok nelayan tradisional Desa Ujong Drien masih menggunakan alat tangkap sederhana untuk penangkapan ikan demersal yaitu dengan hand line dan gill net, sehingga nelayan tersebut memerlukan waktu yang lama untuk melakukan operasional penangkapan ikan, hasil tangkapan yang belum pasti dan dapat meningkatkan penggunaan BBM. Oleh karena itu perlu adanya teknologi BuDarJan (Bubu Dasar Jaring) untuk meningkatkan hasil tangkapan ikan demersal. Metode pelaksanaan kegiatan yaitu dengan pendidikan melalui penyuluhan, pelatihan, dan pendampingan. Pelaksanaan kegiatan dilakukan mulai dari memberikan sosialisasi dan edukasi, pelatihan pembuatan BuDarJan, dan monitoring hasil kegiatan. Adanya ketertarikan nelayan tradisional Desa Ujong Drien yaitu sebanyak 36 dari 40 nelayan untuk menggunakan teknologi BuDarjan sebagai alat penangkapan utama untuk menangkap ikan demersal. Hasil pelaksanaan monitoring dan evaluasi terjadi peningkatan pengetahuan sebanyak  75% dan 85% peningkatan ketrampilan dalam pembuatan teknologi BuDarJan sebanyak 40 nelayan sebagai penerima manfaat langsung. Kata kunci: budarjan; keterampilan; nelayan tradisional; peningkatan. AbstractOne of the districts in WPP 572 is West Aceh, with a majority of traditional fishermen as fishing business actors, one of which is Ujong Drien Village. The traditional fishing group of Ujong Drien Village catches fish in waters below 12 nautical miles, so the fish catch obtained is relatively small when compared to fishing vessels measuring <5 GT that catch fish in open sea waters. So far, the traditional fishing group of Ujong Drien Village still uses simple fishing gear for catching demersal fish, namely hand lines and gill nets, so that these fishermen need a long time to carry out fishing operations, the catch is uncertain, and fuel consumption can increase. Therefore, it is necessary to have BuDarJan (Net Bottom Trap) technology to increase demersal fish catches. The implementation method is educational through outreach, training, and mentoring. This includes outreach and education, training on creating BuDarJan, and monitoring the results of the activities. There is interest from traditional fishermen of Ujong Drien Village, namely 36 out of 40 fishermen, in using BuDarjan technology as the main fishing tool for catching demersal fish. Monitoring and evaluation results showed a 75% increase in knowledge and an 85% increase in skills in using BuDarJan technology for 40 fishermen, who directly benefited. Keywords: budarjan; skills; traditional fishermen; improvement.
Co-Authors Abdul Karim Abdul Karim Adila Erlita Ahmad, Dimas Kusmayadi Aida Fitriani, Aida Aida, Aida Akbardiansyah Akbardiansyah Akbardiansyah, Akbardiansyah Al Misbah, Iyan Al-misbah, Iyan Amir, Fachrurozi Andriana, Mutia Rifka Anhar Rozi Anhar Rozi Annas, Ruesma Azhadin Antoni Antoni Arrazy Elba Ridha Azmi, Fauziah Bimo Arif Syahputra Budy Wiryawan Cut Meurah Nurul ‘Akla Defia Defia Devani, Khairul Dianshar, Rahmat Dimas Kusumayadi Dimas Kusumayadi Dwiriansyah, Ridha Edy Miswar Edy Miswar, Edy Efi Lisa Erfan, Erfan Ewita, Felma Fachrorazi Amir Faliqul Isbah Fardian, Fardian Febri, Suri Purnama Fiki Rebi Hidayat Firma Warni Fitriani Fitriani Fuah, Ricky Winrison Gebrina Reski Giovanni Oktavinanda Hafinuddin Hafinuddin Hamidi Hamidi Hamidi Hamidi Hamidi Hamidi Hamidi Harahap, Yuni Angraini Haser, Teuku Fadlon Heriansyah Ifan Muliadi Ihsanul Khairi Ika Rezvani Aprita Ikhsanul Khairi Ilham Fajri, Ilham Imamshadiqin, Imamshadiqin Imanullah, Imanullah Indra Indra Insani, Sri Ayu Iqbal Irfany, Mohammad Ismail Sulaiman Iyan Al Misbah Jeli Novita Khusnul Khatimah KURNIA KURNIA, KURNIA Kusumayadi, Dimas Maulana Wali Akbar Mauliza, Tania Melisa Rahayu Muhammad Agam Thahir Muhammad Agam Thahir Muhammad Arif Muhammad Arif Muhammad Arif Muhammad Arif Muhammad Arif Nasution Muhammad Irham MUHAMMAD RIZAL Muhammad Rizal Muhammad Rizal Muhammad Rizal Muhammdar, Muhammadar Mursyidin Mursyidin Musri Musman Mustaruddin Muthohharoh, Marhamah Nabila Ukhty Nazlia, Suraiya Nuansa, Fajar Nurhatijah Nurhatijah Nurhikma, Nurhikma Nurmayana, Nurmayana Nursantika Adelia Putri Oktavinanda, Giovanni Rahayu, Rosi Rahmat Dianshar Rahmawati Rahmawati Rahmawati, Rahmawati Rosi Rahayu Rosmalinda, Rosmalinda Roza Yusfiandayani Rozi, Anhar Rudi Hermi Rusdi Rusdi Rusdi Rusdi Said Radius Samsul Bahri Samsul Bahri Sanawiyah Sanawiyah Sauni, Sabtha Wahyudi Siregar, Maika Khairiyah Sri Ayu Insani Supartik Supartik SYAHRIAL SYAHRIAL Syamsiar, Syamsiar Syarifah Zuraidah Tasa Maulana Putra Teuku Amarullah Ujirta, Randi Umam, Hairul Yuslil, Adima Zulfahmi Zulfahmi Zuriat Zuriat