Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Mengkaji Sejarah dan Makna Pakaian Adat Aesan Gede Sumatera Selatan Ajengningtyas, Azwa; Bahar, Syairul; Khairunnisa, Khairunnisa; Kamila, Afina; Ramadani, Reza; Putri, Rida Perdana; Alfaruq, Farkhan Abdurochim
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seperti daerah Indonesia pada umumnya yang memiliki ciri khas,, Sumatera Selatan juga mempunyai ciri khasnya sendiri terutama pakaian adat. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengkaji Sejarah dan Makna Pakaian Adat Aesan Gede Provinsi Sumatera Selatan. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan studi pustaka. Wawancara dilakukan secara tatap muka pada tanggal 12 November 2024 di anjungan Sumatra Selatan, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) serta menggunakan kajian pustaka. Pakaian Adat Aesan Gede menjadi fokus utama pembahasan, pakaian adat ini merupakan pakaian adat Sumatera Selatan yang digunakan saat tertentu seperti pernikahan. Corak, motif, warna dan bentuk nya menjadikan Acsan Gede menjadi salah satu pakaian adat yang mempunyai makna simbol tersendiri.
Rok Rumbai Representasi Budaya dan Kearifan Lokal dalam Pakaian Adat Suku Asmat Fadil, Muhammad; Bahar, Syairul; Sidik, Muhammad; Ramda, Rimaysa; Zahra, Aliya Mumtaz; Afif, Salwa Fadiah; Alfarauq, Farkhan Abdurochim
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rok rumbai merupakan pakaian adat khas Papua yang kaya akan nilai budaya, simbolisme, dan estetika. Terbuat dari bahan alami seperti serat daun sagu dan kulit pohon, pakaian ini sering digunakan dalam upacara tradisional, tarian, dan ritual keagamaan. Desainnya yang sederhana mencerminkan hubungan erat masyarakat Papua dengan alam serta kehidupan yang selaras dengan lingkungan. Selain sebagai simbol identitas budaya, rok rumbai juga berfungsi sebagai ekspresi seni dan simbol kehormatan dalam komunitas adat. Namun, modernisasi dan pengaruh budaya luar menjadi tantangan besar bagi pelestariannya. Berbagai upaya dilakukan untuk mempertahankan eksistensinya melalui pelatihan, pendidikan budaya, dan promosi seni. Penelitian tentang rok rumbai penting untuk mendokumentasikan warisan budaya Papua sekaligus menghargai keragaman budaya Indonesia. Pelestarian ini diharapkan menjadikan rok rumbai sebagai simbol identitas budaya yang terus menginspirasi generasi mendatang.
Pakaian Adat Tolaki: Warisan Budaya di Tengah Dinamika Modernisasi Ramadhanish, Rekhael; Nurjanah, Arum; Fadilah, Dwi Diah; Fayadh, Ahmad Tsaqif Al; Bahar, Syairul; Alfarauq, Farkhan Abdurochim
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pakaian adat Sulawesi Tenggara merupakan bagian integral dari warisan budaya Indonesia yang mencerminkan identitas sosial, simbol budaya, serta nilai-nilai masyarakat lokal. Setiap elemen, seperti desain, warna, dan aksesori yang digunakan dalam pakaian adat ini termasuk sulaman emas dan perak serta aksesori tradisional mewakili norma dan filosofi yang telah diwariskan turun-temurun. Pakaian adat suku Tolaki, misalnya, tidak hanya berfungsi sebagai busana dalam acara adat dan perayaan penting, tetapi juga sebagai simbol martabat, status sosial, dan kebanggaan komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk menggali peran pakaian adat Sulawesi Tenggara dalam melestarikan warisan budaya, serta bagaimana pakaian ini menjadi penanda identitas sosial yang memperkuat jati diri masyarakat di tengah pengaruh modernisasi dan globalisasi. Selain itu, penelitian ini juga berfokus pada kontribusi pakaian adat Sulawesi Tenggara dalam kekayaan budaya Indonesia secara keseluruhan, serta relevansinya dalam memperkuat kesadaran kolektif akan pentingnya pelestarian budaya lokal. Dengan mempelajari dan menghargai pakaian adat ini, kita dapat lebih memahami keragaman budaya Indonesia yang unik dan memperkuat rasa kebanggaan terhadap warisan budaya bangsa.
Makna Simbolik Alat Musik Gamelan Yogyakarta bagi Generasi Muda Fuad Mudzakir; Zayid Zidane Aulia; Zulfa Nadin Azzahra; Nazwa Rizky Adilla; Naila Fadlia; Syairul Bahar; Farkhan Abdurochim Alfarauq
JURNAL ILMIAH PENELITIAN MAHASISWA Vol 3 No 6 (2025): Desember
Publisher : Kampus Akademik Publiser

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jipm.v3i6.1607

Abstract

This study aims to examine how the young generation of Yogyakarta interprets gamelan as part of their cultural identity amid the dynamics of modernity. Using a descriptive qualitative approach, data were obtained through document analysis and in-depth interviews with an informant closely connected to the gamelan tradition. The findings show that young people’s interpretation of gamelan emerges through four main dimensions: material, spiritual, social, and aesthetic. In the material aspect, gamelan is understood as an ancestral heritage born from traditional crafting processes rich in values of hard work and local wisdom. In the spiritual dimension, rituals such as fasting, offerings, and the bathing of instruments are viewed as symbols of human connectedness with Javanese cosmological values. Socially, gamelan functions as a space for togetherness and as a marker of cultural identity that strengthens the younger generation’s ties to their traditional roots. Meanwhile, in the context of modernity, gamelan is reinterpreted through contemporary musical collaborations, karawitan education, and the use of digital technology. The study’s findings affirm that gamelan remains a living and meaningful cultural symbol, and its continuity is strongly influenced by how young people embody and interpret the tradition in their daily lives.
REKONSTRUKSI STRUKTURAL DAN INTERPRETASI SIMBOLIK ALAT MUSIK SASANDO DALAM KONTEKS EKOLOGI BUDAYA NUSA TENGGARA TIMUR Muhammad Aprizal; Muhammad Brilian Setyaditama; Muhammad Alffan; Azzahra Putri Syahbani; Nida Siyadati; Syahirul Bahar; Farkhan Abdurochim Alfarauq
JURNAL MULTIDISIPLIN ILMU AKADEMIK Vol. 2 No. 6 (2025): Desember
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jmia.v2i6.7145

Abstract

Pelestarian alat musik tradisional Sasando di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, menghadapi tantangan besar di tengah arus modernisasi dan perubahan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Sasando sebagai simbol identitas budaya melalui pendekatan integratif yang menggabungkan teori strukturalisme Lévi-Strauss, fungsionalisme Malinowski, dan teori evolusi budaya White. Temuan menunjukkan bahwa Sasando memiliki struktur simbolik yang mencerminkan hubungan manusia dengan alam, serta fungsi sosial yang memperkuat kohesi komunitas dan transmisi nilai budaya. Inovasi teknologi, seperti pengembangan Sasando elektrik, memperlihatkan transformasi yang mendukung kelestarian instrumen ini tanpa mengurangi nilai tradisionalnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun minat generasi muda terhadap Sasando rendah, ada peluang untuk memperkenalkan inovasi yang relevan dengan perkembangan musik kontemporer. Pelestarian Sasando memerlukan pendekatan yang mencakup pelatihan budaya, dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, serta penghormatan terhadap prinsip tradisional dan inovasi kreatif.
PERAN ALAT MUSIK POLOPALO DALAM KEHIDUPAN SOSIAL DAN TRADISI MASYARAKAT GORONTALO: Alat musik popalo Dimas Tri Purtanto; Muhammad Rizki As Sidiq; Sabrina Fidzah Kahlaa; Salsa Noviandani; Sulis Nur Adyanti; Syahirul Bahar; Farkhan Abdurochim Alfarauq
JURNAL MULTIDISIPLIN ILMU AKADEMIK Vol. 2 No. 6 (2025): Desember
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jmia.v2i6.7228

Abstract

The traditional Polopalo musical instrument is one of the cultural heritages of the Gorontalo people that serves more than just a medium of entertainment. This study aims to analyze the role of the Polopalo musical instrument in the social life and traditions of the Gorontalo people. The methods used are literature study and cultural observation to see how Polopalo is used in various social contexts, such as traditional ceremonies, art performances, and interactions between community members. The results of the analysis show that Polopalo plays a role as a medium of cultural expression, strengthening local identity, and strengthening social relations through shared activities such as playing folk music. In addition, Polopalo has historical and symbolic value that reflects the harmonious and communal character of the Gorontalo people. Thus, the existence of Polopalo is not only part of traditional art, but also an important element in maintaining social values ​​and traditions passed down from generation to generation.  
Matatou sebagai Media Ekspresi Seni dan Identitas Budaya Kamal Aminullah; Indri Dwi Lestari; Syahnia Dwi Arianti; Hasan, Faqihah Putri; Shifa Fauziah; Syahirul Bahar; Farkhan Abdurochim Alfarauq
JURNAL MULTIDISIPLIN ILMU AKADEMIK Vol. 2 No. 6 (2025): Desember
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jmia.v2i6.7311

Abstract

Penelitian ini membahas Matatou sebagai salah satu warisan budaya masyarakat Muna yang memiliki nilai filosofis, fungsi sosial, serta peran penting dalam kehidupan masyarakat masa kini. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif, penelitian ini menggali makna Matatou melalui observasi langsung dan wawancara mendalam di Rumah Adat Sulawesi Tenggar, Taman Mini Indonesia Indah, serta ditunjang oleh studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Matatou bersama variasi penyebutan Latatou di wilayah Buton merupakan alat musik tradisional berbahan kayu yang diwariskan secara turun-temurun dan memiliki fungsi sebagai media ekspresi, sarana komunikasi, hingga penenangan jiwa dalam aktivitas keseharian masyarakat Muna. Selain itu, Matatou memiliki peran simbolis yang kuat, tidak hanya sebagai instrumen kesenian, tetapi juga sebagai identitas budaya yang mencerminkan hubungan masyarakat Muna dengan alam dan sejarah leluhur mereka. Keberadaannya yang mulai terpinggirkan oleh perkembangan zaman menunjukkan perlunya upaya pelestarian agar nilai-nilai filosofis, estetis, dan sosial yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan diteruskan kepada generasi berikutnya. Penelitian ini menegaskan bahwa Matatou bukan sekedar alat musik, melainkan artefak budaya yang mempresentasikan kedalaman tradisi, sistem pengetahuan, dan praktik sosial masyarakat Muna.
Situs Sakral Sebagai Pusat Kosmos: Analisis Kepercayaan Masyarakat Kampung Pitu, Nglanggeran, Gunung Kidul Dalam Perspektif Teori Sakral-Profan Mircea Eliade Alfarauq, Farkhan Abdurochim; Abrori, Ahmad; Arif, Muhamad; Zaimudin
PURBAWIDYA Vol. 14 No. 2 (2025): 14(2) November 2025
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/purbawidya.2025.12962

Abstract

This research aims to understand how the beliefs and sacred sites of the Pitu Village community are analyzed through Mircea Eliade's theory. This study is qualitative, utilizing mixed interviews, observation, and documentation. The results indicate that the concept of the sacred in the beliefs of the Pitu Village community has been present since the community was formed. The Kinah Gadung Wulung tree and Telogo Guyangan become hierophanies. Sacred rituals are focused on the pond, which is believed to be a place of efficacy. The cosmos manifested in the Pitu Village community also serves as the axis mundi for the community, located at Telaga Guyangan. Ancestral teachings serve as a blueprint to protect them from chaos, including the prohibition on the number of family cards, which must total seven, forming the basis for the village structure and representing an imago mundi. Pitu Village is distinct in its presence of ancestors and elders as elements of the Sacred, receiving special rituals and becoming axis mundi takes the form of a human because in the life of the Kampung Pitu community, they must firmly hold on to their teachings and seek advice when they want to carry out something.
Konstruksi dan Ornamen pada Alat Musik Tradisional Calong di Sulawesi Barat : Kajian Estetika dan Simbolisme Ariena Millatie; Salwa Amanda Syakib; Fadyah Nurfadriza; Salwa Al Qorni; Pratama Ilham Abduh Putra; Syairul Bahar; Farkhan Abdurochim Alfarauq
Jurnal Pendidikan Dirgantara Vol. 2 No. 4 (2025): November : Jurnal Pendidikan Dirgantara
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/jupendir.v2i4.799

Abstract

The Calong traditional musical instrument from West Sulawesi is a cultural heritage of the Mandar people, possessing strong artistic and symbolic value. However, documentation of the instrument's construction and ornamentation remains limited. This study aims to identify the Calong's construction, analyze the variety of ornaments used, and uncover the aesthetic meaning and symbolism inherent in the instrument. The research method used was descriptive qualitative, with data collection techniques including direct observation, documentation, interviews with craftsmen and artists, and a visit to the West Sulawesi Pavilion at the TMII (Indonesian Museum of Traditional Art) as a comparative source for cultural representation. The results indicate that the Calong's construction utilizes specific bamboo selection and splitting techniques, which influence its resonance quality. The ornamentation reflects symbols of the relationship between humans and nature, ancestors, and the Mandar people's philosophy of life. Aesthetically, the combination of form, texture, and motifs creates a distinctive visual character while strengthening its musical identity. The study's conclusions confirm that the Calong is not only a musical instrument but also a cultural artifact with aesthetic and symbolic value that is important to preserve through education, cultural awareness, and ongoing documentation.
Pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Riset untuk Peningkatan Keterampilan Berpikir Kreatif dan Keterampilan Kolaboratif pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan IPS Ardiansyah, Andri Noor; Arif, Muhamad; Bahar, Syairul; Alfarauq, Farkhan Abdurochim
Sosio-Didaktika: Social Science Education Journal Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : Sosio-Didaktika: Social Science Education Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sd.v12i1.45995

Abstract

The aim of this research is: To obtain an overview of the research-based learning development and implementation model to improve creative thinking skills and collaborative skills in students of the Social Sciences Education Study Program. The research method that will be used is a qualitative method with a descriptive approach. The subjects in this research were IPS students from the Class of 2022 and 2023 who took Physical Geography and Indonesian Regional Geography courses for one semester. Data collection techniques include observation, interviews, literary studies and questionnaires. The research results state that the implementation of student research learning is through observation/practicum activities which aim to be a means of thinking innovatively, connecting theory with practice, and producing ideas that are relevant to social challenges. This is integrated with the Semester Learning Plan (RPS) for several courses by allowing students to go out into the field as a condition for passing courses. The results of the observations/practicum are in the form of activity reports that are recorded, video reports that are uploaded to the study program's YouTube, and published in several scientific journals.
Co-Authors Abrar, Fany Ramadhanty Afif, Salwa Fadiah Ahmad Abrori, Ahmad Ahmad Zumaekal Ainun Nisa Rosiana Ajengningtyas, Azwa Alipia Indriyani Alya Hanifah Andriani Andri Noor Ardiansyah, Andri Noor Ariena Millatie Azzahra Putri Syahbani Budi Sulistiono Canggih Tri Satria Dian Cahya Anbiya Dimas Tri Purtanto Dinda Nur Azizah Divani Truna Wijayanti Dzaki Abiansyah Putra Eva Nurharyati Fachry Abda El Rahman Fadilah, Dwi Diah Fadyah Nurfadriza Fayadh, Ahmad Tsaqif Al Fitria Difa Nuzula Fuad Mudzakir Hafbi, Najwa Hasan, Faqihah Putri Indah Listiana Indri Dwi Lestari Ishaq, Rusli Isnaini Putri Az-Zahra Kamal Aminullah Kamila, Afina Khairunnisa Khairunnisa Khosyi Aini Ahmad Lula Najwa Kamila Lutfiah Rustianti M. Taufik Aulia Rahman Meicca Javanisa Utami Muhamad Arif Muhammad Alffan Muhammad Aprizal Muhammad Brilian Setyaditama Muhammad Fadil Muhammad Fattan Fachrezy Muhammad Rizki As Sidiq Muhammad Rizki Fadhilah Muhammad Sidik Mutiara Cinta Mutiara Cinta4, Naila Azzahra Naila Fadlia Najmi Nihayah Nandayana, Yasmin Nazwa Aulia Rahamah Nazwa Rizky Adilla Nida Siyadati Nooraniyah Karima Afifah Nova Eliza Bachri Nurazizah Nurazizah Nurjanah, Arum Pratama Ilham Abduh Putra Putri, Rida Perdana Rabella Azzahra Ramadani, Reza Ramadhanish, Rekhael Ramda, Rimaysa Revly Haiqal Bais Sabrina Fidzah Kahlaa Salsa Noviandani Salwa Al Qorni Salwa Amanda Syakib Sandy Al Fauzan, Muhammad Hafizh Shifa Fauziah Sulis Nur Adyanti Syahirul Bahar Syahnia Dwi Arianti Syairul Bahar Syaripulloh Syaripulloh Syaripulloh Syifa Almanda Ru’yat Tanggok, Ikhsan Zahra, Aliya Mumtaz Zaimudin Zayid Zidane Aulia Zulfa Nadin Azzahra