Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

MENGUAK RAHASIA MAKNA HAKIKI DAN MAJAZI DALAM KALAM KHABAR Rinikmawati H; Mohamad Harjum
AT-TAKLIM: Jurnal Pendidikan Multidisiplin Vol. 2 No. 12 (2025): At-Taklim: Jurnal Pendidikan Multidisiplin (Edisi Desember)
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/at-taklim.v2i12.1388

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguak rahasia makna hakiki dan majazi dalam Kalam Khabar. Kalam Khabar merupakan bagian dari pembahasan Ilmu Ma'ani dalam disiplin Balaghah. Ilmu Balaghah sendiri adalah ilmu yang membahas keindahan susunan kata bahasa Arab agar perkataan sesuai dengan tujuannya. Kalam Khabar didefinisikan sebagai perkataan yang mengandung kemungkinan benar (sesuai kenyataan) atau dusta (tidak sesuai kenyataan). Secara umum, tujuan pengungkapan Kalam Khabar dibagi menjadi dua makna hakiki (tujuan sebenarnya): Faidah al-Khabar: Memberi tahu kepada lawan bicara mengenai hukum yang terkandung dalam pembicaraan karena mereka belum tahu sama sekali. Lazimul Khabar (Lazimul Faidah): Memberi tahu bahwa si pembicara mengetahui hukum yang terkandung di dalamnya, diucapkan kepada orang yang sudah tahu isinya agar tidak mengira si pembicara tidak tahu berita tersebut. Selain itu, Kalam Khabar juga memiliki Makna Majazi (tujuan tersirat/kiasan) yang digunakan untuk menyampaikan makna lain. Beberapa tujuan majazi tersebut antara lain: Al-Fakhr (kebanggaan), Izhar al-Dha'f (menampakkan kelemahan), Al-Tahassur (penyesalan), dan Al-Istirham (memohon belas kasih). Adapun macam-macam Kalam Khabar diklasifikasikan berdasarkan keadaan mitra tutur (mukhatab) dan cara penyampaiannya: Khabar Ibtida'i: Digunakan ketika mukhatab bebas (tidak tahu) dari hukum, disampaikan tanpa penguat (taukid). Khabar Thalabi: Digunakan ketika mukhatab ragu-ragu, disampaikan dengan satu taukid. Khabar Inkari: Digunakan ketika mukhatab mengingkari isi berita, wajib disertai penguat (satu atau lebih) sesuai tingkat keingkarannya.
Minimalisme, Verbositas, Dan Keseimbangan: Analisis Perbandingan Antara Ijaz, Ithnab, Dan Musawah Dalam Struktur Kalam Arab Sitti Sarkiah; Abdul Rachman Arsyad; Mohamad Harjum
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2017

Abstract

Tulisan ini bertujuan menjelaskan tiga konsep utama dalam struktur kalām Arab yaitu Ījāz, Iṭnāb, dan Musāwah sebagai bagian dari kajian balāghah. Ketiganya tidak hanya berperan dalam memperindah gaya bahasa, tetapi juga menentukan efektivitas makna dalam komunikasi linguistik Arab. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode studi pustaka. Ījāz merujuk pada penyampaian makna yang padat dan ringkas; Iṭnāb menunjukkan ekspansi makna dengan penambahan yang memiliki tujuan estetis dan argumentatif; sementara Musāwah menekankan keseimbangan antara jumlah lafaz dengan kedalaman makna. Hasil kajian menegaskan bahwa ketiga konsep tersebut memperlihatkan fleksibilitas bahasa Arab serta nilai estetikanya dalam membentuk komunikasi retoris yang efektif dan bermakna.
Uslub al-Kināyah antara Ketertutupan Makna dan Kekuatan Sugesti: Studi Retoris terhadap Gaya Bahasa Arab Abdul Mushawwir; Dr. Hj. Haniah, Lc., M.A.; Dr. Mohammad Harjum, M.Ag.
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2043

Abstract

Uslub al-kināyah merupakan salah satu gaya bahasa dalam ilmu balāghah yang memiliki fungsi komunikatif tinggi dalam menyampaikan makna secara halus dan tidak langsung. Dalam konteks bahasa Arab, khususnya dalam Al-Qur’an, gaya ini digunakan untuk mengungkapkan nilai-nilai moral dan spiritual tanpa menimbulkan kesan vulgar. Artikel ini bertujuan mengkaji pengertian, klasifikasi, dan fungsi kināyah, serta menelaah penerapannya dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif, artikel ini menunjukkan bahwa kināyah tidak hanya memperindah gaya bahasa, tetapi juga menjadi sarana retoris dan edukatif yang memperkuat pesan dalam komunikasi klasik Arab. Pemahaman terhadap kināyah sangat penting untuk mengungkap makna tersirat dalam teks-teks keislaman, sekaligus memperkaya wawasan linguistik dan tafsir.
Penguatan Literasi Bahasa Arab Santri: Program Pengabdian Masyarakat Berbasis Kegiatan Ekstrakurikuler di Pondok Pesantren An Nahdlah Makassar Harisah, Afifuddin; Pallawagau, Baso; Nuur, Khaerun Nisa; Harjum, Mohamad; Saleh, Muhammad; Gaffar , Nurkhalis A.; Rahman, Anwar Abd.; Wahyudi, Awal
Dedication : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 10 No 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas PGRI Argopuro Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31537/dedication.v10i1.3045

Abstract

Arabic language education at the An Nahdlah Islamic Boarding School in Makassar faces challenges in improving the Arabic language literacy of students, particularly in speaking and writing skills. This community service program aims to strengthen Arabic literacy thru extracurricular activities based on direct practice and experience. The program implementation methods include interactive training, thematic discussions, the use of digital learning applications, and the strengthening of teaching methods for instructors. The evaluation results showed a significant improvement in the students' Arabic language skills, with 75% of the students feeling more confident in using Arabic after attending the training. Additionally, this program successfully created a supportive learning community, increased social interaction among students, and produced learning modules that can be used for Arabic language instruction in other pesantren. This program not only enhances Arabic language skills but also builds the character and self-confidence of the students as part of their identity.
Uslub Muqabalah (Definition, Forms and Objectives) Sriwahyuni; Mohamad Harjum
Al-Kalimat: Journal of Linguistic and Arabic Teaching Vol. 1 No. 2 (2025)
Publisher : Penerbit Hellow Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61166/alkalimat.v1i2.11

Abstract

This research provides an in-depth discussion of Uslūb Muqābalah, a rhetorical style in Arabic that involves contras or opposition of meaning within one or two interconnected sentences. The study aims to describe the definition of uslūb muqābalah, identify its varios forms, and explain its rhetorical and stylistic purposes in classical and contemporary Arabic texts. The research uses a descriptive-analytical approach by examining examples from the Qur’and Arabic literary works. The findings show that uslūb muqābalah not only enhances the aesthetic structure of sentences but also strengthens meaning through sharp contrasts, creates a powerful rhetorical effect, and aids in the reader’s pr listener’s comprehension and memorization. This research is expected to contribute to the study of Arabic rhetoric (balagah) and broaden the understanding of expressive richness in the Arabic language.
Kalimat Larangan: Kajian Struktur dan Fungsinya dalam Penafsiran Al-Qur’an Andi Putri Aunillah Filayati; Mohamad Harjum; Andi Miswar
Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 10 No. 1 (2026): Al-Iman Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan
Publisher : STID Raudlatul Iman Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kalimat Larangan: Kajian Struktur dan Fungsinya dalam Penafsiran Al-Qur’an Andi Putri Aunillah Filayati; Mohamad Harjum; Andi Miswar
Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 10 No. 1 (2026): Al-Iman Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan
Publisher : STID Raudlatul Iman Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ANALISIS PENERAPAN MAJA̅Z MURSA̅L PERSPEKTIF TAFSIR̅ AL-MUNI̅R KARYA WAHBAH AL-ZUHAI̅LI̅ DALAM AL-QUR’AN JUZ 30 Muhammad Awaluddin Arifin awal; Andi Miswar; Mohamad Harjum
Al-Ihda' : Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Vol. 21 No. 1 (2026): Mei: Al-Ihda': Jurnal Pendidikan dan Pemikiran
Publisher : STAI Nurul Falah Airmolek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55558/al-ihda.v21i1.400

Abstract

Bahasa Al-Qur’an sangat kaya akan keindahan uslub bahasa, salah satunya adalah masifnya penggunaan majāz mursāl dalam Al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan menganalisis penggunaan majāz mursāl dalam Al-Qur’an Juz 30 perspektif tafsir al-Munir karya Wahbah al-Zuhaili. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwasanya terdapat delapan jenis ‘ alāqah majāz mursāl yaitu al-Sababiyyah, al-Musabbabiyyah, al-Juz’iyyah, al-Kulliyyah, I’tibār mā kāna, I’tibār ma yakunu, al-Maḥalliyah, dan al-Ḥāliyyah. Adapun penerapan majāz mursāl dalam Al-Qur’an juz 30 perspektuf tafsir al-Munir karya Wahabh al-Zuhaili terdapat tiga jenis ‘alāqah majāz mursāl yaitu al-Juz’iyyah yang terdapat dalam QS al-Gāsyiyah/88: 2 dan QS al-Lahab/111: 1, kemudian al-Ḥāliyyah yang terdapat dalam QS al-Tin/95: 1 dan al-Maḥalliyah yang terdapat dalam QS al-‘Alaq/96: 17.
Kalimat Imperatif (Amr) dalam Al-Qur’an: Perspektif Balagah dan Implikasinya dalam Penafsiran Muhammad Ardiansyah; Mohamad Harjum; Dudung Abdullah
Dirosah Islamiyah Vol 1 No 3 (2026): Juli
Publisher : Dirosah Islamiyah: Jurnal Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines imperative sentences (amr) in the Qur’an with a focus on their forms, meanings, and the role of context in interpretation. This topic is important because imperative expressions in the Qur’an do not always indicate obligatory commands, but may convey various meanings depending on the context in which they appear. The study aims to analyze the forms of amr in the Qur’an, identify their functions and meanings from the perspective of balāgah, and explain the role of context in determining the meaning of imperative expressions. This research employs a qualitative-descriptive library research method. The data were collected from Qur’anic verses, classical books of balāgah, tafsir literature, uṣūl fiqh references, and relevant scholarly articles. The analysis uses the balāgah approach, particularly the science of ma‘ānī, by considering siyāq al-kalām and contextual indicators (qarīnah) accompanying the verses. The findings reveal that amr in the Qur’an appears in several forms, including fi‘il amr, fi‘il mudhāri‘ accompanied by lām al-amr, isim fi‘il amr, masdar functioning as fi‘il amr, and expressions containing imperative meanings. Furthermore, amr carries various semantic functions such as ibāḥah, takhyīr, tahdīd, ta‘jīz, du‘ā, iltimās, naṣīḥah, ikrām, imtinān, taḥqīr, and takwīn. This study concludes that context plays a crucial role in determining the meaning of imperative expressions in Qur’anic interpretation and contributes to a deeper understanding of Qur’anic rhetoric and interpretation
Analisis Uslūb Kināyah dalam Ilmu Balāghah Ade Irma Suriani; Mohamad Harjum; Khairuddin Khairuddin
Journal of Literature Review Vol. 2 No. 2 (2026): JULI-DESEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/gbp27m31

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep kināyah dalam ilmu balāgah, meliputi pengertian, klasifikasi, dan tujuan penggunaannya dalam bahasa Arab. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research), yang berfokus pada pengumpulan dan analisis data dari berbagai literatur klasik maupun kontemporer di bidang ilmu balāgah. Sumber data primer diperoleh dari kitab-kitab balāgah, sedangkan sumber data sekunder berasal dari kitab, jurnal, dan penelitian yang relevan lainnya. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dengan cara membaca, memahami, dan mengkaji sumber-sumber data. Analisis data menggunakan metode analisis isi (content analysis) dan deskriptif, dengan tujuan untuk menguraikan konsep kināyah secara sitematis dan mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kināyah merupakan salah satu gaya bahsa yang memiliki nilai estetika tinggi dalam balāgah, yang tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyempaian makna secara tidak langsung tetapi juga bertujuan untuk memperhalus ungkapan, meringkas kata yang panjang, dan memberikan keindahan dalam penyempaian makna.