Claim Missing Document
Check
Articles

FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPATUHAN PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI SUNTIK 3 BULAN Nurul Iklima; Sri Hayati; Dinda Audria
Jurnal Keperawatan BSI Vol 10 No 1 (2022): Jurnal Keperawatan BSI
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.221 KB)

Abstract

Kepatuhan kunjungan ulang merupakan faktor penting dalam keberhasilan KB suntik 3 bulan, tetapi masih banyak akseptor tidak patuh melakukan kunjungan ulang. Berdasarkan data sekunder didapatkan adanya peningkatan jumlah akseptor KB suntik 3 bulan yang datang tidak tepat jadwal kunjungan ulang sebesar hampir setengahnya responden tidak patuh melakukan kunjungan ulang sebanyak (42,9%) semenjak pandemi COVID-19. Tujuan penelitian mengetahui hubungan pengetahuan, status ekonomi, dukungan suami, dan persepsi terhadap tempat pelayanan kesehatan dengan kepatuhan kunjungan ulang akseptor KB suntik 3 bulan di wilayah kerja UPT Puskesmas Caringin. Desain penelitian korelasional, pendekatan cross sectional. Populasi jumlah akseptor yang melakukan kunjungan ulang ke puskesmas caringin pada bulan mei sebesar 42 responden. Pengambilan sampel secara total sampling yaitu keseluruhan dari jumlah populasi. Variabel independen pengetahuan, status ekonomi, dukungan suami, persepsi terhadap tempat pelayanan kesehatan dan variabel dependen kepatuhan. Pengumpulan data melalui kuesioner. Analisis menggunakan uji statistik Rank spearman. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan signifikan faktor pengetahuan, status ekonomi, dukungan suami, persepsi terhadap tempat pelayanan kesehatan yang mempengaruhi kepatuhan penggunaan alat kontrasepsi suntik 3 bulan di masa pandemi COVID-19, p < 0,00 H0 ditolak Ha diterima sehingga terdapat hubugan yang signifikan.
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN KELUARGA PASIEN DENGAN PERILAKU CUCI TANGAN DI RUMAH SAKIT Erna Irawan; Nurul Iklima; Anggi Saputra; Yunita Sari
Jurnal Keperawatan BSI Vol 10 No 1 (2022): Jurnal Keperawatan BSI
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pencegahan infeksi nosokomial yang paling efektif adalah dengan cuci tangan. Perilaku mencuci tangan yang baik didapatkan dari pengetahuan yang baik pula. Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan cuci tangan disesuaikan dengan tata cara standar untuk mencegah bakteri berkembangbiak. Upaya peningkatan kepatuhan perilaku cuci tangan harus dilakukan secara simultan tidak hanya kepada seluruh civitas rumah sakit, namun juga kepada pengunjung rumah sakit yang merupakan bagian dari rantai transmisi penyebaran infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan keluarga pasien dengan perilaku cuci tangan di Ruang Anak RSUD Kota Bandung. Jenis penelitian menggunakan metode penelitian korelasional dengan pendektan cross sectional. Jumlah responden sebanyak 136 orang dengan pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada responden. Anlisa data dilakukan dengan univariat berupa distribusi frekuensi dan analisis bivariat dengan uij rank spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 52,2% responden berpengetahuan kurang dan 55,1% responden berperilaku tidak baik. Hasil analisis uji rank spearman menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku cuci tangan keluarga pasien di Ruang Anak di Rumah Sakit dengan p-value 0,000 < 0,05. Diharapkan tenaga kesehatan bisa melakukan pendidikan kesehatan tentang cuci tangan yang baik dan benar.
GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE-OPERASI KATARAK DI RUMAH SAKIT DI KOTA BANDUNG Putti Rahima; Erna Irawan; Mery Tania; Sujut Royana; Nurul Iklima
Jurnal Keperawatan BSI Vol 10 No 2 (2022): Jurnal Keperawatan BSI
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Katarak merupakan keadaan dimana lensa mata bersifat opasitas (tidak tembus cahaya) dan merupakan penyebab dominan masalah sosio-medis yaitu kebutaan diseluruh dunia. Salah satu pengobatan katarak adalah pembedahan atau operasi. Pembedahan dilakukan dengan membuat sayatan pada suatu bagian tubuh kemudian akan akan dilakukan pemulihan dan diakhiri dengan jahitan atau tanpa dengan jahitan. Tindakan pembedahan merupakan sebuah pengalaman yang dapat menyebabkan kecemasan. Adanya kecemasan pada setiap pasien merupakan hal yang wajar, namun kecemasan yang berlebihan dapat menyebabkan respon patofisiologis seperti hipertensi, takikardi, penurunan kemampuan untuk mentoleransi rasa sakit baik intra operasi dan post operasi. Meningkatnya tekanan darah pada pasien akan mengakibatkan Tekanan Intra Okuler (TIO) juga meningkat. TIO yang meningkat akan menyulitkan ketika intra operasi yang menyebabkan lensa menjadi lengket sehingga sulit dikeluarkan serta menyulitkan dokter bedah mata untuk implant Intra Okuler Lens (IOL). Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian diskriftif kuantitatif. Teknik sampling yang digunakan yaitu Acidental Sampling, selanjutnya penelitian ini menggunakan kuesioner APAIS dan dianalisa menggunakan analisa univariat dan responden ditabulasi silang dengan tingkat kecemasan mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir separuhnya 47,5% responden mengalami kecemasan ringan sejumlah 19 responden, sebagian kecil 52,5% responden mengalami kecemasan sedang sejumlah 21 responden.
HUBUNGAN PERILAKU MENGGOSOK GIGI DENGAN KEJADIAN KARIES GIGI PADA ANAK KELAS V SDN 045 PASIR KALIKI Rita Darmayanti; Erna Irawan; Nurul Iklima; Putri Anggriani; Nining Handayani
Jurnal Keperawatan BSI Vol 10 No 2 (2022): Jurnal Keperawatan BSI
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karies gigi merupakan masalah utama kesehatan gigi dan mulut. Prevalensi karies gigi di Indonesia sebesar 80% pada anak usia dibawah 12 tahun. Karies gigi pada anak menyebabkan anak mengalami daya kunyah kemudian mengganggu pencernaan sehingga mengambat perkembangan anak. Salah satu faktor penting yang berhubungan dengan kejadian karies gigi pada anak adalah perilaku menggosok gigi anak yang kurang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku menggosok gigi dengan kejadian karies gigi pada anak. Penelitian dilaksanakan di SDN 045 Pasirkaliki. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah siswa kelas V di SDN 045 Pasirkaliki Bandung yang berumur 10-12 tahun. Analisis data menggunakan korelasi rank spearman (spearman rho). Hasil analisis menunjukkan bahwa perilaku menggosok gigi dan kejadian karies gigi memiliki hubungan yang kuat dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,731 dan bermakna dengan nilai signifikansi sebesar 0,001. Perilaku menggosok gigi dan kejadian karies gigi memiliki korelasi negatif yang berarti semakin baik perilaku menggosok gigi maka semakin rendah kejadian karies gigi.
Pendidikan Kesehatan Manajemen Henti Jantung pada Pegawai Puskesmas Kusuma Bangsa Kota Pekalongan I Irnawati; Benny Arief Sulistyanto; Nurul Iklima; Yani Maidelwita; Evra Yusandra; Laelatul Magfiroh Dia Rustianingsih
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 16th University Research Colloquium 2022: Bidang Pengabdian Masyarakat
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan kesehatan tentang manajemen henti jantung bertujuan untuk : (1) meningkatkan pengetahuan mengenai manajemen henti jantung; (2) meningkatkan kesadaran pegawai puskesmas terhadap pentingnya menolong klien dengan henti nafas dan henti jantung segera dimanapun dan kapanpun untuk menyelematkan jiwa. Pelaksanaan kegiatan yaitu pendidikan kesehatan mengenai manajemen henti jantung, pemeriksaan tekanan darah, nadi, dan saturasi oksigen. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah sebagian besar pengetahuan pegawai Puskesmas Kusuma Bangsa meningkat setelah diberikan pendidikan kesehatan mengenai manajemen henti jantung dibuktikan dengan responden menjawab benar sebelum pendidikan kesehatan 13,25% dan setelah pendidikan kesehatan meningkat mejadi 22,75%. Diharapkan pegawai puskesmas baik yang tenaga kesehatan maupun bukan tenaga kesehatan dapat menerapkan ilmu yang didapat dalam menolong klien yang mengalami henti jantung dan henti nafas dimanapun dan kapanpun.
PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU IRT TENTANG 4M PLUS PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH DENGUE Nurul Iklima; Hudzaifah Al Fatih; Dita Mawaddah
Jurnal Keperawatan BSI Vol 11 No 1 (2023): Jurnal Keperawatan BSI
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Program pemberantasan sarang nyamuk melalui kegiatan menguras, menutup, mengubur, memantau (4M) Plus bertujuan untuk memutus mata rantai perkembangbiakan nyamuk dengan memberantas larva aedes aegypti sebagai pencegahan demam berdarah dengue . penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara pengetahuan dengan sikap, sikap dengan perilaku dan pengetahuan dengan perilaku ibu rumah tangga tentang 4M Plus pencegahan demam berdarah dengue.Penelitian ini merupakan penelitian korelasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Babakan Sari Kota Bandung. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 70 orang. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan korelasi pearson. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya korelasi pengetahuan dengan sikap nilai p-value 0,009 (≤ 0,05), tidak terdapat korelasi antara sikap dengan perilaku nilai p-value 0,274 (≤ 0,05) dan tidak terdapat korelasi antara pengetahuan dengan perilaku ibu rumah tangga tentang 4M Plus pencegahan demam berdarah dengue nilai p-value 0,258 (≤ 0,05). Diharapkan penelitian selanjutnya tentang metode penyuluhan efektif dalam meningkatkan perilaku 4M Plus.
PERBANDINGAN MODERN DRESSING HYDROGEL DAN HYDROPHOBIC TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA INFEKSI ULKUS DIABETIK Hudzaifah Al Fatih; Nurul Iklima; Iin Gusyani
Jurnal Keperawatan BSI Vol 11 No 1 (2023): Jurnal Keperawatan BSI
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan jumlah DM mengakibatkan meningkatnya komplikasi diabetes, yaitu ulkus diabetikum. Laporan dari IDF bahwa insiden yang menimpa ulkus kaki diabetes naik sampai 25% sepanjang hidup pasien, dimana ulkus kaki terjadi pada 15-25% orang yang menderita DM. Penanganan ulkus diabetik, membutuhkan advanced wound management berupa antimikrobial dressing, salah satu penyebabnya karena kumpulan berbagai jenis bakteri dan disertai biofilm. Balutan modern dressing Cadexomer Iodine (Hydrogel) dan Cutimed Sorbact (Hydrophobic) merupakan balutan antimikrobial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses penyembuhan luka dengan menggunakan Cadexomer Iodine (hydrogel) dan proses penyembuhan luka dengan cutimed sorbact (Hydrophobic) terhadap luka infeksi ulkus diabetik. Metode penelitian ini merupakan penelitian quasi-eksperiment, dengan design post-test only. Menggunakan instrumen luka yang sudah baku, yaitu Status Kontinum Bates Jensen Wound Assessment Tools (BWAT). Jumlah populasi sebanyak 226 pasien dan pemilihan sampel menggunakan teknik Purposive Sampling didapatkan jumlah sampel sebanyak 60 responden, analisa data menggunakan analisa bivariat. Hasil penelitian didapatkan bahwa pada proses penyembuhan luka pada kelompok Cadexomer Iodine (hydrogel) didapatkan nilai min-maks adalah 13-30 dan hasil mean 19,57 sedangkan proses penyembuhan luka pada kelompok Cutimed sorbact (hydrophobic) didapatkan nilai min-maks adalah 19-48 dan hasil mean 30,90, yang artinya semakin tinggi score luka maka sebakin kurang bagus luka tersebut, semakin rendah score luka maka semakin bagus luka tersebut. Hasil uji independent T-test yang menggunakan post test only didapatkan nilai p-value 0,000 dengan tingkat signifikansi < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara Cadexomer Iodine (Hydrogel) dan Cutimed Sorbact (Hydrophobic). Oleh karena itu Cadexomer iodine (Hydrogel) yang bisa lebih lama membuat luka menjadi lembab maka akan lebih efektif penggunaanya.
GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN PERAWAT PADA MASA PANDEMI COVID-19 Erna Irawan; Nurul Iklima; Tita Puspita Ningrum; Rosalina Pujayanti
Jurnal Keperawatan BSI Vol 11 No 1 (2023): Jurnal Keperawatan BSI
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Organisasi kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO) telah menyatakan COVID-19 menjadi pandemi global. Dengan adanya pandemi ini perawat sebagai garda terdepan dalam menangani pasien dengan COVID-19 memiliki resiko penularan yang sangat tinggi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi gambaran tingkat kecemasan perawat RSUD Kota Bandung pada masa pandemi COVID-19. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan teknik total sampling. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 56 orang yang merupakan perawat yang secara langsung menangani pasien COVID-19. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 20 Januari 2022 – 27 Januari 2022. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan instrumen Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) yang sudah disesuaikan dengan kecemasan pada era pandemi COVID-19. Alat ukur ini memiliki uji validitas 0,9 dan reliabilitas dengan cronbach alpha 0,756. Instrumen tersebut diberikan kepada responden melalui google form. Teknik analisa data yang digunakan yaitu analisa data univariat yang disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian yang didapatkan yaitu sebanyak 2 orang (3,6%) responden tidak mengalami kecemasan, 14 orang (25%) mengalami kecemasan ringan, 25 orang (44,6%) mengalami kecemasan sedang dan 15 orang (26,8%) mengalami kecemasan berat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hampir separuhnya perawat RSUD Kota Bandung mengalami kecemasan sedang menuju berat. Hasil penelitian ini diharapkan agar RSUD Kota Bandung sebagai tempat penelitian dapat meningkatkan dukungan kepada semua karyawan terutama perawat seperti adanya update ilmu tentang COVID-19, screening karyawan yang dilakukan setiap 3 bulan sekali serta adanya rotasi setiap 3 bulan sekali bagi perawat yang menangani pasien COVID-19 guna mengembalikan kondisi fisik maupun psikis mereka.
GAMBARAN STRESS GASTRITIS Purwo Suwignjo; Rita Darmayanti; Nadya Nadya; Maidartati Maidartati; Nurul Iklima
Jurnal Keperawatan BSI Vol 11 No 2 (2023): Jurnal Keperawatan BSI
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gastritis merupakan salah satu masalah kesehatan di masyarakat dengan prevalensi yang cukup tinggi. Berdasarkan data Kementerian Republik Indonesia pada tahun 2019 mencatat bahwa kasus grastitis termasuk dalam sepuluh penyakit terbanyak di Indonesia. Di daerah kota bandung sendiri terdapat 8,976 (1,02%). Gastritis dapat mengalami kekambuhan dimana kekambuhan yang terjadi pada penderita gastritis dapat dipengaruhi oleh pengaturan pola makan yang tidak baik dan juga faktor stres. stres merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kekambuhan gastritis. Stres adalah sekumpulan perubahan fisiologis akibat tubuh terpapar terhadap bahaya atau ancaman. Stres dapat menimbulkan suatu pengaruh yang tidak menyenangkan pada seseorang berupa gangguan atau hambatan dalam pengobatan, mencetuskan kembali suatu gejala dari kondisi medis umum. Stres memiliki efek negatif melalui mekanisme neuroendokrin terhadap saluran pencernaan sehinggan beresiko untuk mengalami gastritis. Produksi asam lambung akan meningkat pada keadaan stres, misalnya pada beban kerja berat, panik, tergesa-gesa. Kadar asam lambung yang meningkat dapat mengiritasi mukosa lambung dan jika hal ini dibiarkan maka dapat menyebabkan terjadinya peradangan mukosa lambung atau gastritis. Penelitian ini dilakukan terhadap 60 responden dengan menggunakan teknik accidental sampling. Ditemukan bahwa terdapat setengah dari responden mengalami stres sedang sebanyak 39 responden (65.0 %). Responden yang mengalami stres ringan sebanyak 17 responden (28.3 %) dan sedikit dari responden yang mengalami stres berat sebanyak 4 responden (6.7 %).
GAMBARAN KECEMASAN KELUARGA DALAM MERAWAT PASIEN DENGAN GANGGUAN JIWA Nurul Iklima; Erna Irawan; Rizka Aulia Mawaddah; Yanti Budiyanti; Anggi Saputra
Jurnal Keperawatan BSI Vol 11 No 2 (2023): Jurnal Keperawatan BSI
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gangguan jiwa pada saat ini mengalami peningkatan yang sangat signifikan, dan setiap tahun di berbagai belahan dunia jumlah penderita gangguan jiwa bertambah. Keadaan pasien gangguan jiwa menyebakan anggota keluarga pasien yang sedang merawat mengalami tekanan psikologis, Salah satunnya yaitu kecemasan. Kecemasan pada keluarga yang merawat pasien odgj dapat menjadi sumber masalah klinis jika sudah sampai tingkat ketegangan yang sedemikian rupa sehingga mempengaruhi kemampuan berfungsinya seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kecemasan keluarga dalam merawat pasien gangguan jiwa di wilayah kerja Puskesmas Babakansari. Desain penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah keluarga yang sedang merawat pasien gangguan jiwa berat dengan jumlah 130 orang, dan jumlah sampel dalam penelitian ini yaitu 50 responden. proses pengambilan sampel penelitian ini menggunakan Teknik Non-probability purposive sampling. Hasil penelitian ini sebagian besar memiliki tingkat kecemasan ringan dengan jumlah 21 (42.0%) responden, 22 (44.0%) responden memiliki kecemasan sedang, dan 7 (14.0%) memiliki kecemasan berat. Sehingga perlu disarankan kepada keluarga untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga dalam merawat pasien gangguan jiwa di rumah.