Claim Missing Document
Check
Articles

Mangrove Vegetation Mapping with Remote Sensing Approach (Citra Landsat 8) in Lhokseumawe City Imamshadiqin, Imamshadiqin; Nurmayana, Nurmayana; Imanullah, Imanullah; Syahrial, Syahrial; 'Akla, Cut Meurah Nurul; Salmarika, Salmarika; Fuadi, Afdhal
Jurnal Perikanan Terpadu Vol 5, No 1 (2024): Jurnal Perikanan Terpadu Volume 5 Nomor 1
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jpterpadu.v5i1.9609

Abstract

One of the best potential mangrove forests is located in Lhokseumawe City. Mangrove forests function as protected areas in coastal areas and are used as vegetation whose existence must be maintained. Efforts to protect it can be carried out by mapping the distribution of mangrove forest areas as a database in Lhokseumawe City. Mapping the distribution of mangrove forest areas can be done using remote sensing. This research was conducted in October - November 2022 in Lhokseumawe City. The method used in this study is the visual interpretation of remote sensing imagery and field surveys. Visual interpretation techniques are used to find out the extent of information from satellite imagery in 2022 which has been geometrically corrected regarding mangrove forest vegetation. Field surveys are needed to obtain more accurate data results. The results of research on mangrove vegetation in Lhokseumawe City are found in 4 sub-districts, namely: Muara Satu District, Banda Sakti District, Muara Dua District, and Blang Mangat District with a total area of ± 65.74 Ha. The results of the density level of mangroves in Lhokseumawe City are dominantly rare with a value of 0.32 m2
Peranan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Higienis Dalam Mempertahankan Mutu Ikan Di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Sibolga Arif, Muhammad; Siregar, Maika Khairiyah; Fuadi, Afdhal; Rahayu, Rosi; Rahmawati, Rahmawati; Akbardiansyah, Akbardiansyah; Insani, Sri Ayu
Jurnal Perikanan Terpadu Vol 3, No 2 (2022): Jurnal Perikanan Terpadu Volume 3 Nomor 2
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jupiter.v3i2.7029

Abstract

Ikan merupakan hasil tangkapan harus segera ditangani untuk menghambat penurunan mutu dan penurunan harga jualnya. Namun demikian, nelayan sebagai pelaku utamanya tidak mempertimbangkan apakah upaya yang dilakukan tersebut layak secara teknis atau ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses penanganan ikan di TPI Higienis di PPN Sibolga dan mengetahui fasilitas dan peralatan pendukung yang terdapat di TPI Higienis di PPN Sibolga dalam mempertahankan mutu ikan. Penelitian ini menggunakan metode survei dan pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara dan observasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa proses penanganan ikan di TPI Higienis di PPN Sibolga sudah baik karena sudah menggunakan konveyor dan dilengkapi dengan kanopi untuk menjaga mutu ikan tetap baik. Selanjutnya fasilitas TPI Higienis di PPN Sibolga sudah lengkap untuk menerapkan standar yang tinggi dalam pengelolaan hasil perikanan dan pengelolaan lingkungan pelabuhan
Effectiveness of Tuba Root Extract Dosage (Paraderris elliptica) to Gold Fish Oxygen Consumption Rate (Carassius auratus) on Transportation Closed Devani, Khairul; Febri, Suri Purnama; Haser, Teuku Fadlon; Aprita, Ika Rezvani; Nazlia, Suraiya; Antoni, Antoni; Fuadi, Afdhal; Azmi, Fauziah
Jurnal Perikanan Terpadu Vol 5, No 2 (2024): Jurnal Perikanan Terpadu Volume 5 Nomor 2
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jpterpadu.v5i2.10431

Abstract

Chef carp (Carassius auratus) is a freshwater ornamental fish that is one of the ornamental fish that is widely cultivated because it has a diverse body shape and has a variety of colors. The problem often faced by carp suppliers in the process of distributing fish with a closed fish transportation system is low survival pass. The use of such anesthesia materials is quite effective in closed transport systems. One of the natural compounds that can be used as an anesthetic agent is rotenon. The roots of tubal plants contain rotenon, a powerful poison for fish and insects. The method used in this study is an experimental method, this study uses Complete Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 3 repeats. The dose of tubal root extract used was P1 (control), P2 (0.10 ml / L), P3 (0.15 ml / L), P4 (0.20 ml / L). The density of fish per plastic bag amounts to 10 heads with a transportation time of 9 hours. The parameters observed were length of intoxication time, survival rate, length of time recovered consciously, oxygen consumption rate and water quality. Giving doses of tubal root extract with different doses had a significant effect (P<0.05). The highest survival rate value in P2 treatment with a dose of 0.10 ml and saving the rate of oxygen consumption with the right dose is in P4 with a dose of 0.20 ml / L ranging from 0.039 mg O2 / minute.
PENGUATAN PENGELOLAAN RUMPON IJUK UNTUK PENGENDALIAN INFLASI KOMODITAS PERIKANAN DI KABUPATEN ACEH BARAT Hafinuddin, Hafinuddin; Rizal, Muhammad; Sulaiman, Ismail; Khairi, Ikhsanul; Mursyidin, Mursyidin; Yusfiandayani, Roza; Iqbal Irfany, Mohammad; Muthohharoh, Marhamah; Fuadi, Afdhal; Bahri, Samsul; Al Misbah, Iyan; Karim, Abdul
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 2 (2025): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v8i2.768-776

Abstract

Perikanan tangkap menjadi komoditi industri laut yang saat ini masih didominasi di seluruh nusantara. Bahkan, indonesia menjadi salah satu negara eksportir perikanan pelagis dan demersal di dunia. Aceh memiliki potensi perikanan tangkap yang besar yang mampu memproduksi perikanan tangkap mencapai 230 ribu ton per tahunnya. Namun pengelolaan perikanan tangkap di Aceh masih sangat rendah sehingga produksi perikanan tangkap umumnya hanya didominasi oleh beberapa nelayan besar saja. Pelaksanaan kegiatan penguatan pengelolaan rumpon ijuk untuk pengendalian inflasi komoditas perikanan di Kabupaten Aceh Barat dilakukan dengan tujuan: 1) Sosialisasi program kepada multi stakeholders; 2) Menyelaraskan persepsi dan sinkronisasi program terkait dengan multi stakeholders; 3) Kesepakatan berbagai pihak terkait dalam pengelolaan rumpon ijuk; dan 4) Terbentuknya aturan pengelolaan rumpon ijuk berbasis komunal melalui lembaga adat laot di Kabupaten Aceh Barat. Kegiatan dilakukan pada empat lokasi Lhok Panglima Laot yang berbeda meliputi Lhok Meureubo, Lhok Padang Seurahet, Lhok Suak Seumaseh dan Lhok Bubon. Adapun kegiatan yang dilakukan meliputi Kegiatan Pra Kick Off, Kegiatan Capacity Building Untuk Nelayan Penerima Program, FGD Pengelolaan Rumpon Di Lhok Meureubo, FGD Pengelolaan Rumpon Di Lhok Padang Seurahet, Lhok Bubon, dan Lhok Suak Seumaseh, Pembuatan Draft Qanun Pengelolaan Rumpon Secara Komunal Berbasis Lembaga Adat Laot, FGD Pengelolaan Rumpon Di Kabupaten Aceh Barat, FGD Pengelolaan Rumpon Ijuk Di Kabupaten Aceh Barat: Sinergi Qanun Rumpon Dan Keterlibatan Berbagai Stakeholders Perikanan Tangkap, High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Dan Tim Percepatan Dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD), Pemasangan Rumpon Ijuk Di Perairan Lhok Meureubo, Lhok Padang Seurahet, Lhok Suak Seumaseh dan Lhok Bubon. Berdasarkan kegiatan yang telah dilaksanakan terhadap nelayan. dapat disimpulkan bahwa penguatan dan pengelolaan kelompok nelayan dapat dilakukan secara sistematis.
Peningkatan hasil tangkapan nelayan tradisional Lhok Meureubo melalui teknologi bubu dasar ramah lingkungan berbasis sumberdaya lokal Fuadi, Afdhal; Rahayu, Rosi; Arif, Muhammad; Akbardiansyah, Akbardiansyah; Rusdi, Rusdi; Amir, Fachrurozi
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 4 (2024): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i4.27435

Abstract

AbstrakNelayan tradisional Lhok Meureubo melakukan penangkapan ikan di perairan <12 mil laut, sehingga hasil tangkapan yang diperoleh relatif kecil jika dibandingkan dengan kapal perikanan yang berukuran <5 GT yang melakukan penangkapan di perairan laut lepas pantai. Nelayan tradisional Lhok Meureubo masih menggunakan alat tangkap hand line untuk penangkapan ikan karang, sehingga nelayan tersebut memerlukan waktu yang lama dan hasil tangkapan yang belum pasti serta dapat merusak terumbu karang. Bubu dasar termasuk dalam alat tangkap ikan yang populer digunakan yang bersifat pasif dan menetap di dasar perairan yang bertujuan untuk menangkap ikan demersal nilai ekonomis tinggi sebagai komoditas ikan ekspor. Masyarakat yang terlibat langsung pada kegiatan pengabdian ini yaitu nelayan tradisional Lhok Meureubo sebanyak 30 nelayan. Tujuan kegiatan ini yaitu memperkenalkan teknologi bubu dasar untuk memudahkan nelayan tradisional Lhok Meureubo untuk menangkap ikan karang. Metode pada pengabdian ini yaitu memberikan sosialisasi dan edukasi mulai dari persiapan kegiatan, pelaksanaan, dan evaluasi. Hasil dari kegiatan FGD persiapan kegiatan yang diperoleh adalah permasalahan nelayan tradisional Lhok Meureubo yang dihadapi selama ini dalam melakukan penangkapan ikan karang, nelayan yang akan terlibat langsung, waktu pelaksanaan kegiatan sosialisasi dan edukasi. Memberikan sosialisasi dan edukasi langsung kepada nelayan tradisional Lhok Meureubo terkait alat tangkap teknologi bubu berbasis sumberdaya lokal yang dapat digunakan oleh nelayan tradisional tersebut untuk menangkapa ikan karang.Kata kunci: nelayan tradisional; bubu dasar; ramah lingkungan; sumberdaya lokal. AbstractLhok Meureubo traditional fishermen fish in waters <12 nautical miles, so the catch obtained is relatively small when compared to fishing vessels measuring <5 GT which fish in offshore sea waters. Lhok Meureubo traditional fishermen still use handline fishing gear to catch coral fish, so these fishermen need a long time and the catch is uncertain and can damage coral reefs. Bottom traps are one of the popular fishing tools used, which are passive and remain at the bottom of the waters with the aim of catching demersal fish with high economic value as export fish commodities. This community service activity directly involves 30 traditional fishermen from Lhok Meureubo. The purpose of this activity is to introduce basic trap technology to make it easier for traditional fishermen from Lhok Meureubo to catch reef fish. The method of this service is to provide socialization and education, starting with activity preparation, implementation, and evaluation. The results of the FGD activity in preparation for the activities obtained were the problems that Lhok Meureubo traditional fishermen have faced so far in fishing for coral fish, the fishermen who will be directly involved, and the timing of the socialization and education activities. Providing direct outreach and education to Lhok Meureubo traditional fishermen regarding local resource-based trap technology fishing equipment that can be used by traditional fishermen to catch coral fish. Keywords: traditional fishermen; bottom traps; environmentally friendly; local resources.
Mapping Area Of Potential Arresting Rajungan (Portunus pelagicus) In Medan Belawan Waters, North Sumatera Province Fuadi, Afdhal; Harahap, Yuni Angraini; Miswar, Edy; Arif, Muhammad
Barakuda 45: Jurnal Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 5 No 1 (2023): Edisi April
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas 17 Agustus 1945 Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47685/barakuda45.v5i1.329

Abstract

Crab (Portunus pelagicus) is one of the fishery commodities that has high economic value, but fishermen in the waters of Medan Belawan still have difficulty in determining the location of the fishing area. Therefore, information is needed regarding the condition of potential arrest areas in an effort to speed up the trip of arrest operations and reduce fuel consumption. The purpose of this study is to map the distribution of sea surface temperature and chlorophyll-a as well as crab catches and also to analyze potential crab fishing areas. The method used is a survey method by recording the coordinates of the fishing area and the number of catches. Sea surface temperature and chlorophyll-a are obtained by downloading MODIS satellite imagery. The analysis used in this study is a linear regression analysis that serves to see the influence of sea surface temperature and chlorophyll-a on crab catches. The results obtained were the distribution of SPL and chlorophyll-a in Medan Belawan waters during February varied greatly, SPL ranged from 24.13ºC to 29.67ºC with an average value of 27.73ºC. While chlorophyll-a ranged from 0.11 mg/m3 to 3.52 mg/m3 with an average value of 1.613 mg/m3. The catch of crabs during February reached 6,253 kg, with the most catches of 2,380 kg, namely on February 18-25 and at least 264 kg on January 25 to February 1. The results of the analysis of the indicators of estimating the potential area of crabs show that those that are included in the potential category are KM. Khadijah, KM. Sifolin-folin 012, KM. Lugage, KM. Maduma 05, KM. SS XIII, KM. Aura, and KM. Malika Pala 1, while others fall into the potential medium category.
Penguatan Daya Saing Produk Terasi melalui Edukasi Hilirisasi Ikan Bycatch dan Penerapan Good Manufacturing Practices (GMP) dan Sanitasi Higiene Rahmawati, Rahmawati; Ukhty, Nabila; Ridha, Arrazy Elba; Akbardiansyah, Akbardiansyah; Fuadi, Afdhal; Fitriani, Aida
Abdimas Galuh Vol 7, No 2 (2025): September 2025
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v7i2.20465

Abstract

Produk terasi merupakan salah satu hasil olahan perikanan yang memiliki peran strategis dalam mendukung perekonomian masyarakat pesisir di Kabupaten Aceh Barat. Meskipun demikian, daya saing produk terasi tradisional kerap menghadapi berbagai tantangan, di antaranya kualitas produk yang belum konsisten, sanitasi proses produksi yang kurang optimal, serta ketersediaan bahan baku yang fluktuatif dan berdampak pada biaya produksi. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan kualitas produk terasi melalui penerapan prinsip Good Manufacturing Practices (GMP), perbaikan sanitasi dan higiene proses produksi, serta pemanfaatan ikan bycatch sebagai bahan baku alternatif yang bernilai ekonomis namun selama ini kurang dimanfaatkan secara optimal. Metode pelaksanaan kegiatan mencakup sosialisasi mengenai pentingnya GMP dan sanitasi higiene dan evaluasi hasil pendampingan melalui pretest dan posttest. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman yang signifikan di kalangan kelompok Pokhlahsar Camar Laut. Nilai rata-rata pretest peserta sebesar 55,5 poin meningkat menjadi 84,5 poin setelah edukasi, atau naik sekitar 52 persen. Selain itu, peserta menunjukkan komitmen untuk menerapkan prinsip sanitasi dan prosedur GMP secara konsisten pada kegiatan produksi. Implementasi kegiatan pengabdian ini diharapkan tidak hanya mampu menghasilkan produk terasi yang lebih higienis dan aman dikonsumsi, tetapi juga memiliki daya saing lebih tinggi di pasar lokal maupun nasional. Keberlanjutan edukasi melalui pendampingan menjadi kunci untuk memastikan penerapan hasil edukasi dapat berjalan
Chlorophyll-a and Sea Surface Temperature Analysis Based on Shark Fishing Ground Landed at the Fish Landing Base of Ujong Baroh, West Aceh Fuadi, Afdhal; Rizal, Muhammad; Kusumayadi, Dimas
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 17 No. 1 (2025): JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jipk.vi.55791

Abstract

Graphical Abstract   Highlight Research The number of shark catches in the eastern season was 618. Sharks landed at PPI Ujong Baroh in six species (Sphyma lewini, Alopias pelagicus, Carcharhinus falciformis, Loxodon macrorhinus, Carcharhinus sorrah, and Chiloscyllium punctatum). The distribution of chlorophyll-a parameters in the eastern season ranges from 0.08 to 1.23 mg/m3 with an average value of 0.17 mg/m3. The distribution of sea surface temperature parameters in the eastern season ranges from 27.65 to 30.29oC with an average value of 28.65o Based on linear regression analysis, sharks are most highly influenced by chlorophyll-a oceanographic parameters, namely Loxodon macrorhinus by 72.82%, and sharks are highest influenced by sea surface temperatures, namely Alopias pelagicus by 83.12%.     Abstract  Sharks are top-tier water predators that can maintain marine ecology balance and control the food web. As sharks are at the top of the food chain, their overfishing can disrupt the ecosystem chain. The distribution and abundance of fish in waters can be influenced by several factors of oceanographic parameters, including chlorophyll-a and sea surface temperature (SST). The use of satellite imagery for analyzing chlorophyll-a and SST parameters provides significant results in fisheries oceanographic studies. This study aimed to determine the effect of chlorophyll-a and SST parameters on shark catches. The method in this study was divided into 2 stages, namely taking shark fishing area coordinate data and downloading chlorophyll-a as well as SST satellite image data on the NASA Aqua-MODIS website. The results of the of the analysis of chlorophyll-a distribution in the eastern season ranged from 0.08 to 1.23 mg/m3 with an average value of 0.17 mg/m3, where the highest was 1.23 mg/m3 in September and the lowest was 0.08 mg/m3 in August. The SST distribution ranged from 27.65 to 30.29oC with an average of 28.65oC, the highest was 30.29oC in August and the lowest was 27.65oC in September. Based on the results of linear regression analysis, the highest shark catch was influenced by chlorophyll-a, namely Loxodon macrorhinus shark, by 72.82%, the highest shark catch type was influenced by SPL, namely Alopias pelagicus shark, by 83.12%, and the rest was influenced by other parameters.
Pengaruh Suhu Terhadap Lama Pingsan Serta Siuman Lobster Batu (Panulirus penisilatus) dan Lobster Batik (Panulirus longipes) di UD. Nagata Tuna Ewita, Felma; Fuadi, Afdhal; Zuraidah, Syarifah; Ukhty, Nabila
Jurnal Perikanan Terpadu Vol 4, No 2 (2023): Jurnal Perikanan Terpadu Volume 4 Nomor 2
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jpterpadu.v4i2.7696

Abstract

Lobster merupakan salah satu komoditi ekonomis penting di Indonesia. Salah satu cara untuk menjaga ketahanan lobster pada saat proses distribusi sistem hidup yaitu dengan cara pemingsanan. Lobster hidup harus ditransportasikan dalam keadaan pingsan agar dapat mengurangi stres selama perjalanan. Stres dalam transportasi dapat mengakibatkan kematian sehingga survival rate saat ditangan konsumen menjadi tinggi. Salah satu upaya untuk survival rate yaitu dengan pemingsanan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji lama pemingsanan serta lama siuman lobster dengan suhu rendah (12oC). Metode penelitian berupa observasi selama proses pemingsanan dan siuman. Data yang dikumpulkan merupakan data kuantitatif pada pemigsanan lobster dan kualitatif pada masa siuman. Kedua data dianalisis secara deskripstif. Lobster batu membutuhkan lama pingsan selama 110 detik. Sedangkan lobster batik membutuhkan lama pingsan selama 60 detik. Siuman lobster batu membutuhkan waktu selama 45 detik untuk siuman kembali. Sedangkan siuman lobster batik membutuhkan waktu sadar yaitu selama 30 detik. Kedua lobster memiliki proses pemingsanan yang berbeda, serta memiliki lama siuman yang bebeda
Parameter Primer Dan Sekunder Oksidasi Pada Kombinasi Minyak Hati Ikan Cucut (Centrophorus sp.) Dan Minyak Ikan Sarden (Sardinella sp.) Insani, Sri Ayu; Akbardiansyah, Akbardiansyah; Fuadi, Afdhal; Isbah, Faliqul; Hamidi, Hamidi
Jurnal Perikanan Terpadu Vol 3, No 1 (2022): Jurnal Perikanan Terpadu Volume 3 Nomor 1
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jupiter.v3i1.6177

Abstract

Minyak ikan dan Squalene merupakan minyak hewani yang memiliki stabilitas yang sangat rendah. Hal ini disebabkan karna minyak ikan mengandung asam lemak tidak jenuh, sehingga minyak ikan sangat mudah rusak atau teroksidasi. Karakterisasi pada minyak ikan dapat dilakukan dengan melakukan analisis parameter oksidasi primer maupun sekunder, viskositas, densitas dan uji kejernihan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis Parameter oksidasi yang terkandung dalam minyak sardine dan hati ika cucut yang mengandung squalene. Parameter yang diujikan meliputi, nilai asam lemak bebas (FFA), peroksida (PV), ansidin (p-AV) dan total oksidasi (totox). Hasil pengujian parameter oksidasi dari kombinasi minyak ikan menunjukan bahwa minyak ikan dengan kombinasi 1:4 memiliki nilai totox paling rendah dan tidak melebihi batas standar IFOS. Nilai parameter oksidasi pada kombinasi minyak ikan tersebut adalah FFA (0,5%), PV (4,67 mEq/kg), anisidin (4,98 mEq/kg), dan TOTOX (14,30 mEq/kg).
Co-Authors Abdul Karim Abdul Karim Adila Erlita Ahmad, Dimas Kusmayadi Aida Fitriani, Aida Aida, Aida Akbardiansyah Akbardiansyah Akbardiansyah, Akbardiansyah Al Misbah, Iyan Al-misbah, Iyan Amir, Fachrurozi Andriana, Mutia Rifka Anhar Rozi Anhar Rozi Annas, Ruesma Azhadin Antoni Antoni Arrazy Elba Ridha Azmi, Fauziah Bimo Arif Syahputra Budy Wiryawan Cut Meurah Nurul ‘Akla Defia Defia Devani, Khairul Dimas Kusumayadi Dimas Kusumayadi Edy Miswar Edy Miswar, Edy Efi Lisa Ewita, Felma Fachrorazi Amir Febri, Suri Purnama Fiki Rebi Hidayat Firma Warni Fitriani Fitriani Gebrina Reski Giovanni Oktavinanda Hafinuddin Hafinuddin Hamidi Hamidi Hamidi Hamidi Hamidi Hamidi Hamidi Harahap, Yuni Angraini Haser, Teuku Fadlon Heriansyah Ifan Muliadi Ihsanul Khairi Ika Rezvani Aprita Ikhsanul Khairi Imamshadiqin, Imamshadiqin Imanullah, Imanullah Indra Indra Insani, Sri Ayu Iqbal Irfany, Mohammad Ismail Sulaiman Iyan Al Misbah Jeli Novita Khusnul Khatimah Kusumayadi, Dimas Maulana Wali Akbar Melisa Rahayu Muhammad Agam Thahir Muhammad Agam Thahir Muhammad Arif Muhammad Arif Muhammad Arif Muhammad Arif Muhammad Arif Nasution Muhammad Irham Muhammad Rizal Muhammad Rizal MUHAMMAD RIZAL Muhammad Rizal Muhammdar, Muhammadar Mursyidin Mursyidin Musri Musman Mustaruddin Muthohharoh, Marhamah Nabila Ukhty Nazlia, Suraiya Nurhatijah Nurhatijah Nurhikma, Nurhikma Nurmayana, Nurmayana Nursantika Adelia Putri Rahayu, Rosi Rahmat Dianshar Rahmawati Rahmawati Rahmawati, Rahmawati Rosi Rahayu Roza Yusfiandayani Rozi, Anhar Rudi Hermi Rusdi Rusdi Rusdi Rusdi Said Radius Samsul Bahri Samsul Bahri Sanawiyah Sanawiyah Sauni, Sabtha Wahyudi Siregar, Maika Khairiyah Sri Ayu Insani Supartik Supartik SYAHRIAL SYAHRIAL Syamsiar, Syamsiar Syarifah Zuraidah Tasa Maulana Putra Teuku Amarullah Ujirta, Randi Yuslil, Adima Zuriat Zuriat